Minggu, 20 Maret 2011

MEREKA KETURUNAN PEMBUNUH NABI

Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. ...kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (Mat. 23:31,35)

Tuhan Yesus mengecam orang-orang Yahudi dengan tuduhan bahwa mereka adalah keturunan para pembunuh nabi. Tetapi ternyata kecaman itu bukannya menyadarkan mereka melainkan memicu mereka bertekad untuk membunuhNya.

Kain Membunuh Habel
Pembunuhan pertama yang tercatat dalam Alkitab adalah pembunuhan Kain atas Habel. Banyak orang tidak menyadari bahwa itu adalah pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh masalah agama, atau jika masih dalam satu agama bisa disebut masalah doktrinal. Habel mempersembahkan domba dan diterima oleh Allah, sedangkan Kain mempersembahankan hasil tanaman dan ditolak Allah. Jelas persembahan Habel diterima dan persembahan Kain ditolak karena Allah perintahkan manusia melakukan ibadah simbolik untuk menggambarkan janji penyelamatan dari Allah, yaitu pengutusan Juruselamat yang disimbolkan dengan seekor domba.

Dosa telah membuat manusia tidak mungkin masuk Sorga, sebab Sorga tempat mahakudus. Dan siapapun yang ingin masuk Sorga harus menyelesaikan dosanya. Bagi Allah yang tidak dapat menyangkal diriNya, dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman. Itulah sebabnya cara penyelamatan yang Allah rencanakan ialah melalui pengiriman Sang Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan manusia yang berdosa. Adam dan Hawa beserta seluruh keturunan mereka akan diselamatkan jika mereka beriman kepada Sang Juruselamat yang dijanjikan Allah. Adam dan Hawa pernah tidak mempercayai Allah sehingga mereka memakan buah terlarang. Kini jika mereka ingin diselamatkan mereka harus percaya kepada Allah, yaitu percaya pada janjiNya.

Habel adalah seorang anak penurut yang menerima dengan patuh nasehat ayahnya sehingga ia tahu harus mempersembahkan domba. Kain kelihatannya tidak setuju dengan doktrin yang diajarkan oleh ayahnya. Kain tidak setuju dengan doktrin bahwa keselamatan hanya melalui iman kepada Sang Juruselamat yang akan dihukumkan sebagaimana digambarkan dengan penyembelihan seekor domba. Kain ingin mendirikan agamanya sendiri yang berbeda dari ketentuan Allah. Ia mempersembahkan hasil tanaman, bukan domba.

Jelas sekali Allah tidak bisa menerima persembahan Kain karena hasil tanaman, misalnya buah jeruk, atau lobak, tidak menggambarkan Sang Juruselamat yang akan dihukumkan untuk menanggung dosa manusia. Istilah PL tentang persembahan yang akan diterima Allah ialah yang “mencucurkan darah.” Mengapa harus yang mencucurkan darah? Jawabannya ialah pencucuran darah menggambarkan penghukuman mati. Penghukuman mati akan dilaksanakan atas Sang Juruselamat untuk menggantikan manusia yang berdosa.

Kain tidak rela dikoreksi doktrinnya. Dan bukan hanya tidak mau dikoreksi doktrinnya, bahkan ia marah dan itu menyebabkan hatinya panas dan mukanya muram, dan berakhir pada tindakan pembunuhan. Kalau anda mendengarkan sebuah pengajaran (doktrin) dan engkau dapatkan bahwa pengajaran itu berbeda dari ajaran yang selama ini anda terima, jangan panas apalagi marah. Selidikilah dengan seksama apakah itu memiliki dasar ayat-ayat Alkitab dan cocok dengan nalar akal sehat? Jika cocok maka itu adalah pengajaran yang lebih benar dari pengajaran yang selama ini anda terima. Jangan mengikuti jejak Kain, agar tidak dikatakan Tuhan Yesus sebagai keturunan pembunuh nabi.

Mereka Membunuh Zakharia
Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!" Tetapi mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah TUHAN.

Raja Yoas tidak mengingat kesetiaan yang ditunjukkan Yoyada, ayah Zakharia itu, terhadap dirinya. Ia membunuh anak Yoyada itu, yang pada saat kematiannya berseru: "Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas!"

Untuk mengirit kolom maka penulis tidak mengutipkan seluruh pasal II Tawarikh 24, melainkan hanya dari ayat 20 hingga 22. (Sebaiknya pembaca membaca seluruh pasal 24 tersebut). Zakharia bin Yoyada, bukanlah Zakharia penulis kitab Zakharia yang tersusun sebagai kitab terakhir dai kanon PL kita. Yang Tuhan Yesus maksudkan ialah Zakharia anak imam Yoyada yang telah setia mengasuh raja Yoas sejak Yoas menjadi raja di umur tujuh tahun.

Raja Yoas diselamatkan oleh istri imam Yoyada selagi masih bayi dari pembantaian anak-anak raja oleh Atalya. Selama enam tahun Yoas diasuh oleh imam Yoyada suami istri hingga ia berumur tujuh tahun dan pada saat Atalya mati dibunuh. Yoas yang berumur tujuh tahun menjadi raja, tentu di bawah asuhan imam Yoyada. Pemerintahan nya bagus sekali karena sesungguhnya itu adalah pemerintahan Yoyada. Bait Allah diperbaiki, dan rakyat hidup makmur.

Tetapi setelah imam Yoyada meninggal, raja Yoas dibelokkan hatinya oleh pemimpin-pemimpin Yehuda. Mereka meninggalkan rumah Tuhan dan beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala.

Kondisi kekristenan hari ini hampir mirip dengan kondisi orang Yehuda saat itu. Kekristenan mengadopsi sistem duniawi dalam bergereja karena menerima nasehat pada pengusaha yang menyangka bahwa keberhasilan mereka dalam mengurus perusahaan bisa diterapkan dalam pengurusan gereja/Jemaat. Akibatnya gereja layaknya sudah menjadi semacam perusahaan. Bahkan kekristenan semakin hilang kemurniannya karena orang Islam, Buddha, bahkan dukun santet menjadi “kristen” dan tanpa diajar dengan benar langsung ditenteng keliling untuk bersaksi, tidak lama kemudian disuruh berkhotbah, dan langsung ditahbiskan menjadi “penginjil/pendeta”. Tidak mengherankan kalau akhirnya kekristenan menjadi keislam-islaman, kebuddha-buddhan, bahkan kemistik-mistikan.

Bagi siapapun yang mencintai kebenaran keadaan demikian pasti sangat menyedihkan hatinya. Tuhan mengirim nabi-nabiNya untuk memperingati bangsa Yehuda namun tidak didengar mereka. Akhirnya Roh Allah menguasai Zakharia anak imam Yoyada dan ia tampil di depan rakyat untuk mengumandangkan kebenaran. Namun hasil yang dituainya adalah kematiannya. Tetapi ia berseru agar Tuhan mengingat akan kematiannya sehingga Tuhan Yesus menyinggung kasusnya sebagai tanda bahwa Tuhan selalu ingat akan pengorbanannya.

Peringatan Bagi Semua Generasi
Kemunduran kerohanian adalah cerita bersambung yang selalu kita jumpai di setiap zaman. Gereja yang pada awalnya sangat gigih mempertahankan kebenaran kemudian lambat-laun bergeser menjadi gereja yang jauh dari kebenaran bahkan menjadi penganiaya pemberita kebenaran sudah sering kita baca dalam sejarah kekristenan.

Faktor penyebab pergeseran posisi gereja terhadap kebenaran yang paling utama ialah sikap kompromi. Awalnya hanya mengkompromikan hal-hal yang tidak terlalu penting, namun lambat-laun hal-hal yang prinsip juga ikut dikompromikan.

Faktor lain lagi ialah mendapat nasehat dari pihak yang tidak cinta kebenaran. Raja Yoas mendapat nasehat dari para pemimpin yang tentu bukan rohaniwan yang mencintai kebenaran. Hasilnya tentu sikapnya yang semakin jauh dari kebenaran. Gereja yang doktrin keselamatannya tidak tegas, apalagi yang tidak alkitabiah akan menyebabkan semakin banyak orang yang tidak dilahirkan kembali bercokol bahkan mengambil alih kepemimpinan gereja. Akhirnya keadaan gereja semakin jauh dari kebenaran bahkan siap melayani kepentingan anti-Kristus.

Setelah keadaan gereja sangat jauh dari kebenaran, maka semua peringatan dari pihak luar tidak dapat lagi menyadarkan pemimpin mereka, sebab sesungguhnya mereka tidak dilahirkan kembali. Tidak mungkin seseorang bisa cinta kebenaran jika tidak ada Roh Kebenaran di dalam dirinya. Akhirnya keadaan mereka akan seperti nenek moyang rohani mereka, yaitu pembunuh nabi. Mereka akan menggunakan tipu muslihat untuk memajukan gereja, memfitnah, bahkan tidak segan melakukan kekerasan yaitu membunuh orang yang berbeda doktrin dengan mereka seperti yang dilakukan John Calvin terhadap Servetus.

Pembaca yang dikasihi Tuhan, marilah kita segera sadar dan bersikap penuh siuman, karena akhir dari segala sesuatu sudah dekat. Tiap-tiap orang harus berdiri di hadapan Kristus atau di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semua keputusan dan tindakannya. Penulis yakin, pembaca bukanlah keturunanan pembunuh nabi, melainkan pencinta kebenaran yang bahkan rela mati demi kebenaran, bukan yang mematikan orang demi “kebenaran.”

Sumber: PEDANG ROH Edisi 50 Jan-Maret 2007

Tidak ada komentar: