Senin, 22 Desember 2008

ARGUMENTASI TENTANG PEMELIHARAAN KESELAMATAN YANG ALKITABIAH

Oleh: Suhento Liauw,D.R.E., Th.D (Gembala GBIA Graphe, Jak-Ut)

BAGIAN DUA

Lalu seseorang bertanya, “kalau begitu ada kemungkinan Pak Suhento akan menyangkal?” Jawabannya, setiap orang yang masih bebas berpikir dan bebas memutuskan sesuatu dengan pikirannya bisa saja menyangkal. Tetapi tiap-tiap orang bisa memastikan dirinya untuk tidak mau menyangkal. Saya hanya bisa memastikan diri saya untuk tidak menyangkal, tetapi tidak bisa memastikan orang lain tidak akan menyangkal, bahkan saya tidak bisa memastikan istri saya tidak akan menyangkal. Ia harus memastikan dirinya sendiri. Agar orang yang menjadi murid tidak menyangkal, Tuhan berkata bahwa orang yang akan menjadi muridnya harus memikul salibnya. Ada yang menafsir istilah memikul salibnya itu artinya menderita. Tetapi jelas sekali bahwa memikul salibnya itu bukan sekedar menderita, melainkan siap mati, karena setiap orang yang diberi salib untuk dipikul pastilah orang yang telah dijatuhi hukuman mati. Jadi, seorang murid yang sudah siap mati untuk gurunya adalah seorang yang telah memastikan diri untuk tidak menyangkali Sang Guru. Tetapi seorang murid yang mencari kesenangan dan ketentraman apalagi yang tidak berani menderita, sangat mungkin akan menyangkal kalau penganiayaan datang menimpanya. Seorang murid Tuhan yang berusaha memastikan diri untuk tidak akan menyangkal adalah seorang yang memutuskan bahwa sekalipun semua uang yang ada di Bank Central di seluruh dunia diberikan kepadanya, itu tidak dapat menggodanya untuk menyangkali Juruselamatnya. Pastikan dirimu, dan kuatkan orang lain, jangan mencemooh mereka.

Dalam Lukas 8:13, dalam perumpamaan penabur, Tuhan mengatakan bahwa “yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka PERCAYA sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.” Kata Yunani di balik kata murtad ialah apistantai yang berarti mundur dari iman.Tuhan mengatakan bahwa orang itu telah percaya, sekali lagi TELAH PERCAYA (pisteuousi) walaupun sebentar. Kemudian orang itu mundur dari iman ketika menghadapi pencobaan. Mudah-mudahan tidak ada yang berkata begini, Ah…Tuhan, Engkau tidak tahu, sebenarnya orang itu belum percaya, engkau sembarangan ngomong, karena menurut dosen saya kalau seseorang murtad berarti memang sejak semula ia belum percaya. Dan lagi Tuhan, sekalipun engkau berkata bahwa mereka yang telah percaya bisa murtad, saya tetap lebih percaya kepada dosen saya, dan lagi saya sudah berhutang budi, dan juga telah terlanjur ada di dalam sinode itu dan menikmati semua fasilitas sinode itu dan lagi dalam satu sinode kami tidak boleh berbeda pendapat.

Ketika Paulus menulis I Tim.4:1 ia berkata, “tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran-setan-setan.” Kata Yunani di balik kata murtad di sini kalau diterjemahkan secara langsung apostesontai tines tes pisteos maka berarti BERPISAH DARI IMAN sebagaimana di dalam King James Version diterjemahkan depart from the faith. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa orang tersebut sebelumnya telah memiliki iman (faith / pisteos) dan kemudian berpisah dari iman yang semula diyakininya.

Sesungguhnya tugas penggembalaan itu ialah mengajar jemaat agar mereka benar-benar berakar agar ketika pencobaan datang mereka tidak mundur dari iman dan juga menguatkan jemaat agar mereka tidak menyimpang dari iman yang bisa menyebabkan mereka tidak percaya lagi atau menyangkal Juruselamat mereka. Ingat, semua dosa kita telah ditanggung Tuhan. Tetapi penanggungan itu tidak bisa diperhitungkan kepada kita jika kita menyangkaliNya atau menyimpang dari iman yang benar kepadaNya.

Kelihatannya teman kita yang percaya bahwa orang yang telah diselamatkan tidak akan murtad itu karena mereka mencampuradukan dosa perbuatan dengan dosa doktrinal. Sikap mereka itu muncul sebagai reaksi terhadap pandangan yang mengajarkan bahwa kalau seorang beriman jatuh ke dalam dosa maka orang itu akan terhilang dari hadapan Tuhan. Padahal seorang beriman menjadi murtad dan binasa itu jelas bukan karena jatuh ke dalam dosa melainkan karena disesatkan oleh pengajaran lain. Pandangan bahwa seorang beriman tidak akan murtad itu salah. Mereka percaya bahwa seseorang yang telah diselamatkan masih bisa jatuh ke dalam dosa. Sedangkan murtad (tidak percaya lagi atau menyangkal) itu adalah salah satu dosa. Kalau jatuh ke dalam dosa biasa, artinya yang selain menyangkali iman, dosa itu telah ditanggung Tuhan di kayu salib. Tetapi jelas sekali penyaliban Tuhan tidak mungkin menanggung jenis dosa doktrinal (tidak mempercayaiNya lagi atau penyangkalan terhadap Dia). Itulah sebabnya dalam keadaan apapun, atau jatuh ke dalam dosa yang bagaimanapun, seorang beriman harus tetap di dalam kasih karunia Tuhan, artinya tetap percaya kepadaNya. Jangan menyangkal Tuhan atau meninggalkan Tuhan, melainkan mengaku dosa itu kepada Tuhan karena Ia setia dan adil (I Yoh.1:8-9) dan Ia akan mengampuni.

Kematian Kristus itu menanggung dosa isi dunia (Ibr.2:9, I Yoh.2:2, Yoh.1:29), berarti telah menanggung semua dosa saya, baik yang dulu, yang sekarang, bahkan yang saya belum buat. Ketika saya percaya kepadaNya, maka saya DIPERHITUNGKAN telah dihukumkan di dalam Dia. Semua dosa saya telah diambil alih dan Ia memberikan kepada saya kebenaran dan kesucianNya. SEJAK SAYA DISELAMATKAN, TIDAK ADA DOSA YANG DAPAT MEMISAHKAN SAYA DARI KRISTUS KARENA SEMUA DOSA SAYA TELAH DITANGGUNGNYA. Saya tidak tahu bisa atau tidak seseorang menolak Roh Kudus, atau menyangkal Allah, yang jelas Alkitab saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya harus teguh berpegang pada Injil, kalau tidak saya akan menjadi sia-sia dalam percaya (I Kor.15:2). Dan Alkitab saya dalam Rom.11:22 juga mengatakan bahwa saya harus TETAP DALAM KEMURAHANNYA dan jika tidak SAYA PUN AKAN DIPOTONGNYA. Dan dalam II Yoh.9, saya dinasehatkan untuk tetap tinggal di dalam ajaran Kristus, kalau saya keluar maka saya tidak memiliki Allah. Yoh.15:6 memberitahukan saya bahwa saya harus tinggal di dalam Kristus, kalau tidak saya akan dibuang ke luar dan dibakar. JADI, JIKA DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ALLAH, MAKA KITA MELIHAT PEMELIHARAAN ALLAH. SEBALIKNYA JIKA KITA MELIHAT DARI SUDUT PANDANG MANUSIA, MAKA KITA MELIHAT TANGGUNG JAWAB MANUSIA.

Ayat-ayat tersebut akan ditafsirkan lain kalau seseorang terlebih dulu memiliki sebuah obsesi yang diajarkan sejak anak-anak dan menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan obsesinya. Dulu saya pernah mempunyai konsep atau obsesi seperti Calvinis, mempercayai bahwa sekali seorang diselamatkan maka apapun yang terjadi ia pasti selamat. Setiap orang yang menyimpang dari iman saya katakan bahwa orang itu tadinya memang belum percaya. Tetapi kini saya mengerti dengan lebih baik bahwa di dalam rahasia penyelamatan Allah, Ia bertindak, namun Ia juga mau manusia turut bertanggung jawab untuk bertobat dan percaya dan kemudian bertekun di dalam iman.

Ketika seseorang mau memasuki sebuah ruangan “keselamatan”, sebelum membuka pintu, ia dihadapkan dengan tulisan di pintu bagian luar “bertobatlah dan percayalah.” Sesudah ia bertobat dan percaya maka ia masuk ke dalam ruangan keselamatan, tetapi ia belum masuk ke dalam ruangan kekekalan. Di sebelah luar pintu ruangan kekekalan ia dihadapkan dengan tulisan “bertekun di dalam iman” atau “setia sampai mati” atau “tetap di dalam ajaran Kristus.” Setelah dia bertekun hingga akhir, maka ia masuk ke dalam kekekalan. Kemudian ia menoleh untuk melihat masa lalu dan ia pasti mendapatkan bahwa Allah yang memeliharanya dan memegangnya dan memberinya kekuatan untuk bertekun di dalam iman sampai akhir sama seperti ketika ia melewati pintu ruangan keselamatan ia menoleh dan melihat bahwa ia telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan.

Kita harus mengambil keputusan untuk bertobat dan percaya, itu benar, dan kita telah dipilih sebelum dunia dijadikan juga benar karena kedua-duanya ada ayat pendukungnya. Hal yang bersamaan dengan itu ialah kita harus bertekun dan setia dan tetap tinggal di dalam ajaran Tuhan, itu benar (Kis.14:22, Kol.1:23), dan kita dipegang, dipelihara, juga benar karena kedua-duanya juga ada ayat pendukungnya. Inilah yang disebut oleh Paulus rahasia iman atau misteri iman (I Kor.4:1, Ef.3:4, 6:19, Kol.1:26, I Tim 3:9, 16). Masalah bertobat dan dipilih, bertekun dan dipegang adalah masalah satu koin dengan kedua sisinya atau satu daun pintu dengan kedua belah pihaknya. JIKA DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ALLAH, MAKA ALLAHLAH YANG MELAKUKAN SEGALANYA, DAN KALAU DILIHAT DARI SUDUT PANDANG MANUSIA, MAKA MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS SIKAP DAN PERBUATANNYA. Kalau kita tidak berhati-hati, maka kita akan jatuh ke jurang Calvin atau ke jurang Arminius.

Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu saya dapatkan suatu prinsip yang bekerja, yaitu otoritas Allah berjalan seiring dengan tanggung jawab manusia. Contoh yang paling awal, Allah yang mengijinkan kejatuhan Adam dan Hawa atau kesalahan Adam dan Hawa sendiri ketika mereka makan buah terlarang, mengingat ucapan Tuhan bahwa seekor burung pipit pun tidak akan jatuh tanpa seijin Bapa? Jawabnya, Allah memang mengijinkan kejatuhan manusia, dan manusia juga bertanggung jawab atas kejatuhannya. Kalau kita ditanya lagi, “Yudas ditetapkan untuk menjual gurunya atau ia sendiri yang berinisiatif untuk menjual gurunya?” Jawabnya adalah, kalau dilihat dari sudut pandang Allah maka Yudas dipilih untuk menggenapkan nubuatan Zak 11:12. Tuhan tahu persis keadaan Yudas dan Tuhan tetap memilihnya (Yoh.13:11), bahkan Tuhan memberinya roti sambil berkata, “apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi di satu pihak kita juga melihat bahwa Yudas dituntut bertanggung jawab atas tindakannya sehingga Tuhan berkata bahwa lebih baik kalau ia tidak dilahirkan (Mat.26:24). Jadi kalau dilihat dari sudut pandang Allah yang maha kuasa, yang berotoritas absolut, maka Yudas seperti terperangkap dalam sebuah nubuatan yang baginya tidak ada pilihan. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang manusia yang diberi akal budi dan kebebasan untuk berpikir serta memutuskan, maka Yudas telah berpikir dan telah memutuskan sebagaimana layaknya seorang manusia yang berakal sehat dan bebas dan ia harus menanggung resiko dari keputusannya dan perbuatannya.

Prinsip tanggung jawab manusia dan otoritas Allah yang berjalan seiring ternyata bukan hanya teori belaka, bahkan kita temukan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah pesawat menabrak gunung di dekat bandara Medan dan menurut kabar burung bahwa itu akibat kesalahan manusia (human error) yang memberi pengarahan dari bawah, seorang ibu bertanya kepada saya, “pak pendeta, kalau menurut pak pendeta, itu kehendak Tuhan atau kesalahan manusia dalam peristiwa kejatuhan pesawat itu?” Saya menjawab, “itu tergantung kita melihat dari mana. Kalau kita melihat dari sudut pandang Allah yang maha tahu dan maha kuasa, jika Tuhan tidak mengijinkan, maka pesawat itu tidak akan jatuh. Tetapi kalau kita lihat dari sudut pandang manusia, maka itu adalah akibat kesalahan orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan itu, dan mereka harus bertanggung jawab.” Jika ada seseorang mati ditembak oleh seorang penjahat, kita tahu bahwa kematian orang tersebut adalah akibat perbuatan penjahat yang pantas dihukum, dan penjahat itu harus dicari dan dihukum. Tetapi kita juga tahu bahwa tanpa diijinkan Allah yang maha kuasa maka tidak ada satu peluru pun akan menyentuh tubuh orang tersebut.

Jika seseorang percaya bahwa keselamatan (salvation) diperoleh bukan karena pemilihan saja, melainkan juga oleh pertobatan dan iman orang yang bersangkutan, artinya ada unsur tanggung jawab manusia yang berjalan seiring dengan otoritas Allah, maka ia seharusnya juga percaya bahwa pemeliharaan keselamatan yang telah diperoleh itu juga oleh unsur tanggung jawab manusia dan otoritas Allah. Doktrin Keselamatannya akan bersifat kontradiktif jika ia menolak pemilihan mutlak (unconditional election) gaya Calvinis sementara itu menerima pemeliharaan (perseverance) mutlak yang bersifat Calvinis.

Namun argumentasi apapun dari pihak arminianis ia tetap harus mempertimbangkan dan menanggapi ayat-ayat berikut; Yoh.6:37, 44, 10:27-28, I Yoh.2:19 dll.. Demikian juga dengan calvinis, ia tidak boleh ngotot dengan ayat-ayat tersebut di atas melainkan juga harus mempertimbangkan dan berusaha memberi jawab atas ayat-ayat berikut dengan akal sehat dan kontekstual, yaitu; Mat.10:33, Rom.11:22, I Kor.15:2, II Tim.2:12, Ibr.6:3-8, I Yoh.5:16, Yak.5:19-20 dll.. Setelah pandangan arminius dan pandangan calvinis diselidiki dengan seksama, maka pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa arminianis melihat dari sudut pandang manusia dan calvinis melihat dari sudut pandang Allah.

Akhirnya, yang menjadi tanggung jawab manusia ialah bertobat dan percaya, memegang teguh kebenaran, setia sampai mati, tetap di dalam anugerah Tuhan dan lain sebagainya. Sedangkan dari pihak Allah kita diberitahukan bahwa Ia memilih kita sejak dunia belum dijadikan oleh kemahatahuanNya (foreknowledge) dan Ia juga memberi kekuatan pada kita dalam menjalani kehidupan kekristenan kita. Bahkan ia memegang kita sehingga tidak ada yang dapat merampas kita dari tanganNya. Kedua pandangan tersebut benar, tetapi tentu lebih benar lagi kalau kita bisa melihat kebenaran secara menyeluruh bahwa ada misteri kedaulatan Allah yang berjalan seiring dengan tanggung jawab manusia.

Sebagai seorang yang cinta kebenaran, anna-baptis sejati, yaitu yang berjuang demi kebenaran sekalipun perlu mengorbankan kepala, kalau ada argumentasi yang lebih alkitabiah, saya siap mengikuti argumentasi yang lebih alkitabiah itu. Saya selalu memegang prinsip bahwa kebenaran dicapai melalui argumentasi dari otak yang dingin bukan dari hati yang panas. Kiranya kemuliaan hanya untuk Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib untuk menebus semua dosaku.

Tidak ada komentar: