Senin, 30 November 2009

Apa yang perlu Anda ketahui mengenai Gereja Fundamental Baptist Independent?

Disusun oleh Gembala GBII Malioboro, Jogjakarta, Gmb. Yakub Harianto

Independent -

Dalam pemerintahan dan disiplinnya,
setiap jemaat Perjanjian Baru adalah terpisah
dan independent dari jemaat-jemaat lain.
Tidak ada denominasi atau organisasi
atau lembaga lain yang dapat mengontrol
jemaat setempat selain jemaat setempat itu sendiri.

Gereja Baptist Independent tidak akan menjadi bagian dalam suatu organisasi nasional manapun yang akan mengontrol keberadaan jemaat setempat. Jadi nama “Independent” digunakan maksudnya adalah bahwa gereja tersebut..
1. Mengikuti pola dan contoh gereja-gereja Perjanjian Baru
2. Hanya tunduk kepada otoritas Firman Allah.
3. Bebas dari intervensi luar.

Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Kristus adalah kepala jemaat (Efesus 5:23) dan Gembala Agung (1 Petrus 5:4). Pendeta setempat adalah gembala atau pemimpin jemaat (Ibrani 13:7, Kis 20:28, Ef. 4:11). Gereja Baptist Independent memiliki bentuk pemerintahan di mana tiap-tiap anggota memiliki hak pilih dan setiap urusan jemaat diatur oleh jemaat setempat dengan mengikuti bimbingan Firman Allah.

Fundamental -

Dalam pengajaran dan kepercayaannya
Setiap jemaat Perjanjian Baru adalah
Bible believing, teaching and obeying church

Banyak gereja Baptist Independent menambahkan kata “Fundamental” untuk menunjukkan bahwa mereka masih memegang kepercayaan tradisional dan pola gereja Perjanjian Baru.

Pada masa kini nama “Baptist” digunakan oleh banyak gereja yang tidak sungguh-sungguh mengikuti ajaran Perjanjian Baru. Oleh karena itu kata “Independent” dan “Fundamental” digunakan oleh gereja-gereja Baptist untuk menunjukkan bahwa mereka masih setia memegang teguh ajaran Perjanjian Baru dan untuk membedakan dengan banyak gereja Baptist lainnya yang tidak lagi mengikuti Firman Tuhan. Karena ada banyak gereja Baptist sudah keluar dan bahkan sudah ada yang melangkah jauh dari kebenaran dan bukan hanya itu mereka juga menolak pengajaran Alkitab yang fundamental, misalnya. Ketuhanan Yesus Kristus, kelahiran perawan dan keselamatan oleh anugerah Allah melalui iman. Meskipun mereka masih menyebut diri “Baptist” tetapi dalam kenyataannya mereka tidak percaya dan mempraktekkan apa yang selama ini orang-orang Baptist percayai yang diajarkan Alkitab.

Gereja-gereja Baptist Independent Fundamental tidak bersekutu dengan gereja-gereja tersebut karena mereka mengajarkan atau dalam prakteknya mereka bertentangan dengan ajaran Perjanjian Baru.

Jadi kata “Fundamental” ditambahkan oleh gereja-gereja Baptist Independent baru-baru ini adalah sebagai reaksi atas munculnya banyak gereja Baptist modern pada masa kini yang kompromi dengan ajaran palsu. Jadi sebagai orang-orang Baptist yang mengasihi Firman Tuhan dan memegang teguh kebenaran dan supaya identitas mereka dibedakan dengan mereka yang meskipun mengaku diri Baptist namun sudah meninggalkan kepercayaan tradisional, maka mereka menambahkan kata “Fundamental” pada nama gereja mereka.

Gereja-gereja Baptist Independent Fundamental memiliki persekutuan satu sama lain dan sering bekerja sama dengan gereja-gereja yang seazas dalam hal penginjilan. Gereja Baptist Independent Fundamental akan memisahkan diri dari gereja-gereja yang sekalipun menyebut diri “Baptist” namun dalam prakteknya
1. Tidak mengikuti ajaran Perjanjian baru.
2. Bekerja sama dengan gereja-gereja yang tidak mengajarkan kebenaran Firman Allah.

Efesus 5:11 “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.”

Gereja Baptist Independent percaya bahwa bekerjasama dengan gereja-gereja yang mengajarkan dan mempraktekkan doktrin palsu adalah sama dengan turut mengambil bagian dalam menyebarkan kesesatan. Semua doktrin yang salah adalah dosa.

Kata “Fundamental” artinya bahwa Gereja Baptist menggunakan Firman Allah dengan tegas dan terus terang sebagai otoritas untuk iman dan praktek. Baru-baru ini di sebuah stasiun televisi di luar negeri menyebut gerekakan Charismatik dan Pentekosta sebagai Gerakan “Fundamentalis”. Beberapa dari antara mereka terang-terangan mengaku diri sebagai orang “Fundamental”. Harap Anda tidak dibingungkan dengan Gereja Baptist Independent Fundamental. Karena di dalam kenyataannya, mereka tidak mengajarkan pengajaran yang Alkitabiah, sedangkan Baptist Independent mau menggunakan kata “Fundamental” karena komitmentnya kepada Firman Allah. Itulah sebabnya mereka mau memegang teguh kemurnian doktrin yang dianut gereja mula-mula dan mempraktekkannya dalam kehidupan berjemaat.

Baptist –
Dilihat dari segi sejarah dan kepercayaannya, Baptist bukanlah Protestant karena protesten lahir dari Roma Katolik. Baptist juga bukan Kharismatik atau Pentekosta dan juga bukan kelompok Injili.

Sebuah jemaat Baptist Independent dikenali sebagai Jemaat yang memiliki Kepercayaan sebagai berikut:
Biblical Authority - Alkitab adalah Firman Allah tanpa salah dalam bahasa aslinya karena Alkitab diilhamkan Allah dan diterima sebagai satu-satunya buku yang memiliki otoritas untuk iman dan kehidupan baik oleh jemaat sebagai suatu organisasi maupun oleh setiap anggota sebagai individu--2 Timotius 3:16-17. Alkitab adalah Firman Allah dan bukan mengandung Firman Allah, karena Alkitab diilhamkan Allah, ditulis oleh hamba-hamba Allah yang dipakai oleh Roh Kudus (2 Petrus 1:20-21) dan Allah mengatur dan mengawasi segala sesuatu agar apa yang mereka tulis itu adalah sesuai dengan kehendak Allah.

Orang-orang Baptist percaya bahwa Alkitab memiliki keunikan tersendiri yang tak tertandingi dengan semua buku yang pernah ada, yang masih ada dan yang akan ada. Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 penulis dalam jangka waktu lebih dari 1600 tahun. Penulis yang satu tidak mengetahui apa yang telah ditulis oleh yang lain. Akan tetapi sama sekali tidak terdapat satu kontradiksipun di dalam ke 66 buku ini. Alkitab merupakan sebuah perpustakaan yang terdiri dari 66 buku, tetapi ia adalah satu buku. Apa yang Alkitab katakan dan ajarkan, itulah yang menjadi iman dan praktek kita sebagai orang-orang Baptist Independent. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, “…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat. 28:20).

Jadi Alkitab merupakan satu-satunya sumber otoritas yang paling menentukan. Gereja Katolik Roma merasa bahwa mereka memiliki wewenang untuk mengajarkan kebenaran yang mutlak dan tidak mungkin salah, karena mereka menganggap gereja Roma Katolik merupakan satu-satunya gereja yang benar, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan para Uskup adalah kebenaran yang tidak mungkin salah. Akan tetapi, Tuhan tidak pernah memberikan wewenang kepada gereja sebagai satu-satunya otoritas yang paling menentukan. Memang pendeta dan jemaat diperintahkan untuk mengajarkan Firman Allah, tetapi mereka tidak memiliki otoritas untuk mengubah Firman Allah (Wahyu 22:18-19). Memang gereja berfungsi sebagai “tiang penopang dan dasar kebenaran”, tetapi gereja bukan sumber kebanaran—Yohanes 17:17; Maz. 119:160; Mat. 15:3-9; 2 Tim. 3:15-17.

Ada juga yang mengatakan bahwa otoritas yang dapat dipercaya untuk iman dan perbuatan kita adalah hati nurani. Hati nurani dapat menjadi keras atau tidak merasa apa-apa. Andaikata Saudara ditawan oleh pengayau-pengayau di Afrika, dan bertanya kepada Saudara apakah Saudara ingin agar mereka memenggal kepala Saudara? Kalau saudara menjawab, “Jadikanlah suara hatimu menjadi petunjuk jalanmu.” Andaikata Saudara berkata demikian, maka mereka tidak sungkan-sungkan memenggal kepala Saudara—Sebab orang-orang primitif yang makan daging manusia di Afrika tidak mempunyai rasa bersalah ketika mereka memenggal kepala orang. Hanya Firman Allah yang tidak berubah diterima sebagai sumber teologi yang paling menentukan. Alkitab sudah diuji selama berabad-abad tahun dan tetap berdiri sebagai pedoman yang tak kunjung padam.—Maz. 119:89; Yak. 1:17b.

Gereja Baptist Independent adalah gereja yang mempercayai, mengajarkan dan mempraktekkan Firman Allah. Alkitab menjadi central bagi setiap pelayanan karena “Kaubuat namaMu dan JanjiMu (Firman Allah) melebihi segala sesuatu.” Mazmur 138:2. Alkitab secara verbal diilhamkan Allah, tanpa kesalahan dan menjadi standar yang menentukan untuk menghakimi semua sikap dan kepercayaan kita—2 Timotius 3:16, 17 dan 2:15.

A Church That Is Self-Governing – Setiap jemaat Perjanjian Baru adalah Independent dalam pemerintahan dan disiplinnya. Jemaat di Yerusalem tidak berkuasa atas jemaat di Antiokhia, juga Antiokhia tidak atas Efesus atau Efesus atau Korintus, dll. Gereja Perjanjian Baru tidak nampak dalam bentuk sinode, presbiterian, denominasi, atau bentuk organisasi manusia yang mengontrol jemaat setempat. Setiap gereja lokal dilihat sebagai a self –governing body. Pemerintahannya dari para anggota, demokrasi modelnya.

Perhatikanlah! Kristus dan Rasul-rasulnya tidak pernah memberikan sebuah nama sekte (misalnya, “Katolik”, “Lutheran”, “Presbyterian”, “Episcopel” dsb) kepada jemaat-jemaatnya. Jika terdapat lebih dari satu organisasi jemaat, maka kata “jemaat-jemaat” (plural) dipakai, bukan kata “jemaat” (tunggal). Kata “jemaat” tidak dipakai dengan arti “universal”. Roma 16:16; 1 Kor. 11:16. Setiap jemaat setempat memilih pelayan-pelayannya sendiri (Kis. 6:1-6). Setiap jemaat memiliki disiplinnya sendiri (1 Kor. 5:13). Setiap jemaat bertanggung jawab untuk menjaga kemurnian doktrin (1 Tim. 3:15; Wahyu 2:14-16).

Setiap jemaat memberi kebebasan tanpa tekanan untuk menaati Allah sesuai dengan pimpinan Tuhan kepadanya. Roh Kudus memimpin tiap-tiap orang percaya dalam jemaat setempat (Kis. 13:1-2).

Priesthood of believers - Kristus Yesus sebagai pendiri jemaat dan juruselamat anggota-anggotanya adalah satu-satunya imam dan raja mereka. Setiap orang percaya dapat langsung datang kepada Allah tanpa perantara manusia. * Ibrani 4:14-16

Kepada jemaat diberikan hanya dua ordonansi =
Baptisan untuk orang-orang yang sudah percaya dan perjamuan Tuhan

Believer's Baptism - Hanya orang-orang yang “sudah selamat” yang dibaptis selam dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Mereka itu diselamatkan oleh anugerah Allah tanpa “usaha” atau “pekerjaan” Hukum Taurat (Efesus 2:5, 8-9). * Kis. 8:35-39

Baptisan yang benar adalah sebagai berikut:
Orangnya harus benar: Hanya orang yang sudah selamat yang dibaptiskan (Kis 2:47; 8:36-37)
Caranya harus benar: Diselamkan—bukan dipercik. Arti baptisan adalah Selam dan baptisan menggambarkan Injil Yesus Kristus (Roma 6:3-4; 1 Kor. 15:1-5; Kis. 8:36-38; Yoh. 3:22-23). Mengganti cara baptisan adalah sama dengan mengganti berita injil (Galatia 1:6-10).
Baptisan bukan untuk keselamatan melainkan sebagai ketaatan kepada Yesus Kristus. Sebuah Penyelewengan yang terjadi pada abad kedua yang berhubungan dengan ajaran yang terbesar, yaitu ajaran keselamatan. Orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir sudah berabad-abad dilatih melakukan upacara-upacara dan orang-orang kafir sudah berabad-abad dilatih melakukan upacara-upacara. Mereka sudah menerima “yang melambangkan” sebagai “yang dilambangkan”, bayangan sebagai kebenaran yang hakekat, dan upacara-upacara sebagai alat untuk menyelamatkan jiwa. Betapa mudah memandang baptisan begitu. Demikianlah muncul ide “keselamatan oleh pembaptisan” dan menjadi makin kuat dalam beberapa gereja. Kesalahan lain yang timbul pada zaman yang sama, adalah perubahan dalam hal “calon” pembaptisan. Kesalahan ini adalah akibat ide “keselamatan oleh pembaptisan”. Karena jemaat-jemaat yang menyeleweng itu mengatakan bahwa pembaptisan dapat menyelamatkan jiwa, maka mereka juga berpendapat bahwa semakin cepat dibaptis, semakin cepat selamat. Jadi timbullah “pembaptisan bayi”. Sebelumnya, orang-orang yang percaya sajalah yang diangap calon-calon yang sah untuk dibaptis. Bukan percik yang dibicarakan di sini, “percik” belum timbul pada waktu itu. Akibat dari ajaran buatan manusia tersebut, gereja-gereja dipenuhi dengan anggota-anggota yang belum selamat.

Otoritasnya mesti benar. Otoritas untuk membaptis diberikan Kristus kepada jemaat-jemaatNya (Matius 28:18-20). Hanya gereja yang mengajarkan dan mempraktekkan Firman Allah yang memiliki otoritas untuk membaptiskan orang-orang percaya (Markus 7:7) dan bukan gereja palsu. Kis 16:5.

The Lord's Table - Hanya orang-orang yang dibaptis demikianlah yang boleh mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan. Yang boleh ikut merayakan Perjamuan Tuhan hanyalah anggota-anggota jemaat setempat. 1 Kor. 11:23-24. Yesus Kristus memulai Perjamuan Tuhan pada malam sebelum disalibkan hanya dengan murid-muridNya. Dan kemudian memberikan otoritas kepada jemaat untuk melakukan Perjamuan Tuhan sebagai peringatan akan diriNya sampai Tuhan datang kembali. Perjamuan Tuhan adalah peringatan dan bukan untuk kelamatan (1 Kor. 11:23-28)\

Individual Soul Liberty - Kekristenan adalah perseorangan, pribadi, sukarela atau bersama diyakininya. Tidak boleh dengan paksaan jasmaniah atau dipaksa oleh pemerintah. Hal ini adalah pilihan perseorangan dan pribadi. Perintah Firman Allah adalah “pilihlah”. Kekristenan tidak boleh diterima, ditolak atau dijalankan oleh orang lain sebagai wakil; dan tidak boleh karena dipaksa.
Setiap individu harus memiliki keyakinan yang benar bagi dirinya tanpa paksaan Roma 14:5-12.

Saved Church Membership - Hanya orang yang sudah selamat dan dibaptis dengan benar yang dapat bergabung menjadi anggota jemaat setempat 1Kor. 1:2 dan Efesus 4:5.

Two Officers of the Local Church - Gembala/Penilik Jemaat/Penatua dan Diaken—1 Tim. 3:1-13.
Pejabat-pejabat gereja setempat adalah Gembala/Penilik Jemaat/Penatua dan diakon-diakon. Pendeta jemaat dipanggil melalui pemilihan mayoritas dari anggota-anggota jemaat setempat (1 Tim. 3:1-16). Orang-orang yang memiliki kualifikasi sebagaimana tertera dalam 1 Timotius 3:8-13 yang dapat ditunjuk oleh jemaat setempat dan terpilih dengan suara mayoritas dapat menjadi diakon. Seorang diakon adalah seorang yang melayani dan tunduk kepada kehendak pendeta dan jemaat setempat. Diakon tidak bertindak sebagai “Majelis atau sinode”.

Soul Winning and Missionary Minded - Gereja Baptist Independent berkeyakinan bahwa tugas memenuhi Amanat Agung merupakan tugas yang sangat serius. Kita tidak hanya bersaksi, tetapi kita berusaha menjelaskan dengan jelas berita Injil kepada orang-orang tersesat, dan memberi tantangan supaya mereka menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat mereka. Kita juga melihat keperluan dunia akan Injil dan mulai membangun jemaat-jemaatNya di seluruh dunia. Kita percaya bahwa tanpa Kristus, manusia akan dilemparkan ke neraka selama-lamanya dan itu adalah tanggung jawab kita untuk menyebarkan berita Injil kepada semua orang di seluruh dunia.

Gereja Baptist Independent adalah gereja yang menempatkan dirinya sebagai peranan kunci dalam penggenapan Amanat Agung. Orang-orang Baptist Independent percaya bahwa Amanat Agung yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya adalah untuk jemaat pada masa kini. Jemaat lokal memiliki suatu peranan kunci dalam menarik, melatih, mengutus dan mendukung para misionaris. Bagi kita sangat sulit membaca Alkitab tanpa dihadapkan dengan kepeduliaan Allah terhadap semua manusia.

Doktrin Allah - Kami percaya bahwa hanya ada satu-satunya Allah yang hidup dan benar yaitu Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab. Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah Allah yang kekal. Omnipotent, Omnipresent, unchangeable, Intimate, Omniscient, Holy, Love, just, HE SHOULD BE THE OBJECT OF OUR WORSHIP.—Maz. 90:2; Yes. 40:28; Kej. 17:1; Yer. 32:17; Maz. 139:7-10; Mal. 3:6; Rm. 8:4; Maz. 147:5; Kis. 15:18; Maz. 99:9; Yes. 6:31; 1 Yoh. 4:8, 16; Ul. 32:4; Mat. 4:10; Yoh. 4:24.

Tentang Anak Allah – Ia adalah Anak Allah yang ada dari kekekalan, bereksistensi bersama dengan Allah dan sederajat dengan Bapa sebelum dunia dijadikan (Yoh. 1:1; 8:58; 17:5; Fil. 2:6; Kol. 1:16-17).—Ia adalah Anak Allah yang menjelma melalui perawan Maria (Virgin Birth) yang secara supernatural mengandung oleh Roh Kudus tanpa seorang Bapa manusiawi (Kej. 3:15; Gal. 4:4; Yes. 6:14; Luk. 1:26, 27, 31, 34-35).—Ia adalah Anak Allah yang tidak pernah berbuat dosa selama tiga tahun Ia hidup di dunia ini (Yoh. 8:46; 19:4; 18:38b; Mat. 27:24; 1 Kor. 5:21; Ibr. 4:15; 1 Pet. 2:22; 1 Yoh. 3:5b; 1 Pet. 1:19; Rm. 3:26.—Ia adalah Anaka Allah yang mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan Ksuci (Yes. 53:5,6; 1 Kor. 15:3,4; Ibr. 9:28; 1 Pet. 2:24; 3:18; Wahyu 5:9; 13:8; 1 Kor. 15:4).—Ia adalah Anak Allah yang menang atas maut dan neraka ( 1Kor. 15:55-57; Kis. 17:31b; Rm. 1:4; 1 Kor. 15:4)—Ia adalah Anak Allah yang akan datang kembali ke dunia dengan segera (Kis 1:11; 1 Tes. 4:6, 17; Ibr. 9:28)—Ia adalah hakim atas segala bangsa, malaikat-malaikat, bangsa Yahudi dan jiwa Anda (Yoh. 5:22; Kis. 17:31; Fil. 2:9-11).

Tentang Roh Kudus - Roh Kudus adalah seorang pribadi, Allah, Aktive dan sering disalah mengerti (Yoh. 14:17, 26; 16:13; Mat. 3:16; 1 Kor. 12:7-11; Rm. 15:13; Kis. 5:3-4; Ibr. 9:14; Kej. 1:2; 2:7; Yoh. 16:14, 18; 6:63; Kis. 13:2; 1:8; Gal. 5:22,23)—Roh Kudus adalah pribadi, Ia adalah bagian dari The Trinity. Dia bekerja dengan aktif di dalam kehidupan semua orang Kristen. Tanpa Roh Kudus semua pelayanan orang-orang Kristen kehilangan kuasa dan kehilangan buahnya.

Tentang Keselamatan - Tujuan kekal jiwa Anda akan ditentukan oleh hubungan pribadi Anda dengan Tuhan Yesus Kristus (1 Tim. 2:5). Keselamatan tidak terdapat di dalam suatu institusi, suatu sakramen, suatu ordonansi, perbuatan-perbuatan baik, moralitas, bukan pula dalam kedermawanan, melainkan di dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan adalah anugerah dan diberikan kepada orang yang bertobat dan beriman kepada Yesus Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; Ef. 2:8-9; Yoh. 3:16; 6:24; 1 Yoh. 5:11-13; Rm. 6:23; 1 Yoh. 3:9; Ibr. 10:14)—Hidup kekal adalah milik pribadi orang percaya, sekarang dan permanen.

Tentang Orang berdosa - Kita adalah orang berdosa sejak dalam kandungan. Kita adalah orang berdosa secara pilihan. Kita adalah orang berdosa karena tingkah laku. MANUSIA BUKAN ORANG BERDOSA KARENA IA BERBUAT DOSA! MANUSIA BERBUAT DOSA KARENA IA ORANG BERDOSA. Manusia berada di bawah penghukuman pembuangan secara kekal dari Allah; “Tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Efesus 2:12)—Pengobatan untuk dosa manusia adalah pengorbanan Anak Allah di kayu salib sebagai pengganti kita. Pengharapan bagi seorang berdosa yang berada di bawah penghukuman keterpisahan kekal dari Allah hanya dengan mengakui dan menerima pengampunan Allah di dalam Kristus—Maz. 51:7; RM. 5:12; 2 Kor. 11:3; Rm 1:18-32; Yak. 1:15; Pkh 7:20; Tit. 3:3; 1 Pet. 4:3; 1 Kor. 6:9-10; Rm. 3:20; 5:6, 8, 10.

Tentang orang-orang kudus – Setiap orang percaya adalah orang kudus—Hal ini tidak menyangkut posisi, bukan masalah hasil yang dicapai tetapi masalah hubungan. Orang-orang percaya tidak berakhir sebagai “orang kudus” tetapi ia adalah “orang kudus’ saat ia disisihkan dalam keselamatan (Ibr. 10:10). Mereka disebut “orang-orang kudus” bukan berarti mereka sendiri hidup kudus. Kekudusan di sini tidak bergantung pada kelakuan kita, karena ini menyangkut posisi kita di dalam Yesus Kristus. Paulus menyapa orang-orang percaya di Korintus sebagai “Orang-orang kudus” dan kemudian menegor mereka sebagai duniawi dan masih bayi (1 Kor. 1:2; 3:1-3). Tentu saja orang yang sudah selamat harus hidup seperti Kristus hidup, hidup kudus. Akan tetapi kita tidak hidup “kudus” untuk “menjadi kudus”. Kita hidup kudus karena kita “sudah kudus”. Kalau Anda mau hidup kudus supaya dapat menjadi kudus, Anda tidak akan mendapatkannya, karena Anda tidak dapat “hidup kudus” kecuali Anda sudah menjadi “kudus.”

Tentang Iblis - Kami percaya bahwa Iblis dahulu suci, dan menikmati kehormatan surgawi; tetapi karena sombong dan berambisi menjadi seperti Sang Mahakuasa, jatuh dan menarik sejumlah malaikat mengikuti dia. Ia sekarang adalah penghulu jahat di udara dan ilah zaman ini. Kita tahu dia adalah penggoda manusia terbesar, seteru Allah dan penuduh orang-orang suci, pendiri segala agama palsu, penghulu kuasa yang mendalangi kemurtadan dewasa ini. Dia adalah penghulu anti Kristus, dan sumbert dari segala kegelapan. Walau demikian ia ditentukan kesudahannya dikalahkan di dalam tangan Anak Allah sendiri, dan akan dihukum dan dilemparkan ke dalam neraka selama-lamanya. Yes. 14:12-15; Yer. 28:14-17; Wah. 12:9; Yeh. 6; 2 Pet. 2-4; Ef. 2:2; Yoh. 14:30; 1 Tes. 3:5; Mat. 4:1-3; 1 Pet. 5:8; 1 Yoh. 3:8; Mat. 13:25; 27:39; Luk. 22:3-4; Wah. 12:10; 2 Kor. 11:13-15; Mrk. 13:21-22; 1 Yoh. 4:3; 1 Yoh. 2:22; 2 Yoh. 7; Wah. 13:13-14; 2 Tes. 2:8-11; Wah. 19:11; 16:20; Wah. 12:7-9; 1-3; 20:10; Mat. 25:41.

Tentang penciptaan - Kami percaya akan penciptaan yang dijelaskan dalam kitab Kejadian, dan bahwa penciptaan tersebut diterima secara hitam di atas putih, dan bukan suatu kiasan atau ibarat. Manusia diciptakan langsung menurut rupa dan gambar Allah. Penciptaaan manusia bukan suatu evolusi atau perubahan jenis-jenis secara evolusi, atau suatu perkembangan terus-menerus dari bentuk yang rendah ke bentuk yang lebih tinggi. Setiap binatang dan tumbuh-tumbuhan diciptakan secara langsung dan hukum Allah yang apkan ialah supaya mereka berkembang biak “menurut tabiatnya masing-masing.” Kej.1:1; Kel. 20:11; Kis. 4:24; Kol. 1:16-17; Ibr. 11:3; Yoh. 1:3; Wah. 10:6; RM. 11:20; Kis. 17:23-26; Yer. 10:12; Neh. 9:6; Kej. 1:26-27; 2:21-23; 1:11; 1:24.

Tentang Peristiwa yang akan datang – Rapture—Pre-trib, Tribulasi, kedatangan Yesus Kdua kali, Kerajaan seribu tahun, penghukuman kekal bagi orang-orang tersesat, Yerusalem baru.

Doctrine of Separation - Perpisahan mutlak antara gereja dan negara (Mat. 22:15-22; *Rom 13:1-7) . Tidak ada power di bumi ini yang lebih tinggi daripada Firman Allah dan jemaat tidak harus berada dalam kontrol negara. Kita menghormati pemerintah dan mendoakan mereka supaya kita hidup dalam damai.

Iblis telah mengubah strateginya. Dia mempelajari dari dahulu bahwa dia tidak dapat mengalahkan Kristus dan orang-orang Kristen dengan permusuhan dan penganiayaan. Pekerjaan Tuhan selalu bertumbuh dalam masa kesusahan, penganiayaan dan pengorbanan. Satan telah mengubah caranya. Dia menyamar sebagai “malaikat terang”. Paulus memperingatkan para penatua di Efesus supaya menjaga diri mereka sendiri dan menjaga seluruh kawanan (Kis. 20:28-30).

Musuh yang paling hebat bagi iman Kristen bukanlah musuh dari luar—yaitu, musuh yang secara terang-terangan melawan dan mencari kesempatan untuk menghancurkan iman dalam kristus dan Alkitab. Musuh yang paling ditakuti dan paling efektif ialah musuh yang di dalam—ia yang mengakui diri sebagai orang Kristen, yang memakai gaya bicara dan kata-kata orang Kristen, yang mengenakan pakaian/jubah orang Kristen, yang memakai title Kristen dan berpartisipasi dalam pelayanan Kristen—serigala-serigala yang memakai pakaian domba—Yudas 4; Ef. 4:14; Mat. 7:15; Ul. 13:1-5; Ef. 5:6; 2 Tes. 2:3-4; 2 Yoh. 7.

Tidak seperti yang disangka umum, pada masa kini bukan hanya ada dua posisi teologi—Liberal dan fundamental. Ada suatu kelompok yang berada ditengah-tengah, yang dikenal sebagai kelompok Injili. Orang-orang Injili berkata bahwa orang-orang liberal telah pergi jauh dari iman yang sejati yang dimiliki nenek moyang mereka. Mereka harus berbalik kembali. Akan tetapi ke mana seharusnya mereka pergi—bukan kepada fundamentalisme yang ekstrem yang di anut nenek moyang mereka. Mereka harus mencari suatu kompromi, suatu tempat ditengah-tengah di mana para fundamentalis dan Liberal dapat menyetujui.

Orang-orang Baptist Independent tidak mau bersekutu dengan mereka karena mereka tidak menjadi satu dalam firmanNya. Orang-orang Injili mengatakan, doktrin itu tidak penting, asal kita menjadi satu dalam RohNya. Hal tersebut tidak rasional. Bagaimana Roh Kudus dapat mempersatukan kita sedangkan kita tidak menjadi satu dengan firmanNya.

Rangkuman Buku Da Vinci’s Code

Oleh: dr. Steven E. Liauw, M.Div.

Buku The Da Vinci’s Code karangan Dan Brown telah menjadi best-seller di Amerika, dan bahkan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, salah satunya bahasa Indonesia. Apa yang membuat buku ini unik dibandingkan buku-buku best-seller lainnya adalah klaim-klaim yang terkandung di dalamnya, klaim-klaim bahwa ia menemukan fakta Yesus, gereja, dan Alkitab yang sesungguhnya. Dan Brown, walaupun mengaku sebagai orang percaya, justru dalam bukunya ini mengajarkan segala sesuatu yang bertentangan dengan sejarah dan kebenaran.

Pada sampul depan edisi terjemahan Indonesia, tercantum kata-kata “memukau nalar, mengguncang iman!” Penulis dan penerjemah buku ini justru merasa puas dan bangga bahwa karya mereka akan mengguncangkan iman banyak sekali orang Kristen awam yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran. Oleh sebab itu, buku ini perlu untuk dicermati, bukan untuk dihayati, tetapi untuk dijawab dan dibuktikan kesalahannya. Review ini akan merangkum alur cerita dari buku The Da Vinci’s Code agar pembaca tidak perlu membaca buku ini bagi diri sendiri (dan memperkaya Dan Brown).

The Da Vinci’s Code adalah sebuah fiksi thriller dengan alur cerita yang memukau. Tetapi, walaupun menggunakan tokoh utama fiktif, tetapi Dan Brown mengklaim bahwa segala informasi sejarah yang terkandung dalam buku ini adalah akurat. Pada awal buku, pembaca langsung diperhadapkan dengan suatu adegan pembunuhan. Adalah Jacques Sauniere, seorang kurator terkenal yang dibunuh oleh seorang agen Opus Dei (salah satu organisasi Katolik) bernama Silas di dalam museum Louvre, Paris. Jacques Sauniere, walaupun terbunuh, adalah tokoh yang sentral dalam cerita ini, karena ia sebenarnya adalah mahaguru dari sebuah perkumpulan rahasia, yaitu Biarawan Sion.

Cerita berlanjut pada penyelidikan akan pembunuhan Sauniere. Adalah Kapten Fache, seorang kapten dari DCPJ (versi Perancis dari FBI) yang menangani kasus ini. Teka-teki dalam buku ini muncul karena Sauniere meninggalkan pesan berupa kode-kode yang mistik dan aneh sebelum dia meninggal, antara lain posisi tubuhnya yang telanjang bulat dan diatur serupa dengan gambar Virtruvian-man karya Da Vinci, gambar pentakel di pusarnya menggunakan darahnya sendiri, sebuah deret angka, dan dua kalimat anagram. Selain itu, Sauniere juga berpesan untuk mencari Robert Langdon, seorang ahli simbologi agama dari Harvard. Berdasarkan petunjuk tersebut, Fache langsung menetapkan Langdon sebagai tersangka utama dan mencoba untuk mengorek keterangan darinya dengan cara berpura-pura menanyakan pendapat Langdon tentang pesan-pesan yang ditinggalkan Sauniere. Tentu saja, Fache terlebih dahulu menghapus nama Langdon dari pesan tersebut.

Ketika Fache sedang sibuk memancing reaksi Langdon di area kejadian, tiba-tiba mereka diinterupsi oleh Sophie Neveu, wanita yang bekerja di bagian kriptologi dan yang juga adalah cucu dari Sauniere. Sophie yakin bahwa pesan-pesan yang ditinggalkan kakeknya adalah untuk dirinya, dan ia tahu bahwa Langdon sedang dijebak oleh Fache.

Oleh sebab itu, ia datang untuk menolong Langdon, sekaligus memecahkan pesan tersembunyi kakeknya dengan dibantu oleh Langdon. Setelah berhasil menipu Fache, ia dan Langdon melarikan diri sambil berusaha memecahkan rahasia tersebut.

Mereka berdua akhirnya mengetahui bahwa Sauniere adalah anggota dari kelompok rahasia Biarawan Sion. Biarawan Sion diklaim telah ada sejak satu milenium yang lalu dan bertugas menjaga rahasia yang sangat penting yang berkaitan dengan sejarah Yesus yang asli.

Menurut cerita, kelompok ini ditindas sepanjang zaman oleh gereja yang berkuasa karena mereka menjaga kebenaran yang amat ditakuti oleh gereja. Nah, kebenaran inilah yang ingin diteruskan oleh Sauniere kepada cucu perempuannya menjelang ajal hidupnya.

Bermodalkan kecepatan nalar Sophie yang sudah sering dilatih oleh kakeknya sewaktu kecil, dan juga pengetahuan Langdon akan simbol dan sejarah Biarawan Sion, keduanya memecahkan satu misteri demi misteri lainnya.

Sampai di sini, pembaca perlu mengetahui tentang Biarawan Sion yang sebenarnya. Sebenarnya, organisasi ini didirikan oleh Pierre Plantard dan tiga orang lain pada tahun 1954 dengan nama Priory of Sion. Klub ini bertujuan meningkatkan jumlah rumah berbiaya rendah di Perancis, dan bubar pada tahun 1957. Walau demikian, Plantard tetap mempertahankan nama klub tersebut. Ia lalu menciptakan serangkaian dokumen palsu yang membuktikan bahwa ada garis darah dari Maria Magdalena melalui raja-raja Perancis, sampai pada dirinya sendiri. Pada tahun 1993, Plantard diadili, dan dalam pengadilan Plantard mengakui bahwa seluruh ide Biarawan Sion adalah hasil ciptaannya sendiri.1

Mari kita kembali ke cerita fiksi. Sambil terus dikejar polisi, Sophie mendapatkan bahwa pesan-pesan kakeknya di museum membimbingnya kepada sebuah kunci. Kunci tersebut juga merujuk pada satu alamat yang ternyata adalah Bank Penyimpanan Zurich. Ternyata kunci itu adalah kunci salah satu rekening Bank. Kembali Sophie dan Langdon harus memutar otak dan mencari nomor rekeningnya. Tetapi ternyata nomor rekeningnya adalah deret angka Fibonacchi yang ditinggalkan Sauniere sebagai pesan di museum. Dan, setelah membuka kotak penyimpanan, Langdon dan Sophie menemukan sebuah cryptex (sebuah kotak penyimpan pesan rahasia dengan kode lima huruf). Rupanya rahasia yang disimpan oleh Sauniere ada di dalam cryptex tersebut.

Sambil semua ini terjadi, polisi berada tepat di belakang mereka, dan dengan giat berusaha menangkap keduanya. Sophie dan Langdon melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain, bagaikan lolos dari lubang jarum. Akhirnya mereka memutuskan untuk melarikan diri ke rumah Sir Leigh Teabing, seorang bangsawan Inggris teman Langdon, sekaligus juga seorang yang menghabiskan hidupnya menyelidiki tentang Biarawan Sion.

Setelah bertemu dengan Teabing, pembaca mendapat penjelasan lebih lanjut tentang misteri yang sedang dikejar oleh Sophie dan Langdon. Rahasia yang dijaga oleh Biarawan Sion, ternyata adalah tentang Cawan Suci (Holy Grail), yaitu cawan yang dipakai oleh Yesus pada perjamuan terakhir. (Orang fundamental tidak peduli dengan hal-hal aneh seperti “Cawan Suci” yang sama sekali tidak memiliki nilai di mata orang lahir baru). Hanya saja, ternyata Cawan Suci bukanlah cawan sama sekali. Cawan itu hanyalah simbol.

Teabing lalu menjelaskan kepada Sophie, dengan didukung berbagai buku dan pesan-pesan tersembunyi dalam karya-karya Da Vinci, bahwa Cawan Suci sebenarnya adalah seorang perempuan, yaitu Maria Magdalena.

Teabing melanjutkan penjelasan bahwa Yesus yang asli tidaklah seperti yang diketahui luas saat ini. Yesus yang dikenal sekarang adalah hasil rekayasa gereja, dipimpin oleh Konstantine dalam konsili Nicea. Teabing bahkan menegaskan bahwa keilahian Yesus pun adalah doktrin baru yang disepakati berdasarkan voting pada konsili Nicea. Demikian pula pemilihan atas kitab-kitab yang dimasukkan dalam kanon Alkitab, semata-mata adalah pilihan gereja berdasarkan kesesuaian dengan doktrin yang dikembangkan gereja. Gereja digambarkan oleh Teabing sebagai organisasi patriarkis yang menindas kaum perempuan, menganggap seks kotor,dan membelenggu kebebasan berpikir. Oleh sebab itu, gereja berusaha untuk memendam kebenaran bahwa Yesus sebenarnya menikah dengan Maria Magdalena, dan memiliki seorang putri bernama Sarah. Sarah juga memiliki keturunan yang bahkan berlanjut hingga hari ini.

Gereja dikatakan memerangi konsep ini dan berusaha menghancurkannya. Oleh sebab itulah dibentuk Biarawan Sion, yaitu organisasi persaudaraan yang bersumpah untuk melindungi rahasia dan kebenaran tentang Cawan Suci beserta keturunan dari Maria Magdalena. Cawan Suci yang banyak dicari orang hari ini, diyakini akan memimpin kepada sisa-sisa tulang/jasad dari Maria Magdalena. Biarawan Sion berfokus pada penyembahan akan dewi suci yang dilambangkan oleh Maria Magdalena dan berada dalam diri tiap perempuan.

Penulis merasa perlu untuk menyela cerita pada saat ini dan memberikan fakta yang sebenarnya. Dan Brown sungguh tidak dapat membedakan khayalan dari kebenaran. Ia menegaskan bahwa sebelum konsili Nicea, orang Kristen sejati tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan bahwa keilahian Yesus ditetapkan melalui voting (yang cukup ketat menurut Teabing). Jebakan seperti ini hanyalah untuk orang-orang yang sama sekali tidak tahu sejarah dan yang memang sudah anti-kristen. Perpustakaan umum terbuka lebar bagi siapa saja untuk memeriksa ratusan karya tulis bapa-bapa gereja sebelum Nicea yang menegaskan bahwa mereka percaya akan keilahian Yesus (antara lain Clement, Justin Martyr, Eusebius, dll).

Tudingan Teabing (Dan Brown maksudnya) bahwa Alkitab ditentukan saat Nicea juga konyol. Dalam setiap konsili, keputusan yang diambil hanyalah mencerminkan apa yang telah dipercaya oleh khalayak ramai saat itu,bukan suatu keputusan arbiter. Jauh sebelum Nicea, jemaat mula-mula telah menerima 27 kitab PB sebagai firman Tuhan dan menolak yang lainnya atas bimbingan Roh Kudus. Bahwa Yesus mengawini Maria Magdalena adalah fantasi yang tak dapat dibuktikan sama sekali. “Kode-kode” Da Vinci adalah hasil imajinasi yang hebat, dan tidak ada bukti bahwa Da Vinci bermaksud menaruh kode-kode pada karyanya.

Fiksi tetaplah fiksi, dan mari kita lanjutkan pembahasan tentang fiksinya Dan Brown.

Setelah Teabing menyelesaikan penjelasan yang panjang lebar, tiba-tiba Silas (pembunuh Sauniere) muncul untuk merebut cryptex. Walaupun Silas akhirnya berhasil dilumpuhkan,datang pula polisi Perancis yang telah berhasil melacak Langdon ke rumah Teabing. Mereka pun terpaksa lari. Beruntung, Teabing adalah seorang yang berkuasa dan kaya, sehingga mereka lari ke Inggris menggunakan jet pribadi Teabing. Di dalam perjalanan, ketiganya berhasil memecahkan sandi cryptex yang ternyata adalah SOFIA, atau bentuk lain dari nama Sophie. Tetapi, mereka sungguh terkejut, karena ternyata cyptex itu berisi cryptex yang kedua, juga dengan kode lima huruf.

Petunjuk berikutnya membawa mereka ke sebuah gereja di London, di mana mereka mencari sebuah makam yang akan memberikan kata kunci untuk cryptex yang kedua ini. Pada saat ini, Silas yang telah mereka ikat dan bawa, ternyata dibebaskan oleh pembantu Teabing yang ternyata berkomplot. Di bawah todongan pistol, cryptex direbut oleh Silas, dan Teabing di bawa sebagai sandera.

Sophie dan Langdon merasa sangat putus asa, tetapi mereka mencari cara untuk menolong Teabing. Mereka meneliti di perpustakaan dan mendapatkan petunjuk lokasi makam yang mereka cari tersebut.

Ketika sampai di makam tersebut, mereka akhirnya sangat terkejut ketika mendapatkan bahwa Teabing menodongkan senjata pada mereka. Ternyata Teabing adalah otak dibalik semua pembunuhan yang terjadi. Teabing kesal dengan para Biarawan, karena menganggap mereka telah dibeli oleh Gereja dan tidak berani mengungkapkan kebenaran Cawan Suci. Itulah sebabnya ia mempergunakan Silas untuk membunuh Sauniere, yaitu untuk mencari sendiri Cawan Suci dan membeberkannya pada dunia.

Teabing berusaha untuk membujuk Langdon agar mau bekerja sama dengannya. Ia menyerahkan cryptex pada Langdon dengan harapan Langdon dapat menemukan sandi yang tepat. Namun, karena Sophie dan Langdon enggan bekerja sama, Teabing memutuskan untuk menembak mereka. Pada saat itulah Langdon melempar cryptex ke udara. Teabing, yang telah mengabdikan hidup mencari Cawan Suci tidak dapat membiarkan cryptex hancur, sehingga ia membuang pistolnya untuk menyelamatkan cryptex.

Namun, tanpa dapat dicegah, cryptex toh hancur juga. Teabing merasa putus asa, tetapi ternyata Langdon telah berhasil membuka sandi, dan dengan diam-diam telah mengeluarkan isi cryptex. Rahasia kuno itu masih ada! Setelah Teabing akhirnya ditangkap, Langdon dan Sophie yang kini tidak lagi dikejar polisi meneruskan pencarian mereka dengan damai.

Mereka pergi ke sebuah gereja Roslin. Ternyata di sana mereka bertemu dengan nenek Sophie yang dikira sudah meninggal, dan juga adik laki-laki Sophie. Setelah menggabungkan cerita, ternyata Sophie sendiri adalah keturunan langsung dari Yesus dan Maria Magdalena, sehingga ia dilindungi.

Ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan, kakek dan nenek Sophie berpencar dan masing-masing membesarkan satu orang cucu. Hal ini dilakukan demi keamanan. Pada akhir cerita, Langdon kembali ke Paris karena tidak menemukan Cawan Suci di Roslin. Namun, ia tiba-tiba ingat kembali akan salah satu petunjuk Sauniere, dan akhirnya meyakini bahwa tulang-tulang Maria Magdalena disembunyikan di Paris, dekat museum Louvre itu sendiri.***

1 James L. Garlow dan Peter Jones, Cracking Da Vinci’s Code (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2005), hal. 114-117.

Sumber: PEDANG ROH Edisi 44 Tahun XI Juli-Agustus-September 2005

MEREKA MENYESATKAN DAN DISESATKAN

sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. II Tim 3:13

Rasul Paulus pada kalimat-kalimat sebelum yang kita kutip di atas, menyatakan bahwa perjuangannya dalam memberitakan kebenaran sungguh berat. Ia telah dianiaya di Antiokhia, Ikonium dan di Listra yang dirasakan juga oleh Timotius. Pada ayat ke-12 ia menyimpulkan bahwa orang yang benar-benar hidup beribadah akan menderita aniaya. Alasannya adalah karena orang jahat akan semakin jahat, dan mereka akan saling menyesatkan.

Penyesatan Merajarela

Berita yang paling baru, majalah Tempo, 3 Juli 2005 halaman 58, dengan judul Gereja Nyaris Bertauhid, mengisahkan Pendeta Robert P. Walean, Sr. yang mengajarkan “Islam Hanif” kepada jemaat Advent, sehingga menyebabkan prokontra di kalangan Jemaat bahkan pendeta Gereja Advent.

Dan Brown menulis novel yang berjudul The Da Vinci’s Code untuk menghujat Tuhan dengan cerita novel isapan jempol bahwa Yesus telah menghamili Maria Magdalena sebelum penyaliban, dan akhirnya Maria Magdalena melahirkan anak di Prancis Selatan.

Sementara itu Jurnal Theologi dan Gereja, Penuntun (Paidagogos), yang diterbitkan oleh GKI JAWA BARAT, pada Vol.5 No.19, 2003, pada makalah Kristen Fundamentalis dan Masa Depan Hubungan antar Agama, oleh Martin Hartono Sutedja, S.Th., bukan hanya menyerang kaum Kristen Fundamentalis, namun sesungguhnya menyerang Alkitab.

Terlebih lagi dalam artikel Klaim Palsu dan Sikap Eksklusif Fundamentalis-Injili: Suatu Ancaman bagi Masa Depan Hubungan antarAgama, oleh Adji Ali Sugito, S.Th., yang telah terang-terang menyatakan bahwa, “Alkitab bukanlah Firman Allah yang setiap kata-kata atau pemikirannya harus ditaati secara mutlak oleh manusia di sepanjang zaman.”(Hal.263).

Lebih mengagetkan lagi, seorang pengikut Saksi Yehova datang ke kantor penulis untuk berargumentasi bahwa Yesus bukanlah Allah. Ketika dihadapkan kepadanya beberapa ayat yang telah terang-terangan menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah (1 Yoh.5:20, Fil.2:6,Yoh.1:1-3), yang bersangkutan dengan enteng mengeluarkan Alkitabnya dan membacakan ayat-ayat tersebut yang ternyata bunyinya berbeda dari Alkitab penulis. Rupanya Alkitabnya adalah terjemahan dan terbitan kelompok mereka sendiri. Sungguh mengagetkan!

Belum lagi kita hadapi gereja-gereja yang penyimpangannya tidak sejauh kondisi tersebut di atas, namun telah kehilangan “cahaya” dan rasa “asin”nya karena sikap kompromi terhadap arus penyesatan zaman ini.

Segala macam racun yang diciptakan untuk membinasakan jiwa ke Neraka, telah tersebar ke seluruh muka bumi dengan gampang melalui media cetak maupun visual yang sangat canggih di zaman ini. Dari jenis yang terlihat sangat ilmiah (kaum Liberal [National Geography Society]) hingga yang sangat mistik (kaum Kharismatik). Akhirnya seorang patut bertanya, apakah yang disebut Kristen sejati, dan apakah komentar Kristen sejati atas semua ini?

Identifikasi Masalah

Robert P. Walean berdasarkan satu ayat saja, yaitu Yesaya 60:7 yang berbunyi, “Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.” Berdasarkan ayat ini Robert yakin bahwa orang Islam adalah golongan yang diterima Tuhan, karena orang Kedar di situ menunjuk pada bangsa Arab.

Kemudian ia mengkombinasikan dengan ayat Al-Quran surat An-Nahl ayat 123, yang berbunyi, “kemudian kami wahyukan kepadamu, ikutlah agama Ibrahami secara hanif.” Dari satu ayat Alkitab dan satu ayat Al-Quran Robert mendirikan “Islam Hanif” yang hari sucinya adalah hari Sabtu sesuai dengan keyakinan Gereja Advent.

Bayangkan, tanpa sekolah theologi, atau tidak pernah belajar tentang sistem penafsiran Alkitab yang benar, setelah bangkrut sebagai exportir furniture, demikian kata Tempo, ia mendirikan sebuah aliran campuran Islam-Kristen, dan sudah ada 500 orang pengikut atau anggota jemaat.

Di luar negeri, Dan Brown, menulis sebuah novel yang berjudul The Da Vinci’s Code. Ia telah menulis berdasarkan kode lukisan Leonardo Da Vinci yang hidup antara tahun 1452-1519 bahwa Yesus Kristus menghamili Maria Magdalena, dan memiliki keturunan yang hidup hingga kini. (Rangkuman bukunya ada di halaman 5)

Yang konyol adalah, sekalipun berbentuk novel dan dengan nama-nama samaran, ternyata banyak orang mempercayainya sehingga buku tersebut telah laku jutaan copy. Sehingga pada Jumat malam, tanggal 1 Juli 2005, Channel TV National Geography membahas buku ini dengan mewawancarai berbagai pribadi. Seorang Pastor ditanya apakah ia bisa percaya bahwa Yesus memiliki keturunan yang hidup hingga kini, ia menjawab “saya tidak tahu.”

Bukan hanya buku The Da Vinci’s Code ini, bahkan The Last Temptation juga menceritakan tentang hal yang hampir sama. Juga ada sebuah buku yang ditulis oleh Holger Kersten yang berjudul Jesus Lived in India, dan kita harus bersiap-siap mendengar munculnya buku lain yang mungkin lebih berani dengan isi yang lebih kontroversial lagi.

Sementara itu GKI Jawa Barat menerbitkan artikel yang menyatakan bahwa Alkitab bukan catatan firman Allah yang akurat yang patut dipercayai seluruh pernyataannya.

Bahkan, digambarkan bahwa keakuratannya jauh lebih tidak bisa dipercayai jika dibandingkan dengan laporan para wartawan masa kini.

Dimanakah letak kepala semua benang kusut ini sesungguhnya? Jawabnya, ketika orang Kristen tidak tahu dasar imannya, dan ketika orang Kristen menghancurkan dasar imannya, atau ketika orang-orang Kristen duduk di ujung dahan sambil memotong pangkal dahannya, maka kalau bukan dungu, ia adalah antek-antek iblis yang disusupkan ke dalam kekristenan.

Diagnosa Penyebab Penyesatan

Pemazmur dalam Mzm.11:3 menyatakan sebuah kebenaran yang sangat hakiki, katanya, “apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?” Sebelumnya di ayat dua pemazmur mengajak melihat tingkah orang fasik (ungodly), mereka memasang anak panah untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap. Iblis sedang membidik manusia-manusia di dunia dengan segala jenis “anak panah” untuk menghancurkan iman kekristenan.

Sasaran yang paling utama untuk dihancurkan ialah DASAR-DASAR (foundations) kekristenan itu sendiri. Jika fondasi kekristenan berhasil dihancurkan, maka tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Daripada menyesatkan secara individu, tentu jauh lebih menguntungkan bagi iblis untuk menghancurkan dasar-dasarnya. Jika ia berhasil menghancurkan dasar-dasar kekristenan, maka Injil yang diberitakan pun tidak ada arti lagi.

Ketika Alkitab tidak dihormati, maka Injil tidak perlu diberitakan lagi. Kalau Alkitab bukan firman Allah yang tiap-tiap katanya harus diimani dan dipatuhi maka berarti dasar kekristenan telah dihancurkan. Semua buku theologi yang pernah ditulis adalah bohong jika Alkitab bukan firman Allah yang tidak ada salah. Sebab kalau Alkitab adalah catatan atau refleksi religius belaka maka ia tidak memiliki otoritas untuk dipatuhi.

Kalau Alkitab kehilangan otoritas maka tentu Yohanes 14:6 juga kehilangan otoritas sehingga Yesus akan menjadi salah satu juruselamat, bukan satu-satunya Juruselamat. Padahal baik ayat Yoh.14:6, maupun Kis.4:12, jelas-jelas menegaskan absolutisme bahwa HANYA Yesus SAJA satu-satunya Juruselamat. Siapapun yang tidak bertobat dan percaya kepada Yesus sebagai Juruselamatnya, akan mati dan binasa di Neraka. Atas dasar inilah maka Injil harus diberitakan kepada umat agama lain. Tindakan ini bukan kristenisasi, melainkan sebuah rescue mission. Bagi yang percaya pada Alkitab, dan yang mengaminkan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada keselamatan pada nama lain selain nama Yesus, pemberitaan Injil adalah sebuah tindakan terpuji dan penuh kasih atau sebuah rescue mission.

Tetapi sebaliknya ketika seseorang tidak menjunjung tinggi Alkitab, melainkan menganggap Alkitab sekedar tulisan refleksi iman para murid Tuhan, dan melihat ada kebenaran ilahi pada kitab-kitab suci lain, maka otomatis yang bersangkutan akan melihat Yesus hanya SALAH SATU juruselamat, bukan satu-satunya juruselamat. Kalau Yesus sekedar salah satu Juruselamat, dan umat agama lain bisa masuk Sorga tanpa melalui Yesus Kritus, maka tidak perlu ada usaha penginjilan. David Livingstone, Hudson Taylor, William Carey, Adoniram Judson semuanya adalah orang bodoh yang telah menjerumuskan hidupnya untuk pekerjaan yang tidak perlu.

Betulkah umat Islam bisa masuk Sorga tanpa bertobat dan percaya Yesus? Betulkah orang bisa mengikuti ajaran Khong Hu Cu dan bisa masukSorga? Betulkah orang berpantang makan daging dan bertapa untuk mengosongkan diri bisa masuk Sorga? Kalau betul, maka tidak perlu pemberitaan Injil. Kalau betul maka perintah Yesus Kristus dalam Mark.16:15 “pergilah ke seluruh dunia, dan beritakan Injil,” serta “menjadi saksiku di Yerusalem dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi,” adalah perintah konyol yang tidak perlu.

Sesungguhnya semua penyesatan dalam kekristenan bisa muncul, penyebab utamanya ialah penghormatan terhadap Alkitab yang menurun. Kelompok Saksi Yehova berani merubah arti ayat sesuai dengan kemauan mereka adalah karena mereka tidak takut pada ancaman dalam Wahyu 22:18-19.

Dimanakah Sumber Otoritas Alkitab?

Kitab Perjanjian Lama, 39 kitab, yang terdiri dari tiga kelompok kitab (Torah, Nabium, dan Ketubim), adalah firman Allah yang diturunkan oleh : 1. Tradisi Yahudi dengan penuh hormat. Mereka adalah orang yang sangat menghormati Allah dan firmanNya. Dalam penyalinan ulang, ketika hendak menulis kata YHWH mereka mencuci tangan terlebih dulu. Seandainya teks PL dipelihara Martin Hartono Sutedja,S.Th.,atau Adji Ali Sugito, S.Th., maka sudah pasti akan banyak berubah. Semua 2. penulis kitab PB mengutip kitab-kitab PL dan terang-terangan menyatakannya firman Allah, bukan catatan refleksi iman para penulisnya. Dan yang terutama adalah 3. pernyataan Yesus Kristus bahwa ketiga kelompok kitab tersebut menulis tentang Dia (Luk.24:44), yang mengandung arti bahwa kitab-kitab itu adalah petunjuk dari Allah tentang Sang Mesias.

Berdasarkan sekurang-kurangnya tiga alasan tersebut di atas maka kitab PL tidak diragukan sedikit pun adalah firman Allah yang tidak ada salah. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang ibadah simbolik, sejarah, pengajaran moral, nubuat tentang Mesias dan hal-hal lain di depan, bahkan berbagai aturan khusus untuk bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran untuk periode waktu dari Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil (Luk.16:16, Mat.11:13-14).

Karena di dalamnya terdapat berbagai hal tersebut di atas, maka untuk orang Kristen periode sesudah Yohanes tampil hingga hari pengangkatan (Rapture), harus dapat membedakan antara perintah-perintah untuk bangsa Yahudi yang berhenti hingga Yohanes tampil dengan perintah moral yang berlaku sepanjang masa. Hukum-hukum (KUHPer) yang Tuhan berikan untuk menertibkan bangsa Yahudi dan banyak aturan ibadah simbolik hanya berlaku hingga Yohanes tampil.

Sementara itu orang Kristen harus dapat memilah perintah-perintah yang bersifat kekal, misalnya item-item sepuluh hukum kecuali hukum keempat yaitu penghormatan hari Sabat yang adalah simbol menghormati Allah yang telah digenapi oleh Tuhan Yesus karena kita tidak lagi beribadah dalam simbolik melainkan dalam hakekat (Mat.12:1-8, Mrk.2:28, Luk.6:5). Para Rasul kemudian beribadah bukan pada hari Sabtu melainkan pada hari Minggu (Kis.20:7, I Kor.16:2).

Kitab PL diterima sebagai firman Tuhan dan umat Kriten yang adalah tiang penopang dan dasar kebenaran periode (Yohanes Tampil hingga rapture [Mat.11:13-14, Luk.16:16 bandingkan dengan I Tim.3:15]). Kitab PL bagi orang Kristen adalah dasar latar belakang tentang Mesias. Jika tanpa kitab PL, lalu tiba-tiba anak Yusuf dan Maria menyebut dirinya Juruselamat, itukan membingungkan. Kita tahu bahwa kita tidak perlu menyunat anak kita pada hari kedelapan karena itu adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk keturunan sebagai tanda kontrak bahwa mereka akan menjadi bangsa tiang penopang dan dasar kebenaran hingga Sang Juruselamat tiba. Sistem penafsiran Alkitab yang benar akan memperlihatkan hubungan antara PL dan PB yang indah dan harmonis.

Kitab-kitab PB diterima sebagai firman Tuhan sama sekali bukan melalui persidangan Nicea, melainkan karena jemaat-jemaat mula mula tahu bahwa tulisan tersebut: 1. ditulis langsung oleh Rasul, dan yang 2. di-back up oleh Rasul, serta yang 3. di-proofread atau beredar selagi Rasul masih hidup adalah firman Allah. Ke-27 kitab PB yang di tangan kita telah memenuhi salah satu dari ketiga syarat di atas. Karena iblis tahu tiga syarat tersebut sangat penting, maka ia memakai theolog Liberal untuk mengutak-atik kitab-kitab PB melalui higher-criticism. Mereka berkata bahwa Injil Matius bukan Rasul Matius yang tulis, dan Surat Timotius bukan tulisan Rasul Paulus, yang tujuan kesemuanya adalah untuk membuat tulisan-tulisan tersebut tidak memenuhi syarat tersebut di atas. Mereka selalu membuat teori bahwa kitab tertentu ditulis pada abad ke-2 bahkan ke-3 agar terkesan tulisan itu dibuat sesudah tidak ada kehadiran Rasul lagi.

Kitab PL adalah kesaksian para Nabi yang adalah firman Allah untuk menuntun manusia mengenal Sang Mesias (Juruselamat) yang dijanjikan. Kesaksiannya lebih penting daripada kesaksian manusia yang mati dan hidup lagi (Luk.16:19-31).Dan kitab-kitab PB adalahkesaksian paraRasul,yang adalah saksi mata atas segala yang diperbuat Yesus. Jelas orang pintar lebih percaya kepada Rasul Petrus yang mengatakan bahwa Yesus tidak berdosa sama sekali (I Pet.2:22) daripada kepada Dan Brown. Hanya orang bodoh yang lebih percaya pada Dan Brown yang telah menjadi kaya raya dari novel hasil fantasinya.

Sementara itu Leonardo Da Vinci yang hidup pada abad-15, bahkan tidak pernah melihat wajah Yesus maupun wajah Maria Magdalena. Semua lukisannya adalah hasil imajinasi fantasinya. Orang Kristen fundamentalis tidak terpengaruh sedikit pun oleh fantasi konyol dan cerita bohong Dan Brown.

Kekokohan Fondasi Kekristenan

Ketika proses pewahyuan sampai kitab Wahyu pasal terakhir ayat terakhir, maka Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Jadi, yang disebut firman Allah hanyalah 66 kitab yang ada dalam Alkitab, dimana 39 kitab PL kita diwarisi dari bangsa Yahudi, dan 27 kitab PB adalah kesaksian dan pengajaran para Rasul. Oleh sebab itu fondasi kekristenan yang paling dasar adalah tulisan para Nabi dan para Rasul yang hanya terdapat dalam Alkitab.

Jika semua orang Kristen faham akan kebenaran hakiki ini dan menolak keberadaan nabi manapun yang datang kemudian, maka penyesatan pasti akan jauh berkurang dan Injil lebih gampang diberitakan.

Untuk meyakinkan manusia bahwa seseorang itu Nabi yang berbicara atas nama Allah, mereka para Nabi mengatakan sesuatu sebelum hal tersebut terjadi. Inilah yang disebut bernubuat, artinya memberitahukan hal yang akan terjadi di masa depan. Belakangan ini banyak nabi palsu menubuatkan pada pemilu yang lalu bahwa Megawati akan jagi presiden lagi, bahkan Ruyandi Hutasoit akan jadi presiden dan lain sebagainya.

Munculnya orang-orang yang menyebut dirinya nabi sesudah pewahyuan selesai adalah program iblis untuk membuat para Nabi penulis Alkitab menjadi kehilangan kekhususan. Sebab kalau si Rudi yang minggu lalu bernubuat adalah nabi, apa bedanya ia dengan Musa dan Yesaya? Kalau si Amat yang bernubuat dan menulis buku menyebut dirinya nabi, maka apa bedanya isi kitab Daniel dengan isi buku Amat? Oleh sebab itu sesudah pewahyuan berhenti, maka tidak ada seorang pun boleh dipercayai sebagai nabi. Untuk kebenaran ini tidak boleh ada kompromi sedikit pun.

Lalu bagaimana dengan Rasul? Tuhan Yesus sendiri menetapkan 12 murid yang disebut Rasul, dan ketika Yudas tersingkir dipilihlah seorang yang syaratnya bersama-sama dengan rombongan sejak baptisan Yohanes. Mengapakah Tuhan Yesus menetapkan 12 orang sebagai Rasul? Karena Tuhan tahu bahwa nanti akan muncul orang seperti Dan Brown, Holger Kersten, dan mungkin akan ada lagi yang mengarang cerita sesuai dengan daya fantasi mereka. Murid-murid Tuhan sepanjang masa harus tahu bahwa orang bisa mengarang cerita apa saja tentang kehidupan Yesus, tetapi yang benar adalah yang diceritakan oleh 12 RasulNya yang hidup bersamanya siang malam selama tiga setengah tahun.

Orang bisa mengarang cerita bahwa Yesus merampok, mengawini Maria Magdalena, atau membunuh orang Farisi atau apa saja. Tetapi semua itu jangan dipercaya, karena mereka tidak bersama-sama Tuhan Yesus sehari 24 jam seperti kedua belas RasulNya.

Mengapa kita tidak terima Injil apokripa seperti Injil Petrus, Injil Thomas, Injil Barnabas dll.? Jawabnya adalah semua kitab itu muncul setelah Petrus tidak ada, setelah Thomas tidak ada dan setelah Barnabas tidak ada. Siapakah yang bisa tahu bahwa itu betul tulisan Barnabas? Sedangkan empat Injil dan surat-surat yang ada dalam kitab PB kita adalah kitab-kitab yang beredar selagi Rasul Yohanes masih hidup (sebelum tahun 95 AD).

Rasul Paulus dipanggil Kristus menjadi Rasul dan telah diterima oleh semua Rasul lain sebagaimana pernyataan Rasul Petrus (II Pet.315-16). Iabukan dipanggil untuk menulis riwayat hidup Yesus tetapi dipanggil untuk mengajarkan dan menuliskan konsep theologi Perjanjian Baru yang berbeda dengan konsep theologi Perjanjian Lama. Konsep theologi PL bersifat ibadah simbolik sedangkan konsep theologi PB bersifat ibadah hakekat (dalam roh dan kebenaran).

Jadi, iblis memakai theolog Liberal untuk menghancurkan Alkitab dari segi tipuan intelektual yang ujungnya memberi kesan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang patut dipercayai apalagi dipatuhi setiap katanya. Di sisi lain ia memakai “pebisnis” rohani kalangan kharismatik untuk bernubuat palsu dan berbahasa lidah palsu untuk mengesankan bahwa zaman sekarang masih ada nabi dan rasul. Dengan berbuat demikian mereka menurunkan derajat para Rasul asli. Sebab, kalau si Toni bisa bernubuat berarti posisinya sama dengan Petrus dong! Kalau di Ani berbahasa lidah maka berarti jika bahasa lidahnya diterjemahkan maka itu adalah firman Allah yang sama tingkatannya dengan isi Alkitab dong!

Jika hari ini ada nabi dan rasul, maka dimanakah keistimewaan para Nabi Perjanjian Lama, dan dimanakah keistimewaan para Rasul yang menulis kitab Perjanjian Baru?

Lihatkah pembaca alasan iblis memunculkan nabi palsu dan rasul palsu? Tujuan utama semua itu adalah agar Alkitab kehilangan keistimewaannya, agar Alkitab kehilangan otoritasnya di hati manusia. Orang Kristen alkitabiah harus dengan tegas berkata bahwa sesudah pewahyuan kitab Wahyu pasal terakhir dan ayat terakhir, Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Dan sejak saat itu Allah tidak mengangkat orang menjadi Nabi atau Rasul. Dan tentu Allah tidak menurunkan wahyu untuk dinubuatkan lagi.

Lihatkah pembaca bagaimana cara iblis menurunkan otoritas Alkitab? Dalam buku Behind the Scenes: The True Face of the Fake Healers, Yves A. Brault menulis bahwa suatu ketika di depan penonton TBN, Benny Hinn ditanya oleh reporter tentang banyak nubuatannya yang tidak akurat, ia menjawab bahwa sama seperti para Nabi dan para Rasul ia juga manusia yang bisa salah. Ia menaikkan derajatnya dengan cara menurunkan derajat para Nabi dan para Rasul. Padahal Tuhan telah mengatakan dalam Ulangan 18:17-18, kalau ada orang menyebut dirinya nabi dan bernubuat dan ternyata nubuatannya tidak terjadi, maka ia pasti bukan nabi dari Tuhan. Pada zaman itu demi sacral-society Tuhan perintahkan orang tersebut dirajam.

Untuk menunjukkan bahwa semua omongan dan tulisan Nabi dan Rasul tidak akan salah karena diilhamkan Allah, mereka diberi kuasa melakukanmujizat(IIKor.12:12). Oleh sebab itu, selain Nabidan Rasul tidak ada orang yang mendapat kuasa melakukan mujizat dari Allah. Yves A. Brault, orang yang telah mengikuti Benny Hinn bertahun-tahun mengungkapkan tipu muslihat dibalik setiap orang yang diklaim telah disembuhkan.

Tuhan sengaja memberikan kuasa kepada Rasul Paulus, bahkan sapu tangannya, bisa menyembuhkan orang. Dan Tuhan memberikan kuasa kepada Petrus, bahkan bayangannya bisa menyembuhkan orang. Untuk apakah semuanya itu? Agar Paulus dan Petrus jadi keren? Bukan! Melainkan untuk membuktikan bahwa kesaksian dan pengajaran mereka dari Tuhan. Tulisan mereka bukan sekedar refleksi iman, melainkan firman Allah. Kalau firman Allah, sudah pasti tidak ada salah, karena Allah mahabenar dan Allah sempurna.

Kalau Allah sanggup menciptakan langit dan bumi, tidak sanggupkah Ia menuliskan sebuah kitab yang tidak ada salah? Demi memenuhi kebutuhan akal sehat manusia yang diciptakanNya, Allah sengaja memakai lebih dari satu orang menuliskan hal-hal yang bersifat sejarah. Allah tentu tahu bahwa akan ada perbedaan hal-hal kecil antara penulis yang satu dengan yang lain, yang bukan kesalahan melainkan perbedaan penekanan. Jika hanya satu koran saja yang menulis sebuah peristiwa, jelas tidak akan ada pertentangan. Tetapi kalau lima-enam koran yang menulis peristiwa yang sama, walaupun ada perbedaan detail, masyarakat puas dengan perbedaan-perbedaan karena itu melengkapi pengetahuan mereka. Apa yang kurang mendapat perhatian oleh wartawan yang satu ternyata menjadi perhatian wartawan lain.

Kalau semua koran itu dibaca dua ribu tahun ke depan, tentu akan ada masalah. Tetapi jelas bahwa para wartawan telah menulis dengan jujur. Apalagi para Rasul yang telah mati bagi tulisan mereka dan dipimpin Roh Kudus.

Lalu, bagaimana dengan kesalahan-kesalahan yang ditunjuk Adji Ali Sutedja, S.Th.? Sikap yang terlalu cepat menyalahkan Alkitab adalah sikap SOMBONG yang menganggap diri lebih tahu dari Allah, atau menganggap diri mahahadir dan mahatahu. Kalau hari ini di Suara Pembaruan menulis mahasiswa pada tanggal 1 Agustus 2005 berdemonstrasi menuntut penyelesaian kasus Bulog-gate lalu koran Kompas menulis 1 Agustus 2005 mahasiswa berdemonstrasi menuntut penyelesaian kasus Akbar Tanjung, dan kedua koran itu dibaca oleh orang-orang pada tahun 4000 masehi, lalu berkata bahwa wartawan Suara Pembaruan dan wartawan Kompas ngaco, sangat tidak akurat, dan berbagai penilaian negatif, maka itu masih tidak apa-apa. Tetapi jika menyangkut firman Allah, jelas ada resikonya di hadapan Allah. Sering kali seseorang yang tidak sanggup memahami cerita yang seolah-olah kontradiksi dengan pikirannya yang cetek, daripada rendah hati mengaku belum mampu atau masih perlu waktu untuk menyelidikinya, malah lebih memilih menyalahkan penulis Alkitab yang jujur, bahkan diilhamkan oleh Roh Kudus. Ini kesombongan yang bisa menuntun dirinya dan orang lain ke Neraka.

Kesimpulan

Ketika catatan para Rasul yang bersama-sama Tuhan Yesus 24 jam sehari-semalam direndahkan, terlebih lagi ketika kitab yang diilhamkan Allah untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa diremehkan, dan ketika theolog Liberal menyerang Alkitab dengan alasan mencari kebenaran, lebih-lebih lagi para “dukun rohani” seperti Benny Hinn cs meninggikan diri dengan cara merendahkan posisi penulis Alkitab, maka novel hasil imajinasi Dan Brown akan laris keras sehingga dalam sekejap ia menjadi kaya-raya. Robert P. Walean bisa menyimpulkan seluruh kebenaran Alkitab hanya dengan satu ayat tanpa perlu konfirmasi dari ayat-ayat lain Alkitab, adalah lintasan keanehan-keanehan yang menyentakkan.

Ketika firman Allah dinetralisir menjadi tulisan umum, ketika satu-satunya firman Allah menjadi salah satu firman Allah, dan ketika di muka bumi ini tidak ada satu kitab yang betul-betul diyakini firman Allah, maka fondasi untuk mendapatkan kebenaran lenyaplah sudah. Ketika Alkitab berhasil dilencengkan maka Iblis telah berhasil menghancurkan dasar atau fondasi kekristenan, bukan hanya di hati orang-orang yang fasik (ungodly) namun juga di hati kalangan orang Kristen bahkan theolog, terutama yang mencari makan dengan Alkitab. Pada saat dunia tiba pada kondiri tidak ada standar kebenaran, nilai kesaksian para Nabi dan para Rasul dinihilkan, maka perkataan Rasul Paulus sangat tepat dan nyata, bahwa orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

Akhirnya kita patut berseru seperti seruan pemazmur, “tolonglah kiranya, Tuhan, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia” atau dalam bahasa Inggrisnya “Help, LORD; for the godly man ceaseth; for the faithful fail from among the children of men” (Mzm.12:2).

Sumber: PEDANG ROH Edisi 44 Tahun XI Juli-Agustus-September 2005

Sabtu, 21 November 2009

Nyatakan Apa Yang Salah

II Tim.4:1-5

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

SIKAP TERHADAP ALKITAB

Banyak orang memperlakukan firman Tuhan secara diskriminatif. Mereka sangat memperhatikan ayat-ayat Alkitab tertentu karena ayat-ayat tersebut sangat cocok dengan keadaan mereka, atau sangat sesuai dengan keinginan hati mereka, atau memihak mereka. Sikap demikian jelas bukan sikap mematuhi firman Tuhan melainkan memanfaatkan firman Tuhan untuk kepentingan diri sendiri.

Ada juga orang Kristen yang bersikap diskriminatif terhadap firman Tuhan karena beda yang mengucapkan atau yang menuliskannya. Perintah Tuhan Yesus yang ditulis oleh Rasul Matius disebut Amanat Agung (Mat.28:19-20) dan sangat diperhatikan sementara perintah Tuhan yang disampaikan melalui Rasul Paulus sebagaimana nats kita di atas dianggap remeh.

Jika kita melihat Alkitab sebagai sebuah kitab yang sumbernya satu, yaitu Allah Pencipta langit dan bumi, siapapun yang menjadi penulisnya tidak menjadi masalah karena mereka semuanya mendapatkan ilham dari Allah, maka sepatutnya kita menyikapi semua ayat Alkitab secara sama, artinya semuanya adalah firman Allah yang perlu kita taati. Hanya dengan sikap demikianlah usaha exegesis terhadap ayat-ayat Alkitab berguna untuk dilakukan.

OTORITAS PEMBERI PESAN

Rasul Paulus mengharapkan sikap tunduk dan hormat dari Timotius atas pesan yang akan disampaikannya, sehingga Timotius dan semua murid Tuhan akan dengan sungguh-sungguh melaksanakan pesannya. Ungkapan di hadapan Allah dan Yesus Kristus adalah ungkapan yang sangat serius. Allah adalah pencipta langit dan bumi, dan Yesus Kristus adalah Juruselamat yang telah menyelamatkan kita. Mungkinkah ada murid yang berani membantah atau mengabaikan pesan yang disampaikan di hadapan Allah dan Yesus Kristus?

Bahkan Rasul Paulus memberi penekanan yang lebih hebat lagi dengan menunjukkan kuasa Allah dan Yesus Kristus yang akan menghakimi orang hidup dan orang mati. Tidak ada seorang murid pun yang boleh mengelak dari tanggung jawab atas pesan yang disampaikan karena waktu kita masih hidup kita harus melaksanakannya dan nanti pada saat kita mati kita pun masih tetap akan dimintai tanggung jawab atasnya. Jadi, tidak ada satu murid pun yang boleh mengabaikan pesan yang disampaikannya kepada Timotius dan kepada setiap murid Kristus generasi berikut.

Demi penyataanNya dan demi kerajaanNya, menambah keseriusan pesan yang akan Paulus sampaikan. “Penyataan” itu artinya penyingkapan atau wahyu. Sebagaimana Allah menyatakan banyak wahyu kepada Rasul Paulus, baik wahyu doktrinal maupun misi pemberitaan Injil hingga ke ujung bumi, termasuk kondisi pemberitaan Injil pada akhir zaman. Jadi, demi penyataan atau wahyu yang telah dinyatakan kepada Paulus tentang situasi pemberitaan Injil pada akhir zaman yang akan semakin sulit, dan demi kerajaan Yesus Kristus yang akan didirikan sesudah pemberitaan Injil berakhir, pesan berikut ini disampaikan.

ISI PESAN

(1) Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Firman apa yang harus diberitakan dalam segala waktu itu? Jawabnya adalah: berita tentang keselamatan bagi manusia melalui penebusan yang dilakukan Yesus Kristus. Manusia berdosa yang tadinya harus dihukum ke neraka ternyata mendapatkan kasih Allah sehingga Ia telah mengutus Yesus untuk dihukumkan menggantikan manusia.

Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan manusia dari akibat dosa, yaitu mengambil alih hukuman yang harus ditanggung manusia. Yesus Kristus telah melakukan tugas tersebut dengan menerima hukuman di atas kayu salib sebagai penjahat terbesar menggantikan manusia berdosa seisi dunia (Ibr.2:9). Setiap orang yang bertobat dan percaya bahwa Yesus telah menggantikannya di hukum dan ia kini sedang menggantikan Yesus hidup, mendapatkan kepastian masuk Sorga.

Firman yang agung dan mulia inilah yang dipesankan oleh Tuhan melalui Rasul Paulus untuk diberitakan. Beserta dengan berita ini tentu termasuk semua pengajaran doktrinal yang merupakan pengajaran harmonisasi dari Injil Keselamatan. Setelah seseorang diselamatkan, tentu ia harus melanjutkan hidupnya sesuai dengan Alkitab, bukan sesuai dengan mimpi, atau nubuatan kontemporer. Firman tertulis yang telah dikanonkan dalam Alkitab telah final sehingga tidak ada nubuatan yang datang dari Tuhan lagi sesudah Wahyu 22:21.

Ketika seseorang diselamatkan Injil, ia juga diperintahkan untuk berjemaat, sehingga ia harus mengenal jemaat yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan Alkitab, karena kini sesungguhnya terdapat banyak jemaat iblis (Wah.2:9, 3:9).

Gereja yang memberitakan Injil yang benar adalah jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Sebaliknya gereja yang memberitakan Injil yang salah adalah wadah penyesatan, bukan jemaat Allah melainkan jemaat iblis (Wah.2:9, 3:9). Berhubung keberadaan jemaat iblis itu sangat membahayakan manusia, karena akan menenggelamkan manusia ke neraka, maka Tuhan menghendaki murid-muridNya dengan gagah berani menyatakan apa yang salah. Kalau tidak ada orang yang berani menyatakan apa yang salah, maka kelestarian bahkan pertumbuhan jemaat iblis akan semakin pesat, dan tentu akibatkan semakin banyak orang disesatkan.

(2) Nyatakanlah apa yang salah. Orang Kristen yang diselamatkan, belum segera dibawa ke Sorga tetapi harus bersaksi kepada manusia di dunia ini tentang Injil Keselamatan yang telah menyelamatkannya. Sehubungan dengan tugas ini maka ia perlu memahami Injil bukan sekedar untuk diimani melainkan hingga tahap sanggup menjelaskannya kepada orang lain. Dan juga karena diperintahkan untuk berjemaat, maka ia harus tahu dan turut bertanggung jawab atas jemaat dimana ia menjadi bagian sehubungan dengan seluruh pengajarannya. Setiap hal negatif yang terjadi dalam jemaat akan dituntut Tuhan pada setiap anggotanya dan sebaliknya setiap hal positif yang dilakukan jemaat akan dipuji atau dihadiahi Tuhan pada setiap anggotanya.

Tuhan menghendaki murid-muridNya dengan gagah berani menyatakan kebenaran dan tentu juga menyatakan segala kesesatan atau kesalahan. Sebelum dunia mengenal kebebasan pers, Tuhan telah memprakarsai kebebasan pers melalui Rasul Paulus bahwa orang Kristen harus menjadi pelopor kebebasan pers. Siapakah dalam sebuah negara demokrasi yang menghendaki pers hanya menulis semua positif dan kebaikan aparat pemerintah namun menyembunyikan kesalahan dan keburukan mereka? Tentu para koruptor akan sangat senang dengan pembungkaman pers agar semua “boroknya” tidak terungkap kepada publik.

Ketika Tuhan berpesan agar murid-murid-Nya menyatakan apa yang salah, di dalamnya terkandung sebuah niat yang luhur sebagaimana niat kebebasan mengemukakan pendapat atau kebebasan pers di sebuah negara demokrasi yang bertujuan agar tidak ada orang yang dapat menyembunyikan keburukan.

Tuhan menghendaki agar ada kebebasan mengemukakan pendapat atau bahkan ada perdebatan doktrinal agar kebenaran berkumandang sejajar dengan kemampuan pikiran manusia beserta kecintaan hatinya akan kebenaran. Seandainya kebenaran yang kalah sebagai konsekuensi kebebasan mengemukakan pendapat, maka itu apa boleh buat, paling-paling itu menandakan mayoritas manusia zaman itu tidak berpikir dengan baik atau tidak cinta kebenaran. Artinya jika oleh kebebasan mengemukakan pendapat, ternyata kebenaran dikalahkan, maka itu adalah resiko bagipembela kebenaran.Namun kekalahan ini terhormat dan puas karena kemenangan di dunia adalah sementara sampai kita menghadap Sang Pencipta.

Sebagaimana di negara demokratis rakyat tidak menghendaki pengekangan kebebasan berpendapat, lebih lagi Tuhan, Sang Pencipta akal budi manusia, tidak menghendaki adanya pengekangan kebebasan pemakaian akal budi yang diciptakanNya.Tuhan menghendaki agar tiap-tiap orang bebas menyatakan sesuatu yang dinilainya benar dan salah.

Lalu bagaimana dengan firman yang mengatakan “jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Mat.7:1-2). Kalau pembaca memperhatikan ayat tersebut di atas, sama sekali tidak dilarang untuk menghakimi, melainkan yang menghakimi harus siap dihakimi dengan ukuran yang sama. Kalimatnya, “jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Ayat ini tidak bertentangan dengan perintah nyatakan apa yang salah, karena siapa yang berani menyatakan orang lain salah harus siap dikonfirmasi atau diadu berargumentasi, atau dinyatakan salah juga oleh orang lain. Ingat, dalam hal benar-salah cara mendapatkannya bukan dengan adu otot, melainkan adu argumentasi. Kalau seseorang siap diukur dengan ukuran yang sama, silakan ia melakukan pengukuran. Dan kalau tidak mau diukur orang lain, atau dihakimi orang lain, ya jangan menghakimi. Dengan kata lain, setiap orang yang berani menyatakan orang lain salah, adalah orang yang siap berargumentasi atau siap dinyatakan salah oleh orang lain.

Iblis menghembuskan konsep yang aneh dan mendorong sikap yang aneh di kalangan orang Kristen. Konsep dan sikap aneh ini dibutuhkan iblis sebelum ia mengirim para penyesatnya. Konsep bahwa tidak boleh mengatakan orang lain salah adalah pra-kondisi yang sangat dibutuhkan oleh penyesat agar pengajaran sesatnya tidak diutak-atik atau tidak dinyatakan salah oleh pengajar kebenaran. Camkanlah, dan renungkanlah! Pengajaran sesat akan sangat gampang ditekel jika konsep demikian dihilangkan dari kepala orang Kristen. Orang Kristen yang kritis tidak gampang disesatkan. Yang gampang disesatkan hanyalah mereka yang bodoh dan yang malas berpikir.

Salah menafsirkan Matius 7:1 tersebut di atas telah menciptakan kondisi subur bagi penyesatan. Padahal Tuhan dalam ayat tersebut berbicara tentang penghakiman atas perkara subyektif, misalnya menilai orang cantik atau jelek, baik hati atau jahat, kasih atau benci, bukan menghakimi hal yang bersifat doktrinal. Kita tidak bisa menilai seseorang tentang kasih, karena bagi yang seorang ia kurang kasih, tetapi yang lain ia sangat kasih. Kalau kita mencoba menilai orang atas perkara yang subyektif, maka bersiap-siaplah dinilai kembali dengan ukuran yang sama.

Bahkan terhadap kesalahan perbuatan, Tuhan memberi kita prosedur dalam menyatakan apa yang salah dalam Mat.18:15-17).

Pertama kita nyatakan secara empat mata, dan kemudian membawa beberapa teman, dan terakhir sampaikan perkara tersebut kepada jemaat, dan finalnya adalah diusir dari jemaat.

Tetapi khusus hal-hal yang bersifat doktrinal, sebagaimana kita memberitakan kebenaran kepada publik demikian juga kita harus membongkar ketidakbenaran kepada publik, tentu harus lengkap dengan alasan-alasan atau argumentasi-argumentasi, atau bukti-bukti.

Pers memiliki kebebasan di era demokrasi, tetapi tentu tidak boleh memfitnah. Ketika pers menyingkap perbuatan korupsi aparat, ia harus memiliki bukti. Kalau dalam hal doktrinal, ketika seseorang berani menyatakan gereja lain salah, dan kalau yang menjadi patokan rujukan adalah Alkitab, maka yang bersangkutan harus menunjukkan ayatnya.

Tegorlah Dan Nasehatilah Dengan Segala Kesabaran Dan Pengajaran.

Menegor orang atas kesalahannya baik doktrinal maupun tindakan bukanlah hal yang gampang dilakukan. Fakta juga memberitahukan bahwa tidak ada orang yang suka ditegor maupun dinasehati. Sama seperti tugas menyatakan apa yang salah, yang juga sulit diterima oleh orang yang dinyatakan kesalahannya, maka demikian juga dengan tugas tegor serta nasehat ini yang kalau bisa dihindari pasti akan dihindari oleh murid-murid Tuhan. Namun jika setiap murid menghindari tugas ini, maka yang bersukacita adalah iblis beserta antek-anteknya. Suasana subur bagi mereka untuk menyesatkan secara doktrinal maupun merangsang kekacauan moral di antara murid Tuhan akan semakin meningkat.

Itulah sebabnya dalam pesan yang sangat serius ini dipesankan agar ada murid yang rela dibenci, bahkan rela dimusuhi, demi menegakkan kebenaran, mau dengan penuh kesabaran menegor dan menasehati. Bahkan bukan hanya perlu penuh kesabaran, melainkan juga perlu dengan pengajaran. Ketika kita menegor kesalahan seseorang, adalah tanggung jawab penegor untuk memberikan pengajaran kebenaran. Tidak etis untuk menyatakan seseorang salah tanpa menjelaskan yang benar kepadanya.

STT GRAPHE telah menyelenggarakan seminar doktrinal lebih dari 30 kali. Dalam seminar-seminar tersebut Dr. Liauw dengan tegas menyatakan pengajaran-pengajaran yang salah dan dengan gamblang menjelaskan kebenaran alkitabiah. Setiap yang hadir diberi kesempatan untuk bertanya hingga sepuas-puasnya, bahkan sering melayani penanya lewat internet. Berani menyatakan apa yang salah, dan mampu menjelaskan apa yang benar. Harapan pencinta kebenaran ialah, dengan berbuat demikian maka kebenaran akan semakin bertumbuh dan kesesatan akan semakin layu.

Manusia Akan Mencintai Dusta

Paulus menubuatkan bahwa akan tiba saat dimana manusia tidak suka kebenaran. Mungkin karena kesesatan telah menjadi mayoritas sehingga memiliki kuasa duniawi, atau mungkin manusia telah terlalu bejat sehingga tidak nyaman dengan pemaparan kebenaran, tetapi yang jelas iblis tidak suka akan kebenaran dan akan memakai siapa saja yang tidak waspada dan dengan cara apa saja untuk membungkam kebenaran.

Manusia akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukakannya untuk dongeng. Gereja yang membiasakan tradisi tukar mimbar untuk mengakomodasi anggota jemaat tanpa lahir baru yang ingin gonta-ganti pengkhotbah dengan alasan bosan adalah fakta penggenapan nubuat Rasul Paulus. Yang diinginkan oleh orang Kristen demikian tentu bukan kebenaran melainkan cerita lucu, dongeng nenek tua, yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Sementara itu orang yang mengajarkan kebenaran apalagi menegur anggota-anggota jemaat yang berdosa, akan dikritik habis-habisan. Tentu tidak mengritik khotbahnya yang keras, tetapi biasanya mencari hal-hal lainnya sebagai entry point untuk membungkam pengajarannya yang tegas.

Kuasai Diri & Beritakan Injil

Tetapi bagi pencinta kebenaran, dan pelayan-pelayan kebenaran, tentu tidak boleh goyah dan sempoyongan, melainkan harus tetap dalam kondisi menguasai diri. Menguasai diri adalah tanda kemenangan sedangkan panik dan apalagi ngamuk adalah bukti kekalahan.

Sabar menderita adalah modal untuk peperangan jangka panjang. Pengajaran kebenaran harus memiliki cukup stock kesabaran dalam penderitaan,kalau tidak akan sulit untuk bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Lakukan pekerjaan pemberita Injil karena jika orang berdosa bertobat dan lahir baru, maka ia akan mencintai kebenaran. Hanya sekedar Kristen, tanpa lahir baru, hanya akan menciptakan orang “Kristen aneh,” yaitu yang tangannya memegang Alkitab namun menentang orang yang mengajarkan Alkitab, tanpa mampu berargumentasi.

Tentu sebagai murid kita patut dengan setia menunaikan tugas pelayanan yang telah dibebankan ke pundak kita. Apapun tanggung jawab kita, atau bidang dimana kita ditempatkan, Tuhan harapkan agar kita setia menunaikan tugas pelayanan kita.***

Sumber:

PEDANG ROH Edisi 41 Tahun X Oktober-November-Desember 2004

Sekolah Theologi Fuller: Kompromistis Menuju Kesesatan

Disadur oleh: Hasan Karman, S.H.,M.M. (Walikota Singkawang, Kal-Bar)

Latar Belakang

Sekolah Theologi Fuller (Fuller Theological Seminary), selanjutnya kita sebut Fuller, mempunyai pengaruh yang sangat besar. Ketika didirikan tahun 1947 mereka meyakini Alkitab adalah sempurna (infallibly), tiada salah (inerrantly), verbal, dan merupakan inspirasi penuh (plenary inspired), namun dalam waktu singkat semua itu sudah ditinggalkan. Fuller segera berkembang menjadi Injili Baru yang kompromistis, menerima doktrin yang netral, positivisme, dan mengagungkan intelektual.

Pimpinannya yang pertama, Harold John Ockenga, mengklaim sebagai penemu istilah “New Evangelicalism” (Injili Baru) dalam sebuah pertemuan seminari tersebut pada 1948. Ockenga menyatakan bahwa Injili Baru “berbeda dengan fundamentalisme yang menolak separatisme.” Sebenarnya, menolak “separatisme” sama artinya dengan menolak Alkitab!

Pimpinan Fuller yang sekarang, Richard Mouw mengatakan: “Sejak awal, sekolah menghindari separatisme dan dispensasionalisme yang menyertai fundamentalisme 1940-an, dan menerima sikap yang lebih damai” (Christianity Today, 6 Oktober 1997).

Karena sejak didirikan sudah menolak separasi alkitabiah, tetapi menerima filosofi dialog dan penyusupan yang tidak alkitabiah, tidak heran jika Fuller segera terjangkit keduniawian dan kefasikan.

Pada 1955, Fuller mendukung Alkitab liberal versi RSV (Revised Standard Version) yang menggantikan kata “anak dara/perawan” dengan “perempuan muda” dalam nubuatan mengenai Mesias di dalam Yes. 7: 14. Semua orang yang terlibat dalam penerjemahan RSV adalah kaum liberal. Berikut adalah kutipan pernyataan mereka. Walter Russell Bowie menulis, “Mazmur-mazmur yang tak bercela dan ucapan-ucapan sejenisnya mencerminkan Tuhan yang telah mati dan harus mati dan tidak pernah hidup kecuali dalam khayalan yang mustahil” (Bowie, “Where You Find God”, hal. 25).

William Foxwell Albright menulis, “Injil Yohanes jelas tidak bisa ditempatkan sebagai sumber sejarah setaraf dengan Injil-injil sinoptik”(Albright, “From the Stone Age to Christianity”, Baltimore: John Hopkins Press, 1957).

Millar Burrows menulis, “Kita tidak boleh menggunakan Alkitab secara utuh dan setiap pernyataannya sebagai otoritas illahi untuk apa yang kita yakini dan kita lakukan” (Burrows, “Outline of Biblical Theology”).

Henry Cadbury menulis, “Yesus Kristus cenderung menjadi pernyataan yang dilebih-lebihkan, dalam hal ini, Ia bukan seorang pribadi yang istimewa, melainkan sebuah karakteristik orang timur” (Cadbury, “Jesus, What Manner of Man?”).

Clarence Craig menulis, “Sekedar fakta bahwa sebuah kuburan ditemukan dalam keadaan kosong bisa diberikan berbagai penjelasan. Penjelasan paling akhir yang bisa diyakini orang modern adalah penjelasan mengenai kebangkitan tubuh secara fisik...Paulus bukan sedang bicara mengenai suatu kejadian yang bisa direkam oleh para saksi mata, melainkan mengenai suatu kejadian di dalam persepsi dunia rohani... Ia bukan untuk dipamerkan dengan merujuk kepada kubur yang kosong itu. Ia merupakan sebuah pengumuman yang harus merujuk kepada iman religius” (Craig, “The Beginning of Christianity”, hal. 135-136).

Edgar Goodspeed menulis, “Yesus...secara keseluruhan sama sekali jauh dari gambaran Perjanjian Lama sebagai seorang Yahudi yang sesungguhnya pada zamanNya” (Goodspeed, “The Formation of the New Testament”, 1926, hal. 7).

Goodspeed mengklaim bahwa Kitab Kejadian berisikan “dongeng dan legenda Babilonia serta cerita populer Kanaan” (Goodspeed, “The Story of the Old Testament”, 1934, hal. 107). Di dalam buku karya David Cloud, “For Love of the Bible”, ia memaparkan kutipan-kutipan dari berbagai penerjemah RSV lainnya yang menyesatkan dan menghujat, misalnya James Moffatt dan Willard Sperry.

Dukungan Fuller terhadap RSV merupakan bukti yang tak bisa disangkal bahwa sekolah tersebut telah berada di pihak yang salah dalam peperangan kebenaran yang telah berusia tua ini.

Mengubah Pernyataan Doktrin

Pada tahun 1976, Harold Lindsell, yang melayani sebagai dosen dan wakil pimpinan Fuller, mengangkat suara menentang kesesatan Fuller. Dalam bukunya, “The Battle for the Bible”, Lindsell menyediakan satu bab penuh untuk membahas “Kasus Aneh di Sekolah Theologi Fuller” (“The Strange Case of Fuller Theological Seminary”). Dalam bukunya memang Lindsell tidak menyebutkan secara tajam akar kesalahan Fuller, yakni penolakan atas separasi alkitabiah, dia juga tidak menyerukan agar kaum injili itu untuk memisahkan diri (separasi) dari kesesatan Fuller, namun ia memang mencatat hasil akhir dari kesalahan Fuller. Ia menyatakan: “Pada atau sekitar tahun 1962, sangat nyata bahwa ada beberapa yang sudah tidak lagi meyakini inerrancy Alkitab, di antaranya adalah para staf pengajar dan dewan” (Lindsell, “Battle for the Bible”, hal 108).

Lindsell menyebutkan banyak nama dari anggota staff pengajar dan dewan tersebut, yakni: C. Davis Weyerhaeuswer, Daniel P. Fuller (putera pendiri Fuller), Calvin Schoonhoven, David Hubbard (yang menjadi pimpinan sekolah tersebut), James Daane, dan George Ladd. Pada awal 1970an, Fuller mengubah pernyataan doktrinalnya agar lebih tepat mencerminkan posisi yang diyakini oleh para staf pengajar.

Pernyataan orisinilnya mengenai Alkitab adalah “diinspirasikan penuh dan bebas dari segala kesalahan, baik secara keseluruhan maupun dalam bagian-bagiannya... (dan merupakan) satu-satunya standar iman dan praktek yang sempurna”.

Pernyataan yang baru menghapuskan kata-kata “bebas dari segala kesalahan, baik secara keseluruhan maupun dalam bagian-bagiannya”. Hal ini memberi ruang bagi para bidat yang percaya bahwa Alkitab ada kesalahan dalam hal-hal mengenai “sains” (ilmu pengetahuan) dan sejarah. Para injili liberal banyak yang berusaha membuat perbedaan antara pengertian “Alkitab adalah sempurna” dan “Alkitab tidak ada salah”, dengan mengatakan bahwa Alkitab memang sempurna, namun bukan tidak ada kesalahannya. Ini merupakan omong-kosong akademis. Jika Alkitab itu sempurna, maka ia tidak ada kesalahannya, dan itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul. Yesus mengatakan “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan” (Yoh. 10: 35).

Perubahan itu disahkan ketika Daniel Fuller kembali dari Eropa, dimana ia berguru pada theolog neo-orthodoks, Karl Barth. Ia menerima pandangan neoorthodoks, bahwa Alkitab hanya diinspirasikan dalam hal-hal mengenai kerohanian, tetapi tidak mengenai ilmu pengetahuan dan sejarah. Ketika Daniel Fuller terpilih sebagai pimpinan Fuller pada 1963, kecenderungan menjadi liberalisme theologis semakin meningkat. Sejak saat itu, Fuller dari buruk menjadi lebih parah. Sampai saat ini sangat diragukan apakah sekolah ini masih terdapat dosen yang meyakini Alkitab adalah inerrant, diinspirasikan secara verbal tanpa salah, baik secara keseluruhan maupun dalam bagian-bagiannya. Fuller terlalu mengagungkan keilmuan dan sangat dimabukkan oleh modernisme.

Paul King Jewett

Paul K. Jewett adalah dosen Theologi Sistematik di Fuller. Pada tahun 1975 ia menerbitkan buku “Man as Male and Female .” Kata Pengantarnya ditulis oleh Virginia Mollenkott, ketua Departemen Bahasa Inggris di William Paterson College, New Jersey. Mollenkott adalah seorang lesbian yang aktif di kalangan feminis proaborsi yang paling radikal. Tahun 1978, bersama dengan Letha Scanzoni, ia menulis buku berjudul “Is the Homosexual My N eighbor ? ” dimana ia menyerukan nondiskriminasi terhadap homoseks. Bukunya membela bahwa catatan mengenai Sodom di dalam Kejadian bukan mengajarkan kejahatan homoseksual, melainkan kejahatan kekerasan pemerkosaan dan ketidakramahan gang terhadap orang asing.

Buku itu juga mengklaim bahwa “pemikiran mengenai orientasi homoseks seumur hidup atau ‘keadaan’ tidak pernah disebutkan dalam Alkitab” (hal. 71), dan bahwa Roma 1 tidak bisa diterapkan kepada orang Kristen homoseks yang tulus” (hal. 62).

Pada bulan Juni 1991, terbitan bulanan Episkopal yang berjudul “The Witness”, Molletkott bersaksi, “Lesbianisme saya senantiasa adalah bagian dari hidup saya... Saya berusaha menjadi heteroseks. Menikahlah saya. Namun akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan menciptakan saya apa adanya, dan itulah makna hidup itu.” Dalam bukunya pada tahun 1994, “The Divine Feminine: The Biblical Imagery of God as Female,” Mollenkott menyebut Allah dengan “Bunda Esa kita semua” (hal. 19) dan mengajukan bahwa berdoa boleh ditujukan kepada “Bapa/Bunda yang ada di Surga” (hal. 116).

Di dalam buku “Man as Male and Female”, Paul Jewett mengakui bahwa ia terpengaruh oleh kritikisme biblikal modern dan mengklaim bahwa Alkitab mengandung kesalahan karena ditulis oleh manusia: “Penelitian historis dan kritis terhadap dokumentasi biblikal telah mendorong gereja untuk meninggalkan kesederhanaan pandangan keillahian Kitab Suci [doktrin tradisional bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang tanpa salah] dan memperhitungkan kompleksitas pada tingkat proses historis manusia, dimana dokumentasi itu dihasilkan. Malahan pernyataan sederhana itu, yang secara esensial benar, bahwa Alkitab adalah sebuah kitab illahi, kami kini merasa lebih jelas daripada di masa lalu, bahwa Alkitab adalah sebuah kitab yang illahi/manusiawi. Sebagai kitab illahi, ia memancarkan terang pewahyuan; sebagai kitabmanusiawi, terang pewahyuan ini menerangi dan menembus ‘cermin yang gelap’ (1 Kor. 13: 12) dari ‘bejana tanah liat’ (2 Kor. 4: 7), yang merupakan para penulis isinya pada tingkat manusia” (Jewett, “Man as Male and Female ”, hal. 135).

Jewett keliru. Tuhan Yesus lebih tahu tentang Kitab Suci daripada para pengkritik teks modern, dan Ia tidak pernah mengisyaratkan bahwa ada kesalahan di dalamnya. Dengan jelas ia menyatakan, bahwa “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan” (Yoh. 10: 35) dan “satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan” (Mat. 5: 18). Ketika rasul Paulus menyatakan bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah” (2 Tim. 3: 16), jelas ia mengetahui bahwa ada unsur manusia di dalam Kitab Suci, namun ia mengetahui bahwa Allah mengendalikan para penulis Kitab Suci sedemikian rupa, sehingga hasilnya merupakan Firman Allah yang tiada salah. Doktrin Alkitab apapun yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus dan para rasul adalah bidat.

Sebenarnya masih banyak staf pengajar Fuller yang bisa diajukan kesalahan doktrinnya, misalnya Charles Scalise, yang merupakan associate professor Sejarah Gereja dan Direktur Akademik Fuller untuk Program M. Div. di Seatlle. Keterbatasan ruang ini membuat kita tidak bisa berpanjang lebar.

Fakta-fakta Lainnya

Untuk menyebutkan beberapa fakta lain, penulis memilihkan beberapa contoh menyangkut angin pluralisme dan ekumenisme yang sudah melenakan Fuller sebagai berikut:

Pada Januari 1997, Fuller menyelenggarakan sebuah seminar dua-hari yang mengupas theologi pluralisme. Seminar itu menampilkan Donald Theimann, dekan Harvard Divinity School yang radikal liberal, dan Rabi A. James Rudin, yang sama-sama setuju bahwa “tidak satu pun agama yang memiliki monopoli atas kebenaran Allah” (Foundation Magazine, Jan-Feb, 1997).

Berikut adalah laporan langsung dari seorang gembala yang mengunjungi Fuller pada tahun 1999: “Saya dan isteri saya mengunjungi Fuller Theological Seminary tanggal 27 Juli 1999. Kami mengikuti sebuah kelas yang diajar oleh Dr. John Goldingay dari Sekolah Theologi itu. Dr. Goldingay memiliki reputasi yang sangat hebat dalam kuliah itu dan merupakan salah satu dosen yang paling populer di kampus tersebut. Ia mengajarkan bahwa tidak ditemukan bukti arkeologis adanya kota Yerikho atau temboknya yang runtuh.

Dengan merujuk kepada catatan Alkitab ia mengatakan ‘Mungkin ini merupakan sebuah perumpamaan.’ Ini membuktikan bahwa ketidakpercayaan dan penyangkalan terhadap Kitab Suci kini hidup dan tumbuh subur di kampus Fuller. Kitab Ibrani 11: 30 mengatakan, “Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.” Alkitab tidak pernah salah, sebaliknya Dr. John Goldingay yang salah” (Dr. Arthur B. Houk, Hayden, Colorado, houk@springsips.com).

Pada Januari 2001, sebuah yayasan ekumenis bernama The Foundation for a Conference on Faith and Order di Amerika Utara didirikan di Princenton Theological Seminary. Para anggota dewan eksekutifnya termasuk Uskup Agung Katolik William Keeler, Uskup Agung Orthodoks Yunani Dimitrios, dan Pimpinan Fuller Richard Mouw. Yayasan itu sepakat untuk melonggarkan batas-batas mereka dan memasukkan “mitra-mitra baru dalam usaha ekumenis itu.”

Pada tahun 2001, Gereja Presbyterian USA (PCUSA) yang liberal memilih mantan dosen Fuller, Jack Rogers, sebagai moderator. Dalam pertemuan yang sama, PCUSA mencabut larangan untuk menahbiskan hamba Tuhan homoseksual. Harold Ockenga mengatakan bahwa Injili Baru sepakat untuk memasuki denominasi-denominasi liberal, bukan melakukan separasi dari mereka. Kita bisa melihat buah yang dihasilkannya! Rogers menolak historisitas Kejadian 1-3.

Peringatan Bagi Fundamentalis

Ketergelinciran Fuller yang cepat ke dalam kesesatan merupakan peringatan keras bagi fundamentalis masa kini. Ketika Fuller didirikan pada tahun 1940-an, mereka merupakan sebuah institusi fundamentalis. Pendirinya, Charles E. Fuller dari “Old Fashioned Revival Hour” adalah seorang Fundamentalis, dan ia ingin mendirikan sebuah sekolah yang mempertahankan iman Perjanjian Baru. Harold Lindsell, yang merupakan salah satu dari empat anggota staf pengajar yang pertama dari sekolah itu berkata, “Sejak awal dideklarasikan bahwa salah satu tujuan pokok pendirian seminari tersebut adalah bahwa seminari itu harus merupakan sebuah institusi apologetik... Disepakati sejak kelahiran sekolah itu, bahwa melalui kurikulum seminari itu, staf pengajar akan memberikan pertahanan theologis yang terbaik bagi infalibilitas dan inerrancy Alkitab.”

Seperti yang telah kita saksikan, tujuan ini segera ditinggalkan. Dengan mengabaikan separasi biblikal dan lebih fokus kepada keilmuan daripada iman yang sederhana kepada Firman Tuhan, sekolah menjadi tempat kerohanian yang campuraduk, kompromistis dalam doktrinal dan penyesatan, bukanlah sebuah benteng kebenaran alkitabiah.

Itulah yang akan terjadi terhadap setiap gereja dan sekolah fundamentalis masa kini yang menolak untuk menerapkan separasi. “Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?” (1 Kor. 5; 6 & Gal. 5: 9)

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15: 33)

Sumber: David Cloud, Way of Life Literature’s Fundamental Baptist Information Service, fbis@wayoflife.org

Sumber: PEDANG ROH Edisi 41 Tahun X Oktober-November-Desember 2004

Menilai Dan Tidak Bisa Dinilai

Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. (I Kor.2:15)

Rasul Paulus mengajarkan suatu kebenaran yang sangat inti dan mutakhir pada jemaat P.B. yang adalah campuran antara Yahudi dengan Helenis. Penempatan Roh Allah ke dalam diri manusia pada zaman P.L. hanya terjadi pada para nabi saja. Faktor inilah yang menyebabkan para nabi memiliki kemampuan supranatural; menubuatkan hal-hal di depan bahkan melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh manusia biasa. Rasul Paulus memberitahukan jemaat Korintus bahwa pada zaman P.B. Allah menempatkan RohNya ke dalam diri setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (I Kor.3:16).

Ketika Roh Allah ditempatkan ke dalam diri manusia P.B. lahir baru, tidak berarti ia memiliki kemampuan nabi P.L., melainkan hanya menjadikannya milik Allah (Ef.1:13), serta memiliki kemampuan memahami hal-hal rohani. Rasul Paulus berkata, “tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Rasul Paulus mau mengatakan bahwa hanya orang rohani saja yang mengerti perkara rohani, sedangkan manusia duniawi hanya mengerti hal duniawi.

Sementara itu setelah manusia duniawi menjadi manusia rohani, ia masih tetap memiliki kemampuan duniawinya seperti membaca, berhitung, mengamati perkara politik, ekonomi, hukum, sosial dan lain sebagainya.

Manusia rohani yang masih tinggal di dunia tetap menghidupi kehidupannya sebagaimana manusia duniawi seperti bersaing dalam perdagangan, bersaing dalam kanca politik dan lain sebagainya. Manusia rohani tetap melakukan kegiatan belajar dalam berbagai bidang, mengolah otak yang diberikan Tuhan. Intinya, setelah seorang duniawi menjadi seorang rohani, kemampuan duniawinya tidak berkurang sedikit pun. Yang berubah pada manusia rohani sesungguhnya adalah pandangan hidupnya serta penambahan kemampuan menilai perkata-perkara rohani.

Jadi, betapa canggihnya seorang manusia rohani yang juga sangat terpelajar secara duniawi. Secara duniawi ia sebanding atau bahkan lebih mampu dari para manusia duniawi, sementara itu ia juga memiliki kemampuan rohani karena Roh Allah tinggal di dalam dirinya. Terlebih lagi jika ia mempelajari perkara-perkara rohani yang alkitabiah maka kemampuan duniawi dan rohaninya akan melampaui baik manusia duniawi maupun rohani.

Ketika manusia duniawi menjadi manusia rohani oleh berita Injil yang diterimanya, ia perlu mendapatkan pengajaran yang alkitabiah. Alkitab adalah dasar pemikiran manusia rohani, ia adalah tolok-ukur bagi manusia rohani untuk menilai segala sesuatu.

Prinsip-prinsip yang ditetapkan di dalam Alkitab plus pengolahan akal sehat adalah yang memampukan manusia rohani menilai segala sesuatu. Ketika seorang yang telah lahir baru dibesarkan atau dipupuk kerohaniannya dengan pengajaran doktrin yang tidak alkitabiah, maka ia tentu masih cakap menilai perkara-perkara dunia dengan akal sehatnya, namun tidak memiliki kemampuan menilai perkara rohani. Ia tentu lebih canggih sedikit daripada manusia duniawi karena ia memiliki Roh Allah karena ia telah lahir baru, tetapi tidak mampu mengukur secara doktrinal karena pengetahuan doktrinal kekristenannya tidak sesuai dengan Alkitab. Untuk menilai hal-hal doktrinal seorang manusia lahir baru mutlak memerlukan pengetahuan doktrinal yang alkitabiah.

Pernah seorang dosen sebuah STT datang bersama beberapa orang ke ruang kerja penulis ingin mempresentasikan pemikirannya. Ketika ia memulai, ia berkata bahwa menurutnya para theolog dan termasuk dirinya, memahami hal rohani seperti orang buta yang berusaha mengenal gajah. Mendengar pernyataan awalnya, penulis langsung tak berminat mendengarkannya karena ternyata ia tidak memiliki sesuatu yang pasti menurut Alkitab, atau setidak-tidaknya sebuah pemikiran yang diyakininya berdasarkan Alkitab.

Sikap kompromistis terhadap kebenaran mengikis kemampuan theolog menilai secara rohani. Penulis juga pernah bertemu dengan “hamba Tuhan” yang sesungguhnya menyadari bahwa pengajaran gerejanya tidak sesuai dengan Alkitab. Namun karena ia tidak sanggup mengubah, dan juga tidak rela keluar dari gereja tersebut, akhirnya sikap kompromistisnya keluar dengan berkata bahwa salah sedikit tidak apa-apa,yang penting masih tetap memiliki hal yang paling pokok yaitu memberitakan Yesus. Sikap kompromistis ini sudah pasti akan menumpulkan kemampuan

menilai perkara rohaninya.

Sesungguhnya tentu kita jauh lebih bisa memaafkan orang yang salah yang tidak tahu dirinya salah daripada yang tahu dirinya salah namun oleh satu dan lain hal (materi, jasmani dan duniawi) tetap mempertahankan atau membiarkan kesalahan itu. Sikap demikian adalah sikap yang tidak menempatkan kebenaran di atas segala-galanya dan akan menggerogoti kepekaan seseorang terhadap kebenaran.Orang yang salah namun tidak tahu dirinya salah sangat mungkin akan membela kebenaran ketika ia menemukan kebenaran, sedangkan orang yang tahu kebenaran namun mengabaikannya sedang bersikap negatif terhadap kebenaran.

Lalu bagaimanakah cara seorang yang telah lahir baru untuk mengetahui apakah ia sedang di dalam gereja yang alkitabiah? Sebenarnya sangat gampang! Pertama, jangan menutup diri terhadap penjelasan, penguraian bahkan perdebatan doktrinal agar anda tahu dan yakin bahwa doktrin yang anda sedang percayai adalah doktrin yang kokoh kuat yang didasarkan pada Alkitab. Kebenaran yang tidak berani ditantang untuk diargumentasikan secara fair dan tanpa kekerasan, bukanlah kebenaran. Kedua, apakah doktrin yang anda percayai mendapat dukungan ayat-ayat Alkitab yang cukup? Apakah ada ayat yang menentang keyakinan anda? Contoh, Saksi Yehova tidak percaya bahwa Yesus itu Allah berdasarkan ayat-ayat I Kor.15:23, Kol.1:15-16, tanpa mempedulikan ayat yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah (Yoh.1:1-12, I Yoh.5:20 dll.). Ciri khas ajaran sesat ialah mengutamakan ayat tertentu sambil mengabaikan ayat-ayat lain. Padahal kata sulung di situ yang dalam bahasa Yunaninya proto jelas bisa diartikan yang paling awal, dan tentu Allah sendirilah yang paling awal dari semua ciptaanNya. Ketiga, selaras dengan akal sehat. Doktrin yang alkitabiah bukan hanya harus didasarkan pada ayat-ayat Alkitab melainkan alur-pikirnya juga harus berjalan sistematis. Dalam rangkaian pelajaran theologi, pelajaran Sistematika Theologi adalah yang disebut pelajaran doktrin, bahkan juga disebut the prince of theology.

Maukah pembaca menjadi penggenap firman yang disampaikan Rasul Paulus? Manusia rohani menilai segala sesuatu dan ia sendiri tidak dinilai karena manusia duniawi tidak sanggup menilainya, atau pasti akan salah menilainya. Jadilah manusia rohani!

Sumber: PEDANG ROH Edisi 41 Tahun X Oktober-November-Desember 2004

Iblis Ikutan Beritakan Injil

Yang benar saja, masakan iblis mau memberitakan Injil? Sangat mungkin sebagian orang Kristen akan bereaksi demikian. Tetapi jika anda membaca Kis.16:17, dimana seorang perempuan yang kerasukan iblis mengikuti rasul Paulus dan Silas sambil berseru, "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan."

Dari kalimat yang diucapkan iblis ini, sepertinya idenya bagus sekali. Ia seolah-olah bertindak sebagai promotor Paulus dan Silas selama beberapa hari, memperkenalkan mereka sebagai hamba Allah yang mahatinggi dan bahwa mereka memberitakan jalan keselamatan.

Kalau dinilai dari segi isi kata-kata yang diserukan, siapakah yang berani mengatakan bahwa itu negatif. Seandainya bukan diserukan oleh seorang perempuan petenung, melainkan oleh seorang Pendeta, Majelis, atau song leader,siapakahyang berani berkata bahwa itu bersumber dari iblis.

Tetapi karena Rasul Paulus dan Silas adalah hamba Allah yang penuh dengan Roh Kudus, tentu tahu bahwa itu berasal dari iblis walau dikamuflasekan dengan cara apapun. Tentu cara mereka mengenal bahwa itu bersumber dari iblis sangat penting bagi kita, terutama kita yang hidup di tengah-tengah zaman okultis ini. Bahkan di televisi penuh dengan acara tangkap hantu, usir hantu dan lain sebagainya.

Penulis mendengar ada banyak mantan dukun yang bersaksi di gereja bahkan mendemonstrasikan kemampuan mereka melihat iblis dan berbagai aktivitas okultis. Karena tidak dapat membendung tekad Paulus dalam memberitakan Injil dan membangun jemaat di mana-mana, iblis menyusup agar diikutkan ke dalam team P.I. Rasul Paulus dan Silas sebagai promotor atau pembawa acara.

Jika orang Kristen tidak berhati-hati dan berpikir dengan penuh hikmat dari Allah, sudah pasti akan terjerat ke dalam tipu daya ilbis. Tipu daya adalah sebuah tindakan atau atraksi yang terlihat benar namun sesungguhnya tidak benar. Tidak jarang kita menyaksikan acara sulap di TV yang sangat mengagumkan para penonton. Pesulap bisa memunculkan merpati terus menerus dari tempat yang tidak mungkin memuat merpati sebanyak itu. Ada seorang laki-laki yang dimasukkan ke dalam peti dengan tangan terikat dan dalam hitungan detik tiba-tiba berdiri di atas peti dalam wujud wanita, dan sang wanita yang tadi mengikat serta memasukkannya ke dalam peti justru yang berbalik menjadi yang terikat di dalam peti.

Tipu daya adalah sebuah usaha membodohi seseorang tanpa orang tersebut menyadarinya. Rasul Paulus, karena telah berkali-kali menghadapi tipu daya iblis, menjadi sangat kuatir jemaat yang didirikannya menghadapi hal yang sama sehingga ia memperingatkan jemaat di Tesalonika dengan penuh kesungguhan bahwa pada akkhir zaman iblis akan memutakhirkan tipu dayanya (II Tes.2:10). Tentu yang paling mendapat manfaat dari nasihat Paulus bukanlah jemaat Tesalonika melainkan kita yang hidup di akhir zaman, atau setidaknya yang hidup di zaman tipu daya iblis jauh lebih mutakhir dari pada zaman jemaat Tesalonika.

Akhirnya kembali kita ingin tahu, bagaimanakah caranya untuk membongkar tipu daya iblis itu?

1. Tidak didasarkan HANYA pada Alkitab Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Atas pernyataan ini tidak perlu ada pihak yang tersinggung karena setiap manusia berhak meyakini sesuatu. Kalau seseorang berkeyakinan istrinya adalah wanita tercantik sedunia, tentu para bintang film, miss-world, miss-universe tak perlu menggelar demonstrasi.

Atau jika ada seorang anak menyatakan bahwa pendapat ayahnya adalah satu-satunya kebenaran, anak lain tidak perlu tersinggung.

Pada zaman Rasul Paulus, Alkitab belum dikanonkan. Semua perkataan dan pengajaran Rasul adalah standar kebenaran. Jadi, kalau Rasul Paulus menengking perempuan petenung itu dan menyatakannya iblis, maka itu pasti benar.

Sesudah tidak ada Rasul, maka tulisan Nabi dan Rasul (P.L. & P.B.), adalah satu-satunya standar kebenaran. Segala macam upaya atau tipu daya yang tujuan akhirnya adalah mengganggu kanon P.L. & P.B. sudah pasti adalah tipu daya iblis. Alkitab PL & PB adalah dasar kekristenan, jika ia hancur maka hancurlah seluruh susunan kekristenan yang di atasnya.

Theologi Liberal yang telah menghancurkan kekristenan Eropa adalah theologi yang tersusupi iblis. Dengan Higher Criticism (Kritik Terhadap Introduktori) mereka menyerang latar belakang penulisan dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Dan dengan Lower Criticism (Kritik Terhadap Isi) mereka mempertanyakan isi kitab juga dari kitab Kejadian hingga Wahyu. Hasil yang mereka dapatkan adalah kelunturan iman kekristenan Eropa,dan kini bahkan hampir punah. Bisakah kita simpulkan sesungguhnya kekristenan telah tersusupi iblis melalui penempatan antek-anteknya yaitu para theolog Liberal? Jadi, iblis ikutan memberitakan injil bukan?

Selain para theolog Liberal,tentupembaca bisa mengidentifikasi berbagai gereja yang memiliki Extra Biblical Authority (otoritas luar Alkitab), artinya memiliki kitab lain (otoritas lain) selain Alkitab. Ada kelompok yang menambahi Alkitab dengan tradisi, bahkan dengan nubuatan lisan masa kini. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan berbahasa lidah dan bernubuat setelah tidak ada Rasul atau setelah Alkitab menjadi sebuah kanon, adalah tindakan menambahi Alkitab.

Penulis sering bertanya kepada mereka, “apakah kalian percaya Alkitab adalah satu-satunya firman Allah?” mereka sering kali menjawab, “betul”. Namun anehnya, mereka tetap percaya proses pewahyuan masih terus berjalan. Mereka sulit memahami bahwa tanpa pewahyuan tidak akan ada nubuatan. Dan banyak diantara mereka yang berkata bahwa nubuatan mereka itu berbeda dengan yang di dalam Alkitab. Tentu inilah yang namanya menambahi Alkitab. Lalu mereka biasanya berkelit dengan berbalik berkata bahwa nubuatan mereka sama dengan yang di dalam Al-kitab.Kalau begitu nubuat itu tidak dibutuhkan karena sudah ada Alkitab. Kesimpulannya, semua upaya yang ujung-ujungnya melawan Alkitab, baik mengurangi atau menambahi, mengerogoti, merendahkan adalah tipudaya iblis terlihat seolah-olah sangat rohani (seperti perempuan petenung), namun ujungnya nanti akan membawa keuntungan bagi iblis.

2. Tidak Didasarkan HANYA Pada Ketulusan Hati Yang Sejati

Perempuan petenung rupanya sebagai mesin pencari uang beberapa orang. Selain tuannya mendapat uang, perempuan itu sendiri pasti juga dapat sekalipun mungkin lebih kecil dari para tuan. Tuan-tuannya marah sekali ketika roh iblis pendatang rezeki mereka diusir Paulus. Anehnya, ketika perempuan itu mengikuti Paulus dan Silas beberapa hari,para tuannya tidak keberatan. Mengapa?

Sebelumnya perempuan ini tentu dikenal sebagai petenung dan sanggup melakukan berbagai hal okultis. Ingat, orang yang kerasukan (petenung) itu waras, berbeda dengan yang sakit jiwa. Jadi, ketika Paulus dan Silas tiba di Filipi, ia pasti turut mendengar tentang hal-hal yang telah mereka lakukan. Bisa jadi ada beberapa penyebab ia mengikuti mereka. Pertama, bisa jadi iblis yang di dalamnya, yang tahu persis siapa Paulus dan Silas, ingin diidentifikasikan sebagai yang berasal dari Allah atau sebaliknya ingin membuat pelayanan Paulus dan Silas identik dengan pekerjaannya. Atau kedua, bisa jadi ini cara untuk memata-matai sekaligus mengganggu pemberitaan Injil. Karena dengan sistem teriak-teriak, Injil sulit dijelaskan secara sistematis dan argumentatif.

Seandainya perempuan petenung tersebut setelah mengikuti Paulus tetap mendatangkan uang, bahkan lebih banyak, maka para tuan maupun si perempuan tersebut akan enjoy aja bahkan bisa lebih semangat. Keikutsertaan iblis ke dalam pelayanan kekristenan dapat terdeteksi jelas melalui faktor ini, yaitu jika ada unsur mementingkan hal-hal duniawi, jasmani, dan materi.

Betapa sulitnya Tuhan mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya bahwa kedatangannya sesudah penolakan oleh bangsa Yahudi adalah hanya untuk urusan rohani.

Tadinya Ia datang sebagai Putra Daud dan siap membangun Kerajaan Daud yaitu Kerajaan Sorga yang turun ke bumi (Mat.6:10), dan bersifat jasmani serta materi. Tetapi Ia ditolak oleh bangsa Yahudi, sehingga pendirian Kerajaan Sorga di atas bumi ditunda (Kis.1:67).

Sehingga terbagilah kedatangan Mesias menjadi dua tahap yaitu kedatangan yang pertama (telah terjadi) dan kedatangan kedua (kita nantikan). Kedatangan pertama menyelesaikan penyakit rohani atau urusan rohani, dan kedatangan kedua untuk urusan penyakit jasmani atau urusan jasmani (menghilangkan segala sakit-penyakit jasmani).

Awalnya para Rasul tidak faham,sehingga ada yang meminta duduk di sebelah kanan dan kiri dalam kerajaan Tuhan. Tetapi setelah kematian dan kebangkitan Tuhan, dan terlebih lagi setelah Roh Kudus dicurahkan, mereka sudah faham bahwa kedatangan Tuhan yang pertama HANYA untuk urusan rohani, bukan urusan jasmani.

Namun sepanjang sejarah kekristenan, iblis selalu ikutan dalam pemberitaan Injil,dan iaselalu membelokkan hati seluruh komponen pelayanan dari tertuju pada perkara rohani ke perkara jasmani, duniawi dan materi. Pelayan-pelayan yang disusupkannya ke dalam kekristenan tidak segan-segan menawarkan, mengkhotbahkan, bahkan menjanjikan berkat jasmani kepada hadirin sehingga orang-orang yang hadir adalah parapencari berkat jasmani, materi dan duniawi.

Seandainya Paulus mengkhotbahkan hal yang sama dengan yang dikhotbahkan sebagian “pendeta sukses” zaman sekarang, maka perempuan petenung di Filipi bisa menjadi salah satu anggota team P.I.-nya. Tetapi karena ia penjilat, memuji-muji tidak pada tempatnya, dan hatinya mengharapkan berkat jasmani dan materi, maka Paulus harus cepat bertindak.

Kini, pengkhotbah yang memasang tarif pelayanan sudah tidak asing lagi. Gereja yang menggembar-gemborkan diri sebagai gereja pencurah berkat bagi pengunjungnya juga tidak malu-malu lagi. Tentu orang-orang yang hadir bahkan hampir semua orang Kristen terbawa-bawa menjadi mata-duitan dan menjadikan gereja sumber rezeki. Belum lama ini seorang pengkhotbah TV berkata bahwa ia melihat ada seorang bapak yang akan menyumbang lima ratus juta kepadanya (pelayanannya). Bisa jadi bukan satu bapak yang akan kirim cek lima ratus juta melainkan banyak, karena masing-masing terhipnotis atau terobsesi bahwa dialah orang yang dimaksud, dan tentu diindoktrinasi akan dibalas berkelimpahan. Bagi pelayanan Tuhan yang disusupkan iblis, berkata demikian tidak jadi masalah atau dalam bahasa kerennya nothing to lose karena kalau tidak ada yang kirim ya...tidak rugi apa-apa, tetapi siapa tahu ada yang terhipnotis, maka uang itu bisa sangat berguna, bukan? Jadi, pelayan iblis yang ikut-ikutan ke dalam pelayanan kekristenan bisa dideteksi, salah satunya ialah penuh dengan akal bulus.

Ada yang tidak segan-segan menawarkan berkat jasmani atau istilah rohaninya kesembuhan ilahi. Mereka menafsirkan I Pet.2:24, “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” sebagai sembuh dari penyakit jasmani. Bahkan yang berani tidak mau ke dokter sama sekali.

Sebagiannya memang tidak mengerti bahwa pada kedatangan Kristus yang pertama, menyelesaikan kesembuhan penyakit rohani. Dan nanti pada kedatanganNya yang kedua baru akan menyelesaikan penyakit jasmani. Namun sebagiannya kelihatannya sengaja memanfaatkannya untuk menjerat orang. Tentu iblis akan sangat senang ikutan memberikan kesembuhan semu, dan tentang hal ini telah Tuhan nubuatkan (Mat.24:2328).

Fanny Crosby, pengarang sekitar 8000 hymne, salah satu yang terkenal adalah Blessed Assurance, buta sejak minggu kedua setelah lahir. Ketika sudah agak tua di USA kedokteran sudah sanggup menyembuhkan matanya. Tetapi ia menolak, katanya ia ingin matanya terbuka dan yang pertama dilihat adalah Tuhan Yesus. Inilah yang Tuhan Yesus katakan, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh.9). Bukan Fanny, juga bukan orang tuanya yang berdosa sehingga ia buta, tetapi yang jelas melalui kebutaannya nama Tuhan dimuliakan dan pekerjaanNya dilaksanakan.

Tujuan kedatangan Tuhan yang pertama bukan untuk memberikan berkat jasmani, materi dan duniawi, melainkan rohani. Orang yang tidak bekerja tidak boleh makan, kata Paulus (II Tes3:10). Kelimpahan materi adalah efek dari hidup tertib, kerja keras, dan penuh hikmat, atau hidup yang dijalankan dengan menaati firman Tuhan. Tuhan memerintahkan anak-anakNya menaati firmanNya, dan tentu ada upah atas ketaatan itu. Seperti seorang ayah yang menyuruh anak mencangkul lebih giat lagi nanti ayah akan kasih hadiah, dan hadiah itu dibeli dari hasil panen mereka. Bukan duduk-duduk atau doa semalam suntuk dan kemudian akan dapat nasi. Itu namanya menang lotre. Betul sekali bahwa ada banyak janji berkat jasmani dan materi juga di dalam Alkitab, tetapi setelah yang bersangkutan menunjukkan iman yang benar, ketaatan yang tulus, bukan melalui tumpangan tangan yang kotor (Maz.127:1-2). Intinya, berkat jasmani adalah efek dari seluruh sikap terhadap berkat rohani, bukan sesuatu yang ditawarkan dan dikejar.

Mujizat yang dilakukan Tuhan bertujuan untuk membuktikan bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan agar bangsa Yahudi bisa menerimaNya. Dan mujizat yang dilakukan para Rasul bertujuan membuktikan bahwa mereka adalah Rasul yang dipilih Tuhan dan Tuhan sedang memakai mereka sebagai standar kebenaran Perjanjian Baru.

Kini Tuhan tetap bisa melakukan mujizat, namun tidak memakai seseorang atau mengkultuskan seseorang. Artinya kalau sakit doalah sendiri, dan seluruh jemaat mendukung dalam doa. Kalau Tuhan mau menyembuhkan, maka ia akan menyembuhkan. Jika kesembuhan itu diklaim sebagai hasil doa seseorang, maka ketahuilah bahwa itulah utusan iblis. Jadi, tolong jangan salah persepsi tentang penulis, kami sangat percaya pada mujizat, tetapitidakbisapercaya bahwa Tuhan memakai seseorang sebagai tukang buat mujizat, karena Tuhan sudah nubuatkan bahwa itu porsi iblis.

Kesimpulan Kita

Dari uraian di atas dan ditambah dengan pengamatan dilapangan, tidak bisa tidak untuk mengakui bahwa sepanjang sejarah kekristenan iblis selalu berusaha ikutan memberitakan Injil. Salah satu sasarannya ialah, manusia menjadi bingung membedakan Injil yang diberitakan hamba Allah yang benar atau oknum susupan iblis. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “domba -domba -Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yoh 10:27).

Menyadari akan keikutsertaan iblis dalam pemberitaan Injil, sepatutnya membuat setiap orang yang tidak mau disesatkan menjadi siuman, waspada, selalu sadar agar tidak sampai disesatkan. Iblis selalu suruh orang percaya secara membabi buta, mengosongkan pikiran, bahkan mengikuti ucapan mereka tanpa pikir. Tetapi Tuhan selalu suruh kita waspada, berjaga-jaga, siap sedia, yang keseluruhannya bersifat pengaktifan akal budi.***DL.

Sumber:

PEDANG ROH Edisi 42 Tahun X Januari-Februari-Maret 2005