Senin, 05 September 2011

Wanita Lajang Boleh Berkhotbah?

Prosedur Dasar Dari Tuhan
Ketika Tuhan memberi perintah agar istri tunduk kepada suami dan suami mengasihi istri, serta anak taat orang tua, orang tua tidak menyakiti hati anak (Efesus 5:22,25, Kolose 3:18-21), Tuhan tahu persis prinsip utama yang harus dimiliki sebuah keluarga.

Dalam sebuah pesawat tidak boleh ada co-pilot yang mau ikut pegang setir dan tidak mau tunduk kepada pilot dengan crew yang tidak mau taat kepada kapten yang misalnya mau seenaknya membuka pintu darurat. Baik pesawat maupun kapal laut, semuanya memiliki standar dasar management operasinya.

Demikian juga dengan sebuah keluarga dan sebuah jemaat. Tuhan menetapkan seorang ayah sebagai kapten/kepala keluarga dan istrinya adalah wakil dengan sejumlah anak-anak sebagai anggota keluarga. Ini adalah standar operasi dasar yang Tuhan tetapkan bagi keluarga. Dan bagi jemaat, Tuhan menetapkan Gembala yang adalah seorang suami dari satu istri dan seorang kepala keluarga yang dihormati (I Timotius 3:2-4). Dalam situasi normal prosedur yang telah ditetapkan Tuhan harus menjadi patokan operasi. Penyimpangan hanya diperbolehkan jika dalam situasi abnormal.

Keluarga Ideal Menurut Tuhan
Sebagaimana Tuhan tetapkan ayah sebagai kepala keluarga maka ayah diperintahkan untuk mengasihi istri dan anak-anaknya. Dan istri beserta anak-anak diperintahkan untuk tunduk atau taat kepada ayah. Ini adalah keadaan ideal menurut Tuhan.

Memang tidak tertutup kemungkinan terjadi penyimpangan. Tetapi bagi setiap orang yang telah diselamatkan, dan yang mengasihi kebenaran, patokan dasar prinsip keluarga alkitabiah ini adalah manual utama yang harus diperjuangkan.

Penyimpangan yang bisa dimengerti adalah misalnya sang ayah sakit keras, hilang ingatan, intinya terjadi sesuatu yang menyebabkan sang ayah tidak efektif berfungsi sebagai kepala keluarga.

Demikian juga dengan jemaat, sebagaimana telah dituliskan dengan sangat jelas bahwa laki-lakilah yang memimpin jemaat (I Tim.2:11-13, I Kor.14:34), maka setiap anggota jemaat yang telah lahir baru dan mencintai kebenaran seharusnya mematuhi prinsip dasar yang Tuhan tetapkan.

Penyimpangan bisa diterima jika hanya dalam keadaan abnormal, misalnya tidak ada laki-laki yang sanggup memimpin. Penulis mengajar kepada mahasiswi GITS, jika dalam sebuah pertemuan anda diminta untuk memimpin doa, maka tanyalah kepada hadirin apakah di situ ada laki-laki yang bisa memimpin, kalau ada serahkan kepadanya. Dan jika mereka menjawab tidak ada, pimpinlah mereka berdoa. Dengan berbuat demikian anda tidak bersalah di hadapan Tuhan.

Prinsip Bagi Anak-anak
Agar ketika anak-anak beranjak dewasa mereka berhasil membentuk keluarga ideal sesuai kehendak Tuhan, maka mereka perlu dipersiapkan sejak kecil. Sang ayah selalu mengajar anak-anaknya untuk mengasihi ibu mereka, dan sang ibu selalu mengajar anak-anak untuk taat kepada ayah mereka. Bahkan sang ayah selalu memberi contoh pada anak-anaknya sikap mengasihi ibu mereka demikian juga sang ibu selalu memberi contoh kepada anak-anaknya sikap taat kepada ayah mereka.

Dengan berbuat sesuai ketetapan firman Tuhan maka niscaya akan terwujud keluarga ideal serta menghasilkan anak-anak ideal untuk penciptaan keluarga ideal di generasi berikut. Di dunia tidak ada laki-laki normal yang mendambakan wanita yang lebih kuat darinya, yang kasar, dan yang akan memimpinnya.

Seringkali wanita yang aktif memimpin di gereja atau berbagai persekutuan justru sulit mendapatkan pasangan karena laki-laki normal tidak jatuh hati kepadanya. Sebaliknya laki-laki jatuh hati pada wanita yang duduk kalem dan lemah-lembut. Kalau pun ada laki-laki yang tertarik pada wanita pemimpin biasanya adalah yang mentalnya sejak kecil sudah terbentuk dalam kondisi dipimpin.

Nah, sebagai orang tua yang memiliki putra-putri, kondisi seperti apakah yang orang tua inginkan pada anak-anaknya pada saat mereka beranjak dewasa. Bukankah sangat ideal jika anak putra diproyeksikan untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh sementara anak putri diproyeksikan selemahlembut mungkin untuk menjadi penyejuk rumah tangga?

Posisi Ideal Wanita Muda di Gereja

Jika seorang ayah dan ibu bertekad membesarkan putra-putrinya sesuai dengan ketetapan firman Tuhan, bahwa sang putra diproyeksikan menjadi seorang pemimpin, sedangkan sang putri diproyeksikan menjadi ibu rumah tangga yang ideal, maka tentu gereja harus sejalan dengan prinsip yang dari Tuhan itu.

Jika ternyata gereja tidak menaati Alkitab, malah menunjuk remaja putri untuk menjadi pemimpin atas para remaja putra, jika kondisi ini berjalan lama, sudah pasti akan terjadi pertentangan batiniah. Oleh sebab itu gereja yang alkitabiah tidak boleh melakukan hal-hal yang sifatnya saling bertentangan antara program keluarga dan gereja.

Para wanita mudanya tidak boleh diajar bermain karate, angkat besi, melainkan mereka diajar untuk masak-memasak, mengasihi anak-anak, belajar mengasuh anak-anak sekolah minggu dan lain sebagainya yang sesuai dengan program keluarga yang alkitabiah. Sebaliknya para remaja putranya diajar untuk bermain footsal, main pinbol, dan lain sebagainya yang bersifat kelaki-lakian supaya betul-betul maco.

Dengan program yang jelas bagi remaja putra maupun putri pasti gereja akan menghindarkan para remaja dari jebakan homoseksualitas.

Ada remaja putri atau pemudi yang berpikir bahwa tidak adil jika mereka tidak diberi kesempatan untuk memimpin. Padahal mereka tidak tahu bahwa secara jangka panjang hal itu tidak menguntungkan mereka melainkan merugikan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa sebagai remaja putri atau pemudi mereka perlu membangun karakter kewanitaan, bahwa mereka perlu mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang lembut bagi anak-anak mereka.

Semakin hari kini semakin sulit mendapatkan ibu yang betul-betul ibu, melainkan semakin banyak ibu yang setengah bapak. Padahal anak-anak memerlukan ibu yang lembut setelah mereka menghadapi dunia yang keras yang penuh persaingan. Tuhan tidak pernah salah rancang, yang terjadi ialah bahwa manusia tidak berusaha mengerti kehendak Tuhan, dan maksud Tuhan dalam menetapkan sesuatu. Tuhan sama sekali tidak membedakan kasih ketika Ia tidak mengijinkan wanita menjadi pemimpin. Tuhan memerintahkan laki-laki untuk mengasihi wanita. Bayangkan betapa Tuhan mengasihi wanita jika Ia memerintahkan laki-laki untuk mengasihi wanita.

Tuhan ingin wanita menjadi penyejuk baik di rumah maupun di gereja. Kehadiran wanita diharapkan akan menyemarakkan gereja dengan kebaikan dan kelembutan. Anak-anak maupun remaja di gereja memiliki teladan ketaatan, dan tentu mereka juga mendapatkan pembimbing yang cakap. Bayangkan betapa kacau program Allah jika gereja yang seharusnya menjadi ujung tombak untuk mengawal prinsip-prinsip utama kehidupan rumah tangga, dan peran wanita-pria, justru menjadi tidak konsisten.

Gereja yang seharusnya menjadi penjaga gawang terhadap program iblis untuk merusak rumah tangga, malah ikut-ikutan merusak generasi muda.

Pembaca yang budiman, camkanlah. Apa yang anda inginkan bagi putra-putri pada saat mereka dewasa? Sesuai dengan program Allah? Kiranya Tuhan menolong kita.***

Tidak ada komentar: