Selasa, 31 Januari 2012

KREASI VS EVOLUSI



Pernahkah  seseorang,  mungkin  seorang  anak,  bertanya  kepada  Anda tentang  asal  usul  dunia ini? Dari manakah asalnya manusia? Dari manakah asalnya  matahari,  bulan,  dan  bintang? Berapakah  usia  Bumi  dan  alam  semesta kita?  Barangkali  Anda  mencoba  untuk mengingat-ingat buku pelajaran di SMP dan SMA,  atau  mencoba  menggooglenya,  dan mendapatkan bahwa mayoritas besar jawaban mengandung  satu kata kunci: evolusi.

Terutama  di  kalangan  pelajar  dan perguruan tinggi, teori evolusi telah menjadi jawaban standar mengenai asal usul dunia. Dunia  sekuler,  dan  mayoritas  komunitas ilmiah,  tampaknya  sepakat bahwa  segala sesuatu di alam semesta ini telah berevolusi selama belasan milyar tahun, bahwa semua materi  semesta  dulu  termampatkan  dalam satu  titik  yang  kemudian  meledak,  dan akhirnya menjadi alam semesta yang indah ini.  Teori  evolusi  berusaha  menjelaskan bahwa (maaf!) kakek buyut dari kakek dari kakek dari…dst. kita tidak berbeda jauh dari pemeran  utama  topeng monyet  di  jalanan. Dan itu dijelaskan seolah-olah  itu adalah proses yang ilmiah dan pasti. 

Dan sedemikian diagungkannya  teori evolusi,  hingga  siapapun  yang  meragukannya  dapat dianggap  kampungan dan kurang  berwawasan,  dan  kalau  kasarnya dibilang bodoh. Walaupun Alkitab mengatakan bahwa  Allah-lah  yang  menciptakan Langit  dan  Bumi  dalam  6  hari,  bahwa manusia  dibentuk-Nya  dari  debu  tanah, namun itu semua menjadi takhayul yang tak berarti  di hadapan  ”bukti-bukti evolusi.” Yang  manakah  yang  benar?  Jelas  tidak mungkin  kedua-duanya benar,  dan taruhannya bisa cukup  tinggi,  sebab  di lingkungan  akademis  di  negara-negara Barat, mempercayai kesaksian Alkitab bisa menghambat karir.

Tetapi  di  sisi  lain, mempercayai  teori evolusi  memiliki  konsekuensi  yang  jauh lebih  berat  lagi. Jika  teori  evolusi  benar, bahwa  manusia  berasal  dari  kera,  bahwa Bumi, Matahari, dan seluruh alam semesta ini berasal dari Big Bang, apakah artinya? Artinya ketika Musa menulis kitab Kejadian pasal  1  dan  2,  ia  sedang mengingat-ingat kisah yang diceritakan  kakeknya,  yang mendengar ceritanya  dari  kakeknya  lagi, dan seterusnya, yang berarti bahwa Alkitab hanyalah  kumpulan dongeng  pengantar tidur.  Atau,  Musa  hanya  berkhayal saja, mungkin  sambil  dimabuk  anggur, dan mengarang kisah Penciptaan dari imajinasinya sendiri, yang berarti Alkitab adalah kitab yang penuh kebohongan.

Apakah  Anda  melihatnya? Jika Kejadian pasal 1 tidak  dapat  dipercayai, apakah kita dapat mempercayai pasal 2, atau pasal 3, atau bahkan seluruh kitab Kejadian? Jika  kitab  Kejadian adalah  bohong,  siapa yang dapat yakin bahwa Keluaran, Imamat, Bilangan,  dan  Ulangan  adalah Firman Tuhan yang benar? Dan jika Musa tidak bisa dipercayai, bisakah Daud? Bisakah Samuel? Jika  Perjanjian  Lama  adalah  kumpulan dongeng,  maka  Yesus  sendiri,  yang mengutip berkali-kali dari Perjanjian Lama, adalah  seorang  penipu  yang  lihai.  Iblis secara  tersembunyi  sedang mengajarkan anak-anak,  pelajar,  mahasiswa,  bahkan profesor  dan  ilmuwan,  bahwa  Alkitab adalah kitab yang  tidak dapat dipercaya. Jika kisah Penciptaan hanyalah dongeng  isapan jempol, berarti  cerita  tentang  kejatuhan manusia ke dalam dosa  juga adalah mitos. Maka seluruh doktrin Alkitab tentang dosa, hukuman, dan  Juruselamat adalah bohong!

Oleh  sebab itu, pertanyaan tentang evolusi  dan  asal  usul  dunia  bukan  lagi sekedar pertanyaan akademis.  Ini menyangkut keselamatan  jiwa,  hidup  dan mati,  surga  dan  neraka!  Jika  Alkitab hanyalah  kitab  bualan,  dan manusia memang  berasal  dari  kera,  maka  sangat mungkin  sama sekali  tidak  ada  surga maupun neraka. Tetapi jika Alkitab benar, maka  orang-orang  yang percaya evolusi, yang menyangkal Allah Pencipta  langit dan bumi,  akan masuk  ke  neraka.  Itu  adalah harga  yang sangat  mahal  yang  harus dibayar.  Itulah  sebabnya  Pembaca  perlu menanggap masalah  ini dengan  serius.

Mungkin  ada  Pembaca  yang  protes, jika  semua  ilmuwan  dan  data  ilmiah mendukung evolusi, bagaimana kita dapat mempertahankan Alkitab? Tentu  para pendukung evolusionis senang membanggakan  luasnya  pengakuan  akan  teori evolusi.  Namun  tidak  semua  ilmuwan percaya teori  evolusi.  Banyak  ilmuwan terkemuka  dengan  gelar  tertinggi  di bidangnya dan kontribusi penting terhadap ilmu pengetahuan yang percaya pada kata-kata Alkitab. Banyak kelompok ilmuwan Kristen  yang  meneliti  bidangnya  dan mempublikasikannya  kepada  publik,  di antaranya Christian Research Society dan Answers  in  Genesis.  Lagipula,  kalaupun jumlah ilmuwan yang percaya teori evolusi lebih banyak, itu tidak membuktikan apa-apa. Suatu teori tidak terbukti benar hanya karena  banyak  orang  yang mempercayainya,  atau  karena  para  ilmuwan mengatakannya. Misalnya, jika mayoritas rakyat Indonesia percaya bahwa mantan Presiden Soeharto adalah Presiden terbaik RI, atau partai-partai  besar memproklamirkannya, apakah  itu  menjadi kebenaran? Dalam negara demokrasi, apakah dari antara calon presiden selalu terpilih calon yang terbaik, karena mayoritas  telah memilihnya?

Lalu  bagaimana  dengan  data  ilmiah? Bukankah teori evolusi  telah  dibuktikan oleh  ilmu pengetahuan?  Apakah  Alkitab buku  yang  ilmiah?  Karena kesaksian Alkitab didasarkan pada satu-satunya saksi mata  pada  saat  Penciptaan,  yaitu  Allah sendiri, maka tidak ada cara memvalidasinya.  Jika  demikian,  kesaksian  Alkitab hanya dapat diimani (jangan banyak tanya, pokoknya  begitu!).  Apakah  itu  berarti Alkitab tidak ilmiah dan hanya orang yang tak berpendidikan yang mempercayainya? Tentu  tidak!

Para  evolusionis  senang  sekali membanggakan bahwa teori evolusi adalah hasil  penelitian  yang mutakhir  dan didukung oleh banyak bukti ilmiah. Tetapi perlu  diketahui  oleh  Pembaca,  bahwa  ini adalah  trik.  Suatu  teori  dapat  diterima sebagai  teori  ilmiah  jika  sesuai  dengan kaidah metode ilmiah, yaitu suatu metode yang  terdiri  dari  observasi  sistematis, pengukuran, eksperimentasi, pemformulasian, pengujian, dan modifikasi hipotesa. Disusun dengan kata-kata lain, ilmu pengetahuan  yang  baik  haruslah  dapat diobservasi, diulangi, dan diuji.

Contohnya, hingga abad ke-17 masih beredar  teori  generasi  spontan,  yaitu bahwa  makhluk hidup dapat  timbul sendirinya dari benda mati. Setiap kali ada tumpukan sampah, selalu  ada  tikus  dan lalat  juga. Atau  jika  daging  dibiarkan  di tempat  terbuka  selama  jangka waktu tertentu akan timbul belatung. Maka orang menyimpulkan bahwa sampah dapat menghasilkan tikus  dan  lalat, dan  daging bisa menghasilkan belatung. Lalu Francisco Redi merancang suatu eksperimen, dua potong daging dimasukkan ke dalam dua toples. Salah satunya ditutup dengan kasa dan  yang lainnya  dibiarkan  terbuka. Ternyata  setelah  beberapa waktu,  daging yang  di toples  terbuka  ada belatungnya sedangkan daging yang tertutup kasa tidak ada  belatung.  Ini membuktikan  bahwa belatung  tidak  berasal  dari  daging. Kemudian  Louis  Pasteur  mendesain eksperimennya  sendiri. Ia  mempunyai hipotesa  bahwa makhluk  hidup  hanya dapat berasal dari makhluk hidup lain, kini dikenal dengan sebutan hukum biogenesis. Karena  tahu  bahwa  di  udara  ada  banyak mikroorganisme  (ditemukan  oleh  Antoni van Leeuwenhoek), ia merebus kaldu dan menaruhnya di dalam dua buah labu. Labu yang  pertama dibiarkan  terbuka,  sedangkan  labu  yang  kedua memiliki  tutup berleher  angsa. Sesudah beberapa hari, labu pertama sudah keruh, menunjukkan pertumbuhan  mikroorganisme  di dalamnya. Namun labu dengan leher angsa tidak keruh. Ini karena mikroorganisme yang ada pada debu  di  udara  tidak  dapat  naik melawan  gravitasi melewati  leher  angsa tersebut,  dan  tidak mengkontaminasi kaldu. Oleh  karena  itu  ia menyimpulkan bahwa kehidupan hanya dapat berasal dari makhluk hidup  (omne vivum ex vivo).

Itu  adalah  contoh  dari  science  yang baik. Fenomenanya dapat diobservasi dan diulangi.  Dapat dilakukan  eksperimen untuk menguji hipotesanya, dan hasil dari eksperimen tersebut dapat diulang dengan hasil  yang  sama.  Nah,  bagaimana  jika metode ilmiah ini diterapkan pada evolusi? Teori evolusi  mengusulkan  bahwa  alam semesta bermula dari Big Bang. Pernahkah ada  yang mengobservasi  kejadian  ini? Adakah  eksperimen  yang  dapat  merekayasa ulang Big Bang, bahkan dalam skala kecil  sekalipun?  Atau  pernahkah  suatu ledakan  apapun  menghasilkan  apa-apa selain kehancuran, kerusakan, dan ketidakteraturan? Kata mereka, Big Bang adalah suatu ledakan  dari  suatu  titik mahapadat, bagaimana  terbentuknya  –  tidak  tahu,  di mana — tidak tahu, kapan —  tidak tahu, apa yang menyebabkan  ledakan  –  tidak  tahu, bagaimana  ia menghasilkan alam semesta ini – belum  jelas. Itu kedengarannya seperti suatu  teori yang  ilmiah, bukan? Dan  ingat bahwa  teori evolusi berusaha menjelaskan  bagaimana  pada  awal  mula kehidupan, dalam suatu “sup primordial,” beberapa  molekul  kimia  yang  sangat kompleks  tiba-tiba memutuskan  untuk bergabung  membentuk  makhluk  hidup pertama,  tanpa  adanya  seorang Pencipta. Ini  adalah,  pada  intinya,  kepercayaan bahwa  kehidupan  yang  paling  pertama berasal dari  benda  non-hidup,  alias generasi   spontan.  Pembaca  dapat  melakukan penelitian mandiri di internet, dan akan mendapatkan bahwa biogenesis, sering  disebut  Hukum  Biogenesis, merupakan salah satu prinsip dasar ilmiah yang  paling  terbukti. Sepanjang  sejarah pengamatan manusia, prinsip  ini  terbukti benar,  dan  teori  generasi  spontan  diakui anti ilmiah.  Jadi,  Pembaca  dapat membayangkan, betapa teori evolusi, yang dapat melawan  (atau membatalkan)  salah satu  hukum dasar  ilmu  pengetahuan. Ilmiahkah?

Lalu  bagaimana  dengan  evolusi  kera menjadi manusia? Teorinya adalah melalui mutasi dan seleksi alam yang berlangsung selama jutaan tahun, seekor kera perlahan-lahan  berubah menjadi manusia. Apakah ini  ilmiah?  Mari  kita  uji.  Pernahkah diobservasi seekor kera bermutasi menjadi sesuatu yang lain? Tidak. Atau hewan lain? Mungkin dalam  film Hollywood,  seperti X-Men atau Kura-Kura Ninja. Pernah dibuat eksperimen  menggunakan  lalat  (karena siklus  hidupnya pendek, sehingga eksperimennya  dapat  mencakup  ratusan, bahkan  ribuan  generasi  lalat) yang ditembaki radiasi agar mengalami mutasi. Hasilnya  adalah  lalat  sayap  pendek,  lalat sayap berkerut,  lalat  tanpa  mata,  lalat dengan kaki di kepala,  lalat mata kuning, lalat mata putih, lalat hitam pekat, dan lalat kuning. Satu kata kunci untuk semua hasil tersebut adalah, mereka semua masih lalat! Dan lalat yang cacat, pula. Dan dari semua lalat  yang mengalami mutasi itu, mereka langsung mati atau  tidak  dapat  kawin, sehingga  tidak  dapat meneruskan mutasinya kepada generasi selanjutnya. Hingga kini, belum ada usaha yang berhasi menghasilkan lalat super, lalat pintar, lalat setengah-kumbang,  atau  apapun  juga selain  lalat biasa. Sepanjang pengetahuan manusia, lalat ribuan tahun yang lalu masih sama  dengan  lalat  zaman  modern. Jadi dimana,  pada  sistem apa, dengan mekanisme apa, evolusi dapat diobservasi? Eksperimen apa yang  telah membuktikan hipotesa  evolusi?  Lynn  Margulis,  dalam suatu  simposium, pernah menantang para ilmuwan  mikrobiologi  yang  hadir  untuk memberikan  satu  bukti  jelas  bahwa serangkaian mutasi kecil dapat menghasilkan  suatu  spesies  baru.  Tidak  ada  yang berani menjawabnya,  sekalipun Lynn Margulis  bukan  orang  yang  percaya Alkitab.

Oleh sebab  itu,  teori evolusi  tidak  lebih ilmiah  daripada  kesaksian  Alkitab.  Dan bahkan sebenarnya jauh lebih banyak data dan  fakta  ilmiah  yang  mendukung kesaksian Alkitab daripada evolusi. Hal itu akan  sedikit  disinggung  di  bawah  ini. Memang Alkitab menuntut iman. Itu tidak disangkal. Namun jika melihat banyaknya kesulitan-kesulitan  yang  tidak  dapat dijawab oleh teori evolusi, maka mempercayai  teori  evolusi juga menuntut  iman yang  tidak  kecil.  Bahkan dapat diperdebatkan bahwa untuk percaya  teori evolusi dibutuhkan iman yang lebih besar daripada percaya  bahwa Allah-lah  yang menciptakan langit dan bumi.

Lalu  bagaimana  dengan  banyaknya ”bukti”  evolusi?  Bukankah  fosil-fosil ”membuktikan”  evolusi? Memang  benar ilmu pengetahuan zaman modern telah banyak  berkontribusi  bagi pengetahuan kita tentang  zaman  purba.  Kita  dapat mengobservasi  fosil-fosil,  formasi  geologis, peredaran  planet dan  komet.  Kita dapat  mengamati  kode  genetik  yang tersimpan dalam sel dan kita tahu tentang mutasi.  Pertanyaannya  adalah,  apakah semua  itu membuktikan evolusi?

Data-data  dan  fakta-fakta  yang  dapat diobservasi di lapangan disebut bukti/data empiris.  Tetapi data,  tidak  dengan sendirinya  membuktikan  teori  apa-apa. Data  tersebut harus ditafsirkan. Contohnya, fosil, yang sering dicatut oleh evolusionis untuk  ”membuktikan” evolusi biologis. Adanya fosil suatu makhluk hidup dengan sendirinya  hanya  membuktikan  bahwa dulu pernah  hidup makhluk  hidup  itu.  Ia tidak  membuktikan  usianya  sekian  juta tahun,  itu  adalah tafsiran.  Ia tidak membuktikan  bahwa makhluk  itu  pernah mengalami mutasi dari bentuk kehidupan yang lebih sederhana,  itu  adalah  tafsiran. Data  harus  ditafsirkan  agar  dapat membentuk suatu hipotesa. Kemudian hipotesa diuji, dan apabila ada data  lain yang bertentangan dengan  hipotesa itu, dibuatlah  hipotesa  baru.  Itu adalah metode  ilmiah.

Tetapi menafsirkan arti dari suatu  fosil haruslah bergantung pada data-data lain dan beberapa asumsi. Di sinilah si  fosil, yang sebenarnya  tidak  membuktikan evolusi,  dapat “dipelintir”  agar seolah-olah  membuktikannya. Para  evolusionis  menunjuk kepada beberapa  fosil yang  jika mereka  susun,  seolah  menunjukkan  perubahan  dari  satu bentuk  ke  bentuk lainnya. Gambar  di  samping  adalah diagram  evolusi  kuda. Diagram tersebut dengan rapi disusun untuk memberi kesan bahwa kuda modern  (Equus)  berasal  dari  Pliohippus, yang  berasal  dari Merychippus, yang berevolusi dari Mesochippus, dan ujung-ujungnya berasal dari Hyracotherium sekitar 50 juta tahun yang lalu. Tetapi kita perlu bertanya, dari mana datangnya kesimpulan itu? Jika hari ini dibentangkan di depan kita  lima buah fosil  ini, bagaimana sampai pada kesimpulan bahwa kelimanya merupakan  suatu “garis keturunan?”

Data pertama yang dibutuhkan adalah usia  fosil-fosil  tersebut.  Para  evolusionis mengasumsikan usianya  beberapa  juta hingga  puluhan  juta  tahun,  suatu  asumsi yang  keliru  tentunya.  Lalu bagaimana mereka  menetapkan  usia  masing-masing fosil? Paling sering, mereka merujuk pada tabel  geologis,  yang  mendiagramkan lapisan-lapisan  tanah.  Masing-masing lapisan  tanah diberi “tanggal,”  misalnya zaman Cambrian, pre-Cambrian, Jurassic, dll.  Lalu  bagaimana  lapisan-lapisan itu ditentukan zamannya? Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan di lapisan tersebut. Misalnya lapisan tertentu mengandung banyak  fosil Trilobit, karena Trilobit adalah makhluk zaman Cambrian  (500-600  juta tahun yang lalu), maka lapisan itu pastilah lapisan Cambrian. Jadi,Mesohippus ditemukan di lapisan Eocene, yang berusia 40-30  juta tahun. Lapisan Eocene berusia 40-30  juta  tahun  karena  ditemukan  fosil Mesohippus di dalamnya. Ini adalah nalar yang berputar-putar! Kesimpulannya, usia fosil tersebut adalah murni asumsi, yang didasarkan pada asumsi  lain, yaitu bahwa evolusi benar-benar  terjadi. Mereka harus menetapkan usia yang fantastis karena jika ternyata  Hyracotherium  ternyata  hidup sama-sama dengan Equus dan Pliohippus dan yang lain, maka runtuhlah teori evolusi kuda.

Sebenarnya, fakta-fakta fosil “kuda” di lapangan  justru  membantah  evolusi. Karena Hyracotheriumadalah yang paling tua, seharusnya kita menemukannya pada lapisan tanah yang paling dalam. Faktanya, fosil  dari  ”proto-kuda”  yang  paling  tua pernah  ditemukan  dekat  dengan  permukaan tanah! Pernah  juga ditemukan  fosil-fosil  dari  berbagai  spesies  pra-kuda, terkubur  dalam kuburan yang  sama!  Itu  artinya semua  hewan  tersebut  hidup  pada satu  zaman  yang sama.  Lagi pula, belum  pernah  ditemukan  satu  set fosil yang lengkap di   satu  benua manapun. Sebaliknya, fosil-fosil nenek moyang kuda itu dikumpulkan dari berbagai benua dan disusun agar tampak mendukung  evolusi. Dan parahnya, ketika para evolusionis  menyatakan bahwa  dalam evolusinya, ukuran kuda semakin besar. Tetapi mereka lupa bahwa ukuran kuda modern memiliki variasi  yang  sangat  besar! Kuda  terbesar hari ini adalah Clydesdale (hingga 183 cm) dan yang  terkecil  adalah Falabella  (rata-rata 76 cm).

Lagipula, hanya dengan melihat  dua fosil, misalnya Equus dan Pliohippus,  tidak dapat disimpulkan bahwa  keduanya  berevolusi dari satu nenek moyang yang sama. Itu  adalah  asumsi yang didasarkan  pada kerangka pemikiran evolusi. Apalagi tidak ada proses alami apapun yang dapat menjelaskan bagaimana caranya Pliohippus bisa pelan-pelan berubah menjadi Equus.

Pada  kesimpulannya,  teori  evolusi bukanlah suatu teori ilmiah yang didukung oleh  fakta-fakta. Justru  sebaliknya, Alkitablah yang didukung oleh  ilmu pengetahuan sejati. Mengenai segala hal ilmiah yang akhirnya terbukti oleh ilmu pengetahuan,  akan  ada  artikel  lain  yang membahasnya. Memang  untuk menerima  kesaksian Alkitab dibutuhkan  iman. Namun  iman tersebut bukanlah iman yang buta, yang tak masuk  akal.  Sedangkan  teori  evolusi merupakan  angan-angan  yang dibungkus dalam kerudung  ilmu pengetahuan.

Banyak  orang  berkata  bahwa  ilmu pengetahuan  dan  agama  tidak  dapat digabungkan. Ini tidak benar. Ilmu pengetahuan  yang  sejati  pasti  cocok  dengan Alkitab,  karena Alkitab  ditulis  oleh Sang Pencipta ilmu pengetahuan, Allah yang maha bijak dan maha tahu. Siapapun yang meragukan Alkitab dapat mencari kesalahannya  tanpa  takut dianiaya. Hingga hari ini belum ada yang pernah dapat membuktikan kesalahan Alkitab. Jika Pembaca menemukan  kesalahan Alkitab,  silahkan  tanyakan pada Laboratorium Theologi GITS.

Andai kita sejenak melupakan masalah ilmu  pengetahuan,  dan melihatnya  hanya dari  sudut pandang  iman.  Orang  Kristen harus sadar di pihak mana evolusi berdiri. Teori  evolusi  berdiri  di seberang,  berlawanan dengan Alkitab. Beberapa orang  lain mencoba  berkompromi  dengan berusaha mencocokkan  teori evolusi dengan Alkitab. Ini  juga  tidak benar. Sebab  inti dari teori evolusi menyangkali Allah, dan yang lebih parah  lagi  adalah  penyangkalan  akan Firman Tuhan.  Jika  teori  evolusi  benar maka Kejadian  pasal  1-11  salah,  dan  itu sama  artinya  dengan kehancuran  seluruh Alkitab.  Sederhana  sekali.  Percaya  teori evolusi berarti  tidak percaya Alkitab.

Pembaca  sekalian  patut  menaruh perhatian yang besar pada masalah evolusi, sebab  taruhannya adalah keselamatan generasi berikut. Jika teori evolusi diajarkan di sekolah-sekolah, universitas-universitas, maka anak-anak dan kaum muda akan tertipu oleh trik Iblis. Hasilnya mereka akan  menolak  Firman  Tuhan. Jangan  biarkan  teori  evolusi  menjerumuskan generasi berikut ke neraka. Sikap Anda dapat membawa perbedaan!***

oleh dr. Andrew M. Liauw, M. Div., Sumber: Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 70 Januari-Maret 2012
Baca artikel selanjutnya MEMBANTAH KOMPROMI

Tidak ada komentar: