Sabtu, 31 Juli 2010

Berita Mingguan 31 Juli 2010

BAHAYA ROHANI DALAM GERAKAN "RIGHT TO LIFE" (HAK HIDUP)
Bahaya rohani dalam gerakan Right to Life (EDITOR: suatu gerakan anti-aborsi), adalah ekumenisme di dalam gerakan ini. Sangatlah sering terjadi bahwa orang-orang yang percaya Alkitab dikumpulkan ke dalam suatu persekutuan erat dengan orang-orang Roma Katolik dan bidat-bidat lainnya dalam perjuangan yang sebenarnya baik untuk melawan aborsi. Sebuah contoh yang sangat baik mengenai apa yang dapat terjadi adalah kasus Norma McCorvey, penuntut dalam kasus Mahkamah Agung Roe vs. Wade tahun 1973 yang megesahkan aborsi di Amerika. Pada tahun 1994, sementara ia sedang bekerja di industri aborsi dan menjalani hidup lesbian, McCorvey didekati oleh pelayan "injli" Flip Benham dari Operation Rescue. Tahun berikutnya dia dibaptis oleh Benham. Dia menjadi seorang penentang aborsi yang vokal dan berbalik dari homoseksualitas. Dalam bukunya, Won by Love, McCorvey menggambarkan saat-saat dia menolak aborsi. "Saya sedang duduk di kantor OR (Operation Rescue) ketika saya memperhatikan sebuah poster perkembangan janin. Perkembangannya sedemikian jelas, matanya sangat manis. Melihatnya saja sangat menyakitkan hati saya. Saya berlari ke luar dan akhirnya nyata bagi saya 'Norma,' saya berkata kepada diri saya sendiri, 'Mereka benar.' …Seolah-olah ada penghalang yang lepas dari mata saya dan saya tiba-tiba saya mengerti kebenaran – itu adalah seorang bayi!"

Sabtu, 17 Juli 2010

Berita Mingguan 17 Juli 2010

JERRY LEE LEWIS MASIH MEMAINKAN MUSIK SETAN, WALAUPUN GEREJA-GEREJA MENGKLAIM ITU ADALAH MUSIK TUHAN
Jerry Lee Lewis adalah salah satu bapa rock & roll pada tahun 1950an. Dipanggil "The Killer" dan "Orang Rock & Roll Pertama Yang Liar Hebat," Jerry Lee, yang lahir tahun 1935, seharusnya sudah mati sejak dulu. Tak terhitung banyaknya kali ia telah mabuk dan memakai obat-obatan, ia menghabiskan setengah juta dolar untuk obat terlarang, menghantamkan mobil-mobilnya, meneriakkan kata-kata kotor terhadap tetangga-tetangga, menusuk satu orang di dada leher, menghantam wajah orang lain dengan botol wiski yang pecah, bahkan menembak seorang teman di dada dengan pistol 357 magnum. Ia pernah menikah enam kali (yang ketiga dengan seorang sepupu berumur 13 tahun); dua dari anak-anaknya mati muda; seorang istri mati tenggelam di kolam renang mereka dan satu lagi mati karena overdosis obat. Ketika dia berumur 16 tahun, ibunya yang Pantekosta mengirim dia ke Institut Alkitab Sidang Jemaat Allah di Waxahachie, Texas, dengan keinginan melihat dia dilatih menjadi pelayan Tuhan. Tetapi, walaupun ia pernah berkhotbah sedikit, ia memang sudah mencintai dunia secara mendalam. Setelah memainkan versi boogie-woogie dari lagu "My God Is Real" di sebuah kebaktian pagi, Jerry Lee dikeluarkan karena menyelam ke dalam musik "duniawi."

Selasa, 13 Juli 2010

Menjawab Gary Hoge

Seorang teman memperlihatkan kepada saya sebuah artikel yang katanya ditulis oleh seorang mantan Baptis yang kini menjadi Katolik. Berikut tanggapan saya.

Menjawab Gary Hoge
Kesaksian Saya: Dari Ateis Menjadi Baptis Dan Akhirnya Katolik oleh Gary Hoge
(tulisan Calibri italics oleh Gary Hoge)
oleh Dr. Steven E. Liauw (tulisan Times Roman normal)

Seorang teman saya mengirimkan tulisan berikut karya Gary Hoge (yang rupanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), yang isinya menjelaskan alasan-alasan Hoge memilih agama Katolik sebagai imannya. Yang sangat menarik bagi saya adalah pernyataan Hoge bahwa dia berubah dari seorang atheis menjadi seorang Baptis, namun lalu meninggalkan "iman" Baptis karena melihat Katolik sebagai iman yang lebih "benar." Tentu kesaksian Hoge ini cukup menggelitik saya yang adalah seorang Baptis. Saya menjadi ingin tahu apa yang dikatakan oleh Hoge, si mantan Baptis itu. Saya ingin tahu apakah memang Katolik itu lebih benar daripada Baptis atau gereja Kristen lainnya? Jika Hoge benar, maka saya sendiri pun perlu untuk meninjau ulang kepercayaan saya. Pencarian akan kebenaran, itulah yang mendorong saya untuk menganalisis kesaksian Hoge secara teliti, dan hasilnya saya tuang dalam karya tulis ini.

Sabtu, 10 Juli 2010

Berita Mingguan 10 Juli 2010

THEOLOG MENGATAKAN BAHWA YESUS TIDAK DISALIBKAN PADA SEBUAH SALIB
Gunnar Samuelsson, seorang theologi di Gothenburg University, mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan pada sebuah salib. Menurut London Telegraph: "Ia mengklaim bahwa Alkitab disalahtafsirkan karena tidak ada referensi eksplisit mengenai penggunaan paku atau mengenai penyaliban – hanyalah bahwa Yesus memikul sebuah "staurus" menuju Kalvari, yang tidak harus diartikan sebagai salib tetapi juga bisa berarti sebuah "tiang." Mr. Samuelsson, yang telah menulis sebuah thesis 400 halaman setelah mempelajari teks-teks bahasa aslinya, mengaakan: 'Masalahnya adalah gambaran tentang penyaliban secara menyolok tidak ada di literatur-literatur kuno. Sumber-sumber yang diharapkan akan mendukung pengertian yang sudah mapan tentang kejadian itu, ternyata sebenarnya tidak mengatakan apa-apa'" ("Jesus Did Not Die on Cross," Telegraph, 23 Juni 2010). Faktanya adalah Alkitab dengan jelas menyatakan Yesus disalibkan di atas sebuah salib melalui pemakuan tangan dan kakiNya (Yoh. 20:20, 25, 27; Maz. 22:16). Mengenai bukti-bukti sejarah di luar Alkitab, Josephus adalah seorang saksi mata peristiwa penyaliban orang-orang Yahudi pada saat pengepungan Yerusalem antara tahun 66-70 M.

Sabtu, 03 Juli 2010

Berita Mingguan 03 Juli 2010

WALIKOTA LEICESTER YANG ATHEIS MELARANG DOA
Colin Hall, walikota yang baru terpilih di Leicester, Inggris, telah melarang doa yang biasanya dilakukan sebelum pertemuan-pertemuan di Gedung Walikota. Hall, seorang atheis, menyebut doa sebagai sesuatu yang “ketinggalan zaman, tidak diperlukan, dan mengganggu” (“What’s God Got to Do with It?” Daily Mail, 23 Juni 2010). Bukanlah atheisme yang menghancurkan kekristenan di Inggris; kesesatanlah yang telah menghancurkannya. Tidak ada hal lain yang bisa menyebabkan orang berpaling daripada Tuhan sehebat kekristenan yang sesat dan munafik, dan Gereja Inggris memenuhi kriteria tersebut, bahkan lebih lagi. Dalam suatu kunjungan ke London sekitar Paskah 1982, saya membeli koran dan melihat sebuah wawancara dengan Robert Runcie, Uskup Agung Canterbury. Ketika ia ditanya, “Mengapakah Yesus mati?” jawabannya adalah, “Mengenai hal itu saya agnostik (tidak tahu).”