Sabtu, 10 September 2011

Perempuan Eropa dan Amerika Membuang Mutiara

Penafsiran Alkitab Membawa Pengaruh
Kelompok Kristen Liberal menafsirkan I Timotius 2:11-13 sebagai kebenaran yang kondisioner dan tidak berlaku lagi sekarang. Mereka melihat larangan bagi perempuan untuk mengajar dan memerintah laki-laki dikarenakan kondisi perempuan saat itu yang belum berpendidikan. Setelah perempuan mengecap pendidikan, maka perintah itu tidak berlaku lagi.

Bahkan ada kelompok yang lebih tidak berhikmat dimana mereka menafsirkan bahwa perintah itu dikarenakan Rasul Paulus sentimen kepada perempuan. Mereka menunjuk status Paulus yang tidak menikah sebagai bukti sikap negatifnya terhadap perempuan. Efek dari penafsiran kelompok Liberal ini maka gereja mengijinkan perempuan bukan hanya berkhotbah dan memimpin acara kebaktian, bahkan mengijinkan perempuan menjabat Gembala Jemaat.

Sikap ini merembes ke kelompok Injili yang prakmatis dan kelompok Kharismatik yang memang tidak mementingkan keteraturan. Dengan sangat cepat sikap ini diadopsi oleh berbagai kelompok dan menjalar secara cepat ke seluruh dunia.

Efek Tafsiran Terhadap Peran Wanita di Jemaat
Akhirnya di berbagai acara, baik di kampus-kampus maupun di persekutuan-persekutuan kantor, lelakinya duduk bengong dan para wanita dengan sangat yakin diri memimpin acara, bahkan berkhotbah.

Setelah hal demikian berjalan puluhan tahun, bahkan melewati generasi, maka efeknya terhadap keluarga mulai terlihat jelas. Jika di jemaat wanitanya memimpin acara dan berkhotbah bahkan menggembalakan jemaat, maka tidak mungkin lagi bisa diterapkan perintah dalam Efesus 5:22,25 yaitu istri tunduk kepada suami, dan suami mengasihi istri. Sebab di jemaat, di depan publik bahkan di mata anak-anak, sudah terang bahwa wanita mengajari dan memerintah laki-laki. Lama-kelamaan anak-anak anggota jemaat menjadi terbiasa dengan kondisi wanita memimpin laki-laki, baik di gereja maupun di rumah.

Efek Tafsiran Terhadap Pernikahan
Kalau di jemaat wanita mengkhotbahi bahkan menggembalakan laki-laki, maka di rumah para istri tidak mungkin bisa terima perintah Tuhan bahwa istri harus tunduk kepada suami.

Pernikahan Kate Middleton dan Pangeran William, menyedot perhatian dunia, dan pasti membangkitkan rasa kagum atas kemegahan dan keanggunan pernikahan tersebut. Sesuatu menyentak penulis ketika menyaksikan, dan membaca berbagai ulasan media cetak maupun televisi bahwa Kate mengikuti mendiang ibu mertuanya, yaitu tidak mau bersumpah menaati William, melainkan hanya bersumpah mengasihi dan mendampinginya. Tidak heran kalau sekalipun masih dalam suasana pernikahan, berbagai kalangan sudah menebak jangka waktu kelanggengan pasangan megah tersebut.

Ada yang berkata bahwa akan bertahan lima tahun dan ada yang berkata sepuluh tahun dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Orang-orang duniawi menyebutnya kemajuan zaman (modernisasi), sementara orang-orang rohani menyebutnya pembangkangan terhadap Alkitab.

Cerita kondisi keluarga seperti film Little House on the Prairie sudah tidak ada, atau sudah tinggal sebagai dongeng. Persentase keluarga yang bercerai di Eropa dan Amerika semakin meningkat jumlahnya. Bahkan di kalangan Kristen Fundamentalis pun sudah ada perceraian dan jumlahnya meningkat.

Efek Penafsiran Terhadap Hubungan Anak-Orang Tua
Sungguh, iblis berhasil menghancurkan sistem keluarga kekristenan yang alkitabiah, bahkan berhasil menghancurkan tatanan sosial masyarakat Kristen di negara-negara Kristen. Setelah berhasil mengacaukan hubungan suami-istri kini iblis sedang bekerja untuk mengacaukan hubungan antara anak dan orang tua. Di USA kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) mengajarkan anak-anak di sekolahan untuk tidak menaati orang tua mereka. Mereka mengajari anak-anak untuk menelpon 911 jika dipukul oleh orang tua. Bayangkan, sebagai orang tua anda tidak berhak mendidik anak-anak anda ketika mereka nakal, karena mereka akan menelpon polisi. Belum lama ini terjadi seorang anak menuntut orang tuanya ke pengadilan karena membuka akun emailnya.

Tertarik Pada yang Tak Bernilai
Sebaliknya orang Kristen Liberal, mungkin didahului kaum atheis di Eropa dan USA, malah tertarik pada model kehidupan kaum Muslim. Kaum lelakinya mungkin kewalahan dengan wanita ahteis atau Kristen Liberal yang galak dan tidak mau dengar suami, menjadi tertarik pada wanita Muslim yang sangat tunduk kepada suami.

Bagi kaum atheis atau Kristen Liberal yang tidak lahir baru, sama sekali tidak ada salahnya berubah menjadi Muslim jika mereka bisa mendapatkan istri yang manis dan tunduk mutlak kepadanya. Sementara itu wanita atheis maupun Kristen Liberal di Eropa dan Amerika juga banyak yang ditaklukkan dengan dihamili dan terpaksa menjadi islam daripada melahirkan anak tanpa ayah. Hasilnya, Perancis sudah hampir menjadi negara Islam dan dalam waktu tidak terlalu lama kelihatannya Eropa akan seperti besi campur tanah liat, sebagaimana telah dinubuatkan dalam kitab Daniel.

Dimanakah Kepala Benangnya?
Ketika seseorang ingin mengurai segumpal benang kusut, hal terutama ialah menemukan kepala benangnya. Jika tidak, maka semakin ditarik, tentu gumpalan benang kusut itu akan semakin kusut.

Apakah penyebab "benang kusut" kehidupan rumah tangga Kristen di Eropa dan Amerika? Penyebabnya sesungguhnya ialah kesengajaan menyalahtafsirkan peran wanita di rumah tangga maupun di jemaat. Iblis menyusup masuk ke dalam gereja dan berbagai sekolah theologi untuk menjadi theolog dan pengkhotbah. Para wanita dihasut dengan peran dan kekuasaan seperti iblis menghasut Hawa bahwa ia akan menjadi seperti Allah. Mereka dihasut untuk berkuasa di gereja dan berperan tanpa mempedulikan ketetapan Firman Tuhan. Mereka dihasut untuk mencampakkan mutiara kehidupan keluarga kekristenan yang indah yang diajarkan Alkitab. Baik pria maupun wanita bersama-sama membuang prinsip indah hubungan suami-istri dan prinsip hidup rumah tangga ajaran Alkitab yang indah. Setelah mutiara yang indah hilang karena mereka campakkannya, kemudian mereka melihat batu gunung atau batu kali yang agak mengkilap dan memungutnya.

Secara rohani mereka kehilangan hidup kekal di dalam Kristus. Dan secara sosial mereka kehilangan kehidupan rumah tangga yang indah di dalam Kristus. Mereka tidak rela tunduk kepada suami yang diperintahkan untuk mengasihi istri dan yang boleh punya hanya satu istri, tetapi mereka nanti akan punya suami yang boleh punya empat istri dan yang tidak diperintahkan untuk mengasihi istrinya. Kepala benangnya ialah penafsiran Alkitab yang benar, dan tekad untuk mematuhinya tanpa kompromi.

Penafsiran yang salah membawa implikasi yang sangat buruk secara rohani maupun sosial. Kehidupan rumah tangga berhubungan erat dengan kehidupan bergereja. Ketika terjadi pembangkangan atas perintah Tuhan terhadap tatanan aturan berjemaat, maka efeknya ke kehidupan rumah tangga dan sosial tak terhindarkan. Renungkanlah!***

Tidak ada komentar: