Kamis, 29 Januari 2009

KRISTUS DAN KRITIK

BAB 6 Volume 1

KRISTUS DAN KRITIK

OLEH Sir Robert Anderson, K.C.B., LL.D.

Pengarang “The Bible and Modern Criticism”, dll. London England.

Di dalam “Founders of Old Testament Criticism” Professor Cheyne dari Oxford memberi tempat pertama kepada Eichhorn. Ia bahkan menyebutnya, sebagai pendiri dari sekte itu. Dan menurut sumber yang sama ini, apa yang mendorong Eichhorn untuk memulai tugasnya ialah “harapannya untuk berkontribusi dalam memenangkan kembali kaum terpelajar kepada agama”. Rasionalisme Jerman pada penghujung abad ke-18 bersedia menerima Alkitab hanya dengan syarat menurunkannya ke tingkat sebuah buku manusiawi, dan kendala yang harus dihadapi ialah menghilangkan unsur mukjizat yang meliputinya. Bekerja di atas jerih payah para pendahulunya, Eichhorn mencapai hal yang memuaskan dirinya dengan menggunakan cara berpikir dari timur, yang mengambil hasil-hasil akhir dan mengabaikan proses-proses di tengahnya. Hal ini menguntungkan karena dua hal. Ia memiliki suatu unsur kebenaran dan ia konsisten dalam mempertahankan kehormatan bagi Kitab Suci (Alkitab). Karena mengenai sang pembuat “Kritik Tinggi (Higher Criticism)” telah dikatakan – yang tidak dapat dikatakan mengenai satupun dari para penggantinya, bahwa “iman untuk sesuatu yang suci, bahkan dalam mukjizat-mukjizat Alkitab, tidak pernah dihancurkan oleh Eichhorn di dalam pikiran kaum muda”.

Akan tetapi, dalam mata para penggantinya, hipotesis Eichhorn terbuka bagi penolakan yang fatal bahwa ia sama sekali tidak mencukupi. Sebab itu generasi pengkritik berikutnya mengikuti teori yang lebih drastis bahwa Kitab-kitab Musa adalah “mosaic” dalam arti bahwa mereka adalah pemalsuan-pemalsuan literer yang berumur lebih muda, terdiri dari bahan-bahan yang terdapat di dokumen-dokumen kuno dan mitos serta legenda bangsa Yunani…. Dan meskipun teori ini telah diubah dari waktu ke waktu selama abad terakhir, ia tetap merupakan pandangan “kritis” mengenai Pentateukh. Tetapi ia menghadapi dua penolakan besar, masing-masing bisa fatal. Ia tidak cocok dengan bukti-buktinya. Dan ia langsung menantang kuasa Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang guru; karena salah satu fakta tak terbantahkan di dalam kontroversi ini ialah bahwa Tuhan kita mengesahkan Kitab-kitab Musa memiliki kuasa ilahi.

YANG ASLI DAN YANG PALSU

Sebaiknya kita membicarakan dahulu yang paling tidak penting dari keberatan-keberatan ini. Dan di sini kita harus membedakan antara Kritik Tinggi yang asli dan yang palsu. “Kritik Tinggi” yang rasionalistis, apabila Pentateukh diteliti, memulai dengan vonis, lalu mencari di sekitar untuk menemukan bukti, sedangkan kritik yang benar memulai dengan pencariannya dengan pikiran terbuka dan melanjutkannya tanpa prasangka. Perbedaan itu dapat digambarkan dengan sangat cocok oleh posisi seorang hakim Perancis yang typis dan oleh seorang hakim Inggris yang ideal di dalam suatu pemeriksaan perkara kriminal. Yang satu berusaha menghukum si terdakwa, yang lain untuk mengungkap kebenaran. “Fungsi sebenarnya dari Kritik Tinggi ialah menentukan asal-usul, tanggal dan struktur literer sebuah naskah kuno”. Itu adalah deskripsi kritik yang benar, menurut Professor Driver. Tetapi yang palsu bertujuan untuk membantah pembuktian keaslian naskah-naskah kuno itu. Adilnya pernyataan ini dipastikan oleh fakta bahwa para Hebrais dan teolog yang tertinggi pun, yang penyelidikan problem Pentateuknya telah meyakinkan mereka bahwa kitab-kitab itu adalah asli, sama sekali tidak diakui.

Setidaknya di Inggris, dan saya tidak mampu berbicara tentang Jerman atau Amerika, tidak ada seorang teolog tingkat tinggi yang telah menerima “hasil-hasil yang ditanggung” mereka. Tetapi orang-orang seperti Pusey, Lightfoot dan Salmon, belum lagi mereka yang masih tetapi bersama kita, mereka abaikan dengan keji; oleh karena Kritik Tinggi yang rasionalis bukan menyelidiki bukti, tetapi menerima keputusan.

PEMERIKSAAN FILOLOGIS

Jika, seperti yang kadang dipaksakan oleh para nabi, Kritik Tinggi itu merupakan suatu pemeriksaan filologis, itu akan menghaslkan dua kesimpulan yang jelas. Yang pertama ialah bahwa keputusannya mesti condong ke Kitab-kitab Musa; oleh karena tiap-tiap Kitab itu mengandung kata-kata khas yang cocok pada waktu dan keadaan yang terkait menurut tradisi. Hal ini diakui, dan para kritikus menghubungkan adanya kata-kata demikian dengan kepandaian Jesuit dari para imam pemalsu. Namun, itu hanya menambah berat kesimpulan berikutnya bahwa Kritik Tinggi sama sekali tidak mampu menangani persoalan utama yang ia nyatakan ditetapkannya. Karena keaslian Pentateukh harus ditetapkan atas dasar prinsip-prinsip yg sama dengan yang digunakan di dalam pengadilan-pengadilan kita mengenai keaslian dokumen-dokumen kuno. Dan bahasa dari dokumen-dokumen itu hanya merupakan sebagian dari bukti yang diperlukan dan bukan bagian yang terpenting. Dan kemampuan untuk menangani bukti tergantung pada mutu-mutu yang sebetulnya tidak dimiliki oleh kaum Hebrais, tulisan-tulisan mereka memberi bukti jelas tentang ketidakmampuan mereka untuk penyelidikan2 yang mereka bertahan menganggap sebagai simpanan istimewa mereka.

Ambil saja, umpamanya, pernyataan serius Professor Driver bahwa hadirnya dua buah kata dalam bahasa Yunani di Kitab Daniel (nama-nama alat musik) menuntut sebuah tanggal untuk kitab itu sesudah penaklukan bangsa Yunani. Telah dibuktikan oleh Professor Sayce dll. bahwa hubungan antara Babylon dan Yunani pada dan sebelum zaman Nebukadnezar lebih dari cukup menerangkan adanya alat2 musik dengan nama Yunani di ibu kota Chaldea. Dan tambahan lagi, Colonel Conder – seorang yang berwewenang sangat tinggi – menganggap kata-kata itu dari bahasa Akkadia, dan sama sekali bukan Yunani! Tetapi terlepas dari itu semua, dapat kita bayangkan bagaimana sebuah pernyataan demikian akan diterima oleh suatu tribunal/pengadilan yang handal. Cerita ini dapat diulang – merupakan catatan hal-hal yang benar – bahwa pada sebuah bazar di Lincoln beberapa tahun yang lalu, orang dikejutkan oleh berita bahwa dua orang wanita telah kehilangan dompet mereka. Kemudian dompet-dompet itu ditemukan di dalam saku sang Uskup Keuskupan itu! Atas bukti kedua dompet itu sang Uskup seharusnya dihukum sebagai pencuri, dan atas bukti dua kata itu Kitab Daniel dihukum sebagai penipuan!.

BLUNDER HISTORIS

Disini terdapat sebuah lagi perkara typis di dalam dakwaan para Kritikus mengenai Kitab Daniel. Kitab tersebut mulai dengan mencatat penyerangan Yerusalem oleh Nebukadnezar pada tahun ketiga Yoyakim, sebuah catatan yang kebenarannya telah dibuktikan oleh sejarah, naskah kuno dan sekuler. Berosus, sejarawan Chaldean, menceritakan bahwa pada waktu berlangsungnya ekspedisi ini Nebukadnezar menerima berita tentang kematian Ayahnya, dan bahwa – setelah menyerahkan urusan tentaranya dan para tahanannya yang orang Yahudi dan lain-lain, “ia sendiri bergegas pulang melintasi gurun”. Tetapi para skeptik Jerman, yang telah memutuskan bahwa Daniel adalah sebuah pemalsuan, harus menemukan suatu bukti yang mendukung keputusan mereka. Oleh karenanya mereka menemukan secara brilian bahwa Berosus di sini menunjuk pada ekspedisi tahun berikutnya, ketika Nebukadnezar memenangkan perang di Carchemish melawan tentara Mesir, dan waktu itu ia sama sekali tidak menyerang Yudea. Tetapi Carchemis terletak di sisi sungai Efrat, dan gagasan untuk “bergegas pulang” dari situ ke Babylonia melewati gurun, dapat dijadikan sebuah essay seorang pelajar! Bahwa ia melintasi gurun adalah bukti bahwa ia berangkat dari Yudea dan tahanannya tentunya, adalah Daniel dan kawan2nya pangeran. Penyerbuan ke Yudea terjadi sebelum ia naik tahta pada tahun ketiga Yoyakim, sedangkan perang Carchemis terjadi sesudah ia menjadi raja, pada tahun keempat raja Yudea, seperti telah dicatat oleh Kitab-kitab dalam Alkitab. Tetapi blunder Bertholdt yang maha besar di dalam “Book of Daniel”nya pada permulaan abad ke-19, diulangi dengan serius di dalam “Book of Daniel”nya Professor Driver pada permulaan abad ke-20.

KEKURANG-AJARAN YANG KRITIS

Tetapi mari kita kembali kepada Musa. Menurut “hipotesis kritis” buku-buku Pentateukh adalah pemalsuan literatur dari Era Exilic (zaman pembuangan) karya para imam Yerusalem pada zaman kemalangan itu. Dari Kitab Yeremia kita ketahui bahwa orang- orang itu adalah pengingkar agama yg kurang ajar, dan jikalau “hipotesis kritis” itu benar, mereka bahkan lebih buruk dari yang digambarkan oleh pengutukan nabi yang terilhami. Sebab tiada seorang ateist pun dlm abad ke-18 yang jatuh ke dalam profanitas (kekurangajaran) lebih dalam daripada yang diperlihatkan oleh cara mereka menggunakan Nama Suci. Di dalam kata pengantar bukunya “Darkness and Dawn”, Dean Farrar menyebutkan “bahwa ia tidak pernah menyentuh para pengkhotbah Kristen dengan jari khayalan”. Ketika didalam ceritanya para rasul berbicara, ia “membatasi ucapan-ucapan mereka pada kata-kata ilham”. Namun umpamanya, para penulis Pentateuch “menyentuh dengan jari khayalan” bukan hanya orang-orang suci zaman kuno, tetapi Tuhan YAHWEH mereka. “YAHWEH berbicara kepada Musa, katanya.” . Hal ini dan pernyataan2 semacam disebut tak terhitung seringnya di dalam Kitab-kitab Musa. Jika ini disebut roman, maka kekurangajaran yang lebih rendah tidak terbayangkan, kecuali mungkin mengenai orang yang sudah tidak terkejut lagi dan muak olehnya. Tetapi tidak, fakta membuktikan bahwa pendapat ini salah. Karena orang yang beriman sungguh-sungguh dan rasa hormat yang tinggi untuk hal-hal ilahi dapat begitu terbutakan oleh superstisi “agama” sehingga kesan-kesan gereja memungkinkan mereka untuk memandang buku-buku tak terhormat ini sebagai Kitab Suci. Sebagai kritikus mereka mengecap Pentateukh sebagai sebuah tenunan mitos dan legenda dan penipuan, tetapi sebagai ahli agama mereka menganggapnya: KEKHILAFAN-KEKHILAFAN YG DIBANTAH OLEH FAKTA.

Sebaliknya sangat penting sekali membiarkan lawan untuk menyatakan posisi mereka dengan kata-kata mereka sendiri; dan inilah pernyataan Profesor Driver mengenai kasus melawan Kitab-kitab Musa: “Kita hanya dapat berdebat atas dasar kemungkinan yang diperoleh dari gambaran kita mengenai kemajuan dari seni menulis, atau seni literatur mengarang komposisi, atau mengenai timbul dan berkembangnya nada dan rasa profetis di Israel kuno, atau dari periode di mana tradisi-tradisi tersebut di dalam cerita-cerita itu dapat terbentuk, - atau dari kemungkinan bahwa mereka telah dicatat sebelum dorongan pada kultur dari pihak kerajaan mulai terasa pengaruhnya, dan pertimbangan2 serupa, untuk mempertimbangkan sebagian besar dari itu, meskipun bisa diajukan alasan-alasan masuk akal pada satu atau lain segi, sebuah standar handal yg dapat dipercaya, hampir tak mungkin dapat bersifat tetap (fixed)”. (“Introduction’, 6TH ed. Page 123).

Penunjukan sederhana ini kepada “komposisi literer” dan “seni menulis” adalah khas. Maksudnya untuk menyembunyikan pengabaian salah satu poin utama di dalam serangan pertamanya. Andaikata “Driver’s Introduction” muncul 20 tahun lebih dini, maka asumsi bahwa literatur seperti Pentateukh dapat berasal dari zaman Musa, pasti akan dicap sebagai anakronisme. Karena salah satu dasar yang menempatkan buku-buku itu pada akhir kerajaan ialah bahwa bangsa Ibrani semasa enam abad sebelumnya adalah bangsa yang buta aksara. Dan setelah kesalahan itu telah dibantah oleh penemuan-penemuan arkeologis, masih masih dipertahankan bahwa sekumpulan undang-undang yang begitu modern, dan begitu rumit seperti undang-undang Musa tidak mungkin berasal dari zaman demikian. Akan tetapi – isapan jempol inipun hancur tatkala sekop sang penjelajah menemukan yang sekarang terkenal, Hukum Hammurabi, Amrafel dari Kitab KEJADIAN yang adalah raja Babilonia pada zaman Abraham.

Bukannya mengibarkan bendera putih ketika dihadapkan pada saksi baru ini, para kritikus dengan sangat kurang ajar, menunjuk pada hukum yang baru ditemukan sebagai asli dari hukum Sinai. Kesimpulan demikian memang wajar pada orang yang menganggap Pentateuch hanya manusiawi. Tetapi para kritikus tidak bisa mengambil kedua-duanya. Musa yang mengkopi Hammurabi haruslah Musa sesungguhnya dari Kitab KELUARAN, dan bukan Musa mistik dari Pengasingan yang menulis berabad-abad setelah Hammurabi sudah dilupakan!

TEORI YG TIDAK MASUK AKAL

Bukti tentang Hukum Hammurabi membantah satu hal penting di dalam tuduhan Pentateukh para kritikus; namun kita dapat mengambil seorang saksi lain yang kesaksiannya menghancurkan seluruh kasus mereka. Pentateukh, seperti kita semua maklum, dan hanya Pentateukh, merupakan Kitab Injil bangsa Samaria. Dengan demikian, siapakah bangsa Samaria itu? Dan bagaimana serta bilamana mereka memperoleh Pentateukh itu? Di sini kembali para kritikus harus membela dirinya. Di antara orang-orang terkemuka yang telah membela kampanye mereka di Inggris tak ada yang lebih dihormati, tak ada yang lebih jelas kesarjanaannya daripada mendiang Profesor Robertson Smith; dan di bawah ini adalah sebuah risalah dari artikelnya berjudul “Samaritans” di “Encyclopea”.

“Mereka (orang-orang Samaria) menganggap dirinya orang Israel, keturunan kesepuluh suku, dan mengaku memiliki agama ortodoks milik Musa ***. Hukum keimaman, seluruhnya didasarkan pada kebiasaan para imam di Yerusalem sebelum Pengasingan, telah diperkecil serta dibentuk setelah Pembuangan, dan dipublikasikan oleh Ezra sebagai hukum bait Zion yang telah dibangun kembali. Oleh karena itu orang-orang Samaria tentunya telah memperoleh Pentateuch mereka dari orang-orang Yahudi setelah reformasi-reformasi oleh Ezra.” Dan di dalam alinea yang sama ia mengatakan bahwa, menurut anggapan bangsa Samaria “bukan hanya bait Zion, tetapi bait Silo yang terdahulu dan keimaman Eli, adalah terpecah-belah. Meskipun demikian, ia melanjutkan dengan mengatakan, “Agama Samaria dibangun di atas Pentateukh saja”.

Sekarang, perhatikan apa artinya ini. Kita mengerti sedikit tentang kebencian rasial. Kita, malangnya, mengerti lebih banyak tentang kebencian hebat di dalam perselisihan keagamaan. Dan kedua unsur ini bergabung untuk memisahkan bangsa Samaria dari bangsa Yahudi. Tetapi, lebih dari ini, pada periode pasca pembuangan kecurigaan dan ketidaksukaan diubah menjadi kebencian yang sangat dalam. “Kejijikan” kata Robertson Smith mengenai kekasaran dan penghinaan dengan mana bangsa Yahudi menolak bantuan yang ditawarkan dalam pekerjaan membangun kembali Yerusalem dan menolak untuk mengakui mereka dengan cara apapun. Dan toh, kita masih diminta untuk percaya bahwa, tepat pada waktu itu dan tepat dalam keadaan demikian orang-orang Samaria seraya membenci orang Yahudi sama seperti kaum Orangemen membenci para Jesuits, dan mengejek seluruh sekte Yahudi terpecah-belah, tidak hanya menerima buku-buku Yahudi yg berhubungan dengan pemujaan dan menyebut buku-buku itu “buku-buku servis” untuk ritual mereka sendiri, tetapi mengangkatnya menjadi “Alkitab” mereka, bahkan dengan menyisihkan karya-karya nabi-nabi Israel mereka sendiri, serta kitab-kitab yang dihormati serta kudus yang mencatat sejarah raja-raja mereka. Di dalam seluruh jajaran keganjilan, baik yang religius maupun yang duniawi, apakah pernah diajukan suatu teori yang lebih tidak masuk akal.

SEBUAH KEADAAN LAGI YANG TAK MASUK AKAL

Tidak kurang tak masuk akalnya adalah dasar-dasar yang mendasari kesimpulan yang diajukan kepada kita. Ini adalah sebuah pernyataan dari mereka, dikutip dari buku teks standar para pemuja itu, Hasting ‘s “Bible Dictionary” : “Ini adalah setidaknya sebuah dasar yang sah bagi kesimpulan bahwa Pentateuch pertama-tama diterima oleh kaum Samaria setelah Pembuangan. Mengapa permintaan mereka untuk mengambil bagian dalam pembangunan bait kedua ditolak oleh para pemimpin rakyat Yerusalem? Sangat mungkin karena orang Yahudi mengetahui bahwa orang Samaria belum memiliki Kitab Hukum. Adalah susah untuk mengandaikan bahwa jika tidak demikian, mereka akan menerima penolakan ini. Tambahan pula, siapapun yang – seperti penulis ini – menganggap kritik modern mengenai Pentateukh pada dasarnya benar, mempunyai alasan kedua yang menentukan untuk menerima pandangan di atas.” (Artikel Profesor King, “Samaritan Pentateuch, hal. 68).

Di sini terdapat dua “alasan yang menentukan” untuk mempertahankan bahwa “Pentateukh mula-mula diterima oleh orang-orang Samaria sesudah Pembuangan”. Pertama, karena “sangat mungkin” ini dikarenakan mereka tidak mempunyai buku-buku yang dipalsukan itu, maka orang-orang Yahudi menolak bantuan mereka; maka itu mereka pulang dan menerima buku-buku palsu itu sebagai Kitab Injil mereka! Dan kedua, karena kritik telah membuktikan bahwa buku-buku tersebut hingga waktu itu belum ada. Untuk memberi ciri khas yang tepat kepada karya para sarjana ini, bukanlah tugas yang menyenangkan, tetapi telah tiba saatnya untuk mengesampingkan rasa sungkan, apabila omongan tolol semacam itu dikemukakan untuk membujuk kita membuang dari Alkitab kita Kitab Suci yang oleh Tuhan kita digunakan sebagai dasar untuk menegaskan ke-Mesias-an-Nya.

GAGASAN PENGORBANAN: SEBUAH WAHYU

Penolakan Kritik Tinggi tidak membuktikan bahwa Pentateukh itu terinspirasi oleh Allah. Seorang penulis yang menugaskan dirinya untuk menentukan tesis seperti itu di dalam batas-batas sebuah resensi boleh saja dikagumi karena semangat dan keberaniannya, tetapi pasti bukan karena kerendahan hatinya atau kebijaksanaannya. Juga tidak dituntaskan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di bidang sah Kritik Tinggi yang sebenarnya, umpamanya, siapa penulis kitab KEJADIAN. Tak dapat dipercaya bahwa selama beribu-ribu tahun yang telah lewat sebelum zaman Musa, Allah membiarkan rakyat-Nya di dunia tanpa wahyu. Tambahan pula, banyak dari perintah-perintah yang secara ilahi diserahkan kepada Musa hanyalah pembaharuan dari sebuah wahyu yang terdahulu.

Agama Babylonia merupakan bukti jelas untuk wahyu zaman purba demikian. Jika tidak demikian, bagaimana universalitas pengorbanan dapat dipertanggungjawabkan?? Apakah kebiasaan demikian dapat berasal dari otak manusia? Jika ada seorang gila mendapat ide bahwa membunuh seekor binatang di depan pintu musuhnya dapat mendamaikannya, para tetangganya pasti akan mengganyangnya. Dan jika ia mengembangkan kepercayaan bahwa dewanya akan ditenangkan dengan kebiasaan yang begitu menyinggung perasaan, ia pasti kira dewanya sama gilanya seperti dia sendiri. Fakta bahwa pergorbanan terjadi di semua bangsa hanya dapat diterangkan oleh sebuah wahyu zaman purba. Dan Pelajar Alkitab akan mengerti bahwa dengan cara demikian Allah berusaha menekankan kepada manusia bahwa kematian adalah hukuman untuk dosa, dan menuntun mereka menantikan sebuah pertumpahan darah dahsyat yang akan membawa hidup dan berkat bagi manusia. Tetapi Babylonia bagi dunia kuno adalah sama seperti Roma terhadap dunia Kristen. Ia selewengkan setiap perintah dan kebenaran ilahi, dan meneruskannya dalam bentuk terkorupsi. Dan di dalam Pentateukh kita mendapatkan pemunculan-kembali yang ilahi dari cara memuja yang sebenarnya. Isapan jempol bahwa versi yang menurunkan derajat dan korup itu adalah yang asli, mungkin dapat memuaskan beberapa professor Ibrani, tetapi tak seorang pun yang mengerti sedikit tentang sifat manusia, akan menerimanya.

TIDAK CUKUP BUKTI

Namun, pada tingkat ini yang mengkhawatirkan kami bukan otoritas ilahi dari buku-buku itu, tetapi kesalahan manusia dan kebodohan serangan kritik terhadapnya. Dasar historis satu-satunya dari serangan itu adalah fakta bahwa pada kebangkitan-kembali (revival) di bawah Yosua “Kitab Taurat “ ditemukan di dalam bait oleh Hilkiah, Imam Besar, yang oleh raja muda diberi tugas untuk membersihkan dan membangun kembali tempat suci yang telah lama diabaikan itu. Itu merupakan penemuan yang sangat wajar, mengingat bahwa Musa dengan kata-kata tegas telah memerintahkan bahwa kitab tersebut harus disimpan di sana. (2 Raja-raja 22:8; Ulangan 31:26). Namun, menurut para kritikus, seluruh persoalan itu adalah sebuah trik menjijikkan dari para imam. Karena merekalah yang memalsukan kitab-kitab tersebut, menciptakan perintahnya, dan lalu menyembunyikan hasil kerja keji mereka di mana mereka yakin akan ditemukan.

Dan terpisah dari itu, satu-satunya dasar untuk “hasil terjamin dari kritik modern” seperti diakui oleh mereka sendiri, terdiri dari “dasar-dasar kemungkinan” dan “argumentasi yang masuk akal”! Di dalam Negara beradab manapun seorang penjahat ulung tidak akan dihukum karena pencurian-pencurian kecil berdasarkan bukti-bukti seperti ini, tetapi toh di atas dasar-dasar itulah kami diharuskan mengorbankan kitab- kitab suci yang telah diangkat oleh Bapa Surgawi kita menjadi “Sabda Allah” dan menjadikannya dasar dari pengajaran doktrinal-Nya.

KRISTUS ATAU KRITIK?

Dan ini membawa kita kepada penolakan kedua, yang jauh lebih berat, terhadap “hasil- hasil terjamin dari kritik modern”. Bahwa Tuhan Yesus Kristus mengidentifikasikan diri-Nya sendiri dengan Kitab Suci Ibrani, dan dengan cara khusus dengan Kitab Musa, tak seorang pun akan membantah. Dan oleh karenanya, kita harus memilih antara Kristus dan Kritik. Karena jika “hipotesis kritis” dari Pentateukh dipertahankan, maka nampaknya harus disimpulkan bahwa Dia tidak ilahi, atau bahwa catatan-catatan ajaran-Nya tidak dapat dipercaya.

Dari keduanya yang mana akan kita terima? Jikalau yang kedua, maka seluruh anggapan inspirasi harus ditiadakan, dan agnotisme harus menggantikan Iman di dalam diri setiap pemikir yang pemberani. Ilham merupakan perkara yang terlalu besar untuk diperlakukan secara sepintas di sini; namun dua ucapan mengenai hal ini mungkin pantas dikemukakan. Di belakang penipuan–penipuan Spiritualisme terdapat fakta, yang ditanggung kebenarannya oleh orang-orang berkarakter tinggi, beberapa di antaranya terkenal sebagai ilmuwan dan sarjana, bahwa dapat dipastikan hubungan-hubungan dengan kata-kata tepat telah diterima dari alam roh. (Fakta bahwa kaum Kristen percaya bahwa roh-roh adalah setan yang meniru orang-orang mati, tidak mengubah argumentasinya). Dan karena demikian halnya, untuk mengingkari bahwa Roh Allah dapat menyampaikan kebenaran dengan cara ini kepada manusia, atau dgn kata lain, untuk menolak inspirasi verbal berdasarkan teori, memperlihatkan kebodohan dari ketidakpercayaan yang diatur. Dan kedua, adalah mengherankan bahwa siapa pun yang menganggap kedatangan Kristus sebagai pembukaan rahasia Diri Allah sendiri yang tertinggi, dapat membayangkan bahwa (dengan menempatkannya tidak lebih tinggi daripada “Providensia/Pemeliharaan”) Roh Allah dapat gagal untuk memastikan bahwa umat manusia memiliki catatan yang benar dan dapat dipercaya mengenai misi-Nya dan pengajaran-Nya.

SEBUAH DILEMA YANG LEBIH TIDAK MEMBERI HARAPAN

Tetapi, jika cerita Injil itu asli adanya, kita didorong kembali kepada alternatif bahwa Dia yang mereka bicarakan tidak mungkin ilahi. “Bukan demikian,” para kritikus protes, “karena bukankah Ia sendiri mengakui ketidaktahuanNya? Dan bukankah hal ini dijelaskan oleh pernyataan Rasul2 bahwa di dalam merendahkan diriNya Ia mengosongkan diri-Nya dari Keilahian-Nya?” Kesimpulan yang ditarik dari hal ini, (dengan mengutip Buku teks standar Sekte) ialah bahwa Raja Kemuliaan “memegang pikiran Yahudi sekarang mengenai kuasa ilahi dan wahyu Perjanjian Lama”. Namun, sekalipun kesimpulan ini – mengancam dan kurangajar sekaligus – dapat dibuktikan, bukan berarti ia memberi jalan keluar dari dilema di mana Kritik Tinggi mengikut-sertakan para penggemarnya, tetapi ia akan membuat dilema ini lebih tanpa-harapan dan mengerikan. Karena yang terpenting bagi kita bukan bahwa, umpamanya pengajaran doktrinal Tuhan palsu adanya, tetapi bahwa dengan kata-kata tegas dan dengan sangat sungguh-sungguh Dia berkali-kali menyatakan bahwa pengajaran-Nya bukanlah dari Dia tetapi dari Bapa-Nya, dan bahwa kata-kata dengan mana Dia menyampaikan-Nya pun adalah pemberian Allah.

Beberapa tahun lalu kaum setia merasa khawatir oleh tingkah laku seorang “nabi” dari Chicago, yang mengaku memperoleh kuasa ilahi untuk pekerjaannya di waktu malam. Orang-orang yg baik hati, karena menolak perkiraan yg lebih keras mengenai orang itu dan ungkapan-ungkapannya di atas mimbar, hanya menganggap dia seorang tolol yang tidak sopan. Apakah para kritikus akan mengkhianati kita dengan memberi penilaian yg sama sabarnya jika pena saya menolak untuk meyelesaikan kalimatnya!

Dan apakah akan dipercaya bahwa dasar penginjilan satu satunya yang ditawarkan kepada kita bagi posisi yang luar biasa ini adalah sebuah ayat dari Injil dan sebuah kata di dalam salah satu Surat! Lebih dari aneh bahwa orang-orang yang memperlakukan Kitab Injil secara begitu bebas apabila bertentangan dengan “hasil terjamin” mereka dapat menganggap begitu penting sebuah ayat terpencil atau sebuah kata kalau dapat di salahgunakan untuk mendukung mereka. Ayat itu adalah Markus 13:32 di mana Tuhan berkata, sehubungan dengan kedatangan-Nya kembali. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja”. Tetapi kata-kata ini langsung mengikuti ucapan-Nya: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi kata-kata-Ku tidak akan berlalu”.

SABDA ALLAH

Sabda Allah tidak “terilhami”; itulah perkataan Allah dalam arti yang lebih tinggi. “Orang-orang heran mendengarkan ajaran-Nya” diiceritakan kepada kita, “karena Dia mengajar mereka dengan kuasa (exousia). Kata ini muncul kembali di KISAH PARA RASUL 1:7 di mana Dia berkata bahwa waktu dan musim “telah di tentukan menurut kuasa-Nya “. Dan ini dijelaskan oleh FILIPI 2:6,7) :“Dia tidak menginginkan kesetaraan (sesuatu yang dapat diraih) dengan Allah, Tetapi Ia mengosongkan diri-Nya …”

Ucapan yang mendasari teori kenosis para kritikus. Dan Dia tidak hanya mengosongkan diri-Nya dari kemuliaan-Nya sebagai Allah, Dia juga rela melepaskan kebebasan-Nya sebagai manusia. Karena Ia tidak pernah mengucapkan kata-kata-Nya sendiri, tetapi hanya yang diberi Bapa kepada-Nya untuk diucapkan. Dan ini merupakan keterbatasan “kuasa”-Nya sehingga di luar apa yang diberikan Bapa kepada-Nya untruk diucapkan, Dia tidak tahu apa-apa dan Ia diam. Tetapi apabila Dia berbicara, “Ia mengajar mereka seperti seorang yang berkuasa, dan tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” Dari ahli Taurat mereka, mereka biasa menerima ajaran tertentu, tetapi ajaran itu berdasarkan “hukum dan nabi-nabi”. Tetapi di sini ada Orang yang berdiri sendiri dan mengajar mereka dengan cara yang sangat berbeda dan jauh lebih tinggi.

“Karena”. Diucapkan-Nya, “Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri tetapi Bapa yang mengutus Aku. Dialah yang memerintah Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. *** Jadi, apa yang Aku katakan sebagaimana apa yang di firmankan Bapa kepada-ku, demikianlah Aku katakan. (Yohanes 12:49, 50. R.V.)

Dan janganlah kita melupakan bahwa bukan hanya isi ajaran-Nya yang ilahi, tetapi bahkan bahasa yang digunakan pun untuk menyampaikannya. Sehingga pada malam pengkhianatan Dia dapat berkata dalam doa-Nya, tidak hanya “Saya telah memberikan kepada mereka firman-Mu”, tetapi “Sebab segala firman yang Kau sampaikan kepada-Ku telah Ku-sampaikan kepada mereka”. (Keduanya: Logos dan rh Yohanes 17: 8,14: seperti disampaikan lagi di Yohanes 14:10,24). Oleh karena itu, tentang Musa dan Kitab Suci Ibrani bukanlah seperti yang dipertahankan oleh para kritikus dengan begitu menantang dan seakan-akan kurang sopan, bukan ide dan tahyul seorang Yahudi; itu adalah firman Allah serta kebenaran yang diwahyukan, yang ilahi dan abadi.

Waktu pada hari-hari gelap selama di dalam pembuangan, Allah membutuhkan seorang nabi yang hanya akan bicara selama diberi kata, Ia membuat Yehezkiel bisu. Dua hukuman telah dijatuhkan atas rakyat itu, menjadi budak di Babylonia selama 70 tahun dan Penawanan – dan mereka di peringatkan bahwa ketidakpatuhan yang diteruskan akan membuahkan hukuman yang lebih mengerikan: 70 tahun penghancuran. Dan hingga jatuh keputusan yang terakhir itu, Yehezkiel tetap akan bisu. (Yehezkiel 3:26; 24:27;33:22). Tetapi Tuhan Yesus Kristus tidak membutuhkan disiplin demikian. Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa, dan sebuah kata pun tidak pernah meninggalkan bibirnya kecuali yang diberikan kepada-Nya untuk berfirman.

Tambahan lagi, dalam hubungan ini, mengherankan bahwa dua faktor yang menuntut perhatian istimewa telah terabaikan. Yang pertama ialah bahwa di dalam Markus 13, perlawanannya sama sekali bukan antara manusia dan Allah, tetapi antara Putra Allah dan Bapa. Dan kedua ialah berdasarkan Filipi 2 bahwa Ia telah diberkati dengan semua itu. Dia telah meletakkan segalanya sebelum datang ke dunia ini. “Segalanya telah diberikan kepada-Ku oleh Bapa-Ku” , Ia berfirman dan itu pada saat bukti bahwa Ia “dibenci dan disia-siakan oleh manusia” sedang menekan Dia. Reasumsi-Nya, Kemuliaan sedang menanti-Nya sekembalinya ke surga, tetapi di atas dunia ini semua telah diperolehNya (Matius 11:27).

SESUDAH KENOSIS

Yang disebutkan di atas tentunya merupakan jawaban yang cukup untuk isapan jempol kenosis oleh para kritikus, tetapi kalau-kalau masih ada yang ragu atau mencari-cari, masih terdapat jawaban lain yang lengkap dan mematikan. Apapun yang membatasi-Nya selama pengajaran-Nya di dunia , Ia telah dibebaskan sesudah Ia bangkit dari maut. Dan selama pengajaran-Nya sesudah bangkit, Ia memberi kesaksian yang terlengkap dan terjelas mengenai Kitab Suci Ibrani. Dan “mulai dari Musa, dan semua nabi yang lain, Ia menjelaskan kepada mereka semua hal di dalam seluruh Kitab Suci mengenai Diri-Nya.”. Dan sekali lagi, menetapkan segala ajaran-Nya yang terdahulu mengenai Kitab Suci itu, Ia mengatakan kepada mereka . “Ini adalah kata-kata yang Ku-ucapkan selama Aku masih bersama-sama dengan kamu, bahwa segala sesuatu harus dipenuhi seperti telah tertulis di dalam hukum Musa dan semua nabi, dan di Mazmur, mengenai Aku”.

Dan dicatat selanjutnya: “Lalu Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka dapat mengerti Kitab Suci (PL)”. Dan kelanjutan Perjanjian Baru adalah buah dari pengajaran itu, diperluas dan dikembangkan oleh Roh Suci untuk menuntun mereka kepada seluruh kebenaran. Dan di dalam tiap Bagian dari P.B. kuasa Ilahi dari Kitab Suci Ibrani, dan terutama Kitab-kitab Musa, diajarkan atau di terima.

POKOK PERSOALAN YANG TERPENTING

Dengan demikian, pastilah sudah bahwa pokok persoalan yang terpenting di dalam kontroversi ini bukan nilai Pentateukh, tetapi Keilahian Kristus. Tetapi tulisan ini tidak berpretensi menangani kebenaran keIlahian. Tujuan sederhananya bahkan bukan untuk menetapkan kuasa Injil, tetapi hanya untuk mendiskreditkan serbuan kritik yang menyerangnya dengan memperlihatkan sifat sebenarnya dan kelemahannya yang mutlak. Dengan demikian, cara penulis terutama hanyalah kritik merusak, sehingga senjata utama para kritikus diarahkan kepada mereka sendiri.

TUNTUTAN AKAN PERNYATAAN YANG TEPAT

Mau tidak mau kita merasa tertekan untuk memberikan suatu perlakuan demikian kepada orang-orang terkemuka tertentu yang hormatnya terhadap hal-hal Ilahi tidak tercela. Perasaan yang sama kadang-kadang juga dialami oleh mereka yang berpengalaman dlm menangani kasus hasutan, atau dalam mengatasi huru-hara. Tetapi, jikalau orang yang seharusnya dihormati menempatkan dirinya di “garis tembak” mereka harus menerima risikonya. Orang-orang terkemuka itu pasti menerima hormat sepenuhnya yang menjadi haknya, asalkan saja mereka melepaskan dirinya dari omong kosong curang dari perang salib ini (yakni “hasil yang dijamin dari kritik modern”, “semua ilmuwan dan sarjana bersatu dengan kami” dan lain sebagainya – gertakan dan kepalsuan dengan mana mereka yg lemah dan bodoh ditakut-takuti atau ditipu) serta menyatakan bahwa “hasil terjamin” mereka hanyalah hipotesis yang ditinggalkan oleh para Hebrais dan teolog yang sama mampu dan terkemukanya seperti mereka sendiri.

YANG HARUS DITAKUTI

Pengaruh-pengaruh “Kritik Tinggi” sangatlah berat. Karena ia telah melengserkan Alkitab di dalam keluarga, dan kebiasaan baik dan lama “Ibadat Keluarga” dengan cepat lenyap. Serta kepentingan-kepentingan nasional yang besar-besar juga terlibat. Karena siapa yang dapat meragukan bahwa kemakmuran dan kekuatan bangsa-bangsa Protestan di dunia adalah berkat pengaruh Alkitab kapada karakter dan kelakuan? Bangsa-bangsa manusia yang generasi-demi generasi telah diajari untuk berpikir mandiri dalam hal-hal momen tertinggi tentunya akan unggul dalam setiap bidang usaha atau perusahaan. Dan lebih dari itu, tiada seorang pun yang telah dilatih dalam rasa takut kepada Allah, akan gagal dalam menjalankan tugasnya terhadap tetangga, tetapi akan menjadi warganegara yang baik. Tetapi penyingkiran Alkitab dari singgasananya akan hampir pasti mengakibatkan penyingkiran Allah; di Jerman, Amerika dan sekarang ini di Inggris, pengaruh-pengaruhnya memperlihatkan diri, dan sampai seberapa jauh akan mengakibatkan kekhawatiran bagi hari depan.

ALLAH YANG TERTINGGI

Jika sebuah kata pribadi dapat dimaafkan sebagai penutup, penulis ingin menunjuk kepada setiap buku yang telah ia tulis sebagai bukti bahwa ia tidak memperjuangkan “ke-ortodoks-an” tradisional yang kaku. Hanya dengan satu buah pembatasan ia akan mendukung kritik lengkap dan bebas terhadap Kitab Suci. Dan pembatasan itu ialah bahwa Sabda Tuhan Yasus Kristus dianggap penghalang terhadap kritik dan “akhir Perdebatan” mengenai setiap pokok yang dibicarakan dengan jelas di dalam ajaran-Nya. “Putra Allah telah datang” dan oleh-Nya telah datang pula karunia dan KEBENARAN. Dan dari tangan-NYA-lah kita telah menerima Kitab-kitab Perjanjian Lama.

Diterjemahkan oleh seorang ibu.

KITAB SUCI DAN PENYANGKALAN-PANYANGKALAN MODERN

THE FUNDAMENTALS –
A TESTIMONY TO THE TRUTH
Volume 1
Edited by R.A. Torrey, A.C. Dixon and Others

Diterjemahkan oleh seorang ibu. (Tim Penerjemah THE FUNDAMENTALS),
Pengoreksi akhir: Dede Wijaya
Seri 4 Volume THE FUNDAMENTALS akan terus kami terjemahkan, jika saudara-saudari mau terlibat dalam kerja sosial ini, segera hubungi saya di 08180.275.8801 atau dedewijaya@gmail.com, seri 4 Volume ini dapat anda download di http://dedewijaya83.multiply.com bagian DOWNLOAD PDF. Jika semua sudah lengkap akan saya PDFkan hasil terjemahannya dan saya berikan Cuma-Cuma kepada para penerjemah dan akan saya muat diberbagai web dan blog Kristen dan nantinya bisa didownload gratis di web & blog2 saya. Artikel-artikel terjemahan terutama akan dimuat di www.kristenfundametal.co.cc dan www.forumteologi.com, dan http://kristen-fundamental.co.cc. Selamat membaca!

Bab 5 volume 1
KITAB SUCI DAN PENYANGKALAN-PANYANGKALAN MODERN
OLEH Professor James Orr, D.D.
United Free Church College, Glasgow, Scotland.

Apakah dewasa ini di tengah adanya kritik dan ketidakmapanan, terdapat suatu ajaran Kitab Suci bagi Gereja Kristen dan bagi dunia, yang dapat dipegang/dipertahankan, dan jika ada, apakah ajaran itu? Tak dapat diragukan lagi bahwa itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendesak pada waktu ini. “Apakah ada suatu buku yang dapat kita anggap wadah wahyu Allah yang sebenarnya dan sebuah pedoman yang tak mung-kin salah dalam menjalani hidup dan dalam hal tugas-tugas kita terhadap Allah dan sesama kita?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting bagi kita semua. Limapuluh tahun yang lalu, mungkin bahkan kurang dari itu, pertanyaan tersebut hampir tak perlu muncul di antara kaum Kristen. Telah diakui secara umum, dianggap lumrah, bahwa buku itu memang ada, yaitu buku yang kita sebut Alkitab. Ini, diyakini, adalah sebuah kitab yang merupakan laporan terilhami dari seluruh kehendak Allah bagi keselamatan manusia; terimalah sebagai benar dan terilhami ajaran-ajaran kitab itu, turuti bimbing-annya, dan kau tidak akan tersandung, engkau tidak akan keliru dalam mencapai akhir hayat yang sempurna, dalam menemukan keselamatan, dalam meraih hadiah hidup abadi yang mulia.

Minggu, 04 Januari 2009

Enyahlah Dari PadaKu....

"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! " Matius 7:21-23

Ayat Yang Memaksa Kita Introspeksi

Pembaca yang terkasih di dalam Kristus, ketika anda membaca ayat-ayat tersebut di atas, pernahkah anda ingin tahu alasan Tuhan mengusir orang-orang yang berseru kepadaNya?Pernahkah terbayangkan oleh anda, jangan-jangan anda adalah orang yang akan Tuhan katakan, “enyahlah dari padaKu!” Siapakah orang-orang yang berseru-seru kepada Tuhan bahwa mereka telah melakukan mujizat, bernubuat, mengusir Setan demi namaNya, namun yang pada akhirnya Tuhan katakan bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka?

Betapa sia-sianya kehidupan seseorang jika ia harus berakhir di Neraka. Tuhan pernah berkata tentang Yudas Iskariot, bahwa lebih baik Yudas tidak dilahirkan (Mat.26:24). Betul sekali, jika seseorang dilahirkan, bertumbuh besar, menjadi tua, kemudian mati dan berakhir di Neraka, maka lebih baik ia tidak dilahirkan.

Terlebih lagi jika seseorang telah menjadi Kristen, telah sangat bergiat dalam pelayanan, bahkan telah sangat banyak berkorban, namun ia bukan berakhir di Sorga melainkan di Neraka, betapa tragisnya keadaannya, bukan?

Sangat mungkin ia telah bertekun di sekolah theologi, atau telah menjadi pengikut setia seorang yang sangat terkenal, atau malah dirinya sendiri adalah orang yang sangat terkenal itu, karena telah mengadakan banyak mujizat demi nama Yesus, telah bernubuat demi nama Yesus, telah mengusir Setan demi nama Yesus, namun akhirnya Tuhan berkata kepadanya, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Ketika membaca bagian-bagian nubuatan Alkitab tentang orang-orang yang akan menyebut diri mereka Kristen namun tidak berakhir di Sorga, pernahkah anda kuatir dan timbul keinginan untuk mengintropeksi iman anda? Sudahkah anda pasti bahwa komposisi iman anda benar sesuai dengan Alkitab? Bolehkah iman anda diuji melalui argumentasi-argumentasi akal sehat dan ayat-ayat Alkitab?

Celakalah orang yang ikut-ikutan beriman tanpa mengerti akan imannya. Celakalah orang yang tidak waspada tentang apa yang dipercayainya. Lebih celaka lagi mereka yang memanfaatkan nama Yesus untuk mencari keuntungan materi, jasmani dan duniawi, karena mereka selain masuk Neraka pasti akan dihukum dengan hukuman yang sangat berat.

Apakah masuk Sorga itu bukan melalui bertobat dan percaya melainkan melalui melakukan sesuatu? Apakah manusia masuk Sorga melalui perbuatan? Pekerjaan yang dikehendaki oleh Bapa itu sebenarnya apa? Kita memiliki jawabannya dari ayat Alkitab, yaitu Yohanes 6:28-29, Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

Orang Yahudi juga menyangka bahwa dengan perbuatan mereka akan masuk Sorga. Tetapi Tuhan menepis konsep mereka yang salah. Jangan ada orang yang mengira dengan perbuatan mereka akan masuk Sorga. Juga jangan ada yang mengira bahwa dengan berseru-seru mereka akan diterima Tuhan.

Mengapa Mereka Berseru-seru?

Mereka yang berseru-seru kepada Yesus tentu bukan umat agama lain melainkan Kristen, karena umat agama lain tidak berseru-seru kepada nama Yesus. Mereka sangat fasih tentang nama Yesus karena mereka telah memakai nama itu untuk mendapatkan keuntungan materi, jasmani dan duniawi bertahun-tahun. Ada di antara mereka adalah orang-orang lugu (bodoh?) yang diperdaya orang yang lebih pintar dengan pengajaran yang salah. Tanpa orang-orang bodoh yang bisa ditipu dengan mujizat palsu, pebisnis rohani yang berkharisma tidak mungkin mereka bisa menjalankan operasi mereka. Mereka bagaikan sepatu dengan kaus kakinya. Tanpa orang yang haus akan mujizat tidak akan muncul pembuat mujizat palsu.

Sebagian mereka tahu bahwa pertunjukan mereka adalah sandiwara nggak lucu untuk menghasilkan materi, sedangkan pengikut mereka adalah orang lugu yang tidak mempergunakan akal budi. Mereka tidak memeriksa iman mereka, mereka tidak peduli akan komposisi iman yang mereka yakini, bahkan ada yang sangat parah hingga tidak bersedia mempertimbangkan argumentasi dari pihak lain. Mereka hanyalah berseru-seru secara emosional.

Mereka tidak pernah bertanya, apakah selama ini mereka telah berada di jalur yang benar? Apakah pengajaran yang selama ini mereka terima sudah alkitabiah? Mereka terjerat oleh orang-orang yang berkharisma dalam berbicara yang memanfaatkan tingkat emosi manusia yang haus akan perhatian dan mujizat. Pemimpin mereka mengajar mereka dengan berseru-seru dan hanya mengajarkan mereka untuk berseru-seru.

Mereka Bernubuat

Perhatikan, salah satu kegiatan orang yang dienyahkan Tuhan adalah bernubuat. Sudah jelas bahwa proses pewahyuan berhenti sampai kitab Wahyu pasal terakhir ayat terakhir. Bahkan sudah diancamkan hukuman bagi yang menambahi firman Tuhan. Namun mereka tetap bernubuat, karena sangat banyak orang yang senang dengan nubuat palsu mereka. Ketika ditanya apakah mereka percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah, biasanya mereka menjawab dengan suara nyaring, percaya! Namun ketika dikonsistenkan bahwa jika percaya Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan maka berarti anda percaya bahwa Alkitab adalah kanon tertutup. Dan itu sama artinya dengan percaya bahwa proses pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu pasal terakhir ayat terakhir. Sebagian mereka masih mengangguk. Selanjutnya tinggal selangkah lagi akan sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak menurunkan wahyu lagi sesudah kitab Wahyu pasal terakhir ayat terakhir, yang berarti tidak ada lagi nubuat yang berasal dari Allah pada masa kini.

Nah, berarti selama ini nubuatan mereka bersumber dari mana? Kalau Tuhan tidak turunkan wahyu, sudah pasti nubuat mereka adalah hasil rekayasa mereka sendiri atau yang diwahyukan oleh Lucifer dengan memakai nama Yesus. Tidak heran kalau akhirnya Tuhan berkata bahwa Ia tidak kenal mereka, karena mereka memiliki tuan lain yang menyamar dengan nama Yesus, yang selama ini menggerakkan mereka untuk bernubuat. Tentu Tuhan yang mahatahu mengenal persis siapa mereka. Maksud perkataan “Aku tidak pernah mengenal kamu!” itu adalah “kamu ini bukan orang yang tergolong pada kelompokKu.” Jangan ada yang menafsirkan bahwa Yesus Kristus tidak mahatahu sehingga tidak mengenal mereka. Siapapun yang mencoba-coba bernubuat, atau berkata bahwa dirinya mendapatkan wahyu dari Allah, tandailah dia, dan ingatlah perkataan Tuhan Yesus bahwa Ia tidak mengenal mereka. Mereka bukan dari kelompok Tuhan Yesus, melainkan hanya orang-orang yang berseru-seru kepada Yesus.

Mereka Mengusir Setan

Aktivitas kedua yang dilakukan oleh orang yang dienyahkan Tuhan ialah mengusir setan. Pasti ada yang berpikir, lho...kalau ada setan ya diusir toh!”

Sebenarnya setan itu ada dimana-mana. Sekarang saat anda sedang membaca Pedang Roh ini, mungkin setan ada di samping anda. Setan itu makhluk roh yang tidak terlihat oleh mata kita, dan ia bisa ada dimana-mana. Bahkan di masyarakat terdapat banyak aktivitas setan yang terang-terangan. Ada peramal nasib di sekitar anda, ada dukun kesurupan (ta thung) yang bahkan dipertontonkan. Bahkan ada banyak pertunjukan setan yang dikemas dengan istilah modern seperti sulap, illusionis, psychic, dll.

Setiap orang Kristen perlu sekali fahami tujuan Yesus Kristus dan Rasul-rasul mengusir setan. Ketika Yesus Kristus hadir sebagai manusia, Ia perlu menyakinkan orang-orang Yahudi bahkan semua manusia bahwa Ia adalah Allah yang maha kuasa, Pencipta langit dan bumi. Hal ini tentu sangat sulit, terlebih terhadap mereka yang mengenalnya sejak kecil. Ia harus membuktikan kepada mereka bahwa Ia berkuasa atas setan bahkan ia sanggup memindahkan gunung. Itulah sebabnya Ia berkata seandainya mereka punya iman sebesar biji sesawi bahwa Ia Sang Pencipta dan memintaNya memindahkan gunung, Ia akan melakukannya untuk mereka. Jadi, Yesus Kristus usir setan itu bukan sok-sok-an seperti sikap sebagian “pendeta”.

Tujuan kehadiran Yesus Kristus di muka bumi bukan untuk usir setan, melainkan untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Tetapi manusia berdosa baru akan selamat kalau mereka mau percaya bahwa Ia adalah Juruselamat, atau Allah sendiri. Untuk meyakinkan manusia bahwa Ia adalah Allah sendiri itulah tindakan pengusiran setan dilakukanNya.

Para Rasul tidak memfokuskan pelayanan mereka pada pengusiran setan. Paulus dan Silas diikuti oleh setan beberapa hari namun tidak mereka usir. Setan itu baru diusir setelah sangat mengganggu dan Paulus sudah tidak tahan lagi (Kis.16:17-18). Seandainya setan itu tidak mengganggu, pasti tidak diusir oleh Paulus.

Sesungguhnya Tuhan tidak memerintahkan kita mengusir setan. Banyak “pendeta” membaca Markus 16:17 bahwa “mereka akan mengusir setan-setan” lalu over-exciting dan bersikap sok jagoan. “Mereka AKAN mengusir setan-setan” bukan HARUS mengusir setan. Lagi pula Markus 16 mulai dari ayat 14 adalah percakapan Yesus Kristus dengan kesebelas Rasul. Dan kita sudah baca bahwa apa yang Yesus Kristus nubuatkan akan dilakukan oleh para Rasul telah tergenapi. Paulus yang digigit ular berbisa tidak mati, setan-setan diusir, orang sakit disembuhkan bahkan orang mati telah mereka hidupkan.

Tuhan tidak menghendaki kita mengusir setan dengan cara show of power (unjuk kekuatan), melainkan ia mau kita mengusir setan dengan mengajarkan kebenaran. Tuhan mau manusia berdosa dan orang-orang yang terjerat setan atau iblis dibebaskan oleh kebenaran, bukan oleh show of power. Tuhan berkata: “jika kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh.8:3132). Kalau setan diusir melalui show of power sementara orang yang bersangkutan tidak menyambut kebenaran, maka setan akan kembali dengan membawa tujuh ....temannya (Mat.12:43-45). Itulah sebabnya Tuhan tidak mau kita mengusir setan dengan show of power melainkan Ia mau kita memberitakan kebenaran, karena ketika siapa saja menerima kebenaran maka setan di dalam dirinya akan pergi dan tidak pernah bisa kembali lagi.

Sampai di sini pasti ada yang berkata, “kalau orangnya sedang dirasuki, bagaimana bisa memberitakan Injil?” Kebanyakan “pendeta” tidak sanggup membedakan antara dirasuki setan dengan sakit jiwa. Sesungguhnya orang yang dirasuki setan sama sekali tidak hilang ingatan atau tidak sadarkan diri. Yang hilang ingatan dan tidak sadarkan diri adalah mereka yang terserang gangguan mental atau gangguan jiwa (psikotik). Lihat para peramal, betapa sadarnya mereka. Dukun-dukun (ta-thung) adalah orang-orang yang bisa diinjili, setidaknya pada saat mereka selesai acara. Jika betul kerasukan, bukan psikotik, maka yang bersangkutan masih bisa mendengar Injil kebenaran.

Setan justru mencari “pendeta” yang suka sok jagoan, dan tidak mengerti kebenaran, untuk direkrut menjadi alatnya. Tentu iblis melakukan semua kegiatan pengusiran iblis (temannya) memakai nama Yesus, karena kalau pakai namanya akan terlalu seram. Tetapi setelah “pendeta” yang tidak mengerti kebenaran itu terjerat seperti pengisap ganja, iblis tidak segan-segan membuka kedoknya. Pada saat itu “pendeta” yang sudah merasakan nikmatnya “morfin rohani” tidak bisa membebaskan diri lagi. Ia akan terus menjadi alat iblis untuk menjerat orang lain. Harapan saya, anda tidak menjadi salah satu korban mereka. Tuhan menyebut mereka pembuat kejahatan.

Mereka Mengadakan Banyak Mujizat

Tolong baca Matius 7:21-23 dengan lebih seksama sekali lagi. Salah satu aktivitas orang yang dienyahkan Tuhan adalah yang melakukan banyak mujizat demi nama Yesus. Adakah “pendeta” yang anda kenal yang suka mengembar-ngembor bahwa dirinya diberi karunia melakukan mujizat? Pernahkah anda bertanya di dalam hati, apa alasan Tuhan mengenyahkan orang yang melakukan mujizat demi namaNya?

Dinubuatkan dalam kitab Yesaya 35:5-6 bahwa pada saat Mesias datang, Ia akan melakukan banyak mujizat, orang buta akan dicelikkan, orang lumpuh akan melompat. Itulah sebabnya Sang Mesias membuktikan diriNya dengan melakukan mujizat. Dan itu kebenaran pula sebabnya mesias palsu juga akan membuktikan dirinya dengan mujizat palsunya. Jadi Yesus Kristus mengadakan mujizat adalah untuk membuktikan diriNya Mesias dari Allah. Dan Yesus Kristus telah mengingatkan bahwa mesias palsu akan datang dan akan mengadakan banyak mujizat palsu.

Sedangkan para Rasul mengadakan mujizat adalah sebagai pembuktian bahwa mereka adalah Rasul Yesus Kristus (II Kor.12:12). Jadi, jika karunia mengadakan mujizat adalah bukti kerasulan, maka secara akal sehat berarti orang percaya non-rasul tidak diberi karunia mengadakan mujizat. Itulah sebabnya penafsiran yang masuk akal tentang Markus 16 adalah bahwa yang diberi karunia melakukan mujizat itu hanya rasul. Di situ dikatakan orang percaya, bukan SETIAP orang percaya. Rasul termasuk orang percaya yang telah menggenapkan nubuatan itu.

Lalu bagaimanakah dengan mujizat yang terjadi di kalangan non-rasul? Hal itu sama sekali bukan karena non-rasul diberi karunia mengadakan mujizat melainkan itu adalah jawaban Tuhan atas doa anak-anakNya. Memang kita tahu bahwa kadang doa dijawab dan kadang belum dijawab.

Tuhan menubuatkan bahwa menjelang hari-hari akhir (masa kini) akan muncul banyak mesias palsu (Mat.24:5) yang akan coba membuktikan (menipu) bahwa mereka adalah mesias (orang yang diurapi) dengan menggembar-gemborkan kuasa melakukan mujizat. Dan dalam ayat ini dikatakan bahwa banyak orang akan disesatkan. Harapan saya anda bukan salah satunya. Pada pasal yang sama ayat 23 hingga 28 dikatakan bahwa mesias palsu itu akan menyesatkan orang dengan mujizat-mujizat palsu mereka.

Jadi, karena Tuhan tidak memberikan karunia melakukan mujizat kepada nonrasul, maka sudah jelas bahwa mereka yang berseru-seru kepada Tuhan bahwa mereka telah mengadakan banyak mujizat demi namaNya, adalah bukan dari kelompok Tuhan. Mereka adalah kelompok pengikut mesias palsu yang membajak nama Yesus.

Kesimpulan

Jadi, kini dapat kita simpulkan bahwa pantaslah jika Tuhan mengenyahkan orang orang yang bernubuat demi namaNya, yang mengusir setan demi namaNya, dan yang mengadakan banyak mujizat demi namaNya. Kalau orang yang mengadakan mujizat demi nama Yesus dienyahkan, tentu lebih-lebih lagi para pengikut mereka. Sudah pasti mereka akan dienyahkan juga.

Pembaca yang saya kasihi, saya menulis ini bukan demi uang, karena tidak dibayar, bahkan Pedang Roh ini dibagikan dengan gratis. Saya hanya menunaikan tanggung jawab saya sebagai seorang pemberita kebenaran. Karena kalau saya tahu namun tidak memberitahu orang lain tentang kebenaran itu, saya akan dituntut Tuhan yang mempercayakan kebenaran itu kepada saya. Waspadalah terhadap mereka yang bernubuat demi nama Yesus, yang mengusir setan demi nama Yesus, dan yang mengadakan banyak mujizat demi nama Yesus. Kiranya Tuhan memberi hikmat kepada anda.***

Sumber: Buletin PEDANG ROH 56

ANTICHRIST'S ONE WORLD ECONOMY

PENYEBAB KRISIS DI AS

Dunia sempat panik ketika beberapa perusahaan perkreditan Amerika Serikat (AS) bangkrut, karena sudah dapat dihitung bahwa itu akan berdampak ke seluruh perusahaan perkreditan bahkan perbankan di AS. Dampak awalnya ialah harga saham di Dow Jones

meluncur turun. Segera menteri keuangan AS, Henry Paulson, merancang tindakan penyelamatan dengan mengajukan dana talangan US $ 700 miliar. Ketika usulan pertama ditolak oleh Kongres, saham meluncur lebih dahsyat lagi sehingga Paulson yang tentu backup oleh George W. Bush, menyatakan bahwa jika Kongres AS tidak mau mengerti maka seluruh dunia akan mengalami krisis ekonomi dahsyat. Akhirnya Kongres mau-tak-mau harus menyetujui program penyelamatan tersebut.

Christianto Wibisono dalam Suara Pembaruan tanggal 13 Oktober 2008, menyebutkan bahwa penyebab krisis finansial AS itu bukan karena George W. Bush melainkan karena model hidup rakyat AS yang lebih besar pasak daripada tiang. Banyak orang tidak tahu bahwa setelah krisis finansial sempat disejukkan dengan dana bailout US $ 700 miliar, sesungguhnya krisis Credit Card sedang menunggu giliran. Diperkirakan ada sekitar satu triliun dollar hutang Credit Card di AS. Kini Indonesia pun sedang dipacu pemakaian Credit Card atau lebih tepat kita sebut pembiasaan hidup berhutang melalui Credit Card.

Mengapakah bisa terjadi krisis finansial di AS? Sesungguhnya itu karena saking percayanya dunia terhadap sistem demokrasi dan perekonomian pasar bebas AS. Semua orang berusaha menyimpan dananya di AS bahkan hampir semua koruptor negara dunia ketiga pun menyimpan dana mereka di bank-bank AS. Ini menyebabkan bank-bank di AS overliquid (kebanyakan uang), sehingga bunganya rendah. Karena bank-bank berlimpahan dana maka mereka menawarkan kredit dengan gampang kepada perusahanperusahaan perkreditan perumahan. Karena dana disalurkan dengan begitu gampang, para pengambil keputusan di perusahaan perkreditan dengan gegabah demi mengejar omset penyaluran kredit sehingga tanpa melalui studi kelayakan customer memberikan kredit perumahan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak sanggup mencicil. Sementara orang yang ditawarkan rumah telah terbiasa hidup lebih besar pasak daripada tiang maka tanpa banyak mempertimbangkan kemampuannya untuk mencicil telah rakus mengkredit rumah yang besar dan mahal yang melampaui kemampuannya. Akhirnya kredit macet menggurita hingga perusahaan-perusahaan perkreditan bangkrut, dan otomatis bank pemberi pinjaman juga terseret. Kalau hanya jumlah kecil saja yang macet, tentu tidak menjadi persoalan, tetapi kalau miliaran dollar tentu menjadi urusan besar, bahkan menjalar sampai menjadi problem internasional.

HEROIN DARI LUCIFER

Gejala berhutang lewat Credit Card yang berlebihan bukan hanya terjadi di AS, melainkan telah mendunia. Manusia ditawarkan Credit Card sehingga bisa membeli apa saja dengan pikiran "pokoknya beli dulu nanti bayarnya belakangan." Orang tua generasi lalu selalu memberi nasehat agar anak rajin menabung. Tetapi zaman sekarang jangankan menabung, bahkan sejak kecil sudah terbiasa berhutang hingga berjenjang-jenjang.

Bank pemberi Credit Card berharap pemegangnya berbelanja sebanyak mungkin dan kalau jatuh tempo tidak sanggup bayar, masih ditawarkan untuk hanya membayar minimum-payment, yang tentu sisanya dikenakan bunga yang sangat tinggi.

Manusia akhir zaman ditawarkan hasil teknologi. Semua hasil teknologi tidaklah jahat atau salah. Tentu dengan handphone jauh lebih nyaman daripada telepon monolog yang harus tersambung dengan kabel. Berbagai temuan teknologi telah menyumbangkan kenyamanan bagi kehidupan manusia. Tetapi untuk menikmati kenyamanan itu manusia harus membayar harganya dan tentu harus ditunjang dengan kerja keras yang menyita waktu dan tenaga. Sementara itu juga ditawarkan Credit Card yang prinsipnya kalau menginginkan namun belum punya uang, ya hutang dulu.

Jadi, melalui kemajuan teknologi dan prinsip 'hutang dulu bayar belakangan', manusia bias memenuhi rumahnya dengan segala perkakas hasil kemajuan teknologi dengan berhutang. Lifestyle penuh hutang dan penuh kenikmatan ini akhirnya menyebar ke sebagian besar, kalau kita tidak membesar-besarkannya dengan berkata seluruh manusia akhir zaman. Manusia bukan membeli sesuatu atau mengkredit sesuatu setelah menghitung kelebihannya atau setidaknya kemampuan membayarnya, melainkan "gesek" dulu cardnya, toh masih ada waktu sebulan untuk memikirkannya atau seburuk-buruknya akan diusahakan dengan fasilitas minimum payment.

Sambil setiap negara dengan pasar bebas dan floating devisa menggenjot ekonomi dengan mengabaikan moral, semua rakyat dipacu untuk menjadi manusia ekonomi. Tanpa memiliki waktu untuk keluarga, apalagi gereja, pokoknya pagi-pagi berangkat kerja dan pulang tiba di rumah sudah mendekati jam tidur.

Kekacauan finansial di AS adalah uji coba Lucifer untuk melihat kepanikan manusia terhadap masalah ekonomi yang akan digenggamnya sebagai alat untuk memaksa setiap orang menyembah kepadanya. Kekacauan tersebut telah menghantar pada penyatuan ekonomi dunia ke bawah satu kebijaksanaan moneter. Nancy Pelosi mendesak George W. Bush untuk menghimpun G8 untuk duduk membicarakan kebijakan bersama untuk mengatasi kemelut ekonomi. Tak pelak lagi bahwa krisis kali ini akan mengantar ke penyatuan kebijakan tunggal.

Pemilihan presiden AS kali ini bisa jadi ujicoba Lucifer terhadap masyarakat AS. Apakah mereka lebih mementingkan ekonomi atau nilai-nilai luhur kekristenan dan keamanan? Kelihatannya mereka akan memilih orang yang sanggup membawa mereka kepada kemakmuran ekonomi daripada keluhuran nilai keluarga yang berdasar pada kekristenan. Masyarakat AS tidak sanggup mengalami kesulitan ekonomi karena mereka telah cukup lama menikmati kemakmuran. Di kamus masyarakat AS tidak ada kata irit, dan tidak ada kata susah. Terlebih mereka telah lama dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan pekerjaan sehingga mereka tidak menabung untuk persiapan masa sulit. Setelah memasuki zaman Credit Card, mereka dibiasakan berhutang sehingga Credit Card yang macet, menurut Christianto Wibisono sudah mencapai satu triliun dollar.

Akhirnya siapapun yang mau jadi presiden, tidak masalah moralnya, apalagi kandungan nilai kekristenannya, pokoknya bisa membawa kepada peningkatan ekonomi, maka rakyat akan memilih dia. Bahkan herankah kita jika suatu hari Lucifer atau anak buahnya mencalonkan diri dan terang-terangan menyebut identitas dirinya dan sikapnya yang memusuhi kekristenan alkitabiah, lalu rakyat berbondong-bondong memilihnya? Ia pasti akan didukung habis habisan oleh para homosex, umat berbagai agama, kekristenan yang sesat, para artis Hollywood yang freesex, dan berbagai komponen masyarakat yang hidupnya berantakan. Lucifer telah berhasil memberi "heroin" kenikmatan hidup dan keleluasaan hutang kepada manusia akhir zaman. Ia tahu manusia akan mengerang tanpa dia.

TIDAK ADA YANG MENJUAL DAN MEMBELI

Dalam kitab Wahyu 13:16-17 "Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya." Menurut pembaca, faktor apakah yang memungkinkan Lucifer mengontrol ekonomi dunia, bahkan hingga tidak ada orang yang bisa membeli atau menjual tanpa seijinnya? Tentu sebelumnya telah terjadi penyatuan moneter seluruh dunia dan kebijaksanaan moneter ada di bawah satu penguasa.

Lucifer akan berhasil menyatukan politik seluruh dunia sehingga terwujud satu pemerintahan dunia. Sangat masuk akal untuk memiliki satu federasi dunia dengan dua ratus lebih negara bagian. AS akan menjadi satu negara bagian, demikian juga dengan Indonesia dan China masing-masing akan menjadi satu negara bagian. Nah, presiden dunia itu pasti akan hebat sekali dan akan dipilih oleh manusia seluruh dunia. Tahukah anda sekarang telah ada yang namanya Parlemen Dunia? Tahukah pembaca bahwa pada bulan Oktober 2008, Indonesia mengusulkan Agung Laksono menjabat sebagai Ketua Parlemen Dunia? Apa sulitnya bagi Lucifer untuk membentuk satu pemerintahan dunia, dengan satu Presiden Dunia, bahkan kita sekarang sudah ada Parlemen Dunia?

Kita kini sedang menuju ke satu ekonomi dunia, satu kebijaksaan moneter yang sifatnya mendunia, dan kita memang sudah memiliki bank dunia. Dan kita juga sudah punya International Monetary Fund (IMF), yang banyak menolong (intervensi) masalah keuangan negara-negara. Dapatkah pembaca melihat bahwa pemerintahan global anti Kristus yang digambarkan Allah bagi kita melalui patung mimpi Nebukadnezar, yang pada bagian kakinya yaitu kerajaan besi (Eropa) campur tanah liat, sekarang sedang dibentuk?

Kitab Wahyu pasal 13 yang kita kutip telah memberitahu kita bahwa anti-Kristus akan menguasai dunia, dan akan mengendalikan ekonomi, sehingga orang tidak dapat membeli dan menjual tanpa seijinnya. Banyak orang yang membaca kitab Wahyu pasal 13 hanya tersentak oleh tanda bilangan anti-Kristus, yaitu 666, sementara itu ia tak sadar bahwa sesungguhnya ia sedang berada di dalam program itu.

KERAJAAN BESI CAMPUR TANAH LIAT

Nebukadnezar bermimpi, dan itu tercatat dalam kitab Daniel pasal 2. Hampir terjadi musibah penyembelihan di Kerajaan Babilon karena tidak ada yang sanggup menafsirkan mimpi sang maharaja saat itu. Tetapi karena mimpi itu dari Allah, maka hanya Allahlah yang sanggup mengungkapkan artinya, melalui Daniel.

Kita diberitahu bahwa kepala patung yang terdiri dari emas itu dikatakan adalah Kerajaan Babilon yang sedang berdiri saat itu. Dan kemudian dikatakan akan muncul empat kerajaan sesudahnya sebelum dihancurkan satu kerajaan yang bagaikan batu yang turun dari gunung. Karena waktu telah lewat lebih dari dua ribu enam ratus tahun, maka gampang sekali bagi kita untuk mengerti bahwa dadanya yang terdiri dari perak itu sesungguhnya adalah kerajaan Media-Persia yang muncul sesudah Babilon. Dan perutnya yang dari tembaga sesungguhnya adalah kerajaan Yunani dengan "Alexander tak-Agungnya," dan kaki patung yang adalah besi sesungguhnya adalah kerajaan Romawi (persatuan Eropa) yang menyalibkan Yesus Kristus.

Lalu kerajaan besi campur tanah liat yang di bagian jari kaki itu kerajaan apa? Jelas bukan Singosari atau Sriwijaya, atau Inggris. Sejak Romawi bubar belum ada kerajaan atau pemerintahan yang sifatnya mengglobal. Karena kerajaan kelima ini digambarkan sebagai besi campur tanah liat, maka unsur besinya tentu adalah Eropa, yaitu identitas kerajaan keempat, berarti tinggal tanah liatnya.

Kelihatannya krisis finansial yang terjadi bisa merupakan penggodokan tanah liat. Christianto Wibisono maupun pengamat ekonomi lain menilai bahwa melalui krisis ini, AS semakin "penyok" dan China semakin menjadi bos. Jangan lupa bahwa negara Arab (dunia Islam) tidak tergoncang oleh krisis. Arab Saudi, dalam Media Indonesia tanggal 13 Oktober 2008, menyatakan berencana membangun sebuah kompleks dengan gedung yang tingginya mencapai lebih dari satu kilometer, dengan biaya US $ 26,7 miliar.

Mungkinkah yang dimaksudkan dengan tanah liat itu adalah China yang terkenal dengan porselinnya? Atau tanah liat itu sesungguhnya adalah negara Arab (dunia merusakkan Islam), atau lebih tepat lagi sesungguhnya adalah gabungan dari keduanya. Kalau besi itu menggambarkan dunia Barat (Eropa) bisakah tanah liat itu dunia Timur (campuran China, Arab dll.)? Jadi seluruh dunia bersatu seperti besi campur tanah liat? Kita tunggu finalnya, mungkin anda akan ikut mengalaminya.

IA MENYUSUP KE DALAM GEREJA

Kini wahyu pasal 13 sedang digenapi dan anti-Kristus dengan tanda 666 sedang membentuk dirinya. Kerajaan kelima, yaitu besi campur tanah liat yang digambarkan melalui patung yang dimimpikan Nebukadnezar sedang mewujudkan diri.

Anti-Kristus, sesungguhnya adalah pribadi yang mengaku dirinya Kristus. Kata "anti" adalah preposisi bahasa Yunani yang sesungguhnya artinya menentang dengan menggantikan. Jadi anti-Kristus adalah penentang Kristus yang mengatakan bahwa dirinyalah sang Kristus itu atau sesungguhnya adalah kristus palsu. Kristus itu bahasa Yunani yang artinya sama dengan Mesias dalam bahasa Ibrani. Jadi anti-Kristus itu sudah pasti bukan pemimpin atau umat agama non-Kristen, melainkan pasti dari pihak Kristen.

Ia akan memberitakan Kristus, tetapi tentu Kristus menurut versinya, dan akan menyatakan dirinya sebagai orang yang diurapi karena arti kata "Kristus" adalah orang yang diurapi. Atau menyebut dirinya atau jabatannya sebagai pengganti Kristus. Sebelum sang anti-Kristus utama datang, tentu ia akan mengirim pendahulu-pendahulu, yaitu pelayan Kristen palsu yang menyamar ke seluruh gereja. Tentu ia akan menghembuskan konsep "jangan bicara doktrin" karena dengan tidak membicarakan doktrin akan tercipta suasana yang lebih menggampangkan penyamarannya. Ia akan membawa gereja menurunkan standar moral, memperkenalkan lagu-lagu irama pop ke dalam gereja. Menghembuskan doktrin bahwa semua orang yang akan masuk Sorga sudah dipilih sebelum dunia dijadikan, oleh sebab itu tidak perlu giat memberitakan Injil. Ia akan menggiring gereja-gereja ke dalam satu wadah. Michael de Semlyen dalam bukunya All Roads Lead to Rome menyebut Gereja Roma Katolik sebagai stasiun final anti-Kristus.

Ia akan menyatukan dunia ke bawah kekuasaan, dan tentu seluruh kebijakan ekonomi juga ada di bawah kekuasaannya. Tetapi semua itu hanyalah alat karena keinginan hati Lucifer ialah menuntut dirinya disembah, bukan hanya oleh manusia, bahkan juga oleh Tuhan penciptanya (Mat. 4:9). Ia akan mempersatukan gereja ke bawah genggamannya dan menyatakan dirinya sebagai Kristus. Itu akan didahului dengan memberikan kuasa semu bagi pengikutnya untuk melakukan mujizat demi nama Kristus (maksudnya adalah dirinya), sambil doktrin, moral, dan motivasi (tiga sukat gandum) kekristenan yang murni dengan ragi.

NASIHAT UNTUK ORANG KRISTEN

Waspada, jadilah bijak, perhatikan doktrin karena doktrinlah yang membedakan satu agama dengan yang lain, dan doktrinlah yang membedakan satu gereja dengan yang lain. Jika anda tidak senang dengan doktrin, maka anda sudah tidak sanggup membedakan satu gereja dengan yang lain, dan lambat-laun anda akan tidak dapat membedakan satu agama dengan yang lain.

Cermatilah pengajaran tiap-tiap gereja, dan bedakan pengajaran yang satu dengan yang lain. Pelajari dengan sungguh-sungguh untuk memastikan yang paling alkitabiah dan logis. Jangan terpukau hanya dengan satu doktrin saja, melainkan tiap-tiap doktrin dalam satu gereja harus harmonis. Jangan lupa membandingkan pengajaran GRAPHE dengan gereja lain. Jika ada pertanyaan jangan sungkan email ke atau . Pengajaran yang benar selalu mempersilakan orang menilainya. Makanan yang enak tidak boleh dipaksakan melainkan hanya boleh ditawarkan. Pastikan diri anda di dalam gereja yang alkitabiah dalam penantian kita akan kedatangan Tuhan, karena Tuhan pernah berkata dalam nada yang pesimis, "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk.18:8). Tuhan sangat pesimis masih akan mendapatkan iman yang benar ketika Ia datang, tentu karena iman yang benar terkikis habis oleh gereja yang salah doktrinnya.

Boleh cicil mobil atau rumah? Tentu boleh, tetapi harus dalam jangkauan dan dalam jumlah yang tidak akan menyebabkan kesulitan. Boleh pakai Credit Card? Boleh, tetapi kendalikan diri dengan baik. Berusaha cukupkan diri dengan yang ada, dan rajin menabung untuk mengantisipasi masa-masa susah. Terhadap orang Kristen yang sudah terbukti setia, bukan yang datang pura-pura menjadi orang Kristen, kita harus saling membantu sebagai bukti bahwa kita adalah saudara di dalam Tuhan.***


"Saya berdoa meminta kekuatan --

dan Allah memberikan saya kesulitan-kesulitan

untuk membuat saya kuat.

Saya berdoa meminta hikmat --

dan Allah memberikan masalah-masalah

untuk dipecahkan.

Saya berdoa meminta kemakmuran --

dan Allah memberikan saya otak dan

otot untuk bekerja.

Saya berdoa meminta keberanian --

dan Allah memberikan saya tantangan

untuk diatasi.

Saya berdoa meminta cinta --

dan Allah memberikan kesempatan.

Saya tidak menerima apapun yang

saya minta -- saya menerima segala

sesuatu yang saya perlukan.

Doa saya telah Ia jawab."

--Michael Job-

Buletin PEDANG ROH 58, Jan-Maret 2009

Apa Yang Membuat Amerika Serikat Hebat?

MUNCULNYA SISTEM DEMOKRASI

Sejak tahun 1998, ketika mahasiswa berkumpul di gedung DPR, dan di korankoran diberitakan serta dibahas segala sesuatu tentang demokrasi, rakyat Indonesia tersentak oleh kata "demokrasi". Kata demokrasi berasal dari kata bahasa Yunani "demos" dan "kratos" dengan arti "demos" sama dengan people atau rakyat dan "kratos" adalah rules atau memerintah, sehingga kata demokrasi berarti pemerintah oleh rakyat (Worldbook Dictionary, Thorndike Benhard).

Sebenarnya masalah demokrasi tentu sudah lama sekali populer, tetapi karena Soeharto bertindak diktator, demokrasi baru populer pada tahun 1998 ketika mahasiswa berusaha menumbangkannya. Masyarakat Indonesia baru berkenalan dengan demokrasi yang sudah lama dikenal bangsa lain. Baron de Montesquieu (1689 - 1755) telah mencetuskan sistem pemerintahan yang didasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama yang mempraktekkan sistem pemerintahan demokrasi (1776) dengan sistem federasi. Kemudian pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi yang menumbangkan raja Louis XVI di Perancis, yang kemudian dipimpin lagi oleh Jenderal Napoleon Bonaparte secara diktator.

Sejak merdeka dari Inggris (4 Juli 1776), United States of America (USA) menjadi negara demokratis pertama di muka bumi. Presiden pertama AS, George Washington, adalah orang Kristen lahir baru yang tadinya berasal dari gereja Episkopal, namun bertobat dan dibaptis ulang menjadi anggota gereja Baptis. Ia memberi contoh untuk tidak menerima pendaulatan dalam bentuk apapun untuk terus menjadi presiden. Seterusnya USA adalah negara demokrasi yang bebas dan memberi penghargaan tertinggi bagi hak asasi manusia. Terlebih lagi setelah Abraham Lincoln berhasil menghapus perbudakan pada tahun 1865.

Negara-negara di Eropa tersipu-sipu dengan sistem demokrasi di Amerika, sehingga akhirnya para raja dan ratu satu persatu merelakan terpangkasnya kekuasaan mereka untuk menjadi monarchi konstitusional, dengan raja atau ratu yang hanya sekedar lambang saja. Hanya Perancis-lah yang rakyatnya bertindak amat kasar terhadap raja
Louis XVI.

Amerika Serikat (AS) adalah negara pertama di dunia yang memakai sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahannya, dan negara pertama yang memakai sistem federasi juga. Kedua sistem ini adalah yang terbaik bagi manusia di muka bumi ini.

PENCETUS AWAL DEMOKRASI

Sebenarnya Anabaptis adalah pencetus awal sistem demokrasi, bukan Montesquieu, karena tercatat Anabaptis dari Eropa yang teraniaya melarikan diri ke benua baru yang ditemukan Columbus, sehingga menjadi masyarakat pertama di benua Amerika. Setelah dua bulan di lautan, mereka mendarat di pantai yang sekarang disebut Harbor of Provincetown pada tanggal 19 November 1620 . Sebelum mereka turun ke darat, satu persatu mereka maju ke depan untuk bersumpah dan menandatangani sebuah perjanjian (sumpah) bahwa mereka akan mematuhi hukum yang mereka buat bersama.

Dengan demikian mereka memulai sebuah masyarakat demokratis pertama di bumi, enam puluh sembilan tahun sebelum Montesquieu lahir. Perjanjian tersebut diberi nama Mayflower Compact.

Atas pimpinan kapten John Smith, mereka akhirnya pindah ke Plymouth. Pada tanggal 25 Desember, mereka berusaha membangun sebuah gedung yang mereka sebut common house dan mereka pertama hidup dengan sangat ketakutan terhadap orang-orang Indian. Di musim dingin pertama ini, separuh dari mereka yang berangkat telah meninggal dan pada akhir musim dingin, mereka dapatkan ternyata orang-orang Indian bersahabat, malah membantu mengajar mereka bercocok tanam, mengajar mereka menangkap ikan dan mengeringkannya (ikan kering / ikan asin). Mereka menjalani kehidupan dengan sangat baik bersama orang-orang Indian. Sampai musim gugur pertama, mereka telah berhasil membangun tujuh rumah dan sebuah gereja.

Pada bulan November, setelah satu tahun mereka berada di benua Amerika, datang lagi kapal dari Inggris dengan 30 orang pendatang baru. William Bradford, gubernur pertama mengajak orang-orang Indian yang berjumlah 100 orang ikut mengucap syukur kepada Tuhan atas berkatNya. Kemudian datang lagi kapal dari Inggris terus menerus dengan orang-orang yang pindah. Awalnya mereka hidup bersahabat dengan orang-orang Indian hingga datang orang-orang jahat dari Inggris yang menciptakan permusuhan dengan mereka.

DEMOKRASI & IMAN ALKITABIAH

Tidak ada satu agama pun selain kekristenan yang mengajarkan tentang demokrasi. Yudaisme mengajarkan theocracy karena memang Jehovah sedang menjadikan bangsa Yahudi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.

Sesungguhnya Jehovah adalah raja mereka, oleh sebab itu selama 400 tahun masa hakim-hakim, mereka tidak memiliki raja manusia karena Jehovah adalah raja mereka. Dulu Sang Pencipta memperkenalkan diriNya kepada manusia PL dengan nama Jehovah sedangkan di PB Ia memperkenalkan diriNya dengan nama Yesus.

Bahkan kekristenan yang tidak alkitabiah tidak mengerti arti demokrasi. Gereja Roma yang Am telah bertindak otoriter selama ribuan tahun. Mereka tidak mengenal, bahkan tidak menyenangi sistem demokrasi karena sistem ini akan menyebabkan manusia berpikir dan kemudian menentang mereka. Calvinist lebih lagi, John Calvin bahkan menjadi penguasa yang sangat otoriter ketika ia kebetulan berhasil menguasai kota Geneva. Siapapun yang mencoba menentangnya, bahkan sedikit tidak setuju dengannya, bisa berakhir di tiang pembakaran seperti Servetus.

Luther yang kemudian menyatukan gerejanya dengan pemerintahan Jerman tentu tidak mungkin menasehati raja Jerman untuk melucuti wewenang kerajaannya berbagi dengan rakyat jelata. Sejarah mencatat tidak ada denominasi awal yang mengerti arti demokrasi selain kelompok Anabaptis. Karena sesungguhnya demokrasi itu sepasang dengan kebebasan beriman. Itulah sebabnya baik Katolik, Calvinis, Lutheran maupun Anglikan yang melarang pihak lain menafsirkan Alkitab berbeda dengan mereka tidak mengerti arti demokrasi yang sesungguhnya.

Setelah Anabaptis di Amerika berkembang, benua baru Amerika menjadi tempat terindah bagi pencari kebebasan beriman, sehingga kerajaan Inggris menetapkan wilayah benua Amerika sebagai wilayah koloninya dan kerajaankerajaan di Eropa berlomba-lomba merebut wilayah koloni di benua Amerika. Setelah kedatangan penguasa dari Eropa, kaum Anabaptis kehilangan kebebasan mereka lagi.

Kebebasan dari penjajah dan kebebasan dari intimidasi rohani, mendorong sejumlah pahlawan berjuang untuk kemerdekaan Amerika. Patrick Henry, seorang yang pernah menunggang kuda berpuluh-puluh mil untuk tampil di pengadilan membela tiga pengkhotbah Baptis yang sedang diadili, pada 23 Maret 1775, di sebuah gereja di kota Richmond menyampaikan pidato yang diakhiri dengan sebuah teriakan give me liberty or give me death. Ini menggetar hati siapapun yang mendambakan kebebasan beragama.

Gereja Episkopal/Anglikan tidak mengerti arti demokrasi atau kebebasan beragama. Demikian juga dengan gerejagereja reformasi lain, apalagi Katolik. Anabaptis-lah yang telah sungguh-sungguh mengerti arti kebebasan beragama dan demokrasi. Dan karena perjuangan kaum Anabaptis-lah Amerika Serikat menjadi sebuah negara demokratis.

DEMOKRASI / KEKRISTENAN?

Karena negara-negara Kristen baik AS maupun Eropa akhirnya menganut sistem pemerintahan demokratis, sekalipun masih dengan raja dan ratu yang bersifat seremonial, maka mereka semakin maju. Baik teknologi maupun ekonomi negara demokratis terbukti semakin maju karena ada persaingan yang sehat dan penghargaan terhadap meritrokrasi yang tinggi. Pendidikan pun semakin maju sehingga menarik imigran dari negera-negara non-Kristen. Mereka berbondong-bondong menuju negara Kristen yang demokratis dengan tetap keras kepala pada keyakinan iman mereka yang bersifat destruktif.

Dengan kehadiran imigran dari negara Amerika Latin yang mayoritasnya Katolik, terlebih lagi setelah kedatangan imigran dari negara Asia yang beragam iman, tatanan masyarakat AS yang jujur dan ramah terdistorsi. Ditambah lagi dengan semakin bertambahnya masyarakat AS yang atheis, maka sesungguhnya sistem demokrasi dan pasar bebas yang dianut tidak compatible lagi dengan komposisi masyarakatnya.

Masyarakat Asia yang beragam agama menyangka yang membuat AS hebat itu hanyalah sistem demokrasi dan pasar bebasnya. Padahal sistem demokrasi dan pasar bebas itu hanya compatible dengan kekristenan yang alkitabiah. Amerika Latin tidak bisa mentas dari kemiskinan, sebagaimana Christianto Wibisono selalu menyangka penyebabnya adalah karena mereka tidak demokratis, padahal yang benar adalah karena kekristenan di sana tidak alkitabiah sehingga tidak bisa demokratis.

Sistem demokrasi itu baik jika mayoritas masyarakatnya baik. Jika ada sepuluh orang, delapannya orang baik dan dua orang jahat, demokrasi pasti akan membawa keadaan yang baik. Tetapi jika ada delapan orang jahat, dan hanya dua orang baik, maka sistem demokrasi akan menjadi alat orang-orang jahat melaksanakan kejahatan mereka. Jadi, dengan berduyun-duyun orang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia yang pergi ke Eropa dan Amerika sambil mempertahankan kebudayaan dan agama mereka, telah merubah tatanan masyarakat Eropa dan Amerika yang dasarnya adalah kekristenan.

Ketika penulis tinggal di AS, hampir semua supermarket hanya dijaga oleh satu orang kasir saja, yang kalau di negara dunia ketiga, pasti lebih banyak yang tidak bayar daripada yang bayar. Supermarket barang elektronik dan komputer menjanjikan satu bulan money-back guarantee tanpa alasan. Artinya jika anda tidak suka, dalam waktu 30 hari, barang boleh dikembalikan tanpa alasan. Kalau ini dilakukan di negara dunia ketiga, pasti dalam satu bulan langsung bankrut. Pada saat sesudah Natal, penulis melihat banyak orang antri di department store untuk mengembalikan atau menukar hadiah Natal yang tidak cocok ukurannya dan lain sebagainya.

Demokrasi dan pasar bebas sesungguhnya hanya cocok dengan kekristenan alkitabiah yang masyarakatnya mayoritas orang Kristen lahir baru. Kondisi AS yang semakin banyak homosex dan atheis, ditambah lagi dengan imigran dari negara non-Kristen dan dari negara Kristen KTP, tentu telah menyebabkan distorsi sistem yang seharusnya bagus menjadi malapetaka. Bisa digambarkan dengan sebuah keluarga dengan anak-anak yang rapi, baik dan sopan, tiba-tiba kedatangan anak orang lain yang numpang dan tidak tahu diri, yang kencing tidak siram, tissue dibuang sembarangan, maka suasana keluarga tersebut pasti akan kacau-balau.

Pasar yang tadinya terdiri dari pedagang jujur semakin kedatangan pedagang licik yang penuh penipuan. Pasar saham yang seharusnya dibeli oleh investor sesungguhnya belakangan digantikan dengan para spekulan bursa. Akhirnya disinyalir bahwa kekacauan di Wall Street itu disebabkan oleh short-term selling. Jelas sekali bahwa yang melakukan short-term selling itu bukan investor melainkan spekulan. Jelas masyarakat Kristen lahir baru tidak biasa dengan pedagang yang penuh penipuan. Ketika penulis masih kecil sempat menyaksikan orang kampung memasukkan tanah atau batu ke dalam gumpalan karet (kulat) supaya lebih berat timbangannya. Kini orang-orang mengoplos bensin dengan minyak tanah, mencampur beras dengan batu, mengawetkan ikan atau makanan bukan lagi dengan es tetapi dengan formalin, menambahkan melamin ke dalam susu supaya terasa lebih gurih. Semua ini tidak terpikirkan oleh orang Kristen lahir baru. Pohon tengkawang ditebang, pohon durian dikarbit supaya buahnya rontok serentak, ikan ditubah atau dibom. Semua ini merusak secara jangka panjang dan adalah hal-hal yang tidak ada di benak orang Kristen lahir baru. Kalau gerombolan DPR lebih banyak koruptor daripada idealis yang rela kelaparan demi prinsip, orang berhikmat tahu bahwa negara demokrasi demikian pasti akan semakin buruk keadaannya.

Jadi, yang membuat AS hebat itu demokrasi atau kekristenan yang alkitabiah? Jelas kekristenan yang alkitabiah yang telah menyebabkan masyarakat memilih sistem yang demokratis, dan sistem itu dengan nilai kekristenan telah bergandengan tangan menciptakan kebaikan dalam segala bidang. Kini, setelah sekian abad, iblis mengirim imigran ke AS sambil merusak masyarakat tersebut dengan memanfaatkan kebebasannya

dengan mesin Hollywood. Iblis menyerang melalui bidang pendidikan sehingga semakin banyak profesor yang bukan hanya sekedar Kristen KTP, bahkan non-Kristen juga mengajar di universitas-universitas yang didirikan oleh orang-orang Kristen yang sangat mengasihi Tuhan. Mahasiswa Kristen AS tidak sanggup mempengaruhi imigran non-Kristen yang belajar di sana, melainkan mereka yang dipengaruhi sehingga semakin tidak percaya diri sebagai orang Kristen.

Oh...iblis sedang menghancurkan AS, negara yang didirikan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan, negara yang paling banyak mengirim misionari ke berbagai belahan bumi. Melalui krisis keuangan yang baru terjadi, iblis sedang menghancurkan AS secara ekonomi dan pasti akan membawa efek ke segala bidang. Rakyat AS yang kesulitan ekonomi akan memilih presiden yang pokoknya bisa memberikan peningkatan ekonomi, tidak masalah dia itu memegang prinsip kekristenan atau tidak. Bahkan umat agama lain pun suatu hari akan dipilih mereka jika yang bersangkutan bisa memimpin kepada kejayaan ekonomi. Herankah kita kalau anti-Kristus muncul menawarkan diri kepada dunia sebagai Economy-Champion dan dunia serta-merta menyanjungnya? Saat itulah ia akan menguasai dunia dan tidak ada yang bisa menjual atau membeli tanpa seijinnya.***

Buletin PEDANG ROH 58, Jan-Maret 2009