Minggu, 17 April 2011

Wanita dan Depresi

Wanita lebih rawan merasa cemas atau khawatir, maka dia lebih mudah dirundung depresi wanita cenderung melihat apa yang dialaminya dari segi detail, atau dia melihat jauh ke depan.
 
Matius 6:25, "Karena itu Aku berkata kepadamu, janganlah khawatir akan hidupmu. Akan apa yang hendak kamu makan atau minum dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian." Meskipun Tuhan sudah memberikan firmanNya kepada semua manusia, tapi dapat disimpulkan bahwa ternyata wanita itu lebih rawan terhadap kekhawatiran. Dan juga perempuan lebih mudah menderita depresi daripada pria.
 

Hal ini disebabkan wanita lebih mudah khawatir dibandingkan pria, dan kecemasan/emosi adalah faktor yang benar-benar membawa seseorang masuk ke lembah depresi. Jadi kecemasan/incity sangat dikaitkan dengan gangguan depresi, karena wanita lebih rawan merasa cemas, otomatis wanita juga lebih mudah dirundung oleh depresi. Tetapi kerawanan wanita bukan saja dipengaruhi oleh faktor emosi tetapi juga wanita secara kognitif cara berpikirnya itu memang memiliki keunikan dan berlainan dengan pria. Wanita cenderung melihat hidup atau peristiwa atau apa yang dialaminya dari segi detail, akhirnya memang wanita cenderung melihat lebih banyak sedangkan pria cara berpikirnya cenderung global, tidak detail. Faktor yang lain adalah pengaruh genetik, jadi waktu seorang ibu depresi sedang mengandung rupanya pengaruh itu juga dibawa kepada si anak, sehingga waktu anak besar entah mengapa dia juga lebih rawan terhadap kecemasan, kesedihan dan akhirnya juga keputusasaan atau depresi.
 
Yang perlu dilakukan oleh seorang suami adalah
1.    Jangan mengkategorikan istri lemah dalam imannya.
2.    Pelu memahami wanita bahwa wanita cenderung berpikir ke depan, sementara kalau pria berorientasi pada masa sekarang.
 
Langkah-langkah yang dilakukan oleh seorang istri yang mengalami depresi, sbb:
1.    Istri mesti mendapatkan kesempatan bicara. Jadi suami perlu menyediakan telinga dan waktu untuk menerima keluhan-keluhan dari istri. Waktu kita mengeluarkan uneg-uneg, ketegangan yang dirasakan sebelumnya akan menurun dan itu akhirnya menolong wanita untuk berpikir lebih jernih.
2.    "Carilah dahulu kerajaan sorga dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkannya kepadamu." Dengan kata lain wanita tidak boleh juga bersukacita dalam kelemahannya dengan mengatakan memang saya begini, tetapi harus menyerahkan semuanya di dalam doa, lebih menyerahkan bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang perkasa dan bisa membantu kita.

Dampak depresi ini adalah:
1.    Bagi keluarga ?
Menjadi keluarga yang murung, tidak ada lagi cahaya sinar kehidupan di dalam keluarganya. Anak/suami akan merasa canggung bicara dengannya dan suami pun bisa merasa frustrasi. Dan salah satu ciri depresi adalah mudah tersinggung.
2.    Dirinya sendiri ?
Semakin dia merasa terkucil karena orang di rumahnya tidak lagi bisa berkomunikasi dengannya, dia makin merasa bahwa tidak ada yang bisa memahami dia, tidak ada yang bisa mengerti isi hatinya, nah itu justru akan menambah depresinya.

Apa yang bisa kita lakukan :
1.    Mesti bisa bicara dengan orang lain
2.    setelah itu dengan bantuan orang lain, suami-istri mencoba mencari tahu duduk masalahnya, nah ini pasti bergantung pada problem apa yang sedang dihadapi. Bisa jadi problem itu bersumber dari suami atau dari anak-anak.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=191808614186959

Tidak ada komentar: