Senin, 17 Oktober 2011

PEREMPUAN BOLEH KHOTBAH DI GRAPHE

Banyak orang telah salah memahami GRAPHE. Mereka tanpa mendengar langsung pengajaran kebenaran yang dikumandangkan oleh GBIA GRAPHE, sering menuduh GRAPHE tidak mengijinkan wanita untuk melayani Tuhan. Sangat mungkin sebagian orang sengaja membesar-besarkan masalah bahkan sengaja memfitnah GRAPHE untuk membohongi anggota jemaat mereka. Semua ini dilakukan mereka karena sikap ketakutan terhadap reaksi anggota jemaat mereka terhadap kebenaran. Mereka takut anggota jemaat mereka mengejar kebenaran dan berpindah ke gereja yang mereka anggap lebih benar.

MEMIMPIN DEMI KEBENARAN ATAU UANG?
Penulis dapatkan memang banyak pemimpin gereja pada dasarnya bukan memimpin anggota jemaat mereka kepada kebenaran, melainkan hanya mau mengeruk uang mereka saja. Penulis sering berkata kepada anggota jemaat Graphe dari mimbar bahwa jika mereka menemukan gereja yang lebih benar dari GRAPHE, silakan mereka pindah ke gereja tersebut.

Jika seseorang menyebut dirinya pelayan Tuhan, menggembalakan jemaat, tetapi tidak memimpin jemaatnya kepada kebenaran, bahkan menghalang-halangi mereka untuk mengakses kebenaran, lalu apakah tujuan dia dalam pekerjaan penggembalaan itu? Bukankah dapat dituduhkan kepadanya bahwa sesungguhnya ia hanya menjadikan anggota jemaatnya semacam sapi perah?

Penulis juga dapatkan banyak “Gembala” yang tidak memimpin jemaat, tidak mengajar jemaat dengan doktrin, tidak mendisiplinkan jemaat yang jatuh ke dalam dosa, melainkan hanya berkhotbah secara devotional bahkan penuh lawak. Hasilnya tidak ada anggota jemaatnya yang dilahirkan kembali, melainkan penuh dengan “penonton acara lawak”.

Jika seorang Pengkhotbah di gereja tidak mengkhotbahkan doktrin, melainkan hanya khotbah-khotbah devotional, lalu apa beda khotbahnya dengan yang dikumandangkan oleh Biksu di Vihara dan Ustad di Mesjid? Kadang mereka bahkan mengajarkan masalah kehidupan lebih baik daripada para pengkhotbah di gereja. Kalau gereja tidak mengajarkan doktrin yang alkitabiah, melainkan hanya berkhotbah secara devotional tentang kehidupan sehari-hari, maka pengkhotbah di gereja sudah sama dengan orang yang mengajarkan tentang kehidupan di TV.

MENGAJARKAN DOKTRIN ALKITAB
Gereja harus mengajarkan doktrin Alkitab, karena doktrin Alkitab adalah kebenaran dan Tuhan sendiri adalah kebenaran. Tanpa doktrin Alkitab tentang keselamatan tidak ada seorang pun akan masuk Sorga. Boleh saja kita mengirim bantuan kepada para korban banjir, korban gempa dan lain sebagainya, tetapi dengan mie instant, beras, pakaian dan lain-lain, tidak bisa membawa seorang pun dari korban bencana tersebut masuk Sorga. Tanpa doktrin tentang keselamatan yang alkitabiah tidak ada seorang pun akan masuk Sorga.

Seorang pemimpin gereja tidak boleh menghindari perdebatan, apakah masuk Sorga itu karena dipilih di dalam kekekalan oleh sebuah dekrit Allah atau melalui percaya kepada Injil. Ada orang yang, mungkin saking bingung, malah ia tidak mau berpikir, lalu berkata bahwa gerejanya tidak mengajarkan doktrin. Hasilnya tentu yang diajarkan bukan Calvinisme dan bukan Arminianisme dan juga bukan Fundamentalisme, melainkan doktrin Kacau Balau, yang dihasilkan oleh otaknya yang sedang kebingungan.

Tidak ada gereja yang menyenangkan hati Tuhan tanpa mempelajari doktrin Ecclesiology dan dengan hati yang penuh cinta kepada Tuhan menerapkan doktrin Ecclesiology alkitabiah pada gerejanya. Tanpa Ecclesiology yang alkitabiah, para pemimpin gereja tidak akan menyadari kalau sesungguhnya kumpulan mereka itu bukan gereja melainkan sekedar kumpulan orang yang melakukan suatu penyembahan.
Banyak hal dalam gereja telah menyimpang. Namun tidak mungkin akan mereka sadari jika mereka tidak pernah mendengar pengajaran doktrin Ecclesiology yang alkitabiah. Jemaat biasa lebih tidak menyadari karena mereka dikondisikan untuk tidak kritis melainkan ikut saja.

JADILAH ORANG KRISTEN YANG KRITIS
Tidak ada satu orang pun yang rela masuk Neraka karena keputusan orang lain. Namun banyak orang tidak mau berpikir sendiri melainkan membiarkan orang lain yang berpikir untuknya dalam masalah iman. Padahal kesalahan keputusan beli mobil tidak sefatal kesalahan keputusan dalam hal iman. Renungkan, apakah agama yang anda yakini sungguh-sungguh bersumber dari Allah, atau sebaliknya itu adalah kamuflase dari musuh Allah. Dan, renungkan juga apakah pengajaran gereja anda sudah sesuai dengan Alkitab atau telah menyimpang mengikuti filosofi manusia.

Jika anda sulit untuk memutuskan, masuk Sorga dipilih atau melalui percaya kepada Kristus, silakan menghubungi GRAPHE atau mengunjungi Website GRAPHE. Demikian juga jika anda kewalahan menghadapi penjual saksi “Jehovah”, ajaklah yang bersangkutan datang ke GRAPHE. Kami telah berkali-kali menantang kelompok Saksi “Jehovah” untuk melakukan debat terbuka, namun mereka tidak memberi jawaban melainkan gencar menyerang dengan sms saja.

Belakangan ini ada kelompok yang melarang pemakaian kata “Allah” dan mempromosikan istilah “Yahweh”. Jika anda bingung apakah mereka salah atau benar, silakan menghubungi GRAPHE atau mengunjungi Website GRAPHE. Dan jika anda tahu ada orang yang sedang kebingungan mengenai suatu pengajaran, dapatkan jawabannya di Website GRAPHE atau hubungi GRAPHE.

GRAPHE memiliki stok serum penawar “bisa” berbagai ajaran sesat. GRAPHE menyadari di saat kedatangan Tuhan yang semakin mendekat, maka berbagai ajaran sesat akan bermunculan. Setiap orang harus mengantisipasi diri supaya tidak terhanyut oleh penyesatan yang intensitasnya semakin meninggi.
Mungkinkah ajaran yang sedang kita yakini adalah sesat atau tidak sesuai dengan Alkitab? Mungkin saja. Jangan ada orang yang terlalu lugu, yang berpikir bahwa, “ah saya tetap pada ajaran yang diturunkan oleh nenek moyang saya, maka saya pasti aman.” Apakah pengajaran GBIA GRAPHE benar alkitabiah? Perlu diperiksa! Pengajaran dari semua pihak perlu diperiksa supaya kita betul-betul berada di dalam kebenaran.

BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN KEBENARAN?
Tuhan memberikan kita dua alat, yaitu Alkitab, firmanNya yang bersifat tertulis dan akal-budi, yaitu kemampuan berpikir yang Ia tanamkan di kepala kita. Tanpa Alkitab kita tidak mungkin mengetahui kebenaran karena kita akan sembarangan berpikir seperti para filsuf yang banyak berkhayal. Dan tanpa kemampuan berpikir yang Operational Formal juga tidak bisa sampai mengerti kebenaran. Kalau kita melempar Alkitab ke blacky tentu bukan dibacanya melainkan digonggongnya.
Jadi, mutlak diperlukan dua alat untuk mencapai kebenaran, yaitu otak yang mampu berpikir operational formal dan firman Allah yang tertulis, yaitu Alkitab. Dan kedua alat tersebut kini ada pada kita. Berarti dengan adanya keinginan untuk mengetahui kebenaran, seseorang yang waras sudah bisa mendapatkan kebenaran.
Dengan akal-sehat membandingkan satu kesimpulan demi kesimpulan, sangat mungkin seseorang akan sampai pada kebenaran.

CONTOH SALAH SATU KESIMPULAN
Ada gereja yang sama sekali tidak mengijinkan wanita berkhotbah, tetapi ada gereja yang bahkan mengijinkan wanita menggembalakan jemaat. Sementara itu ada gereja yang mengambil jalan tengah, yaitu mengijinkan wanita untuk memimpin jemaat tanpa menahbiskannya.
Seseorang yang ingin mendapatkan kebenaran seharusnya bertanya, sesungguhnya kesimpulan yang manakah yang paling benar? Yang paling benar tentulah yang paling berkenan kepada Tuhan. Dan yang paling benar adalah yang sesuai akal sehat dan yang berdasarkan ayat-ayat Alkitab.

Di PL kita membaca tentang Debora yang menjabat nabiah, demikian juga dengan putri-putri Filipus di PB (Hak.4:4 dan Kis.21:9). Sementara itu kita juga membaca I Tim. 2:11-13, bahwa wanita tidak diijinkan mengajar dan memerintah laki-laki. Dan juga dalam kehidupan suami-istri ditetapkan aturan suami mengasihi istri dan istri tunduk kepada suami (Ef.5:22, 25).
Dan kita juga dapatkan bahwa jabatan jemaat Perjanjian Baru antara lain, Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, Guru, dan Diaken (Ef.4:11, Kis.6:1-6). Sedangkan Penilik dan Penatua adalah sebutan lain
untuk Gembala (Kis.20:17,28, Tit.1:5-7).

Dari ayat-ayat tersebut di atas tentu harus ditarik kesimpulan yang logis. Kesimpulan yang logis harus berlandaskan satu aturan mutlak yaitu bahwa ayat-ayat Alkitab tidak saling bertentangan, dan pengajaran Rasul untuk jemaat Perjanjian Baru bersifat progresif dan berlaku sampai Yesus Kristus menjemput jemaatNya.
GBIA Graphe menyimpulkan bahwa di antara jabatan-jabatan jemaat yang disebutkan Alkitab ada jabatan yang memiliki otoritas memerintah dan ada yang tidak. Bahkan ada jabatan yang bersifat peletak dasar atau pemancang tiang fondasi. Jabatan itu adalah jabatan Rasul dan Nabi (Ef.2;19-20), dengan Kristus sebagai batu penjuru. Sesudah fondasi selesai diletakkan, dan setelah wahyu terakhir diturunkan yaitu sampai Wahyu 22:21, maka jabatan pemancang tiang fondasi ikut berakhir.

Sedangkan jabatan yang bersifat authoritative yaitu yang berwenang menasehati, menegur bahkan menghukum adalah jabatan Rasul, Gembala dan Guru. Dua jabatan yaitu Nabi dan Penginjil adalah jabatan yang bersifat pewartaan, tanpa otoritas penertiban. Artinya, ada berita dari Allah untuk disampaikan, maka yang bertelinga mendengar hendaklah mendengar. Persoalan mau mentaati berita yang didengar atau tidak, itu terserah kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya di PLTuhan mengangkat Nabiah, salah satunya adalah Debora dan di PB putri-putri Filipus juga diangkat sebagai Nabiah. Hal ini tidak bertentangan dengan Efesus 5:22 bahwa istri harus tunduk kepada suami. Jabatan Nabi dan Penginjil adalah jabatan pewartaan, semacam jurubicara. Supaya tidak bentrok antara menaati tugas jabatan dengan tunduk kepada suami, maka wanita yang ingin menjabat harus mempersembahkan keperawanannya kepada Tuhan seperti putri Jefta (Hak.11:30-40).

Jadi, apakah wanita boleh berkhotbah? Jawabannya, tentu boleh! Wanita boleh berkhotbah kepada kaum wanita. Dan wanita juga boleh berkhotbah kepada anak-anak, bahkan anak laki yang belum dewasa. Anak laki yang belum dewasa boleh dianggap anak oleh pengkhotbah wanita.

Karena Firman Tuhan tidak pernah bertentangan, dan kita tidak boleh menafsirkan ayat-ayat Alkitab secara bertentangan, maka kita harus menyimpulkan bahwa wanita tidak boleh mengkhotbahi suaminya di depan umum, dan tentu tidak boleh mengkhotbahi suami-suami wanita lain di depan umum. Untuk itu kesimpulan yang benar sehubungan dengan topik ini ialah wanita boleh berkhotbah untuk wanita, dan anak-anak, tetapi tidak boleh berkhotbah untuk laki-laki dewasa, apalagi menggembalakan sebuah jemaat yang mustahil tidak ada laki-laki dewasa di dalamnya.

Selain berkhotbah masih ada banyak pelayanan yang dapat dilakukan seorang wanita. Prinsip yang harus dipegang oleh seorang wanita alkitabiah ialah menyenangkan hati Tuhan, bukan memuaskan keinginan kedagingan. Hawa pernah dirangsang dengan keinginan yang tidak wajar. Bukan apa yang bisa kita lakukan melainkan apa yang Tuhan ingin kita lakukan.***

Tidak ada komentar: