Jumat, 21 November 2008

TRAGEDY COMPROMISE (Bagian 4)

4. Menuai Puting Beliung

Kaum Injili Muda Yang Duniawi

Mahasiswa cenderung lebih radikal daripada pengajarnya. Ini terlihat jelas dalam perkembangan Injili Baru. Sementara gerakan itu berkembang, banyak anggota yang lebih muda mengadopsi posisi theologis, etika dan moral yang telah bergeser jauh dari kaum Injili Baru yang lebih awal dan bahkan membuat mereka sendiri menjadi prihatin. Jika satu orang berkompromi, maka akan menurunkan yang lain, dan dalam waktu yang tidak lama beberapa di antaranya sudah berjalan jauh di jalan yang salah.

Pada tahun 1970-an sebuah kelompok Injili Baru yang lebih radikal mulai muncul. Perkembangannya dicatat dalam dua buku oleh Richard Quebedeaux, The Young Evangelicals dan The Worldly Evangelicals. Benih yang ditabur oleh para pemimpin Injili Baru mula-mula memang telah menghasilkan buah yang pahit. Begitu jauhnya beberapa di antara "wajah baru" tersebut melangkah, sehingga para pembimbing mereka sendiri menjadi kuatir. Filosofi Injili Baru yang orisinil telah menjadi bumerang yang menyerang balik kepada pelemparnya.

Orang-orang yang menyenangkan dan pandai bicara banyak di dalam kelompok ini. Joe Roos berada di garis depan dalam hubungan dengan People's Christian Coalition, sebuah kelompok yang menyebarkan pandangan politik liberal. Leighton Ford, ipar Billy Graham, terkenal sebagai seorang evangelis. Tom Skinner, seorang mantan pemimpin gang Harlem, ada di antara mereka. Penulis-penulis seperti Bruce Larson bisa menjadi wakil tipe injili seperti ini. Larson menghasilkan sebuah pandangan "pencerahan" seks bagi orang Kristen di dalam bukunya, Ask Me to Dance. Wanita-wanita seperti Nancy Hardesty menjadi sangat aktif.

Karakteristik dari""Sayap Kiri" "

Kaum Injili Baru muda yang duniawi sangat pantas dikategorikan sebagai "sayap kiri' dari gerakan ini. Sedangkan "sayap kanan" adalah terdiri dari kaum Injili Baru yang lebih tua seperti Kenneth Kantzer, Carl Henry, dan Harold Lindsell. Beberapa di antara mereka menyatakan kecemasan atas pemikiran radikal yang berasal dari sayap kiri itu, terutama tentang masalah inspirasi Alkitab. Siapa yang menabur angin, akan menuai puting beliung (Hos. 8: 7).

Perasaan Anti Fundamentalisme Yang Semakin Meningkat
Pada pertengahan tujuhpuluhan Richard Quebedeaux mencatat, "Kebanyakan orang di luar komunitas injili itu sendiri ... sama sekali tidak menyadari perubahan-perubahan besar yang terjadi di dalam injili dalam beberapa tahun terakhir".[1]Penulis yang lain lebih jauh lagi memperingatkan, "Apa yang harus disadari injili adalah bahwa ada sebuah latitudinarianisme (paham yang tidak menganggap penting dogma) yang merangkak di dalam kalangan mereka sendiri, terutama di kalangan yang disebut injili muda, yang dapat dimengerti berusaha melepaskan kekakuan theologis dan kultural serta kepicikan latar belakang mereka".[2]

Orang bisa menambahkan bahwa mereka telah berhenti "merangkak" dan kini sedang berlari. Ada gereja Injili Baru yang membual tentang "fundamentalis yang kembali" ("repatriating fundamentalists"). Segala tuduhan liar muncul melawan fundamentalis yang, menurut nabi-nabi kegelapan tersebut, telah membebani umat Allah dengan ketentuan dan peraturan konyol dan mustahil, sehingga menghambat pertumbuhan mereka di dalam Tuhan. Banyak orang baik yang tertarik dengan gereja-gereja demikian, karena mereka tersinggung dengan gereja-gereja fundamentalis dimana mereka dibesarkan.

Melemahkan Firman Allah
Pada umumnya Injili Baru orisinil memegang sikap historis penginspirasi Alkitab yang penuh dan verbal (verbal and plenary inspiration). Namun retakan mulai muncul di fondasi, bahkan sejak masa awal Fuller Theological Seminary, dan retakan ini mulai melebar. Dewey Beegle di dalam bukunya, The Inspiration of Scripture, tanpa malu-malu mengatakan, "Kita perlu memperingatkan diri kita bahwa formulasi inspirasi verbal dan penuh, hanyalah sekedar sebuah doktrin - sebuah doktrin yang tidak alkitabiah mengenai masalah tersebut".[3]Kemudian, seorang dosen Fuller Seminary, Paul King Jewett, menghasilkan sebuah buku berjudul Man as Male and Female, dimana ia menyimpulkan bahwa Paulus merupakan korban dari budayanya dan salah dalam beberapa pernyataan yang dibuatnya mengenai subordinasi wanita. Ia menyatakan bahwa Alkitab masih tetap otoritatif bagi orang-orang percaya, walaupun mengandung kesalahan seperti itu.

Harold Lindsell, yang merupakan salah satu wakil tanpa cela dari Injili Baru mula-mula, menghasilkan sebuah karya bersejarah yang luar biasa di dalam bukunya, The Battle for the Bible (1976). Dengan gamblang ia menunjukkan bahwa banyak orang yang disebut "injili" telah membuang doktrin ketiadasalahan Alkitab (inerrancy) dan secara terbuka menyatakan bahwa Alkitab mengandung kesalahan. Bab bukunya mengenai "Kasus Aneh Fuller Theological Seminary" menguraikan pertentangan internal staf pengajar sekolah tinggi tersebut mengenai masalah inspirasi Alkitab. (Lindsell merupakan salah satu anggota pengajar orisinil di Fuller).

Fuller Seminary menanggapi Lindsell dalam sebuah terbitan khusus berjudul The Authority of Scripture at Fuller. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa Fuller Seminary tidak menganut doktrin ketiadasalahan (infalibilitas) Alkitab, meskipun hal ini secara historis telah dipahami orang-orang Kristen yang meyakini Alkitab. Fuller mendefinisikan kembali istilah tersebut - Alkitab sempurna dalam masalah iman dan praktek, namun mengandung berbagai kesalahan (ada yang lebih suka dengan istilah "inkonsistensi") mengenai masalah-masalah "yang kurang penting". Salah seorang penulisnya, William LaSor, menyatakan Alkitab sebagai "sangat dapat dipercaya dan akurat", tetapi ini masih jauh dari pernyataan bahwa Alkitab adalah "sempurna." Penulis yang sama ini berkomentar, "Dalam pikiran saya ada sebuah perbedaan yang jelas antara mengatakan bahwa Alkitab sepenuhnya tidak ada kesalahan mengenai segala hal yang diajarkan di dalamnya dengan mengatakan bahwa Alkitab tanpa kesalahan dalam segala hal (seperti geologi, astronomi, genealogi, angka dsb.), jika hal-hal ini tidak berpengaruh terhadap konteks pengajarannya",[4]

Dengan kata lain, konsep yang dipertahankan oleh Fuller Seminary dan banyak orang injili muda dan duniawi adalah bahwa Alkitab sempurna jika ia "mengajarkan" suatu doktrin atau kebenaran, tetapi ia menjadi tidak sempurna lagi jika berbicara mengenai hal-hal lain seperti geologi atau sejarah. Pernyataan ini mencerminkan keadaan yang sangat serius di dalam jemaat modern. Mempertanyakan keabsolutan infalibilitas Firman Allah yang kudus merupakan sebuah kejahatan berat dan patut dikecam secara terbuka. Sudah terlalu lama beberapa kalangan injili berusaha menutupi hal-hal tersebut dengan alasan "kasih Kristen" atau untuk "memelihara persatuan". Kita tidak membutuhkan kasih maupun persatuan dengan mengorbankan kebenaran.

Salah seorang "pengawal tua" Injili Baru, Carl Henry, mengeluarkan peringatan ini beberapa tahun yang lalu: "Namun tumbuhlah barisan depan sarjana-sarjana muda dari sekolah-sekolah tinggi injili yang memegang gelar doktorat dari pusat-pusat sekolah theologi injili, yang kini mempertanyakan atau memungkiri inerrancy dan doktrin tersebut tidak dipertahankan lagi secara konsisten oleh para staf pengajar injili... Beberapa masih tetap memakai istilah itu dan meneguhkan dukungannya, namun meski demikian, makna istilah tersebut telah diperlonggar".[5]Penulis yang lain juga mempunyai pengamatan serupa, tetapi lebih terperinci bahwa, herannya sekelompok injili yang sama-sama berdedikasi bersatu menekankan bahwa penerimaan doktrin-doktrin Kristen yang historis tidak mewajibkan kita harus percaya Alkitab tidak ada salah. Kelompok terakhir ini mempertahankan bahwa jika "inerrancy" merujuk kepada apa yang dikatakan Roh Kudus melalui para penulis Alkitab, maka firman digunakan dengan tepat, tetapi mendefinisikan inerrancy diluar pengertian ini adalah memberi kesan "sangat bertentangan dengan pikiran para penulis Alkitab dan manfaat dari Kitab Suci itu sendiri", kata sebuah pernyataan.


Apa yang kini membuatnya menjadi sebuah permainan baru adalah munculnya sebuah kelompok injili yang baru. Orang-orang ini menerima doktrin-doktrin utama Kekristenan dalam pengertian penuh dan literal, namun menerima bahwa higher critics cukup beralasan: ada kesalahan di dalam Kitab Suci, dan beberapa ajarannya harus disesuaikan dengan kondisi kultural dan historis.[6]

Dengan terang-terangan injili-injili muda dan duniawi tersebut mengadopsi pandangan inspirasi Alkitab yang tidak tegas. Melalui proses waktu, hal ini lambat-laun mempengaruhi gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Seorang "injili muda" yang terkenal mengatakan demikian: "Posisi ini - yakni menegaskan bahwa Alkitab tidak ada salah dan sempurna dalam pengajaran mengenai masalah iman dan perilaku, namun penegasan tersebut tidak berlaku terhadap sejarah dan alam semesta - secara bertahap semakin meningkat di antara para theolog injili yang sangat dihormati".[7]

Sejak pernyataan-pernyataan itu ditulis, kini telah berlalu kurang lebih duapuluh tahun. Sejak saat itu keadaan terus memburuk.

Tunduk Kepada Berhala Ilmu Pengetahuan (Sains)

Para injili muda yang duniawi menjadi sangat terpikat dengan pemikiran ilmu pengetahuan modern. Banyak di antara mereka merasa bahwa oleh karena kaum fundamentalis begitu menolak pengajaran yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan, mereka mendapat julukan "obscurantist" ("orang tidak mengerti apa-apa"). Memang benar bahwa kaum fundamentalis menentang banyak teori ilmuwan modern, namun penolakan ini tidak akan membuat mereka menjadi obscurantist. Filosofi ilmu pengetahuan modern banyak sekali yang mati-matian menentang wahyu Firman Allah. Jika ada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang valid, kita akan menerimanya. Mereka ada karena mereka merupakan bagian dari ciptaan yang dirancang Allah. Kita bersyukur dengan perkembangan dan penemuan yang begitu maju dalam bidang ilmu pengetahuan, sehingga kehidupan kita lebih nyaman. Namun konsep dasar yang menaungi mayoritas ilmuwan masa kini sama sekali bertentangan dengan Firman Allah. Menariknya, salah seorang pendiri Injili Baru, Carl Henry, menyadari hal ini dan dengan cara yang sangat bagus membahas permasalahan tersebut.[8]Di sisi yang lain, para injili muda tidak melihat ada yang salah dengan upaya untuk menyatukan kebenaran alkitabiah dengan pemikiran evolusi.[9]

Memonyetkan Manusia
Sejak Darwin mengemukakan teori evolusi di dalam buku Origin of Species, orang-orang yang belum diselamatkan telah menggunakannya sebagai jawaban hebat untuk menjelaskan asal-mula alam semesta dan segala isinya tanpa campur tangan Allah yang berdaulat. Teori evolusi merupakan salah satu target utama dari kaum fundamentalis mula-mula sementara mereka berperang dengan kaum modernis. Dalam buku orisinil The Fundamentals, Profesor George Frederick Wright dari Oberlin College menulis, "Arus besar doktrin evolusi yang sedang kita perangi merupakan sesuatu yang secara praktis menghapuskan Allah dari seluruh proses penciptaan, dan menurunkan manusia kepada belas kasihan mekanis alam semesta, roda-roda dimana mesinnya dibiarkan bergerak tanpa suatu petunjuk langsung dari Allah".[10]

Namun para injili muda ingin menggantikan catatan penciptaan yang alkitabiah dengan pandangan kontemporer, karena malu dengan pandangan penciptaan (creationist) yang dipandang rendah oleh para ilmuwan kondang. Para injili muda telah berusaha mencari cara yang cerdik untuk menghubungkan temuan-temuan para ilmuwan yang tidak percaya dengan pernyataan-pernyataan Alkitab. Injili-injili "rumput-hijau" ("green-grass" - sebuah istilah untuk para injili muda) tersebut dibela oleh seorang penulis sebagai berikut:

Bagaimana posisi "para injili muda" mengenai masalah ilmu pengetahuan dalam hubungan dengan Alkitab?

Para injili "rumput-hijau" ini... tidak memegang pendirian teguh seperti bapak-bapak fundamentalis pendahulu kita. Injili-injili "rumput-hijau" berpendapat bahwa keseluruhan dualisme Kekristenan dan ilmu pengetahuan, termasuk kontroversi mengenai evolusi, bukanlah kekuatan yang sesungguhnya. Sebaliknya karena mempelajari ilmu pengetahuan ketika masih di bangku kuliah, mereka merasa bahwa ilmu pengetahuan harus dipertahankan.

Jadi mengapa harus ditentang?[11]

Mengapa kita harus "menentang" ilmu pengetahuan? Karena tidak semua "ilmu pengetahuan" adalah ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Kebanyakan ilmu pengetahuan dibangun di atas asumsi yang tidak berdasar dan tanpa bukti, yang muncul dari hati manusia yang belum diselamatkan dan memberontak, terutama mengenai masalah asal mula ciptaan. Mengenai tindakan penciptaan dan pemeliharaan Allah tersebut, mereka "sengaja tidak mau tahu" (II Ptr. 3: 5). Frase ini mengindikasikan kesengajaan penolakan terhadap wahyu kebenaran Allah demi teori-teori yang dihasilkan oleh pikiran manusia yang tidak lahir baru.

Posisi yang populer di kalangan para injili muda adalah mengatakan bahwa beberapa pasal di bagian awal Kitab Kejadian mengajarkan kebenaran theologis, tetapi bukan kebenaran ilmiah. Dengan metode demikian, kaum non-literal bisa memaksa pasal-pasal tersebut masuk ke dalam teori asal-mula apa saja yang mereka pegang. Jack Rogers, seorang yang menolak inspirasi verbal, menyatakan, "Sarjana-sarjana theologi telah lama mengetahui bahwa sebelas pasal yang pertama dari Kitab Kejadian adalah keterangan theologis, bukan ilmiah".[12]Namun sebaliknya seperti yang ditulis oleh seorang ilmuwan sejati dan percaya kepada Alkitab, "Dalam kesimpulan akhir, semua kebenaran adalah satu. Allah tidak menciptakan satu alam semesta yang berealitas lahiriah dan satu alam semesta yang berealitas rohani. Allah yang sama ini menciptakan segala sesuatu, dan FirmanNya diberikan oleh Roh Kudus untuk menuntun kita ke dalam kebenaran".[13]

Menghilangkan Kutil Masyarakat

Dalam diskusi mengenai asal-mula Injili Baru, kita mencatat bahwa salah satu penekanannya adalah mengenai keterlibatan sosial. Namun dengan berlalunya waktu, muncullah pandangan yang semakin radikal dari sumber-sumber injili yang diakui. Kaum injili muda yang duniawi terutama sangat terpikat dengan alasan ini. Seorang dosen di Calvin College menyatakan bahwa gereja harus menjadi "ragi bagi masyarakat" dan membenarkan para injili muda untuk "bergabung dengan kaum liberal untuk tujuan sosial".[14]Ada yang melangkah terlalu jauh dengan alasan bahwa panggilan aksi sosial sebenarnya adalah bagian dari Injil. Mark Hatfield, seorang Senator Amerika Serikat, memohon kita untuk "berpaling kepada permasalahan theologis revolusi sosial pada zaman ini. Mengurangi permasalahan tersebut berarti telah memenuhi setengah bagian dari Injil".[15]



Mempertahankan di luar konsep Perjanjian Baru bahwa aksi sosial adalah termasuk mengamankan Injil Kristus merupakan sebuah pekerjaan yang mustahil. Esensi Injil dinyatakan di dalam I Korintus 15: 3-4 dan sama sekali tidak mencakup aksi sosial. Sementara orang yang memiliki Roh Kudus di dalam dirinya, akan dan harus memperhatikan keadaan orang-orang yang kekurangan, tetapi mengatakan bahwa misi gereja adalah untuk mengurangi penderitaan mereka, sama artinya dengan mempertahankan posisi yang tidak didukung Perjanjian Baru. Sebagai hasil usaha penginjilan gereja, banyak permasalahan sosial dapat dikurangi, tetapi Kristus maupun para rasul tidak pernah mendorong suatu usaha untuk menghapuskan penyakit sosial dari Kerajaan Romawi, yang sangat banyak itu. Itu bukan merupakan program Allah untuk masa ini. Kita harus menempatkan prioritas yang ditempatkan Allah - yaitu di atas kebutuhan rohani umat manusia.

Berpihak Pada Wanita
Di antara para injili muda yang duniawi muncul sebuah gerakan "feminis religius". Beberapa wanita seperti Nancy Hardesty, Sharon Gallagher, dan Lucille Sider Dayton menjadi jago-jago "kebebasan wanita" injili yang vokal. Mereka menumpahkan kemarahan kepada komunitas fundamentalis dan salah seorang diantaranya menyatakan, "Bahwa wanita lebih rendah (inferior) dari pria itu merupakan sebuah doktrin yang sudah mapan dalam kebanyakan gereja Fundamentalis dan Injili".[16]Pernyataan ini cacat, dan sengaja diwarnai dengan kata "lebih rendah". Orang-orang Kristen alkitabiah tidak mempertahankan bahwa wanita itu "lebih rendah". Ada perbedaan yang sangat jelas antara wanita yang "lebih rendah" dan wanita yang "bersikap patuh/tunduk (submissive)". Kata yang pertama mengimplikasikan kekurangan karakter atau ketidakmampuan, sebaliknya kata yang terakhir menunjukkan respon terhadap Firman Allah dan instruksi-instruksi yang berkenaan dengan wanita secara senang hati dan sukarela.

Dari kalangan injili-injili mudalah untuk pertama kalinya muncul "kaum feminis injili". "Guru" mereka adalah Paul King Jewett dari Fuller Seminary. Seperti sudah disebutkan di bagian depan, Jewett berpendapat bahwa instruksi Paulus mengenai wanita di dalam surat Efesus dan di tempat yang lain jelas merupakan refleksi budaya dimana Paulus hidup dan bukan merupakan perintah illahi bagi kita yang hidup pada masa ini. Bersama yang lain, ia mempromosikan hak wanita untuk ditahbiskan di dalam pelayanan Injil.[17]



Ikut Rombongan Kereta Musik Ekumenis

Injili Baru yang orisinil menjalankan ide untuk menyusupkan orang-orang muda yang percaya Alkitab dan cemerlang yang akan "membalikkan keadaan" ke dalam denominasi-denominasi sesat garis lama. Sementara dalam kalangan injili muda yang duniawi ini terpecah beberapa pendapat mengenai masalah tersebut, namun banyak yang memilih pendekatan ini. Seperti yang telah kita lihat, Billy Graham telah membantu mempopulerkan pendekatan "penyusupan" itu, dan tidak heran jika banyak injili muda yang mengikutinya.

Majalah Eternity menggambarkan berbagai gerakan pembaharuan injili yang terjadi di dalam denominasi-denominasi besar, dalam artikel berjudul "On Not Leaving It to the Liberals".
[18]Salah seorang narasumber, Tom Howard, yang kemudian menjadi dosen bahasa Inggris di Gordon College, menyatakan bahwa "gereja membutuhkan lebih dari sekedar pribadi-pribadi yang tekun dengan Perjanjian Baru yang mereka pegang"; sehingga ia memilih gereja Episkopal dengan para peniliknya yang merupakan "penerus para rasul yang terpilih" dan karena "kehidupan yang sakramental dan liturgis".[19]

Para injili muda sama-sama mempertahankan pandangan inklusif dari para pengajarnya yang dahulu. "Injili baru kurang tajam separatistiknya dibandingkan dengan para pendahulunya, fundamentalisme... Pendukung injili baru tetap berada di dalam denominasi induknya kecuali jika denominasinya benar-benar telah sesat. Disini kaum konservatif masih dapat menggunakan pengaruh ragi mereka, mereka masih bisa mengadakan dialog dengan rekan sejawat yang lebih liberal".[20]

Injili-injili muda yang duniawi tersebut bukan hanya lebih ekumenis dibandingkan dengan kaum fundamentalis mula-mula, namun beberapa di antaranya juga berorientasi kepada theologi kharismatik. Sikap mereka digambarkan sebagai berikut: "Seperti yang telah kita katakan, para penganut Pembaharuan Kharismatik (Charismatic Renewal) menganggap pengalaman Pentakosta sebagai tembok denominasional dan ideologis yang lebih penting, sementara ia menjernihkan dan menegaskan apakah Kristen otentik itu di dalam setiap tradisi, tanpa memaksakan perubahan struktural atau bahkan doktrinal dalam suatu tubuh jemaat. Sikap mereka biasanya bersahabat terhadap World Council of Churches, rekan sejawat wilayahnya, dan struktural ekumenis yang lain".[21]

Di dalam Ivy Halls *(Aula Kampus)
Kaum injili muda menunjukkan penghinaan terhadap "mentalitas institut Alkitab" dan tidak begitu berguna bagi institut Alkitab dan sekolah tinggi Alkitab. Bagi mereka pendidikan tersebut tidak relevan. Mereka sangat menguasai seni-seni liberal. Secara khusus mereka tidak menyukai pendekatan pendidikan yang "dogmatis". Di dalam sebuah buku yang ditulis oleh tiga profesor dari Wheaton College, kita dapatkan pandangan ini. Penulis-penulisnya mengamati departemen Alkitab dari institut dan sekolah tinggi Alkitab fundamentalis:

Doktrin diajarkan dari sudut perspektif mempelajari atau "menghafal" pernyataan-pernyataan dogmatis...

Dengan demikian, setelah para mahasiswa menghabiskan empat tahun di dalam suasana yang dibebani dengan kekudusan, dimana mereka dilatih untuk 'mengendus" para liberal dan diperlengkapi dengan jawaban-jawaban untuk menghadapi kritik-kritik theologis dan serangan terhadap Alkitab, mereka diutus keluar oleh departemen Alkitab sebagai contoh orang Kristen yang terdidik... Pada saat evaluasi final atas gerakan fundamentalis dilakukan, peran yang dimainkan oleh departemen Alkitab di dalam perkembangan dan solidifikasi penginjilan barangkali akan dinilai luar biasa. Namun sudah sepantasnya para sejarawan menanyakan apakah yang disebarkan itu Kekristenan alkitabiah sejati ataukah Kekristenan yang dikondisikan secara kultural.[22]

Membaca pernyataan ini, orang akan langsung melihat pelecehan terhadap pendekatan pendidikan yang berpusat pada Alkitab. Pernyataan itu menyindir dengan rujukan "dikondisikan secara kultural". Hal ini sangat ironis, karena jika ada suatu pendidikan yang dikondisikan secara kultural, maka itu adalah pendidikan Injili Baru yang atas nama "keunggulan" pendidikan "mengkondisikan" mahasiswa-mahasiswanya dengan budaya humanistik dan fasik dari dunia ini.

Tujuan pendidikan Kristen dalam pemikiran kebanyakan orang adalah untuk memberikan pendekatan "prasmanan". Tugas dosen adalah memaparkan kepada para mahasiswa segala pilihan dan pendapat yang ada, dan tugas para mahasiswa adalah menentukan pilihan atas apa yang dipaparkan. Hal ini dipahami oleh beberapa kalangan suatu pendidikan "liberal", yaitu mengembangkan proses pemikiran mahasiswa itu sendiri, sehingga akan menjadikannya sebagai pribadi yang "dewasa".

Secara tradisional, sekolah-sekolah Kristen telah berusaha memelihara standar perilaku pribadi yang cukup tinggi di antara mahasiswa mereka. Demikian juga ada ketentuan yang harus diikuti dan disiplin yang harus diterapkan jika ketentuan tersebut tidak ditaati. Namun, kaum injili muda memberontak terhadap konsep ini sebagai suatu "legalisme". Pendekatan mereka diadopsi oleh banyak kalangan dan telah menyebabkan kelonggaran perilaku di banyak kampus yang mengaku sekolah tinggi Kristen. Banyak sekolah tinggi Kristen merasa bahwa mereka sedang menanamkan kedewasaan kepada para mahasiswa dengan menghapuskan ketentuan dan peraturan dan mengizinkan mereka untuk mengambil keputusan mereka sendiri. Wakil ketua dari sebuah sekolah tinggi yang dianggap sebagai sekolah tinggi Kristen menyatakan bahwa sekolahnya kini telah menekankan "kebebasan mutlak bagi mahasiswa" dan mengesampingkan semua "ketentuan Mickey Mouse dalam kehidupan mahasiswa".

Tendensi liberal di dalam theologi dan gaya hidup pribadi juga telah tertumpah ke dalam sikap politik para mahasiswa. Mereka mengeluh tentang hubungan yang mereka lihat antara Kekristenan konservatif dengan politik konservatif (sebuah kasus diuraikan secara rinci di dalam buku Richard Pierard, The Unequal Yoke: Evangelical Christianity and Political Conservatism). Banyak kaum injili yang lebih muda telah menjadi aktivis sosial liberal dan berusaha menyembuhkan penyakit-penyakit sosial melalui praktek politik. Pada tahun 1970-an orang-orang fanatik ini mengorganisir apa yang dinamakan "Koalisi Rakyat Kristen". Mereka mendukung theologi "radikalisme Kristen" yang mencakup pendukung gerakan-gerakan politik liberal dan usaha untuk mengawinkan Injil Kristen dengan "pengutukan profetik" terhadap berbagai permasalahan sosial masa kini. Mereka tidak sabar melihat apa yang mereka pandang sebagai kekudusan dan sikap "duniawi lainnya" di pihak kaum injili yang lebih tua dan ingin menyerang permasalahan masyarakat melalui aksi kerjasama politis. Seorang pengamat pada saat itu menyatakan, "Kecenderungan berada di sayap-kiri di antara injili yang lebih muda terus berkembang".[23]

Melonggarkan Larangan
Para injili muda dan duniawi mendukung gaya hidup yang lebih bebas dibandingkan dengan yang telah umum diterima oleh orang-orang Kristen yang saleh. Pandangan ini tercermin di dalam sebuah buku berjudul Sex for Christians, yang ditulis oleh profesor Lewis Smedes dari Fuller Seminary. Di dalam bab "Responsible Petting" ("Percumbuan yang Bertanggungjawab"), ia menyatakan bahwa bercumbu (bermain cinta) merupakan sebuah alat "penemuan bersama" ("mutual discovery")".[24]Dalam sebuah pernyataan kuat yang menguraikan sikap para injili muda, seorang penulis mengatakan,

Perubahan besar ketiga dalam evangelikalisme kontemporer telah terjadi pada sikap kultural mereka.

Terpisah dari kultur yang lebih luas yang ditandai oleh etika Kristen yang sederhana dan bersifat pribadi yang berkarakteristik revivalisme modern, maka kehidupan yang benar bagi para injili kebanyakan lebih ditandai oleh legalisme yang hampa. Merokok, minum, dansa, pergi ke bioskop dan berjudi, misalnya, tidak diperbolehkan.

Sebagai reaksi terhadap apa yang mereka anggap sebagai legalisme yang menekan, para injili yang lebih muda hampir secara universal menolak tabu-tabu itu sebagai hal yang mengikat; dan bahkan, penggunaan kata-kata empat-huruf, dengan mudah langsung bisa dilihat dalam pembicaraan dan tulisan mereka. Juga sangat jelas dengan mobilitas sosial atas dan akomodasi kultural, injili secara keseluruhan - bahkan juga beberapa kalangan gereja injili, sekolah tinggi, seminari dan pelayanan-pelayanan kampus yang lebih konservatif - tidak punya waktu lagi untuk mengecam hal-hal tabu lama khusus yang kini telah menjadi gangguan sosial, terutama masalah minuman keras.[25]

Penekanan kepada apa yang dianggap dengan "kebebasan" ini terus berlangsung sampai saat ini. Jika ada yang bersikap menentang beberapa masalah kesusilaan yang disebut di atas, maka orang itu akan disebut legalis. Namun mereka yang membuat tuduhan tersebut, sebenarnya telah gagal menunjukkan bagaimana dosa-dosa seperti minum dan merokok bisa dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang saleh. Kita baru bisa memutuskan dengan menyelidiki Firman Allah apa yang merupakan gaya-hidup yang saleh. Jelas mengkonsumsi alkohol, yang membahayakan tubuh manusia, secara terang-terangan tidak mungkin merupakan sebuah aktivitas yang "saleh". Paulus bicara tentang "kebenaran yang nampak dalam ibadah kita" (yaitu, yang menuntun kepada kehidupan yang saleh, Titus 1:1). Ada kaitan yang vital antara theologi (kebenaran) dengan gaya-hidup seseorang (kesalehan/kekudusan). Kompromi di dalam bidang theologis juga akan menuju ke arah kompromi di dalam hidup.

Bergandeng Tangan Dengan Orang-orang Tidak Percaya
Filosofi dasar bekerjasama dengan orang-orang tidak percaya di dalam kampanye penginjilan yang dipopulerkan oleh Billy Graham disambut dengan antusias oleh para injili muda yang duniawi. Kenneth Strachan, yang kemudian menjadi direktur Misi Amerika Latin, menyusun gagasan yang dinamakan "Evangelism-in-depth". Gagasan ini merupakan suatu pendekatan penginjilan yang disesuaikan untuk gereja-gereja dan kelompok-kelompok di Amerika Latin. Gagasan itu bertujuan mempersatukan semua kekuatan gereja untuk memenuhi negara Amerika Latin dengan Injil.

Kerjasama antara beberapa pemimpin misi dan perwakilan-perwakilan misi dengan Dewan Gereja Dunia mulai meningkat sementara para injili yang lebih muda menyebarkan pendekatan tersebut. Di dalam majalah World Vision, yang diterbitkan oleh organisasi dengan nama yang sama, tekad tersebut menyatakan bahwa para injili harus bekerjasama dengan injili lain yang ada di dalam Dewan Gereja Dunia agar memperkuat kesaksian dan pengaruh mereka di dalam organisasi tersebut.[26]Hal yang terutama, kaum injili seharusnya tidak berada di dalam Dewan Gereja Dunia yang merupakan benteng theologi dan praktek liberal yang sangat dibenci Tuhan. Kedua, kaum injili lain seharusnya tidak membantu ketidaktaatan mereka. Namun "generasi kedua" Injili Baru sama sekali tidak merasa menyesal dengan kerjasama mereka yang erat dengan kaum liberal.

Banyak injili muda secara terbuka menyatakan hasrat mereka untuk bekerja lebih erat dengan kaum liberal theologis, bukan hanya dalam misi-misi, tetapi dalam hal apa saja. Meningkatnya pemusatan pandangan terhadap nilai dan prioritas yang dilakukan oleh kaum Injili (setidak-tidaknya, generasi yang muncul) dan didukung secara prinsip oleh kaum liberal Ekumenis utama, dipandang sebagai sebuah titik terang di langit. Pemusatan pandangan ini dapat diilustrasikan dengan memperbandingkan prioritas dan nilai kaum Injili Muda dengan tujuan-tujuan yang telah dicetuskan pada tahun 1948 dengan didirikannya Sidang Dewan Gereja Dunia di Amsterdam.[27]

Ini merupakan sebuah pernyataan yang menakjubkan. Penulisnya bersukacita dengan fakta bahwa kaum injili dan liberal, seperti yang terwakili di dalam Dewan Gereja Dunia, menjalin hubungan yang semakin erat. Ini merupakan sebuah pujian pemberhalaan rohani, karena "allah" yang disembah oleh Dewan Gereja Dunia sangat jelas berbeda dengan Allah yang disembah oleh orang-orang Kristen. Nabi besar Hosea tidak bisa bersukacita dengan penyimpangan bangsa Israel dalam menyembah berhala-berhala yang sesat. Hosea dengan telak mengutuk "roh perzinahan" yang ada di antara mereka (Hos. 5: 4) dan memberikan penghakiman atas perzinahan mereka dengan agama sesat dengan berkata, "Sebab engkau telah berzinah dengan meninggalkan Allahmu" (Hos. 9: 1). Jika Hosea masih hidup saat ini, maka ia akan memberitakan hal yang sama kepada para injili modern.



Melepaskan Diri Dari Pagar



Sementara generasi kedua Injili Baru tidak menyangkal pentingnya beberapa kerangka doktrinal, namun mereka berusaha menghancurkan sebanyak mungkin kendala doktrinal. Mereka menganggap doktrin sebagai sandungan bagi ekumenitas injili dan sebagai kendala bagi persekutuan. Pada saat konvensi tahunan National Association of Evangelicals (NAE) yang ke-35, beberapa narasumber berbicara dengan sangat keras menentang perlunya kesepakatan mengenai doktrin ketiadasalahan Alkitab. "Gembala Don Moonmaw dari Gereja Presbyterian Bel Air di Beverly Hills, California, mengajukan bahwa percaya di dalam Kristus, itulah dasar persatuan, bukan komitmen pada suatu pernyataan doktrinal, dan dalam hal ini ia memberikan dukungan yang lantang kepada Fuller Seminary. Profesor Bernard Ramm dari Eastern Baptist Seminary mengecam "permusuhan ilmiah" yang 'menyerang, menghancurkan, dan menjatuhkan pihak lain' ".[28]Bukankah aneh jika Allah memberikan kita persenjataan rohani yang ditujukan untuk "meruntuhkan benteng-benteng" (II Kor. 10: 4)? Kedengarannya seperti "untuk menyerang", bukan?



Kaum injili baru tersebut dianggap sebagai kalangan yang tidak sabar dengan "masalah doktrinal seperti keselamatan kekal" oleh seorang penulis. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa mereka menganggap "perdebatan tentang Alkitab (tentang infalibilitas, inerrancy) tidak mendatangkan manfaat. Mereka lebih menekankan pengalaman dan menyandarkan panggilan Kekristenannya di dalam karakter kontak mereka dengan Kristus".[29]



Sikap pasif dengan pembahasan mengenai kebenaran theologis yang kritikal terus mengganggu gereja. Kelihatannya kealpaan merupakan peringatan Paulus supaya kita tidak "diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran" (Ef. 4: 14) dan agar kita menolak segala sesuatu yang "bertentangan dengan ajaran sehat" (I Tim. 1: 10). Paulus berulang kali mendesak agar kita mempertahankan "iman" (I Tim. 6: 21), "kebenaran" (I Tim. 3: 15), dan "ajaran sehat" (I Tim. 4: 6). Yudas tidak merasa "berdebat" masalah doktrin bersifat bermusuhan, namun ia merujuknya sebagai "tetap berjuang untuk mempertahankan iman" (Yudas 3).

Para Injili Muda Beraksi
Banyak kaum muda injili yang duniawi aktif di berbagai organisasi parachurch. Salah satu contohnya adalah Campus Crusade, yaitu sebuah organisasi yang bertujuan untuk melayani mahasiswa-mahasiswa sekolah tinggi. Pendiri dan pemimpinnya, Bill Bright telah aktif selama bertahun-tahun dalam menyebarkan pekerjaan ekumenikal. Ia duduk sebagai komite eksekutif Key '73, sebuah program penginjilan antar-benua yang terdiri atas kerjasama 130 denominasi plus gereja Katolik Roma. Campus Crusade pada dasarnya mengemban citra pendirinya. Mereka merupakan pelopor penyebar penginjilan ekumenis, yakni menggunakan pendekatan pragmatis untuk menjangkau dunia bagi Kristus.

Ada seorang pemimpin Kristen yang menghabiskan waktu seminggu penuh di kantor pusat Campus Crusade, mengikuti salah satu lembaga pelatihan penginjilannya. Berikut adalah penilaiannya terhadap posisi mereka:

Selama seminggu saya di Arrowhead Springs, saya berbicara dengan orang-orang yang mengikuti Lembaga Pelatihan Penginjilan Bagi Orang Awam yang dirancang secara kilat untuk meningkatkan pelayanan jemaat-jemaat lokal denominasi-denominasi yang sesat. United Methodist Church, United Presbyterian Church, American Baptist Convention, demikian juga dengan kaum Episkopal dan Lutheran juga turut di dalamnya, dan selama satu minggu penuh seminar dan kuliah, tak pernah disinggung sekalipun bahwa para petobat harus diperingatkan tentang ancaman gerakan ekumene yang terus meningkat di Amerika. Pada kenyataannya, kami sengaja diarahkan untuk "tidak menyinggung hal-hal yang bernada menghina denominasi-denominasi gereja".[30]

Salah satu program yang dipromosikan oleh Campus Crusade diberi nama, "Here's Life, America" ("Inilah Hidup, Amerika"). Program ini melibatkan ribuan sukarelawan dari berbagai gereja pada daerah yang ditunjuk yang menelpon orang-orang di dalam komunitas mereka dan berusaha mendapatkan "komitmen bagi Kristus" melalui telepon. Usaha ini kemudian ditindaklanjuti secara pribadi. Seperti biasa, Campus Crusade menerima sukarelawan dari semua dan setiap gereja tanpa melihat pandangan doktrinal mereka. Seorang gembala fundamentalis di daerah Chicago yang berpengalaman ketika ditanya apakah ia keberatan dengan program ini.

Ya, saya keberatan. Ketika saya menyadari kampanye "Here's Life, America" disponsori oleh Campus Crusade for Christ, saya tahu bahwa ini merupakan sebuah organisasi yang terus-menerus menyebarkan penginjilan ekumenis yang berusaha menjangkau sebuah kota bagi Kristus... Perwakilannya ingin tahu apakah saya ada pertanyaan. Saya bertanya kepadanya, apakah jenis gereja yang diminta untuk mengambil bagian di dalam kampanye itu dan ia menjawab, "Segala jenis". Sesungguhnya pada minggu itu, ia telah berbicara dengan Unitarian Church di daerah itu dan meminta mereka untuk berpartisipasi. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak tertarik dengan penginjilan.[31]

Tidak ada satupun perikop di dalam Kitab Suci yang membiarkan pendekatan penginjilan seperti ini. Jika ada orang dan gereja yang menyangkal kebenaran Allah seperti yang disampaikan di dalam FirmanNya, kewajiban kita sudah jelas - "Jauhilah mereka itu!" (II Tim. 3: 5).

