Rabu, 23 September 2009

John Wycliff: Bapak Reformasi Gereja


Sumbangsih John Wycliff Bagi Lahirnya Gerakan Reformasi Gereja

By siska yuliana - Posted on September 17th, 2008

I. Pendahuluan

Bagi Eropa Barat, bagian pertama abad pertengahan sampai tahun 1000, sangat tepat disebut sebagai abad-abad gelap. Di sebut sebagai abad kegelapan, karena terjadi kebobrokan dalam gereja. 1

Abad 11 adalah zaman pergerakan baru, di mana ada usaha menghidupkan kembali monastisisme, kehidupan di biara. Pada masa ini teolog diperhadapkan pada masalah hubungan iman (teologi) dengan rasio (filsafat). Dampak filsafat mengakibatkan pendekatan baru terhadap teologi, yaitu teologi skolastik atau skolatisisme.2

Pada abad 13, filsafat bukan lagi merupakan alat untuk dipakai dalam pembahasan teologi, tetapi sudah menjadi sistem pemikiran tandingan. 3
Abad 14 dan 15 membawa kemunduran gereja. Timbul skeptis-isme atau keraguan besar terhadap kemungkinan menciptakan keserasian antara teologi dan filsafat. 4 Dan pada abad 14 ini muncullah seorang tokoh yang bernama John Wycliff yang tidak puas dengan gereja Roma saat itu. Ia melakukan protes besar terhadap Gereja Katolik Roma yang dinilai telah menyimpang. Oleh karena peranannya yang besar bagi kekristenan, adanya tulisan ini bertujuan untuk memaparkan siapa John Wyliff serta sumbangsihnya bagi kekristenan.

II. Riwayat Hidup John Wycliff

John Wycliff dilahirkan di Yorkshire pada tahun 1325. Ia lahir dari keluarga tuan tanah di Inggris. 5 Studi teologianya ditempuh di Universitas Oxford dan memperoleh gelar doktor teologia di sana pada tahun 1372. Wcycliff belajar di sana dan dikenal sebagai seorang mahasiswa yang sangat cerdas, mempunyai bakat yang luar biasa serta ilmu pengetahuan yang sangat luas. Dalam kehausannya akan ilmu pengetahuan, ia berusaha mengetahui setiap cabang ilmu pengetahuan. John Wycliff dididik dalam ilmu filsafat, peraturan-peraturan gereja, dan hukum-hukum sipil yang berlaku di negaranya. Ia berhasil menjadi pemimpin Balliol College untuk beberapa waktu. Ia kemudian melanjutkan studinya yang dibiayainya dengan cara kurang terpuji, namun yang lazim di zamannya. Ia menerima jabatan sebagai rohaniwan dan digaji tetapi tidak melakukan tugasnya. Dengan demikian ia dapat melanjutkan karier akademisnya di Oxford sampai 1371. 6 John Wycliff adalah salah satu ahli filsafat yang terkemuka pada zamannya. Pada masa itu, pendidikan di universitas masih merupakan fenomena yang baru dan peranan Wycliff sungguh besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar.

Kehidupan John Wycliff pada dasarnya penuh kontroversi. Ia seorang pemberani, yang mempunyai kebiasaan yang berbahaya yaitu mengatakan apa saja yang dipikirkannya. Ia melihat terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam Gereja Katolik Roma. Oleh karena sifatnya itu, John Wycliff mengeluarkan doktrin-doktrin radikal yang berlawanan dengan Gereja Katolik Roma. Oleh karena doktrin-doktrinnya, Wycliff harus berhadapan dengan Uskup dan konsili-konsili untuk disidang. Tetapi Wycliff mendapat dukungan dan perlindungan dari Pangeran John Gaunt yang tidak suka kepada gereja Roma.

Tetapi pada akhirnya Wycliff kehilangan pendukungnya, dan menyebabkannya kehilangan kedudukan di Oxford. Ia dilarang untuk berkhotbah dan diusir dari Oxford pada tahun 1381. Pada tahun 1378 Wycliff menempuh tahap terakhir dari hidupnya.7 Ia mengundurkan diri ke Lutterworth dekat Rugby, tempat ia sudah bertahun-tahun menjadi pastor walaupun tidak pernah hadir. Wycliff menderita peradangan otak. Dan pada tanggal 31 Desember 1384, ia meninggal akibat serangan stroke. Konsili Konstanz mengucilkan dan menghukum dia. Pada tahun 1428 kuburannya di gali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift. Secara anumerta ia dihukum bakar sebagai seorang penyesat. Banyak yang mengatakan bahwa tindakan gereja yang menyebarkan abu tersebut ke sungai yang akhirnya mengalir ke berbagai tempat justru menggambarkan bagaimana penyebaran pengajaran Wycliff.

III. Ajaran John Wycliff

John Wycliff melihat adanya ketidakberesan dalam gereja. Ia tidak bermaksud menempatkan dirinya sebagai oposisi Roma, tetapi pengabdiannya kepada kebenaran terpaksa membuat ia melawan kepalsuan. Semakin jelas ia melihat kesalahan kepausan, semakin bersungguh-sungguh ia menyatakan pengajaran Alkitab. Ia melihat bahwa Gereja Katolik Roma telah melupakan firman Allah dan menggantikannya dengan tradisi manusia. Tanpa gentar ia menuduh keimamatan telah menghapus Alkitab, dan menuntut Alkitab agar dikembalikan kepada orang banyak, dan agar wewenang Alkitab kembali diteguhkan dalam gereja. Ajaran sekaligus kecamannya ialah sbb:

1. Mengecam kekayaan yang ditumpuk oleh gereja.8 Gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi. Harta milik gereja adalah harta milik negara. Gereja harus menjadi miskin
dan sederhana seperti gereja pada masa Perjanjian Baru.

2. Mengecam kekuasaan kaum Klerus/ kaum awam.9

3. Mengecam hierarki jabatan-jabatan gerejawi. Paus dan konsili seharusnya berada dibawah hukum Allah, karena Kristuslah kepala gereja. Ia menurunkan derajat Paus.10 Kristus tidak pernah menahbiskan Paus. Paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus karena jabatannya dilembagakan oleh manusia. Seorang Paus yang tidak mengikuti Kristus adalah Anti-Kristus. Lebih jauh lagi ia sama sekali menolak kepausan karena melihat semua Paus sebagai Anti-Kristus.

4. Mengecam biarawan peminta-minta. Biarawan peminta-minta sedekah membawa kesan buruk bagi kebesaran dan kemakmuran negara. Industri, pendidikan, moral, semua merasakan pengaruh yang memalukan itu. Para biarawan ini munafik dengan mengatakan, bahwa mereka mengikuti teladan Juruselamat. Mereka menyatakan bahwa Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya didukung oleh sumbangan derma orang-orang. Kehidupan biarawan yang bermalas-malasan dan meminta-minta bukan saja menghabiskan sumber daya dari masyarakat, tetapi juga membuat pekerjaan yang berguna menjadi terhina. Para pemuda mengalami kemerosotan moral. Oleh pengaruh para biarawan ini banyak mereka yang terbujuk untuk memasuki biara dan membaktikan hidupnya pada kehidupan biarawan. Hal ini bukan saja tidak seizin orang tua, tetapi bahkan tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Para biarawan ini menyatakan bahwa tuntutan biarawan melebihi kepatuhan dan cinta serta kewajiban terhadap keluarga. Para biarawan ini membuat hati anak-anak dikeraskan melawan orang tua mereka. Sehingga orang tua kehilangan anak laki-laki dan perempuan mereka.

5. Mengecam doktrin transsubstansi. Transsubstansi yang dikeluarkan Konsili Lateran IV (1215) secara filsafat bersifat inkoheren dan bertentangan dengan Alkitab. Ajaran Thomas dari Aquino bahwa roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus disangkal. Roti dan anggur itu tetap ada, tetapi menjadi sakramen dari tubuh Kristus. Roti itu tanda, yang secara sakramental melambangkan tubuh Kristus. Tetapi ia bukan tanda belaka. Tubuh Kristus hadir dalam roti sama seperti jiwa hadir dalam tubuh manusia. Demikianlah kita harus percaya mengenai tubuh Kristus dalam sakramen, secara rohani dan hakiki, dalam roti yang telah diberkati sama seperti jiwa dalam tubuh. Tetapi kita jangan membuat kesalahan yang sama seperti Roma untuk mengidentifikasikan roti itu sebagai tubuh Kristus.11 Transsubstansi dianggapnya sebagai ibadat penyembahan berhala.12

6. Mengecam penyembahan atau pemujaan kepada orang-orang kudus (para
Santo) dan relikwi-relikwi yang berbau takhayul.

7. Mengecam penjualan surat pengampunan dosa. Hal ini menunjukan ketamakan para biarawan belaka. Seseorang seharusnya mencari pengampunan kepada Tuhan, bukan kepada Paus.

8. Mengecam kesalahan gereja yang memberikan kepada para biarawan kuasa untuk mendengarkan pengakuan dan pemberian pengampunan. Ini disalahgunakan untuk meningkatkan pendapatan mereka, dan menjadi sumber kejahatan. Mereka memberikan pengampuanan dosa kepada para pejabat yang meminta pertolongan kepada mereka, untuk segala jenis kejahatan. Dan sebagai akibatnya, kejahatan yang paling buruk bertambah dengan cepat.

9. Wycliff menegaskan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran yang ia imbau agar diakui semua orang. Satu-satunya penguasa yang benar adalah suara Tuhan yang berbicara melalui Firman-Nya. Alkitab bukan hanya pernyataan kehendak Tuhan yang sempurna, tetapi Roh Kudus adalah penafsir satu-satunya, dan bahwa setiap orang harus mempelajari tugas-tugas untuk dirinya sendiri, dengan mempelajari pengajaran Firman itu. Alkitab sebagai kewibawaan terakhir dalam mencari penyelesaian masalah. Ia menulis De Veritate Sacrae Scripturae (kebenaran kitab suci), yang berkata bahwa Alkitab sebagai norma yang paling akhir dan tuntas. Norma itu harus dipakai untuk menguji gereja, tradisi, konsili, bahkan Paus sendiri.13

Sumbangsih John Wycliff bagi Lahirnya Reformasi dan Kekristenan Masa Kini.

Sebelum Reformasi, ada suatu waktu di mana hanya ada sedikit sekali Alkitab. Tetapi Tuhan tidak membiarkan Firman-Nya sama sekali dilenyapkan. Kebenaran Firman-Nya itu tidak akan selamanya disembunyikan. Di berbagai negara di Eropa, Roh Tuhan menggerakkan orang-orang untuk mencari kebenaran seperti mencari harta yang terpendam. Dengan tuntunan Ilahi mereka mempelajari lembaran-lembaran Alkitab dengan minat yang sungguh-sungguh. Mereka bersedia menerima terang itu apa pun akibatnya bagi mereka.

Pada abad 14, John Wycliffe telah mengumumkan sebuah pembaruan, bukan saja bagi Inggris, tetapi juga bagi dunia Kristen. Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi yang luar biasa bagi munculnya gerakan Reformasi di kemudian hari. Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapat julukan “Si Bintang Fajar Reformasi atau The Morning Star of Reformation”, karena melalui semangatnya Reformasi mulai muncul seperti munculnya fajar di pagi hari.14

Sumbangsih Wcliff bagi gerakan Reformasi Gereja diantaranya adalah:

1. Membuat banyak tulisan yang kemudian dilarang beredar oleh Paus.

2. Menterjemahkan Alkitab ketika ia mengalami pengusiran. Ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menterjemahkan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin). Wycliff berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua mengalami perbaikkan tetapi baru selesai dikerjakan setelah Wycliffe meninggal. Edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wycliffe”. Oleh sebab itu Wycliff disebut sebagai ‘Father of English Bible’.

3. Menurutnya setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. “Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan. Maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan hanya bagi para imam saja”. Karena padangannya ini, ia mempelopori adanya terjemahan-terjemahan Alkitab dalam banyak bahasa hingga saat ini.

4. Pandangannya yang radikal tersebar cepat di Eropa dan diantara pengikutnya muncul seorang murid Kristus yang setia dan mengikuti jejaknya, yaitu John Hus. Selain itu, ia mempelopori munculnya tokoh-tokoh selanjutnya pada era Reformasi seperti Martin Luther dan John Calvin.

5. Memiliki pengikut yaitu pengkhotbah tobat Lollard namanya, yang tidak bermilik, yang menjelajahi segala daerah negeri Inggris15. Lollard berarti orang yang suka beromong kosong. Lollard ini dianiaya dan setelah gagalnya pemberontakan mereka pada tahun 1414, mereka menjadi gerakan bawah tanah. Mereka membagi-bagikan “Alkitab Wycliff” secara ilegal.

V. Kesimpulan

John Wycliff mempunyai sumbangsih yang sangat besar karena telah merintis jalan bagi lahirnya gerakan Reformasi dan bagi dunia Kristen. John Wycliffe telah mengumumkan sebuah pembaruan, bukan saja bagi Inggris, tetapi juga bagi dunia Kristen. Ia mengecam gereja Katolik Roma dari segala jurusan dan membawa kekristenan kembali kepada ajaran yang benar di mana otoritas tertinggi ialah Alkitab bukan gereja. Sumbangsihnya dalam kekristenan sangat besar terutama dalam penerjemahan Alkitab.

Daftar Pustaka

Berkhof, H., Sejarah Gereja. Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 2000.

End, Van Den, Harta Dalam Bejana. PT. BPK. Gunung Mulia, 2007.

Lane, Tony, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: PT. BPK Gunung
Mulia, 2005.

Internet

:::FootNote:::

1 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2005), hlm.74.

2 Ibid

3 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, hlm.75

4 Ibid

5 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, hlm.116

6 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, hlm.116

7 Ibid

8 Van Den End, Harta Dalam Bejana ( PT. BPK. Gunung Mulia,2007), hlm. 145

9 Ibid

10 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, hlm.117

11 Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, hlm.117

12 H. Berkhof, Sejarah Gereja (Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia,
2000), hlm.97

13 H. Berkhof, Sejarah Gereja hlm.97

14 Internet

15 H. Berkhof, Sejarah, hlm.97

Tidak ada komentar: