Senin, 14 November 2011

ANDA ORANG BENAR, ATAU ORANG FASIK?

Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam. (Amsal 12:10)
Orang benar Perjanjian Lama adalah orang yang percaya pada janji Allah bahwa Ia akan mengutus Juruselamat untuk dihukumkan menggantikan mereka. Mereka tentu juga pernah melalukan dosa, namun mereka percaya bahwa Sang Juruselamat AKAN DATANG menggantikan mereka dihukumkan. Sedangkan orang benar Perjanjian Baru adalah orang yang percaya bahwa Kristus telah menggantikannya dihukumkan. Ia telah menerima bahwa Kristus dihukumkan menggantikannya, dan setuju bahwa ia hidup bagi Kristus.
Baik orang benar PL maupun PB sama-sama dibenarkan karena Sang Juruselamat. Nuh dikatakan adalah orang benar (Kej. 6:9). Nuh benar bukan karena ia tidak pernah berbuat dosa, melainkan karena ia satu-satunya orang yang masih percaya pada janji Tuhan bahwa Ia akan mengirim Juruselamat. Setelah hampir setahun Nuh terapung-apung dan mendarat, hal pertama yang Nuh lakukan ialah membangun sebuah mezbah dan mempersembahkan binatang sebagai korban bakaran.
Orang benar yang dimaksudkan Salomo tentu adalah orang yang ingat akan janji Tuhan di zaman PL, dan kalau di zaman PB adalah orang yang di dalam hatinya ada Roh Kudus. Ia masih bisa jatuh ke dalam dosa? Ya, tetapi ia adalah orang yang selalu ingat akan Sang Juruselamat. Orang PL ingat bahwa Sang Juruselamat AKAN DATANG untuk dihukumkan bagi mereka, sedangkan orang PB ingat bahwa Sang Juruselamat SUDAH DATANG menggantikan mereka dihukumkan. Orang benar itu menjadi baik bukan dari luar ke dalam melainkan dari dalam ke luar. Kebaikan orang benar itu disebabkan karena hatinya telah berubah, ia selalu ingat akan Tuhan. Dari hatinya mengalir ke luar kebaikan, yang bukan hanya bisa dinikmati oleh manusia di sekitarnya, bahkan juga hewan piaraannya.
Orang benar tidak akan membiarkan binatang piaraannya (pet) kelaparan, atau tidak terurus. Contoh praktisnya, membiarkan anjingnya terikat di tengah hujan dan selalu lupa memberinya makan. Masalahnya bukan pada binatang itu, tetapi hati orang benar itu. Membunuh binatang memang tidak berdosa, namun membiarkan binatang piaraan kesakitan mengerang-ngerang dengan tidak merasa kasihan, itu bukan hati orang benar. Jadi, masalahnya bukan pada binatang piaraan, melainkan pada hati orang benar itu. Berbahagialah orang bahkan binatang yang bekerja atau dipelihara orang benar.
Sedangkan orang fasik? Belas kasihannya saja kejam. Artinya, kalau orang fasik (tidak percaya Tuhan) berbelas kasihan kepadamu, kamu jangan senang dulu, karena bisa jadi itu adalah umpan. Ia tidak akan pernah membiarkan anda menikmati kebaikannya. Ia tidak akan memberi, dan biasanya sudah menikmati kebaikan orang pun ia tidak akan berterima kasih. Iris Chang dalam bukunya The Rape of Nanking, mengatakan bahwa tentara Jepang begitu kejam karena mereka tidak percaya adanya Tuhan. Karena mereka tidak mempedulikan Tuhan, apakah mereka akan merasa ngeri untuk menyiksa orang? Kalau kebaikannya saja kejam, apalagi kekejamannya.***

Tidak ada komentar: