Kamis, 12 November 2009

PEMBERKATAN atau PENEGUHAN NIKAH?

KONSEP YANG MELATARBELAKANGI

Orang Kristen Perjanjian Baru alkitabiah harus mengerti keseluruhan kebenaran dengan baik, bukan bagian-bagian kebenaran yang terpecah-pecah dan tidak harmonis satu dengan lainnya. Bahkan bukan hanya harus mengerti kebenaran secara keseluruhan, melainkan juga tidak membiarkan berbagai terminologi yang salah mengganggu konsep yang benar. Konsep yang benar selalu disampaikan dengan cara yang benar dan memakai terminologi yang benar.

Sejak ditutupnya keimamatan Harun, dan diangkatnya setiap orang percaya sebagai imam atas dirinya sendiri, maka acara berkat-memberkat seseorang oleh orang lain adalah sebuah pelanggaran yang durhaka bagi Tuhan. Karena hanya Tuhan saja yang berwenang memberkati seseorang, maka siapapun yang berlagak mencoba-coba memberkati manusia lain telah bertindak menyerobot posisi Tuhan.

Semua orang percaya (Kristen) dihadapan Tuhan adalah sama derajatnya, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah dalam arti kata tidak ada yang boleh berperan sebagai imam bagi orang lain. Pernah penulis dengar ada kelompok yang menyuruh orang kaya menumpangkan tangan untuk memberkati mereka yang lebih miskin secara ekonomi. Tindakan ini sangat sesat dan durhaka karena telah membiarkan orang kaya menyerobot posisi Allah untuk memberkati orang miskin, dan juga telah menilai derajat manusia berdasarkan materi yang dimilikinya. Padahal secara rohani sangat mungkin yang miskin materi justru lebih kaya rohani dan lebih mengerti kebenaran daripada yang kaya secara materi itu.

Tidak Boleh Berkat-Memberkat

Karena sesama orang percaya adalah sama-sama imam maka tidak boleh ada acara berkat memberkat satu sama lain. Mengucapkan “KIRANYA Tuhan memberkati anda,” sama sekali tidak salah karena yang bersangkutan tidak memberkati melainkan mengharapkan Tuhan memberkati orang yang diucapkan kata-kata tersebut. Seperti kata-kata yang telah tersedia di HP kita GBU (God Bless You) sama sekali tidak salah karena itu adalah sebuah doa atau harapan semoga Tuhan memberkati anda.


Yang sangat salah ialah tindakan sejumlah orang Kristen yang berlagak lebih istimewa dari orang Kristen lain, bahwa ia hamba Tuhan yang mewakili Tuhan, bahkan mengangkat-angkat dirinya hingga punya wewenang untuk mengutuk orang, dan lain sebagainya. Ini harus diidentifikasi sebagai tindakan keterlaluan karena telah menyombongkan diri dan telah mengangkat diri pada posisi yang lebih dari patut. Bahkan yang bersangkutan telah membuat Allah menjadi pembohong karena Allah yang tidak mengangkatnya dan yang tidak mengistimewakannya telah dikatakan mengangkat dan mengistimewakannya.

Jadi, tindakan berkat-memberkat di antara sesama manusia adalah tindakan penyerobotan hak dan wewenang Allah dan telah mengangkat diri lebih dari sesamannya. Orang Kristen yang mengerti kebenaran dan yang mengasihi Allah harus menentang tindakan demikian. Tentu kita tidak setuju memakai tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. Itulah sebabnya kita menentang kesesatan hanya melalui tulisan atau melalui argumentasi yang didasarkan pada Alkitab.

PERNIKAHAN DI HADAPAN ALLAH

Ketika Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah tentu sudah tahu bahwa mereka akan menikah bahkan Allah sendiri yang membawa Hawa kepada Adam. Sesudah itu kita tidak membaca pernikahan antara anak-anak Adam dan Hawa, bahkan kita tidak membaca tentang upacara pernikahan di seluruh kitab Perjanjian Lama. Kita membaca peminangan Ribka oleh Eliezer, pembantu Abraham, namun tidak membaca tentang upacara pernikahan mereka. Yakub memang melangsungkan pernikahan dengan Rahel yang kemudian ditukar dengan Lea.

Selanjutnya di antara semua bangsa yang tersebar ke seluruh muka bumi berlangsung pernikahan baik secara kebudayaan suku maupun dalam iman mistik. Apakah Allah mengakui dan memberkati semua pernikahan itu? Bahkan kita tidak membaca ada penetapan acara pernikahan di dalam Alkitab. Kita membaca bahwa Tuhan Yesus menghadiri acara perjamuan pernikahan, tetapi tidak membaca ada acara pemberkatan atau peneguhan pernikahan.

Dari berbagai sumber di dalam Alkitab kita dapatkan bahwa pernikahan berlangsung sesuai dengan kebudayaan tiap-tiap suku bangsa dan daerah atau wilayah, dan semuanya diakui Tuhan. Mereka mengadakan pesta sebagaimana yang dihadiri Tuhan Yesus bersama murid-muridNya, dan selanjutnya mereka hidup sebagai suami-istri. Bagi Tuhan pernikahan itu sah jika diumumkan kepada publik dan terjadi hubungan intim antara dua orang yang berlainan jenis seks. Yang terjadi pada sesama jenis seks adalah suatu penyimpangan (abnormal).

Sesungguhnya kekacauan konsep pernikahan mulai terjadi ketika Gereja Roma Katolik menetapkan pernikahan sebagai salah satu Sacramen (upacara suci), dan mulai melakukan pemberkatan nikah atas umat Katolik yang akan melangsungkan pernikahan. Mereka membuat gereja menjadi sangat penting seolah-olah tempat untuk mendapatkan restu atau berkat menikah. Konsep bahwa pernikahan yang tidak direstui gereja tidak akan mendapat berkat Tuhan dihembuskan agar peran gereja semakin penting di dalam kehidupan masyarakat.

Di Indonesia tadinya setiap orang boleh menikah secara adat, secara kekeluargaan, secara tamasya dan kemudian mencatatkannya di catatan sipil. Artinya ada keterpisahan antara penikahan dengan agama dan negara. Wewenang negara dalam pernikahan sesungguhnya hanyalah mencatatkan pernikahan yang disepakati bukan memberi ijin menikah karena menikah adalah hak asasi manusia.

Namun setelah pernikahan sepasang artis yang berlainan agama tanpa keterlibatan pemimpin agama, melainkan hanya mencatatkan pernikahan mereka di catatan sipil negara, para pemimpin agama yang sangat berkuasa merasa kesal dan mendesakkan undang-undang pernikahan yang harus melibatkan pemimpin agama dalam setiap pernikahan di Indonesia. Kini setiap pernikahan yang akan dicatatkan di catatan sipil negara harus mendapatkan surat bukti telah diijinkan, diberkati, diteguhkan, disumpahi entah apalagi istilahnya, oleh pemimpin agama yang dibuktikan dengan secarik kertas, baru akan dicatatkan oleh catatan sipil negara. Tentu ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang paling menyolok, karena seharusnya orang yang tidak punya agama tetap boleh menikah dan harus dicatatkan pernikahan mereka di catatan sipil negaranya kalau ia seorang warga negara.

Sebenarnya catatan sipil itu fungsinya mencatat, bukan memberi ijin. Catatan sipil harus mencatat orang yang lahir, yang menikah, dan meninggal dunia. Tidak ada orang yang memerlukan ijin lahir, melainkan hanya mencatatkan kelahiran yang sudah terjadi. Demikian juga dengan menikah dan meninggal. Tidak perlu meminta ijin menikah karena menikah itu hak asasi, dan lebih-lebih lagi seharusnya tidak diperlukan ijin untuk meninggal dari negara. Namun karena korupnya aparat negara, maka rakyat diperas ketika mau mencatatkan kelahiran, menikah dan meninggal sehingga banyak warga negara yang tidak memiliki bukti lahir, surat menikah, dan banyak anak yang tidak melaporkan orang tua mereka yang meninggal. Penulis pernah mengalami hambatan menguburkan seseorang karena yang bersangkutan meninggal menjelang hari raya saat kantor kelurahan tutup sementara petugas lokasi penguburan tidak mengijinkan proses penguburan tanpa surat keterangan dari kantor kelurahan. Sebenarnya aparat yang korup tersebut telah menyebabkan kekacauan administrasi negara. Akibatnya kita tidak tahu jelas jumlah penduduk karena pencatatan yang tidak akurat antara jumlah yang lahir dan yang meninggal. Kalau catatan antara yang lahir dan meninggal rapi maka kita tidak perlu buang uang untuk sensus penduduk melulu.

MENIKAHKAN ULANG?

Ada “pendeta” yang mungkin bingung tentang masalah pemberkatan nikah, telah menikahulangkan anggota jemaatnya yang belum merasakan “pemberkatan” nikah. Entah apa yang merasuki pikirannya sehingga bisa berpikir bahwa pasangan yang telah menikah puluhan tahun bahkan yang telah punya cucu masih perlu dilakukan upacara pemberkatan nikah ulang. Kalau pernikahan mereka yang sedang berlangsung dianggap tidah sah, lalu bagaimana kalau mereka minta diijinkan untuk menikah dengan orang lain saja daripada pasangannya yang sedang jalan?

Pernikahan dianggap sah oleh Tuhan jika telah diumumkan kepada publik dan kemudian pasangan itu hidup bersama sebagai suami-istri. Tuhan tidak memerlukan sertifikat yang dikeluarkan oleh catatan sipil negara karena Tuhan tahu banyak aparat negara sok kuasa dan sering mempersulit orang. Tuhan juga tidak memandang kesemarakan pesta pernikahan, atau mahalnya biaya pernikahan dengan segala perlengkapannya.

Tuhan mau manusia yang bermoral tidak bertindak seperti anjing atau kucing yang kawin seturut dengan nafsunya, melainkan melalui suatu pengumuman kepada publik baik itu dengan foto pengantin yang disaksikan oleh sejumlah orang, maupun pesta mewah atau sekedar makan kacang, dan kemudian mereka tinggal bersama sebagai suami-istri.

Sama sekali tidak benar jika ada yang mengajarkan bahwa pasangan yang tidak melewati proses berkat-memberkat di gereja belum sah di hadapan Tuhan sehingga setelah menjadi kakek dan nenek pun masih perlu mengulang upacara berkat-memberkat itu. Tuhan akan memberkati pasangan tersebut berdasarkan posisi mereka di dalam Kristus atau di luar Kristus, dan juga berdasarkan sikap hati mereka.

LALU MANFAAT PENEGUHAN NIKAH?

Istilah yang benar adalah Peneguhan Nikah, bukan pemberkatan nikah. Istilah pemberkatan nikah adalah istilah yang dipakai oleh Gereja Roma Katolik karena mereka menempatkan pernikahan sebagai salah satu sakramen (upacara kudus) gereja. Gereja alkitabiah tidak ada sakramen melainkan hanya mengenal dua Ordinance (upacara yang diperintahkan) yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan.

Kalau upacara pernikahan bukanlah upacara suci dan juga bukan upacara yang diperintahkan maka mengapa diadakan di gereja? Jawabannya ialah ketika ada dua orang bersepakat untuk hidup sebagai suami-istri dan mereka mau mengumumkan kepada publik, dan juga ingin seluruh anggota jemaat meneguhkan atau memberi approve di hadapan Allah dan dihadapan anggota jemaat, itu adalah hal yang sangat baik.

Mereka saling menyatakan kasih dan saling berjanji setia di hadapan Allah dan sidang jemaatNya, dan memohon restu serta doa dari seluruh anggota jemaat dimana mereka sebagai bagiannya, adalah hal yang sangat indah serta menyukakan hati Tuhan. Sikap mereka yang menghormati penikahan, terlebih lagi sikap mereka yang menghormati janji setia mereka di hadapan Allah dan sidang jemaatNya itulah yang akan mendatangkan berkat Tuhan dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Di dalam gereja yang alkitabiah tidak ada jabatan imam yang berwenang memberkati itulah sebabnya tidak dibenarkan memakai istilah pemberkatan nikah. Upacara yang dilakukan oleh gereja alkitabiah dalam hal pernikahan ialah mengukuhkan atau meneguhkan pernikahan dua anggota jemaatnya di hadapan Allah dan di hadapan sidang jemaatNya serta berdoa memohonkan kasih karunia Allah untuk kehidupan rumah tangga mereka. Berkat Tuhan bagi mereka selanjutnya tentu tergantung pada sikap hati mereka kepada Tuhan bukan pada penumpangan tangan dari imam atau pendeta yang melakukan praktek keimamatan.***

Pedang Roh 54 Edisi LIV Tahun XIII Januari-Februari-Maret 2008

Tidak ada komentar: