Rabu, 17 Februari 2010

MUSIK: SALAH SATU JENIS RAGI DI TANGAN IBLIS

Musik Duniawi Dalam Gereja Rohani
Banyak orang tidak sadar bahwa Iblis sedang berusaha keras menyusupkan hal-hal duniawi ke dalam gereja, agar gereja menjadi duniawi. Lebih banyak lagi yang tidak sadar bahwa Iblis berupaya memasukkan musik duniawi ke dalam gereja. Dan ternyata ia sangat sukses, karena orang Kristen tidak peduli tentang hal ini. Ketika Iblis berhasil memasukkan musik yang duniawi ke dalam gereja, ia akan perlahan-lahan mengubah gereja itu menjadi gereja duniawi.

Salah satu alasan iblis begitu sukses menyusup masuk ke dalam gereja ialah perangkapnya yang sangat hebat, dan banyak orang Kristen yang masuk dalam perangkap itu. Iblis sengaja menghembuskan paham bahwa “musik adalah netral/amoral.”

Artinya musik itu tidak baik dan juga tidak buruk, atau dengan kata lain “tidak punya nilai moral.” Yang membuatnya baik atau buruk ialah pemakainya. Kata mereka bahwa itu hanya pada kata-katanya, isi hati penyanyinya, dsb. Ini adalah kebohongan yang ditelan bulat-bulat oleh kebanyakan orang Kristen.

Banyak orang suka pada konsep ini, karena dengan demikian ia dapat mendengarkan musik apapun yang ia sukai, tanpa perlu takut apakah musik yang ia sukai baik atau buruk secara moral.

Dengan meluasnya konsep ini, musik-musik yang bersifat duniawi masuk dengan leluasa ke dalam gereja, dibawah samaran kata-kata yang rohani. Gereja menerima begitu saja lagu-lagu yang kata-katanya penuh dengan “Yesus”, “Haleluya”, “Bapa”, dll., namun bentuk alunan musiknya bersifat kedagingan.

Musik Jahat Vs. Baik
Musik tidaklah netral! Penganut paham “musik adalah netral” mengatakan bahwa nada dan not, seperti do re mi, tidak baik ataupun jahat secara moral. Memang demikian, tetapi seperti huruf “b” dan “o” adalah netral, tetapi ketika dirangkai dengan huruf lain menjadi kata “b-o-d-o-h”, tiba-tiba rangkaian huruf itu mempunyai makna dan konotasi. Musik juga demikian. Do re mi adalah not-not, balok-balok bangunan, yang ketika dirangkai menjadi melodi, kemudian diberi irama menjadi musik yang mempunyai makna dan konotasi.

Ada jenis musik untuk tidur, jelas tidak cocok dipakai di diskotik. Ada musik untuk dansa, ada musik untuk relaksasi. Musik membawa pesan, tergantung dari style musik itu. Bayangkan ketika kita sedang nonton film. Ketika menampilkan seorang gadis cantik, musik yang kita dengar adalah riang dan jernih. Tetapi ketika dibelakangnya muncul penjahat yang siap menikamnya dengan pisau, musik yang kita dengar berubah menjadi tegang dan tajam.

Bagaimana jika dibalik, adegan gadis disertai musik yang tegang dan adegan penjahat diiringi musik yang riang? Kita akan bingung! Yang mana penjahatnya, yang mengacungkan pisau atau si cantik? Musik dapat membawa pesan yang baik, juga yang jahat.

Musik adalah bahasa emosi. Musik membawa pesan, dan pesan itu mempengaruhi emosi kita. Untuk menggambarkan suasana bahagia, dimainkan musik yang riang, dengan nada-nada yang relatif tinggi, tempo yang relatif cepat. Sebaliknya, pada upacara pemakaman tidak mungkin dimainkan musik semacam itu, melainkan musik yang melankolis, dengan tempo relatif lambat. Musik menggambarkan perasaan, seperti senang, sedih, bersemangat, lesu, penuh harapan, cinta, benci, dsb. Jika ada perasaan yang tidak baik bagi orang yang sudah lahir baru (benci, dendam, pemberontakan, dll), maka ada musik tertentu yang tidak baik bagi kita.

Pembuktian Secara Medis
Jika ada yang masih tidak percaya, bahwa musik tidaklah netral, fakta medis membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi tubuh kita. Musik dapat mempengaruhi gelombang otak kita. Otak kita mempunyai 4 gelombang, alpha, beta, theta, dan delta. Gelombang beta adalah yang normal jika kita sedang sadar dan terjaga. Musik yang lembut atau suara air mengalir, lebih banyak membantu gelombang otak kita berpindah ke gelombang alpha, yang membantu kita rileks dan menurunkan tekanan darah kita, dan memberikan perasaan tenang dan damai.

Irama drum dengan lebih dari 3-4 beat per detik, akan membuat otak kita stress. Ketika otak kita stress, dilepaskanlah opioids (sejenis hormon tubuh yang fungsinya mirip sekali dengan morfin) untuk mengembalikan keseimbangan tubuh. Jika opioid alami ini dilepaskan secara teratur dan cukup sering, akan menimbulkan ketergantungan, sehingga pendengar itu akan terus mencari perasaan “fly” itu. Jika musik tertentu bisa membuat otak kita rileks, dan jenis lain bisa membuat kita stress, jelas musik tidak netral!

Ciri khas Musik duiniawi
Musik duniawi memiliki irama khusus yang membuatnya sangat digemari, yaitu irama back beat. Irama normal menekankan ketukan pertama dan ketiga dalam lagu 4/4 (1 -2 -3 -4), sedangkan back beat menekankan ketukan kedua dan keempat (1 – 2 – 3 – 4). Irama yang normal adalah irama yang sesuai dengan irama tubuh kita, denyut jantung kita, tetapi back beat membalikkan irama itu.

Back beat ini digunakan oleh semua jenis musik duniawi, rock, jazz, blues, pop, country, metal, hip-hop, rap, gospel, dangdut, dll, karena bersifat sensual. Lihat saja gerakan-gerakan tubuh para penyanyi dunia, mulai dari Mariah Carey sampai Madona, Elton John sampai Mick Jagger. Musik mereka adalah tentang sensualitas. Bagaimana mereka bisa meliuk-liuk seperti itu? Karena musiknya mengundang gerakan-gerakan itu! Mungkinkah lagu hymne tradisional seperti ‘Mahabesar, O Tuhanku’ mengundang gerakan-gerakan seperti itu?

Yang memprihatinkan, kebanyakan lagu gereja telah mengadopsi ritme duniawi ini. Musik macam ini hanya dapat membawa kepada imoralitas. Mengubah kata-katanya menjadi rohani tidak mengubah pesan dari musik/irama lagu itu.

Gereja perlu lebih waspada dalam menyeleksi musik, karena musik tidak netral! Dr. Suhento Liauw sering berkata, “Ketika musik dalam gereja anda semakin mirip dengan musik duniawi, maka hanya ada dua kemungkinan: Gereja anda makin duniawi atau Dunia semakin Rohani?” ***


(Tambahan: Berita Mingguan 06 Februari 2010) Musik Contemporary Christian Worship menjalar ke seluruh denominasi, dan ketika ia masuk ke sebuah gereja, ia bukan hanya sekedar mengubah musik. Ia membawa sebuah filosofi kekristenan yang duniawi dan penurunan standar moral dan doktrin yang perlahan dan bertahap. Almarhum Gordon Sears, yang melayani di bidang musik rohani selama bertahun-tahun bersama dengan Rudy Atwood, merasa sedih sebelum kematiannya oleh karena perubahan dramatis yang terjadi di banyak gereja-gereja Baptis fundamental. Ia memperingatkan, “Ketika standar musik diturunkan, maka standar pakaian juga diturunkan. Ketika standar pakaian diturunkan, maka standar perilaku juga diturunkan. Ketika standar perilaku diturunkan, maka rasa menghargai terhadap kebenaran Allah juga diturunkan.”

Kita dapat melihat penggenapan akan peringatan ini di setiap contoh. Perhatikanlah Gereja Baptis Perjanjian Baru di Miami, Florida. Tadinya ia adalah sebuah gereja Baptis fundamental. Gembala sidang Dino Pedrone adalah seorang pembicara rutin di Tennessee Temple Baptist College di Chattanooga waktu saya masih mahasiswa di sana tahun 1970an. Ia adalah seorang separatis, menggunakan hanya Alkitab King James dan musik rohani, mempunyai standar pakaian, dan berkhotbah melawan rock & roll. Tetapi semua itu sudah lenyap. Gereja itu kini bernama The Gathering Place. Hari ini gereja tersebut mempromosikan menonton film-film dengan rating-R, merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh para pemimpin emerging church yang menolak ketiadasalahan Alkitab, seperti Chris Seay, dan menyuapi para remajanya dengan diet hiburan rock & roll. Program anak muda gereja tersebut, yang bernama Youth Force Dade, digambarkan di website gereja tersebut sebagai berikut: “Rock the Universe, All-Niters, Ski Trips, Summer Camps, Chubby Bunny, Water Balloons, Break dancing, WWE Wrestling, The Book Of Ross, Worship, Bible Study, Community, Little Debbie Snack Cakes, Madden, X-Box 360, LEE ADMIRAL MAJORS!, Eating Dog Food, Samurai Swords, Paintball, Skillet, Shipwrecked, Videos, Ultimate Frisbee, Man Hunt, And Much More!”

Perhatikan bahwa mereka bahkan masih memiliki sedikit pengajaran Alkitab di tengah-tengah semua hiburan kedagingan mereka. Jeff Royal, yang tinggal di Florida, mengatakan, “Gereja Baptis Perjanjian Baru dulunya adalah sebuah gereja fundamental, tetapi jelas sekali itu telah berubah. Dalam pandangan saya perubahan itu terjadi sepuluh tahun lalu dengan cara membiarkan CCM masuk ke dalam kebaktian. Saya telah memperhatikan hal ini bertahun-tahun. Ini sangat menyedihkan karena ini sudah dua gereja yang saya kenal secara pribadi yang telah mengikuti jalur yang berbahaya ini” (e-mail 19 Januari 2010).

Tidak ada komentar: