Jumat, 27 Februari 2009

BAHAYA CALVINISME–TULIP: Irresistible Grace (Anugerah Yang Tidak Bisa Ditolak)

Irresistible Grace (Anugerah Yang Tidak Bisa Ditolak)

Sama seperti Limited Atonement, Irresistible Grace adalah poin nalar lanjutan dari serangkaian nalar Calvin. Karena nalar mereka menyimpulkan bahwa Kristus hanya memilih sebagian orang sehingga Ia tidak mungkin menebus semua orang, maka penebusan Kristus sewajarnya bersifat terbatas dari situ terciptalah konsep Limited Atonement. Nalar lanjutannya, jika Kristus hanya memilihi sebagian kecil orang untuk masuk Sorga, dan hanya menebus mereka saja, maka orang yang terpilih serta yang tertebus tidak mungkin dapat menolak anugerah itu. Inilah dasar dari konsep Irresistible Grace.

Bisakah disimpulkan bahwa sesungguhnya ada orang yang pada dasarnya tidak ada keinginan masuk Sorga namun apa boleh buat karena telah terpilih maka tidak dapat menolak sehingga terpaksa masuk Sorga? Sebaliknya ada orang yang sangat ingin masuk Sorga namun saying sekali ia tidak terpilih dan akhirnya masuk neraka? Sebagian Calvinis mengiyakan dan sebagian membantah.

Pertanyaan setiap pembaca tentu adalah, apakah konsep Irresistible Grace adalah konsep Alkitab, atau itu adalah konsep ciptaan John Calvin sendiri yang kemudian dibela secara gigih oleh para pengikutnya? Mari kita lihat kata Alkitab.

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)

Jika manusia tidak bisa menolak anugerah Allah, maka usaha Yosua untuk orang Yahudi adalah suatu perbuatan yang tak perlu. Yosua menegaskan bahwa ia dan seisi rumahnya akan memilih beribahadah kepada Tuhan (YAHWEH). Ia memberi kebebasan kepada rakyat Israel untuk memilih beribadah kepada Allah Abraham saat di Mesopotamia, atau allah orang-orang Kanaan. Ia dengan mantap mengatakan bahwa ia memilih beribadah kepada Tuhan.

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Matius 19:16-22)

Banyak Calvinis menghadapi masalah dengan perikop Alkitab ini. Yang gegabah biasanya langsung menjawab bahwa orang muda ini memang bukan orang pilihan Tuhan. Tetapi pertanyaannya ialah, mengapa mengajaknya untuk mengikutiNya? Ini adalah salah satu contoh yang sangat nyata bahwa Irresistible Grace bukanlah konsep Alkitab melainkan konsep Calvin yang merupakan terusan dari seluruh rangkaian filsafatnya yang terdiri dari lima poin.

Mat 23:37 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.


Luk 10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.

Yoh 16:1 “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.

Kis 3:14 Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu

I Tes 4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu

Ibr 12:25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?

Ini hanyalah sebagian ayat dari begitu banyak ayat dan contoh peristiwa dimana manusia bias menolak anugerah Allah. Padahal di kalangan Calvinis terdapat banyak orang yang terpelajar dan pintar. Namun mereka memilih mengikuti nalar John Calvin bahwa anugerah Allah tidak bisa ditolak daripada percaya kepada ayat-ayat Alkitab. Mereka terpaku pada sifat kedaulatan Allah tanpa mau mengerti bahwa Allah telah menciptakan malaikat dan manusia yang diberi kemampuan berpikir dan kehendak bebas. Allah adalah pribadi yang konsekuen, sehingga sekali Ia telah memberikan kebebasan berpikir Ia menghargai kebebasan itu. Dan tentu Allah berdaulat untuk menghancurkan manusai seperti yang telah dilakukannya pada zaman Nuh. Ia juga telah menghalangi keledai Bileam untuk mencapai tempat Balak. Namun Allah tahu bahwa hati Bileam tetapi ingin pergi agar bias mendapatkan uang. Akhirnya Allah mengizinkannya tiba pada Balak. Bileam dibayar untuk mengutuk Israel, dan Allah berdaulat untuk membelokkan lidahnya sehingga yang terucapkan justru berkat.

Sejak Allah menciptakan malaikat dan manusia dengan hati yang bebas untuk mengambil keputusan, mereka betul-betul bebas. Jika Allah tidak menghendaki keputusan hati mereka yang bebas, Allah cukup berdaulat untuk melenyapkan mereka dari muka bumi, atau merubah mereka menjadi binatang seperti yang dilakukannya terhadap Nebukadnezar. Tetapi selagi obyek tersebut adalah manusia yang normal, sebagai kelengkapannya adalah pikirannya yang mampu mengambil keputusan dan hatinya yang bebas. Jika kelengkapan ini tidak dimiliki lagi maka obyek tersebut bukan manusia lagi. Allah tentu tahu konsekuensi ini sejak sebelum Ia menciptakan alam semesta. Ia memutuskan untuk menciptakan malaikat dan manusia karena Allah ingin disembah oleh makhluk yang berpikiran cerdas dan berhati nurani yang bebas. Ia bisa menolak bahkan menetang Allah dan juga bisa menerima bahkan menyembah Allah. Disitulah nikmat Sang Pencipta, yang telah menciptakan malaikat dan manusia ketika manusia dengan kehendak bebasnya memilih menyembahNya.

Tidak ada komentar: