Selasa, 08 Maret 2011

Sejarah Kelam Kekristenan

Prinsip Utama Civil-Society
Hampir tidak ada orang Kristen yang tidak tahu pernyataan Tuhan Yesus, “berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dan hampir tidak ada orang Kristen yang tidak tahu bahwa pernyataan itu adalah untuk memisahkan urusan negara dengan urusan agama. Negara mengurus urusan horizontal yaitu hubungan antara manusia dengan manusia dan agama/gereja mengurus urusan vertikal, yaitu manusia dengan Allah. Negara tidak mencampuri urusan agama/gereja, dan sebaliknya agama/gereja tidak mencampuri urusan negara. Ketika penganut agama berurusan dengan negara, ia tidak boleh sebagai umat agama/gereja melainkan sebagai warga negara. Kalau orang Kristen mau “demo” tidak boleh berteriak “Yesus’, “Halleluyah” atau slogan kekristenan, melainkan berdemolah sebagai warga negara bukan sebagai umat agama atau anggota gereja.

Ini adalah prinsip dasar dari Civil-Society yang menjadi pegangan dalam bernegara di Eropa dan Amerika pada zaman modern ini. Dan ini sepatutnya menjadi pattern bernegara semua pemerintahan yang menyebut dirinya pemerintahan demokratis. Pemerintah tidak mengurus urusan agama, melainkan hanya mengurus urusan antar manusia, karena kebebasan untuk mempercayai sesuatu adalah Hak Asasi Manusia yang paling dasar.

Prinsip ini yang menjadi dasar bernegara di Eropa dan Amerika pada zaman modern ini. Dan setiap pemerintah yang menyebut dirinya pemerintahan demokratis harus juga memegang prinsip ini, karena ini adalah prinsip utama Civil-Society. Jika seseorang menemukan sebuah batu yang berwarna dan berbentuk aneh, lalu ia mau menyembahnya, itu bukan urusan negara dan orang lain. Dan jika ia mengajak orang lain, dan ada juga orang yang mau ikut dia, juga bukan urusan negara dan orang lain yang tidak mau ikut. Tetapi jika ia memukul orang dengan batu tersebut maka itu adalah urusan pemerintah, bukan karena tindakan penyembahan batu itu, melainkan tindakan memukul orang. Jika umat agama lain sulit memahami dan menerima konsep ini, seharusnya orang Kristen tidak. Seharusnya orang Kristen adalah yang terdepan dalam memahami dan menerapkan konsep Civil-Society dan Hak Asasi Manusia. Kebebasan seseorang untuk menyembah apa yang diyakini benar adalah Hak Asasi Manusia yang harus dihormati orang Kristen.

Katolik Memburu Anabaptis
Dalam perjalanan sejarah manusia sejak pendirian Civil-Society tercatat banyak kali tindakan negara yang memanfaatkan agama dan tindakan agama yang memanfaatkan negara. Terutama ketika umat sebuah agama menjadi mayoritas atau sebagai pemegang kekuasaan maka terjadilah pemanfaatan agama oleh pemerintah dan sebaliknya.

Pemerintahan Romawi sesungguhnya adalah pemerintahan Civil-Society pertama yang sederhana. Mereka memiliki raja dan juga Senat yang memberi nasehat atau pendapat kepada Kaisar, walau sering terjadi ketidakharmonisan. Masalah muncul sering kali disebabkan karena Kaisar tidak merasa cukup dihormati sebagai Kaisar melainkan meminta dihormati sebagai Allah.

Pada abad ke-empat ketika dimulai pembangunan Gereja Roma yang Am oleh Agustinus, Jerome dll., sikap memusuhi kebebasan beragama berkembang. Bukan hanya tidak boleh ada agama lain, bahkan kemudian berkembang hingga tidak boleh ada tafsiran lain. Seolah-olah manusia tidak boleh berpikir melainkan hanya menurut saja pada hasil pemikiran otoritas tertinggi. Jumlah kaum Anabaptis yang dibunuh oleh Gereja Roma Katolik (Am) tak terhitung. Mereka menyangka Tuhan senang, padahal tentu Tuhan muak, karena Tuhan sama sekali tidak menghendaki Injilnya diberitakan dengan kekerasan atau paksaan.

Alberto Rivera menyebutkan bahwa selama masa Inquisisi, sekitar 60 juta orang lenyap tak berbekas. Hanya melalui laporan seseorang bahwa orang tersebut membaca Alkitab sendirian di rumah, maka orang itu bisa dijemput dan tidak pernah kembali lagi. Gereja Roma yang Am tidak mengijinkan orang lain menafsirkan Alkitab selain yang ditafsirkan oleh pimpinan mereka.

Bahkan dalam rangka memburu Anabaptis di sebuah kampung, karena sulit untuk mengetahui yang mana Anabaptis dan yang mana bukan, berhubung orang kampung itu tidak mau mengkhianati  temannya, mereka membakar penduduk satu kampung. Kaum Anabaptis tidak melakukan kejahatan apapun kecuali satu, yaitu mereka berani menafsirkan Alkitab berbeda dari yang ditafsirkan oleh Gereja Roma Katolik (GRK).

Ada puluhan buku yang menceritakan kengerian yang dilakukan oleh Gereja Roma yang Am terhadap orang-orang yang menafsirkan Alkitab berbeda dari mereka. Membakar orang di sebuah tiang, memancung kepala, memotong lidah, hingga menenggelamkan orang ke dalam air.

Protestan Ikut-ikutan
Kelompok Anabaptis bergembira sejenak ketika Martin Luther dengan berani menyatakan bahwa Gereja Roma yang Am telah salah jalan sambil memakukan 95 kesalahan GRK di gerbang gereja. Tentu segera Martin Luther dikucilkan GRK dan kepalanya dalam bahaya. Tahun 1518 Martin Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman. Ternyata terjemahan Luther yang pertama itu menerjemahkan kata Baptiso dengan kata “selam” dalam bahasa Jerman. Tetapi karena perlu perlindungan raja Jerman, maka Luther menggabungkan gerejanya dengan pemerintahan Jerman sehingga Gereja Lutheran menjadi gereja resmi negara Jerman. Lihatlah, akhirnya terjadi sistem Sacral Socitey dalam wilayah Jerman. Tidak tercatat Luther memakai kekerasan, namun ia tidak mengecam mereka yang memakai kekerasan dan kuasa pemerintah duniawi.

Sementara di Inggris gereja-gereja di sana juga memisahkan diri dari GRK dan membentuk sistem Sacral-Socitey dengan raja Inggris sebagai kepala negara sekaligus kepala gereja. John Bunyan, penulis buku terkenal Perjalanan Seorang Musafir, dipenjarakan oleh pemerintah Inggris karena dia terlalu berani berkhotbah menentang gereja Anglikan. John Bunyan menulis buku itu di dalam penjara Bedford, Inggris. Pemerintah Inggris ingin mengeluarkannya dari penjara jika ia mau berjanji tidak akan mengkhotbahkan doktrin Anabaptis. Rupanya Bunyan memilih tinggal di dalam penjara daripada tidak diijinkan mengkhotbahkan iman yang benar. Dua belas tahun lamanya ia dipenjarakan. Satu-satunya penghiburan yang berharga ialah putrinya yang buta yang selalu hadir menghiburkannya. Buku Perjalanan Seorang Musafir itu sebenarnya adalah cerita yang ditulisnya untuk menghibur putrinya.

Pembaca sekalian, Anabaptis tidak pernah membunuh siapapun, karena ketika ia membunuh untuk membenarkan pengajarannya, maka ia bukan seorang Anabaptis lagi. Yang dilakukan oleh seorang Anabaptis terhadap orang-orang yang tidak menyukai pengajarannya hanyalah berusaha menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mendoakan mereka agar Allah mencelikkan mata rohani mereka.

John Bunyan meninggal tahun 1688, beberapa bulan sebelum Revolusi Inggris yang membawa kebebasan bagi rakyat Inggris dimulai. Sayang sekali ia tidak menikmati kebebasan itu. Walaupun nilai kualitas kekristenan menurun ketika kebebasan merebak, namun karena ada kebebasan, maka muncullah Para anabaptis ke permukaan untuk mendirikan gereja yang bebas dikunjungi pada setiap hari Minggu. Nama gereja mereka selalu ada kata ‘baptis’ untuk mengenang para pejuang iman yang telah gugur. Di Amerika, Gereja Baptis bertumbuh dengan subur sekali terutama setelah kemerdekaan karena kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang negara dan betul-betul diterapkan, bukan yang sekedar membohongi dunia bahwa di situ ada kebebasan beragama.

John Calvin lebih parah lagi, ketika dia menguasai kota Geneva, tidak boleh ada satu orang pun yang berbeda penafsiran dengan dia. Semua orang yang beda penafsiran diusirnya. Ia rupanya sangat terkesan dengan buku Agustinus yang berjudul The City of God dan rindu mewujudkan kota Geneva sebagai “the City of God” seperti gambaran dalam buku Agustinus.

John Calvin tercatat membunuh Servetus di tiang pembakaran. Dan temannya Zwingli melakukan pembunuhan orang-orang yang beda penafsiran darinya. Ia tercatat membunuh Felix Manz. Felix Manz, sesuai dengan keputusan pengadilan, dibawa dengan terikat dari penjara Wellenberg melewati pasar ikan menuju sebuah perahu. Sepanjang jalan ia bersaksi kepada anggota dewan dan semua orang yang berdiri di pantai sungai Limmat, sambil memuji Allah karena walaupun ia seorang berdosa namun diijinkan untuk mati demi kebenaran. Kemudian ia menyerukan bahwa baptisan orang percaya adalah baptisan yang benar sesuai dengan firman Tuhan dan pengajaran Kristus. Suara ibunya terdengar dari jauh mengikuti arus sungai yang memohonnya dengan amat sangat agar ia tetap setia di saat-saat menghadapi pencobaan.

Setelah mereka mengumumkan hukumannya, ia dinaikkan ke dalam perahu kemudian mengikuti arus hingga di tengah tengah sungai Limmat, lalu mereka menurunkan jangkar. Ketika tangan dan kakinya diikat ia berseru dengan suara nyaring, “In manus tuas, Domine, commendo spiritum meum” (ke dalam tanganMu, Tuhan, kuserahkan rohku). Beberapa saat kemudian air sungai yang dingin menutupi kepala Felix Manz. Menurut catatan Bernhard Wyss, hukuman itu dijatuhkan pada 5 Januari 1527, hari Minggu, jam 3 sore.

Hari ini, Gereja-gereja John Calvin dan Zwingli menyelenggarakan seminar tentang demokrasi dan kebebasan beragama. Seharusnya sebelum seminar dimulai mereka harus membuat pengakuan bahwa pendahulu mereka telah berbuat salah, telah sangat berdosa. Dan mereka berjanji tidak akan mengikuti jejak pendahulu mereka.

Adalah hal yang sangat jahat, membunuh orang hanya karena orang itu tidak sependapat dengan kita. Kadang saya merasa sulit untuk percaya bahwa orang-orang yang katanya telah mengenal Yesus, yang telah membaca berulang-ulang kalimat, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” sanggup melakukan kekejaman yang sedemikian rupa. Tetapi itu memang fakta, telah tercatat dalam sejarah, dan tidak mungkin dihapuskan lagi. Yang dapat dilakukan sekarang hanya mengakuinya dan menginsafi bahwa itu salah. Tuhan tidak mau kita mendirikan Sacral Society lagi. Sekarang adalah zaman Civil-Society, Agama/gereja harus terpisah dari negara.

Bisakah Sejarah Terulang?
Seharusnya manusia semakin hari semakin berhikmat. Dan seharusnya manusia menarik pelajaran dari peristiwa yang telah berlalu. Semestinya baik pemimpin Gereja Roma yang Am, Lutheran, Calvinis, maupun Anglikan sudah menyadari dosa masa lalu pendahulu mereka.

Namun Alkitab memberikan hint bahwa penganiayaan atas dasar iman akan terjadi lagi. Mengapa? Jawabannya, karena pada dasarnya hati manusia itu jahat. Sungguh, Amsal 21:10 berkata, “ Hati orang fasik mengingini kejahatan dan ia tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya.”

Seorang penginjil di Nanga Pinoh memberi informasi kepada penulis bahwa tadinya dia sudah disetujui berkhotbah di sebuah radio di daerah itu. Tetapi kemudian dibatalkan, dan alasan yang dikemukakan ialah karena gerejanya tidak terdaftar di Depag. Seorang ibu yang mengajar pelajaran agama di sebuah sekolah di Kalimantan Barat mengatakan kepada penulis bahwa oknum dari Depag mengancamnya untuk memecatnya karena ia pergi ke gereja yang tidak terdaftar di Depag.

Semua gereja yang pernah menganiaya orang di masa lalu adalah memakai tangan pemerintah yang menyandang pedang. Servetus dibakar di sebuah tiang melalui keputusan pengadilan yang dikendalikan oleh John Calvin. Felix Manz ditenggelamkan di sungai Limmat juga oleh keputusan pengadilan yang dikendalikan oleh kelompok Zwingli. Demikian juga John Bunyan dipenjarakan 12 tahun di Inggris atas keputusan pengadilan.

Tidak tahukah mereka bahwa Tuhan Yesus pernah berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan?” Tidak tahukah mereka bahwa Tuhan Yesus telah memisahkan antara negara dan agama? Tidak fahamkah John Calvin tentang Civil-Society? Tidak dapatkah Zwingli membedakan antara Sacral Society dengan Civil-Society? Pertanyaan lebih relevan ialah apakah orang-orang di Bimas Kristen Depag tahu bahwa Tuhan menghendaki ada keterpisahan antara agama dan negara? Kalau umat agama lain menginginkan campur-tangan negara dalam kehidupan rohani mereka, bolehkah orang Kristen khilaf dan ikut-ikutan? Apakah orang-orang di Depag tahu bahwa Tuhan Yesus tidak senang campur-tangan negara terhadap gereja yang adalah tubuhNya?

Orang-orang Kristen di Depag seharusnya tahu bahwa prinsip kekristenan adalah pemisahan antara agama dan negara. Pemahaman ini seharusnya menghindarkan mereka dari menjadi alat negara untuk mengatur gereja-gereja. Syukur sekali istilah yang dipakai adalah Bimas Kristen yang artinya adalah Bimbingan Masyarakat Kristen, bukan pengendali atau pengatur masyarakat Kristen. Pemerintah Indonesia tidak sanggup menghapus Departemen Agama (bahkan Gus Dur saja gagal), dan sebagaimana agama-agama yang diakui memiliki wakil mereka setingkat Dirjen, maka agama Kristen juga diangkatkan Dirjen lengkap dengan seluruh perangkatnya. Namun karena prinsip kekristenan terhadap negara berbeda dengan agama lain, maka seharusnya aparat di Bimas Kristen lebih patuh pada Alkitab daripada ketetapan pemerintah. Justru Bimas harus memberitahukan pemerintah bahwa kami hanya bersifat membimbing karena dalam kekristenan ada prinsip keterpisahan antara agama dan negara.

Yudaisme dan Islam memang dasar theologi mereka adalah Sacral Society. Lihatlah apa yang terjadi di Israel dan Arab Saudi, bahkan di negara tetangga kita Malaysia. Tetapi masalahnya sekarang adalah orang-orang Kristen ikut-ikutan, entah karena tidak faham tentang makna Civil Society yang sesungguhnya, atau menggu nakan kesempatan dalam kesempitan, atau sok kuasa. Paulus menyatakan bahwa ia adalah orang yang paling berdosa karena menganiaya Jemaat yang adalah tubuh Kristus (1 Tim.1:15).

Seharusnya orang Kristen tahu bahwa di dalam kekristenan ada kebebasan menafsirkan Alkitab. Apa yang terjadi pada agama lain seharusnya itu bukan urusan kita. Kekristenan memiliki prinsip sendiri, yaitu keterpisahan antara agama dan negara sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Amerika Serikat. Pada tahun 1999, Graphe telah menerbitkan buku yang berjudul Hakekat Kebebasan Beragama yang isinya menyatakan bahwa kita tidak perlu memakai tangan pemerintah melarang kelompok Saksi Jehovah. Kita harus mengalahkan mereka dengan argumentasi bukan dengan tangan pemerintah.

Tetapi biasanya mental orang yang tidak memiliki argumentasi adalah memakai apa saja yang dimilikinya. Sejarah membuktikan bahwa kelompok agama atau gereja yang dekat dengan pemerintah, dalam keadaaan kepepet, biasanya akan memakai pemerintah sebagai alat untuk menekan pihak yang berseberangan pendapat dengannya. Tangan yang efektif untuk menekan pihak lain adalah tangan yang memegang pedang, yaitu tangan pemerintah.

Artikel ini ditulis sama sekali tidak bermaksud melecehkan siapapun melainkan untuk menjelaskan kebenaran konsep kristen alkitabiah tentang keterpisahan antara negara dan agama. Dan menjadikan catatan sejarah sebagai bahan pembanding untuk lebih memahami kebenaran yang alkitabiah.***

Sumber: PEDANG ROH Edisi 64 Tahun XVI Juli-Agustus-September 2010

Tidak ada komentar: