Rabu, 29 Juni 2011

3 Pemberita yang Seharusnya Berhenti

Saya biasanya tidak pernah menyarankan seorang pemberita (baca: gembala) untuk berhenti. Bahkan, selama bertahun-tahun saya mencoba mendorong para pemberita. Melalui persekutuan dan persahabatan, buku, konferensia, dan khususnya sekolah Alkitab, saya coba mendorong para pemberita untuk setia dalam pelayanan mereka kepada Tuhan—bahkan pada masa-masa sulit. Kita memiliki berita penting untuk dibagikan dan kita harus terus melanjutkan pemberitaan Injil.

Namun, salah satu tantangan yang kita hadapi dalam bersaksi adalah meningkatnya jumlah guru-guru palsu pada zaman akhir ini. Tiap hari, ada pemberita yang menurunkan standar kebenaran dengan mengubah pesan Allah agar sesuai dengan agenda mereka. Para guru palsu ini merusak nama Kristus, dan penyalahgunaan Firman Allah oleh mereka ini benar-benar membingungkan dan menyesatkan orang terhilang.

Keberadaan guru palsu itulah yang membuat kita hanrus belajar tentang kasih untuk membedakan. Paulus menjelaskan kepada jemaat di Filipi bagaimana ia berdoa untuk mereka, “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Flp. 1:9-10). Paulus ingin orang percaya melimpah dalam kasih, tetapi ia menekankan bahwa kasih mereka adalah kasih yang bisa membedakan.

Ada pemberita yang memakai nama “Kristen” atau “Baptis,” padahal mereka sesungguhnya adalah serigala berbulu domba, memakai nama baik mereka demi kepentingan mereka sendiri. Sejujurnya, mereka harus segera berhenti. Berikut ini 3 jenis pemberita yang seharusnya berhenti:

Pemberita yang Sensasional (Preachers who sensationalize)
Yudas 16 berbicara tentang orang yang “menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan.” Orang ini menggunakan posisi mereka dalam pelayanan untuk membuat sensasi atau melebih-lebihkan berbagai hal untuk membangun diri mereka sendiri. Mereka menggunakan “perkataan-perkataan yang bukan-bukan” untuk memikat orang lain yang tidak tahu apa-apa (2Ptr. 2:18). Kata-kata mereka mungkin meyakinkan, namun mereka gagal untuk memberitakan kebenaran.

Pemberita yang sensasional menyatakannya untuk mendapatkan pengikut atau mendapatkan publisitas dengan memromosikan diri sendiri dan menjadi narsis. Mereka mencoba untuk mendapatkan perhatian dan tidak setia kepada Firman Allah.

Dua contoh terbaru yang membuat sensasi adalah Westboro Baptist Church di Topeka, Kansas, yang protes terhadap pemakaman para prajurit yang tewas dalam perang, dan juga Terry Jones dan Dove Outreach Center yang baru saja membakar salinan Koran. Saya tidak menentang protes dan ketegasan kita untuk berdiri di atas kebenaran Alkitab. Namun, melakukannya dengan cara penuh kebencian yang mempermalukan dan pura-pura seperti itu jelas salah dan membuat orang berpaling dari Kabar Baik. Sesungguhnya, kita harus menjadi garam dunia (Mat. 5:13), tetapi kita harus juga berbicara kebenaran di dalam kasih (Ef. 4:15).

Pemberita yang Merasionalisasi (Preachers who rationalize)
Ada banyak rasionalisasi tragis dalam jemaat-jemaat. Para gembala terkadang sering merasionalisasi dosa yang benar-benar jelas kelihatan tanpa konfrontasi dalam jemaat untuk menyenangkan orang yang berpengaruh—secara politik atau keuangan. Paulus membahas masalah seperti ini di 1 Korintus 5. Jemaat Korintus sadat adanya percabulan yang terjadi dalam jemaat, tetapi tidak berbuat apa-apa. Gembala harus mengatasi dosa tersebut secara terbuka atau akan memengaruhi seluruh jemaat.

Bentuk lain dari rasionalisasi terjadi ketika gembala sadar adanya situasi yang genting terjadi dalam jemaat tetapi tidak berbuat apa-apa mengenainya. Dosa ini sering dilakukan terhadap anak-anak atau orang kecil. Stiap orang muda layak mendapatkan lingkungan yang penuh kasih dan perlindungan di rumah dan di jemaat. Jika terjadi kekerasan, para gembala tidak bisa sekadar merasionalisasinya, “Itu khan masalah keluarga.” Mereka harus berdiri di antara gap yang ada untuk melindungi domba muda mereka (Rm. 13:3-4).

Para pemberita yang merasionalisasi dosa jemaat mendukakan Roh Kudus and dengan kejam membatasi pelayanan mereka dan kuasa Kristus dalam masyarakat mereka.

Pemberita yang sesat (Preachers who apostatize)
Para pengkhotbah ini sering kali merupakan orang yang menyatakan dirinya fundamentalis, tetapi sesungguhnya tidak pernah selamat atau penuh dengan kepahitan, dan sekarang berpaling dari kebenaran. Mereka mempermainkan doktrin dan “memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka” (2Ptr. 2:1).

Mereka mungkin menunjukkan kesalehan (2Tim. 3:5) karena mereka melakukan pelayanan dan menekankan pelayanan penginjilan, tetapi mereka menyangkal kuasa Salib karena mereka menolak doktrin utama tentang iman, termasuk ketuhanan Kristus, inspirasi Alkitab, dan keselamatan oleh anugerah melalui iman.

Para guru palsu dan penyesat menggunakan orang untuk memperoleh hasilnya. Dua Petrus 2:3 berkata tentang mereka: “karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka.” Charles Spurgeon dengan bijak mengamati, “Sungguh fakta mengejutkan bahwa semua bidat yang muncul dalam jemaat Kristen memiliki kecenderungan untuk tidak memuliakan Allah dan meninggikan manusia.

Itulah ketiga jenis pemberita ini—yang mencari sensasi, merasionalisasi, dan menyesatkan—menyakiti nama Kristus dan membingungkan orang terhilang. Orang yang menyaksikan inkonsistensi dalam sikap dan kesombongan dalam berita dan gaya hidupnya membuat mereka tidak ingin menjadi Kristen dan menolak Kristus.

Kita harus ber-“siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1Ptr. 3:15). Dan di tengah sensasionalisme, rasionalisasi, dan penyesatan, terkadang pertanggungjawabannya mencakup penjelasan pada orang yang telah undur atau anggota jemaat mengapa kita tidak bisa melihat berbagai jenis pelayanan yang salah ini dan secara alkitabiah menekankan posisi kita pada Injil sejati. Pada masa kompromi ni, kiranya Allah menganugerahkan kasih karunia dan keberanian untuk berdiri di jalan yang benar, memegang tinggi panji salib Kristus! Maju laskar Kristus!

 

Tidak ada komentar: