Senin, 06 Juni 2011

HUT XI GBIA GRAPHE

Tanggal 25 Juni 1995 adalah hari istimewa bagi seluruh jemaat dan simpatisan GRAPHE, karena pada hari itu kebaktian pertama GRAPHE dilaksanakan di ruangan sempit sebuah ruko di perumahan Sunter Agung Podomoro, Jakarta Utara.

Pada Minggu, tanggal 25 Juni 2006, GRAPHE tepat berumur 11 tahun. Sebelas tahun bukanlah waktu yang panjang, namun cukup bagi anggota jemaat dan seluruh simpatisan GRAPHE untuk menghitung berkat Tuhan yang telah diterima, terutama berkat rohani. Kepastian keselamatan yang diperoleh melalui pelayanan GRAPHE sangat disyukuri oleh setiap anggota dan simpatisan.

Panitia HUT ke-11 yang diketuai Diaken Irwan dan diwakili Diaken Jaya, menetapkan tema: GEREJA ALKITABIAH DI AKHIR ZAMAN, telah mendorong setiap yang hadir untuk merenungkan kondisi dunia di akhir zaman dan menyocokkannya dengan peran GRAPHE selamat 11 tahun.

Ibu Patricia terinspirasi oleh tema tersebut dan merancang dekorasi dengan jejeran sejumlah lalang yang diselinggi beberapa batang gandum untuk menyadarkan yang hadir tentang perumpamaan Tuhan Yesus pada akhir zaman akan ada gandum di antara lalang.

Dr. Liauw berkhotbah dengan menunjuk kepada perumpamaan Tuhan Yesus dalam Matius 13:24-30 dan 36-43 yaitu cerita tentang Gandum di antara Lalang. Dalam perumpamaan tersebut Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ada gereja yang alkitabiah yang digambarkannya dengan gandum dan ada gereja sesat yang digambarkannya dengan lalang. Yang membedakan mereka adalah pengajaran yang diajarkan dan dijalankan.

Sebagian orang Kristen akhir zaman tidak sanggup membedakan antara gandum dan lalang karena mereka salah mengartikan Matius 7:1-2. Padahal kata Tuhan “janganlah kamu menghakimi, SUPAYA KAMU TIDAK DIHAKIMI.” Dengan kata lain, jika seseorang siap dihakimi, boleh baginya untuk menghakimi. Dan ayat keduanya berbunyi, “karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan dengan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Artinya jika seseorang memakai perasaannya, pengalamannya, dan berbagai hal subyektif untuk menghakimi maka ia akan dihakimi juga dengan ukuran yang sama. Itulah sebabnya orang Kristen alkitabiah tidak boleh menghakimi orang dengan perasaan, pengalaman, atau berbagai hal subyektif, melainkan kita HARUS menghakimi dengan ayat-ayat Alkitab. Namun ayat ini telah dimanfaatkan oleh iblis untuk menghentikan sikap kritis orang Kristen terhadap hal-hal rohani. Padahal pada akhir zaman dimana banyak lalang (gereja sesat) tumbuh di ladang, orang Kristen harus bersikap sangat kritis. Awas! “Ada jalan disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Ams.14:12).

Dari pengajarannyalah sebuah gereja diidentifikasi sebagai gandum atau lalang. Biasanya yang sadar dirinya lalang tidak rela diselidiki, apalagi dikritik. Biasanya sebelum diselidiki yang bersangkutan akan ngamuk dulu. Padahal bukankah tiap-tiap gereja harus bangga atas pengajarannya? Kalau gereja tidak bangga atas pengajarannya, bagaimanakah ia bisa bersaksi kepada dunia?

Dunia dipersilakan memandang kepada GRAPHE dan dipersilakan mengritik GRAPHE, atau dipersilakan menghakimi GRAPHE. Namun ingat, pakai ayat-ayat Alkitab, bukan pakai subjektif GRAPHE.

Sumber: PEDANG ROH Edisi 49

1 komentar:

sherry mengatakan...

Saya dari gereja katolik namun saya ingin memberi komentar. Saya pernah berpikir mencari gereja alkitabiah dan ini telah saya lakukan. Tapi, kalau saya perhatikan setiap gereja pasti ada kekuranga tapi juga ada kelebihan seperti yg tertulis di kitab wahyu 2-3. Di situ tertulis keadaan setiap gereja. Berdasar Alkitab, Yesus menghakimi kita per individu dan bukannya per kelompok organisasi gereja. Gereja hanya fasilitator bagi umat percaya memenuhi panggilan Yesus. Says yakin di setiap gereja ada yang sudah lahir baru dan ada juga yang belum. Ada yang bakal ke Surga dan juga ada yang bakal ke neraka. Semua itu tergantung iman individu masing-masing terhadap Yesus. Terima kasih atas perhatiannya.