Selasa, 28 Juli 2009

SINYAL YANG SALAH

Kejatuhan Manusia

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak bisa hidup bersama Allah yang maha kudus di Sorga yang maha kudus. Di dalam hati manusia pernah muncul keinginan jahat untuk menyamakan dirinya dengan Allah. Manusia pernah menyangsikan Allah dan mempercayai iblis. Kejahatan ini harus dihukumkan baru bisa selesai. Sifat kemahaadilan Allah tidak bisa membiarkan kesalahan tanpa mendapatkan penghukuman. Penghukuman yang telah diumumkan Allah ialah hukuman mati.

Namun karena kasih Allah yang sangat besar, Ia merencanakan untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan. Adam dan Hawa harus mengaku salah dan menyesali kesalahan (bertobat), dan percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan kirim Juruselamat untuk menggantikan mereka dihukumkan. Mereka pernah tidak percaya kepada Allah. Selanjut­nya jika mereka mau dosa mereka terhitung ditanggungkan pada Sang Juruselamat maka mereka harus percaya. Mereka harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Dan sebagai tanda percaya mereka harus melakukan ibadah simbolik yang menggambarkan penghukuman yang akan dijatuhkan kepada Sang Juruselamat dengan menyembelih seekor binatang di atas mezbah sambil mengaku salah. Ibadah ini akan selalu mengingatkan mereka pada janji Allah.

Ayah Pemberi Sinyal Pertama

Seorang ayah harus mengajarkan kebenaran ibadah simbolik sederhana ini kepada anak-anaknya. Demikianlah praktek ibadah simbolik ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut agar mereka ingat terus pada janji Allah. Ayah harus memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa dosa mereka harus diakui dan disesali (bertobat) dan mereka harus percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juru­selamat untuk dihukumkan menggantikan mereka.

Kalau seorang ayah mengajarkan konsep yang salah, itu sama artinya memberi sinyal yang salah kepada anak­anaknya sehingga mereka tersesat. Pada zaman itu ayah adalah tiang penopang dan dasar kebenaran bagi anak-anaknya. Secara rohani mereka berjalan berpandukan pada sinyal yang diberikan oleh ayah mereka. Kalau sinyal dari sang ayah salah, maka tersesatlah anak-anaknya. Itulah yang mung-kin dialami oleh Nimrod dari kakeknya Ham.

Bangsa Israel Pemberi Sinyal Untuk Semua Bangsa

Setelah manusia tersebar ke berbagai penjuru dunia, maka Allah membangun sebu­ah bangsa untuk memberi sinyal yang tepat kepada bangsa lain. Allah akan menggenapi janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Setiap manusia yang ingin dosanya diperhitungkan telah selsai terhukumkan harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Ia harus percaya bahwa Sang Juruselamat AKAN menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya.

Seluruh rangkaian ibadah simbolik yang dipusatkan di Kemah Kudus, dan kemudian di Bait Kudus yang dibangun Salomo, adalah upacara pengingat akan janji Allah bahwa Ia telah berjanji untuk mengirim Juruselamat. Sang Juruselamat akan dihukumkan untuk menanggung dosa seisi dunia (Yoh.1:29), dan setiap orang yang percaya kepadaNya maka Allah akan menghitung dia sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman. Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan. Kebenaran ini adalah sinyal yang harus dipancarkan bangsa Yahudi kepada semua bangsa di muka bumi.

Jika bangsa Israel lalai maka bangsa­-bangsa lain akan sesat dan celaka karena si­nyalnya ternyata menyesatkan. Itulah sebab­nya Allah sangat marah ketika bangsa Yahudi tidak setia pada peran mereka. Seluruh rang­kaian ibadah lengkap dengan keimamatan Harun yang didirikan adalah acara simbolik yang sedang dipakai Allah untuk mengajar­kan kebenaran hakekat yang akan datang (Ibr.10:1-3). Itulah sebabnya juga Allah sangat marah kepada Saul yang tidak setia pada aturan (doktrinal) bahwa hanya imam yang boleh membakar korban. Dosa Daud bersangkut paut dengan moral, sedangkan dosa Saul bersangkut paut dengan doktrin keselamatan.

Kesalahan moral memang dosa, namun dosa seisi dunia telah ditanggung Yesus Kris­tus. Manusia yang berdosa secara moral hanya perlu mengaku salah dan menyesali­nya. Kesalahan doktrinal akan menyebabkan kebinasaan, akan menyebabkan penyimpang­an iman, bahkan akan menyesatkan banyak orang yang mendengarkannya, karena akan menyebabkan manusia salah mengerti program penyelamatan dari Allah. Tuhan marah pada Saul dan Tuhan benci setiap raja yang menyebabkan kesalahan doktrinal (menuntun kepada kesesatan). Bangsa Israel ditunjuk sebagai pemberi sinyal, kalau sinyalnya salah maka bangsa lain akan sesat.

Jemaat Lokal Pemberi Sinyal Zaman Perjanjian Baru

Tugas bangsa Israel sebagai pemberi sinyal bagi bangsa lain selesai pada saat Yohanes muncul mengumumkan kedatangan Sang Juruselamat (Luk.16:16, mat.11:13). Zaman ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat telah digenapi dengan datangnya Sang Jurselamat. "Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran" (Yoh 4:23).

Kini Tuhan membangun jemaatNya yang tidak dikuasai sekalipun oleh alam maut (Mat.16:18) dan ditargetkan akan tersebar ke seluruh muka bumi (Kis.1:8). Tuhan memakai jemaat memberitakan tentang kedatangan Sang Juruselamat kepada setiap manusia, bahkan dihiperbolkan hingga setiap makhluk (Mark.16:15-16). Setiap orang yang percaya dididik untuk menjadi murid dengan didahului sebuah upacara yang menandakan Injil yang telah menyelamatkan mereka, yaitu diselamkan ke dalam air (Mat.29:19-20, Rom.6:3-4). Setelah itu maka terbentuklah kawanan "domba" yang perlu digembalakan dengan penuh kasih kepada Tuhan (Yoh.21:15-17). Kumpulan domba Allah ini juga disebut jemaat Perjanjian Baru, Tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Jemaat inilah yang ditugaskan untuk memberi sinyal yang benar kepada dunia tentang keselamatan jiwa tiap-tiap manusia. Jemaat harus memberitakan Injil keselamatan yang setepat-tepatnya agar setiap manusia yang mendengar dan percaya bisa mendapatkan kepastian masuk Sorga. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun karena kesalahan kecil pasti akan berkembang menjadi kesalahan besar. Dan Injil yang telah salah tidak akan dapat menyelamatkan pendengarnya lagi.

Betapa pentingnya posisi jemaat lokal di zaman Perjanjian Baru ini. Ia sama dengan posisi ayah pada zaman Adam hingga hukum Taurat diturunkan, dan juga sama posisinya dengan bangsa Yahudi dari Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil. Zaman ayah sebagai imam dan tiang penopang adalah zaman family-altar, sekarang bukan zaman family-altar. Kelompok "abba-love" yang ingin mempertahankan posisi keimamatan ayah lahir ketelatan. Jika mereka ingin memperta­hankan keimamatan ayah semestinya mereka lahir pada zaman Abraham. Bahkan sejak Harun ditetapkan sebagai imam, keimamatan ayah dihentikan, itulah sebabnya sejak penetapan Harun tidak ada lagi ayah yang memberkati anak-anaknya seperti seorang imam seperti yang dilakukan Yakub (Kej.49). Tentu seorang ayah boleh bahkan harus berdoa kiranya Tuhan memberkati anak-­anaknya.

Iblis Mengacaukan Sinyal

Sebagaimana ia telah lakukan baik terhadap para ayah dari zaman Adam hingga zaman Musa, dan mengacaukan bangsa Israel dari sejak di gunung Sinai hingga tampilnya Yohanes, demikian jugalah Iblis tidak tinggal diam membiarkan jemaat Tuhan bertugas memberi sinyal yang tepat kepada dunia.

Seandainya para ayah sejak Adam kokoh mempertahankan kebenaran yang disampai­kan Allah kepada mereka, setia melakukan ibadah simbolik sederhana sambil mengaku salah dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan, maka peristiwa Nuh tidak perlu terjadi. Tetapi Kain sengaja membangkang secara doktrinal dengan mempersembahkan hasil tanaman bukan binatang yang bisa mencurahkan darah. Allah menetapkan binatang (domba) sebagai simbol Sang Juruselamat yang dijanjikan. Namun Kain berusaha menggantikannya dengan benda lain (hasil tanaman).

Setelah ditegur Kain bukannya bertobat, malahan membunuh adiknya. Seterusnya keturunan Kain merusak bumi dengan pembangkangan mereka dan menghasilkan manusia bejat pada zaman Nuh. Untunglah Nuh masih setia, dan tetap melakukan ibadah simbolik yang Tuhan perintahkan. Bahkan ketika kapalnya mendarat di gunung Ararat, hal pertama yang Nuh lakukan ialah men­dirikan sebuah mezbah dan mempersem­bahkan seekor binatang halal (domba). Tetapi cucu Ham yang bernama Nimrod menguasai bumi dan memimpin penentangan kepada Sang Pencipta. Sebagai penghukuman, Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga manusia tersebar sesuai kelompok bahasa masing-masing.

Sejak Allah mendirikan sebuah bangsa sebagai pemancar sinyal kepada segenap bangsa yang tersebar, iblis tidak berdiam diri. Bahkan pada hari peresmian mereka sebagai bangsa, ketika Musa dan Yoshua sedang menjemput UUD (Taurat) di atas bukit, di bawah iblis memanfaat situasi dan menyebab­kan dosa yang sangat besar, yaitu pembuatan dan penyembahan lembu emas.

Ketika Allah memilihkan sebuah lokasi, yaitu Timur Tengah, tempat yang paling strategis untuk memancarkan sinyal ke Eropa, Afrika dan Asia, iblis berusaha menggagalkan sehingga mereka tertunda 40 tahun. Namun akhirnya mereka memasuki tanah Kanaan dan bertugas memancarkan sinyal dari Allah. Ibadah simbolik yang berpusat pada Kemah Suci sesungguhnya adalah rangkaian ibadah pengingat akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk menyelesaikan dosa manusia. Semua orang yang percaya pada janji Allah harus bertobat dan meman­dang ke depan, kepada Sang Juruselamat yang akan datang sambil dengan setia melakukan ibadah simbolik yang menggambarkanNya.

Pada zaman Salomo adalah puncak kesuksesan bangsa Yahudi memancarkan kebenaran dan kebesaran Jehovah ke segala arah. Ratu negeri Syeba yang nun jauh dari Selatan mendapat sinyal dan datang ke Yerusalem, selain mengagumi Salomo tentu termasuk mengagumi ibadah simbolik dan semua pengajaran para nabi.

Raja Yerobeam yang seharusnya tetap setia kepada Allah karena telah mendapatkan sebagian besar kerajaan Daud, ternyata malah memimpin sepuluh suku menyembah berha­la. Zaman raja Manasye adalah zaman yang paling dahsyat penyimpangannya. Bangsa Israel yang sepatutnya memberi sinyal tentang Sang Pencipta langit dan bumi, yang dipanggil Jehovah dengan janji penyelamat­an yang direncanakan malah memberi sinyal yang salah.

Seandainya bangsa Israel sukses meman­carkan kebenaran, maka Sidharta Gautama akan mendapat penerangan (buddha) melalui mengunjungi Yerusalem seperti Ratu Syeba. Kong Fu Tse akan mendengar tentang hukum Taurat, hukum pertama di bumi yang sangat lengkap. Dan para filsuf Yunani sepatutnya tidak berfilsafat secara ngacok memperta­nyakan makna kehidupan dan mempertanya­kan asal-usul kehidupan. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Hanya segelintir orang yang SANGAT AMAT mencintai kebenaran, yang walaupun sinyal-nya agak kacau namun karena mereka berusaha mengamati dengan sangat seksama sehingga masih menemukan arah. Mereka adalah sida-sida dari Etiopia, Kornelius seorang komandan pasukan yang berbangsa Romawi dan lain-lain.

Iblis Mengacaukan Sinyal Gereja

Kalau iblis mengacaukan ayah pada zaman ayah berfungsi sebagai penopang kebenaran, dan mengacaukan bangsa Israel saat bangsa itu sebagai tiang kebenaran, mungkinkah ia akan diam dan tidak mengutak-atik jemaat lokal di masa jemaat lokal berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15)? Mustahil!

Hal pertama yang iblis lakukan dalam rangka mengacaukan gereja adalah mengacaukan pemahaman antara doktrin dan kehidupan sehari-hari. iblis berusaha mengen dalikan pengajar di gereja untuk memberi perhatian lebih besar pada topik kasih daripada pengajaran. Betul sekali, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu

saling mengasihi" (Yoh.13:34-35). Tetapi tentu tidak boleh lupa perkataan Tuhan, "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerde kakan kamu" (Yoh.8:31-32). Dan juga perintah Tuhan dalam Amanat Agung, "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Mat.28:20).

Tidak ada satu denominasi kekristenan pun yang berani mengabaikan kasih karena itu jelas-jelas perintah yang tertera di dalam Alkitab. Namun banyak yang salah menerapkannya, misalnya yang terang-terangan salah seperti yang diajarkan The Children of God. Namun banyak denominasi gereja salah menerapkan kasih jika lebih menekankan kasih di luar doktrin yang benar. Bahkan lebih salah lagi jika mementingkan kasih sambil mengabaikan doktrin. Kasih tanpa doktrin kekristenan yang alkitabiah sesungguhnya bukan lagi kasih kekristenan melainkan Buddhisme. Bahkan kelompok Buddha telah sedemikian mengekspos kasih hingga mendirikan stasiun TV yang bernama DAAI (kasih besar).

Ketika orang Kristen bingung antara memancarkan kasih (charity) atau doktrin keselamatan alkitabiah, maka kesuksesan iblis mulai terlihat. Orang Kristen dan organisasi Kristen mengumpulkan dana untuk menolong masyarakat miskin dunia ketiga (Negara Islam) dengan mematuhi tekanan pemerintah untuk hanya memberi bantuan tanpa berita Injil, maka iblis mulai tertawa. Iblis membisikan "terima sum-bangannya, jangan percaya pada Tuhannya. Sambut makanan yang diberikan dan tutup telinga terhadap Injilnya." Itulah yang terjadi di Afrika bahkan di Aceh dan di mana-mana.

Kasih yang benar, yang alkitabiah,memberi kebutuhan yang terutama bersamaan dengan kebutuhan lainnya. Kebutuhan utama ialah keselamatan jiwa, kesempatan berdamai dengan Allah. Doktrin alkitabiah adalah paket kasih yang tak terpisahkan, bahkan komposisi utama dalam seluruh paket kasih kekristenan.

Dalam perjalanan sejarah, gereja telah berkali-kali menyimpang. Bahkan di saat Rasul-rasul masih hidup, di Galatia telah berdiri gereja "Advent" yang menggabungkan kekristenan dengan Yudaisme. Oleh Kaisar Konstantin iblis juga telah berhasil menjadi kan kekristenan agama gabungan dengan memasukkan konsep penyembahan dewa matahari dan dewa-dewi Yunani. Hasilnya doktrin GEREJA ROMA yang AM memancarkan sinyal yang kacau selama seribu tahun lebih. Agustinus pendiri Gereja Roma yang Am mengajarkan bayi harus dibaptis untuk menghilangkan dosa asalnya. Dan ia menciptakan acara Perjamuan Kudus yang bermanfaat untuk keselamatan. Ini pengajaran yang sangat sesat yang di kemudian hari diadopsi oleh John Calvin. Baik Agustinus maupun John Calvin telah memancarkan sinyal yang menyesatkan.

Kelompok Kristen Nestorian yang berkembang di wilayah Jazirah Arabiah juga sangat sesat sehingga memberi sinyal yang salah. Kalau tidak, pasti Muhammad menga minkan ketritunggalan Allah. Dan seandainya Kristen Nestorian mengerti bahwa proses pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu 22:21, maka keluarga Muhammad pasti mengerti bahwa tidak ada wahyu tambahan yang turun pada abad ke-6, dan bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Kesalahan Nestorian yang percaya Allah yang satu pribadi kini diperbarui dan dipromosikan kelompok Saksi Jehova, dan keyakinan proses pewahyuan yang masih berjalan dikembang­ kan kelompok Kharismatik.

Kini, di abad 21 muncul ribuan denomi­nasi dengan segala macam ragam penafsiran. Tentu fenomena ini akan sangat mempersulit manusia menemukan kebenaran, karena begitu banyak pengajaran yang harus disortir. Namun sesungguhnya apapun keadaannya, manusia yang ingin masuk Sorga tetap bertanggung jawab untuk menilai mana yang benar untuk diyakininya. Seperti seorang kapten yang sedang berada di tengah lautan kehidupan, menyadari bahwa iblis mendirikan begitu banyak mercusuar palsu, itu sama sekali tidak berarti ia lepas tanggung jawab untuk menyandarkan kapalnya di pelabuhan dengan selamat. Memang fenomena itu akan sangat menyulitkannya sehingga ia harus mengerahkan segenap konsentrasinya untuk mendeteksi mercusuar yang benar dari yang palsu. Dan apa jadinya jika ia putus asa dan dengan sembarangan menabrakkan kapal kehidupannya? Celaka! Hati-hati, saya sama sekali tidak memaksudkan seseorang selamat oleh usaha dirinya atau kepintaran dirinya menjalankan kapal kehidupannya. Anugerah keselamatan sepenuhnya dari Allah, manusia tidak berjasa sedikitpun melainkan hanya menerima saja. Namun sekalipun hanya menerima, jika iblis juga berlagak sebagai, Allah dan menawarkan anugerah keselamatan semu, maka orang yang akan selamat adalah yang menerima anugerah keselamatan asli dari Allah yang asli.

Banyak orang Kristen, bahkan penyampai Firman dan Gembala Jemaat yang bingung serta putus asa, berkata bahwa kita tidak mau berbicara tentang doktrin. Gereja kami tidak mau bicara tentang doktrin. Aneh bukan? Apakah artinya yang dibicarakan gerejanya adalah dongeng nenek tua?

Apa yang membedakan satu agama dengan yang lain? Doktrin! Apa yang membedakan satu denominasi dengan yang lain? Doktrin! Dan apa yang membedakan satu gereja dengan yang lain? DOKTRIN! Seorang Gembala atau Pengkhotbah harus mempelajari doktrin dan harus membanding­kan berbagai doktrin dan menghakimi dengan Alkitab serta memutuskan yang menurutnya paling benar, dan memancarkannya. Gereja atau jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran, adalah pemancar sinyal kebenaran (mercusuar) ke sekelilingnya. Dunia menga­mati sinyal-sinyal yang dipancarkan gereja. Bayangkan, kalau gereja menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadanya, dengan tidak peduli hal doktrinal sehingga bertindak sembarangan. Ia tidak mau bahkan tidak tertarik hal doktrinal, namun tetap terus memancarkan sinyal. Sudah pasti sinyalnya Kristen akan menyesatkan banyak orang. Renung­kanlah!

(Suhento Liauw, DRE, Th.D, Buletin PEDANG ROH 60 Juli-Sept 2009)

Berita Mingguan 25 Juli 2009

Sumber:Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E.Liauw

Graphe International Theological Seminary

Untuk berlangganan, kirimemail ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

ATHEIS TERKENAL MENGATAKAN BAHWA DUNIA MUNGKIN SAJA DIDESAIN OLEH ALIEN

Dalam sebuah wawancara dengan Ben Stein di film dokumenter berjudul Expelled: No Intelligence Allowed, Richard Dawkins sang atheis mengakui bahwa mungkin saja ada "desain intelijen." Dawkins, penulis dari buku The God of Delusion, adalah seorang atheis yang mencoba dengan sangat konyol memerangi sang Mahakuasa. Ia menyebut Allah dalam Alkitab sebagai "karakter yang paling tidak menyenangkan dalam semua fiksi" dan seorang "tukang pukul yang jahat dan tidak dapat ditebak." Ben Stein menanyakan Dawkins, "Siapa yang menciptakan langit dan bumi? Bagaimana semuanya terjadi?" Dawkins menjawab, "Tidak seorangpun tahu bagaimana ini semua terjadi. Kita tahu kejadian apa yang pastinya memulai kehidupan. Yaitu permulaan molekul pertama yang dapat menggandakan diri." Stein bertanya, "Menurutmu berapa kemungkinannya bahwa desain intelijen ternyata adalah jawaban atas beberapa isu dalam bidang genetika?" Terhadap pertanyaan ini, Dawkins memberikan jawaban berikut yang mencengangkan: "Bisa saja di suatu waktu sebelumnya, di suatu tempat di alam semesta ini, suatu kebudayaan berevolusi, mungkin menurut metode-metode Darwin,kepada suatu tingkat teknologi yang sangat-sangat tinggi, dan mereka mendesain bentuk kehidupan yang lalu mereka tanamkan di planet ini. Ini adalah suatu kemungkinan dan kemungkinan yang menarik, dan saya rasa anda mungkin saja menemukan bukti untuk itu jika anda melihat detil- detil biokimia dan biologi molekuler, anda mungkin menemukan tanda-tanda seorang desainer. Dan desainer itu bisa saja adalah intelijen yang lebih tinggi yang berasal dari tempat lain di alam semesta. Intelijen yang lebih tinggi itu tentunya harus muncul dari suatu proses yang pada akhirnya tidak dapat kita jelaskan. Tidak mungkin itu muncul menjadi eksis dengan spontan begitu saja."Jadi, Richard Dawkins mengakui bahwa kehidupan tidak mungkin muncul menjadi eksis dengan begitu saja, bahwa ada bukti akan seorang desainer yang intelijen, tetapi karena ia telah menolak Tuhan Alkitab, ia masuk ke area abu-abu dan tidak jelas mengenai "alien."Dan ini adalah orang yang sama yang mengolok-olok orang-orang yang percaya Tuhan. Tidak ada orang yang lebih buta daripada orang yang menolak untuk melihat. "Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya" (2 Petrus 3:3).

NEGARA-NEGARA BERKEMBANGMENCARI "TATANAN DUNIA BARU"

Bertemu di Mesir tanggal 11-16 Juli, para pemimpin gerakan Non-blok berseru untuk munculnya tatanan dunia baru. Organisasi ini mewakili 118 negara, termasuk India, Pakistan, Kuba, Mesir, dan hampir semua negara Afrika. Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Abul Gheit berkata bahwa pertemuan itu "menuju kepada suatu tatanan dunia baru" (AFP, 16 Juli 2009). Simbolkonferensi tersebut adalah seekor merpati dengan daun ara dimulutnya. Alkitab mengatakan bahwa "tatanan dunia baru "memang pasti datang, dan kepalanya akanlah sang antikristus. Ia akan berkuasa melalui program damai yang menipu, tetapi kemudian dia akan meninggikan diri sebagai Allah (1 Tes. 5:3; 2 Tes. 2:3-4). Dia akan mengendalikan ekonomi dunia dengan tangan besi (Wah. 13:16-17).

DILEMA SANG EVOLUSIONIS: KETERATURAN DAN DESAIN

Sebuah film dokumenter National Geographic mengenai menghilangnya lebah madu mengingatkan kita mengenai dilema sang evolusionis, yaitu keteraturan dan desain. Diberi judul "Keheningan sang Lebah," film dokumenter itu menggambarkan menghilangnya lebah-lebah secara dramatis dari Amerika dan negara-negara lain sejak 2006. Film itu mulai dengan melihat lebah itu sendiri. Setelah menyatakan bahwa lebah berevolusi, dokumenter itu menentang pernyataan tersebut dengan menunjukkan betapa sempurnya lebah didesain untuk tugasnya mempolinasi bunga dan membuat madu. Para ilmuwan yang mempelajari lebah bahkan berbicara mengenai "desain" mereka, tetapi hal ini bertentangan dengan evolusi buta. Perhatikan bahasa yang dipakai oleh dokumenter tersebut: "Para lebah melakukan pekerjaan yang sudah mereka lakukan selama 100 juta tahun, sejak mereka berevolusi bersama dengan tumbuhan-tumbuhan berbunga dan MEMBENTUK KERJASAMA YANG SEMPURNA.Lebah mencari pollen yang tinggi protein dalam bunga dan tumbuhan itu memberikan mereka suatu cairan bergula yang disebut nektar. Ada lebah yang mengembangkan ANATOMI YANG TERSPESIALISASI untuk menuai nektar secara efisien. Yang terutama di antara mereka adalah Apis mellifera, lebah madu. SEBUAH KEAJAIBAN ARSITEKTURAL, DESAIN lebah madu adalah PERPADUAN ELEGAN ANTARA FUNGSI DAN BENTUK. Sebuah belalai untukmengorek nektar yang tersimpan di lipatan-lipatan dalam sebuah bunga, dan rahang yang kuat untuk makan, memberi makan anak-anaknya, danuntuk mengerjakan lilin. Dua mata majemuk masing-masingnya terdiridari 6900 lensa dan dipenuhi oleh rambut-rambut sensoris untuk mendeteksi kecepatan angin. Tiga mata tambahan (di atas kepala lebah) menerima sinyal cahaya sebagai petunjuk arah. Empat sayap yang bergantung pada kait-kait kecil berkepak lebih dari 200 kali perdetik. Untuk pertahanan, [lebah memiliki] sengat yang bergerigi tajam di dua sisi yang dapat dia pakai hanya sekali dengan harga nyawanya. Kaki belakangnya melebar menjadi keranjang-keranjang khusus untuk membawa muatan pollen yang berat ke sarang. Rambut-rambut yang berbulu menutupi tubuhnya dan akan mengoleksi listrik statis sambil lebah itu terbang. Ketika lebah mendarat di sebuah bunga, pollen secara literal akan melompat ke tubuhnya. Mereka hanyalah BENDA YANGDI-ENGINEER SECARA LUAR BIASA, SEMPURNA UNTUK SEMUA AKTIVITAS YANGMEREKA LAKUKAN, dan sambil mereka menjalani hidup dan mengubah pekerjaan mereka, semua aspek anatomi mereka bekerja" ("Silenceof the Bee," National Geographic Channel, 2007). Perhatikan bahwa lebah tidak mungkin adalah hasil dari kemungkinan buta. Ia jauhterlalu rumit dan ia beroperasi dalam sinergi dengan bunga. Lebah itu haruslah sudah "berevolusi" secara penuh pada saat yang sama bunga muncul, juga secara penuh. Di sini ada "kompleksitas yang tak dapat disederhanakan. " Seekor lebah madu tanpa anatomi yang sempurna terbentuk, tidak akan bisa mem-polinasi bunga, danbunga yang tidak terbentuk sempurna tidak akan bisa menyediakan materi yang dibutuhkan oleh lebah. Lebih lanjut lagi, baik bunga maupun lebah dapat berkembang biak melalui kode genetik yang rumit.Tidak ada satu hal pun yang menunjuk kepada evolusi, tetapi semua menunjuk dengan lantang kepada ciptaan ilahi bagi mereka yang punya mata untuk melihat.

SAKSI JEHOVAH: SINYAL YANG MEMBINASAKAN

Seandainya dari awal Saksi Jehovah masuk Indonesia seperti denominasi lain, tanpa dihimpit oleh pemerintah, maka mungkin mereka akan hanya memiliki beberapa beberapa gereja seperti Mormon dan Christian Science. Terlebih lagi jika gereja-gereja Protestan membekali anggota jemaat tentang poin-poin kesesatan Saksi Jehovah, maka mereka pasti tidak bisa mendapatkan banyak orang.

Namun kelompok Protestan telah salah sikap, memakai tangan pemerintah meng­hadang mereka di permukaan, sehinggamemaksa mereka bergerak di bawah. Akhirnya bukan rahasia lagi bahwa mereka berjalan dua-dua orang memasuki rumah orang Kristen, mempertanyakan komposisi iman mereka, dan mulai memasukkan pengajaran mereka. Hasilnya, jumlah mereka tak terhitung, dan jaringan mereka menggurita.

Kebiasaan menggunakan tangan pemerintah bukan hanya tidak efektif bahkan selain membuktikan yang bersangkutan tidak memiliki argumentasi, juga menciptakan tantangan bagi yang dihimpit untuk berjuang lebih keras. Sepatutnya gereja yang merasa dirinya lebih alkitabiah dari Saksi Jehovah menyelenggarakan seminar, dan menerbitkan berbagai traktat dan buklet untuk memperkuat iman jemaat dan menjelaskan poin-poin kesalahan pengajaran Saksi Jehovah.

Sejarah Singkat Saksi Jehovah

Charles Taze Russel lahir 16 Februari 1852, Pittsburgh, Pennsylvania. Sejak remaja Ia sangat menentang adanya Neraka yang menghukum orang, dan ia sangat menentang institusi agama (gereja). Pada saat umur 18, tahun 1870 ia mengumpulkan orang-orang untuk pelajaran Alkitab, dan pada tahun 1878 kelompok PA-nya mentahbiskannya sebagai Pastor.

Dari tahun 1876 hingga 1878 Russell adalah seorang asisten editor dari sebuah majalah bulanan di Rochester, New York. Kemudian ia berhenti karena kontroversi dari tulisannya tentang Penebusan Kristus. Setelah meninggalkan posisi asisten editor, Russell menerbitkan The Herald of the Morning (1879), yang hari ini berkembang menjadi The Watchtower Announcing Jehovah's Kingdom. Diawali dengan oplah 6000 examplar menjadi 20 juta dan diterjemahkan ke lebih seratus bahasa. Terbitan lain dari Watchtower yang berjudul Awake! dicetak lebih 15 juta examplar dan diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa.

Namun C.T. Russell adalah seorang yang sangat percaya diri, sekalipun ia hanya sekolah sampai kelas-7 (SMP kelas satu), namun ia berusaha mengajar dan memimpin. Sangat tidak heran kalau pengajarannya hanya kebenaran yang parsial bukan kebenaran harmonis yang ditafsir­kan dari seluruh ayat Alkitab dan melalui per­timbangan arti kata dalam bahasa aslinya.

Pada bulan Juni 1912, Gembala Gereja Baptis James Street, Hamilton, Ontario, Rev. J. J. Ross, menerbitkan sebuah pamflet yang isinyamengupas kehidupan moral yang tidak beres dan pengetahuan theologi yang cetek dari C.T. Russell. Tentu Russell kebakaran jenggot dan menuntut Ross ke pengadilan atas tuduhan menghina seseorang. Tetapi tanpa disangka oleh Russell ternyata tuntutannya akhirnya menjadi bumerang yang mempermalukan dirinya amatsangat. Karena ternyata pengadilan memenang­kan Rev. Ross, berhubung semua yang dituliskan oleh Rev. J.J. Ross tentang Russell terbukti benar. Bahwa Russell bukan kepala keluarga yang baikkarena bercerai dengan istrinya, bahwa ia tidak pernah mengecap pendidikan tinggi yang cukup, tidak pernah sekolah theologi, dan bahwa ia tidakmengerti bahasa Ibrani maupun Yunani.

Lucunya ketika Russell ditanya, apakah ia mengerti bahasa Yunani, ia menjawab mengerti. Dan kemudian pengacara membukakan kitab bahasa Yunani dan memintanya membaca satu kata yang paling atas dan dia tidak dapat melaku­kannya. Tentu semua orang yang ada dalam ruang sidang menertawakannya. Dan akhirnya ia harus dengan wajah yang sangat malu mengaku bahwa ia tidak mengerti bahasa Yunani. [Walter Marth, The Kingdom of the Cults, Miniapholis: Bethany House Publishers, 1985, pp 42-47].

Fakta yang sangat mengherankan lagi adalah Russell tidak pernah ditahbiskan oleh organisasi apapun namun menyebut dirinya, dan disebut oleh pengikutnya "Pastor". Walter Marth berkata bahwa sebagai pengkhotbah ia memukau banyak orang, namun sebagai theolog ia tidak memukau siapapun terutama theolog yang terpelajar. Ia tidak memiliki argumentasi theologi yang memiliki dasar, melainkan hanya mengandalkan keberanian dan spekulasi serta kepintaran mengolah kata-kata, berani membuat pernyataan, bahkan berani mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang dengan kebanyakan gereja tanpa argumentasi yang mamadai.

Dalam terbitan The Watchtower, 15 September 1910, halaman 298, Russell menyatakan bahwa orang- orang cukup membaca tulisannya, tidak perlu membaca Alkitab karena tulisannya telah menjelaskan Alkitab bahkan adalah sama dengan Alkitab. Ia berkata kepada pengikutnya bahwa mereka tidak akan sanggup memahami Alkitab dengan jelas dan Ia memahaminya dan akan menjelaskannya untuk mereka. Menurut Russell jika semua orang mengaminkan pengajarannya maka umat manusia akan segera masuk ke dalam sebuah kerajaan yang penuh damai. Jualannya laku keras karena tidak lama kemudian terjadi konflik yang memimpin ke Perang Dunia I. Jualannya lebih laku lagi setelah PD I karena banyak orang yang mengalami depresi oleh PD I.

Setelah kematian C.T. Russell pada tanggal 31 Oktober 1916, selanjutnya Komunitas Menara Pengawas (Watchtower Society) dipimpin oleh Joseph Franklin Rutherford, seorang hakim di kota Boonville, Missouri. Ia adalah seorang yang sangat hebat dalam menulis. Dalam hidupnya ia telah menulis lebih dari seratus buku. Sesungguhnya selain Russell dialah orang yang paling berjasa dalam memba­ngun ajaran sesat Saksi Jehova ini. Pada zaman Russell kumpulan mereka belum disebut Saksi Jehova (SJ). Nama ini diperkenalkan pada masa Rutherford. Kemudian ia meninggal 8 Januari 1942 di Kalifornia karena kanker.

Segera sesudah kematian Rutherford mereka memilih Nathan Homer Knorr se­bagai presiden dari kelompok ajaran sesat Saksi Jehova ini. Knorr adalah rektor dari Gilead Missionary Training School, di New York. GMTS ini tidak menitik berat pada pembahasan Alkitab secara benar melain sekedar pusat latihan (training) bagi pasukan penjual buku yang mengetuk pintu demi pintu. Mereka tidak menghasilkan theolog yang bisa berpikir melainkan hanya mengandalkan tulisan pemimpin mereka yang telah berupa traktat dan buku. Knorr meninggal bulan Juni 1977 kemudian kepemimpinan di bidat Saksi Jehovah dipegang oleh Frederick W. Franz, seorang yang sudah sangat dikenal di kalangan mereka.

Penyimpangan Pengajaran Mereka

Kita merasa sangat kasihan pada orang-orang yang menyerahkan nasib akhir mereka kepada pengajaran dari hasil penafsiran orang yang tidak pernah sekolah theologi, tidak bisa membaca tulisan bahasa asli Alkitab, yang masa kecilnya pernah mengalami tekanan sehingga tanpa alasan ia menyatakan Neraka itu tidak ada. Tentu bukan maksud saya bahwa orang yang tidak pernah sekolah theologi dan tidak bisa baca tulisan bahasa asli tidak akan bisa menafsirkan Alkitab dengan benar, tetapi jika seseorang berani membuat sebuah kesimpulan yang sangat bertentangan dengan pendapat kebanyakan orang ia harus memiliki dasar yang sangat kuat. Kesimpulannya harus pada bahasa asli Alkitab karena Alkitab terjemahan memiliki resiko perubahan arti kata sehubungan kekayaan bahasa yang berbeda antara satu bahasa dengan yang lain.

Pengajaran SJ ini jelas adalah hasil sebuah kesalahfahaman dari berbagai ayat Alkitab. Ia bagaikan faham komunisme yang diindoktrinasikan oleh pemimpin pemimpin mereka ke bawahan sedemikian intens dan sistematis sehingga terpatri ke dalam hati anggota mereka seperti orang ko munis memegang teguh faham komunisme mereka.

Pertama, dari pemilihan nama Saksi Jehova (SJ) itu sudah awal dari bukti ketidakfahaman mereka terhadap konsep kekristenan yang alkitabiah. Nama Jehova adalah nama yang dipilih oleh Sang Pencipta sebagai nama (simbol) dirinya ketika Ia memperkenalkan diri kepada manusia terutama kepada bangsa Israel. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa maka manusia tidak bisa hidup bersama Allah yang mahakudus. Dosa harus diselesaikan, dan penyelesaian dosa hanya dengan penghukuman. Allah berjanji mengirim Juruselamat untuk dihukumkan mengganti kan manusia. Sementara Sang Juruselamat belum tiba, Allah perintahkan ibadah simbolik untuk menggambarkan-Nya. Nah, sehubungan dengan kebutuhan ibadah simbolik inilah nama Jehovah diberikan sebagai simbol yang menunjuk kepada Sang Pencipta.

Ketika janji Allah akan pengiriman Juruselamat digenapi, yaitu kedatangan Sang Juruselamat, yang adalah pribadi Allah sendiri, Ia tidak memakai nama Jehova melainkan memakai nama Yesus, yang artinya Juruselamat. Kalau mereka mengerti kebenaran seharusnya mereka menamakan perkumpulan mereka sebagai Saksi Yesus, bukan Jehova. Kalau mereka mau menjadi Saksi Jehova seharusnya mereka lahir di zaman sebelum penggenapan janji Allah.

Kedua, kesalahfahaman tentang pribadi Yesus yang adalah Allah dalam tubuh manusia. Bukan cuma satu-dua ayat melainkan sangat banyak ayat yang langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Yesus Sang Juruselamat adalah pribadi Sang Pencipta atau Jehova itu sendiri.

Ketika Yohanes Pembaptis ditanya siapakah dia sesungguhnya, ia berkata bahwa ia bukan Mesias tetapi ia adalah "suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (Bahasa Ibrani dibalik kata TUHAN adalah Jehovah), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!" (Yes.40:3). Siapakah yang dimaksudkan oleh Yesaya dengan Jehovah yang dipersiapkan jalannya oleh Yohanes Pembaptis? Yesus Kristus adalah yang memperkenalkan diri dengan nama Jehovah dalam PL, dan kemudian memperkenalkan diri dengan nama Yesus. Bedanya hanya ketika memperkenal- kan diri sebagai Jehovah dilakukan di tengah badai dan guntur sedangkan ketika memperkenalkan diri sebagai Yesus melalui kelahiran dan pertumbuhan sejak bayi. Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa ia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus dan mengutip Yesaya 40:3, dengan demikian menyatakan bahwa Yesus adalah Jehova yang datang mengenakan daging.

Kepada siapakah ayat ini dimaksud, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."(Yes.9:6)? Siapakah yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya dengan " Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai"?

Dan di dalam kitab PB, I Yohanes 5:20 dengan jelas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah (theos), " . . . di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. Bagaimanakah mungkin ada seorang yang jujur dan setia kepada ayat-ayat Alkitab yang bisa menyimpulkan bahwa Yesus Kristus bukan Allah yang menjadi manusia (Fil.2:5).

Namun itulah faham yang diciptakan oleh Russell yang katanya berdasarkan Alkitab, padahal pengajarannya hanya berdasarkan beberapa ayat Alkitab yang mengekpos kemanusiaan Kristus, untuk membangun sebuah komunitas pengikut yang kemudian oleh Rutherford disebut Saksi Jehovah. Karena"pasukan"nya selalu mendapat tantangan dari orang-orang yang mengerti Alkitab, dan mereka seringkali kehilangan kata-kata, maka belakangan baik yang di USA maupun yang di Indonesia, mereka menerbitkan Alkitab dengan mengubah kata-kata Alkitab untuk disesuaikan dengan pemahaman mereka.

Seorang pengikut SJ berkata kepada penulis bahwa dia tidak temukan organisasi kekristenanyang lebih rapi dari SJ, maka dia senang dan meyakini bahwa mereka benar. Bukankah komunisme di Rusia di bawah Stalin dan Lenin lebih rapi dan di China di bawah Moa lebih rapi, dan bukankah Katolik di bawah kepausan mereka jauh lebih rapi? Masalahnya tentu bukan pada rapinya melainkan pada kesesuaiannya dengan Alkitab, dan bukan sesuai dengan sebagian ayat Alkitab, melainkan harus sesuai dengan seluruh ayat Alkitab.

Menurut Walter Martin, dalam buku The Kingdom of the Cults, kelompok SJ telah berani sekali menyimpangkan topik-topik utama pengajaran kekristenan, mengajarkan bahwa tidak ada Neraka padahal Tuhan lebih banyak menyebut Neraka daripada Sorga di dalam Alkitab. Karena Tuhan sangat memperi ngatkan orang akan Neraka sehingga Ia berkata, "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka"(Mat.5:29-30). Namun kelompok SJ menyangkali keberadaan neraka, kemung kinan agar orang-orang lebih berani menjadi pengikut mereka karena tidak ada resiko akan masuk Neraka.

Pembaca yang kami kasihi, penulis tahu bahwa dengan buletin setipis ini mustahil bisa mengungkap seluruh penyimpangan kelompok Saksi Jehova (SJ). Uraian singkat ini hanya sekedar merangsang pembaca untuk menyelidikilagi kelompok-kelompok yang telahmemberi sinyal yang salah, sehingga kalaudi analogikan dengan sinyal kendaraan, mereka telah dan akan menyebabkan malapetaka kecelakaan yang dahsyat. Kiranya Tuhan memberi hikmat kepada pembaca serta kemampuan untuk mema hami kebenaran dan mengidentifikasi sinyal-sinyal yang menyesatkan. *** (Jurnal Pedang Roh 60 Juli-Sept 2009)

Berita Mingguan 18 Juli 2009

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com


PAUS MENYERUKAN "OTORITAS POLITIK DUNIA"

Dalam sebuah surat ensiklik yang baru, Paus Benediktus XVI menyerukan agar sebuah "otoritas politik dunia" menangani ekonomi global. Surat ensiklik tersebut, "Caritas in Veritate" ("Kasih dalam Kebenaran"), menyerukan lebih banyak lagi redistribusi kekayaan dan juga "redistribusi sumber daya tenaga." "Otoritas politik dunia" yang divisikan oleh Paus akan memiliki kuasa untuk memaksa bangsa-bangsa antara lain untuk meredistribusikan kekayaan mereka dan menurunkan konsumsi tenaga mereka. Paus berkata, "Tentu saja ia harus memiliki otoritas untuk memastikan semua anggotanya taat kepada keputusan-keputusan nya..." (Reuters, 7 Juli 2009). Faktanya, intervensi pemerintah di dalam pasar bebas memang sudah memainkan peranan yang besar dalam krisis finansial ini (misal pemerintah Amerika yang mengharuskan pinjaman pembelian rumah diberikan kepada orang-orang yang tidak memenuhi syarat). Sebuah pemerintah global bukanlah solusi untuk masalah manapun, tetapi waktunya memang sudah matang untuk dimulainya fondasi kerajaan global antikristus dan tidak ada yang dapat menghalanginya. Jika paus benar-benar peduli dengan orang miskin dan benar-benar berpikir bahwa uang dalam menyelesaikan masalah kemiskinan, ia mestinya melikuidasi aset-aset Gereja Katolik yang sangat besar dan mendonasikannya.


USKUP EPISKOPAL MENYEBUT KESELAMATAN PRIBADI SEBAGAI "KESESATAN"

Katharine Jefferts Schori, Uksup Ketua dari Gereja Episkopal di Amerika, mengatakan bahwa adalah "kesesatan" untuk percaya seorang individu bisa selamat melalui doa pertobatan orang berdosa (OneNewsNow, 9 Juli 2009). Berbicara di Konvensi Umum denominasi tersebut, yang diadakan setiap tiga tahun, dia menambahkan bahwa "fokus individualistis adalah salah satu bentuk penyembahan berhala." Pernyataan Schori tidak mengherankan. Gereja Episkopal di Amerika adalah suatu percampuradukan kesesatan dan immoralitas yang paling keji.


BUKTI ARKEOLOGIS AKAN ISTANA RAJA DAUD

Berikut ini disadur dari "The World of Archeology Is Rocked," aish.com, 6 Juli 2009: "Bagi semakin banyak akademisi dan intelektual, Raja Daud dan kerajaannya yang menyatukan Yehuda dengan Israel, yang telah menjadi simbol integral dari bangsa Yahudi selama 3000 tahun, hanyalah sepotong fiksi.....Tetapi pada penyerang sejarah alkitabiah Yahudi mendapatkan kabar buruk baru-baru ini, yaitu ketika seorang arkeologis yang berdedikasi dan bersemangat tinggi melakukan penggaliannya yang terakhir ini. Dr. Eliat Mazar, seorang otoritas dalam hal masa lalu Yerusalem, telah mengeluarkan Raja Daud dari halaman-halaman Alkitab dan mengembalikannya ke ajang sejarah yang hidup. Penggalian Mazar yang terakhir di kota Daud, yaitu di bagian bayangan selatan dari Temple Mount, telah menggoncang dunia arkeologi. Karena, terbaring di sana tanpa diganggu selama lebih dari 3000 tahun adalah sebuah bangunan yang besar yang Mazar percayai sebagai istana Raja Daud....Dia (Mazar) memiliki gelar doktor dalam bidang arkeologi dari Hebrew University, dan adalah penulis dari buku The Complete Guide to the Temple Mount Excavations. ...Mazar mengatakan, `Sebenarnya, ketika saya mulai menggali, saya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hasil apapun. Saya bahkan harus siap menerima hipotesis Finkelstein, jika itulah yang dinyatakan oleh fakta. Namun demikian, bagaimanapun juga saya seorang Yahudi dan seorang Israel, dan saya merasakan sukacita yang besar sekali ketika detil-detil di lapangan persis dengan deskripsi dalam Alkitab....Mazar percaya bahwa istana itu digunakan oleh raja-raja Yahudi sampai dengan penghancuran Bait Allah yang pertama sekitra 450 tahun setelah pendiriannya.


Untuk mengindikasikan hal ini, Mazar menjelaskan dengan semangat mengenai sebuah benda tanah liat kecil yang dia temukan di situs tersebut (ditemukan tanggal 17 Tammuz, hari yang memperingati pengepungan Yerusalem sebelum kehancurannya) . Benda itu disebut sebuah `bulla,' yaitu tanah liat berbentuk piringan, dengan tulisan Ibrani kuno, dan mencantumkan nama pengirim sebagai `alamat kembali,' dan dipakai untuk memeteraikan gulungan-gulungan `surat' papirus. Bulla tersebut berisikan nama Yukhal bin Selemya, yang disebut dalam pasal 37 dan 38 dari kitab Yeremia.Yukhal adalah salah satu dari dua orang utusan Raja Zedekia kepada Yeremia, yang memintanya agar berdoa bagi umat saat Yerusalem dikepung oleh Nebukadnezar, Raja Babel. Dalam perkembangannya, pasal 38 menceritakan bahw Yukhal adalah salah satu dari empat pelayan yang meminta raja untuk membunuh Yeremia, dengan klaim bahwa dia sedang melemahkan semangat bangsa yang terkepung itu dengan nubuat-nubuatnya tentang kehancuran dan petaka. "Kartu bisnis" Yukhal adalah salah satu dari beberapa contoh yang telah ditemukan dalam dekade terakhir ini, yang memberikan kesaksian lebih lanjut tentang keabsahan kisah Alkitab tentang aktivitas-aktivitas di istana raja sebelum kehancuran Yerusalem. Di situs penggalian lainnya, yang diperkirakan adalah sisa-sisa sebuah bangunan umum, lebih dari 50 bulla ditemukan di bawah satu lapisan yang hancur gosong. Api yang dibawa oleh Raja Nebukadnezar membakar kota itu, tetapi api yang sama juga mengeraskan meterai-meterai tanah liat tersebut, sehingga memelihara mereka dalam kondisi baik dan dapat dibaca sepenuhnya. Bulla-bulla ini berisikan lusinan nama Ibrani, dua di antaranya adalah nama tokoh-tokoh Alkitab yang sezaman dengan Yukhal. Salah satunya adalah Gemaryahu bin Safan, salah satu penulis raja Yoyakim, yang ruangannya dipakai Barukh bin Neria untuk membacakan kata-kata kecaman dan panggilan pertobatan Yeremia (Yeremia 36:10). Nama lainnya adalah Azaryahu bin Hilkiyahu, seorang anggota keluarga imam yang menjabat sebelum kehancuran Yerusalem (1 Tawarikh 9:10)."


SELAMAT DATANG KE PARTAI REPUBLIK

Sdr. Cloud: Saya tidak tahu siapa yang menulis cuplikan berikut, padahal saya ingin memberinya kredit. Sayang sekali, kalimat terakhirnya, "selamat datang ke partai Republik," adalah sebuah mitos, karena kedua partai besar di Amerika Serikat sebenarnya berhaluan sosialis. Walaupun demikian, tulisan ini sungguh menyegarkan.

"Baru-baru ini saya bertanya kepada seorang putri kecil dari teman saya tentang apa yang ingin dia lakukan jika sudah dewasa nanti. Dia berkata bahwa dia mau menjadi Presiden suatu hari. Kedua orang tuanya, yang adalah Demokrat liberal, sedang berdiri di sana, jadi saya bertanya lebih lanjut padanya, `Jika kamu jadi Presiden, apa hal pertama yang akan kamu lakukan?' Dia menjawab, `Saya akan memberi makanan dan rumah kepada semua orang yang tidak punya rumah.' Orang tuanya sangat bangga. `Wow, itu tujuan yang sangat mulia,' saya berkata padanya. `Tetapi kamu tidak perlu menunggu hingga menjad Presiden untuk melakukan hal itu. Kamu bisa datang ke rumah saya, pangkas rumput, membersihkan ilalang, dan membersihkan halaman saya, dan saya akan memberikan padamu $50. Lalu saya akan bawa kamu ke toko makanan di mana pada tuna wisma berkeliaran, dan kamu bisa memberikan $50 itu kepada salah seorang di sana agar dia bisa membeli makanan dan mulai menabung untuk membeli rumah.' Dia memikirkan hal ini beberapa detik, lalu dia menatap saya persis di mata dan bertanya, `Kenapa para tuna wisma itu tidak datang saja dan melakukan pekerjaan itu, dan kamu berikan mereka $50-nya?' Saya berkata, `Selamat datang ke Partai Republik.' Orang tuanya sampai hari ini tidak mau bicara sama saya."


Editor: Untuk memahami artikel di atas, yang ditulis dalam konteks Amerika Serikat, pembaca perlu tahu bahwa ada dua partai besar di sana, Demokrat dan Republik. Kelompok Demokrat sangat condong kepada Sosialisme, di mana pemerintah bertanggung jawab atas orang-orang miskin, memberi mereka makanan, penampungan, dan santunan biaya. Dalam masyarakat sosialis, seseorang yang tidak punya pekerjaan, boleh mendaftar ke kantor pemerintah, dan mendapat biaya bulanan. Tentu dalam skema demikian, banyak orang akan menjadi malas, dan daripada susah bekerja, lebih baik menantikan santunan pemerintah. Barrack Obama adalah seorang sosialis, dan sedang membawa Amerika ke arah Sosialisme. Dalam Sosialisme, orang yang kaya dikenakan pajak yang luar biasa tinggi (pajak progresif), untuk membiayai proyek-proyek `sosial' demikian. Sebaliknya, partai Republik lebih condong kepada Kapitalisme, di mana masing-masing orang bertanggung jawab untuk kesejahteraannya masing-masing. Pemerintah bertindak untuk menegakkan hukum dan fair-play, tidak bertanggung jawab untuk memberi santunan, dll.

Konsep Sosialisme (dan Komunisme) terdengar bagus, yaitu memberikan kesejahteraan yang merata kepada semua orang. Tetapi, di dunia yang berdosa, kedua konsep ini tidak mungkin berhasil karena sifat dasar manusia yang sudah tercemar dosa. Ketika seseorang mendapatkan hasil yang hampir sama baik jika dia bekerja maupun jika tidak bekerja, maka hampir semua orang akan memilih untuk tidak bekerja. Dalam masyarakat demikian, akhirnya produktivitas akan menurun. Itulah yang menyebabkan runtuhnya ekonomi Uni Soviet. Cina, negara yang notabene komunis, justru menerapkan pasar bebas dan kapitalisme dalam model ekonominya. Kapitalisme juga bukanlah model yang sempurna walaupun lebih baik dari Sosialisme maupun Komunisme. Masyarakat yang sempurna baru akan ada ketika Yesus Kristus datang kembali, dan kita masuk ke dalam Kerajaan 1000 tahun di bawah suatu Monarki.


DEWAN PERWAKILAN PENNSYLVANIA TIDAK MENGIZINKAN DOA DALAM NAMA YESUS

Dewan Perwakilan Pennsylvania tidak lagi memperbolehkan para rohaniwannya untuk berdoa dalam nama Yesus. Gembala Sidang Gary Stoltzfoos dari Freedon Valley Worship Center di Adams County menemukan aturan ini ketika dia diundang oleh anggota dewan Will Tallman untuk membuka salah satu sesi Dewan tersebut dengan doa pada bulan Juni. Seesorang dari staf Ketua Dewan, Keith McCall, memberitahu gembala sidang tersebut bahwa dia tidak boleh memakai nama Yesus dalam doa tersebut ("State House Edits Jesus from Pastor's Prayer," Yord Daily Record, 30 Juni 2009). Stoltzfoos kemudian menolak undangan tersebut dan berkata, "Saya merasa bahwa doa adalah berbicara dengan Allah, jadi ketika saya berdoa, saya mencoba berbicara dengan Dia....Saya hanya kenal sau Allah secara pribadi. Saya hanya melayani satu Allah. Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu yang tidak menghormatiNya? "

INJILI SINYAL YANG MEMBINGUNGKAN

Dr. Alberto Rivera, seorang mantan imam Jesuit Katolik mengungkapkan banyak hal tentang Katolik dan ordo Jesuit yang bisa membuat kita terperanjat dalam buku- bukunya. Ia mengungkapkan tentang berbagai agenda rahasia ordo Jesuit yang dijalankan dalam hentakan-hentakan sejarah seperti perang dunia II dengan agenda pembunuhan orang Yahudi bahkan masalah pembunuhan presiden Abraham Lincoln.

Salah satu tujuan Ordo Jesuit didirikan oleh Ignasius dari Loyola adalah membawa kembali "saudara" yang memisahkan diri, yaitu kaum Protestan. Mereka bekerja lebih dahsyat dari CIA, KGB, bahkan Mossad. Mereka bisa menyusup masuk ke berbagai denominasi kekristenan dengan agenda semua denominasi harus digiring kembali ke bawah tongkat seorang yang memakai topi runcing seperti kipas dalang pewayang itu.
Kelompok Liberal memang sudah lama dicucuk hidung dan sudah berhasil digiring sekehendak hati mereka. Karena targetnya adalah semua, tentu mereka tidak akan puas kalau baru berhasil mendapatkan sebagian. Bahkan bukan hanya denominasi kekristenan saja yang menjadi target penundukan mereka, melainkan semua agama harus berada di bawah cengkeraman mereka. Tentu bukan jalan-jalan pelesiran ketika pemakai jubah putih mengunjungi Timur Tengah bahkan mencium tanah di Mesjid Al Aqsa di gunung Moria. Tiga agama besar yang mengalir keluar dari benih Abraham diagendakan untuk disatukan.

Apakah Katolik di abad 21 ini masih sama dengan Katolik di zaman Martin Luther? Jawabannya bukan hanya sama, bahkan lebih parah, karena dulu mereka tidak sampai mengakui Maria sebagai Co-redemptive dengan Yesus Kristus namun kini mereka menganggap Maria bukan sekedar BUNDA ALLAH bahkan bersama-sama Yesus Kristus menebus dunia. Apakah ada perubahan doktrin keselamatan Roma Katolik zaman sekarang dengan Roma Katolik zaman Martin Luther? Sama sekali tidak! Segala sesuatu bukan hanya sama, bahkan menjadi lebih parah. Salahkah Dave Hunt ketika ia menyebut Roma Katolik itu Pelacur yang dimaksudkan dalam Wahyu 17 dalam bukunya yang berjudul A Woman Rides ­the Beast ?

Lalu mengapa orang-orang Protestan dan Injili melupakan peristiwa tahun 1517 dengan segala efeknya? Darah kaum martir masa awal gerakan Protestan belum kering, Gereja Reformed Injili Indonesia telah mengadakan diskusi keagamaan dengan pihak Katolik dengan judul KATOLIK-PROTESTAN TANPA TEMBOK PEMISAH (Suara Pembaruan, 27 Agustus 2008).
Dari pergerakan kaum Injili sejak masih embrio bahkan hingga kelahirannya memang sudah dapat diduga arah perjalanannya. Ada berbagai persepsi yang bisa diperdebatkan tentang saat lahirnya kelompok Injili, terutama jika dikacaukan antara Evangelical dengan Evangelism. Sejarah mencatat pertentangan antara kelompok Fundamentalis dengan Liberal meruncing sejak tahun 1881 yaitu tahun diterbitkannya Critical Text (Alkitab bahasa Yunani) yang banyak kesalahan di dalamnya namun dijunjung tinggi kelompok Liberal. Mereka bukannya mengakui manuskrip yang di tangan mereka telah dirusak melainkan menyalahkan para penulis PB. Sejak saat itu buku-buku dari theolog Liberal membanjiri dunia. Pertentangan bertambah sengit lagi ketika tahun 1909 di bawah pimpinan R.A. Torrey diterbitkan buku yang berjudul The Fundamental. Kelompok Fundamentalis bersikukuh bahwa Alkitab tidak ada salah dan Alkitab adalah kebenaran absolut dari Allah. Sudah jelas karena perbedaan konsep dan persepsi maka jarak antara kelompok Fundamental dan Liberal akan makin jauh.

Harold Ockenga bukan pendiri tetapi mungkin dialah orang yang menyemangati gerakan Injili dengan mendirikan dan menjadi presiden pertama National Association of Evangelicals. "The term (Injli Baru) may or may not have been originally coined by Ockenga, but in 1948 at the Civic Auditorium in Pasadena, California his speech gave birth to the movement.
Gerakan Injili begitu cepat mendunia mungkin juga karena dipromosikan oleh Billy Graham yang sangat terkenal dan majalah Christinity Today yang sangat terkenal. Tujuan awal dari gerakan Injili ialah menjadi penengah antara kelompok Liberal dan Fundamental. Tetapi justru karena tidak mau bersikap tegas terhadap kebenaran menyebabkan kelompok ini tidak memiliki sikap yang jelas. Sinyal yang dipancarkan membingungkan. Ketika kelompok Fundamentalis berkata bahwa Alkitab tidak ada salah, dan kelompok Liberal berkata banyak salah, kelompok Injili berkata ada dan tidak ada salah. Sinyal macam apa ini? Begitulah sifat Injili, maksud mereka kalau berkaitan dengan masalah kerohanian tidak ada salah, tetapi ketika berkaitan dengan ilmu pengetahuan, ada salah. Mengenai perempuan, kelompok Fundamentalis berpendapat bahwa menurut Alkitab (I Tim.2:11, I Kor.14:34) perempuan tidak boleh menjadi Gembala. Sementara di kalangan Liberal berkata bahwa boleh saja karena Alkitab ditulis terpengaruh konsep paternalistik, lalu Injili berkata boleh menjadi Gembala tetapi tidak ditahbiskan. Kelompok Fundamentalis berpendapat bahwa baptisan yang benar adalah diselamkan karena itulah arti kata baptiso yang sesungguhnya. Kelompok Liberal berpendapat diteteskan dengan air saja cukup, lalu kelompok Injili berkata kalau yang sehat diselam, dan yang sakit diteteskan saja.
Sama sekali tidak heran jika ada kalangan yang menggambarkan kelompok Injili sebagai bunglon, yaitu sejenis binatang yang bisa berubah warna sesuai dengan warna media kedudukannya.

Kemanakah arah gerakan Injili sebenar­nya? Jawabannya ada pada gerakan ECT (Evangelicals & Catholics Together) yang dirintis sejak September 1992. Pembaca yang memiliki akses internet dipersilakan mencari tahu sendiri akan gerakan ini. Sejumlah pe­mimpin gerakan Injili membuat kesepakatan dan menandatangani sebuah memorandum dengan Gereja Roma Katolik untuk memasu­ki millennium ketiga bersama-sama. Bisakah kita duga bahwa gerakan Injili sebenarnya adalah gerakan yang sangat tersembunyi dan sangat rahasia untuk menggiring orang-orang Kristen Fundamental masuk ke Gereja Roma Katolik?

Dalam poin "We Affirm Together" terpampang pengakuan iman "rasuli" yang tentu bunyinya "I believe in the Holy Spirit, " the holy catholic Church" Tidak heran bukan kalau masih percaya pada holy catholic Church kemudian kembali ke holy catholic Church? Kembali ke sarangnya, at last come home. Pernahkah anda berkendaraan dan dibi­ngungkan oleh sinyal lampu sign kendaraan di depan, yang sebentar nyala lampu kiri dan sebentar kanan? Injili pada awalnya memberi sinyal yang membingungkan yang dibe­lakangnya. Tetapi akhirnya semakin jelas, rupanya ia bukan mau lurus melainkan mau belok kiri, menuju kota Roma juga. Michael de Syemlen menulis sebuah buku yang berjudul All Roads Lead to Rome. Ia membongkar agenda-agenda tersembunyi yang dimainkan melalui berbagai penyusupan untuk menggiring semua denominasi masuk ke Gereja Roma yang Am. Amatilah! ***

Berita Mingguan 11 Juli 2009

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

EKUMENITAS RICK WARREN YANG BERBAHAYA
Rick Warren, gembala sidang dari Saddleback Church di California selatan, baru-baru ini membawa agenda ekumenisnya yang radikal ke hadapan konvensi tahunan Masyarakat Islam Amerika Utara. Ia mendorong para Muslim untuk bergabung dengannya dalam “proyek-proyek antar-agama.” Walaupun Warren memberitahu gerejanya bahwa ia sedang meniru Yesus dengan cara berpidato di hadapan konvensi Muslim, pada kenyataannya dia mengkhianati Yesus. Dalam sebuah surat kepada “keluarga Saddleback,” Warren mengatakan, “Jika engkau mau memiliki pelayanan yang seperti Kristus, engkau harus mengasosiasikan diri dengan orang-orang sebagaimana Yesus lakukan – yaitu dengan orang-orang tidak percaya!” Benar bahwa Yesus berasosiasi dengan orang-orang tidak percaya, karena Ia “datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10).

Yesus makan dengan orang berdosa dan juga orang-orang Farisi, tetapi Ia tidak muncul di hadapan konferensi Farisi dan Saduki atau para penyembah berhala untuk meminta mereka bergabung denganNya dalam pelayanan bersama kegiatan sosial. Sebaliknya, Kristus menyatakan bahwa Dialah satu-satunya jalan keselamatan dan memperingatkan bahwa mereka yang mencoba untuk mendekat Allah dengan cara lain adalah pencuri dan perampok (Yoh. 14:6; 10:1-11). Ia menkhotbahkan pertobatan dan menegur orang karena tidak bertobat (Mark. 1:15; Luk. 13:1-5; 10:13; 11:32). Ia memperingatkan terus menerus akan api neraka yang kekal (mis. Mat. 5:22, 29, 30; 10:28; 11:23; 13:40-42; 23:33; 25:41; Mar. 9:43-48; Luk. 10:15; 16:23). Rick Warren bukanlah mengikuti teladan Kristus, karena ia menahan diri untuk berkhotbah seperti Kristus berkhotbah. Jika Warren mencontohi Yesus, ia tidak akan diundang berkali-kali untuk berbicara di forum-forum besar dunia. Yesus hanya populer dengan orang banyak sampai mereka mendengar pesanNya (Yoh. 6:60-66); setelah itu mereka ingin menyalibkanNya!

Rick Warren sering mengeluh bahwa ia dianiaya oleh para “fundamentalis” yang menentang filosofi kontemporer, ekumenikalnya, tetapi seperti juga para pengkompromi di mana-mana, ia tidak dapat membedakan antara teguran yang saleh dengan penganiayaan. Dalam sebuah surat pastoral yang baru-baru ini dia tulis, Warren mengatakan, “Setiap kali saya berbicara kepada grup non-Kristen manapun, saya dikritik oleh orang-orang percaya yang bermaksud baik tetapi yang tidak benar-benar mengerti seberapa Yesus mengasihi orang-orang terhilang. Mereka lebih peduli pada kesan kemurnian diri mereka sendiri daripada keselamatan orang-orang yang bagi siapa Kristus telah mati.” Ini adalah fitnah. Para pengritik Warren yang Kristen konservatif mengerti seberapa besar Yesus mengasihi orang-orang terhilang, tetapi mereka juga mengerti bahwa orang-orang terhilang tidak akan diselamatkan oleh agenda sosial yang ekumenis, melainkan oleh pemberitaan Injil, dan faktanya adalah Rick Warren tidak memberitakan Injil kepada Masyarakat Islam Amerika Utara.

SEBUAH GEREJA YANG MENYAMBUT ANJING
Gereja Komunitas Kota di Austin, Texas, secara literal menyambut “semua orang dan anjing mereka” ke kebaktian. Jamis Patterson, seorang anggota gereja tersebut berkata, “Sungguh menyenangkan memiliki gereja yang mengadopsi gaya hidup anda dan hal-hal yang penting bagi anda” (”Church Opens Doors to Furry Creatures,” KXAN.com, 6 Juli 2009). Gereja-gereja kontemporer membiarkan orang menyimpang berhala-berhala modern berupa fashion, musik pop, olahraga, dan kesenangan yang tidak sehat terhadap binatang peliharaan. Ketika Tuhan Yesus Kristus memerintahkan agar Injil diberitakan kepada “semua makhluk,” Dia tidak mengacu kepada binatang. Manusia terpisah dari binatang karena ia diciptakan dalam gambar Allah dan ia sendirilah yang memiliki jiwa hidup yang akan terus eksis selama kekekalan di surga atau neraka (Kej. 1:26-27). Ketika binatang mati, mereka mati begitu saja.
Editor: Membiarkan binatang peliharaan ikut kebaktian adalah suatu tindakan yang sangat tidak berhikmat. Hal ini sama sekali tidak bermanfaat, dan sebaliknya akan menimbulkan berbagai permasalahan. Benar sekali bahwa banyak gereja sekarang lebih mementingkan menyenangkan dunia agar dunia mau mampir di gereja. Mereka tidak sadar bahwa dengan praktek demikian, mungkin sebagian dunia mau mampir, tetapi gereja tidak mengubah mereka, melainkan dunialah yang mengubah gereja.

PENGANIAYAAN YAHUDI TERHADAP ORANG KRISTEN DI ISRAEL
Berikut ini disadur dari “Watch Out, Missionaries,” The Jerusalem Post, 2 Juli, 2009: “Kata `negro’ banyak terdengar di video yang direkam oleh Eddie Beckford dan istrinya Lura, sepasang suami istri dari kelompok Messianic Christian yang tinggal di sebuah kota pada gurun, Arad. Video itu, yang mulai direkam sejak tahun 2005, memperlihatkan berbagai penganiayaan, mulai dari segelintir orang, hingga gerombolan ramai penduduk lokal yang disebut Gur Hassidim sedang menyerang mereka dan anggota Messianic lainnya di kota itu. Eddie Beckford, 61 tahun, adalah seorang Amerika kulit hitam, jadi dia di serang secara rasial juga. `Negro, kembalilah ke Harlem!’ seru seorang lelaki yang kesenangan di tengah-tengah ratusan hassidim lainnya yang sedang berteriak-teriak dan bernyanyi, sambil mengelilingi bangunan klub catur sekaligus tempat misi Kristen milik Beckford pada suatu Sabat, 17 Juni 2005…..Mereka menyumpah dalam bahasa Inggris, biasanya dengan aksen kental. Polisi menjaga agar gerombolan tetap menjaga jarak pendek dari bangunan klub itu; tetapi selebihnya mereka tidak melakukan apa-apa. Istilah “bastard” (anak haram) juga sering dilontarkan oleh para Gur Hassidim yang terlihat di video, tetapi biasanya mengacu kepada Yesus…..Sekitar dua bulan setelah video itu direkam, klub tersebut, yang terletak dekat pasar kota, terbakar habis pada tengah malam…..Anggota-anggota jemaat di Arad, yang berjumlah sekitar 50 orang, mengatakan bahwa mereka telah lusinan kali mendapatkan ban mobil mereka ditusuk pisau. Mereka dikelilingi, diancam dan disumpahi oleh Gur Hassidim di pasar, di jalanan, atau di rumah mereka selama sekitar lima tahun. Selama waktu ini, mereka hanya dapat ingat satu penangkapan seorang tersangka, dan dia pun segera dilepaskan…..[seorang Yahudi yang ikut dalam protes tersebut] mengatakan bahwa dia tidak menentang orang Kristen, hanya saja menentang misionari yang menobatkan orang-orang Yahudi, dan menekankan bahwa hal ini bertentangan dengan hukum. (Faktanya, ini tidak melawan hukum. Hukum Israel hanya melarang usaha menobatkan anak-anak kecil atau “menyogok” orang untuk bertobat dengan janji uang atau materi lainnya). `Ini bukan tanah mereka, ini tanah Yahudi,’ dia berkata. `Semua misionari ini harus diusir.’ Dari Arad? Saya bertanya. `Dari Israel,’ dia menjawab.”

CODEX SINAITICUS DIGITAL
Codex Sinaiticus, salinan Perjanjian Baru tertua yang hampir lengkap, telah dijadikan bentuk digital dan ditaruh di internet. Alkitab yang berasal dari abad keempat ini mendapat namanya dari Biara Santa Catherine di Gunung Sinai, di mana ia ditemukan pada abad ke-19 oleh Constantine Tischendorf, seorang kritik tekstual Jerman. Hari ini, halaman-halaman codex ini yang masih selamat, berada di empat lokasi, British Library (347 halaman), University Library di Leipzig, Jerman (43 halaman), National Library of Russia (enam fragmen), dan Biara Santa Catherine di Gunung Sinai (12 halaman dan 40 fragmen). Selama 150 tahun terakhir, kritik tekstual modern telah menempatkan nilai Sinaiticus, beserta temannya Codex Vaticanus dari Perpustakaan Vatican dan sejumlah kecil manuskrip lain dengan ciri yang sama, di atas nilai sekitar 5.500 manuskrip dan lectionary Yunani yang ada. Menulis pada tahun 1883, John Burgon mengobservasi, “….terutama B [Vaticanus] dan Aleph [Sinaiticus], telah selama dua puluh tahun terakhir, naik ke posisi yang sedemikian tinggi dan berkuasa dalam pikiran pada Kritik, sehingga hanya pantas disebut takhayul buta” (The Revision Revised, hal. 11). Sejumlah kecil manuskrip Mesir yang dianggap tinggi oleh para kritik tekstual modern tersebut, oleh John Owen di abad ke-17 disebut “keturunan yang palsu” dan oleh John Burgon di abad 19 “sejumlah kecil dokumen yang mencurigakan” (The Revision Revised, hal. 78) dan “sejumlah kecil dokumen-dokumen yang tidak setia” (Ibid.) dan juga “salinan-salinan yang ekstentrik tersebut” (The Traditional Text of the Gospels, hal. 31). Sejak penemuan papirus Mesir di abad 20, jumlah manuskrip Aleksandrian telah bertambah; tetapi dibandingkan dengan jumlah besar yang mendukung teks Tradisional yang diwakili oleh versi-versi Protestan kuno seperti King James dalam bahasa Inggris, mereka ini [manuskrip Aleksandrian] hanyalah minoritas yang sangat kecil dan “eksentrik,” yang bukan saja tidak sesuai dengan mayoritas, tetapi juga saling bertentangan satu sama lain.

Codex Sinaiticus memasukkan dua tulisan sesat, yaitu Surat Barnabas dan juga Gembala Hermas. Surat Barnabas penuh dengan kesesatan dan alegori yang fantastis, misalnya mengklaim bahwa Abraham kenal alfabet Yunani dan bahwa baptisan air menyelematkan jiwa. Gembala Hermas adalah seorang penulis gnostik yang mengedepankan kesesatan Adoptionis bahwa Roh Kristus masuk ke dalam Yesus saat baptisanNya. Sinaiticus juga memperlihatkan pengaruh gnostik dalam perikop Yohanes 1:18, di mana “Anak Tunggal Allah” diubah menjadi “satu-satunya Allah yang dilahirkan,” dan dengan demikian melanjutkan kesesatan Arian yang kuno yang membedakan antara Anak Yesus Kristus dengan Allah sendiri dengan cara mematahkan hubungan yang jelas antara Allah di Yohanes 1:1 dengan Anak di Yohanes 1:18. Kita tahu bahwa Allah tidak dilahirkan; adalah Anak yang dilahirkan dalam kedatanganNya dalam daging.

Tren Mencari Yesus di Dunia Maya

Sekitar dua juta orang mencari Tuhan setiap hari ”tapi bukan di gereja, melainkan di sebuah mesin pencari dot com.

Dan jumlahnya sangat mengejutkan! ujar Mark Weimer, yang menyebut dirinya sebagai penginjil teknologi lantaran menggunakan medium internet sebagai sarana pelayanan.

Weimer sendiri adalah CEO dari Global Media Outreach ”layanan internet dari Campus Crusade for Christ International (CCCI)” yang telah memfasilitasi 91 situs dalam 11 bahasa untuk memberitakan Kabar Baik.

Weimer, yang sebelumnya bergelut di industri IT Silicon Valley-nya, bersikeras bahwa pihaknya tidak berupaya menjebak para penghuni dunia maya ”untuk masuk ke ranah Kristen” melalui pelbagai situs tersebut.

Kami selalu berterus terang bahwa kami menyampaikan pesan Kristus!” tegas Weimer sebagaimana diberitakan ABC News. “Kami tidak ingin menipu siapa pun,” tukasnya seraya menambahkan bahwa diperkirakan 1 dari 1000 pengguna internet mencari informasi mengenai Tuhan. Tahun lalu, situs Global Outreach telah disambangi sekitar 3 juta pengunjung.

Sehari-hari, situs Kristen seperti Jesus2020 didatangi oleh 150.000 pengunjung, dan sekitar 25.000 di antaranya telah menekan tombol yang menandakan bahwa mereka ingin mempelajari kekristenan lebih lanjut.

Menurut Weimer, para pengunjung dunia maya ini rata-rata mengajukan pertanyaan yang kerap mengejutkan seperti : “Kini setelah aku menerima Yesus Kristus, apa yang harus kulakukan selanjutnya? Apakah aku harus menjadi sempurna sekarang? Bagaimana aku harus berdoa?”

Michelle Diedrich, communication director dari Global Media, mengatakan bahwa medium internet membuat pengguna merasa nyaman membagikan apa saja yang mungkin tidak akan dilakukan di dunia nyata. Fenomena ini disebut sebagai “kedekatan di antara mereka yang tidak saling mengenal.”

Menurut hasil penelitan Pew Internet and American Life Project, kini semakin banyak peselancar religius yang menggunakan medium internet”di antaranya guru sekolah Minggu dan pengkotbah.

“Ini menghemat waktu,” aku Manuela Castro, 20 tahun, seorang mahasiswi dari University of Florida, yang meski dibesarkan dari keluarga Katolik namun tidak pernah ke gereja selama bertahun-tahun”sebagai gantinya, ia pun lebih sering mengunjungi dunia maya.

“Anda bisa menggunakan mesin pencari Google untuk mencari Tuhan, dan tetap menggunakan baju tidur Anda,” selorohnya.

Tak dipungkiri, bagi mereka yang haus akan kebenaran sejati, berselancar di dunia maya setidaknya dapat memuaskan dahaga sekaligus melindungi mereka dari pesan para pengkotbah yang terkadang bersikap menghakimi atau “menyimpang.”

Sedangkan bagi mereka yang membutuhkan nasihat atau layanan doa, internet dapat menyediakan jawaban sehingga mereka tidak perlu bertatap muka dengan para pelayan Tuhan yang terkadang membuat mereka “merasa canggung,” ujar Michael Kress, redaktur pelaksana dari situs Belief, yang menyediakan pelbagai informasi religius dan dikunjungi sekitar 3 juta peselancar setiap bulannya.

Lalu, bagaimana para penginjil dunia maya ini menyediakan berbagai informasi religius tersebut? “Kami selalu meriset buku-buku, majalah, dan semua sarana media untuk mencari makna dan memperdalam iman Kristen,”papar Kress. “Dan sebuah buku yang selalu menjadi sumber utama informasi kami adalah Alkitab.”

Sejatinya, situs-situs rohani tersebut tidak menyediakan informasi rohani melainkan juga layanan doa, bible studies, dan lain-lain.

Pada 2008, Global Media mengarsip 649.000 permohonan doa, pertanyaan seputar Alkitab, dan lain-lain. Namun, dengan hanya memiliki 2.900 penginjil online, Global Media cukup kesulitan melayani para permintaan pengunjung. Itulah mengapa Global Media bekerja sama dengan sebuah gereja besar di Florida, AS, tengah melatih 5.000 penginjil online yang resmi mengudara pada 2010.

Kebanyakan para penginjil online itu adalah pensiunan yang tidak lagi memiliki minat menjelajah dunia untuk melakukan pekerjaan misi.

Teknologi internet memang “memudahkan” pemberitaan Injil, tapi bukan berarti dapat menggantikan peran gereja sebagai sarana ibadah dan persekutuan orang-orang percaya. Itulah mengapa situs-situs tersebut wajib mendorong pengunjungnya untuk menghadiri persekutuan di dunia nyata, di mana mereka dapat saling menguatkan seperti yang tertulis di Kisah Para Rasul 2: 46-47: Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.

Sumber: Glministry.com

Kamis, 09 Juli 2009

Jangan Tangisi Michael Jackson

Isak haru ratusan ribu orang diseluruh dunia tidaklah sebanding dengan isak tangis Jacko (Michael Jackson) di neraka. Penyanyi itu yang namanya berkibar dimana-mana merupakan manusia yang dicintai Tuhan Yesus namun ia salah memilih jalan. Dibesarkan di keluarga Saksi Jehovah (Saksi Yehuwa), tidak membuat Jacko bertemu dengan Yesus. Apalagi setelah dia masuk Islam pada November 2008.

Para pengikut agama lain selain pengikut Yesus di hadapan Allah haruslah membayar dengan perbuatan baik semua dosanya sebelum bisa masuk surga. Dan kita tahu tidak ada seorang pun yang sanggup melakukannya, dosa tidak bisa diampuni meski dia beramal jutaan dolar. JIka seseorang bisa 100% murni dan tidak berdosa dalam hidupnya maka dia bisa tidur senang di surga tapi jika tidak ia akan menderita kekal di neraka.

Kita tahu tidak ada satu agamapun yang bisa menjamin seseorang masuk surga. Semuanya hanya mudah-mudahan, Insya Allah, hanya Yesus yang berkata Akulah pintu ke surga dan Akulah jalan kebenaran dan hidup kekal. Hanya Yesus yang sanggup menolong Jacko namun ia tidak menghabisi hari-hari terakhirnya dengan doa dan pertobatan malahan dengan obat terlarang. sungguh malang.

Hanya Yesuslah yang dapat membawa anda dan saya ke surga bukan agama. Termasuk agama Kristen Kristen sekalipun tidak akan membawa anda ke surga. Agama tidak menyelamatkan Yesus yang menyelamatkan anda ke surga. Maka penyerahan diri ke Yesus, dan menjadikanNya Tuhan serta mengakui dosa dan minta pengampunanNya akan membawa anda ke surga. Hanya anugerahNya saja kita masuk surga, perbuatan baik tidak sama sekali berguna.

Dari track record Jacko mulai dari penggunaan obat terlarang hingga seks dengan anak-anak sangatlah memungkinkan ia tidak dapat membayar semua perbuatan jahat itu dengan perbuatan baik. Meskipun ia mengasuh banyak anak dan mendidik mereka serta membuang uangnya untuk perbuatan-perbuatan amal itu pun tidak akan membuat dia masuk surga. Karena jika ditimbang perbuatan jahatnya masih terlalu banyak. Ini belum termasuk menghina Tuhan yang telah memberikannya kulit hitam tapi ia telah menggantinya dengan kullit putih tiruan.

Kiranya kematian Jacko tidak ditangisi oleh semua orang yang percaya Yesus sebagai Tuhan. Kiranya kematiannya membuka mata kita dan anak-anak kita untuk lebih taat dan mengasihi Yesus. Jangan pernah bilang selamat jalan Jacko, tidurlah dengan nyenyak. Jangan berkata begitu karena itu bukanlah demikian yang ia alami. Sebab dia sedang di siksa di neraka dan tidak bisa tidur selamanya.

Kiranya kita diberi hati untuk selalu mau bertobat dan mengasihi Yesus lebih dari apapun. Sehingga kita mewarisi rumah di surga yanga telah disediakanNya bagi kita. Dan kiranya anda yang membaca artikel ini mau membuka hati untuk Yesus dan menjadikanNya Tuhan dan Juruselamat anda.


Tuhan memberkati. (artikel milis dari: Hendra Kasenda-terangdunia.com)

HAROLD OCKENGA AND THE NEW EVANGELICAL MOVEMENT HE FOUNDED

July 7, 2009 (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org; for instructions about subscribing and unsubscribing or changing addresses, see the information paragraph at the end of the article) -

The following is a review of the book The Surprising Work of God: Harold John Ockenga, Billy Graham, and the Rebirth of Evangelicalism by Garth M. Rosell (Grand Rapids: Baker Academic, 2008). Rosell is the son of Merv Rosell, an evangelist who associated with Ockenga, Graham, and other leaders of the New Evangelical movement.

OCKENGA WAS THE FOUNDER OF THE NEW EVANGELICAL MOVEMENT AND ENUNCIATED THAT MOVEMENT’S REJECTION OF SEPARATION

Harold Ockenga (1905-85) was possibly the most influential evangelical leader of the 20th century. He was pastor of the prominent Park Street Church in Boston, founder of the National Association of Evangelicals, co-founder and first president of Fuller Theological Seminary, first president of the World Evangelical Fellowship, president of Gordon College and Gordon-Conwell Theological Seminary, a director of the Billy Graham Evangelistic Association, and chairman of the board and one-time editor of Christianity Today.

In the 1950s Ockenga helped found the New Evangelical movement that rejected separatism and aimed at a more positive and pragmatic philosophy as opposed to the negativism and isolation of fundamentalism.

In a speech he gave in 1947 at the founding of Fuller Seminary, Ockenga said:

“We repudiate the ‘Come-outist’ movement which brands all Denominations as apostate. We expect to be positive in our emphasis, except where error so exists that it is necessary for us to point it out in order to declare the truth. The positive emphasis will be on the broad doctrinal basis of a low Calvinism” (p. 176).

Looking back on this epic speech thirty years later, Ockenga commented:

“Neo-evangelicalism was born ... in connection with a convocation address which I gave in the Civic Auditorium in Pasadena. While reaffirming the theological view of fundamentalism, this address REPUDIATED ITS ECCLESIOLOGY AND ITS SOCIAL THEORY. The ringing call for A REPUDIATION OF SEPARATISM AND THE SUMMONS TO SOCIAL INVOLVEMENT received a hearty response from many evangelicals. The name caught on and spokesmen such as Drs. Harold Lindsell, Carl F.H. Henry, Edward Carnell, and Gleason Archer supported this viewpoint. We had no intention of launching a movement, but found that the emphasis attracted widespread support and exercised great influence. Neo-evangelicalism... DIFFERENT FROM FUNDAMENTALISM IN ITS REPUDIATION OF SEPARATISM AND ITS DETERMINATION TO ENGAGE ITSELF IN THE THEOLOGICAL DIALOGUE OF THE DAY. IT HAD A NEW EMPHASIS UPON THE APPLICATION OF THE GOSPEL TO THE SOCIOLOGICAL, POLITICAL, AND ECONOMIC AREAS OF LIFE. Neo-evangelicals emphasized the restatement of Christian theology in accordance with the need of the times, the REENGAGEMENT IN THE THEOLOGICAL DEBATE, THE RECAPTURE OF DENOMINATIONAL LEADERSHIP, AND THE REEXAMINATION OF THEOLOGICAL PROBLEMS SUCH AS THE ANTIQUITY OF MAN, THE UNIVERSALITY OF THE FLOOD, GOD'S METHOD OF CREATION, AND OTHERS” (Ockenga, foreword to Harold Lindsell’s book The Battle for the Bible).

Ockenga represented the changing mood of the sons of the old fundamentalists. They were tired of exposing error and separating from modernistic, compromised denominations and churches.
That new generation of evangelicals determined to abandon a militant Bible stance. Instead, they would pursue dialogue, intellectualism, and appeasement. They determined to stay within apostate denominations to attempt to change things from within rather than practice biblical separation. The New Evangelical would dialogue with those who teach error rather than proclaim the Word of God boldly and without compromise. The New Evangelical would meet the proud humanist and the haughty liberal on their own turf with human scholarship rather than follow the humble path of being counted a fool for Christ’s sake by standing simply upon the Bible. New Evangelical leaders also determined to start a “rethinking process” whereby the old paths were to be continually reassessed in light of new goals, methods, and ideology.

New Evangelicalism has swept the globe. Today it is no exaggeration to say that those who call themselves evangelicals are New Evangelicals; the terms have become synonymous. Old-line evangelicals, with rare exceptions, either have aligned with the fundamentalist movement or have adopted New Evangelicalism. The evangelical movement today is the New Evangelical movement. For all practical purposes, they are the same.

Ernest Pickering observed: “Part of the current confusion regarding New Evangelicalism stems from the fact that there is now little difference between evangelicalism and New Evangelicalism. The principles of the original New Evangelicalism have become so universally accepted by those who refer to themselves as evangelicals that any distinctions which might have been made years ago are all but lost. It is no doubt true to state that ‘Ockenga’s designation of the new movement as New or Neo-Evangelical was abbreviated to Evangelical. ... Thus today we speak of this branch of conservative Christianity simply as the Evangelical movement’” (The Tragedy of Compromise, p. 96).

OCKENGA WAS A POWERFUL INFLUENCE ON BILLY GRAHAM

Billy Graham is without question the popular face of New Evangelicalism. Historian George Marsden said that a good definition of an evangelical is simply “anyone who likes Billy Graham” (The Surprising Work of God, p. 18). But while Billy Graham is the popular face of New Evangelicalism, Harold Ockenga was the brain behind the movement. At Ockenga’s funeral in 1985, Graham said, “He was a giant among giants. Nobody outside of my family influenced me more than he did. I never made a major decision without first calling and asking his advice and counsel” (p. 17).

OCKENGA WAS YOUNG

New Evangelicalism was founded by young men. When Ockenga renounced separatism he was in his 30s. One reporter observed that the leaders of the Billy Graham crusade in Boston, in 1950 where Ockenga had a central role, “were nearly all in their twenties and early thirties” (p. 138). It was the Boston crusade that “established Billy Graham’s reputation as the outstanding evangelist of his time” (p. 147).

Young men have zeal and vision, but they lack experience and wisdom, and they should be influenced by older men who have a large measure of these important things.

History is repeating itself today in the fundamentalist movement with the “younger fundamentalists” questioning separatism.

OCKENGA WAS A SEPARATIST DURING THE EARLY PART OF HIS MINISTRY

In 1929, Ockenga left Princeton Theological Seminary because of its theological modernism. He followed J. Gresham Machen and other conservative Presbyterians out of Princeton and continued his studies at the newly established Westminster Theological Seminary. In those days, Ockenga wrote:

“Princeton has changed and can never be the same, so they set forth to organize a new seminary which would be true to God’s Word. ... I left Princeton, an assured degree, an assured Fellowship which would send me to Europe, and all the material advantages and came here to Westminster Theological school. It was a question of taking a definite stand for Christ and we have done it, but at great cost” (pp. 58, 59).

In the early days of his pastorate at Park Street Church in Boston beginning in 1936, Ockenga said that separation was necessary.

“Tragic as it is, the controversy between Christianity and Modernism is necessary. ... [If] the present, powerless, depleted, diminished Church is again to enjoy God’s blessing and receive times of refreshing from on high, that Church must purify itself from the hoary heresies of antiquity and from the questionable ethics of many of its leaders. ... Then it falls to us to withdraw all membership, influence and financial support from Modernistic organizations and throw it one hundred percent toward Bible Christianity” (p. 88).

This was a bold stand, but eventually Ockenga bent under pressure and found a more pragmatic way than simple faithfulness to God’s Word. He would turn away from the charge that was given at his ordination by J. Gresham Machen. Preaching on the threatening letter that came to King Hezekiah in 2 Kings 19, Machen charged Ockenga to take a stand for truth and not to fear controversy. Machen said:

“Today, all over the world, public opinion is overwhelmingly against the gospel of Jesus Christ [even among those who dominate] the life and machinery of the churches. ... If we are not standing in opposition in the presence of a hostile world, we are no true disciples of Jesus Christ. The teaching of our Lord is full of controversy--because he set his righteousness sharply in opposition to the false righteousness of the Scribes and Pharisees. ... when the Spirit moves in power in the Church of Jesus Christ ... the miserable, feeble talk about the avoidance of controversy on the part of Christian men and preachers of Jesus Christ, will all be swept away as with a mighty flood. A man on fire with a message never speaks in a way like that; never speaks with the indifferent manner of the world, but proclaims his gospel in the presence of the world of enemies, briefly and nobly in the presence of everything that is lifted up against the Gospel of Jesus Christ” (p. 68).

This was a true and mighty challenge, but Ockenga ultimately renounced it, and the evangelical world has become a traitor to the truth by its unwillingness to earnestly contend for the whole counsel of God and to separate from the enemies of the Word of God.

OCKENGA WAS A PROTESTANT

It is important to understand that the evangelical movement is fundamentally a Protestant movement. This is why it has the universal view of the church and is careless about the mode of baptism and the Lord’s Supper, usually allowing for infant baptism and sacramentalism. Ockenga began his ministry as a Methodist but he easily changed over to Presbyterian. In fact, he said, “I will now have had the experience of ordination from a Methodist Bishop and from a Presbyterian Presbytery” (p. 64).

OCKENGA BOUGHT INTO THE ERROR THAT THERE ARE “UNESSENTIAL DOCTRINAL DIFFERENCES”

After arriving in Boston, Ockenga participated in the New England Fellowship and was influenced by its founder and president J. Elwin Wright, who sought for an evangelical ecumenism. Wright warned against “carping and unkind criticism of our brethren of like precious faith” (p. 96), not acknowledging that criticism does not have to be unkind and in fact is necessary in order to maintain doctrinal and moral purity (Proverbs 6:23). Paul criticized false teachers and compromisers repeatedly in his epistles.

Wright was “a tireless advocate for evangelical cooperation” (p. 89), but the only way that churches that hold different doctrines can associate in joint ministries such as evangelism is to downplay their differences. We are told that the various denominations that participated in the New England Fellowship (Presbyterian, Baptist, Methodist, Lutheran, Episcopalian, Holiness, Pentecostal, etc.) were able to “submerge their unessential differences” (p. 90). These differences consisted of things such as the gifts of the Spirit, eternal security, modes of baptism, the practice of the Lord’s Supper, ecclesiology, women preachers, sinless perfection, and sovereign election.

These are called “secondary” or “peripheral” doctrines, but they are never treated as such in Scripture. The Lord Jesus Christ has commanded the churches to teach “them to observe ALL things whatsoever I have commanded you” (Matthew 28:20).

Paul did not preface the last half of his epistles with the words, “Now, dear readers, I am going to give you some unessential doctrine and it is not necessary to take this as seriously as what I wrote previously.”

In fact, when the apostle wrote to Timothy to instruct him in church doctrine he concluded with these words:

“I give thee charge in the sight of God, who quickeneth all things, and before Christ Jesus, who before Pontius Pilate witnessed a good confession; that thou keep this commandment without spot, unrebukeable, until the appearing of our Lord Jesus Christ” (1 Timothy 6:13-14).

Timothy was instructed to keep the commandment of 1 Timothy without spot. That refers to attention to the details. Timothy was to honor and obey everything the apostle had delivered to him by divine inspiration. And this epistle contains many things that are considered “secondary” by evangelicals, such as standards for pastors and deacons, the woman’s role in the church, and support and discipline of elders. We know that not everything in the Bible is of equal importance, but everything has some importance, and we do not have the authority to set aside some things in order to have a wider fellowship and broader ministry. That is treachery to God’s Word. Saul lost his kingship because he did not honor all of the Word of God (1 Samuel 15:22-23).

The New England Fellowship had a powerful influence on the formation of The National Association of Evangelicals in 1942, and Ockenga was a chief player. He traveled across the country meeting with Christian leaders and encouraging them to support the new organization and its inclusive philosophy, and he became its first president.

From the beginning, Ockenga supported the inclusion of Pentecostals in spite of their heresies pertaining to Spirit baptism, filling, and gifts, among others.

The philosophy of “secondary” doctrine has become the working philosophy of modern-day evangelicalism, but it is a damnable thing that has caused great spiritual destruction.

OCKENGA HELD TO MANY GOOD THINGS BUT HE DID NOT SEE THAT IT IS IMPOSSIBLE TO MAINTAIN THE TRUTH IF ONE’S ASSOCIATIONS ARE CORRUPT

The Bible warns, “Be not deceived: evil communications corrupt good manners” (1 Corinthians 15:33), but Harold Ockenga did not take this to heart and instead renounced separatism and called for the infiltration of modernistic denominations and institutions, and this oversight and disobedience has resulted in the ruin of evangelicalism.

Ockenga was “open to cooperation whenever it could be done without theological compromise” (p. 158), but it is impossible to cooperate with error without theological compromise.

The corruption that has spread throughout evangelicalism over the past half century is well documented and is admitted by some of the more candid and honest evangelicals:

Harold Lindsell, who was vice-president of Fuller Seminary and editor of Christianity Today, said in 1985: “Evangelicalism today is in a sad state of disarray. ... It is clear that evangelicalism is now broader and shallower, and is becoming more so. Evangelicalism’s children are in the process of forsaking the faith of their fathers” (Christian News, Dec. 2, 1985).

Francis Schaeffer, speaking at the 1976 National Association of Evangelicals convention, said: “What is the use of evangelicalism seeming to get larger and larger in number if significant numbers of those under the name of ‘evangelical’ no longer hold to that which makes evangelicalism evangelical?” (Schaeffer, “The Watershed of the Evangelical World: Biblical Inspiration”).

A 1996 Moody Press book entitled The Coming Evangelical Crisis documented the apostasy of Evangelicalism.

“... evangelicalism in the 1990s is an amalgam of diverse and often theologically ill-defined groups, institutions, and traditions. ... THE THEOLOGICAL UNITY THAT ONCE MARKED THE MOVEMENT HAS GIVEN WAY TO A THEOLOGICAL PLURALISM THAT WAS PRECISELY WHAT MANY OF THE FOUNDERS OF MODERN EVANGELICALISM HAD REJECTED IN MAINLINE PROTESTANTISM. ... Evangelicalism is not healthy in conviction or spiritual discipline. Our theological defenses have been let down, and the infusion of revisionist theologies has affected large segments of evangelicalism. Much damage has already been done, but a greater crisis yet threatens” (R. Albert Mohler, Jr., “Evangelical What’s in a Name?” The Coming Evangelical Crisis, 1996, pp. 32, 33, 36).

Consider just a few specific examples of doctrines that Ockenga believed that were given up by his sons and daughters in the New Evangelical movement.

Ockenga believed in the infallible inspiration of the Bible and called this “the watershed of modern theological controversy” (The Surprising Work of God, p. 82). But he called on evangelicals to associate with those who deny the Bible’s infallibility, and as a result the movement has become riddled with unbelief.

Consider the testimony of Carl Henry in 1976: “A GROWING VANGUARD OF YOUNG GRADUATES OF EVANGELICAL COLLEGES WHO HOLD DOCTORATES FROM NON-EVANGELICAL DIVINITY CENTERS NOW QUESTION OR DISOWN INERRANCY and the doctrine is held less consistently by evangelical faculties. … Some retain the term and reassure supportive constituencies but nonetheless stretch the term’s meaning” (Carl F.H. Henry, pastor senior editor of Christianity Today, “Conflict Over Biblical Inerrancy,” Christianity Today, May 7, 1976).

In 1976 and 1979, Harold Lindsell published two volumes documenting the frightful downgrade of the Bible in evangelicalism. This careful documentation by a man who was in the inner circle of evangelicalism’s leadership for many decades left no doubt that the evangelical world of the last half of the twentieth century was deeply leavened with apostasy.

Lindsell said, “I must regretfully conclude that the term evangelical has been so debased that it has lost its usefulness. ... Forty years ago the term evangelical represented those who were theologically orthodox and who held to biblical inerrancy as one of the distinctives. ... WITHIN A DECADE OR SO NEOEVANGELICALISM . . . WAS BEING ASSAULTED FROM WITHIN BY INCREASING SKEPTICISM WITH REGARD TO BIBLICAL INFALLIBILITY OR INERRANCY” (Harold Lindsell, The Bible in the Balance, 1979, p. 319).

In 1978, Richard Quebedeaux warned: “... it is a well-known fact that A LARGE NUMBER, IF NOT MOST, OF THE COLLEGES AND SEMINARIES IN QUESTION NOW HAVE FACULTY WHO NO LONGER BELIEVE IN TOTAL INERRANCY...” (Quebedeaux, The Worldly Evangelicals, p. 30).

In 1983, Francis Schaeffer warned: “WITHIN EVANGELICALISM THERE ARE A GROWING NUMBER WHO ARE MODIFYING THEIR VIEWS ON THE INERRANCY OF THE BIBLE SO THAT THE FULL AUTHORITY OF SCRIPTURE IS COMPLETELY UNDERCUT. … Accommodation, accommodation. How the mindset of accommodation grows and expands. . . . With tears we must say that largely it is not there and that A LARGE SEGMENT OF THE EVANGELICAL WORLD HAS BECOME SEDUCED BY THE WORLD SPIRIT OF THIS PRESENT AGE” (Francis Schaeffer, The Great Evangelical Disaster, 1983, pp. 44,141).

Consider, secondly, that Ockenga believed in the necessity of the new birth and called for clear evidence of conversion (p. 83). But he condemned the practice of separating from those who don’t believe this and who accept mere infant baptism and church membership as salvation. As a result, evangelicalism is riddled with pastors and church members that don’t have a biblical testimony of salvation.

Ockenga also believed in total abstinence and promoted a “five point program to end the production, distribution, and use of alcohol” (p. 172). He urged people to “talk with the children in the church and the home and warn them of the evils of drink” and challenged them to “write in your Bible, ‘I will abstain from all alcoholic beverages’” (p. 172). But he taught evangelicals to become more “culturally relative” and to associate with liberals who drink, and it is not surprising that his grandchildren in the faith, the emerging church, love to drink. (See “Emerging Church Loves to Drink” at the Way of Life web site.)

Ockenga believed that “only the atoning work of Christ on the cross was sufficient to forgive sins, tame the rebellious heart, and bring genuine peace with God” and that “consequently, the fundamental solution to human sinfulness and the starting point for all genuine social reform is the transforming power of the gospel” (p. 173). But because of the evil communications that have resulted from the disavowal of biblical separation, Ockenga’s grandchildren believe that the pursuit of social-justice issues apart from gospel preaching is perfectly legitimate. (See our book “The Emerging Church” for extensive documentation.)

There are many other things that Harold Ockenga and the other founders of New Evangelicalism believed that their children and grandchildren have either questioned or soundly rejected. This is very sad, but does not the Bible warn, “Be not deceived: evil communications corrupt good manners” (1 Corinthians 15:33).

OCKENGA WAS WARNED

When Ockenga renounced separatism and compromised the position he had formerly held, he was warned and exhorted by his uncompromising brethren.

For example, his old friend and colleague Billy Hawks, wrote in December 1947:

“I I feel like weeping and lamenting and mourning over you. ... some of the things you are doing only cause me grief and heaviness of heart. [It] grieves me Harold to see you giving way here a little and there a little to policies that will be the ruination of our country. [You] ought to be a trumpet of God in America [yet you] are fast succumbing to the inclusivistic trends that will sink us into the sea of oblivion spiritually as surely as it has the countries across the sea. ... Combination is weakness! Separatism is Power! in the sight of God” (p. 177).

The same warning was given repeatedly to Billy Graham, but both he and Ockenga ignored it and mischaracterized the warnings as divisive hatemongering. (See the article “Graham Was Warned Many Times” at the Way of Life web site.)

OCKENGA AND HIS FELLOW NEW EVANGELICALS WERE HYPOCRITICAL ABOUT JUDGMENTALISM AND CRITICISM

Ockenga and his associates preached against judgmentalism and “criticism of the brethren.” Merv Rosell said, “I have persistently refused to become a party to criticism” (p. 159). They have refused to criticize Modernists and Romanists, but they have bitterly criticized Fundamentalists. They have labeled them Pharisees, Legalists, Hateful, Divisive, Non-intellectual, Mean-spirited, Hurtful to the Body of Christ, and many other things.

Ockenga said:

“I think that these fundamentalists are doing irreparable harm to our movement by identifying Christianity with ‘Thou shall not.’ They have lost all the joy out of Christianity and Christian living. They have made it negative. They are dividing to absurdity and I assure you that I myself will have nothing to do with that kind of movement” (p. 184).

Those are strong, hyper-critical, judgmental words, and they aren’t even true. I don’t know of any sound fundamentalist Bible believers that have lost all joy because they take the Bible seriously. Yes, there are plenty of negatives in the Bible and tons of “thou shalt nots,” but the fundamentalists that I have known these past 36 years have plenty of wholesome fun.

The fact is that the one great spiritual enemy that New Evangelicals consistently identify and attack are fundamentalist Bible believers. Their judgment of fundamentalists is merciless. This has been a consistent mark of New Evangelicalism for 60 years.