Jumat, 28 November 2008

TRAGEDY OF COMPROMISE (Bagian 7- The End)

7 Uban Dimana-mana
Perubahan Injili Baru Yang Tidak Disadari


Iklan televisi itu sangat memikat! Dengan sasaran jutaan orang yang rambutannya sudah beruban, mereka dengan berani menyatakan - “Secara bertahap uban akan menghilang. Rambut putih anda langsung terhapus”. Dengan harga beberapa botol ramuan yang tepat, katanya orang bisa memperoleh kembali penampilan mudanya.

Nabi zaman dulu, Hosea, juga memperhatikan tentang rambut uban, namun dengan alasan yang berbeda. Dalam keluhan dengan hati yang hancur tentang bangsa yang dikasihinya, Israel, ia menulis: “Orang-orang luar memakan habis kekuatannya, tetapi ia sendiri tidak mengetahuinya; juga ia sudah banyak beruban, tetapi ia sendiri tidak mengetahuinya” (Hos. 7: 9). Uban merupakan sebuah tanda penuaan, tentang kekuatan yang menurun, dan dalam pengertian rohani yang digunakan Hosea adalah mengenai kehilangan vitalitas rohani. Catatan yang paling menyedihkan dalam keluhan ini adalah fakta bahwa bangsa itu tidak menyadari kehilangan tambatan rohaninya.

Seluruh Amerika dan dunia pada saat ini terdapat gereja-gereja yang sedang bergeser ke arah Injili Baru tanpa menyadari mereka sedang melakukannya. Mereka sedang digiring oleh angin perubahan yang berkompromi dan sejak saat itu meninggalkan posisi teguh yang alkitabiah yang didirikan oleh para pendahulu mereka. Gembala-gembala muda, banyak yang tanpa fondasi doktrinal yang kokoh, memimpin jemaat mereka meyakini bahwa untuk menjangkau masyarakat, mereka harus meninggalkan prinsip-prinsip kuno alkitabiah yang keras dan memegang posisi yang lebih fleksibel dan atraktif. Mereka telah berubah, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka telah berubah. Banyak orang kudus, yang mendapat pengajaran kuat dari para gembala terdahulu dengan posisi yang jelas dan tanpa kompromi, kini kebingungan dan berpindah-pindah gereja untuk mencari sesuatu yang mantap.


Daya Tarik Injili Baru Terhadap Fundamentalis

Banyak fundamentalis masa kini terkena rayuan Injili Baru. Kelihatannya hal ini terutama mendorong anak-anak muda (walaupun secara eksklusif tidak demikian). Lahir dalam generasi yang berbeda dan secara pribadi tidak terlibat dalam pergumulan melawan bentuk-bentuk awal Injili Baru, ada yang tidak sabar dengan perselisihan itu, tidak melihat relevansi konflik itu, dan cenderung untuk mengadopsi sikap “berdiri di tengah”. Apa yang kelihatannya menarik beberapa kalangan fundamentalis dari Injili Baru?


Mengurangi Ketegangan
Mendirikan dan mempertahankan pendirian fundamentalis yang kuat di dalam masyarakat masa kini sangat melelahkan secara emosional, fisik dan rohani. Orang harus terus waspada dan masuk dalam suatu peperangan yang kekal. Hal ini persis seperti yang diajarkan Kitab Suci. Menghadapi para penguasa kegelapan itu kita harus “bertempur” dan kita harus “tetap berdiri” (Ef. 6: 11-14). Kita harus menjawab tiupan sangkakala yang tak pernah menyerukan mundur. Kita telah bersumpah menjadi musuh kekal melawan kekuatan-kekuatan yang tidak benar; karena itu tidak ada kata mundur dari perang dimana kita sudah terlibat. Pertempurannya berat. Keadaan ini sangat tidak disukai, lebih-lebih jika harus berhadapan dengan saudara di dalam Tuhan. Banyak yang tidak sanggup menerima tekanan itu. Mereka berpikir, lebih baik mengambil posisi yang tidak begitu terikat, sehingga tidak terlalu banyak orang yang harus ditentang. Posisi Injili Baru kelihatannya menawarkan suatu kelepasan atas aspek-aspek konflik tertentu. Karena itu ia menjadi posisi yang sangat menggoda untuk dipertimbangkan. Pemazmur kelihatannya telah melihat masalah abad ke-20 itu ketika menulis, “Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran” (Mzm. 78: 9). Betapa pengecutnya melarikan diri dari medan pertempuran, sementara nyawa orang lain dan masa depan bangsanya tergantung pada pada keberanian mereka di dalam pertempuran itu!

Jangan pikirkan kemenangan pertempuran,

Jangan pula meletakkan pakaian tempurmu,
Peperangan iman tak akan selesai,

Sampai engkau memenangkan mahkota.


Dengan sukacita dan kepuasan yang besar rasul Paulus menulis pada saat-saat akhir pelayanannya di bumi: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” (II Tim. 4: 7). Ia telah bertempur dengan penganut Yudaisme, para imam kepala dan pemimpin Yahudi, imam-imam penyembah berhala, beberapa pemimpin jemaat, dan bertempur dengan banyak kalangan yang menentang dan berusaha meruntuhkan pelayanannya. Ia tidak menghindari konflik, meskipun hal tersebut mengganggu jiwanya dan tak pelak lagi pada awalnya juga menyedihkan dirinya. Kita tidak berani mengambil jalan pintas, tetapi harus mengikuti Tuhan kita yang memikul salib penghinaan ke Golgota.


Hubungan Kerja Yang Lebih Luas

Beberapa fundamentalis merasa terganggu oleh fakta bahwa kelompok persekutuan mereka sangat terbatas karena sikap mereka yang tegas. Mereka bertemu dengan orang-orang dari kalangan Injili Baru yang menarik dan menyenangkan dan bertanya-tanya mengapa mereka tidak boleh bersekutu dan bekerjasama dengan mereka, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan theologis dan metodologi yang penting. Dalam persekutuan mereka, Injili Baru melampaui banyak denominasi dan jalur theologis, dan “gerakan kebebasan” ini kelihatannya menarik beberapa fundamentalis. Seorang pengajar Alkitab keliling yang terkenal ditanya oleh seorang sahabat saya, mengapa ia tidak pernah membahas masalah separasi atau tentang masalah Injili Baru di dalam konferensi besar dimana ia menjadi pembicaranya. Orang itu menjawab, “Itu akan menutup banyak pintu”. Injili Baru memiliki banyak pintu kesempatan yang terbuka bagi mereka hanya karena mereka tidak mau secara terbuka membicarakan masalah-masalah “sulit” yang mungkin menyebabkan pintu-pintu tersebut tertutup. Kesetiaan pada kebenaran dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian yang mendalam. Paulus, yang gelisah di dalam jiwanya, mengatakan, “semuanya meninggalkan aku” (II Tim. 4: 16). Betapapun kesepian yang dialaminya, namun Allah tetap menyertainya!


Daya Tarik Lebih Besar Bagi Orang Banyak

Injili Baru membombardir kaum fundamentalis dengan tuduhan bahwa pendirian fundamentalis terlalu sempit dan cenderung menolak orang daripada menarik orang. Orang-orang yang berjejer di hadapan kita yang dijadikan model keberhasilan pertumbuhan gereja hampir semuanya berasal dari kalangan Injili Baru. Tidak heran jika para fundamentalis muda bertanya-tanya apakah mereka juga harus mengadopsi posisi Injili Baru, karena jelas mereka kelihatannya berhasil. Para pengkhotbah harus selalu ingat bahwa tugas mereka bukanlah untuk menjadi populer atau sukses, tetapi setia. Pandangan populer dari kebanyakan orang (bahkan fundamentalis) adalah konsep bahwa jika seseorang benar-benar dipenuhi Roh, maka ia akan mendirikan pekerjaan yang besar dan berhasil. Sementara di dalam pemeliharaan Tuhan, ada yang dapat mencapai hal ini, namun tidak semua akan mencapainya. Alkitab penuh dengan contoh orang-orang yang dengan setia mengikuti Tuhan, namun tidak berhasil dalam ukuran manusia. Yohanes Pembaptis dalam waktu yang singkat sangat berhasil, dan banyak orang bertobat dan dibaptis karena khotbahnya. Tetapi masa sulit melanda dirinya. Para pengikutnya mulai berkurang, dan akhirnya nyawanya dicabut oleh musuh-musuhnya. Namun ia menerima penghargaan yang tinggi dari Kristus yang menyebutnya “utusanKu” dan menyatakan bahwa tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Mat. 11: 10-11). Setiap hamba Allah yang setia kepada Tuannya, akan menerima apa yang menjadi haknya dari Tuannya. Ada orang yang sangat sukses dalam pandangan mata manusia dan menerima penghargaan, diundang untuk memberi ceramah tentang keberhasilannya, dan dihormati di dalam kalangan gerejawi. Di lain pihak, ada juga orang yang sama-sama setia, namun mengalami banyak kegagalan dan kesulitan, tidak pernah menghasilkan pekerjaan yang dianggap signifikan, bisa juga sepanjang pelayanannya sangat terbelakang. “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga” (Yoh. 3: 27). Kita tidak boleh mengkompromikan kebenaran Allah dengan mengubah sesuatu yang tidak Allah kehendaki dalam diri kita. Kita harus bekerja untuk kemuliaan Allah tanpa memikirkan kepentingan diri.


Persepsi Bahwa Injili Baru Lebih Mengasihi

Ada seorang pemuda yang selama bertahun-tahun menjadi anggota sebuah gereja fundamentalis yang secara mendadak keluar dan bergabung ke sebuah jemaat Injili Baru. Ketika ditanyakan apa alasannya, sang gembala diberitahu bahwa Injili Baru jauh lebih mengasihi dibandingkan dengan fundamentalis, dan pemuda tersebut tertarik dengan alasan itu. Tidak ada pihak yang dapat memonopoli kasih, dan tidak diragukan bahwa banyak jemaat fundamentalis yang dapat semakin meningkatkan kasihnya kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada orang-orang dimana mereka hidup. Namun apa yang dipersepsikan dengan kasih dalam kenyataannya adalah kompromi. Banyak yang kacau dengan keterbukaan terhadap berbagai sikap doktrinal, gaya hidup, selera musik, dan metodologi sebagai suatu perwujudan kasih Kristen. Artinya, jika seseorang lebih terbuka dan lebih lunak, maka ia lebih mengasihi. Namun konsep ini tidak ada dasarnya di dalam Alkitab. Kebenaran dan kasih tidak dapat dipisahkan. Keduanya berjalan seiring dan saling mendukung. Ada yang percaya bahwa jika seseorang benar-benar mengasihi, maka ia tidak akan mencela maupun menilai negatif posisi pihak yang lain. Karena Injili Baru bersikap demikian, maka mereka dianggap lebih mengasihi daripada kaum fundamentalis, lebih baik, lebih ramah, dan lebih toleran. Tetapi kasih Allah bisa membenci, kelihatannya sungguh aneh. “Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan” (Mzm. 97: 10). Kita harus “mengasihi di dalam kebenaran” (II Yoh. 1). Orang yang sungguh-sungguh memiliki kasih illahi akan mengecam kejahatan dan mengungkapkan kesalahan. Banyak kalangan secara salah mengartikan sikap menolak bicara terus-terang sebagai perwujudan kasih.


Secara Bertahap Tergelincir Ke dalam Injili Baru

David Beale memberi peringatan kepada mereka yang menyandang nama fundamentalis, namun pada dasarnya filosofi pribadi mereka adalah Injili Baru. “Berbeda dengan kaum Fundamentalis masa kini, mereka tidak menghargai pembelaan iman yang militan dan doktrin serta praktek kekudusan yang sepenuhnya sebagai sesuatu yang pada hakekatnya fundamental”.[1] Dengan kata lain, ada fundamentalis yang telah berubah atau menjadi Injili Baru. Sebenarnya beberapa di antara mereka mengadopsi filosofi Injili Baru, sementara mereka juga masih menyatakan bahwa mereka bukan Injili Baru. Permasalahan utamanya adalah: Ketika berbicara mengenai Injili Baru, banyak fundamentalis yang merujuk kepada posisi dan tulisan orisinil dari para pendiri Injili Baru yang mula-mula, seperti Carl Henry dan Harold Ockenga. Baik sengaja maupun tidak sengaja, mereka benar-benar menolak pemikiran para pemimpin mula-mula tersebut, mereka tidak mau mengakui versi Injili Baru yang ‘diperbaharui’ itu. Lebih aman mencaci pengajaran dari mereka yang secara historis telah jauh di belakang daripada mengecam mereka yang saat ini sedang merundung gereja.


Dalam Institusi-institusi Pendidikan

Sekolah-sekolah tinggi Kristen dan seminari theologis memiliki dampak yang hebat terhadap gereja secara keseluruhan. Jemaat-jemaat lokal mencerminkan posisi dan sikap theologis yang mereka peroleh di sekolah-sekolah. Liberalisme theologis menyebar bagai virus ke seluruh gereja yang terkenal oleh para pengajar fasik dari sekolah-sekolah yang didukung oleh persembahan dari umat Allah. Demikian juga Injili Baru menyebar melalui pengaruh sekolah-sekolah dimana para pendukungnya mengajar. Dalam sebuah artikel penerangan berjudul “New Evangelical Churches Promoting Ecumenical Spirit” (”Gereja-gerja Injili Baru Menyebarkan Semangat Ekumenis”), seorang reporter menggambarkan latar-belakang pendidikan dari seorang gembala Injili Baru lokal: “Sebagian besar pembelajarannya diperoleh ketika sedang menyelesaikan program kedoktorannya di sebuah seminari inter-denominasi di Illinois … Disana ia belajar untuk menghargai berbagai ketegangan Kekristenan. ‘Menerima orang yang berasal dari berbagai tradisi bukanlah hal yang bisa terjadi dalam semalam’. Tetapi lambat-laun ‘prasangka’ luntur”.[2]

Sayangnya, apa yang dianggap sebagai menghilangkan “prasangka” itu sesungguhnya merupakan pengikisan keyakinan alkitabiah. Ketika memperingati orang-orang yang berpura-pura, Schaeffer menyatakan hasil pengamatannya, “Mereka seharusnya tidak bersembunyi di balik institusi-institusi Kristen yang dibangun oleh kaum orthodoks Kristen, yang dipertahankan dengan darah, keringat, dan air mata perjuangan selama bertahun-tahun, kemudian menggunakan institusi-institusi tersebut untuk mendukung pandangan yang dapat mengguncang para pendiri institusi-institusi tersebut di alam baka”.[3] Banyak pendiri sekolah-sekolah yang dulunya fundamentalis akan sungguh bersedih jika kembali dan mendapatkan apa yang diajarkan di institusi-institusi tersebut masa kini.

Beberapa institusi fundamentalis telah berubah posisi menjadi kompromistis karena tekanan keuangan. Secara historis, sekolah tinggi dan seminari fundamentalis harus berjuang dalam masalah keuangan. Ketika tekanan tersebut memuncak, para pengurus sekolah mempertimbangkan bagaimana mereka dapat menyelamatkan institusi. Mereka merasa harus memperluas basis pendukung mereka. Untuk itu mereka harus melonggarkan posisi mereka untuk menarik kelompok yang lain. Lambat-laun “perluasan” ini, tentu saja dalam segala hal, tampil atas nama penerangan dan perkembangan.

Pendidikan dari staf pengajar yang terus-menerus bisa menjadi ‘tumit Achilles’¨ bagi sebuah sekolah fundamentalis. Agar bisa mengembangkan status akademik mereka, sekolah tinggi maupun seminari mendorong anggota-anggota staf pengajar mereka untuk mengejar gelar lanjutan. Kebanyakan sekolah-sekolah yang menawarkan gelar-gelar tersebut berasal dari kelompok Injili Baru. Sementara beberapa staf pengajar mampu belajar di institusi-institusi tersebut dan masih tetap memelihara keyakinan separatisnya, tetapi banyak yang tidak demikian. Banyak sekali institusi separatis yang mengaku fundamentalis yang terus-menerus dikompromikan oleh para staf pengajar yang pikirannya telah terkontaminasi oleh pandangan Injili Baru ketika mereka mengikuti program master dan doctor mereka.

Penekanan pada pemilikan gelar akademik yang bergengsi telah menghancurkan banyak institusi. Melalui pengalaman menjadi ketua sebuah sekolah tinggi Kristen dan juga ketua tiga seminari selama bertahun-tahun, penulis sangat memahami pentingnya kredibilitas akademik. Namun terlalu banyak pengurus institusi yang mengaku fundamentalis yang lebih tertarik untuk mengisi fakultasnya dengan para Ph.D daripada mencari orang-orang yang memiliki keyakinan doktrinal dan kerohanian yang mendalam. Banyak orang (bukan semuanya) yang memiliki gelar akademik yang tinggi, namun tidak memiliki komitmen pada separatisme fundamentalis. Mereka lebih tertarik dengan pekerjaan dan jauh lebih senang menyesuaikan keyakinan mereka dengan model yang cocok. Untuk mempertahankan sekolah fundamentalis yang kuat dibutuhkan anggota-anggota staf pengajar yang berdedikasi, yaitu orang-orang yang yakin dari dalam hatinya dan percaya dengan posisi institusinya dan tidak ragu mengindoktrinasi mahasiswa mereka menurut cara yang benar dari Tuhan. Injili Baru tidak mau mengindoktrinasi. Mereka mencemooh pihak yang mereka namakan “mentalitas sekolah Alkitab”, yang mengemukakan sikap doktrinal khusus kepada para mahasiswa sebagai sesuatu yang otoritatif, bukan tentatif. Beberapa pengurus sekolah yang dahulunya fundamentalis mengembangkan pendekatan seperti itu ke dalam pendidikan, dan mengira diri mereka “progresif” serta mengajar para mahasiswa untuk berpikir, bukan menerima saja apa yang diajar oleh para dosen. Kita sepakat dengan upaya untuk membuat para mahasiswa berpikir. Tetapi mengembangkan proses pemikiran adalah bertentangan dengan pengajaran yang otoritatif.

Sekolah-sekolah yang mengaku fundamentalis dapat dilemahkan secara bertahap karena tidak memiliki suatu petunjuk sistematik yang diwajibkan mengenai kesalahan penyesatan seperti Injili Baru. Para pemimpin akademik kerapkali mempunyai asumsi, bahwa anak-anak muda yang datang ke institusi-institusi separatis telah mempunyai pengetahuan tentang sejarah dan fondasi alkitabiah mengenai gerakan separatis, padahal tidak. Beberapa tahun yang lalu seorang pengamat mengatakan, “Anda tidak bisa mempertahankan suatu sikap tanpa memiliki orang-orang cukup terlatih”. Anak-anak muda dalam sekolah-sekolah separatis kita yang akan menjadi pemimpin jemaat-jemaat lokal kita di masa depan harus dipaparkan alasan-alasan adanya separatis.

Kebanyakan sekolah tinggi dan seminari masih memerlukan chapel. Namun banyak chapel terutama telah kehilangan pengajaran tentang separasi gerejawi (ecclesiastical separation). Sementara di satu sisi, kita tidak boleh menyajikan instruksi tersebut dengan keras, di sisi yang lain kita juga tidak boleh mengabaikan masalah tersebut. Para pemimpin institusi harus terus-menerus memberikan pengajaran mengenai pokok masalah ini, dan para pembicara tamu yang berkompeten juga harus didukung untuk melakukan hal yang sama. Banyak sekali institusi yang menyatakan diri kelompok separatis yang fundamentalis, tetapi permasalahan tersebut tidak pernah dibahas.

Sebuah institusi tidak lebih kuat dari para pengajarnya. Sebuah institusi separatis dapat memiliki staf pengajar yang mempunyai simpati tersembunyi terhadap Injili Baru. Puji Tuhan karena adanya kelompok pengajar yang melayani dengan penuh pengorbanan di dalam institusi-institusi separatis yang fundamentalis. Kebanyakan dari mereka merupakan pendukung penuh posisi dari institusi tersebut. Namun barangkali tidak semuanya demikian. Beberapa di antaranya merupakan pencari-kerja yang secara luar tidak membantah apa saja yang diminta agar mendapat pekerjaan, tetapi akan marah di dalam hati dengan sikap tegas mengenai separasi alkitabiah. Orang-orang demikian bisa memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap para mahasiswa. Hal ini tidak selalu terletak pada apa yang mereka katakan, namun terletak pada apa yang tidak mereka ucapkan. Kebanyakan suatu institusi yang mempunyai sikap yang tegas secara bertahap akan mengalami erosi dari para staf pengajar yang tidak memiliki komitmen sikap alkitabiah.

Ketidakmampuan membedakan Injili Baru yang historis dengan bentuk Injili Baru masa kini melemahkan kesaksian banyak sekolah theologi. Jika seorang gembala ditanya tentang sikap institusinya mengenai Injili Baru, ia akan menyatakan bahwa mereka berseberangan. Namun berdasarkan diskusi yang lebih mendalam kerapkali ditemukan bahwa institusi tersebut tidak benar-benar menentang Injili Baru yang kontemporer. Seperti yang sudah kita amati, Injili Baru telah bergerak terlalu jauh dari bentuk aslinya. Sekolah-sekolah separatis masa kini harus menyadari pernyataan Injili Baru masa kini, menjaga perbatasan dari gangguan mereka, dan siap-siap menghadapi peperangan yang militan dengan mereka.

Berbicara tentang militansi, perlu dicatat bahwa banyak institusi yang takut dianggap terlalu negatif atau suka berperang. Saya ingat ucapan seorang dekan dari sebuah sekolah fundamentalis pada suatu kesempatan, “Kami adalah sebuah sekolah separatis, tetapi kami tidak militan”. Namun apa yang dikatakan oleh Rolland McCune sungguh benar ketika ia menyatakan, “Fundamentalisme yang historis senantiasa berkarakteristik militansi … Militansi adalah berkaitan dengan keagresifan dan ketegasan”.[4] Marsden memberi komentar, “Perbedaan utama antara fundamentalisme dengan injili mula-mula adalah kemilitanan mereka terhadap theologi modernis dan perubahan kultural”.[5] Sikap (posisi) alkitabiah tidak mungkin dipertahankan tanpa militansi. Ketika pelayanan rasul Paulus sudah hampir selesai di dunia, ia menulis, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” (II Tim. 4: 7). Seluruh hidup dan pelayanannya dipenuhi dengan peperangan. Ia meletakkan baju zirahnya dan masuk ke hadirat komandan yang memimpinnya. Militan tidak berarti buruk, berkata-kata kasar, atau bermaksud jahat. Ketidakpahaman atas kebenaran ini menyebabkan beberapa kalangan menghina istilah “militan”. Tidak ada yang lebih mengasihi daripada Rasul Paulus, namun tak ada yang lebih berani dan spesifik di dalam pertahanan iman dibandingkan dengan dirinya.


Dalam Persekutuan, Perkumpulan, atau Denominasi Gereja
Sementara banyak gereja lokal yang sama sekali tidak berafiliasi dengan suatu kelompok, gereja-gereja yang lain merupakan sebuah bagian dari suatu persekutuan gereja-gereja metropolitan, regional, negara atau nasional. Beberapa persekutuan nasional dirujuk sebagai “denominasi”, walaupun tidak semua kelompok tersebut menyetujui istilah tersebut.

Ada keuntungan yang bisa diperoleh dari persekutuan antar-gereja, namun ada juga bahaya-bahaya yang potensial. Pada saat kesalahan mulai merasuk ke dalam kelompok gereja yang teroganisir, para anggota gereja lebih mudah terkontaminasi. Para pemimpin organisasi gereja merasa sulit untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang keliru. Jika mereka mengaku, maka hal itu akan mempengaruhi kepemimpinan mereka dan menunjukkan bahwa mereka ceroboh. Oleh karena itu, para pemimpin akan ngotot menyangkal bahwa telah terjadi perubahan. “Kami tetap dalam posisi di tempat dimana kami selalu berdiri” menjadi ikrar yang memastikan. Sementara setiap pengamat yang obyektif dapat melihat jelas bahwa pendirian dari organisasi itu telah berubah, orang-orang yang bersungguh-sungguh melindungi citra kelompok tersebut dengan tegas akan menolak fakta tersebut. Sayangnya, para pemimpin dari beberapa organisasi yang telah disusupi oleh pemikiran Injili Baru begitu setianya dengan badan dimana mereka menjadi bagian, sehingga mereka buta dengan pergeseran yang semakin meningkat yang jelas terlihat oleh orang lain. Kita teringat dengan jemaat di Laodikia yang benar-benar lupa diri dengan kesesatan rohani yang dialaminya dan dengan yakin menyatakan bahwa mereka “tidak kekurangan apa-apa” (Why. 3: 17).

Injili Baru bisa masuk lewat pintu belakang persekutuan gereja dengan menumpang dalih toleransi terhadap perbedaan. Kerapkali juga diserukan untuk lebih terbuka. Mereka yang menyerukan agar lebih taat kepada standar alkitabiah diperingati dengan sungguh-sungguh bahwa hal tersebut akan melanggar “kebebasan jiwa” atau “otonomi gereja”. Beberapa persekutuan gereja yang secara historis memegang teguh separasi alkitabiah telah dirusak oleh argumentasi seperti itu. Orang-orang yang memeang konsep dan praktek Injili Baru (walaupun mereka tidak menyebut dirinya demikian) diperbolehkan tetap di persekutuan, dan, lebih serius lagi, ditempatkan dalam posisi kepemimpinan yang dapat mempengaruhi yang lain.

Ketika muncul kritik dari suatu organisasi yang menunjukkan ketidakkonsistenan beberapa saudara di dalam kelompok, para pemimpin kelompok akan mengeluarkan peringatan sebagai “melukai tentara sendiri”. Peringatan ini seringkali disertai dengan dalih untuk melupakan perbedaan-perbedaan yang tidak penting dan bersatu di dalam tugas penginjilan dunia. Namun, apa yang dipandang sebagai “perbedaan-perbedaan tidak penting” bisa saja menjadi perbedaan-perbedaan yang kritis. Gangguan filosofi dan praktek asing dan tidak alkitabiah yang dibawa masuk oleh beberapa laskar Tuhan harus ditentang.

Loyalitas kuat dalam persekutuan gereja dapat membutakan seseorang dari tanda-tanda jelas kelemahan yang semakin berkembang di dalam kelompok itu. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika beberapa di antara kami melawan serangan Injili Baru ke dalam gerakan Baptis Konservatif. Dalam konvensi tahunan kami di Detroit, Charles Woodbridge diminta untuk membahas masalah Injili Baru. Dengan bagus ia melukiskan sumber-sumber, perkembangan, dan karakteristik gerakan tersebut. Ketika sedang turun menggunakan sebuah elevator selesai pembahasan tersebut, seorang pemimpin seminari dan salah seorang jurubicara utama Injili Baru di dalam gerakan Baptis Konservatif ditanya apa pendapatnya mengenai pembahasan Woodbridge. Ia menjawab, “Ia memiliki banyak hal yang menarik, tetapi tidak satupun cocok dengan persekutuan Baptis Konservatif kita”. Sebenarnya permasalahannya adalah, pada saat itu Baptis Konservatif sudah dilubang-lubangi oleh Injili Baru.

Asumsi yang tidak bisa dipegang sering melemahkan kelompok-kelompok. Karena mereka didasarkan pada prinsip-prinsip separatis, banyak kelompok mengasumsikan bahwa semua anggotanya memahami dan menerima prinsip-prinsip itu. Sebenarnya tidak selalu demikian. Perlu petunjuk-petunjuk yang diberikan dengan tekun dan terus-menerus untuk menanamkan kebenaran ke dalam pikiran para generasi penerus. Allah sangat empati terhadap bangsa Israel, sehingga mereka dapat melihat bahwa setiap generasi diajarkan Firman Allah: “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ul. 6: 7). Jelas nasehat ini sesuai dengan petunjuk di dalam prinsip-prinsip separatis seperti halnya dengan semua kebenaran Firman Allah yang lain. Namun ada yang mempunyai gagasan, bahwa peperangan iman telah selesai dan bahwa kini kita bisa meneruskan hal-hal yang lain.

Nabi besar Elia merupakan seorang separatis yang terang-terangan. Tak ada persekutuan yang bisa ia ikat dengan Ahab yang sesat dan isterinya Izebel yang licik. Demikianlah, ketika Ahab bertemu dengan musuhnya itu, ia bertanya, “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” (I Raj. 18: 17). Sungguh suatu ironi! Disitu berdiri orang yang membawa bangsa Israel ke dalam penyembahan Baal, mendirikan tempat-tempat pemujaan illah-illah berhala yang menjijikkan, “sehingga ia menimbulkan sakit hati Tuhan, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya” (I Raj. 16: 33). Namun tetap ia berani menyebut Elia sebagai ‘biang kerok’. Orang-orang yang merupakan “nabi” rohani di dalam organisasi Kristen, yang menentang kecenderungan dan kompromi yang berbahaya, jarang yang populer dengan para pemimpin. Mereka dianggap sebagai ‘biang kerok’, ‘tidak peka’, ‘tidak kooperatif’, dan ‘hiper-fundamentalis’. Memang benar ada sementara orang yang terlalu teliti sampai hal yang sekecil-kecilnya dan menjadi ‘detektif hal-hal sepele’, fakta ini tidak bisa digunakan untuk menyangkal keprihatinan yang sudah semestinya dinyatakan oleh mereka yang memiliki bukti sah atas pergeseran permasalahan yang penting. Memang benar, “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (I Kor. 15: 33). Martyn Lloyd-Jones memperingatkan , “Waspadalah dengan siapa anda berkumpul jika anda ingin berdiri teguh di dalam iman. Anda harus menghindari pengajaran sesat, menghindari kesalahan, menghindari praktek yang salah”.[6] Penulis yang lain mengemukakan penelitian yang menarik: “Agar orthodoksi tetap tertutup rapat, maka harus ada ‘kesadaran pencemaran’ yang tinggi dan kemampuan untuk menolak pencemaran itu ketika tatanan moral dilanggar”.[7] Banyak organisasi yang merasa tidak mungkin memelihara kemurnian mereka. Mereka tidak mampu “menolak pencemaran”.


Dalam Badan-badan Misi

Ribuan misionari telah dikirim ke seluruh dunia melalui perwakilan badan-badan misi yang beriman pada Alkitab. Banyak badan misi beriman yang lahir dari konflik fundamentalis-modernis ketika kaum fundamentalis menolak pengaruh liberal di dalam berbagai denominasi dan mendirikan badan-badan independen yang bersih dari kendali denominasi sebagai saluran untuk mengirim misionari-misionari yang benar ke dalam ladang dunia. Namun, badan-badan misi itu tunduk pada seruan Injili Baru. Badan-badan yang pernah berdiri teguh di dalam posisi fundamentalis telah menyerah pada tekanan waktu dan juga menganut atau menjadi toleran terhadap Injili Baru.

Tekanan finansial yang tak pernah selesai menyebabkan mereka mencari dukungan yang lebih luas sehingga memperlunak posisi mereka untuk menarik lebih banyak pribadi dan gereja. Para pemimpin harus senantiasa waspada dengan godaan yang halus untuk mengkompromikan suatu sikap demi mengisi koper seseorang. “Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (Mat. 6: 32). Selanjutnya dalam perikop yang sama, Kristus menghubungkan pekerjaan “kebenaran” dengan ketersediaan “semuanya itu” (kebutuhan material: Mat. 6: 33). Kewajiban utama kita bukan berusaha untuk mendapatkan kebutuhan material kita, tetapi memuliakan Allah dan melakukan yang benar. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus” (Fil. 4: 19). Allah akan memelihara kita sementara kita taat kepada FirmanNya.

Penerimaan mahasiswa dari sekolah-sekolah non-separaris dapat melemahkan struktur badan misi. Memang benar bahwa kadang-kadang para mahasiswa komit sebagai separatis, walaupun posisi institusi yang mereka ikuti itu lemah, hal ini merupakan suatu pengecualian dan bukan merupakan ketetapan. Badan-badan misi harus waspada dengan orang yang akan mereka tunjuk. Empat tahun belajar di dalam sebuah institusi yang kepemimpinan dan para pengajarnya bukan fundamentalis yang kuat akan membawa dampak, bahkan terhadap para mahasiswa yang terbaik dan paling berdedikasi sekalipun. Efek merugikan dari pendidikan demikian tidak bisa dihilangkan dalam beberapa jam kuliah seminar orientasi atau wajib baca beberapa buku. Oleh karena calon misionari yang potensial sama halnya dengan susunan umum badan misi dan menyetujui pernyataan doktrinalnya, maka mereka setuju saja dengan sikap separasinya yang ada saat ini, meski mereka tidak sungguh-sungguh memahaminya dan segala implikasinya. Ketika mereka menerima pelayanan di negara lain dan menghadapi masalah kritis, mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Penjajaran yang tidak bisa diterima dan tidak bijak dengan kelompok-kelompok kompromi dapat menghancurkan kesaksian badan misi kaum separatis. Penjajaran tersebut bisa terjadi di dalam negeri maupun di ladang misi. Agar bisa memberikan pelayanan atau untuk memenuhi kebutuhan tertentu, kadang-kadang pemimpin misi membentuk hubungan kerjasama dengan organisasi-organisasi tertentu yang tidak sepaham, namun membantu memberikan kemudahan. Misi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan dari para gembala dan gereja-gereja pendukung. Hal ini juga bisa menimbulkan permasalahan yang mengesalkan para misionari di lapangan yang keyakinannya tidak mengizinkan mereka untuk menjangkau lebih jauh dari tuntutan misi mereka demi persekutuan. Haruskah mereka mengkompromikan keyakinan mereka demi persatuan misi, atau haruskah mereka berbicara untuk mengoreksi keadaan sehingga mempertaruhkan aliensi sekutu misionari mereka seperti para pemimpin misi dan akhirnya mereka mungkin menarik diri dari misi? Hal ini merupakan permasalahan yang nyata bagi berbagai misionari. Karena badan misi mereka mengadopsi semangat kompromi, beberapa hamba Tuhan yang setia terpaksa harus mengambil keputusan yang menyakitkan dan meninggalkan badan yang telah mereka layani bertahun-tahun itu. Sementara ada yang menganggap bahwa perjuangan menentang Injili Baru berasal dari “Barat” sehingga tidak begitu relevan dengan badan misionari yang mendunia, hal ini tentu tidak benar. Penyimpangan doktrin dan praktek Firman Tuhan jelas membawa dampak terhadap pekerjaan penyebaran Amanat Agung.

Pemilihan atau penunjukan anggota-anggota badan misi yang lemah bisa membahayakan posisi sebuah perwakilan misi. Banyak orang “baik” yang memiliki perhatian pada misi dan siap melayani dalam sebuah badan misi. Namun, mungkin mereka tidak terlalu militan dan siap dalam masalah separasi gerejawi (ecclesiastical separation). Sebelum mendaftarkan seorang anggota badan misi, kita harus mengetahui catatan sepak-terjangnya. Apakah ia seorang separatis yang konsisten dan terang-terangan? Apakah ia terbukti memiliki keyakinan yang kuat? Banyak gembala dan orang biasa dimasukkan ke dalam badan misi karena mereka memimpin gereja-gereja besar dan makmur, atau karena mereka berpengaruh dan kaya. Kerapkali keyakinan mereka mengenai separasi kurang diperhatikan.


Dalam Jemaat Lokal

Dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa gereja lokal adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (I Tim. 3: 15). Pekerjaan Tuhan pada masa dispensasi kasih karunia ini dibebankan melalui perantaraan gereja lokal. Karena itu wajarlah Iblis akan berusaha dengan cara apapun untuk menyelewengkan dan melemahkan gereja lokal.

Para gembala yang tidak tahu atau acuh tak acuh pasti ikut dalam menyebarkan prinsip-prinsip Injili Baru kepada jemaat-jemaat lokal. Banyak gembala yang tidak pernah dibukakan tentang pengajaran mengenai masalah tersebut di sekolah tinggi dan seminar, sehingga mereka tidak tahu tentang sifat dan bahaya Injili Baru. Bahkan beberapa yang sudah pernah dibukakan mengenai pengajaran tersebut juga berpaling untuk memegang pemikiran Injili Baru. Jelas sebuah jemaat lokal akan mencerminkan pengajaran dari gembalanya. Banyak gereja yang dahulu merupakan pusat-pusat fundamentalis yang kuat kini secara bertahap merosot pendiriannya karena kepemimpinan yang lemah.

Banyak gembala yang sangat tertekan oleh anggota-anggota jemaatnya. Di antara anggota-anggota tersebut kemungkinan pindah dari gereja lain yang berpaham Injili. Yang lainnya terpengaruh oleh tulisan-tulisan Injili Baru yang sedang beredar. Ada lagi yang masih memiliki sahabat-sahabat yang memiliki kecenderungan Injili Baru. Banyak juga yang terpengaruh oleh stasiun radio Kristen lokal yang menyajikan pengajaran dan musik Injili Baru. Gembala separatis kerapkali merasa dirinya terkepung oleh kekuatan asing ketika berusaha menuntun jemaatnya ke arah yang benar. Banyak gembala merasa harus mengundurkan diri karena merasa tidak ada kepemimpinan gereja yang menyertai mereka ketika mereka berjuang menentang filosofi Injili Baru.

Seperti yang sudah kita singgung, afiliasi sebuah gereja lokal bisa menjadi sebuah berkat ataupun sebuah kutuk. Beberapa gereja baru menyadari mereka ada di dalam asosiasi gereja, padahal mungkin mereka sudah bertahun-tahun disitu. Namun pendirian fundamentalis asosiasi-asosiasi tersebut merosot, dan gereja-gereja yang tercakup di dalamnya terbawa oleh pengaruh buruk. Biasanya sulit membujuk sebuah jemaat untuk keluar dari sebuah kelompok asosiasi dimana mereka sudah lama berada. Posisi gembala akan terancam di dalam gereja tersebut, meski hanya sekedar mengusulkan hal itu. Namun, jika ada tendensi Injili Baru di dalam kelompok itu, maka jemaat-jemaat lokal akan tercemar melalui konferensi antar-gereja, majalah-majalah denominasional atau literatur lain yang mereka gunakan, dan pelayanan para pemimpin di dalam kelompok yang mengunjungi gereja mereka.

Kita telah melihat di bagian terdahulu bahwa obsesi terhadap perkembangan, kebesaran dan sukses menjadi ciri Injili Baru. Salah seorang pendiri mula-mula Injili Baru sendiri menunjukkan permasalahan itu:

Banyak orang injili kini mengukur pertumbuhan dengan patokan jumlah (angka); keistimewaan doktrin dan praktek ditempatkan lebih rendah, sementara kharismatik, Katolik, tradisi dan kelompok-kelompok injili lainnya disambut dengan luas. Perbedaan theologis diperkecil oleh para penerbit dan publikasi injili untuk menjangkau distribusi massal, dengan kemampuan daya tarik injili terhadap khalayak dan bahkan juga dengan festival penginjilan yang berusaha melibatkan sebanyak mungkin orang. Seminar pertumbuhan gereja bahkan melibatkan gereja-gereja “yang tumbuh secara ajaib” yang mengklaim bisa membangkitkan orang mati dan mengulang-kembali segala karunia kerasulan lainnya. Berbagai kebesaran telah menjadi wabah yang menular.[8]


Para gembala fundamentalis, karena terdorong oleh keinginan untuk mendapat pertumbuhan kuantitas, menghadiri “seminar pertumbuhan” yang hampir selalu dilayani oleh Injili Baru. Dalam proses yang disebut bagaimana belajar untuk “mengembangkan” gereja mereka, mereka juga meneguk filosofi-filosofi Injili Baru. Namun mereka melihat tidak ada masalah, karena “cara itu berhasil”.

Mungkin penyebab paling dominan yang menimbulkan ketergelinciran ke dalam Injili Baru adalah pengenalan Musik Kristen Kontemporer. Para gembala gereja-gereja besar memberitahukan bahwa kita tidak bisa berharap untuk menarik orang banyak dengan musik gereja yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Kita harus mengubah gaya agar bisa menarik perhatian orang-orang yang tidak kenal Allah. “Kebaktian sering dilaksanakan untuk menghilangkan ketidaknyamanan sehingga mereka mulai menerima agama Kristen sebagai pengaruh yang tegas. Katanya, orang harus keluar dari gereja dengan perasaan yang nyaman, bukannya dipanggil untuk introspeksi diri, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan iman kepada Tuhan”.[9]

Salah satu cara utama untuk membuat gereja lebih “kontemporer” adalah dengan memperkenalkan musik kontemporer yang menawarkan banyak hal. Tak pelak lagi hal ini secara bertahap membawa pergeseran ke arah lain, sehingga seluruh gereja disusupi dengan gagasan dan program yang asing bagi sikap gereja yang asli.

Pesona terhadap apa yang dinamakan psikologi Kristen masa kini telah menyebabkan banyak jemaat jatuh ke dalam keterlenaan kompromi. Banyak sekali yang telah membahas penekanan ini. Buku-buku yang mendukung pandangan ini banyak sekali. Kita bisa memperoleh ratusan video yang menyajikan berbagai aspek psikologi yang mengaku didasarkan pada prinsip-prinsip Kekristenan. Keasyikan yang tidak pantas dengan masalah ini telah menyeret banyak anak Tuhan keluar dari kebenaran Alkitab yang mantap dan masuk ke dalam alam khayalan manusia yang tercipta dari ketergantungan pada teori psikologis sekuler. Kutipan beberapa ayat Alkitab bukan berarti membenarkan konsep psikologis yang berasal dari pikiran manusia yang belum diselamatkan. Penekanan pada psikologi telah mengakibatkan pikiran umum bahwa Alkitab baru menjadi penting jika sesuai dengan “kebutuhan yang kita rasakan”. Hal ini menyebabkan theologi dan pelayanan yang berpusat pada diri manusia, bukan berpusat pada Allah.

Kini muncul suatu perhatian yang semakin marak dan populer di dalam gereja, tetapi berbahaya, yaitu kecenderungan untuk memandang gereja lokal hanya sebagai sebuah naungan persekutuan, bukan sebagai pusat pengajaran theologis. Tentu saja persekutuan Kristen memiliki tempat yang tepat. Namun ia tidak bisa menjadi “tujuan akhir dan menjadi segala-galanya” bagi eksistensi gereja. Banyak orang modern kini mencari “dukungan”, bukan keselamatan, pertolongan atas permasalahan sehari-hari, bukan pertumbuhan hidup yang kudus, dan lingkaran kerohanian yang sama, bukannya mencari pengajar rohani yang otoritatif. Perhatian besar dicurahkan bagi perkembangan kelompok-kelompok kecil di dalam gereja untuk memberikan persekutuan yang bermakna bagi orang-orang kudus. Hal ini tidak dengan sendirinya merupakan sesuatu yang buruk, tetapi ia memiliki nada tambahan yang tak menyenangkan.


Yang banyak dicari adalah klub sosial rohani, yaitu sebuah institusi yang menawarkan hubungan yang ramah, namun menghindar dari mempengaruhi orang mengenai cara hidup mereka atau apa yang mereka yakini. Ketika gereja tidak menegaskan sikap orthodoks yang historis, maka orang tertentu yang mungkin bisa dibatasi perilaku pribadinya, tanpa memandang apa yang dipilihnya, maka gereja akan dituduh “tidak mampu” - karena keyakinan gereja ditentukan oleh suara mayoritas atau survei pasar. Para konsumen rohani bukan tertarik kepada apa yang dipertahankan, tetapi kepada apa yang dapat gereja berikan.[10]


Secara historis, gereja-gereja fundamentalis telah mempertahankan sikap yang tegas terhadap keduniawian. Namun kini dihadapan tuduhan bahwa sikap tersebut adalah ‘legalistik’, semakin banyak gereja memilih berpihak kepada pendapat umum, jika boleh memilih. Para pemimpin gereja telah kehilangan standar kepemimpinan yang melarang merokok dan minuman keras. Larangan tersebut telah diganti dengan pernyataan-pernyataan yang tidak jelas seperti, “Kita harus melakukan segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan”. Jika guru-guru sekolah minggu merasa mereka sekali-sekali boleh meminum minuman keras “untuk memuliakan Tuhan’, maka mereka bisa menggunakan kebebasan Kristen untuk melakukannya. Para gembala yang takut dituduh sebagai “legalis”, telah menyerah kepada tuntutan khalayak untuk melonggarkan standar yang tegas.

Semangat akomodasi umum yang ditunjukkan dalam ekumenisme injili sudah sangat lazim. Sebuah artikel suratkabar yang berjudul, “Gereja-gereja Injili Baru Mengembangkan Semangat Ekumene” dengan jelas menyimpulkan kecenderungan ini:


Kini sebuah semangat ekumenis, kekuatan sama yang telah menarik denominasi-denominasi utama untuk bekerjasama, secara nasional sedang melanda jemaat-jemaat yang lebih injili dan konservatif… Hasil dari ekumenisme adalah saling menerima dan mendukung, dan hal itu menarik lebih banyak anggota, kata para pemimpin. Hal tersebut juga mengaburkan batas-batas denominasional, menarik banyak gereja menjadi lebih dekat kepada denominasi-denominasi utama, dan juga mempermudah orang Kristen untuk pindah dari suatu gereja konservatif ke gereja lainnya, dan dari gereja-gereja utama ke gereja-gereja injili.[11]


Kecenderungan-kecenderungan yang digambarkan di atas jelas terlihat di banyak gereja yang dahulu tidak merasa malu sebagai gereja lokal yang fundamentalis dan separatis. Banyak di antara mereka yang dengan keras menyangkal bahwa mereka bersimpati kepada Injili Baru. “Rambut uban” yang menandakan kemerosotan kekuatan dan kehilangan vitalitas telah muncul, namun “ia sendiri tidak mengetahuinya” (Hos. 7: 9). Kehilangan rohani yang tidak disadari - adalah sesuatu yang paling buruk. Tergelincir dari posisi alkitabiah yang kuat dan tidak menyadarinya merupakan sebuah tragedi dalam dimensi yang amat besar. Mundur, tetapi tidak sadar akan kemunduran itu, merupakan hal yang paling memalukan.


Kesimpulan

Apakah yang harus dilakukan oleh gembala, misionari dan anggota gereja yang ingin memuliakan Tuhan dan yang melihat bahaya maut Injili Baru? Ia harus mengambil “seluruh perlengkapan senjata Allah” dan “tetap berdiri” (Ef. 6: 13). Ini mengimplikasikan bahwa ada sikap yang harus dipertahankan, sebuah sikap wahyu illahi yang tidak boleh digeser. Hal ini mencakup konflik, sebuah peperangan yang tanpa akhir. Ia akan menyebabkan kontroversi dengan orang-orang percaya lain yang tidak berdiri teguh. Kontroversi ini harus berpegang pada kasih karunia Kristen dan dikendalikan oleh Roh Kudus, namun kontroversi tidak mungkin dihindari. Injili Baru merampas keakuratan theologis jemaat Kristus dan menyelewengkan karakter kudusnya. Kaum fundamentalis harus menentang serangan dan menantang pengajaran mereka. Kiranya hal tersebut menyenangkan Tuhan untuk membangkitkan banyak umatNya yang akan berjuang untuk kemuliaanNya.




[1]David Beale, “In Pursuit of Purity”, hal 26 dst.

[2]“New Evangelical Churches Promoting Ecumenical Spirit”, Minneapolis Star-Tribune, 28 Mei 1989.

[3]Franky Schaeffer, “Bad News For Modern Man”, hal. 80.

¨ Dalam mitologi Yunani, tumit Achilles merupakan bagian yang paling rentan atau lemah untuk diserang musuhnya, padahal Achilles adalah seorang jagoan yang sangat kuat; jadi ‘tumit Achilles’ merupakan ungkapan dari ‘suatu titik terlemah’ - penerjemah.

[4]Rolland McCune, “Fundamentalism in the 1980’s and 1990’s“, tulisan yang tidak dipublikasikan, 1990.

[5]George Marsden, “Understanding Fundamentalism and Evangelicalism“, hal. 66.

[6]Ian Murray, “David Martyn Lloyd-Jones: The Fight of Faith”, hal. 608.

[7]Mary Douglas, “Purity and Danger”, hal. 161.

[8]Carl Henry, “Confessions of a Theologian”, hal. 387.

[9]Don Matzat, “A Better Way: Christ Is My Worth”, Power Religion, diedit oleh Michael Scott Horton, hal. 253.

[10] Charles Colson, “Welcome to McChurch”, Christianity Today, 23 Nopember 1992, hal. 30.

[11]“New Evangelical Churches Promoting Ecumenical Spirit,” Minneapolis Star-Tribune.

Sabtu, 22 November 2008

TRAGEDY COMPROMISE (Bagian 6)

6 Mimbar Prasmanan

Konsep "Memasarkan Yesus"
Salah satu pengalaman di restoran yang menjadi kesukaan isteri saya adalah mengelilingi salad bar (meja yang menyajikan berbagai jenis salad yang boleh dipilih sesuai selera pengunjung - penerjemah). Dari bahan makanan lezat yang ada disitu, ia bisa menjadikannya sebagai makanan utama. Semakin banyak pilihan, semakin ia menikmatinya.

Banyak gereja kontemporer kini telah menjadi spesialis yang mengelola "salad bar" rohani. Disitu tersedia apa saja yang diinginkan. Jika anda tidak suka dengan suatu tawaran, maka dengan mudah anda akan mendapatkan pilihan lain yang lebih memenuhi selera rohani anda. Pendekatan "salad bar" seperti ini menarik banyak sekali orang, namun apakah itu membangun jemaat yang kuat?

Apakah Pelanggan Selalu Benar?
Banyak gereja modern dibangun dengan konsep bahwa orang harus mengetahui apa yang dituntut oleh pasar dan kemudian menyesuaikan pelayanannya dengan tuntutan-tuntutan tersebut. Ini merupakan semangat kapitalis yang mengenakan pakaian religius. Sebuah gereja di sebuah kota di barat-tengah meneliti lingkungan sekitarnya dan bertanya kepada para warga mengenai gereja bagaimana yang paling mereka sukai ada di daerah itu. Para penghuni daerah itu memberikan banyak usulan, dan kemudian gereja itu mulai membangun sebuah gereja baru yang sesuai dengan keinginan yang telah disampaikan. Sebagai contoh, menurut angket tersebut, nama "Baptis" dianggap ofensif, sehingga gereja itu dengan sukarela menanggalkan nama tersebut.

Kita sama sekali tidak mendapatkan satu ayatpun yang mendukung konsep "pemasaran gereja" ("church marketing") yang kini digembar-gemborkan secara luas. Rasul-rasul tidak mengadakan survei terhadap masyarakat ramai yang fasik di kota-kota Romawi untuk mengetahui jenis gereja apa yang mereka rasa lebih tepat. Mereka mengikuti pola yang diwahyukan oleh Allah kepada mereka, bukan pendapat-pendapat yang diperoleh melalui survei lingkungan sekitarnya. Apakah yang diketahui orang-orang binasa mengenai gereja yan tepat? Tidak ada! Secara rohani mereka inkompeten, buta dan memberontak terhadap Allah. Mereka tidak memiliki kemampuan rohani yang dibutuhkan untuk menilai keaslian suatu gereja dengan semestinya. Mereka binasa karena pelanggaran dan dosa. Orang binasa tidak bisa memberikan penilaian yang benar-benar baik.

Sebenarnya, jenis gereja yang diinginkan oleh rata-rata orang Amerika yang belum diselamatkan sungguh sangat bertentangan dengan yang digambarkan di dalam Perjanjian Baru. Orang yang belum diselamatkan menginginkan gereja yang bisa menenangkan perasaan mereka, sebaliknya Tuhan menginginkan gereja yang dapat membuat orang itu merasa sangat bersalah dengan dosanya. Orang yang belum diselamatkan menyukai hingar-bingar gaya musik kontemporer, sementara Tuhan menginginkan musik yang memuliakan Sang Juruselamat. Orang yang belum diselamatkan menginginkan gereja yang memiliki standar atau tuntutan yang sedikit, sebaliknya Tuhan menginginkan gereja yang menyerukan kepada jemaatnya untuk melayani dengan pengorbanan dan tidak mementingkan diri. Tuhan tidak mengundang orang-orang binasa untuk mengkritik jemaatNya, karena mereka adalah "...pembenci Allah, ... sombong..., [dan] tidak berakal" (Rom. 1: 30-31). Kehendak Allah mengenai organisasi, metodologi, dan pengajaran tentang jemaat lokal diwahyukan di dalam Perjanjian Baru. Wahyu tersebut tidak boleh disesuaikan atau diperdebatkan maupun terbuka untuk dikoreksi oleh mereka yang tidak memiliki ketajaman rohani.

Jalan Menuju Salad Bar
Mode pemasaran gereja yang berkembang dianut oleh Injili Baru. Banyak pemimpin gerakan itu dididik di institusi-institusi Injili Baru. Leith Anderson, misalnya, adalah penulis dua buku populer yang menekankan pendekatan pemasaran gereja. Ia adalah sarjana lulusan dari dua sekolah Injili Baru terkemuka - Conservative Baptist Seminary di Denver dan Fuller Theological Seminary.

Prinsip-prinsip yang melekat dalam Injili Baru juga muncul dalam gerakan pemasaran gereja dimana prinsip-prinsip ini secara khusus telah diterapkan di dalam bidang pertumbuhan gereja. Sementara beberapa kalangan fundamentalis telah terpikat dengan teknik pemasaran gereja, sesungguhnya Injili Baru terutama telah menyebarkan dan melaksanakannya. Beberapa prinsip pegangan yang didukung oleh pemasaran gereja yang berasal dari Injili Baru dapat disebutkan.

Yang Dinamakan Negativisme Dianggap Hina
Injili Baru menghindari kritik terbuka terhadap theologi dari kalangan injili yang lain. Dengan nada yang serupa, para pendukung pemasaran gereja menasehatkan orang-orang yang ingin membangun kesuksesan, yakni gereja yang bertumbuh agar jangan mengkritik pandangan dari sesama orang percaya. Sebagai contoh, theologi kharismatik tidak ditantang oleh kalangan non-kharismatik. Karena itulah, kalangan kharismatik sering merasa nyaman di dalam gereja yang pernyataan doktrin resminya bukan non-kharismatik.

Keterbukaan dan Penekanan Kepada Perbedaan
Secara historis Injili Baru membangga-banggakan keaneka-ragaman besar yang ada di dalam kalangan umum yang disebut "injili". Mereka mendirikan payung besar yang menaungi pribadi-pribadi dan gereja-gereja, dimana berbagai keyakinan yang berbeda-beda bisa bernaung di bawahnya. Pandangan yang sama ini ditemukan di dalam gerakan pemasaran gereja. Jurubicara mereka menasehati para pengikutnya untuk mengurangi apa yang mereka namakan "perbedaan denominasional", yang mereka maksudkan adalah hal-hal seperti mode baptisan, organisasi gereja, doktrin tentang keselamatan kekal, dan pendapat-pendapat mengenai karunia rohani. Mereka menyerukan penekanan kebenaran injili yang lebih umum yang tidak "memecah-belah".

Pragmatisme dalam Metodologi
Dengan lahirnya penginjilan ekumenikal di bawah kepimpinanan Billy Graham, berkembanglah semangat pragmatis dalam kalangan injili. "Cara apapun boleh, asal memenangkan jiwa". Jika muncul kritik yang menentang filosofi ekumene, maka pembelanya kerapkali menjawab, "Tapi 'kan jiwa-jiwa diselamatkan! Bagaimana anda bisa menentang pemenangan jiwa?" Dengan demikian praktek ketidaktaatan yang menyatukan kaum liberal dengan orang-orang yang mempercayai Alkitab dengan alasan penginjilan ini mendapat dukungan. Prinsip umum yang serupa itu kini menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mengajar kita bagaimana membangun gereja. Salah satu contoh misalnya adalah digunakannya raungan musik rock yang serak di hadapan mimbar Allah. Pembelaan atas praktek ini adalah "Ia mengisi gereja-gereja kita dan menjangkau orang. Mari kita melakukannya!"

Sungguh jalan ke mimbar prasmanan itu berasal dari kubu Injili Baru. Kompromi, tanda dari Injili Baru, merupakan pedoman pemasaran gereja yang prinsipiil.

Puncak Penjualan Religius
"Saatnya untuk Mencari", sebuah artikel dalam majalah sekuler Newsweek, mengadakan penelitian iklim religius yang sedang terjadi dan secara khusus menganalisis faktor-faktor yang memotivasi para pengunjung gereja. Kutipan berikut mengikhtisarkan kecenderungan umum dari artikel tersebut.

"Daripada saya yang menyesuaikan diri dengan sebuah agama, lebih baik saya mencari sebuah agama yang cocok dengan saya".

"Agar bisa mengakomodasi, banyak hamba Tuhan yang dengan mudah menghapuskan dosa dari perbendaharaan katanya".


"Terdapat suatu semangat yang lebih mengutamakan manusia daripada doktrin dan denominasi".

"Pasar kini merupakan sistem penilaian yang paling banyak digunakan oleh para pelaksana gereja yang lebih muda usia".[38]

Seorang analis yang bukan fundamentalis, menyerukan peringatan yang perlu diperhatikan, "Kita dicobai untuk mengurangi pentingnya komitmen dan ketaatan. Kita digoda untuk memperlunak kebenaran agar generasi yang tegar-tengkuk mau mendengarkan kita dengan fair. Ada garis yang tajam antara pemasaran yang cekatan dan kerohanian yang berkompromi".[39] Penulis yang sama di dalam bukunya yang lain menyatakan, "Seringkali gereja-gereja besar dan sedang berkembang mendapat banyak jemaat dengan mengkompromikan kepercayaan mereka agar bisa mempertahankan pertumbuhan mereka".[40]

Wajarlah jika kita bertanya, "Bolehkah tujuan menghalalkan segala cara?" Banyak kalangan yang disebut pakar pertumbuhan gereja masa kini memberikan kesan bahwa gereja harus melakukan apa saja yang diperlukan untuk menarik berduyun-duyun orang datang ke sana. Sikap seperti itu sangat dikecam oleh nabi Yesaya berabad-abad yang lalu ketika ia menegur bangsa Israel: "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari Tuhan" (Yes. 31: 1). Israel ditegur karena menyandarkan diri kepada kekuatan kedagingan manusia, bukannya kekuatan Allah. Gereja masa kini sedang berada di dalam bahaya karena mengulangi kesalahan tersebut.

Mengupayakan Kemustahilan
Konferensi dan seminar tentang bagaimana membangun gereja yang besar kini banyak diselenggarakan, dan cukup banyak gembala yang sering menghadirinya. Banyak sekali buku yang bicara tentang masalah pertumbuhan gereja. Presentasi-presentasi mengenai bagaimana melakukannya memberi kesan bahwa jika rata-rata gembala menerapkan metode yang disarankan sesuai situasi masing-masing, maka gerejanya akan mengalami pertumbuhan yang fantastik. Sayangnya hal tersebut tidak terbukti secara mayoritas. Seorang penulis yang meskipun dirinya sendiri adalah seorang gembala yang berhasil, namun dengan sangat jujur menyatakan penilaiannya terhadap arus gerakan pertumbuhan gereja: "Orang-orang top Injili telah melakukan dan dapat melakukan prestasi yang luar biasa. Mereka menceritakan kisah-kisah yang menarik perhatian dan memberikan nasehat di dalam konferensi. 'Engkau juga dapat melakukannya!' Tentu saja hal tersebut tidak berlaku bagi kebanyakan orang yang hadir disitu. Sebenarnya, keberhasilan seorang gembala tertentu kerapkali adalah karena kharisma pribadi, kepemimpinan yang luar biasa, dan jenius kreatif yang tidak bisa ditiru oleh orang lain".[41]

Pameran dari banyak gereja besar dan sukses secara terus-menerus sebagai contoh yang harus ditandingi akan lebih merusak daripada menolong. Ada kesan bahwa keberhasilan pelayanan adalah ditandai dengan peningkatan jumlah. Gembala-gembala yang gerejanya tidak menunjukkan bukti peningkatan yang hebat akan merasa mereka telah gagal.

Penulis buku ini telah mengajar Firman Tuhan lebih dari limapuluh tahun. Ia telah pergi ke ratusan gereja di negeri ini dan negeri lainnya. Rata-rata gereja fundamentalis bukan gereja yang besar. Rata-rata gembalanya bukan seorang gembala "super" dan memang tidak akan. Beberapa di antaranya memenuhi persyaratan untuk memimpin pekerjaan-pekerjaan besar dengan pelayanan berbagai bidang. Ini bukan hal yang buruk. Simaklah baik-baik nasehat Paulus: "Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing" (Rom. 12: 3). Maksudnya adalah bahwa setiap hamba Allah harus hati-hati dan realistis menilai karunianya dan merasa puas melayani di dalam lingkup karunia-karunia tersebut. Bahwa seorang gembala yang mampu mendirikan sebuah jemaat yang besar belum tentu berarti ia lebih rohani dibandingkan dengan gembala yang memiliki domba-domba yang lebih sedikit. Ada beberapa orang yang sangat rohani yang tidak pernah menggembalakan jemaat yang besar.

Menyingkirkan Doktrin!
Pengajaran doktrin yang benar mengalami masa-masa yang jahat. Doktrin dianggap terlalu berat dan tidak cukup praktis untuk ditampilkan di dalam khotbah masa kini. Disamping itu, doktrin memecah-belah dan menghambat seruan persatuan penginjilan yang lebih besar.

Seorang gembala gereja raksasa (megachurch) yang terkenal mengatakan bahwa kita harus berfokus kepada kebutuhan manusia daripada berfokus kepada apa yang disebutnya kebenaran "theosentris":

Gereja yang menegur orang-orang tidak percaya dengan sikap theosentris sama artinya dengan gagal di dalam misi... Saya berpendapat, bahwa orang-orang tidak percaya akan memperhatikan jika saya menunjukkan perhatian yang sejati terhadap kebutuhan mereka dan perhatian yang tulus atas penderitaan manusiawi mereka.


Telah beberapa dekade kita menyaksikan gereja di Eropa Barat dan di Amerika merosot kekuatannya, jumlah anggota dan pengaruhnya. Saya yakin kemerosotan ini disebabkan karena penggunaan komunikasi theosentris kita yang mengabaikan pemenuhan kebutuhan emosional dan rohani manusia yang lebih mendalam.[42]

Pernyataan mengejutkan ini menghendaki restrukturisasi theologi Kristen, yakni pergeseran dari pendekatan yang berpusat kepada Allah (theosentris) menjadi pendekatan yang berpusat kepada manusia (anthroposentris). Ini merupakan kesalahan yang sangat serius yang menyerang tepat pada inti theologi alkitabiah dan orthodoks. Apakah tujuan utama Allah yang menyatakan diriNya kepada manusia itu untuk memuliakan diriNya atau untuk memberikan penghiburan kepada manusia? Apakah Alkitab itu sebuah kitab theosentris atau kitab yang anthroposentris? Walaupun wahyu Allah di dalam AnakNya dan di dalam FirmanNya membawa berkat dan penghiburan kepada umat manusia, tujuan pokok wahyu bukanlah untuk memberkati manusia, namun untuk kemuliaan Allah.

Menekankan Penjualan

"Penggantian posisi Allah semesta alam dengan sesuatu yang bisa dijual kepada manusia harus kita hentikan".[43] Banyak gembala dengan tulus akan mengucapkan "Amin" atas pernyataan ini. Namun sukses yang terlihat jelas secara halus telah meyakinkan orang bahwa metode yang digunakan benar-benar dapat diterima. Namun seperti yang ditunjukkan oleh seorang penulis, "Pertanyaan yang memberondong muncul: Ketergantungan kita pada teknik pertumbuhan gereja ataukah pekerjaan Roh Kudus yang ajaib?"[44] Seluruh konsep "pemasaran gereja" menekankan teknik penjualan yang licin, bukannya bersandar kepada kuasa Allah. Pengabaian merupakan prinsip yang dinyatakan oleh Rasul Paulus: "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh" (I Kor. 2: 4). Salah seorang yang dirinya sendiri merupakan seorang gembala yang sangat berhasil, meminta perhatian terhadap keseriusan masalah yang sedang kita hadapi.

Os Guiness memperingatkan bahwa dua kekuatan kultural yang paling kuat yang telah diterima oleh gereja dengan tanpa diselidiki adalah gerakan manajerial dan pengobatan (theurapetic). Bahaya sedang menghampiri pembaharuan gereja melalui teknik manajerial... Gereja yang "user-friendly" ("bersahabat dengan pemakai"), jika yang dimaksud istilah ini adalah untuk memenuhi tujuan kultural dan keinginan pribadi mode masa kini, maka ia adalah gereja yang fasik. Boleh saja banyak orang yang hadir disitu, namun apakah mereka sudah dihadapkan masalah serius yang diangkat oleh Injil (dosa dan kasih karunia) dan panggilan untuk turut dalam pemuridan?[45]

Pertanyaan terus-terang yang harus dihadapi oleh setiap gembala adalah: Apakah saya membangun gereja yang memuliakan Allah dan sesuai dengan pola yang dinyatakan di dalam FirmanNya? Para gembala harus memperhatikan bagaimana ia membangun. Inilah pokok yang dimaksud di dalam I Kor. 3: 5-17. Sementara perikop ini kerapkali dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi orang percaya, tujuan utamanya adalah diperuntukkan kepada para gembala dan para pendiri gereja. Paulus memberitahukan bagaimana membangun sebuah gereja, bukan bagaimana membangun suatu kehidupan. Sebagai seorang "ahli bangunan yang cakap", Paulus meletakkan dasar bagi jemaat di Korintus. Orang lain membangun terus di atas dasar itu, dan semua yang terbeban sebagai pemimpin jemaat tersebut (dan juga yang lainnya) pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka bangun kepada Allah. "...bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu" (I Kor. 3: 13). Artinya, kualitas jemaat lokal itu akan diuji pada hari Tuhan ketika semua pengerja dan pekerjaan mereka dinilai. Bisa saja membangun suatu gereja besar yang dalam pandangan manusia merupakan kesuksesan yang nyata, namun semua itu tidak akan luput dari ujian akhir dari Penguasa atas jemaat itu. Frase "bagaimana" mengacu kepada kualitas (mutu), dan bukan kuantitas (jumlah). Kita tidak bisa membuat Injil diterima oleh dunia yang sesat, ataupun bertanggungjawab atas tugas itu. "Analisis mengenai apa yang disukai orang dan kebiasaan orang sebagai acuan yang harus gereja berikan kepada mereka cenderung mengecilkan konflik langsung yang senantiasa dihadapi Injil dengan dunia ini".[46]

Orang tidak bisa menemukan bahwa Kitab Suci mendukung "konsep pemasaran". Para rasul dan orang Kristen mula-mula hanya mengkhotbahkan Injil di dalam kuasa Roh Kudus dan selanjutnya Allah yang bekerja. "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (Kis. 2: 47).

Faktor Hiburan (Entertainment)
Bahwa kita hidup dalam zaman yang gila-hiburan adalah tak terbantahkan. Orang menginginkan sensasi setiap saat. "Orang Kristen mula-mula bertemu untuk beribadah, berdoa, bersekutu, dan dibangun - serta tersebar untuk memberitakan Injil kepada orang-orang tidak percaya. Banyak orang kini meyakini bahwa kebaktian gereja harus menghibur orang-orang tidak percaya agar menciptakan pengalaman enak yang akan membuat Kristus lebih cocok bagi mereka... Mereka berkata bahwa gereja harus mengadopsi metode-metode baru dan program-program yang inovatif untuk menjangkau orang pada level dimana mereka hidup".[47]

Jika kita membaca Perjanjian Baru maka akan terungkap tidak adanya perhatian terhadap faktor hiburan di dalam kebaktian dan pelayanan penginjilan gereja. Perhatian ditujukan kepada kebutuhan manusia, bukan kepada keinginan mereka. Michael Horton menyinggung permasalahan kita ini ketika ia menulis:

Mendekati akhir abad duapuluh kita telah berubah menjadi anak-anak nakal Allah yang banyak menuntut. Dalam gereja, kita harus dihibur. Perasaan kita harus diisi... Kita harus mendapatkan apa yang terbaik di dunia... Kita harus disajikan program-program yang memikat... Khotbah harus diisi dengan anekdot-anekdot cerdik dan aneka ilustrasi, yang sebenarnya tidak lain adalah untuk melangkahi rujukan doktrin: "Aku ingin tahu apa makna khotbah itu bagiku dan bagi pengalamanku sehari-hari".[48]

Sebuah artikel di Wall Street Journal menampilkan gereja The Second Baptist Church of Houston, Texas, sebuah contoh gereja raksasa yang terkenal. Orang-orang yang menghadiri gereja akan "menyaksikan pertunjukan bergaya Broadway dengan pesan religius... Dalam aktivitas dan hiburan, mereka menawarkan hal yang sama banyaknya seperti yang mereka lakukan dengan agama".[49] Gereja tersebut sangat sukses, kata artikel tersebut, karena mereka telah menghapuskan "nyanyian pujian kuno dan ... dogma denominasional".[50] Sebagai penggantinya, "para remaja bergoyang dan bersorak dengan 'Solid Rock'".[51] Gereja, katanya, "terutama adalah dirancang bagi generasi yang tidak terlayani oleh theologi, yang pada dasarnya non-sektarian dan tidak terikat perasaannya dengan gereja tua sekitarnya. Sebagai pengunjung gereja, mereka pragmatis dan terbatas waktunya, dan sangat haus dengan ... hiburan yang mempesona".[52] Gereja tersebut menawarkan olahraga sepeda statis, jacuzzi (kolam mandi kecil yang mempunyai mekanisme pusaran air - penerjemah), dan bioskop mini. Mereka pernah menampilkan suatu pertarungan gulat dengan peserta karyawan gereja agar Minggu malam ramai dihadiri.

Memperbanyak Aktivitas
Salah satu rahasia untuk membangun gereja yang sukses, katanya, adalah menyediakan apa saja untuk semua orang. Gereja-gereja raksasa mirip dengan saingan sekulernya - yaitu mega mall. Semakin banyak toko yang menyediakan keperluan-keperluan khusus dikumpulkan di satu tempat, semakin besar kemungkinan pembeli yang bisa mereka tarik. Prinsip yang sama ini diterapkan pada pengembangan gereja. "Seringkali mega-church berkembang, bukan karena kehebatan penginjilan mereka atau khotbahnya yang lebih baik atau lebih cakap menghasilkan pemuridan yang sejati, tetapi oleh karena mereka memiliki sumber-daya untuk menciptakan aktivitas-aktivitas khusus yang menarik keinginan berbagai kelompok yang berbeda-beda".[53]

Perjanjian Baru memberikan deskripsi yang lebih menyeluruh atas pelayanan jemaat lokal yang diberikan Allah. Ikhtisar yang berguna tersebut ditemukan di dalam Kis. 2: 42: "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa". Jemaat-jemaat Perjanjian Baru mempunyai ciri-ciri memberitakan Injil (Kis. 5: 42), berdoa (Kis. 12: 5), bernyanyi (Ef. 5: 19), memberikan persembahan (I Kor. 16: 2), membaptis (I Kor. 1: 14-16), melaksanakan perjamuan Tuhan (I Kor. 11: 20-34), dan biasanya saling menguatkan (Kis. 14: 22). Pelayanan gereja seharusnya merupakan pelayanan rohani. Gereja tidak boleh menjadi suatu klub olahraga dan kesehatan religius, tetapi harus menjadi sebuah sumber pemeliharaan dan pengajaran rohani.

Berhasil Mencapai Puncak
Salah satu keajaiban religius Amerika modern adalah Crystal Cathedral (Gereja Kristal), yang digembalakan oleh Robert Schuller, guru gerakan pertumbuhan gereja yang terkenal. Schuller mengaku sendiri sebagai murid dari Norman Vincent Peale, pengkhotbah dan psikolog religius New York yang terkenal. Beberapa tahun yang silam Schuller pergi ke California Selatan dan memulai pelayanannya. Pelayanannya berkembang menjadi proporsi yang hebat sekali dan menjadi model bagi banyak kalangan. Seperti apakah gereja tersebut?

Seluruh gereja berorientasi kepada program, tim pastoral full-time berfungsi sebagai eksekutif korporat. Prinsip manajemen yang berlandaskan kesuksesan dunia bisnis dengan mudah ditransformasikan ke dalam model ini. Profit diukur dengan jumlah angka, baik itu keputusan pertama, keanggotaan maupun persembahan. Tim tersebut sangat qualified dan profesional. Target yang dipersiapkan adalah "cari orang yang terluka dan pulihkan". Model ini memunculkan beberapa pertanyaan serius yang meluas mengenai tindakan mengakomodasikan Injil kepada perwujudan masyarakat konsumen.[54]

Apakah yang memotivasi begitu banyak gembala dan gereja (untuk mengikuti) konsep pelayanan yang dikendalikan oleh konsumen itu? Michael Horton berpendapat sebagai berikut: "Ada sesuatu yang dibanggakan jika menjadi bagian dari sesuatu yang dihargai masyarakat. Jika kita bisa membangun gedung-gedung yang lebih besar, mempunyai kumpulan yang lebih besar, menciptakan perusahaan-perusahaan yang lebih besar, dan bersaing dengan produk lain yang diproduksi massal, maka kita akan menjadi bagian dari sesuatu yang penuh kekuatan, sesuatu yang relevan, dan dunia akan duduk tegak dan memperhatikan kita... Itu juga yang mempengaruhi orang-orang percaya di Korintus, yang telah melupakan akarnya".[55]

Perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan banyak gereja tidak selalu merupakan hasil penginjilan terhadap orang-orang yang terhilang. "Jemaat (gereja) bertumbuh karena penataan-kembali orang-orang kudus. Kaum Injili hanya merupakan gereja yang memainkan musik, berputar-putar untuk lebih mengasyikkan, gereja-gereja yang lebih besar".[56]

Evaluasi
Apakah yang membuat umat Allah berpaling dari prinsip-prinsip dan prioritas Alkitab dan terpikat dengan pola pertumbuhan gereja yang kedagingan? Os Guiness menyebutkan paling sedikit empat faktor yang memberi kontribusi munculnya "agama konsumen" itu: "(1) Bubarnya monopoli denominasi-denominasi jalur-lama dalam kehidupan religius Amerika; (2) pengagungan terhadap kesuksesan; (3) komersialisasi budaya kita yang menyebar luas; dan (4) upaya orang Kristen untuk mempengaruhi budaya".[57] Faktor-faktor ini masih dapat ditambahkan lagi paling sedikit satu faktor: meninggalkan theologi yang berpusat pada Allah menjadi theologi yang berpusat pada manusia dan pragmatis. Persepsinya sangat lazim bahwa bagaimanapun juga Allah yang berkuasa memerlukan bantuan untuk menyelesaikan tujuanNya di bumi. Karena itu, sebagai makhluk hidup kita harus bergegas turut di dalam penyelamatan Yang Mahakuasa, ditopang dengan cara pemasaran yang terbaru untuk membantu membebaskan jemaat Allah dari kegagalannya. Dalam artikel yang sangat berwawasan, Bill Hull bertanya, "Benarkah Gerakan Pertumbuhan Gereja Berhasil?"

Dengan sangat menyesal saya harus menjawab, "Tidak". Namun tetap saja gereja injili kelihatan seperti seorang anak kecil dengan mainan barunya. Sementara gereja-gereja dan para gembala mengharapkan perlengkapan yang lebih cekatan dari para ahli pemasaran, para ahli tersebut didorong untuk semakin kreatif sehingga akhirnya metode-metode tersebut menguburkan pengajaran di dalam ketidakjelasan. Karena itu, pertumbuhan gereja tidak boleh dijadikan dasar untuk membangun gereja yang efektif; metode itu berbasis sosiologis, ia dikendalikan data dan memuja kepada mezbah pragmatisme. Ia lebih menjunjung tinggi setiap hal yang berhasil dan mendefinisikan sukses dengan pengertian yang duniawi dan sempit. Ia menawarkan model-model yang tidak bisa diulang dan pemimpin-pemimpin yang tak dapat ditiru. Prinsip-prinsip bisnis modern lebih dirujuk daripada doktrin... Namun gereja tetap saja harus dikendalikan dengan pengajaran alkitabiah, bukan dengan survei pemasaran yang terbaru atau kecenderungan konsumen.[58]

Ini merupakan sifat kedagingan yang menginginkan pengakuan dan kebesaran. Anak-anak Zebedeus sangat memikirkan status mereka dalam kerajaan yang akan datang. "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu" (Mrk. 10: 37). Dalam kesempatan yang lain murid-murid bertanya, "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" (Mat. 18: 1). Pertanyaan mereka kedengarannya sama sekali tidak asing, sama dengan pertarungan di antara kaum injili masa kini yang memperebutkan "hak menyombongkan diri". Alkitab memberikan penangkal terhadap masalah ini: "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!" (Yer. 45: 5). Berapa banyak hamba Tuhan yang kini menghabiskan banyak pikiran, waktu dan energi untuk mencari "hal-hal yang besar"? Tujuan kita seharusnya adalah kehormatan dan kemuliaan Allah yang terpuji. "Sesungguhnya aku tahu, bahwa Tuhan itu maha besar" (Mzm. 135: 5).

Membangun Zona Nyaman

Para gembala dan gereja Injili Baru merasa sangat terbeban untuk membuat semua pendengarnya merasa nyaman. Mereka tidak boleh "diancam" oleh sifat ibadah maupun oleh pengajaran yang disampaikan. "Kebaktian-kebaktian kerapkali dilaksanakan untuk mengurangi ketidaknyamanan bagi orang-orang tidak percaya, sehingga mereka mulai menerima agama Kristen sebagai pengaruh yang kokoh. Katanya orang harus meninggalkan gereja dengan perasaan nyaman di dalam dirinya, bukan dipanggil untuk menguji diri, sungguh-sungguh bertobat, dan beriman kepada Tuhan".[59]

Jika Terompet Mengeluarkan Bunyi Yang Tidak Jelas
Pemikiran Injili Baru telah membawa dampak yang luar biasa kepada ilmu pengetahuan pengajaran. Selama berabad-abad Allah dengan sukacita memberkati pengajaran FirmanNya yang menyelamatkan dan membangun jutaan orang. Namun, pengajaran telah mengalami masa-masa yang sulit. Ini adalah masa "sharing" ("saling membagi") dan "interacting" ("interaksi/saling berhubungan"). Banyak orang tidak menginginkan pernyataan yang otoritatif, namun hanya sekedar "observasi" dimana "observasi-observasi" tersebut dapat diperbandingkan. Ini adalah masa pengajaran humanisme.

Mari Bersikap Positif
Bagi Injili Baru dosa asal merupakan pengajaran yang negatif. Berulang kali kita diberitahu oleh kalangan yang mengajarkan bagaimana membangun gereja besar bahwa kita harus bersikap "affirmative" ("mengiyakan") daripada bersikap "prophetic" ("sesuai yang dinubuatkan") dalam pengajaran kita. Pada dasarnya orang bersikap affirmative, ketika pendengar-pendengarnya mempunyai perasaan positif dalam diri mereka, bukan perasaan negatif. Sedangkan yang disebut pengajaran yang prophetic adalah jenis pengajaran yang membuat pendengarnya tidak nyaman. Leith Anderson menyatakan bahwa "pengajaran telah berubah ketika anggota-anggota jemaat yang berdiri di pintu berkata, 'Terima kasih, Pak Gembala. Hari ini anda benar-benar telah menyindir saya, dan saya menyukainya'".[60] Meskipun demikian, pertanyaan yang paling penting adalah sebagai berikut: Pengajaran bagaimana yang diinginkan oleh Allah? Apakah petunjuk pengajaran yang dinyatakan di dalam Firman Allah?

Para pengamat masalah agama masa kini mencatat bahwa orang modern tidak menghendaki gaya pengajaran yang sama dengan para pendahulu mereka. Salah seorang pengamat berpendapat bahwa kita harus mengesampingkan gereja raksasa yang menjadi model bagi kebanyakan gereja dan mencatat bahwa gereja-gereja tersebut mengutamakan 'pengajaran positif' (saya tidak menemukan satupun pengajaran konfrontasional dalam kebanyakan daftar nama pertumbuhan gereja yang saya lihat)".[61] Dalam biografi Robert Schuller, pemimpin gereja yang dijadikan model gerakan pertumbuhan gereja masa kini, penulisnya menyatakan bahwa Schuller belajar dari Norman Vincent Peale, gembala liberal dari Manhattan, bahwa kita harus memperlakukan orang secara positif. Kita harus menghindari membuat mereka merasa bersalah, namun sebaliknya membuat mereka merasa nyaman dengan diri mereka.[62] Jika seorang pengkhotbah dapat membuat cukup banyak orang merasa nyaman dengan diri mereka, maka ia dapat menarik cukup banyak orang. Orang suka mendapat perlakuan yang nyaman, merasa mereka memiliki potensi dari dalam untuk "berhasil", untuk sukses di dalam kehidupan. Tidak heranlah jika "para pengelitik telinga" kontemporer tersebut dapat menarik pendengar yang sedemikian banyaknya.

Matzat menyampaikan himbauan yang keras agar kembali kepada pengajaran alkitabiah, yang menekankan pada dosa dan kasih karunia.

Sekalipun demikian, pendekatan utama yang saya ajukan, yang telah menjadi ciri khotbah dan pengajaran injili selama berabad-abad, dan bersandar penuh pada wahyu Alkitab, kini dikutuk oleh banyak kalangan injili. Roy Anderson, yang mengajar suatu mata pelajaran yang menggabungkan penyanjungan-diri dengan theologi di Fuller Theological Seminary di Pasadena, California, mengeluhkan tentang kesuraman psikologis dari salib... Memang tidak bisa disangkal bahwa salib menyebabkan suatu "kesuraman psikologis" kepada kita. Secara theologis, kita menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses menuju pertobatan.[63]

Perkataan berikut ini sungguh jitu: "Masa kini orang tidak membutuhkan keselamatan pribadi... tetapi perasaan, ilusi sesaat mengenai keadaan pribadi yang baik, kesehatan, dan keamanan psikis".[64] Memang benar demikian, tetapi bolehkah kita arahkan pengajaran kita untuk memuaskan keinginan kedagingan ini? Gembala-gembala yang berpengalaman sering mendengar keluhan itu, "Tetapi, Pak Gembala, anda tidak memenuhi keinginan saya". Seorang pengamat mengatakan bahwa "fokus adalah pada diri seseorang, bukan kepada Kristus".[65] Ada lagi yang mencatat, "Dengan berkhotbah tentang 'tuntutan keinginan' kerapkali kita mengajarkan keegoisan dan memuja idaman".[66] Jika para pengkhotbah menyerah kepada arus pemikiran ini, maka mereka akan memberikan apa yang ingin mereka dengar, bukan lagi hal yang Allah ingin mereka dengar. Ini adalah perbedaan yang sangat besar.

Psikologi dan Mimbar
Seperti yang sudah disinggung di depan, orang Kristen injili telah terpikat dengan psikologi. Pesona ini sungguh amat mempengaruhi khotbah. Orang lebih tertarik untuk mendengar perasaannya dipaparkan dan dianalisis daripada mendengarkan kebenaran obyektif dari Kitab Suci. "Kita sedang hidup dalam zaman dimana fokus pelayanan yang ditekankan kepada konsultasi dan manipulasi kelompok, bukannya kepada pengajaran. Keahlian dalam bidang psikologi dan dalam manajemen gereja dianggap lebih penting daripada menyelami Firman Allah".[67]

Apakah tugas utama pengkhotbah adalah sebagai psikolog mimbar, yang menawarkan "Tensoplast rohani" bagi luka emosional para pendengarnya, atau sebagai seorang yang menyatakan kebenaran Firman Allah yang kaya dan beraneka ragam? Banyak khotbah masa kini, terutama di dalam gereja-gereja yang dianggap sebagai model kesuksesan, dipusatkan kepada topik-topik psikologis - yang memenuhi keinginan emosional pribadi, membantu pribadi untuk mencapai pengagungan diri sendiri, dan memecahkan permasalahan pribadi dan antar-pribadi mereka. Alkitab menjadi buku pegangan untuk psikologi. "Teori kepribadian, psychopathology, kesehatan, dan perubahan therapeutic telah menggantikan anthropologi, dosa, kasih karunia, kekudusan, dan pembenaran yang alkitabiah. Budaya psikologi, sosial, dan otoritas pragmatis terbukti sangat kuat. Kebenaran Alkitab kelihatannya tidak cukup memadai untuk diterapkan".[68]

Betapa menyedihkan jika ada yang berpikir bahwa kebenaran Alkitab tidak bisa diterapkan masa kini! Firman Allah dituliskan untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun yang paling penting adalah untuk mengungkapkan pemikiran Allah dan menuntun manusia untuk menyingkirkan kedagingannya dan mengarah kepada Allah. Penekanan zaman ini adalah "keinginanku", bukan lagi pada umat Allah. Akibatnya para pengkhotbah telah berpaling dari eksposisi kebenaran alkitabiah dan buru-buru mencari ayat-ayat dan perikop yang dapat "memenuhi keinginan". Mereka yang tidak "memenuhi keinginan" bisa terancam kehilangan pekerjaan!

Mari Saling Bertukar Pikiran

Konsep studi Alkitab beberapa kalangan adalah berkumpul dalam suatu kelompok bersama, membuat mereka membuka Alkitab, dan kemudian mengelilingi lingkaran tersebut untuk mengetahui "apa makna perikop ini bagi saya". Dalam keadaan demikian, praktek ini hanya menghasilkan suatu akumulasi kebodohan. Pertanyaan pertama yang harus ditanya seseorang adalah: "Apakah arti perikop itu?" bukan "Apa arti perikop itu bagi saya?" Agar bisa menjawab pertanyaan tersebut, orang harus memiliki ketajaman rohani dan beberapa pengetahuan mengenai prinsip penafsiran Alkitab. Namun sangat disayangkan, banyak orang hampir tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Allah, karena mereka hanya ingin mencari jawaban atas permasalahan mereka. Banyak pengajaran masa kini telah terinfeksi dengan pendekatan pengujian wahyu Allah yang subyektif dan mementingkan diri-sendiri ini. Leith Anderson mencatat bahwa khotbah gaya lama biasanya "memberitahukan apa yang harus dilakukan orang". Tetapi waktu telah berubah. "Orang Amerika modern tidak menghendaki politisi, dokter, atau gembala mereka memberitahukan apa yang harus mereka lakukan... Pembicara masa kini lebih merupakan seorang 'komunikator' daripada seorang 'pengkhotbah'. Gaya pengajaran yang lebih tua menggunakan ciri kata-kata seperti 'seharusnya', dan 'harus' dan 'musti' ".[69] Perkataan tersebut harus dihindari oleh mereka yang hendak membangun gereja-gereja yang besar dan sukses.

Pengkhotbah terkenal Inggris, Martyn Lloyd-Jones, beberapa tahun yang lalu mengeluhkan pengaruh tertentu yang merusak karakter dan keotentikan khotbah modern. Salah satunya adalah perubahan dari "preaching" (khotbah/pengajaran) menjadi "sharing" (saling berbagi)... Penyembahan 'dibebaskan'".[70] Ketika pendekatan "sharing" diadopsi, perhatian orang langsung berubah dari wahyu Allah menjadi persepsi manusia.

Arus ekspektasi terhadap para pengkhotbah telah menyebabkan banyak hamba Allah berpikir ulang tentang pendekatannya. Haruskah saya mengalah kepada tuntutan orang, mengabaikan pendekatan ekspositori dan menyampaikan "khotbah" kepada "orang Kristen"? Pertanyaan sulit ini dihadapi oleh para gembala.

Dunia ingin agama menjawab pertanyaan "praktis" mengenai hubungan, membesarkan anak, citra-diri, gaya hidup, "how to do" (bagaimana melakukan sesuatu), dan segala ini dan itu. Allah jangan campur tangan! Ia tidak boleh menghambat.

Agama tidak boleh mencampuri apa yang harus dipercayai atau apa yang harus dilakukan oleh seseorang. Ia hanya boleh membantu dunia memecahkan permasalahan praktis mereka.[71]

Selama berabad-abad orang Kristen telah menemukan jawaban permasalahan kehidupan yang terberat di dalam pengajaran Alkitab. Namun jawaban-jawaban tersebut ditemukan sebagai aplikasi kebenaran doktrinal yang mulia mengenai Allah dan pekerjaanNya. Para pengkhotbah besar masa lalu tidak menggunakan Kitab Suci dengan tujuan utama untuk memenuhi keinginan manusia, tetapi untuk mencari dan menyatakan pikiran dan tujuan Allah. Dengan demikian mereka telah memenuhi kebutuhan manusia.

Tolong Jangan Ajak Saya Berpikir!
Orang Amerika modern semakin meningkat minatnya terhadap sajian hiburan. Televisi telah merusak budaya kita dalam skala yang sangat luas. Para pengkhotbah kini setiap Minggu menghadapi anggota-anggota yang sepanjang minggu itu telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton hiburan yang terkini. Televisi telah membuat masyarakat umum sangat sadar hiburan. Ia sungguh membawa dampak merugikan terhadap kemampuan (dan keinginan) untuk berpikir dan mengikuti argumentasi yang logis. Karena khotbah didasarkan pada akal sehat dan gagasan yang tersusun rapi, maka banyak orang modern yang sulit mengikuti suatu eksposisi Alkitab. Seorang pengamat televisi dengan tepat mengatakan:

Bentuk komunikasinya (dan bentuk pengetahuannya) mendorong keengganan abstraksi, analisis, dan refleksi yang mencirikan budaya kita dalam segala tingkatan. Berpikir kerapkali menjadi pekerjaan yang sulit.

Sajian hiburan instan televisi yang berlebihan bukan saja memberikan kelegaan terhadap beban kerja yang demikian berat, namun juga menawarkan alternatif "jalan keluar" (seperti rock 'n' roll) yang atraktif, yang membuat akal-sehat seolah-olah bertentangan dengan zaman (anakhronistis), dangkal dan tidak perlu.[72]

Dalam sebuah pengujian menarik mengenai perbedaan antara generasi "Pre-Boomers," "Baby Boomers," dan "Baby Busters", Gary McIntosh mencatat bahwa "sementara khotbah ekspositori (penguraian/pemaparan) telah dianggap lazim pada masa itu, namun kini generasi baby boomers dan baby busters menekankan 'cara' berkhotbah dan khotbah yang 'berorientasi kepada permasalahan'".36 Tetapi berkenaan dengan kecenderungan ini, si pengkhotbah harus bertanya, "Apakah khotbah murni dan dapat diterima yang merupakan pernyataan kehendak Allah untuk didengar manusia atau yang manusia ingin Allah katakan? Secara historis, khotbah dianggap sebagai seni komunikasi bagi manusia atas kebenaran kekal dari Alkitab mengenai Allah dan pekerjaanNya dengan bahasa yang dapat dipahami oleh mereka. Titik awal pengajaran berasal dari Allah, bukan manusia. Ini bukan berarti bahwa pengajaran alkitabiah yang sejati sama sekali tidak praktis. Namun dalam mengajar, si pengkhotbah mengawali dengan sebuah eksposisi atas apa yang dikatakan Allah, dan kemudian menerapkan aplikasi kepada kebutuhan pribadi manusia. Alkitab ditulis tidak sekedar untuk memuaskan kebutuhan manusia dan memberi jawaban atas permasalahan rutin mereka. Ia ditulis untuk menunjukkan kemuliaan Allah dan untuk mengetahui tujuan Allah terhadap penciptaan alam semesta, malaikat, bumi, Israel, dan jemaat. Bahwa ada orang yang tidak mendapatkan "berkat" ketika beberapa bagian Alkitab diuraikan, tidak berarti penguraian tersebut tidak cocok atau tidak ada gunanya. Menilai pengajaran hanya melalui dampaknya saja sama dengan memandangnya dari perspektif egoistis. "Sebenarnya terdapat kecenderungan di dalam injili kontemporer yang menjauhi pengajaran ekspositori dan doktrinal, dan bergerak menuju pendekatan thematis di atas mimbar yang berdasarkan pengalaman, pragmatis, dan dangkal... Para pengunjung gereja dipandang sebagai konsumen yang harus ditawari sesuatu yang mereka sukai".37

Salah seorang pendukung utama "pendekatan baru" di dalam khotbah (pengajaran) adalah Leith Anderson, gembala dari sebuah gereja raksasa di Twin Cities. Dua buku karyanya, Dying for Change danA Church for the 21st Century telah membawa dampak besar terhadap pemikiran banyak pengkhotbah muda dan dianggap sebagai pernyataan terkemuka dari filosofi pertumbuhan gereja yang dipromosikan oleh Injili Baru. Karena keunggulan Anderson dalam hal ini, kita dibuat terhenyak untuk mempertimbangkan apa yang dikatakannya mengenai pengajaran dan hal-hal yang berhubungan langsung dengan pengajaran.

Paradigma lama mengajarkan bahwa jika anda memiliki pengajaran benar, anda akan merasakan Allah. Paradigma baru mengatakan bahwa jika anda merasakan Allah, anda akan memiliki pengajaran benar. Hal ini bisa mengusik beberapa kalangan yang mempunyai asumsi bahwa kebenaran proposisional harus selalu mendahului dan mendikte pengalaman religius. Pola pikir tersebut merupakan produk theologi sistimatik dan mempunyai peranan yang sangat penting... Namun, theologi alkitabiah merujuk kepada Alkitab untuk mencari pola pengalaman yang diikuti oleh proposisi (dalil). Pengalaman Keluaran dari Mesir mendahului catatan Keluaran di dalam Alkitab.38

Pernyataan mengagetkan ini menggambarkan hal yang sebenarnya tentang pergeseran penekanan yang telah terjadi di dalam gereja modern. Pengalaman lebih dipentingkan daripada pengetahuan, dan sebenarnya telah dijadikan sebagai pembenaran pengetahuan. Argumentasi yang mengatakan Keluaran menyokong teori bahwa pengalaman tentang Allah mendahului pengetahuan tentang Allah adalah tidak benar. Jelas Allah telah menanamkan banyak pengetahuan tentang diriNya kepada Musa dan bangsa Israel sebelum Ia memebebaskan mereka dari tanah Mesir. Allah menampakkan diri kepada Musa, berbicara kepada Musa, dan menginstruksikan kepadanya bahwa Ia akan membawa bangsaNya keluar dari Mesir dan masuk ke dalam Tanah Perjanjian (Kel. 6: 1-8). Berbagai tulah (wabah) atas tanah Mesir bersifat penyingkapan (Kel. 7-11) dan mempersiapkan bangsa tersebut untuk menghadapi pengalaman Keluaran. Tentu saja kitab Keluaran ditulis setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi, namun fakta ini sama sekali tidak menunjukkan gagasan bahwa penyingkapan mengikuti pengalaman. Penyingkapan (wahyu) kepada bangsa Israel purba pada masa ini di dalam sejarah mereka adalah melalui Musa, langsung dan segera, dan bukan diberikan dalam bentuk tulisan. Instruksi yang tegas diberikan mengenai bagaimana bangsa Israel harus meninggalkan tanah Mesir. Instruksi-instruksi tersebut didahului dengan perkataan seperti "Berfirmanlah Tuhan" (Kel. 11: 1 dan 12: 1). Perkataan tersebut mengindikasikan wahyu illahi, yakni wahyu yang mendahului peristiwa-peristiwa aktual Keluaran dan memberikan dasar bagaimana Musa harus bertindak dalam memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan.

Menurut paradigma Anderson, pengalaman seseorang tentang Allah merupakan standar yang digunakan untuk menilai kebenaran suatu pengajaran. Hal ini sungguh sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab dan juga posisi historis orang Kristen orthodoks. Tentang keselamatan pribadi, seorang yang tidak percaya mendengar sebuah kabar (kebenaran proposisional) dan kemudian mengalami keselamatan. "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus [kebenaran proposisional] dan engkau akan selamat [pengalaman lahir baru]" (Kis. 16: 31). Perintah sama juga diberikan di dalam Roma 6: 17-18 dimana Paulus bersukacita karena para pembacanya "dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu". Mengikuti penerimaan kebenaran proposisional ini, mereka kemudian mengalami kemerdekaan dari perhambaan dosa (ayat 18).

Seperti yang telah kami sebutkan dalam konteks yang lain, salah satu kesalahan utama Injili Baru adalah kecenderungan untuk menekankan pengalaman yang berlebihan, sehingga mengabaikan pengajaran yang benar. Kaum kharismatik telah menjadi pelopor dalam mengembangkan pola pikir ini dan secara umum mempengaruhi injili. Inilah sebabnya apa yang dinamakan Christian rock menjadi populer. Orang ingin "merasakan" sesuatu, bukan "mempelajari' sesuatu. Hal ini juga menjelaskan arus ketakjuban terhadap apa yang dinamakan psikologi Kristen. Sekali lagi, orang ingin "merasa nyaman dengan diri mereka sendiri", tetapi sangat tidak tertarik untuk mencerna makanan sistematik dari Alkitab.

"Saya Tidak Suka Brokoli"

Ketika George Bush menjadi presiden Amerika Serikat, ia menyebabkan kegemparan di kalangan petani brokoli, dan memberikan dukungan kepada banyak anak-anak kecil, ketika ia menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak suka brokoli. Banyak orang percaya memiliki keengganan yang serupa terhadap doktrin yang benar. Bagi orang-orang percaya kontemporer, setiap upaya untuk memulai pembicaraan masalah doktrin merupakan sesuatu yang membosankan dan mengganggu. Disini Leith Anderson (dan orang-orang yang sepaham dengannya) mendukung sikap ini. Anderson mengutip berbagai perbedaan historis dalam gereja: Arminianisme vs. Calvinisme; baptisan bayi vs. baptisan orang dewasa; keabsahan karunia-karunia kharismatik; bentuk kepemerintahan gereja; dan theologi Reformed dan dispensasional. Ia menunjukkan bahwa "ada perkembangan pesat populasi gereja yang menganggap perbedaan-perbedaan tersebut tidak relevan. Mereka tidak benar-benar peduli dengan perbedaan tersebut, dan mereka menunjukkan sikap dengan mudah berpindah dari satu gereja ke gereja lain yang berbeda ideologinya".39 Setiap gembala yang berpengalaman tentu dapat mengiyakan fakta bahwa banyak orang percaya modern kelihatannya tidak peduli dengan perbedaan doktrinal. Kita bisa mengunjungi komunitas yang sudah pensiun di Florida atau Arizona dan menemukan banyak mantan anggota gereja-gereja fundamentalis yang benar di Utara yang kini pergi ke gereja-gereja yang sangat kental Injili Baru dan kelihatan tidak menyadari bahwa ada yang keliru. Anderson terus mengagetkan kita ketika ia menggambarkan rata-rata pengunjung gereja masa kini dan menghimbau kita untuk melayani tingkah mereka. "Perbedaan-perbedaan antara Katolik dan Protestan tidak terlalu menjadi masalah, jika sungguh-sungguh dibandingkan dengan kepentingan Sekolah Minggu yang disukai oleh mereka dan anak-anak mereka. Kadang-kadang mereka mengatakan, 'Jika anak-anak sudah besar, kami akan mempertimbangkan untuk kembali ke Gereja Katolik'".40 Sungguh pendirian yang nyata! Tragedi yang lebih besar adalah bahwa para pengkhotbah dan para jemaat Injili Baru tidak berani memberitahu mereka apa yang salah pada gereja Katolik. Hal tersebut dirasakan terlalu negatif, konfrontatif, dan divisif. "... jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?" (I Kor. 14: 8). Terlalu banyak "bunyi yang tidak jelas" di atas mimbar negeri ini.

Berbagai parameter persekutuan dan keyakinan doktrinal yang tidak tepat mempengaruhi pengajaran seorang gembala. Salah seorang gembala menggambarkan sebuah program yang disediakan gerejanya untuk membantu gereja-gereja belajar bagaimana bertumbuh. "Setengah lusin gereja ikut-serta dalam satu kali pertemuan - kerapkali terdiri dari kaum kharismatik dan non-kharismatik, denominasi besar dan independen, tua dan muda. Tidak ada upaya untuk mengubah perbedaan doktrinal atau denominasional... Hari berlalu dengan cepat ketika orang memilih gereja karena nama denominasi, mode baptisan, atau sistem theologi.41

Tetapi kita harus bertanya. Apakah Alkitab mengajarkan doktrin kharismatik dan juga doktrin non-kharismatik? Bisakah baptismal regeneration (lahir baru karena baptisan) dan keselamatan hanya karena iman sama-sama didukung Kitab Suci? Jika seseorang mengajarkan kesalahan, bolehkah seorang gembala atau seorang pengajar menegur dan mengoreksinya? Pertanyaan serius ini menegaskan sifat pokok pelayanan. John Stott sangat benar ketika mengatakan bahwa, "theologi jauh lebih penting daripada metodologi"42 dan bahwa pengajaran harus memiliki sebuah dasar theologis yang solid.

Jangan Terlalu Dogmatis

Keyakinan yang kuat tidak model lagi masa kini, terutama dalam dunia religius. "Live and let live" ("Mari kita hidup, dan biarkan orang lain juga hidup") merupakan motto. Pola berpikir ini telah disinggung dalam pembahasan di depan. Jelas hal ini mempengaruhi sikap banyak orang terhadap pelayanan pengajaran. Barna menyimpulkan, "Pada tahun 2000, orang Amerika bahkan akan semakin kurang tertarik dengan keabsolutan, dan lebih menyukai perspektif yang terbuka bagi nilai-nilai relatif untuk mendapat kepercayaan. Melihat masalah dengan kacamata hitam-putih akan menjijikkan banyak orang".43 Tak pelak lagi pengamatan ini mengandung kebenaran tertentu, namun bolehkah para utusan Allah ketakutan dengan kecenderungan ini dan mendiamkan pemberitaan dari Allah? Bolehkah seorang pengkhotbah mundur dari pencaharian makna ayat-ayat Kitab Suci yang jelas hanya karena takut ada orang yang akan tidak menyetujuinya? Charles Spurgeon mendapat kritik keras pada zamannya karena pembelaannya terhadap doktrin-doktrin iman agung secara terbuka dan berulang-ulang, namun secara luar biasa Allah tetap memberkati pelayanannya. Rasul Paulus juga sama sekali tidak undur dari sikap dogmatisnya. "Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia" (Gal. 1: 90). Paulus tidak mungkin menjadi seorang Injili Baru yang baik. Ia sangat pedas dengan dogmatismenya.

Tidak Terikat

Dahulu para pengkhotbah menekankan pentingnya keanggotaan di dalam suatu jemaat lokal. Sebaliknya, seorang penulis masa kini melihat keanggotaan jemaat sebagai sesuatu yang tidak bermakna. "Itu merupakan sebuah konsep yang lahir dari zaman yang berbeda. Kini di Amerika, dengan nilai-nilai kemanusiaan yang berubah dengan cepat dan signifikan, kesetiaan dan komitmen jangka-panjang telah menjadi konsep masa lalu. Kini terjadi peningkatan jumlah orang yang, meskipun datang ke gereja secara reguler dan aktif mengambil bagian di dalam pelayanan Tubuh, namun menolak untuk menggabungkan diri ke dalam gereja".44

Mengapa bisa demikian? Mengapa orang tidak mau menggabungkan diri ke dalam sebuah jemaat lokal? "Kini keanggotaan gereja mempunyai konotasi yang negatif. Orang mempersepsikannya sebagai sesuatu yang membatasi dan tidak menguntungkan... Dengan kata lain, rata-rata orang dewasa berpendapat bahwa menjadi anggota sebuah gereja hanya baik bagi orang lain, namun menyebabkan ikatan dan beban bagi diri sendiri yang tidak perlu".45

Penulis lain mencatat bahwa banyak orang mau datang ke gereja, namun tidak ingin bergabung. "Mereka lebih memandang jemaat lokal sebagai suatu jaringan (network) daripada suatu organisasi formal".46 Artinya, mereka ingin "jaringan" (persekutuan dan berteman) tanpa menyatakan suatu komitmen kepada posisi dan pelayanan gereja itu sendiri. Konsep lama suatu perjanjian jemaat (dan kami percaya hal itu alkitabiah) sudah kuno. Perjanjian jemaat merupakan suatu kesepakatan yang serius antara para anggota jemaat, di hadapan Allah, bahwa mereka akan berusaha untuk hidup kudus, hadir dalam kebaktian dan mendukung jemaat dst. Kini jemaat lokal dilihat sebagai suatu kemudahan yang menguntungkan orang. Hal ini terbukti dalam kutipan yang diberikan di atas yang mengindikasikan bahwa orang menganggap keanggotaan gereja sebagai sesuatu "yang tidak menguntungkan". Ini merupakan indikasi lain dari keegoisan yang terkandung di dalam zaman kita ini. "Saya akan mendukung sesuatu sepanjang saya menganggap itu menguntungkan saya dan keluarga saya. Jika keuntungan tersebut tidak sebesar yang seharusnya, saya akan pindah ke tempat lain". Kita diingatkan oleh keluhan Paulus, "sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus" (Fil. 2: 21).

Bertentangan dengan pemikiran beberapa kalangan itu, keanggotaan jemaat adalah alkitabiah dan penting. Jemaat mula-mula terbentuk karena ikatan bersama dari orang-orang yang bertobat yang "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan; mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2: 42). Perkataan yang digunakan tersebut mengidentifikasikan suatu tingkat komitmen yang tinggi kepada jemaat lokal. Tanggungjawab orang-orang percaya kepada jemaat lokal sangat vital, karena merupakan bagian vital bagi berfungsinya tubuh, dan tidak hanya sekedar sebagai para pengamat yang datang dan pergi sekehendaknya. Banyak gereja yang membuat kesalahan dengan memperbolehkan non-anggota untuk ambil bagian pelayanan jemaat tanpa disertai suatu komitmen yang jelas atas posisi doktrinal atau standarnya. Mereka menganggap hal ini sebagai suatu pameran kasih dan penerimaan Kristen, tetapi dalam kenyataannya, mereka memperlemah posisi gereja mereka dan sebenarnya membuat keanggotaan jemaat menjadi tak berarti.

Jemaat-jemaat sejati yang mempunyai keinginan untuk tetap alkitabiah harus memiliki suatu standar bagi para anggotanya. Sementara ada kalangan yang kini mencela hal ini sebagai "legalisme", namun sebenarnya hal ini alkitabiah dan berhikmat. Beberapa tahun yang lalu A. W. Tozer, seorang pemimpin denominasi yang dikenal sebagai Aliansi Kristen dan Misionari, memiliki ketajaman dan keberanian rohani yang besar untuk menyatakan hal yang tidak populer. Bisakah mereka yang kini mengikuti jejaknya memiliki ketekunan rohani yang sama?! Ia menulis,

Kekristenan Injili dengan cepat berubah menjadi agama kaum borjuis. Kalangan yang hidup enak, kelas menengah-atas, politisi terkenal, yang menerima agama kita berjumlah ribuan... membuat kegembiraan para pemimpin agama kita tak terkendali, yang kelihatannya benar-benar buta dengan fakta bahwa mayoritas besar para pendukung baru Tuhan yang mulia tersebut sedikitpun belum mengubah kebiasaan moral mereka ataupun memberikan suatu bukti pertobatan sejati yang bisa diterima oleh bapak-bapak orang kudus yang mendirikan jemaat-jemaat.47

Pedoman-pedoman Pengajaran yang Alkitabiah

Kita telah melihat filosofi Injili Baru mempengaruhi pengajaran sebagai berikut:

Menekankan aspek positif pengajaran, namun mengabaikan aspek-aspek peringatannya.

Diisi dengan psikologi.

Menggantikan pernyataan yang otoritatif dengan konsep "bertukar" pikiran.

Lebih mengutamakan khotbah yang "issued-oriented" daripada eksposisi yang sehat.

Mengkhotbahkan apa yang manusia inginkan, bukan yang mereka butuhkan.

Menghindari apa yang dianggap sebagai "dogmatisme".

Sehubungan dengan penekanan yang telah berkembang di dalam kalangan Injili Baru ini, timbul suatu kebutuhan mendesak untuk meninjau pedoman-pedoman khotbah yang alkitabiah. Khotbah merupakan kegiatan mengkomunikasikan Firman Tuhan kepada manusia. Untuk tugas besar itu jelas kita bisa menemukan beberapa prinsip illahi di dalam lembaran-lembaran Alkitab.

Sumber Khotbah Kita - Kitab Suci yang Sempurna

Banyak kelemahan di dalam pengajaran (khotbah) masa kini dapat dikembalikan kepada pandangan mengenai inspirasi dan otoritas Kitab Suci yang lemah. Sementara ada perbedaan pandangan mengenai masalah ini di dalam kalangan Injili Baru, namun beberapa tahun terakhir semakin nyata terlihat pergeseran kepada sikap pandangan mengenai inspirasi yang makin lemah. Francis Schaeffer di dalam buku kajiannya, The Great Evangelical Disaster, menyerukan peringatan: "Tetapi kini apa yang sedang terjadi di dalam injili? Apakah itu komitmen kepada keabsolutan Allah seperti yang dimiliki oleh jemaat mula-mula? Sayang kita harus mengatakan komitmen ini sama sekali bukan seperti itu... Kaum Injili bukan bersatu-padu mempertahankan pandangan yang kuat atas Alkitab. Dengan menyesal kita harus mengatakan, bahwa di beberapa tempat, seminari, institusi, dan individu yang dikenal sebagai kaum injili tidak lagi mempertahankan pandangan yang penuh terhadap Alkitab".48

Jika orang tidak memegang teguh inspirasi Alkitab secara penuh, jelas akan mempengaruhi pengajarannya. Jika seorang pengkhotbah meragukan inspirasi yang sempurna dari sebuah perikop, maka ia tidak akan bisa menguraikannya dengan otoritas. Perintah untuk "memberitakan firman" (II Tim. 4: 2) didahului dengan perikop klasik mengenai inspirasi, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah" (II Tim. 3: 16), dan berdasarkan kebenaran itulah kita berkhotbah. Komitmen bahwa Alkitab mutlak sempurna memberikan kepercayaan kepada sang pengkhotbah dan menolongnya berkhotbah dengan kuasa dan otoritas.

Khotbah Ekspositori
Seperti yang telah kita lihat, ada suatu gerakan dari beberapa kalangan pemimpin injili untuk mengurangi nilai khotbah ekspositori dan lebih memberi penekanan pada khotbah mengatasi "masalah". Ketajaman khotbah ekspositori yang benar dan utuh tidak mudah diperoleh, karena dapat dibuktikan melalui pengujian atas berbagai ayat mengenai topik tersebut. Namun, untuk dasar pijakan kita dapat mengatakan bahwa khotbah ekspositori adalah jenis khotbah yang berusaha untuk memaparkan, menjelaskan, dan menerapkan suatu perikop atau perikop-perikop Alkitab, dimana argumentasi sang penulis dipertimbangkan, yaitu susunan gramatikal (tatabahasa), latar-belakang historis, dan implikasi theologisnya. Hal pertama yang diperhatikan si pengkotbah adalah: "Apakah yang dikatakan perikop tersebut?" Perhatian berikutnya adalah "Apa maksud perikop tersebut?" Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dibutuhkan penerapan ketentuan-ketentuan hermeneutika (penafsiran). Perhatian yang terakhir adalah "Apa arti perikop tersebut bagi saya?" Ini adalah penerapan. Namun, perhatian utama kita haruslah untuk menemukan apa yang Allah ingin katakan di dalam perikop tersebut, bukan yang kita ingin perikop itu katakan.

Sementara tidak ada definisi formal tentang khotbah ekspositori di dalam Alkitab, ada sebuah ringkasan yang sangat bagus mengenai materinya di dalam Nehemia 8: 9 - "Bagian-bagian daripada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaannya dimengerti". Dengan kata lain, para pengajar Israel mengambil perikop-perikop Alkitab, membacanya ayat demi ayat, dan menjelaskan makna dari ayat-ayat itu sesuai konteksnya. Sebenarnya mereka sedang menguraikan Alkitab. Khotbah ekspositori mempunyai sejumlah keuntungan:

Ia menghargai doktrin penginspirasian Alkitab, membuat pengkotbahnya terikat pada teks dan menekankan kesucian Firman tertulis kepada para jemaat.

Ia menghindarkan sang pengkhotbah dari fantasi khayalan yang tak berdasar.

Ia memungkinkan sang pengkhotbah untuk mencakup berbagai bidang kebenaran illahi yang berbeda dalam suatu periode waktu, bukan hanya memfokuskan diri pada subyek dan masalah favorit atas kepentingan tertentu.

Jika secara konsisten dilaksanakan oleh seorang gembala selama suatu periode waktu yang panjang, maka akan memberikan pendidikan alkitabiah kepada jemaatnya, sehingga menghasilkan kedewasaan rohani dan kedalaman kehidupan kekristenan.

Pendapat Saya atau Petunjuk Allah?
Secara historis, orang Kristen alkitabiah mempertahankan bahwa kebenaran obyektif Alkitab yang tertulis menggantikan dan secara otoritatif menafsirkan pengalaman semua orang yang mengaku Kristen. Tetapi konsep ini mendapat tantangan dari beberapa kalangan Injili Baru.

Otoritas alkitabiah telah dirusak oleh munculnya spiritualisme, dimana acuannya adalah pada penerangan dari dalam atau suara dari Roh, bukan lagi kepada Firman Allah yang tertulis. Kalangan ini menganggap bahwa ada diskontinuitas antara apa yang dikatakan Roh pada masa Alkitab dan apa yang dikatakanNya pada masa kini. Mereka juga berpendapat bahwa Roh berbicara melalui ilmu pengetahuan sosial dan politik, dan ini berarti bahwa Alkitab ditafsirkan melalui penerangan baru yang datang melalui ilmu pengetahuan sosial.49

Sementara tidak semua kalangan Injili Baru mempunyai pandangan yang sama, namun banyak yang telah terpengaruh oleh pendekatan penafsiran Alkitab yang lebih subyektif. Gerakan kharismatik menambahkannya dengan acuan "wahyu" di luar Alkitab mereka.

Pengajaran yang digambarkan di dalam Alkitab adalah otoritatif. "Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh" (I Tes.1: 5). Perkataan "dengan suatu kepastian yang kokoh" dapat diterjemahkan "dengan keyakinan yang mendalam", yang mengacu kepada keyakinan kuat yang dipegang oleh pengkhotbah, bukan pendengar. Tuhan kita yang penuh berkat "mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Mat. 7: 29). Para rabi masa itu saling mengutip satu sama lain, dan seringkali tidak pasti dengan ketepatan yang diajarkan Kitab Suci; namun Yesus tidak demikian. Mereka yang ingin mengajar seperti Yesus harus pasti, jelas, meyakinkan, dan tetap. Tentu saja, otoritas Kristus ada di dalam diriNya. Otoritas kita ada di dalam Kitab Suci. Salah satu perkataan untuk pemberita Injil di dalam Perjanjian Baru adalah kerux. Ia digunakan, misalnya dalam II Tim. 1: 11, dimana Paulus menyatakan ia ditunjuk sebagai seorang "pemberita". Seorang pemberita adalah seorang "bentara", "seorang utusan yang diberi otoritas umum, yang membawa pesan resmi dari raja, hakim, pangeran, komandan militer, atau yang memberikan surat perintah atau tuntutan publik" (Kamus Thayer). Seorang bentara tidak berunding dengan khalayak ramai untuk memastikan pesan apa yang mereka ingin dengar. Ia maju terus dengan rasa percaya diri, mengumumkan pesan yang diterimanya dengan apa adanya, tanpa peduli apakah orang ingin mendengarkan atau tidak. Dunia modern perlu mendengarkan para utusan dari tahta Mahatinggi yang menyampaikan pesan kabar baik yang kekal.

Dalam Keadaan Perang
Seorang wanita Kristen dewasa dalam jemaat yang saya gembalakan suatu ketika mendatangi saya dan mengatakan, "Saya senang mempunyai seorang gembala yang melawan sesuatu dan tidak takut untuk mengatakannya secara terbuka". Tidak semua orang Kristen terhanyut oleh penyakit "positivisme" yang kelihatannya telah menawan Kekristenan modern dengan demikian dalam. Masih ada orang-orang kudus yang dapat melihat tanpa tedeng aling-aling dan mencekal inti masalah yang berkembang ini.

Allah menentang para pemberita yang "hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan apa yang datang dari mulut Tuhan" (Yer. 23: 16). Mereka adalah "para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri" (Yer. 23: 26). Para pengkhotbah Injili Baru modern tidak akan menggunakan bahasa yang demikian keras untuk menggambarkan mereka yang mengajarkan kesalahan, tetapi Allah para nabi zaman dahulu melakukannya. Yesaya berkata tentang bangsanya Israel, "Celakalah bangsa yang berdosa, kaum yang sarat dengan kesalahan, keturunan yang jahat-jahat, anak-anak yang berlaku buruk! Mereka meninggalkan Tuhan, menista Yang Mahakudus, Allah Israel, dan berpaling membelakangi Dia" (Yes. 1: 4). Jenis khotbah demikianlah yang tidak populer masa kini dan yang dirujuk oleh Injili Baru sebagai khotbah "profetik". Mereka menuntut khotbah yang "mengiyakan", bukan khotbah "profetik". Tetapi khotbah apakah yang Tuhan inginkan, dan khotbah apakah yang dicontohkan di dalam Kitab Suci? Pengkhotbah terbesar yang pernah hidup di bumi, Tuhan Yesus Kristus, yang mengucapkan celaan yang pedas tentang orang Farisi, kerapkali mengulang frase "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik!" (misal dalam Mat. 23: 13). Perkataan blak-blakan seperti ini akan memalukan Injili Baru masa kini, walaupun perkataan tersebut diucapkan oleh pribadi yang paling baik dan paling mengasihi yang pernah ada di dunia.

Disini kita bukan sedang menyerukan khotbah yang kasar, sangat tajam, atau yang disengaja mengikis. Ada pengkhotbah yang dengan sengaja "mengambil sikap", menjadi pemberang dan menjijikkan di dalam pelayanan mimbarnya, mengulang-ulang masalah-masalah yang picik, sehingga tidak bisa memelihara domba-domba Allah. Tugas kita adalah "berpegang kepada kebenaran di dalam kasih" (Ef. 4: 15). Hanya orang percaya yang dikuasai Roh yang dapat menunjukkan keseimbangan ini di dalam hidupnya.

Makanan Doktrin
Salah satu tanggungjawab utama pengkhotbah adalah untuk mengajarkan doktrin yang sehat. Paulus menggambarkan pekerjaan pengkhotbah sebagai berikut: "berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran (doktrin) yang sehat, supaya ia sanggup menasehati orang berdasarkan ajaran (doktrin)itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya" (Titus 1: 9). Ayat ini mengatakan kepada anak-anak Allah harus (1) setia kepada Alkitab, (2) memiliki pengetahuan theologi, (3) merupakan pengajar doktrin, dan (4) penentang pengajaran sesat yang vokal. Sayangnya, kebanyakan unsur tersebut tidak ditemukan di dalam mimbar zaman ini. Karena itulah banyak orang kudus yang ciut, lemah, dan terhanyut oleh rupa-rupa 'angin' pengajaran.

Dalam proses mengajarkan Firman, utusan Allah harus "menegor dan menasehati dengan segala kesabaran dan pengajaran [doktrin] (II Tim. 4: 2). Bagaimana Allah menilai seorang gembala itu baik? Paulus mengatakan bahwa "seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat" (I Tim. 4: 6). Sebelum menyebutkan karakteristik lain pelayanannya, Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia telah "sepenuhnya memahami doktrin Paulus" (II Tim. 3: 10). Paulus menomorsatukan doktrin (pengajaran) dan seakan-akan mengatakan, "Doktrinku sangat penting dan aku ingin setiap orang mengetahuinya dengan tepat".

Konsep modern mengenai pengkhotbah yang baik dan pengajaran yang baik seringkali bertentangan dengan pola yang dinyatakan di dalam Alkitab. Orang-orang yang belum diselamatkan dan orang Kristen lahiriah bukanlah penuntun yang dapat diandalkan ketika berusaha mengembangkan filosofi khotbah. Satu-satunya "penuntun khotbah" yang akurat dan otoritatif adalah Firman Allah itu sendiri.>

-------------------------------------------------------------------------------------------

[38]Newsweek, "A Time to Seek", 17 Desember 1990.

[39]George Barna, "The Frog in the Kettle", hal. 123.

[40]George Barna, "User Friendship Churches", hal. 64.

[41]Bill Hull, "Is the Church Growth Movement Really Working?" 'Power Religion', hal. 146.

[42]Robert Schuller, "Self-Esteem: The New Reformation", hal. 12.

[43]Gregory Lewis, "Is God For Sale?" hal. 16.

[44]Donald Bloesch, "The Future of Evangelical Christianity", hal. 100.

[45]Hull, hal. 144.

[46]Tom Nettles, "A Better Way: Church Growth Through Revival and Reformation", Power Religion, hal. 183.

[47]John MacArthur, "Our Sufficiency in Christ", hal. 31.

[48]Michael Scott Horton, "Made in America", hal. 87-88.

[49]"Mighty Fortresses: Megachurches Strive to Be All Things to All Parishioners", Wall Street Journal, 13 Mei 1991.

[50]Ibid.

[51]Ibid.

[52]Ibid.

[53]Ibid.

[54]Peter Savage, "The Church and Evangelism" dalam "The New Face of Evangelism", diedit oleh C. Rene Padilla, hal. 108.

[55]Michael Scott Horton, "The Subject of Contemporary Relevance", Power Religion, hal. 333.

[56]Hull, hal. 143.

[57]Os Guiness, "The Gravedigger File", hal. 130-133.

[58]Hull, hal. 142-142.

[59]Don Matzat, "A Better Way: Christ Is My Worth", Power Religion, hal. 253.

[60]Leith Anderson, "A Church for the 21st Century", hal. 201.

[61]Hull, hal. 174.

[62]James Penner, "Goliath: The Life of Robert Schuller".

[63]Matzat, hal. 26.

[64]Christopher Lasch, "The Culture of Narcissim", hal. 31.

[65]Edward Welch, "codependency and the Cult of the Self", Power Religion, hal. 226.

[66]Horton, hal. 331.

[67]Bloesch, hal. 147.

[68]David Powlinson, "Integration or inundation?" Power Religion, hal. 199.

[69]Anderson, hal. 209.

[70]Ian Murray, "David Martyn Lloyd-Jones: The Fight of Faith", hal. 667.

[71]Horton, hal. 342.

[72]Kenneth Myers, "All God's Children and Blue Suede Shoes", hal. 171.

36Gary McIntosh, "What's in a Name?" The McIntosh Church Growth Network, vol. 3, No. 5 (Mei 1991), hal. 2. ¨ Generasi yang lahir pada periode Perang Dunia II (Pre-Boomers), yang kemudian diikuti dengan ledakan kelahiran bayi besar-besaran setelah Perang Dunia II (Baby Boomers), dan kemudian diikuti dengan periode pengendalian kelahiran bayi yang sangat ketat (Baby Busters) - penerjemah.

37MacArthur, hal. 133-134.

38Anderson, hal. 21.

39Ibid., hal. 32.

40Ibid.

41Ibid., hal. 32-33.

42John R. W. Stott, "Biblical Preaching Is Expository Preaching", Evangelical Roots, diedit oleh Kenneth Kantzer, hal. 160.

43Barna, "The Frog in the Kettle", hal. 121.

44Barna, "User Friendly Churches", hal. 23-24.

45Barna, "The Frog in the Kettle", hal. 133.

46Anderson, hal. 48-49.

47Dikutip dalam tulisan David Fant, "A. W. Tozer: A Twentieth Century Prophet", hal. 50.

48Francis Schaeffer, "The Great Evangelical Disaster", hal. 49.

49Donald Bloesch, "The Challenge Facing the Churches", Christianity Confronts Modernity, hal. 208.