Terhanyut Ke Liberalisme
Para injili muda yang duniawi ingin mempertahankan beberapa identifikasi sebagai "kaum injili", tetapi mereka telah berubah haluan sehingga membawa mereka menyimpang dari warisan tersebut. Dalam analisisnya terhadap gerakan "injili yang duniawi" Quebedeaux mengatakan,

Kini... kaum injili kiri menawarkan pilihan yang lebih baik kepada kaum injili yang masih mempunyai keyakinan seperti injili, namun ingin bersikap seperti kaum liberal. Lebih-lebih di antara kelompok ini terdapat peningkatan sejumlah besar orang yang benar-benar telah keluar dari keyakinan injili menjadi liberalisme. Dengan kata lain, mereka secara intelektual menolak posisi injili (meskipun mereka tidak mengakui atau bahkan menyadarinya), namun mereka masih mempunyai ikatan emosional dengan gerakan yang mereka akui dan pelihara.[32]

Mereka menganggap denominasi-denominasi utama Protestan yang liberal sebagai saudara-saudara di dalam Kristus dan bukan sebagai kaum sesat yang harus dijauhi.

Dalam ringkasan buku The Worldly Evangelicals ("Injili yang Duniawi"), penulisnya melakukan pengamatan yang kebenarannya telah terbukti:

Tetapi sayap kiri injili (dan juga kaum injili yang lebih konservatif), ditambah dengan pembaharuan kharismatik (charismatic renewal), theologi relasional, penyangkalan terhadap ketiadasalahan mutlak Alkitab, analisis kultural yang terbuka, dan pandangan ekumenikal yang baru, kini sedang menuju ke kaum non-injili - yakni Protestan dan Katolik - yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Sementara banyak orang non-injili sendiri, karena dorongan ketertarikan studi Alkitab bersama dan pribadi dan di dalam doa, penginjilan, dan kerohanian, kini sedang bergerak ke arah injili. Sebenarnya, kita akan segera melihat kebangkitan ekumenisme yang hebat dari kalangan injili yang akan memperbaharui pencaharian ekumenikal yang populer di kalangan Protestan liberal pada awal 1960-an.[33]

Pada saat seseorang berkompromi, orang itu akan semakin menyimpang ke jalur yang salah. Penginjilan masa kini telah sangat terpengaruh oleh mereka. Penyimpangan tersebut belum berhenti. Ia terus berlanjut sampai saat ini.>


-----------------------------------
[1]Richard Quebedeaux, "The Evangelicals: New Trends and New Tensions", Christianity and Crisis, 20 September 1976, hal. 197.

[2]Donald Bloesch, "The Future of Evangelical Christianity", hal. 66.

[3]Dewey Beegle, "The Inspiration of Scripture", hal. 187.

[4]William LaSor, "Life Under Tension", dalam The Authority of Scripture at Fuller, hal. 23.

[5]Carl Henry, "Conflict over Bible Inerrancy", Christianity Today, 7 Mei 1976, hal. 24.

[6]G. Aiken Taylor, "Is God As Good As Hie Word?" Christianity Today, 4 Februari 1977, hal. 2.



[7]Quebedeaux, hal. 198.



[8]Secara khusus lihat babnya mengenai "Secular Man and Ultimate Concerns" di dalam buku "God, Revelation, and Authority", 1: 135-151.



[9]Lihat pembahasan mengenai evolusi dalam sebuah artikel di dalam "Evangelicals and Evolution" oleh William Craig, Journal of the Evangelical Theological Society (Summer 1974). Contoh lain dari pendekatan ini dapat dilihat dalam artikel James Buswell, "A Creationist Interpretation of Prehistoric Man", yang dimuat di dalam buku "Evolution and Modern Thought Today", diedit oleh Russell Mixter.



[10]George Frederick Wright, "The Passing of Evolution", The Fundamentals for Today, 2: 559.



[11]Bernard Ramm, "Welcome 'Green-Grass Evangelicals' ", Eternity, Maret 1974, hal. 13.



[12]Jack Rogers, "Confessions of a Conservative Evangelical", hal. 126.



[13]Henry Morris, "The Bible Is a Textbook of Science", Studies in the Bible and Science, hal. 120.



[14]Ronald Wells, "Where My Generation Parts Company", Eternity, Mei 1970.



[15]Mark Hatfield, "Conflict and Conscience", hal. 25.



[16]Richard Quebedeaux, "The Young Evangelicals", hal. 112.



[17]Paul King Jewett, "Why I Favor the Ordination of Woman", Christianity Today, 6 Juni 1975.

[18]Artikel Wawancara, "On Not Leaving It to the Liberals", Eternity, Februari 1977, hal. 24 dst.

[19]Tom Howard, narasumber artikel, "On Not Leaving It to the Liberals", hal. 16.

[20]Millard Erickson, "The New Evangelical Theology", hal. 203.



[21]Richard Quebedeaux, "The New Charismatics", hal. 153.

*Ivy Hall mengacu kepada aula-aula (halls) kampus Ivy League, sebuah kelompok yang terdiri atas 8 universitas prestisius dan mapan di Amerika.

[22]Marvin K. Mayers, Lawrence O. Richards, dan Robert Webber, "Reshapping Theological Education in a Liberal Arts Setting: Reshapping Evangelical Higher Education", hal. 171-172.

[23]Richard Quedebeaux, "The Evangelicals: New Trends and New Tensions".

[24]Lewis Smedes, "Sex for Christians", hal. 141.

[25]Quebedeaux, "The Evangelicals: New Trends and New Tensions", hal. 172.

[26]World Vision, Oktober 1968.



[27]Quebedeaux, "The Young Evangelicals", hal. 138-139.

[28]Laporan berita, Eternity, 1 April 1977.

[29]Ramm, hal. 13.

[30]Paul Tassell, "Is Campus Crusade Scriptural?", diterbitkan oleh Regular Baptist Press.

[31]Robert Gray, dari sebuah wawancara yang dipublikasikan, Voice, Januari 1977, hal. 7.

[32]Quebedeaux, "The Worldly Evangelicals," hal. 166.


[33]Ibid., hal. 164-165.

Tidak ada komentar: