Kamis, 29 Oktober 2009

BAHASA ROH/LIDAH?

Dalam mempelajari kebenaran Firman Tuhan, seringkali cabang ilmu pendukung dapat sangat membantu kita dalam memahami dan mengimani Firman Tuhan. Cabang Arkeologi, misalnya, telah banyak membuka wawasan manusia bahwa ternyata kejadian-kejadian, nama orang, adat istiadat, nama tempat, dan banyak hal lain lagi yang dicatat dalam Alkitab adalah benar, dan riil. Ketika tadinya banyak sekali pihak yang meragukan eksistensi suku “Het” yang sering disebut dalam Alkitab, maka setelah penemuan Arkeologi mendapatkan bahwa suku ini benar-benar ada, para pengritik pun dibungkamkan, dan kebenaran Alkitab menjadi nyata.

Topik bahasa lidah adalah topik yang penting untuk dipelajari dari Alkitab. Edisi Pedang Roh kali ini memang sengaja membahas topik yang sangat menarik ini, karena begitu banyak orang Kristen tidak tahu apa kata Alkitab tentang bahasa lidah. Mereka hanya ikut-ikutan terhadap apa yang mereka lihat sedang dilakukan oleh orang lain. Orang Kristen tidak boleh puas dengan sekedar ikut-ikutan, tetapi harus menggali dari Alkitab konsep bahasa lidah yang sejati. Dalam pembelajaran tentang bahasa lidah ini, ada cabang ilmu pendukung yang sangat membantu, yaitu sejarah.


Bagaimanakah sejarah dapat membantu kita mengerti lebih lanjut permasalahan bahasa lidah? Sebenarnya, kontroversi seputar bahasa lidah dapat disederhanakan menjadi dua bagian besar. Perdebatan pertama adalah: apakah bahasa lidah itu sebenarnya? Dengan kata lain, topik pertama adalah mengenai sifat bahasa lidah. Sedangkan perdebatan kedua adalah: apakah bahasa lidah masih ada hari ini? Topik ini membicarakan durasi dari karunia bahasa lidah. Nah, penyelidikan sejarah dapat membantu memberikan terang atas kedua aspek bahasa lidah tersebut – sifat dan durasinya.

Apakah bahasa lidah? Ada dua pandangan utama. Pandangan pertama adalah bahwa bahasa lidah, sebagaimana tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2, adalah kemampuan untuk tiba-tiba, tanpa belajar, berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Bahasa­bahasa lain yang dimaksud di sini adalah bahasa manusia yang eksis secara nyata. Menurut pandangan ini, jika ada orang lain yang kebetulan menguasai bahasa suku lain, maka ia dapat memahami bahasa lidah yang sedang diucapkan yang kebetulan adalah bahasanya. Pandangan kedua mengajukan, bahwa sesuai dengan yang banyak terlihat di kebaktian-kebaktian Kharismatik dan Pantekosta, bahasa lidah (mereka menggunakan istilah “bahasa roh” padahal dalam bahasa aslinya tidak ada kata roh) bukanlah bahasa yang eksis secara nyata, tetapi adalah serentetan bunyi yang dikeluarkan oleh pembicara, yang tidak beraturan, yang cenderung repetitif (suku kata tertentu diulangi berkali-kali), yang biasanya diucapkan dengan emosional dan cepat. Intinya, pandangan ini mengajukan bahasa lidah sebagai bunyi repetitif yang tidak beraturan dan tidak bermakna. Yang manakah yang benar? Tentu kita harus mengeceknya dari Firman Tuhan. Itu yang utama. Tetapi, sebagai pendukung, kita juga dapat melihat, yang manakah yang benar-benar merupakan gerakan dari Allah dalam sejarah.

Hal yang sama dapat dikatakan mengenai masalah durasi bahasa lidah. Apakah bahasa lidah masih berlaku hari ini? Jika tidak, sampai kapankah bahasa lidah tetap ada? Tentu sekali lagi jawaban utama harus disimpulkan dari pengajaran Alkitab, dan Pedang Roh membahas sisi Alkitab dengan mendalam di artikel lain. Untuk artikel ini, kita akan menggunakan sejarah untuk membantu kita dalam hal ini, dan melihat, sampai kapankah dalam sejarah terdapat bahasa lidah yang sejati? Mari kita masuk ke dalam pembahasannya.

Zaman Sebelum Masehi

Dalam catatan sejarah, sama sekali tidak ada sumber yang meyakinkan yang mencatat bahwa ada orang yang tanpa belajar, tiba-tiba bisa berbicara dalam bahasa lain, sebelum Masehi. Satu-satunya kejadian yang mendekati hal ini adalah kejadian pada saat Tuhan mengacaukan bahasa manusia di menara Babel. Pada saat itu, manusia yang tadinya satu bahasa, tiba-tiba berbahasa lain. Tetapi jelas, bahwa kejadian di menara Babel bukanlah karunia bahasa lidah.

Sebaliknya, ada cukup banyak catatan orang-orang yang “berbicara” mengeluarkan bunyi-bunyi tidak beraturan secara emosional. Yang mengejutkan adalah orang-orang ini kebanyakan dipercayai sedang “kerasukan” oleh dewa atau dewi tertentu. Mereka menjadi semacam jurubicara bagi dewa atau dewi tersebut. Penemuan arkeologi membeberkan bahwa bukanlah kejadian yang langka bagi penyembah dewa tertentu (seperti dewa Amon, Apollos, dll), untuk dirasuki pada waktu-waktu tertentu [George A. Barton, Archaeology and the Bible (Philadelphia: American Sunday School Union, 1916), hal. 353]. Saat mereka sedang dirasuki itulah, biasanya mereka akan komat-kamit secara tidak jelas, mengeluarkan bunyi-bunyi secara emosional, yang tidak memiliki makna bagi telinga manusia normal. Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di berbagai “kebaktian” Kharismatik hari ini.

Jadi, catatan sejarah pada periode waktu ini menunjukkan bahwa bunyi-bunyi yang emosional tidak beraturan, banyak terjadi di kalangan penyembah berhala. Sedangkan kemampuan untuk tiba-tiba berbicara dalam bahasa lain hanya terjadi saat menara Babel, walaupun itu bukan karunia bahasa lidah, tetapi adalah intervensi Tuhan untuk membagi kelompok bahasa manusia.

Zaman Rasul-Rasul

Kita tidak akan membahas zaman ini terlalu mendetil, karena membahas zaman ini berarti membahas kejadian-kejadian yang tercatat dalam Alkitab, yang tentunya dibahas pada artikel lain. Tetapi, sedikit rangkuman dapat diberikan, yaitu bahwa dalam Alkitab, bahasa lidah adalah kemampuan untuk berbicara dalam bahasa lain, bukan bunyi­bunyi emosional yang tidak beraturan.

Zaman Kekristenan Awal

Zaman ini mencakup abad kedua hingga keempat, atau yang sering disebut sebagai zaman “bapa-bapa gereja.” Ada tokoh­tokoh pada zaman ini yang menyinggung tentang bahasa lidah dalam tulisan mereka, sehingga kita dapat menyimpulkan pandangan mereka terhadap topik yang satu ini. Ada beberapa kutipan yang menjelaskan sifat dan durasi dari bahasa lidah.

Yang pertama adalah Irenaeus yang menyatakan, “Untuk alasan inilah sang rasul menyatakan, ‘Kami mengatakan kata-kata bijak di antara mereka yang sempurna,’ dan memakai istilah “sempurna” untuk mengacu kepada mereka yang telah menerima Roh Allah, dan yang melalui Roh Allah, berbicara dalam semua jenis bahasa, sebagaimana Ia sendiri berbicara” [Irenaeus, “Against Heresies” Vol. I of the Ante Nicene Fathers, (The Ages Library Collections), buku 5, bab 6, hal. 1]. Jadi, jelas bahwa Irenaeus mengartikan bahasa lidah pada zaman rasul sebagai bahasa yang eksis yang riil dan nyata, bukan bunyi-bunyi emosional yang tidak beraturan.

Chrysostom, seorang tokoh lain yang hidup di abad keempat menulis tentang sifat bahasa lidah, “Barangsiapa yang dibaptis, ia langsung berbicara bahasa lidah dan bukan hanya bahasa lidah, tetapi banyak yang juga bernubuat, dan sebagian melakukan karya­karya yang ajaib. . . Dan yang satu langsung berbicara dalam Persia, dan yang lainnya dalam Romawi, yang lain dalam India, yang lainnya dalam bahasa lain:” [Chrysostom, “Homilies on First Corinthians,” ed. Philip Schaff, Vol. XII of the Nicene and Post-Nicene Fathers, First Series, (The Ages Library Collections), bahasan 29, ay. 1,2]. Jadi jelas juga bahwa Chrysostom mendukung bahasa lidah sebagai bahasa sejati. Chrysostom juga menjelaskan tentang durasi bahasa lidah: “Seluruh perikop ini sangat remang: tetapi keremangan itu terjadi karena ketidak­tahuan kita sebab kejadian-kejadiannya sudah berakhir, yaitu dulu memang terjadi, tetapi sekarang tidak terjadi lagi” [Ibid]. Jadi, Chrysostom mengatakan bahwa pada zaman dia, bahasa lidah sudah berakhir.

Agustinus adalah tokoh yang sangat terkenal, dan dia mengatakan, “Pada waktu­waktu yang terdahulu, ‘Roh Kudus datang atas mereka yang percaya: dan mereka berbicara dengan bahasa-bahasa,’ yang belum mereka pelajari, ‘dan sesuai dengan yang berikan oleh Roh kepada mereka.’ Hal-hal ini adalah tanda-tanda untuk waktu itu. Karena sudah seharusnya bahwa tanda Roh Kudus terjadi dalam segala bahasa, untuk menunjukkan bahwa Injil Allah dimaksudkan untuk segala bahasa di bumi. Hal itu terjadi untuk menjadi suatu tanda, dan telah berakhir.” [Augustine, “Ten Homilies on First John” Vol. VII of the Nicene and Post-Nicene Fathers, First Series, (The Ages Library Collections), bahasan 6, 10]. Kutipan di atas menunjukkan dua hal, yaitu bahwa Agustinus menganggap bahasa lidah sebagai bahasa yang nyata, bukan bunyi-bunyi tidak beraturan, dan juga bahwa bahasa lidah sudah berakhir pada zamannya.

Nah, bagaimana dengan pendukung bahasa lidah sebagai bunyi-bunyi tidak berarturan yang emosional? Apakah mereka memiliki pendukung dalam sejarah periode ini? Ternyata ada, yaitu kaum Montanis. Kaum Montanis dipimpin oleh Montanus, ia menekankan pengalaman emosional yang mirip Kharismatik hari ini, yaitu berbicara (sebenarnya berbunyi, karena tidak mengan­dung arti) tak beraturan secara emosional. Permasalahannya adalah, Montanus melaku­kan banyak kesalahan, salah satunya adalah menganggap proses pewahyuan terus berlang­sung. Oleh sebab itu, ia banyak bernubuat, dan nubuatnya terbukti salah. Salah satu nubuat­nya adalah akan ada perang, tetapi perang tidak kunjung datang [Eusebius, “The Church History of Eusebius,” Vol. I of the Nicene and Post-Nicene Fathers, Second Series, (The Ages Library Collections), buku 5, bab 16].

Kesimpulannya adalah bahwa masyarakat Kristen umum percaya bahasa lidah adalah bahasa sejati yang dipakai oleh manusia yang sudah berhenti. Ada kelompok tertentu, yang dianggap sesat oleh yang lain, yang mempraktekkan bahasa (bunyi) sembarangan, dan mengklaimnya sebagai bahasa lidah.

Abad-Abad Pertengahan

Pada masa ini, Gereja Katolik menguasai kancah politik sekaligus agama. Dengan kekuasaan mereka, segala jenis gereja tandingan dihancurkan. Oleh sebab itu, tidak banyak catatan dari gereja-gereja lain, karena gereja-gereja lain sibuk melarikan diri dari ancaman Katolik. Dalam zaman yang penuh kekacauan ini, banyak terdapat catatan tentang berbagai tokoh Katolik, yang mendapat “bahasa” kacau yang tidak beraturan. Tetapi, sulit untuk memastikan kebenaran klaim­klaim ini, karena sering bertentangan. Ada beberapa klaim terjadinya kemampuan berbahasa lain secara spontan, misalnya atas diri Xavier, seorang misionari Katolik ke Cina dan Jepang. Tetapi, sekali lagi, catatannya kon­tradiktif, karena di tempat lain dikatakan bahwa Xavier mempelajari bahasa-bahasa tersebut [The Catholic University of America, New Catholic Encyclopedia, 2nd ed., 15 vol. (Farmington Hills, MI: Gale, 2003), VI, hal. 249].

Sebagai kesimpulan, pada masa ini tidak banyak catatan yang dapat dipercayai. Gromacki memberikan pandangan yang sangat benar bahwa, “Kecenderungan Roma Katolik untuk mengangkat dan mengkultuskan (bahwa) santo santa mereka harus selalu diingat ketika sedang mengevaluasi suatu klaim akan mujizat, apakah itu penyembuhan ataupun bahasa lidah.

Untuk alasan ini, klaim apapun akan glossolalia dari sumber-sumber Katolik harus dianggap tersangka” [Robert G. Gromacki, The Modern Tongues Movement (Grand Rapids: Baker Book House, 1972), 20]. Yang jelas, bahasa lidah bukanlah sesuatu yang umum terjadi, dan tidak dipraktekkan oleh orang-orang Kristen pada zaman ini.

Setelah Reformasi

Setelah Reformasi, mulailah terbit kebebasan beragama, dan berbagai aliran bermunculan. Satu hal yang menarik adalah bahwa para tokoh Reformator, tidak ada satu pun yang berbahasa lidah. Mereka juga tidak mendukung bahasa lidah. Bahkan menurut bahasa lidah sudah berhenti sejak abad mula-mula. John Calvin menulis dalam commentary-nya bahwa “karunia bahasa lidah, dan hal-hal lain seperti itu, sudah sejak lama berhenti dalam Jemaat; tetapi roh pengertian dan kelahiran kembali tetap berkuasa, dan akan selalu berkuasa” [John Calvin, Acts, diterj. Henry Beveridge, ed. Christopher Fetherstone, 2 vol. (Grand Rapids: Baker Book House, 1999), I, hal. 452]. Ini adalah kesaksian yang kuat, bahwa orang-orang yang memotori gerakan Reformasi, sama sekali tidak melihat bahasa lidah sebagai suatu karunia yang masih berlangsung, dan tidak merasa memerlukan bahasa lidah untuk membuktikan bahwa Allah sedang bekerja melalui mereka.

Bagaimanapun juga, ada beberapa kelompok yang mengklaim bahasa lidah pada zaman ini. Namun, mereka mempraktekkan bahasa lidah sebagai bunyi-bunyi emosional yang tidak beraturan, dan bukannya bahasa manusia yang nyata eksis. Contoh yang nyata adalah kelompok seperti Quakers dan Shakers. Masalahnya, kelompok-kelompok ini memiliki pandangan yang aneh-aneh. Quakers, contohnya, tidak melaksanakan baptisan, dan mereka tidak banyak memakai Alkitab, tetapi“dituntun oleh Roh Kudus dan terang yang ada dalam diri.” Pandangan seperti ini jelas akan membuat mereka semakin sesat. Shakers lebih parah lagi. Dipimpin oleh seorang wanita, Ann Lee Stanley, kelompok ini menganggap Allah memiliki sisi laki-laki dan wanita, dan bahwa kedatangan kedua Yesus dipenuhi dalam diri Ann Lee Stanley. Kelompok lain yang mempraktekkan bahasa lidah antara lain adalah Mormon, yang adalah bidat yang sesat. Kelompok Camisard adalah segelintir orang-orang Protestan yang tinggal di pegunungan Cevennes, Perancis, yang menggunakan nubuat dan “bahasa lidah” untuk mendukung gerakan politik mereka melawan raja Perancis. Kelompok Jansenis adalah kelompok Katolik yang juga suka berbahasa lidah.

Jadi, memang banyak kelompok yang mempraktekkan bunyi-bunyi tidak beraturan, tetapi mereka mewakili spektrum theologi yang sangat bervariasi. Banyak di antara kelompok-kelompok ini sesat dan diyakini sebagai bidat. Tetapi semuanya mempraktek­kan bahasa lidah yang tidak dapat dibedakan satu dari yang lainnya, yaitu bunyi-bunyi emosional yang tidak beraturan. Hal ini membuat kita menyimpulkan lebih lanjut lagi, bahwa bunyi-bunyi emosional yang tidak beraturan itu bukanlah bahasa lidah sejati yang berasal dari Tuhan, karena Tuhan tidak akan memberikan karuniaNya bagi kelompok-kelompok sesat yang bahkan tidak lahir baru. Kita menyimpulkan, bersama dengan para tokoh Reformasi, bahwa bahasa lidah yang sejati adalah berbahasa dalam bahasa manusia lain yang nyata, yang tidak pernah dipelajari yang bersangkutan sebelumnya, dan bahwa karunia bahasa lidah ini sudah berhenti sejak abad pertama, bahkan sebelum proses pewahyuan berhenti.

Zaman Modern

Gerakan Pentakosta meledak pada awal abad ke-20, yaitu dimulai dengan“kebangkitan rohani” di Azusa. Gerakan Kharismatik, mulai pada pertengahan abad ke-20, dan adalah masuknya paham Pantekosta, terutama dalam hal nubuat, bahasa lidah, dan filosofi musik, ke gereja-gereja denominasi lain. Sejak munculnya kelompok Pentakosta dan Kharismatik itulah, orang percaya di seluruh dunia diperhadapkan dengan fenomena bahasa lidah yang terus menerus dilakukan oleh mereka. Tetapi, “bahasa lidah” yang dilakukan oleh kelompok Pentakosta dan Kharismatik adalah versi bunyi-bunyian yang emosional dan tidak beraturan. Hal ini tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, sekaligus fakta sejarah. Sejarah mencatat bahwa bunyi-bunyi tidak beraturan seperti itu dilakukan oleh penyembah berhala, oleh para aliran sesat, dan kelompok-kelompok dengan doktrin yang kacau. Sebaliknya, sejarah mencatat, bahwa bahasa lidah yang merupakan bahasa manusia nyata, telah berhenti sejak abad pertama. Memang, cukup banyak kaum Pentakosta/Kharismatik yang mereka, mengklaim dapat berbahasa lain, tetapi klaim-klaim ini tidak pernah terbukti. Setiap rekaman bahasa lidah pada kebaktian Kharismatik yang dianalisis, ternyata adalah serangkaian bunyi saja, dan bukan bahasa apapun.

Kesimpulannya adalah, bahwa kelompok Pentakosta dan Kharismatik tidak belajar dari sejarah maupun Firman Tuhan, sehingga mereka terjebak, dan melakukan sesuatu yang sama sekali bukan karunia dari Tuhan, melainkan suatu fenomena seperti yang terjadi pada para penyembah berhala segala zaman. Kami berharap, mereka segera sadar, dan kembali pada jalan yang benar.

Oleh: dr. Steven Liauw, S.Ked., M.Div.,D.R.E. Dekan Akademik GITS

PEDANG ROH Edisi LIII (ke-53) Tahun XIII Oktober-November-Desember 2007


Tidak ada komentar: