Rabu, 17 Februari 2010

TIDAK MEMBAPTIS?

Baptisan adalah topik yang sudah banyak dibahas. Namun demikian tentu tidak ada larangan untuk membahasnya lagi terutama karena topik ini membawa pengaruh yang sangat besar, karena dihubungkannya oleh kelompok tertentu dengan keselamatan. Sehingga timbul perdebatan tentang posisi baptisan dalam keselamatan jiwa kita.

APAKAH BAPTISAN MENYELAMATKAN?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas sangat mempengaruhi kondisi keselamatan seseorang termasuk juga kondisi gereja yang mengajarkannya. Sesungguhnya tidak ada satu ayat pun yang mendukung konsep dibutuhkannya baptisan dalam keselamatan jiwa kita. Jelas sekali bahwa kita diselamatkan dengan iman yang didahului atau bersamaan dengan pertobatan (Ef.2:8-9).

Manusia berdosa tidak bisa pergi ke Sorga karena Allah selain mahakasih, Ia juga mahasuci dan mahaadil. Ia tidak dapat menyangkal diriNya, sebab itu tidak mungkin hanya karena salah satu sifatNya “kasih” lalu orang berdosa bisa menghampiri diriNya tanpa terhalangi oleh sifat lainnya yaitu mahasuci dan mahaadil. Itulah sebabnya satu-satunya jalan penyelesaian dosa manusia ialah melalui penghukuman. Dan untuk itulah maksud kedatangan Yesus dan penyalibanNya di kayu salib. Penyaliban Kristus adalah penghukuman atas dosa seisi dunia.

Kita diselamatkan hanya melalui bertobat dan percaya bahwa penghukuman Yesus adalah penghukuman atas semua dosa kita. Yesus menggantikan saya dihukumkan atas semua dosa saya, dan kini saya hidup bagi-Nya.Tidak boleh ditambah dengan apapun.

Jika diperlukan baptisan untuk memastikan seseorang masuk Sorga, maka jasa seorang“pendeta” untuk memasukkan orang ke Sorga akan sangat besar. Dan akan banyak sekali orang yang berakhir di Neraka karena pendeta terlalu sibuk, atau ia bertobat hari Senin dan mati hari Sabtu sebelum sempat dibaptis pada hari Minggu. Jadi, pembaca bisa berpikir bahwa konsep dibutuhkan baptisan untuk masuk Sorga itu bukan hanya tidak alkitabiah bahkan tidak masuk akal.

UNTUK APA DIBAPTIS?
Kalau baptisan tidak dibutuhkan untuk masuk Sorga, lalu mengapa kita membaptis orang? Pertama, baptisan adalah salah satu dari dua upacara simbolik yang diperintahkan kepada Jemaat Perjanjian Baru. Yang pertama adalah Baptisan dan yang kedua adalah Perjamuan Tuhan. Posisi kedua upacara simbolik tersebut sama dengan upacara simbolik Perjanjian Lama. Bedanya hanya, upacara simbolik PL menunjuk ke depan dan upacara simbolik PB menunjuk ke belakang. Upacara simbolik PL yang menunjuk ke depan telah selesai tugasnya sejak yang ditunjuk tiba. Kini fungsinya digantikan dengan upacara simbolik PB yang sifatnya menunjuk ke belakang. Penyembelihan domba berfungsi mengingatkan akan Juruselamat yang sedang dijanjikan. Sedangkan Baptisan berfungsi mengingatkan akan Juruselamat yang telah dihukumkan.

Jadi, kelompok yang tidak membaptis (Quaker, dan Hyperdispensationalisme,dll.) melakukan kesalahan yang sangat besar. Tindakan mereka sama persis dengan tindakan orang PL yang tidak mempersembahkan domba bakaran. Korban domba adalah upacara simbolik PL yang Allah perintahkan demi mengingat pada janji Allah untuk mengirim Juruselamat. Sedangkan baptisan adalah upacara simbolik yang Allah perintahkan kepada jemaat PB untuk mengingat pada Juruselamat yang telah mati, dikuburkan, dan bangkit dari kematian. Jadi, korban domba dan pembaptisan adalah upacara yang sebanding.

Gereja yang mengajarkan bahwa baptisan telah ditiadakan bisa dilihat sebagai gereja yang telah salah menafsirkan perintah Tuhan, atau lebih buruk daripada itu, telah dihasut untuk menyimpang dari kebenaran, yaitu tidak melakukan upacara simbolik yang sangat penting yang dikhususkan untuk mengingat pada peristiwa penyelamatan yang sangat agung itu. Jemaat PB yang meniadakan baptisan itu sama seperti orang di zaman PL yang meniadakan korban domba. Setiap kali mereka yang di zaman PL lalai dalam mempersembahkan korban domba, Tuhan marah sekali kepada mereka. Karena jika kelalaian itu diteruskan, maka setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, janji pengiriman Juruselamat akan perlahan-lahan terlupakan. Biasanya sebelum iblis menyerang titik sasaran, ia akan berputar-putar dulu di pinggiran sasaran. Jadi, sebelum menyimpangkan inti doktrin keselamatan, iblis menghasut agar upacara yang menggambarkan proses penyelamatan ditiadakan sehingga ketepatan doktrin keselamatan dapat pelan-pelan digesernya. Dengan kata lain, sebelum menyerang orangnya, fotonya diturunkan dulu.

Jangan melihat sepele kesalahan gereja yang meniadakan acara pembaptisan. Pada zaman PL, yaitu pada zaman Nuh, manusia meniadakan upacara korban domba, dan hasilnya ialah secara doktrinal mereka sesat dan secara moral mereka menjadi bejat. Setelah Nuh, satu-satunya orang yang masih ingat dan melaksanakan upacara simbolik yang Tuhan perintahkan, terapung-apung hampir satu tahun dan kemudian ia mendarat, hal pertama yang dilakukannya ialah mempersembahkan korban domba (Kej.8:20-21). Allah bergembira atas dipersembahkannya kembali upacara simbolik yang telah terlupakan.

Pada zaman PL iblis berulang-ulang menghasut manusia untuk melupakan atau meniadakan upacara korban domba yang diperintahkan untuk mengingat akan janji Allah, dan menggambarkan penghukuman Sang Juruselamat yang masih jauh di depan. Pada zaman PB Allah perintahkan agar jemaat lokal akitabiah melaksanakan upacara simbolik yang sifatnya mengingatkan pada setiap orang tentang kebenaran Sang Juruselamat yang telah mati dan dikuburkan demi dosa kita serta bangkit dari kematian untuk pembenaran kita. Baptisan adalah foto tentang kematian dan kebangkitan Kristus demi kita.

Iblis berusaha menghasut agar pemimpin gereja menafsirkan bahwa baptisan telah ditiadakan sehingga gereja tidak melaksanakan lagi pembaptisan, yang dapat disamakan dengan penurunan foto tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Jadi peniadaan acara pembaptisan adalah kesalahan yang sangat-sangat besar.
Bagi yang ngotot tetap melaksanakan pembaptisan, iblis berusaha menghasut pemimpin gereja tertentu untuk mengganti foto itu dengan foto lain. Pembaptisan yang seharusnya masuk ke dalam air, diubah menjadi sekedar dipercikkan dengan beberapa tetes air. Ini adalah tindakan pembangkangan yang tidak disadari atau memang sangat disadari.

BAGAIMANA DENGAN I KOR.1:17?
Di dalam I Kor.1:17 dikatakan bahwa Kristus tidak mengutus Paulus untuk membaptis tetapi untuk memberitakan Injil. Namun pada beberapa ayat sebelumnya ia mengakui telah membaptis beberapa orang dalam jemaat Korintus. Dan perlu diingat bahwa surat I Korintus ini ditulis dari Efesus, dimana rasul Paulus di situ kemudian membaptis 12 orang lagi (Kis.19:7). Kalau seseorang membaca ayat tersebut di atas dengan teliti maka akan tahu rasul Paulus sama sekali tidak mengatakan bahwa tidak ada upacara baptisan lagi, melainkan ia tidak diutus untuk membaptis, atau yang betanggung jawab untuk membaptis. Betul sekali bahwa ia tidak diutus untuk membaptis melainkan sebagai pionir untuk memberitakan Injil, atau untuk membangun jemaat. Itulah sebabnya ia tidak membaptis semua orang yang percaya, melainkan orang-orang pionir saja. Sesudah ditetapkan seorang gembala di jemaat yang terbentuk, maka selanjutnya gembala itulah yang membaptis orang.

Menasfsirkan secara hyper-dispensational bahwa masa pembaptisan sudah selesai adalah sistem penafsiran yang keliru. Untuk membagi masa dispensasi tentu harus ada aturannya. Untuk membedakan satu dispensasi zaman dengan yang lain, harus ada hal­hal khusus yang tidak terdapat pada zaman yang lain. Paulus tidak pernah meniadakan baptisan, buktinya sesudah membaptis orang di Korintus, kemudian ia membaptis orang lagi di Efesus. Ia hanya berkata bahwa ia tidak diutus untuk membaptis, ia adalah rasul, bukan gembala. Gembala Jemaat adalah jabatan yang khusus bertanggung jawab atas pembaptisan.

Paulus membaptis beberapa orang Korintus atas otoritas jemaat Anthiokia yang mengutus dia. Setelah ada orang yang telah dibaptiskan di Korintus, berarti di Korintus berdiri jemaat Korintus. Selanjutnya, Gembala jemaat Korintuslah yang membaptis orang-orang yang percaya kemudian atas otoritas jemaat Korintus. Sama sekali tidak benar jika dikatakan bahwa Paulus menghentikan praktek pembaptisan.

Dari Kisah Para Rasul kita tahu bahwa Paulus lebih dulu tiba di Korintus (ps.18) baru kemudian ke Efesus (ps.19), dan di Efesus Paulus kemudian membaptis 12 orang lagi (Kis.19:7). Dan kita juga tahu bahwa Surat Korintus ditulis dari Efesus (I Kor.16:8-9,19), di rumah Kloe (I Kor.1:11), sekitar tahun 55 AD. Enam tahun kemudian ketika ia menulis surat Efesus dari penjara di kota Roma, sekitar tahun 60-61 AD, ia masih menyinggung tentang baptisan (Ef.4:5), tidak melikuidasinya.

Setiap orang Kristen yang tadinya percaya bahwa baptisan telah ditiadakan harus segera bertobat dan melaksanakan baptisan dengan benar. Jika pemimpin gereja terlalu keras kepala dan demi gengsi tidak peduli pada kebenaran yang alkitabiah, tentu anggota jemaat yang tidak mau terlibat pada kesalahan yang sangat besar itu harus ambil tindakan. Keluar dari gereja yang berusaha menurunkan foto tentang kematian dan kebangkitan Kristus itu.

BAPTISAN ALKITABIAH
Baptisan yang alkitabiah harus memenuhi tiga syarat; (1) dilaksanakan terhadap orang yang TELAH DIBENARKAN, artinya orang yang telah dilahirkan kembali. Tidak dibenarkan sama sekali untuk membaptiskan bayi, atau orang dewasa yang belum percaya. (2) Dilaksanakan dengan cara yang benar, yaitu dimasukkan ke dalam air, bukan diteteskan atau dipercikkan air. Arti kata baptiso adalah masuk ke dalam air. Kalau dipercikkan air dalam bahasa Yunani ialah rantiso. (3) Dilaksanakan atas otoritas jemaat lokal yang benar (alkitabiah). Tidak dibenarkan untuk membaptis orang atas otoritas toko buku, yayasan penginjilan atau bahkan sinode. Kita dibaptis atas otoritas jemaat lokal alkitabiah yang adalah tubuh Kristus. Dibaptiskan dalam nama Tritunggal Allah, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Syarat pertama tentu orang yang akan dibaptis harus telah dilahirkan kembali, yaitu orang yang telah dibenarkan di dalam Yesus Kristus. Artinya orang tersebut telah bertobat dan percaya dengan segenap hati (Kis.8:37). Tentu ia harus telah dewasa karena sudah bisa memberi diri dibaptis. Orang yang belum bisa memberi diri dibaptis, masih dalam gendongan, belum layak untuk dibaptis.
Sudah pasti harus dimasukkan ke dalam air, bukan ditetesi air. Kata baptiso artinya masuk kedalam air. Kalau dipercik dengan air bahasa Yunaninya adalah rantiso. Jadi, kalau hanya ditetesi atau diperciki air orang itu dirantis bukan dibaptis.

Syarat yang ketiga ialah dilaksanakan oleh gereja yang alkitabiah. Gereja yang tidak alkitabiah adalah gereja yang pengajaran­pengajaran pentingnya telah menyimpang. Bisa jadi kesalahan dan kesombongan manusia yang telah menyimpangkannya. Tetapi bisa juga karena pengaruh iblis melalui orang-orang yang disusupkan, sehingga memiliki pengaruh di dalam gereja. Bagaimanakah cara memeriksa kondisi sebuah gereja?

Tiga doktrin utama, Keselamatan, Alkitab, dan Gereja, adalah doktrin yang sangat menentukan. Dalam Doktrin Keselamatan (Soteriology), harus murni diselamatkan dengan bertobat dan percaya. Tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Terjadi penambahan dan pengurangan juga dapat dilihat pada pelaksanaan doktrin gerejanya.

Doktrin Alkitab (Bibliology) Alkitab dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21 adalah satu-satunya firman Tuhan. Tidak boleh ditambahi maupun dikurangi. Artinya, tidak ada lagi proses pewahyuan dalam segala bentuknya setelah Alkitab selesai diwahyukan. Tidak ada lagi karunia bernubuat dan berbahasa lidah karena baik nubuatan maupun bahasa lidah adalah bentuk proses pewahyuan.
Dalam Doktrin Gereja (Ecclesiology), Tubuh Tuhan adalah jemaat lokal bukan seluruh kekristenan. Satu gereja lokal, adalah tubuh Tuhan Yesus, atau wakil Tuhan Yesus di wilayah tersebut. Gereja yang alkitabiah harus melaksanakan seluruh perintah Alkitab dengan penuh takut dan gentar kepada Tuhan.

Ketiga doktrin utama tersebut di atas jika ditafsirkan dan dijalankan dengan benar ia pasti harmonis. Contoh, kalau baptisan tidak menyelamatkan, maka orang yang sedang sakit tidak perlu dibaptiskan melainkan hanya perlu diberitakan Injil yang benar. Salah satu cara menafsirkan Alkitab yang benar ialah, jika masih bisa ditafsirkan secara literal, tidak boleh ditafsirkan secara alegorikal. Kesimpulan yang benar adalah yang tidak bertentangan dengan akal sehat, dan didasarkan pada keseluruhan ayat Alkitab, bukan sebagian apalagi hanya beberapa ayat Alkitab. ***

Tidak ada komentar: