Selasa, 28 Juli 2009

INJILI SINYAL YANG MEMBINGUNGKAN

Dr. Alberto Rivera, seorang mantan imam Jesuit Katolik mengungkapkan banyak hal tentang Katolik dan ordo Jesuit yang bisa membuat kita terperanjat dalam buku- bukunya. Ia mengungkapkan tentang berbagai agenda rahasia ordo Jesuit yang dijalankan dalam hentakan-hentakan sejarah seperti perang dunia II dengan agenda pembunuhan orang Yahudi bahkan masalah pembunuhan presiden Abraham Lincoln.

Salah satu tujuan Ordo Jesuit didirikan oleh Ignasius dari Loyola adalah membawa kembali "saudara" yang memisahkan diri, yaitu kaum Protestan. Mereka bekerja lebih dahsyat dari CIA, KGB, bahkan Mossad. Mereka bisa menyusup masuk ke berbagai denominasi kekristenan dengan agenda semua denominasi harus digiring kembali ke bawah tongkat seorang yang memakai topi runcing seperti kipas dalang pewayang itu.
Kelompok Liberal memang sudah lama dicucuk hidung dan sudah berhasil digiring sekehendak hati mereka. Karena targetnya adalah semua, tentu mereka tidak akan puas kalau baru berhasil mendapatkan sebagian. Bahkan bukan hanya denominasi kekristenan saja yang menjadi target penundukan mereka, melainkan semua agama harus berada di bawah cengkeraman mereka. Tentu bukan jalan-jalan pelesiran ketika pemakai jubah putih mengunjungi Timur Tengah bahkan mencium tanah di Mesjid Al Aqsa di gunung Moria. Tiga agama besar yang mengalir keluar dari benih Abraham diagendakan untuk disatukan.

Apakah Katolik di abad 21 ini masih sama dengan Katolik di zaman Martin Luther? Jawabannya bukan hanya sama, bahkan lebih parah, karena dulu mereka tidak sampai mengakui Maria sebagai Co-redemptive dengan Yesus Kristus namun kini mereka menganggap Maria bukan sekedar BUNDA ALLAH bahkan bersama-sama Yesus Kristus menebus dunia. Apakah ada perubahan doktrin keselamatan Roma Katolik zaman sekarang dengan Roma Katolik zaman Martin Luther? Sama sekali tidak! Segala sesuatu bukan hanya sama, bahkan menjadi lebih parah. Salahkah Dave Hunt ketika ia menyebut Roma Katolik itu Pelacur yang dimaksudkan dalam Wahyu 17 dalam bukunya yang berjudul A Woman Rides ­the Beast ?

Lalu mengapa orang-orang Protestan dan Injili melupakan peristiwa tahun 1517 dengan segala efeknya? Darah kaum martir masa awal gerakan Protestan belum kering, Gereja Reformed Injili Indonesia telah mengadakan diskusi keagamaan dengan pihak Katolik dengan judul KATOLIK-PROTESTAN TANPA TEMBOK PEMISAH (Suara Pembaruan, 27 Agustus 2008).
Dari pergerakan kaum Injili sejak masih embrio bahkan hingga kelahirannya memang sudah dapat diduga arah perjalanannya. Ada berbagai persepsi yang bisa diperdebatkan tentang saat lahirnya kelompok Injili, terutama jika dikacaukan antara Evangelical dengan Evangelism. Sejarah mencatat pertentangan antara kelompok Fundamentalis dengan Liberal meruncing sejak tahun 1881 yaitu tahun diterbitkannya Critical Text (Alkitab bahasa Yunani) yang banyak kesalahan di dalamnya namun dijunjung tinggi kelompok Liberal. Mereka bukannya mengakui manuskrip yang di tangan mereka telah dirusak melainkan menyalahkan para penulis PB. Sejak saat itu buku-buku dari theolog Liberal membanjiri dunia. Pertentangan bertambah sengit lagi ketika tahun 1909 di bawah pimpinan R.A. Torrey diterbitkan buku yang berjudul The Fundamental. Kelompok Fundamentalis bersikukuh bahwa Alkitab tidak ada salah dan Alkitab adalah kebenaran absolut dari Allah. Sudah jelas karena perbedaan konsep dan persepsi maka jarak antara kelompok Fundamental dan Liberal akan makin jauh.

Harold Ockenga bukan pendiri tetapi mungkin dialah orang yang menyemangati gerakan Injili dengan mendirikan dan menjadi presiden pertama National Association of Evangelicals. "The term (Injli Baru) may or may not have been originally coined by Ockenga, but in 1948 at the Civic Auditorium in Pasadena, California his speech gave birth to the movement.
Gerakan Injili begitu cepat mendunia mungkin juga karena dipromosikan oleh Billy Graham yang sangat terkenal dan majalah Christinity Today yang sangat terkenal. Tujuan awal dari gerakan Injili ialah menjadi penengah antara kelompok Liberal dan Fundamental. Tetapi justru karena tidak mau bersikap tegas terhadap kebenaran menyebabkan kelompok ini tidak memiliki sikap yang jelas. Sinyal yang dipancarkan membingungkan. Ketika kelompok Fundamentalis berkata bahwa Alkitab tidak ada salah, dan kelompok Liberal berkata banyak salah, kelompok Injili berkata ada dan tidak ada salah. Sinyal macam apa ini? Begitulah sifat Injili, maksud mereka kalau berkaitan dengan masalah kerohanian tidak ada salah, tetapi ketika berkaitan dengan ilmu pengetahuan, ada salah. Mengenai perempuan, kelompok Fundamentalis berpendapat bahwa menurut Alkitab (I Tim.2:11, I Kor.14:34) perempuan tidak boleh menjadi Gembala. Sementara di kalangan Liberal berkata bahwa boleh saja karena Alkitab ditulis terpengaruh konsep paternalistik, lalu Injili berkata boleh menjadi Gembala tetapi tidak ditahbiskan. Kelompok Fundamentalis berpendapat bahwa baptisan yang benar adalah diselamkan karena itulah arti kata baptiso yang sesungguhnya. Kelompok Liberal berpendapat diteteskan dengan air saja cukup, lalu kelompok Injili berkata kalau yang sehat diselam, dan yang sakit diteteskan saja.
Sama sekali tidak heran jika ada kalangan yang menggambarkan kelompok Injili sebagai bunglon, yaitu sejenis binatang yang bisa berubah warna sesuai dengan warna media kedudukannya.

Kemanakah arah gerakan Injili sebenar­nya? Jawabannya ada pada gerakan ECT (Evangelicals & Catholics Together) yang dirintis sejak September 1992. Pembaca yang memiliki akses internet dipersilakan mencari tahu sendiri akan gerakan ini. Sejumlah pe­mimpin gerakan Injili membuat kesepakatan dan menandatangani sebuah memorandum dengan Gereja Roma Katolik untuk memasu­ki millennium ketiga bersama-sama. Bisakah kita duga bahwa gerakan Injili sebenarnya adalah gerakan yang sangat tersembunyi dan sangat rahasia untuk menggiring orang-orang Kristen Fundamental masuk ke Gereja Roma Katolik?

Dalam poin "We Affirm Together" terpampang pengakuan iman "rasuli" yang tentu bunyinya "I believe in the Holy Spirit, " the holy catholic Church" Tidak heran bukan kalau masih percaya pada holy catholic Church kemudian kembali ke holy catholic Church? Kembali ke sarangnya, at last come home. Pernahkah anda berkendaraan dan dibi­ngungkan oleh sinyal lampu sign kendaraan di depan, yang sebentar nyala lampu kiri dan sebentar kanan? Injili pada awalnya memberi sinyal yang membingungkan yang dibe­lakangnya. Tetapi akhirnya semakin jelas, rupanya ia bukan mau lurus melainkan mau belok kiri, menuju kota Roma juga. Michael de Syemlen menulis sebuah buku yang berjudul All Roads Lead to Rome. Ia membongkar agenda-agenda tersembunyi yang dimainkan melalui berbagai penyusupan untuk menggiring semua denominasi masuk ke Gereja Roma yang Am. Amatilah! ***

1 komentar:

diskusi mengatakan...

aku percaya dengan kebenaran kaum fundamentalis bila ada Roh persatuan didalamnya bukan perpecahan.mau melayani umat di kampung yang miskin,bukan ngebuti umat yang kaya2 di kota2 agar perpuluhannya banyak