Senin, 10 Januari 2011

BELILAH KEBENARAN

Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian (Amsal 23:23).

Ayat ini terdengar agak mengejutkan. Dan pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan di benak pembaca. Kebenaran apakah yang Salomo suruh beli? Bagaimanakah cara membeli kebenaran? Dan berbagai-bagai pertanyaan lain lagi.

Kebenaran yang dimaksudkan oleh Salomo tentu bukan sembarangan kebenaran. Pada dasarnya hakekat kebenaran itu sendiri adalah Allah sendiri karena Dia adalah Allah yang benar. Tuhan Yesus berkata bahwa Dirinya adalah kebenaran (Yoh. 14:6). The ultimate-end dari semua usaha pencarian kebenaran seharusnya berakhir pada Allah yang benar. Rasul Yohanes menulis, “akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (I Yoh. 5:20).

Inti Kebenaran Illahi
Rasul Paulus berkata dalam Efesus bahwa ia diberi karunia, “ untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga” (Ef. 3:9-10).

Rasul Paulus mengatakan bahwa ada rahasia illahi yang tersembunyi berabad-abad dan kemudian oleh jemaat disampaikan kepada semua yang di muka bumi, termasuk pada malaikat yang di Sorga. Kebenaran illahi seperti apakah yang sangat penting yang hingga perlu diketahui oleh baik penghuni bumi maupun penghuni Sorga?

Bahwa Allah menciptakan alam semesta dan dua makhluk yang berakal budi, sadar diri dan berkehendak bebas, yaitu malaikat dan manusia. Konsekuensinya dua makhluk ini bisa menyembah Allah dan juga bisa menghujat Allah. Atas ketetapan ini Allah tidak pernah menyesal. Harapan Allah dari makhluk demikian bisa terbit sikap positif kepadaNya. Kasih, hormat, dan sembah sujud hanya bermakna bagi yang menerima jika dilakukan oleh makhluk yang berakal budi, berkesadaran diri dan berkehendak bebas. Tidak ada seorang pun yang mau dihormati dan dicintai sebongkah robot.

Malaikat, di bawah pimpinan Lucifer ternyata mendahului pembangkangan. Kepada mereka kemudian disebut iblis demi membedakan mereka dari malaikat yang masih setia.

Manusia, Adam dan Hawa, ditaruh di taman Eden, dihadapkan pada dua jenis pohon untuk pilihan pernyataan sikap mereka terhadap Pencipta. Mengapa harus ada pilihan? Untuk membuktikan kepada Adam dan Hawa bahwa mereka memiliki kehendak bebas. Dan agar mereka bisa membuktikan kepada Sang Pencipta sikap hati mereka. Pemilihan Umum yang hanya boleh satu calon tentu adalah sebuah tipu muslihat. Ternyata mereka lebih percaya pada iblis daripada Pencipta mereka sehingga mereka memakan buah terlarang.

Manusia jatuh ke dalam dosa, dan tidak mungkin menghampiri Allah yang maha kudus (Ibr. 12;14). Untuk menghampiri Allah, apalagi untuk masuk Sorga, dosa manusia harus diselesaikan. Dan ternyata hanya ada satu cara penyelesaian dosa, yaitu melalui penghukuman (Rom. 6:23). Dosa tidak dapat diselesaikan dengan amal dan ibadah atau perbuatan manusia, karena kalau dapat maka berarti masuk Sorga adalah keberhasilan manusia. Sebelum Adam dan Hawa memakan buah terlarang, mereka telah diberitahu hukumannya, yaitu mati.

Sejak kejatuhan manusia, Allah menjanjikan Juruselamat yang akan dihukumkan bagi setiap orang yang percaya. Adam dan Hawa pernah tidak percaya, dan kalau mereka mau dosa mereka dihitung ditanggung oleh Sang Juruselamat, mereka harus bertobat dan percaya pada janji Allah.

Ibadah simbolik sederhana didirikan, yaitu menyembelih binatang korban (domba) di atas mezbah. Binatang korban untuk menyimbolkan Sang Juruselamat yang dijanjikan, dan penyembelihannya menyimbolkan penjatuhan hukuman mati. Ibadah ini akan selalu mengingatkan manusia pada janji Allah. Habel mengikuti tatanan ibadah simbolik, namun Kain membangkang dengan tidak mau memakai binatang korban melainkan hasil tanaman.

Zaman itu ayah berfungsi sebagai imam (spt Ayub), dan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (TPDK). Ibadah simbolik ini mengingatkan janji Allah untuk mengirim Juruselamat yang akan menyelesaikan masalah dosa manusia.

Manusia tidak melaksanakannya dengan setia sehingga sampai pada zaman Nuh hanya tinggal Nuh yang setia. Tuhan hapuskan manusia dan sisa Nuh sekeluarga. Hal nomor satu yang Nuh lakukan sekeluarnya dari Bahtera adalah mempersembahkan seekor binatang korban di atas mezbah.

Ham melahirkan Kusy dan Kusy melahirkan Nimrod, dan manusia di bawah pimpinan Nimrod kembali melawan Allah. Allah mengacaukan bahasa manusia sehingga manusia tersebar sesuai kelompok bahasa masing-masing.

Era Baru Ibadah Simbolik Jasmaniah
Abraham dipilih untuk menurunkan bangsa yang akan bertugas menjaga ibadah simbolik agar janji Allah tetap diingat manusia. Singkat cerita keturunan Abraham dibawa keluar dari Mesir setelah pengorbanan seekor anak domba dengan darahnya yang dioleskan di kusen pintu untuk membentuk tanda salib.

Sampai di gunung Sinai, mereka diresmikan sebagai bangsa, hukum Taurat diturunkan sebagai UUD, dan keimamatan ayah digantikan dengan keimamatan Harun. Bangsa Israel ditetapkan sebagai penjaga ibadah simbolik sampai yang disimbolkan tiba.

Ular tembaga yang ditinggikan Musa, batu karang yang mengeluarkan air, semuanya menunjuk kepada Sang Juruselamat yang dijanjikan. Tuhan Yesus berkata bahwa seluruh kitab Taurat, Nabium, dan Kethubim menulis tentang diriNya (Luk.24:44).

Akhirnya Yohanes muncul sambil menunjuk kepada Sang Juruselamat yang dijanjikan, kemunculannya mengakhiri seluruh rangkaian ibadah simbolik PL (Mat. 11:13, Luk. 16:16). Sejak saat itu berakhirlah masa ibadah simbolik Perjanjian Lama karena inti simbol utamanya yaitu Sang Mesias telah tiba.

Setiap orang PL yang bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang AKAN datang, segala dosanya akan dihitung selesai. Ia harus percaya bahwa Juruselamat akan datang untuk menggantikannya dihukumkan atas seluruh dosanya. Semua yang hidup di zaman PB yang bertobat dan percaya pada Juruselamat yang SUDAH datang menggantikannya dihukumkan, akan disebut orang kudus. Setiap orang, dari Adam hingga manusia terakhir diselamatkan oleh pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Bayi dan orang yang lahir cacat mental yang belum bisa bertobat dan percaya mendapatkan penebusan tanpa perlu respon yang bersangkutan karena dosa Adam telah diselesaikan oleh Kristus (Rom. 5:18-19).

Keimamatan Harun dihentikan dan digantikan dengan keimamatan setiap orang percaya, bahkan keimamatan yang rajani (I Pet. 2:9). Jemaat, himpunan orang yang telah bertobat dan percaya, adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran menggantikan posisi Israel (I Tim. 3:15). Tuhan memerintahkan dua upacara yang sifatnya mengingatkan orang percaya pada peristiwa Injil yang telah menyelamatkannya, yaitu memasukkan orang itu ke dalam air sebagai tanda mati, dikuburkan, dan akan bangkit bersama Tuhan, dan upacara memakan roti beserta anggur untuk mengingat akan tubuhNya dan darahNya.

Di dalam jemaat yang alkitabiah tidak boleh ada jabatan imam karena setiap orang percaya adalah imam atas dirinya dan Yesus Kristus adalah imam besar. Juga tidak boleh ada praktek keimamatan, seperti doa pemberkatan di akhir kebaktian.

Tidak dibenarkan untuk menyebut upacara memecah roti sebagai “perjamuan kudus” karena tidak ada perjamuan yang menguduskan, melainkan “perjamuan Tuhan”, yaitu perjamuan untuk mengingat kepada Tuhan.

Domba di atas mezbah adalah upacara simbolik untuk menyimbolkan proses penyelamatan yang akan datang sedangkan baptisan adalah upacara simbolik untuk menyimbolkan proses penyelamatan yang sudah dilaksanakan. Di Zaman PL, Tuhan tidak setuju domba diganti dengan tanaman (seperti yang diperbuat Kain), dan pastilah Tuhan juga tidak setuju untuk menggantikan memasukkan orang ke dalam air dengan pengibaran bendera atau meneteskan air. Dan Tuhan lebih tidak setuju lagi pada mereka yang sama sekali tidak melaksanakan pembaptisan, karena itu berarti menghilangkan upacara simbolik yang menggambarkan Injil Keselamatan. Dalam kitab Yudas diserukan, “Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain (Yud. 1:11). Apa sesungguhnya kesalahan Kain, ia mengganti binatang korban (domba), simbol Injil dengan sayuran atau buah-buahan yang tidak bermakna.

Era Ibadah Hakekat Rohaniah
Sejak tampilnya Yohanes, maka seluruh rangkaian ibadah simbolik PL tergenapi, bukan dibatalkan, sekali lagi digenapi. Itulah sebabnya kita tidak perlu sembelih domba lagi, dan sudah boleh makan daging apa saja, karena ibadah yang bersifat lahiriah ritual telah selesai.

Tuhan berkata kepada perempuan Samaria, “saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Ibadah hakekat di dalam roh dan kebenaran tidak lagi terikat pada waktu, tempat, maupun postur tubuh, karena ibadah hakekat sesungguhnya adalah sikap hati kita setiap waktu kepada Allah. Ibadah hakekat rohaniah dengan hati tidak bersifat ritual. Sesungguhnya orang Kristen yang berkumpul pada hari Minggu itu bukan acara sembah-menyembah, melainkan kumpul berjemaat. Ada acara bernyanyi, belajar Alkitab, dan segala hal yang bersifat membangun. Dalam acara berjemaat segala sesuatu harus berlangsung secara sopan dan teratur (I Kor. 14:40).

Penyebutan acara orang Kristen berkumpul sebagai “ibadah” itu karena terpengaruh konsep agama lain. Apalagi menyelenggarakan ritual ibadah jasmaniah. Lembaga Alkitab Indonesia menambahkan kata ibadah yang tidak ada dalam bahasa aslinya pada Ibrani 10:25, mungkin terpengaruh konsep Islam yang masih dalam tatanan ibadah simbolik.

Kekristenan telah memasuki era menyembah dengan hati, dan bersifat rohaniah dengan penuh kebenaran. Tidak dibenarkan untuk menyuruh orang mengangkat tangan menyembah, karena kita menyembah dengan hati bukan dengan tangan. Apalagi mengajak orang untuk masuk ke dalam penyembahan, karena sesungguhnya kita tidak dalam zaman keluar masuk suasana penyembahan.

Kebenaran illahi inilah yang Paulus katakan tersimpan berabad-abad, dan kini dinyatakan oleh jemaat yang adalah tubuh Kristus. Kebenaran ini setelah diajarkan oleh Rasul-rasul secara lisan kemudian diinspirasikan untuk dituliskan, dan akhirnya dikanonkan ke dalam sebuah kitab.

Setelah wahyu terakhir diturunkan di pulau Patmos, maka selanjutnya tidak ada wahyu lagi. Konsep ini disebut konsep kanon tertutup. Penutupan kanon bukan karena Allah dibatasi atau tidak sanggup, melainkan karena kebenaran yang termuat di dalamnya telah baku, telah pasti, dan telah final.

Siapapun yang berkata bahwa ia mendapat wahyu, bernubuat, berbahasa lidah, bagi yang mengerti kebenaran sudah jelas itu tidak berasal dari Tuhan. Sejak kanon Alkitab ditutup dengan wahyu terakhir di Pulau Patmos kepada Rasul Yohanes, maka Alkitab adalah satu-satunya firman Allah, bukan salah satu firman Allah. Semua proses pewahyuan telah Allah hentikan demi kita memiliki kebenaran patokan yang tidak ditambah-tambahi lagi. Bukan Allah tidak sanggup atau membatasi Allah, melainkan demi kita memiliki sebuah standar kebenaran yang definit Allah menghentikan proses pewahyuanNya.

Sejak proses pewahyuan dihentikan, bersamaan dengan itu pula semua karunia dan jabatan yang berhubungan dengan proses pewahyuan juga dihentikan.

Karunia yang berhubungan dengan proses pewahyuan antara lain: karunia bernubuat, karunia berbahasa lidah, karunia melakukan mujizat, karunia berkata-kata dengan pengetahuan tanpa belajar, dihentikan juga.

Pembaca yang budiman, sekali lagi kebenaran inilah yang Rasul Paulus katakan tersembunyi berabad-abad, dan kini dimiliki oleh jemaat yang adalah tubuh Kristus dan disuruh kumandangkan kepada manusia di bumi serta melaikat di Sorga.
Apakah anda perlu memilikinya? Yang memilikinya adalah memiliki hidup, karena hakekat kebenaran sesungguhnya adalah Allah sendiri. Harganya akan semakin naik, bahkan bisa seharga kepala anda. Maka itu beli secepatnya!***

Sumber:  Pedang Roh Edisi LXV Tahun XVI Oktober-November-Desember 2010

Tidak ada komentar: