Minggu, 14 Agustus 2011

Berita Bulan JULI 2011

KEKRISTENAN HARI INI: LADANG RANJAU ATAU TAMAN BUNGA?
(Berita Mingguan GITS 02 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini adalah kesaksian pribadi dari Dr. David Cloud.
Orang yang memenangkan saya kepada Kristus mengajar saya untuk melihat Alkitab sebagai otoritas satu-satunya untuk iman dan praktek dan menunjukkan saya pentingnya menguji segala sesuatu dengan Alkitab. Ketika dia membawa saya ke sebuah toko buku Kristen untuk membeli sebuah Alkitab, dia memperingatkan saya bahwa ada banyak bahaya di toko buku seperti demikian, dan kita tidak boleh naif. Alkitab sendiri memperingatkan akan adanya ledakan pengajaran palsu dan kesesatan pada akhir zaman gereja. Saya memulai kehidupan Kristen saya dengan filosofi yang alkitabiah tentang dunia ini dan saya tidak pernah mendapatkan alasan untuk meragukannya. Bahkan, saya melihat bahwa hari ini lebih perlu lagi untuk menggunakan pengamatan rohani yang tajam daripada sebelumnya. Ketika saya menghadiri konferensi ekumene saya yang pertama, sebagai seorang jurnalis pada tahun 1987, saya ditantang oleh seorang Episkopal kharismatik untuk “rileks” dan “jangan terlalu tegang” dan “jangan terlalu takut disesatkan.” Dia menasihati saya untuk “membuka diri terhadap hal-hal besar yang sedang Allah lakukan.” Dia mengatakan ini dalam konteks sebuah konferensi yang mengadakan misa Roma Katolik setiap pagi, patung-patung Maria dijual di daerah penjualan buku, dan direktur konferensi-nya adalah seorang Roma Katolik, dan seorang imam Roma Katolik memberikan khotbah penutup. Saya berpikir tentang nasihat-nasihat tersebut selama seper-sekian-detik dan saya menolaknya berdasarkan otoritas Firman Allah yang kudus. Saya tidak mau kehilangan apapun yang Allah kerjakan, tetapi saya juga tidak mau disesatkan oleh apapun yang Iblis sedang lakukan! Dan Iblis sangat hebat dalam menyamar sebagai malaikat terang dan bawahannya menyamar sebagai pekerja-pekerja kebenaran (2 Kor. 11:13-15). Ketika saya melihat kekristenan di zaman kita ini, saya melihat sebuah ladang ranjau yang harus dilewati dengan takut dan gentar, bukan sebuah taman bunga yang dapat dicoba dan dinikmati satu per satu. “Sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan” (2 Tim. 3:13). “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Pet. 5:8). “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams. 14:15).


ILMUWAN RUSIA MENGATAKAN BAHWA MUNCULNYA KEHIDUPAN TIDAK DAPAT TERELAKKAN (Berita Mingguan GITS 02 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Andrei Finkelstein, direktur dari Russian Academy of Sciences’ Applied Astronomy Institute, baru-baru ini mengatakan bahwa, “Munculnya kehidupan tidak terelakkan, sama seperti terbentuknya atom-atom. …Kehidupan ada di planet-planet lain dan kita akan menemukannya dalam kurun waktu 20 tahun” (“Alien Encounters,” Reuters, 27 Juni 2011). Pernyataan yang sangat konyol ini tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan apapun selain spekulasi-spekulasi kosong, asumsi-asumsi evolusionis, dan pemikiran muluk-muluk. Ada nol bukti ilmiah bahwa atom-atom terbentuk dengan sendirinya, dan mengenai kehidupan bisa muncul sendiri, ini bertentangan dengan semua bukti ilmiah yang ada. Jurang besar yang memisahkan antara benda mati dan makhluk hidup, molekul kimia yang inert dan entitas yang dapat mereproduksi diri sendiri, tidak pernah terseberangi oleh mekanisme Darwinian manapun. Tidak ada teori evolusi tentang asal mula kehidupan yang dapat menyeberangi jurang tersebut. Teori sel prokariotik tidak dapat, teori RNA-duluan tidak dapat, teori ventilasi laut dalam tidak dapat, teori peptida tidak dapat, teori besi-sulfur tidak dapat, teori autokatalisis tidak dapat, teori lumpur tidak dapat, teori suara katalitik tidak dapat, dan semua yang lain juga tidak dapat. Mengajukan sebuah mikrosferis atau suatu gelembung air, atau suatu protobiont, atau suatu proteinoid, atau sesuatu yang seperti itu, sebagai jalur menuju kehidupan adalah hal yang sia-sia, karena semua barang di atas bukanlah makhluk hidup yang dapat memperbanyak diri sendiri. Dalam skenario-skenario seperti itu, tetap saja ilmuwan jatuh di sisi benda mati dari jurang yang besar itu. Dalam kenyataannya, para evolusionis telah gagal total dalam usaha mereka menghasilkan kehidupan dalam tabung reaksi atau bahkan mendemonstrasikan bahwa hal seperti ini mungkin terjadi. Kehidupan tidak muncul sendiri. Kehidupan dihasilkan oleh kehidupan. Itulah ilmu pengetahuan yang sebenarnya. “Kehidupan muncul sendiri” adalah fiksi ilmiah.
 
KRISTUS PALSUNYA STUART TOWNEND
(Berita Mingguan GITS 02 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Stuart Townend menulis “himne-himne kontemporer” sebagai jembatan dari gereja-gereja tradisional menuju “gereja yang lebih luas.” Lagu-lagu jembatan ini termasuk “How Deep the Father’s Love for Us” dan “In bChrist Alone.” Kata-kata dari lagu-lagu ini tidak bermasalah secara doktrin, tetapi musiknya adalah balada rock lembut, bukan rock and roll yang mentereng, sehingga lagu-lagu ini sering dianggap “aman” oleh para tradisionalis yang tertipu. Tetapi, dengan menggunakan musik ini, sebuah gereja dibawa kepada pergaulan dengan dunia musik kontemporer yang diwakili oleh Townend. Townend adalah seorang yang bertheologi kharismatik, dan ekumenis secara radikal dalam filosofinya, mendukung program Alpha yang menjembatani gereja-gereja kharismatik, Protestan dan Roma Katolik. Dia adalah anggota dari Church of Christ the King di Brighton yang kharismatik, dan mendukung “manifestasi-manifestasi Roh yang luar biasa,” yang maksudnya adalah mistikisme kharismatik yang satanik/kedagingan seperti praktek membunuh roh, tertawa kudus, dan bergoncang kudus. Dia adalah seorang rocker, yang mengatakan bahwa dia tidak pulang ke rumah dan menyalakan lagu himne. Townend memiliki konsep tentang Kristus yang salah. Ketika bertanya, “Apakah yang akan Yesus nyanyikan?” ia menjawab: “Saya pikir Dia akan melakukan thrash metal atau hip hop atau sesuatu yang akan membuat kita berkata, ‘Dia tidak bisa melakukan itu!’ Karena saya pikir Dia akan menantang persepsi kita tentang apa yang nyaman. Saya tidak tahu apa yang akan Ia nyanyikan atau lagu siapa yang akan Ia pilih, tetapi saya percaya Ia akan melakukannya dengan suatu cara yang akan menggegerkan dan membuat kita terkejut” (“What Would Jesus Sing?” dari sebuah wawancara dengan Stuart Townend, seri TV Principles of Praise, 2011, http://www.youtube.com/watch?v=OCW0oAAna7c). Jadi, menurut Townend, bukannya menyanyikan mazmur, himne, dan puji-pujian rohani, Yesus akan menyanyikan thrash metal dan hip hop dan mencoba mengejutkan kita dengan pilihan musikNya. Ini bukanlah Yesus yang kudus kudus kudus dalam Alkitab. Memang benar bahwa Yesus mengejutkan khalayak agamawi pada zamanNya, tetapi bukanlah karena Ia sedang memberikan performa musik yang duniawi, bergoyang pinggul terhadap musik rock, atau melontarkan musik thrash! Ia mengejutkan karena kelompok agamawi pada waktu itu telah menolak Firman Allah dan Yesus adalah Firman Allah yang menjadi daging, jadi mereka tidak mengenali, mengerti, atau mengapresiasi Dia. Dia datang untuk menggenapi setiap iota dan titik dari hukum Allah yang maha kudus (Mat. 5:17-19). Karena para pendukung Christian rock begitu senang mengejutkan orang, mereka pikir Yesus seperti mereka. Para Christian rocker sama sekali tidak ambil pusing bahwa banyak orang kudus yang tersinggung oleh musik mereka karena dianggap duniawi dan tidak cocok untuk melayani Kristus. Para Christian rocker telah mengambil alih tidak terhitung banyaknya gereja yang tadinya tradisional, bahkan sampai ektrimsnya mendorong keluar semua yang tidak setuju dengan “pilihan” musik mereka. Bukannya bersimpati dengan orang-orang kudus yang menentang musik mereka, mereka memfitnah orang-orang seperti itu sebagai Farisi dan legalis dan tradisionalis yang kuno dan tidak berpikiran. Ini bukanlah roh Yesus. Yesus dengan serius memperingatkan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang percaya padaNya (Mat. 18:2-10). Paulus juga memberikan peringatan ini. “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!…Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:13, 19). Townend berpegangan tangan dengan “gereja yang lebih luas” dengan segala kesesatannya, dan tujuannya menulis lagu-lagu kontemporer yang “mirip himne” adalah ekumenisme. Gereja-gereja fundamentalis yang hari ini tidak begitu peduli dengan musik sedang bermain dengan api. Standar musik yang terbaik adalah standar yang paling man. Jika ragu-ragu, jangan! “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Rom. 14:23).

BAPTIS DAN KATOLIK BERSAMA-SAMA MEMBUAT FILM
(Berita Mingguan GITS 09 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Sherwood Baptist Church, pembuat dari film-film seperti Flywheel, Facing the Giants, dan Fireproof, kini mempromosikan persatuan dengan Gereja Roma Katolik dengan tujuan mengembalikan Amerika kepada Allah. Sherwood Baptist berlokasi di Albany, Georgia, di tengah-tengah daerah yang dijuluki “Bible belt,” tetapi Gembala Sidang Michael Catt tidak percaya apa yang Alkitab katakan tentang memisahkan diri dari kesesatan (Roma 16:17; 2 Kor. 6:14; 2 Tim. 3:5). Gereja tersebut kini sedang secara agresif mencari partisipasi Roma Katolik dalam mempromosikan film barunya, Courageous. Kita diberitahu bahwa “orang-orang Katolik akan dikirim ke website Courageous-nya Sherwood Baptist Church yang khusus untuk Katolik,” dan sebagaimana diobservasi oleh seorang teman, “Mereka yang menyebut diri Kristen akan melihat halaman tentang sumber daya Katolik ini dan akan dipimpin untuk percaya bahwa Katolik dan Kristen adalah saudara seiman dalam Kristus.” Sherwood Baptist mengundang The National Catholic Register untuk menyaksikan pembuatan film ini dan Gembala Catt memberikan sang wartawan, Matthew Warner, sebuah wawancara yang hangat, positif, dan ekumenis yang lalu dipublikasikan di website publikasi Katolik pada tanggal 20 Juni 2010. Catt membuat pernyataan berikut dalam wawancara itu: “Ketika kami pergi ke seluruh bagian negeri ini dan membuat film ini, kami bertemu dengan orang-orang dari denominasi apa saja yang dapat anda bayangkan, dan kami segera memiliki persekutuan dan persaudaraan karena kami memiliki satu hal yang kami tahu sama: kami satu keluarga. Kami adalah anggota-anggota satu keluarga karena kami adalah saudara-saudari dalam Kristus, tidak peduli label apa yang dipakai.” Gembala sidang Southern Baptist yang kebingungan ini jelas tidak percaya peringatan Yesus bahwa akan datang banyak guru-guru palsu yang akan mengajarkan kesesatan dengan cara yang sedemikian halus sehingga orang-orang pilihan pun akan tertipu seandainya mungkin (Mat. 7;15; 24:11, 24). Catt sepertinya tidak percaya pernyataan Yesus bahwa banyak yang akan mengakui Kristus sebagai “Tuhan, Tuhan” tetapi sebenarnya terhilang (Mat. 7:21-23). Catt sepertinya tidak percaya bahwa Paulus melalui Roh Kudus memperingatkan akan kristus-kristus palsu dan injil palsu dan roh-roh palsu (2 Kor. 11:1-3) dan bahwa suatu pergeseran besar dari kebenaran akan terjadi di waktu-waktu terakhir (2 Tim. 3:5; 4:3-4). Gembala Catt mungkin akan protes dan berkata bahwa ia mempercayai semua hal ini, tetapi jika demikian yang jelas dia tidak tahu bagaimana harus bertindak atas informasi ini dalam cara praktis apapun. Billy Atwell, seorang blogger Katolik yang diundang untuk menyaksikan pembuatan film Courageous, mengatakan bahwa agar Baptis dan Katolik dapat bekerjasama, “kita hanya memerlukan suatu kerangka kekristenan ortodoks yang sama, dan saling setuju akan isu yang di depan mata” (“From Fireproof to Courageous,” Catholic Online, 18 Juni 2010). Usaha untuk mengimplikasikan bahwa Baptis dan Roma Katolik memiliki kerangka kekristenan ortodoks yang sama adalah kesalahan yang sangat besar. Orang-orang Baptis yang percaya Alkitab dan orang-orang Katolik tidak berbagi pandangan akan Injil yang sama, misalnya, dan itu jelas adalah suatu aspek ortodoksi kekristenan yang sangat mendasar. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia semata, melalui iman dalam Kristus semata, tanpa perbuatan ataupun sakramen, sementara dalam Konsili Trent, Roma mengutuki orang-orang yang mempercayai Injil ini. Ketika Atwell merujuk kepada “isu yang di depan mata,” dia memaksudkan tema dari film Courageous, yang adalah keayahan (fatherhood). Jadi, kita diberitahu bahwa adalah baik-baik saja bagi Baptis dan Katolik untuk bersatu demi isu ayah. Tetapi seorang ayah yang baik, sebagaimana didefinisikan oleh Alkitab, akan memimpin keluarganya untuk menaati “seluruh maksud Allah” dan mengajarkan anak-anaknya untuk “melakukan SEGALA SESUATU” yang Kristus telah perintahkan dalam Kitab Suci (Mat. 28:19-20). Seorang ayah yang baik, oleh sebab itu, diharuskan membesarkan keluarganya di dalam sebuah gereja yang sungguh-sungguh alkitabiah, dan tidaklah mungkin bagi ayah-ayah yang sungguh percaya Alkitab untuk bersatu kuk dan melayani bersama dan bersekutu rohani dengan orang-orang yang mengajarkan injil yang palsu dan kesesatan yang jelas (misalnya kepausan, penyembahan Maria, sakramentalisme, kelahiran kembali melalui baptisan, keimamatan, kelajangan yang dipaksakan, monastikisme, penghormatan relik-relik kuno, purgatori, Roma sebagai kepala dari semua gereja, dll). Sherwood Baptist tidak diragukan pastilah tulus dalam niatnya untuk menolong Amerika, tetapi mereka buta kepada fakta bahwa posisi mereka ini mewakili tipe kekristenan yang dangkal, suam-suam kuku, dan keduniawian, yang sejak awalnya justru menjerumuskan Amerika.

TOKOH-TOKOH INJILI MENGATAKAN BAHWA DOKTRIN TENTANG PENYIKSAAN KEKAL ADALAH SKANDAL YANG MERUSAK KARAKTER ALLAH (Berita Mingguan GITS 09 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Edward Fudge, penulis dari The Fire that Consumes: A Biblical and Historical Study of the Doctrine of Final Punishment, mengatakan bahwa doktrin tentang penyiksaan kekal adalah “suatu skandal yang buruk melawan karakter Allah sendiri” (“Interview: Scholar Edward Fudge,” Christian Post, 23 Juni 2011). Fudge, yang percaya bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan akan dilenyapkan sama sekali (annihilasi), mengatakan bahwa Allah yang dapat melemparkan orang ke dalam api untuk menderita selamanya “tidak kedengaran seperti Allah yang saya kenal dan lihat dalam Yesus Kristus.” Ini adalah pendapat yang berkembang pesat dalam lingkaran “injili.” Rob Bell mengatakan bahwa Allah yang akan mengirim orang-orang terhilang ke dalam neraka yang kekal adalah “menakutkan dan membuat trauma dan membuat jijik” (Love Wins, Kindle location 1273-1287, 2098-2113). Brian McLaren setuju dengan pandangan tersebut. Demikian juga dengan penulis novel The Shack yang mengatakan bahwa Allah yang “menonton dari kejauhan dan menghakimi dosa” adalah “Zeus versi Kristen.” Semua ini mengingatkan kita akan seorang modernis, G. Bromley Oxnam, yang menyebut Allah Perjanjian Lama yang membenci dosa sebagai “seorang bully yang kotor” dalam bukunya, tahun 1944, Preaching in a Revolutionary Age. Setengah abad yang lalu, para pemimpin Injili menolak pemisahan (separasi) dan memutuskan untuk berasosiasi dengan para modernis dengan cara tinggal tetap dalam denominasi-denominasi dan sekolah-sekolah yang korup dan juga duduk di bawah kaki mereka untuk mendapatkan pendidikan theologi. “Teknik infiltrasi” ini tidak berhasil “menginjili” para modernis, tetapi yang jelas telah membuat para injili semakin “modernis.”

SELURUH DUNIA MEREKA-REKA PERKARA YANG SIA-SIA
(Berita Mingguan GITS 09 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Pemazmur menubuatkan bahwa seluruh dunia akan mereka-reka (membayangkan) hal yang sia-sia, yaitu memutuskan “belenggu-belenggu” Allah dan Kristus. “Mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” (Maz. 2:1-3). Kata yang diterjemahkan “diurapi” dalam bahasa Ibrani adalah Mesias, yang sama dengan Kristus dalam Yunani. Tentu saja ini merujuk kepada Yesus, yang dinyatakan dalam Mazmur pasal 2 itu sebagai Anak Allah (ay. 7). Imajinasi yang sia-sia ini sedang menyebar ke seluruh dunia dengan semangat yang besar hari ini, bahkan di antara orang-orang yang mengaku Kristen. Lagu John Lennon, “Imagine,” telah menjadi semacam lagu nasional bagi pemberontakan ini, dan cukup menarik bahwa ini cocok sekali dengan kata-kata pemazmur 3000 tahun yang lalu. Lirik lagu berkata “Bayangkan tidak ada surga….Tidak ada neraka di bawah kita, di atas kita hanya langit….tidak ada agama juga/ kamu mungkin berkata saya seorang pemimpi, tetapi saya bukan satu-satunya / saya harap suatu hari kamu bergabung dengan kami, dan dunia akan hidup sebagai satu.” (“Imagine there’s no heaven … No hell below us, above us only sky … no religion too/ You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one/ I hope some day you’ll join us, and the world will live as one”). Lennon memimpikan dunia yang akan bersatu oleh imajinasi pemberontakan melawan otoritas absolut Allah dan melawan jalan eksklusif keselamatan melalui AnakNya. Saya telah mendengar lagu “Imagine” dinyanyikan dan dimainkan hampir di semua tempat yang saya kunjungi di dunia ini (lebih dari 30 negara). Lagu ini dinyanyikan duet oleh Dolly Parton dan rocker John Lennon yang homoseksual. Lagu ini dinyanyikan oleh Bill Clinton bersama dengan paduan suara Yahudi dan Arab. Lagu ini dipakai oleh tim missionaris jangka pendek, P.E.A.C.E., dari gereja Rick Warren, Saddelback Church, pada bulan Agustus 2006 sebagai bagian dari sebuah slide-show video yang diposting ke YouTube. Saya dulu sangat suka lagu ini sebelum saya diselamatkan (“Imagine” keluar tahun 1971 ketika saya sedang dalam puncak pelarian dari Allah), dan saya juga, waktu itu tidak percaya akan neraka atau Allah yang akan mengirim orang ke neraka. Tetapi saya bersyukur kepada Tuhan untuk kemurahanNya membuka mata saya yang buta.

UNITED CHURCH OF CHRIST MENUKARKAN ALLAH BAPA DENGAN ILAH WANITA VERSI THE SHACK (Berita Mingguan GITS 16 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Minggu lalu, denominasi United Church of Christ menghilangkan istilah “Allah Bapa” dari pernyataan iman mereka. Juru bicara denominasi tersebut, Barb Powell, mengatakan bahwa istilah “Bapa surgawi” terlalu mengekang dan tidak kondusif untuk bahasa yang inklusif seperti “Bapa dan Ibu” (“God the Father banished,” WorldNetDaily, 5 Juli 2011). Jadi, denominasi yang liberal ini adalah yang pertama yang menempatkan ilah-nya The Shack, dengan “Allah Bapa” versi wanitanya dan Roh Kudus yang wanita ke dalam pernyataan iman mereka yang resmi. Kesesatan ini sangat sangat dalam dan sedang menyebar dalam “kekristenan.” Ini bukan saja penolakan doktrin Alkitab tetapi juga penolakan terhadap Allah yang ada dalam Alkitab. Setiap gereja yang tidak berusaha untuk menutup jembatan-jembatan yang menuju kepada lautan kesesatan yang berbahaya seperti ini akan terinfiltrasi.

SERANGAN TERHADAP ALKITAB MEMBUKTIKAN PENGILHAMANNYA YANG ILAHI
(Berita Mingguan GITS 16 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Serangan yang bertubi-tubi terhadap Alkitab hari ini adalah penggenapan nubuat dan oleh karena itu adalah bukti bahwa Alkitab itu benar. 2 Timotius 3:7-8 memperingatkan bahwa bahkan orang-orang yang mengaku Kristen-pun akan ikut dalam serangan-serangan ini. Mereka selalu ingin diajar, tetapi tidak pernah dapat mengenal kebenaran, dan bahkan mereka menentang kebenaran (2 Tim. 3:7-8). Ini adalah gambaran yang sempurna tentang pendidikan tinggi Kristen hari ini, bahkan di antara mereka yang disebut “injili.” Seminari-seminari theologi pada umumnya mengambil pendekatan sinkretistik, memiliki sikap yang toleran terhadap segala macam kumpulan “theologi” dan dengan antusias mencoba untuk menyenangkan orang dengan aliran kesesatan baik kuno maupun modern, sambil merendahkan pendekatan doktrin yang dogmatis dan menyerang orang-orang yang memegang Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhami dan tanpa salah secara absolut. Christianity Today baru-baru ini menerbitkan sebuah artikel yang mempertanyakan historisitas (benar ada atau tidak) Adam dan Hawa, dan berpura-pura bahwa hal ini tidak membawa pengaruh apapun. 2 Timotius 4:3-4 menubuatkan bahwa orang-orang Kristen akhir zaman akan menukarkan doktrin yang sehat dengan dongeng-dongeng dan akan dipimpin ke dalam hal seperti ini oleh banyak guru yang rela menggelitik telinga orang-orang yang mencari hal-hal baru. Petrus menubuatkan bahwa banyak yang akan mengajarkan kesesatan yang membinasakan, bahkan menyerang pribadi dan karakter Kristus; dan melalui pengajaran sesat mereka dan cara hidup mereka yang sensual, mereka akan membawa malu yang besar bagi kekristenan (2 Pet. 2:1-2). Petrus juga menubuatkan bahwa pada waktu-waktu yang kemudian akan ada ketidakpercayaan yang meluas terhadap banjir air bah yang global dan kedatangan Kristus yang kedua kali; bahwa akan ada ejekan dan penolakan yang terang-terangan terhadap hukum-hukum moral Allah (2 Pet. 3:3-6). Kesesatan tersebut, yang sudah dimulai pada zaman para Rasul, akan bertambah dalam intensitas sambil zaman gereja bergulir (2 Tim. 3:1-3). Nubuat-nubuat luar biasa ini sudah berusia 2000 tahun, tetapi sangat tepat dan mendetil, dan memberikan gambaran yang sempurna tentang kondisi dunia di zaman kita ini. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa pengilhaman ilahi.
 
TUMBUHAN DAN BAKTERIA BERKOMUNIKASI
(Berita Mingguan GITS 16 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Creation Moments, 15 Juni 2011: “Ada orang yang berbicara kepada tanaman mereka. Tetapi apa yang akan anda katakan kepada suatu bakteri? Ternyata, tanaman kacang kedelai tahu persis apa yang harus dikatakan untuk membuat bakteri menjadi teman dekat dan penolong yang baik. Simbiosis artinya adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang berbeda yang berarti mereka saling membantu satu sama lain. Tumbuhan memerlukan nitrogen untuk pertumbuhan yang sehat. Tetapi, walaupun ada banyak nitrogen di udara, tumbuhan biasanya tidak dapat memakai nitrogen itu. Tanaman jenis legume, seperti kacang kedelai, berpadu dengan bakteria yang dapat mengambil nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi bentuk nitrogen yang dapat dipakai oleh tumbuhan, termasuk kacang kedelai ini. Sebagai balasan, tumbuhan menciptakan rumah yang enak bagi bakteri itu dalam nodus-nodus di akarnya dan menyediakan makanan bagi bakteri. Bakteri memerlukan banyak oksigen dan energi untuk mengikat nitrogen ke dalam tanah. Oksigen ini didapatkan dari partikel heme. Nama ini mungkin mengingatkan anda dengan hemoglobin yang membawa oksigen di dalam darah, dan memang itulah dia! Itulah mengapa partikel heme dalam nodul-nodul mengubah warna mereka menjadi merah. Siapakah yang membuat heme ini, tanaman atau bakteri? Ketika sendirian, tidak satu pun dari keduanya yang memiliki heme. Para peneliti telah belajar bahwa sang tumbuhan membentuk bagian pertama dari bahan kimia yang diperlukan untuk pembentukan heme…..dan bakteri menyelesaikannya! Tumbuhan dan bakteri benar-benar berkomunikasi secara kimiawi satu dengan yang lainnya agar produksi dapat berjalan dengan lancar! Komunikasi antara dua makhluk hidup yang sedemikian berbeda, yang memungkinkan mereka untuk mengerjakan proses kimia yang rumit untuk meningkatkan kualitas hidup mereka berdua, menunjukkan betapa tidak mampunya evolusi menjelaskan kehidupan. Kejadian ini tentunya memuliakan sang Pencipta!
 
INJILI DAN KATOLIK BERGABUNG UNTUK CHRISTIAN ROCK
(Berita Mingguan GITS 23 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Festival Christian rock tahunan Lifest yang ke-13 di Oshkosh, Wisconsin, menayangkan lima hari rock & roll, lengkap dengan sebuah misa Katolik dan sebuah khotbah oleh pembicara injili terkenal, Greg Laurie. Sekitar 20.000 orang berkumpul tanggal 6-10 Juli untuk mendengarkan grup-grup Christian rock seperti Hawk Nelson, Skillet, TobyMac, Lincoln Brewster, MercyMe, Superchick, Newsboys, dan Kutless. Greg Laurie dari International Harvest Crusades, berbicara pada hari terakhir event tersebut, yang didahului oleh sebuah misa Katolik yang dipimpin oleh uskup David Ricken dari parokhi Green Bay. Pendiri Lifest, Bob Lenz, berkata, “Kami ingin mendapatkan semua cita rasa gereja” (“Green Bay Bishop David Ricken Leads Mass,” Green Bay Press Gazette, 10 Juli 2011). Apa yang disebut oleh Lenz itu bukanlah sebuah “gereja”; itu adalah kesesatan akhir zaman dan pemberontakan terhadap Firman Allah. “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Roma 16:17). Filosofi ekumenis dari Christian rock yang tidak Alkitabiah adalah salah satu dari banyak alasan mengapa kami memperingatkan tentang hal ini dengan sungguh-sungguh.
 
MARIA, RATU DARI GEREJA ALAM SEMESTA
(Berita Mingguan GITS 23 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Sebuah bangunan Roma Katolik, Basilika Kuil Nasional Maria, Ratu Alam Semesta, terletak di Orlando, Florida, dekat Disney World. Brosur resmi dari basilika tersebut mengatakan, “Sebagai orang-orang Katolik, kita memandang kepada Maria, Bunda Allah, untuk inspirasi, penguatan dan pertolongan dalam kehidupan kita. ….[Basilika tersebut] menekankan devosi kepada Bunda Allah sebagai salah satu karunia yang diberikan Allah yang memungkinkan kita untuk mencapai keselamatan yang Kristus berikan melalui pengorbanan hidupNya di kayu salib.” Jadi, menurut dokumen Katolik ini, Maria memainkan peran dalam keselamatan, yang adalah kesesatan yang membinasakan. Bahwa Maria yang diusung oleh Roma Katolik disembah sebagai ratu Surga adalah bukti yang jelas bahwa dia adalah berhala kafir yang telah dikristenkan, karena satu-satunya “ratu surga” yang disebut dalam Alkitab adalah seorang dewi yang disembah oleh orang-orang Yahudi pada saat kehancuran Bait Suci pertama (Yeremia 7:18; 44:17-25). Penyembahan bunda-dewi yang kuno, yang mulai dari Babel dan menyebar ke seluruh dunia, dibaptis oleh Gereja Roma Katolik sebagai Madonna-Anak. Untuk melihat foto-foto Maria di atas kayu salib dan Maria di takhta Allah di basilika Santa Maria Maggiore, Maria di atas kayu salib di Church of the Mother of God of Polish Martyrs di Warsaw, dan Maria di atas tabut perjanjian, lihat di website berikut ini – http://www.wayoflife.org/maryolatry/index.html
 
KEHENINGAN VS. KEHENINGAN
(Berita Mingguan GITS 23 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Ada perbedaan yang besar sekali antara perenungan yang alkitabiah dengan doa kontemplatif Roma Katolik yang sedang melanda dunia injili seperti api. Ada perbedaan antara dua jenis keheningan ini (silence vs. THE silence). Keheningan perenungan alkitabiah secara sederhana adalah suatu tempat yang sunyi di mana jiwa dapat secara efektif mencari Tuhan. Dalam Alkitab hal ini disebut mencari Tuhan (Maz. 105:3; Yes. 55:6), menantikan Tuhan (Maz. 69:7), merenungkan Tuhan (Maz. 104:34), merenungkan Firman Tuhan (Maz. 1:2). Di zaman ini, saat kebanyakan dari kita memakai komputer dan telpon genggam canggih dan jam-jam kita diisi sampai penuh oleh kesibukan, sangatlah penting untuk memiliki waktu-waktu harian yang hening untuk renungan rohani. Di sisi lain, “keheningan” (THE silence) doa-doa kontemplatif merujuk kepada mengejar Allah yang di luar Alkitab, di luar dari pemikiran. Hal ini merujuk kepada menyingkirkan segala pikiran melalui mekanisme-mekanisme seperti mantra. Hal ini telah dipopulerkan oleh guru-guru kontemplatif seperti Richard Foster dan Dallas Willard dan dipromosikan oleh banyak pemimpin injili hari ini, termasuk Rick Warren, Bill Hybels, Chuck Swindoll, David Jeremiah, Beth Moore, Mark Driscoll, Max Lucado, Philip Yancy, Ed Young, Gary Thomas, Lee Strobel, dan Charles Stanley. Salah satu manual doa kontemplatif yang populer adalah The Cloud of Unknowing. Buku ini, yang keluar dari kegelapan sistem biara Roma Katolik, mengajarkan pemakaian sebuah mantra untuk mengusir pikiran-pikiran sadar dengan tujuan memasuki suatu pengalaman persekutuan dengan Allah dalam “kehampaan.” “Fokuskan perhatianmu pada kata-kata sederhana seperti dosa atau Allah ….dan TANPA INTERVENSI PIKIRAN YANG ANALITIS biarkan dirimu merasakan secara langsung realita yang disimbolkan kata itu” (pasal 36, hal. 94). Ini bukanlah perenungan alkitabiah; ini adalah resep yang berbahaya untuk mengundang kesesatan satanik. Kita harus mencari Allah melalui iman, dan iman timbul dari pendengaran Firman Allah (Ibr. 11:6; Rom. 10:7). Jika kita mencoba untuk mengetahui dan “merasakan” Allah di luar dari halaman-halaman Kitab Suci, di luar dari pengajaran Alkitab, kita berjalan dalam ketidaktaatan dan ketidakpercayaan dan membuat diri kita gampang sekali ditipu rohani oleh pihak-pihak yang menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14). Praktek-praktek kontemplatif seperti Doa Yesus, visualisasi doa, doa nafas, dan centering prayer, sangatlah berbahaya. Banyak orang yang mempraktekkan hal-hal ini ujung-ujungnya mempercayai konsep Allah yang kafir seperti pantheisme (Allah adalah segala sesuatu) dan panentheisme (Allah ada dalam segala sesuatu). Melalui praktek-praktek ini orang biasanya menjadi semakin ekumenis dalam pola pikirnya. Seseorang tidak perlu memilih antara dua hal – mengenal Allah atau mengenal Allah secara pribadi. ALLAH DIKENAL DALAM KRISTUS MELALUI FIRMANNYA. Pembelajaran Alkitab bukanlah tujuan akhir dan seharusnya bukanlah suatu pekerjaan intelektual yang kering; melainkan adalah cara kita bisa mengenal Allah. “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” (Maz. 1:2). “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (2 Pet. 1:4)

IRAN MEMBERITAHU GEMBALA SIDANG KRISTEN: SANGKALI IMAN ATAU HADAPI HUKUMAN MATI (Berita Mingguan GITS 23 Juli 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari Baptist Press, 15 Juli 2011: “Gembala sidang di Iran, Yousef Nadarkhani menghadapi hukuman mati kecuali ia menyangkali imannya kepada Kristus, demikian dikonfirmasi oleh sebuah vonis tertulis dari Mahkamah Agung negara tersebut. Baptist Press melaporkan tanggal 8 Juli bahwa orang-orang Kristen di Iran tidak setuju dengan pelaporan berita bahwa hukuman mati terhadap Nadarkhani telah dibatalkan. Organisasi hak asasi manusia Christian Solidarity Worldwide melaporkan tanggal 14 Juli bahwa vonis tertulis dari pengadilan telah dikeluarkan, mengkonfirmasi bahwa Nadarkhani menghadapi hukuman mati kecuali jika ia menyangkali imannya. Vonis yang asli atas tuduhan murtad didasarkan pada “fatwa-fatwa” oleh pemimpin-pemimpin agama Iran yang paling berkuasa – Ayatollah Khomeini, Khamenei dan Makarem Shirazi – berarti Mahkamah Agung bisa jadi enggan untuk membatalkan vonis tersebut karena takut menimbulkan kontroversi, demikian kata Andrew Johnston, direktur pengacara CSW dalam penyataan pers-nya….Nadarkhani ditangkap pada bulan Oktober 2009 ketika mencoba untuk mendaftarkan gerejanya. Penangkapannya dipercayai adalah karena ia mempertanyakan monopoli Muslim atas pendidikan agama anak-anak di Iran, menurut laporan berita. Dia mula-mulanya dituduh melakukan protes; tetapi, tuduhan terhadap dirinya belakangan diubah menjadi kemurtadan dan menginjili Muslim.”

Editor: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (www.graphe-ministry.org)
(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)
Untuk berlangganan, pilih opsi “Join Group” di: http://groups.yahoo.com/group/gits_buletin/ dan ikuti petunjuk selanjutnya di layar komputer

Tidak ada komentar: