Sabtu, 26 Juni 2010

Berita Mingguan 26 Juni 2010

HATI-HATILAH TERHADAP KRISTUS-KRISTUS PALSU
Tuhan Yesus dan Rasul-rasul memperingatkan akan kristus-kristus palsu. Tuhan Yesus bernubuat bahwa pada akhir zaman akan muncul banyak sekali kristus palsu. "Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga....Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya" (Mat. 24:24, 26). Kita melihat penggenapan nubuat yang menakjubkan ini dalam banyak kejadian. Ada kristusnya Katolik yang didominasi oleh ibunya, kristusnya Mormon yang adalah saudara Setan, kristusnya Saksi Yehovah yang adalah makhluk roh yang diciptakan, kristusnya Da Vinci Code yang menikah dengan Maria Magdalena, kristus revolusioner milik theologi pembebasan, kristus liberal milik kelompok Jesus Seminar, kristus mitologis yang hanyalah mitos kafir seperti Mithras, kristus yang kontemplatif dan asketik (petapa yang menyiksa diri) milik biara-biara, kristus homoseksual dalam drama Corpus Christie, kristus yang hippie dalam film Jesus Christ Superstar, kristus avatar milik Madame Blavatsky, kristus yang adalah guru timur dalam Injil Aquarian, kristus yang hanyalah nabi besar dalam Islam, kristus yang tidak menghakimi dalam The Shack. Kristus yang sejati dinyatakan dalam Kitab Suci, yang dibuktikan dengan "banyak tanda," dan Dia juga dapat dikenal dan dibuktikan secara pribadi. Rasul Yohanes menulis, "Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya" (1 Yoh. 5:10).

Sabtu, 19 Juni 2010

Berita Mingguan 19 Juni 2010

80% REMAJA INGGRIS MELIHAT PORNOGRAFI
Sebuah survei di Inggris menemukan bahwa lebih dari 80% remaja berumur 14 hingga 16 tahun “secara rutin mengakses fotografi dan video pornografi keras” di komputer rumah mereka atau di telepon genggam mereka (“Third of Children,” Daily Mail, 7 Juni 2010). Lebih lanjut lagi, sepertiga anak-anak mengakses pornografi online sejak umur 10 tahun. Laporan itu mengatakan bahwa orang tua sepertinya tidak sadar akan bahaya terhadap anak-anak mereka dan dalam banyak kasus tidak mampu untuk mengimbangi anak-anak mereka yang jago komputer. Sebenarnya, para orang tua hari ini seringklai sendirinya kecanduan pornografi dan menjadi begitu bebal terhadap dosa sehingga mereka tidak peduli apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. (Film-film hari ini yang memiliki rating-R akan dianggap pornografi beberapa puluh tahun yang lalu). Kita bertanya-tanya apakah hasilnya jika survei yang sama dilakukan di gereja-gereja yang mengaku menjunjung Alkitab.

Selasa, 15 Juni 2010

PENTINGNYA KEBENARAN

Belilah kebenaran dan jangan menjualnya (Amsal 23:23a)

Kebenaran merupakan hal yang terbaik dan terindah di dunia, meskipun sukar dan mengecilkan hati. Tetapi toh kita selalu bersikap ambivalen dan ambigu terhadap kebenaran, ketika kebenaran membawa kita ke tempat yang tidak kita inginkan. Ada orang yang gembira, bersyukur tak kala kebenaran menghampirinya. Mereka akan melakukan apa saja untuk memperoleh kebenaran (lihat: Mat. 13:44-45). Ada pula yang gugup, takut, dan menjauh ketika kebenaran mulai tampat jelas di depan matanya (band: Yoh. 6:66). Bisa jadi, harga yang harus dibayar untuk kebenaran terlalu besar. Kendati, pada abad mula-mula sampai pertengahan, harga memiliki kebenaran sejati adalah nyawanya sendiri.
Sejarah gereja penuh dengan jejak darah orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran. Jhon Bunyan dipenjarakan selama 12 tahun karena kebenaran. Jhon Hus dibakar hidup-hidup, Marthin Luther dikejar-kejar, Felix Manz ditenggelamkan hidup-hidup karena kebenaran, dan ada jutaan orang percaya yang dibunuh, dianiaya karena kebenaran.

KEKHUSUSAN PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEBENARAN

1. Kebenaran diwahyukan oleh Allah. Kebenaran tidak ditemukan oleh individu atau komunitas. Berbagai kepercayaan mungkin merupakan hasil dari temuan manusia atau kalompok, tetapi kebenaran berasal dari pernyataan Allah yang berpribadi dan bermoral, yang membuat diri-Nya diketahui. Surat Paulus kepada jemaat Roma, misalnya,membari tahu kita bahwa Allah telah membuat diri-Nya dapat diketahui, baik melalui ciptaan maupun hati nurani manusia, sehingga semua manusia tidak bisa berkilah dihadapan Pencipta dan Pemberi hukum mereka  (2:14-15). Orang-orang yang menindas kebenaran yang diwahyukan ini telah membuat berhala dalam kefasikan (1:18) dan bukan menyembah Allah (1:21-25), dengan melakukan hal ini, "mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta" (1:25). Dusta menjadi berhala, dan setiap berhala mengaburkan kebenaran. Ini karena semua berhala tidak nyata dan menipu. Semua berhala hanyalah konstruksi sosial yang memilukan dan tidak benar atas apa yang kudus.

Apakah KEBENARAN itu?

Berikut ini oleh Gbl. Alki Tombuku (GBIA Komunitas Depok):

"…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu"
(Yohanes 8:32).
Alkitab berulang kali dan tanpa ragu memakai kata kebenaran dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Kata `emet merupakan akar kata dari bahasa Ibrani yang berkaitan dengan kebenaran. Kata ini berarti "satabilitas" , "kesetiaan", dan "kesesuaian terhadap fakta".  Kata `emet bisa juga menyatakan "apa yang sesuai dengan kenyataan". `Emet bisa juga memiliki konotasi "hal yang autentik, bisa diandalkan, atau semata-mata benar". Kebenaran tentang Allah adalah, Allah itu benar kepada firmanNya dan di dalam tindakanNya dan sikapNya; Allah adalah yang benar dan setia.
Kata Yunani kebenaran dalam perjanjian baru adalah, aletheia yang juga berarti "kesesuaian terhadap fakta". Menurut Leon Morris, Rasul Paulus sering menggunakan kata benda aletheia, untuk menunjuk pada "kebenaran sebagai keakuratan, yang bertentangan dengan kesalahan". Dan juga, pandangan Alkitab tentang kebenaran (`emet-aletheia) bukanlah ciptaan budaya, anggapan mayoritas orang, atau kelompok tertentu.

Sabtu, 12 Juni 2010

Berita Mingguan 12 Juni 2010

EDINBURGH 2010: KESATUAN YANG PALSU
Acara Edinburgh 2010 yang berlangsung minggu lalu adalah suatu perayaan ekumenikal ulang tahun ke-100 World Missionary Conference (Konferensi Missionari Dunia). Ini adalah suatu perayaan kesatuan yang palsu, yang membangun Gereja Pelacur di Wahyu 17, bukan jemaat sejati Yesus Kristus. Edinburgh 2010 mempersatukan secara campur aduk orang-orang Injili, Modernis, Roma Katolik, Ortodoks, dan Pantekosta. Ada Presbyterian, Lutheran, Methodis, Anglikan, Baptis, apa saja ada. Olav Tveit, sekretaris jenderal dari World Council of Churches yang sangat sesat itu mengatakan, "Misi dan kesatuan adalah satu paket" ("Evangelicals, Ecumenicals, " Christian Post, 3 Juni 2010). Geoff Tunnicliffe, direktur internasional dari World Evangelical Alliance, mengatakan bahwa walaupun orang-orang Kristen tidak dapat sepakat dalam hal doktrin, mereka seharusnya "membangun jembatan, bukan menciptakan jarak." Konferensi itu disimpulkan dengan suatu "Seruan Umum kepada Orang-orang Kristen." Dalam Yohanes 17:21, Tuhan Yesus sama sekali tidak menyerukan kesatuan ekumenikal macam apapun. Yohanes 17 adalah suatu doa yang Yesus panjatkan kepada Allah Bapa, bukan suatu perintah yang Ia sampaikan kepada orang-orang Kristen. Dari konteksnya, jelas bahwa Yesus bukan sedang menggambarkan kumpulan orang di Edinburgh tersebut, dengan penolakan mentah-mentah mereka akan pengilhaman Kitab Suci yang tanpa salah, penerimaan evolusi, pembaptisan bayi, doa kepada Maria, theologi penggantian, theologi pembebasan, dialog antar-agama, injil sosial, bahasa doa pribadi, dan sekumpulan kesesatan lainnya.

Sabtu, 05 Juni 2010

Berita Mingguan 05 Juni 2010

JOHN HAGEE DAN CHRISTIANS UNITED FOR ISRAEL MENOLAK MENOBATKAN ORANG YAHUDI
John Hagee, pendiri dari organisasi Christians United for Israel, menolak usaha-usaha untuk menobatkan orang-orang Yahudi. Ia mengatakan, "Aturan pertama yang dipegang oleh Christians United for Israel adalah bahwa tidak akan ada penginjilan dalam acara-acara kami. CUFI eksis hanya untuk menghormati dan mendukung umat Yahudi, tidak pernah untuk menobatkan mereka" (Hagee, "Why Christian Zionists Really Support Israel," 13 Mei 2010). Ini bukanlah tujuan Rasul Paulus 2000 tahun yang lalu. Ia tidak takut mempersalahkan Israel tentang pemberontakannya yang tegar tengkuk terhadap Allah dan juga penolakannya terhadap Mesias, dan dia jelas tidak ragu-ragu untuk menobatkan orang-orang Yahudi sebangsanya bagi Yesus. "....Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias" (Kis. 18:5-6). Kita simpati dan tidak membenci Israel, sesuai dengan Kejadian 12:3, tetapi itu tidak berarti mengabaikan dosa-dosanya dan keperluannya akan keselamatan. Sungguh, cara terbaik untuk memberkati Israel adalah dengan memberitakan kepadanya Injil yang mulia.

Kamis, 03 Juni 2010

The History of the Temple Mount

June 3, 2010 (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org)
   
Recently I stood on the Temple Mount in Jerusalem and wondered at the past, present, and future of this amazing place. The story of the nation Israel is largely the story of the Temple Mount, and it should interest every believer, because it is at the heart of Bible prophecy and our own future is tied up with it.

The Bible says that God has placed Jerusalem at the center of the nations to be a light to the world (Ezekiel 5:5). It is Israel’s failure to live up to this calling that has brought such great trouble upon her and upon the city that lies at the center of her hopes and aspirations.

Jewish tradition says that Adam and Eve were created on Mt. Moriah, but the Bible does not confirm this. In fact, the biblical description of the location of the Garden of Eden places it farther north in association with the Tigris and Euphrates rivers.

The biblical history of the Temple Mount begins in 1870 B.C. when Abraham was instructed to offer his son Isaac, the inheritor of God’s promise, on Mt. Moriah (Genesis 22:2). God provided a ram in the place of Isaac to signify the coming of the Messiah to make the perfect atonement for man’s sin (Gen. 22:11-14). Abraham named the place Jehovah-jireh, the Lord will provide, and there God reaffirmed the Abrahamic covenant (Gen. 22:15-18), the covenant that passed to Jacob or Israel, and through his 12 sons to the tribes of Israel.

In 957 B.C. the First Temple was built by King Solomon on Mt. Moriah (2 Chron. 3:1). It was built according to the divine plans given to his father David (1 Chronicles 22:5-6; 28:11-12, 19), and the glory of God filled it (1 Kings 8:10-11).