Minggu, 19 Februari 2012

Harold Ockenga dan Gerakan Injili Yang Dia Mulai

OCKENGA ADALAH PENDIRI GERAKAN INJILI BARU (NEW EVANGELICAL) DAN MENYATAKAN BAHWA GERAKAN TERSEBUT MENOLAK SEPARASI
Sumber: David Cloud, Way of Life
Harold Ockenga (1905-85) mungkin adalah pemimpin Injli yang paling berpengaruh di abad ke-20. Dia adalah gembala sidang dari Gereja Park Street yang prominen di Boston, pendiri dari National Association of Evangelicals, sesama pendiri dan juga presiden pertama dari Fuller Theological Seminary, presiden pertama dari World Evangelical Fellowship, presiden dari Gordon College, dan Gordon-Conwell Theological Seminary, seorang direktur dalam Billy Graham Evangelistic Association, dan ketua dewan direksi sekaligus pernah menjadi editor majalah Christianity Today.
Pada tahun 1950an Ockenga membantu menciptakan gerakan Injili Baru yang menolak separasi dan membidik filosofi yang lebih positif dan pragmatis, berlawanan dengan “negativisme” dan “isolasi” yang terdapat dalam fundamentalisme.
Dalam sebuah pidato yang dia sampaikan tahun 1947 pada saat pendirian Fuller Seminary, Ockenga berkata: “Kita menolak gerakan ‘Keluarlah dari sana’ [Editor: seruan separasi fundamentalis] yang memvonis semua denominasi sebagai sesat. Kita berharap untuk positif dalam penekanan kita, kecuali di tempat-tempat kesalahan sudah sedemikian rupa sehingga kita harus membongkarnya untuk dapat menyatakan kebenaran. Penekanan positif ini akan didasarkan pada doktrin Kalvinisme rendah yang luas” (hal. 176).
Mengilas kembali pidato yang monumental tersebut tiga puluh tahun kemudian, Ockenga berkomentar: “Injil baru lahir….bersamaan dengan sebuah pidato yang saya sampaikan di pertemuan di Civic Auditorium di Pasadena. Sambil menegaskan ulang pandangan theologi fundamentalisme, pidato ini MENOLAK EKKLESIOLOGI DAN TEORI SOSIALNYA (Fundamentalisme). Seruan nyaring PENOLAKAN TERHADAP SEPARATISME DAN PANGGILAN TERHADAP KETERLIBATAN SOSIAL mendapatkan respons dari banyak Injili. Nama ini (Injili Baru) cepat diterima dan tokoh-tokoh seperti Doktor-doktor Harold Lindsell, Carl F. H. Henry, Edward Carnell, dan Gleason Archer mendukung pandangan ini. Kami tidak bermaksud memulai suatu gerakan, tetapi ternyata penekanan kami ini mendapatkan dukungan yang luas dan memainkan pengaruh yang besar. Injili-baru (neo-evangelicalism)….BERBEDA DARI FUNDAMENTALISME DALAM HAL PENOLAKAN TERHADAP SEPARASI DAN KETEGUHAN HATI UNTUK IKUT DALAM DIALOG THEOLOGIS ZAMAN ITU. GERAKAN INI MEMILIKI PENEKANAN BARU PADA APLIKASI INJIL KEPADA BIDANG-BIDANG SOSIOLOGI, POLITIK, DAN EKONOMI DALAM KEHIDUPAN. Para Injili-baru menekankan penulisan ulang theologi Kristen untuk menyocokkan diri dengan keperluan zaman, KEMBALI IKUT SERTA DALAM DIALOG THEOLOGI, MEREBUT KEMBALI KEPEMIMPINAN DI DENOMINASI, DAN PENELITIAN ULANG AKAN PROBLEM-PROBLEM THEOLOGI SEPERTI KEKUNOAN MANUSIA, UNIVERSALITAS AIR BAH, METODE ALLAH DALAM MENCIPTAKAN, DAN LAIN-LAIN” (Ockenga, kata pengantar untuk bukunya Harold Lindsell The Battle for the Bible).
Ockenga mewakili mood keturunan fundamentalis tua yang mulai berubah. Mereka sudah capek membongkar kesalahan dan memisahkan diri dari denominasi-denominasi dan gereja-gereja yang modernistik dan berkompromi. Generasi baru orang-orang Injili ini bertekad untuk meninggalkan pendirian Alkitab yang militan. Sebagai gantinya, mereka akan mengejar dialog, intelektualisme, dan menyenangkan pihak lain. Mereka bertekad untuk tinggal di dalam denominasi-denominasi yang sesat untuk berusaha mengubah keadaan dari dalam, bukan mempraktekkan separasi alkitabiah. Injili Baru akan lebih berdialog dengan mereka yang mengajarkan kesesatan daripada menyerukan Firman Tuhan dengan berani dan tanpa kompromi. Injili Baru akan menantang humanis yang sombong dan liberal yang congkak di “kandang” mereka sendiri yaitu dengan pendidikan manusia bukannya dengan rendah hati rela dianggap bodoh demi Kristus karena berdiri di atas Alkitab dengan sederhana. Para pemimpin Injili Baru juga bertekad untuk memulai suatu “proses pemikiran ulang,” yaitu suatu sikap bahwa cara-cara yang lama harus terus menerus dinilai ulang berdasarkan tujuan-tujuan, metode-metode, dan ideologi-ideologi baru.
Injili Baru telah menyapu dunia. Hari ini, tidaklah melebih-lebihkan untuk berkata bahwa mereka yang menyebut diri “Injili” adalah Injli Baru; kedua istilah ini telah menjadi sama. Para Injili kuno, dengan beberapa pengecualian yang jarang sekali, telah bergabung dengan gerakan fundamentalisme atau telah menerima Injili Baru. Gerakan Injili hari ini adalah gerakan Injili Baru. Secara praktis kedua istilah ini kini mengacu kepada hal yang sama.
Ernest Pickering mengobservasi: “Salah satu bagian yang menimbulkan kebingungan mengenai gerakan Injili Baru adalah karena sekarang sudah hampir tidak ada perbedaan antara “injili” dan Injili Baru. Prinsip-prinsip Injili Baru yang pertama muncul kini telah diterima secara universal oleh mereka yang menyebut diri “injili” sehingga semua perbedaan yang mungkin eksis bertahun-tahun yang lalu sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak diragukan lagi bahwa istilah yang dipakai oleh Ockenga bagi gerakan baru ini, yaitu Injili Baru atau Neo-Evangelical, telah disingkat menjadi Injili…Jadi hari ini kita menyebut bagian dari kekristenan ini dengan sebutan sederhana gerakan Injili” (The Tragedy of Compromise, hal. 96).
OCKENGA MEMILIKI PENGARUH BESAR ATAS BILLY GRAHAM
Tidak diragukan lagi, Billy Graham adalah maskot populer Injili Baru. Sejarahwan George Marsden mengatakan bahwa definisi yang baik tentang seorang Injili adalah “siapa saja yang menyukai Billy Graham” (The Surprising Work of God, hal. 18). Tetapi sementara Billy Graham adalah tampilan populer dari Injili Baru, Harold Ockenga adalah otak di balik gerakan ini. Pada acara penguburan Ockenga tahun 1985, Graham berkata, “Dia adalah raksasa di antara raksasa. Tidak ada orang lain di luar keluarga saya yang mempengaruhi saya seperti dia. Saya tidak pernah membuat suatu keputusan besar tanpa pertama-tama menelpon dan meminta pendapat dan nasihatnya” (hal. 17).
OCKENGA WAKTU ITU MUDA
Injil Baru didirikan oleh orang-orang muda. Ketika Ockenga menolak separatisme dia berumur 30an. Seorang wartawan mengobservasi bahwa para pemimpin crusade-nya Billy Graham di Boston tahun 1950 – di acara itu Ockenga memiliki peran sentral – “hampir semuanya berumur 20an atau awal 30an” (hal. 138). Adalah crusade di Boston yang “mengokohkan reputasi Billy Graham sebagai penginjil yang luar biasa di zamannya” (hal. 147).
Orang muda memiliki semangat dan visi, tetapi mereka kurang pengalaman dan hikmat, dan mestinya mereka dipengaruhi oleh orang-orang yang lebih tua agar hal-hal yang penting ini masuk juga ke dalam diri mereka.
Sejarah berulang lagi hari ini dalam gerakan fundamentalis, karena para “fundamentalis muda” sedang mempertanyakan separasi.
OCKENGA ADALAH SEORANG SEPARATIS DI AWAL PELAYANANNYA
Pada tahun 1929, Ockenga meninggalkan Princeton Theological Seminary karena modernisme theologinya. Dia mengikuti J. Gresham Machen dan Presbyterian konservatif lainnya keluar dari Princeton dan melanjutkan studinya di Westminster Theological Seminary yang baru didirikan. Pada hari-hari itu, Ockenga menulis:
“Princeton telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi, jadi mereka telah mulai mengorganisir seminary baru yang akan setia kepada Firman Allah. …Saya meninggalkan Princeton, gelar yang pasti, Fellowship yang pasti yang akan mengirim saya ke Eropa, dan semua keuntungan materi, dan datang ke sini ke Westminster Theological School. Ini adalah masalah mengambil sikap yang pasti bagi Kristus, dan kami telah melakukannya, tetapi dengan harga yang mahal” (hal. 58, 59).
Pada hari-hari awal penggembalaannya di Gereja Park Street di Boston yang mulai tahun 1936, Ockenga berkata bahwa separasi itu diperlukan.
“Walaupun tragis, kontroversi antara kekristenan dengan Modernisme adalah sesuatu yang harus terjadi. …[Jika] Gereja yang saat ini, yang tidak berkuasa, lemah, dan menurun, mau menikmati lagi berkat-berkat Allah dan menerima penyegaran dari atas, maka Gereja itu harus memurnikan dirinya sendiri dari kesesatan-kesesatan yang sudah kuno dari dulu dan dari etika yang dipertanyakan di antara banyak pemimpinnya. …Lalu menjadi tanggung jawab kita untuk menarik semua keanggotaan, pengaruh, dan dukungan finansial dari organisasi-organisasi modernistik dan memberikan semua dukungan itu bagi kekristenan yang Alkitabiah” (hal. 88).
Ini adalah posisi yang berani, tetapi Ockenga pada akhirnya tekuk di bawah tekanan dan menemukan jalan yang lebih pragmatis daripada kesetiaan yang sederhana kepada Firman Allah. Dia akhirnya menyimpang dari amanat yang diberikan pada penahbisannya oleh J. Gresham Machen. Berkhotbah tentang surat yang mengancam yang ditujukan kepada Raja Hizkia di 2 Raja-raja 19, Machen memberikan amanat kepada Ockenga untuk berdiri bagi kebenaran dan tidak takut kepada kontroversi. Machen mengatakan:
“Hari ini, di seluruh dunia, opini publik secara luas melawan Injil Yesus Kristus [bahkan di antara mereka yang mendominasi kehidupan dan gerakan gereja-gereja. ...Jika kita tidak berdiri melawan kehadiran dunia yang jahat, kita bukanlah murid sejati Yesus Kristus. Pengajaran Tuhan kita penuh kontroversi – karena dia menyatakan kebenaranNya sebagai kontras yang tajam terhadap kebenaran palsu para ahli taurat dan Farisi. … ketika Roh bergerak dengan kuasa di Gereja Yesus Kristus … pembicaraan yang lemah dan menyedihkan tentang menghindari kontroversi bagi orang-orang Kristen dan para pengkhotbah Yesus Kristus, akan semuanya tersapu habis bagaikan oleh air bah yang hebat. Seseorang yang berapi-api dengan suatu pesan tidak akan pernah berbicara seperti itu; tidak pernah bicara dengan gaya acuh tak acuh seperti dunia, tetapi memproklamirkan Injilnya di hadapan musuh-musuh dunia, dengan singkat dan dengan agung di hadapan semua yang melawan Injil Yesus Kristus" (hal. 68).
Ini adalah tantangan yang sejati dan dahsyat, tetapi Ockenga pada akhirnya menolaknya, dan dunia Injili telah menjadi pengkhianat terhadap kebenaran karena keengganan untuk dengan sungguh-sungguh berjuang bagi seluruh maksud Allah dan memisahkan diri dari musuh-musuh Firman Allah.
OCKENGA ADALAH SEORANG PROTESTAN
Sangatlah penting untuk mengerti bahwa gerakan Injili pada dasarnya adalah suatu gerakan Protestan. Inilah sebabnya gerakan ini memiliki pandangan gereja yang universal dan tidak peduli dengan cara baptisn dan Perjamuan Tuhan, dan biasanya membiarkan baptisan bayi dan sakramentalisme. Ockenga memulai pelayanannya sebagai seorang Metodis tetapi dia dengan mudah berubah menjadi Presbyterian. Bahkan, dia mengatakan, "Saya sekarang telah memiliki pengalaman penahbisan dari seorang Uskup Metodis dan juga dari Penatua Presbyterian" (hal. 64).
OCKENGA MENERIMA KESALAHAN BAHWA ADA "PERBEDAAN DOKTRIN YANG TIDAK ESENSIAL"
Setelah tiba di Boston, Ockenga ikut serta dalam Fellowship New England dan dipengaruhi oleh pendiri dan presidennya, J. Elwin Wright, yang mengusahakan suatu ekumenisme Injili. Wright memperingatkan tentang bahaya "omelan dan kritikan yang tidak baik terhadap saudara-saudara kita yang memiliki iman yang serupa yang berharga" (hal. 96), tanpa mengakui bahwa kritikan tidak perlu tidak baik dan bahkan sangat perlu untuk menjaga kemurnian doktrinal dan moral (Amsal 6:23). Paulus berulang kali mengritik pengajar-pengajar palsu dan orang-orang yang berkompromi dalam surat-suratnya.
Wright adalah "seorang yang dengan tidak capek-capeknya membela kerjasama antar Injili" (hal. 89), tetapi satu-satunya cara gereja-gereja yang memegang doktrin yang berbeda dapat berasosiasi dalam pelayanan bersama seperti penginjilan adalah dengan cara mengecilkan perbedaan-perbedaan mereka. Kita diberitahu bahwa berbagai denominasi yang berpartisipasi di New England Fellowship (Presbyterian, Baptis, Methodis, Lutheran, Episkoplian, Holiness, Pentakosta, dll.) bisa "menyembunyikan perbedaan-perbedaan mereka yang tidak esensial" (hal. 90). Perbedaan-perbedaan ini terdiri dari hal-hal karunia Roh, jaminan kekal, cara baptisan, kebiasaan Perjamuan Tuhan, ekklesiologi, pengkhotbah wanita, kesempurnaan tanpa dosa, dan pemilihan berdaulat.
Hal-hal ini disebut doktrin-doktrin yang "sekunder" atau "pinggiran," tetapi tidak pernah diperlakukan demikian dalam Kitab Suci. Tuhan Yesus Kristus memerintahkan gereja-gereja untuk mengajar "mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:20).
Paulus tidak memberi pengantar demikian kepada paruh kedua surat-suratnya, "Sekarang, para pembaca sekalian, saya akan memberikan beberapa doktrin yang tidak esensial dan tidak perlu untuk menerima hal-hal ini seserius hal-hal yang barusan saja."
Pada kenyataannya, ketika sang Rasul menulis kepada Timotius untuk menginstruksikan dia dalam doktrin gereja, ia menyimpulkan dengan kata-kata berikut:
"Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya" (1 Timotius 6:13-14).
Timotius diinstruksikan untuk menuruti perintah-perintah dalam 1 Timotius dengan tidak bercacat. Ini merujuk kepada ketelitian terhadap detil-detil. Timotius harus menghargai dan menaati semua yang sang Rasul telah berikan kepadanya melalui inspirasi ilahi. Dan surat ini mengandung banyak hal yang dianggap "sekunder" oleh para Injili, seperti standar bagi gembala sidang dan diaken, peran wanita dalam gereja, dukungan dan disiplin terhadap para penatua. Kita tahu bahwa tidak semua hal dalam Alkitab sama pentingnya, tetapi segala sesuatu ada nilai pentingnya, dan kita tidak memiliki otoritas untuk mengesampingkan beberapa hal demi memperluas persekutuan dan pelayanan. Itu adalah pengkhianatan terhadap Firman Tuhan. Saulus kehilangan posisinya sebagai raja karena dia tidak menghargai semua Firman Tuhan (1 Samuel 15:22-23).
New England Fellowship memainkan pengaruh yang besar sehingga terbentuk National Association of Evangelicals pada tahun 1942, dan Ockenga adalah pemain utamanya. Dia berkeliling negeri bertemu dengan pemimpin-pemimpin Kristen dan mendorong mereka untuk mendukung organisasi baru tersebut termasuk filosofi organisasi itu yang inklusif, dan ia akhirnya menjadi presiden pertamanya.
Sejak awal, Ockenga mendukung ikut sertanya kaum Pantekosta tanpa peduli kepada kesesatan mereka mengenai baptisan Roh, pemenuhan Roh, dan karunia-karunia, antara lain.
Filosofi tentang "doktrin yang sekunder" telah menjadi filosofi yang dipakai oleh Injili di zaman modern ini, tetapi ini adalah hal yang sangat menyesatkan yang telah menimbulkan kehancuran rohani yang hebat.
OCKENGA BERPEGANG KEPADA BANYAK HAL YANG BAIK TETAPI DIA TIDAK BISA MEILHAT BAHWA TIDAKLAH MUNGKIN MEMPERTAHANKAN KEBENARAN KALAU ASOSIASI SESEORANG ITU KORUP
Alkitab memperingatkan, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Korintus 15:33), tetapi Harold Ockenga tidak mengindahkan hal ini, malah sebaliknya menolak separasi dan menyerukan strategi menginfiltrasi denominasi-denominasi dan institusi-institusi modernistik, dan kelalaian serta ketidaktaatan ini telah berujung kepada hancurnya Injili.
Ockenga "terbuka untuk kerjasama kapan pun jika dapat dilakukan tanpa kompromi theologis" (hal. 158), tetapi adalah mustahil untuk bekerjasama dengan kesalahan tanpa melakukan kompromi theologi.
Kebobrokan yang telah menyebar di dalam Injili selama setengah abad terakhir telah terdokumentasi dengan baik dan diakui oleh Injili tertentu yang lebih jujur dan terus terang:
Harold Lindsell, yang adalah wakil presiden Fuller Seminary dan editor Christianity Today, mengatakan pada tahun 1985: "Gerakan Injili hari ini ada dalam kondisi kekacauan yang menyedihkan. ….Jelas bahwa Injili hari ini lebih lebar dan lebih dangkal, dan semakin hari semakin demikian. Anak-anak Injili sedang dalam proses meninggalkan iman bapa-bapa mereka" (Christian News, 2 Des. 1985).
Francis Schaeffer, berbicara pada konvensi 1976 National Association of Evangelicals, mengatakan: "Apa gunanya gerakan Injili seolah-olah semakin besar dan bertambah jumlah jika mereka yang memakai nama "injili" tidak lagi berpegang kepada apa yang membuat injili itu 'injili'?" (Schaeffer, "The Watershed of the Evangelical World: Biblical Separation").
Sebuah buku Moody Press tahun 1996 yang berjudul The Coming Evangelical Crisis mendokumentasikan kesesatan gerakan Injili.
"...Injili di tahun 1990an adalah suatu campuran kelompok-kelompok, institusi-institusi, dan tradisi-tradisi yang beragam dan yang seringkali sulit didefinisikan secara theologis. ….KESATUAN THEOLOGIS YANG PERNAH MENJADI CIRI KHAS GERAKAN INI TELAH BERUBAH MENJADI PLURALISME THEOLOGI YANG ADALAH PERSIS HAL YANG DITOLAK OLEH BANYAK PENDIRI GERAKAN INJILI MODERN DALAM PROTESTANISME PADA UMUMNYA. ...Injili tidaklah sehat dalam keyakinan atau disiplin rohani. Pertahanan theologis kita telah diturunkan, dan infusi theologi-theologi revisionis telah mempengaruhi banyak segmen injili. Banyak sekali kerusakan yang telah terjadi, tetapi krisis yang lebih besar lagi mengancam" (R. Albert Mohler, Jr., "Evangelical What's in a Name?" The Coming Evangelical Crisis, 1996, hal. 32, 33, 36).
Perhatikan beberapa contoh spesifik doktrin-doktrin yang Ockenga percaya akan dilepas oleh putra putri rohaninya dalam gerakan Injili.
Ockenga percaya inspirasi Alkitab yang tanpa salah dan menyebut doktrin ini sebagai "batas pemisah dalam kontroversi theologi modern" (The Surprising Work of God, hal. 82). Tetapi dia menyerukan agar orang-orang injili berasosiasi dengan orang-orang yang menolak ketiadasalahan Alkitab, dan sebagai akibatnya gerakan tersebut telah penuh dengan ketidakpercayaan.
Perhatikan kesaksian Carl Henry pada tahun 1976: "SEMAKIN BANYAK WISUDAWAN-WISUDAWAN MUDA YANG BERBAKAT DARI SEKOLAH TINGGI INJILI YANG MEMEGANG GELAR DOKTOR DARI SEKOLAH NON-INJILI KINI MEMPERTANYAKAN ATAU MEMBUANG DOKTRIN KETIADASALAHAN dan doktrin ini kini dipegang dengan kurang konsisten di kalangan dewan dosen. ...Sebagian mempertahankan istilah ini dan hal ini meyakinkan para pendukung tetapi mereka bagaimana pun juga melenturkan arti dari istilah tersebut" (Carl F. H. Henry, gembala sidang senior, editor dari Christianity Today, "Conflict Over Biblical Inerrancy," Christianity Today, 7 Mei 1976).
Pada tahun 1976 dan 1979, Harold Lindsell menerbitkan dua volume yang mendokumentasikan penurunan yang mengerikan terhadap Alkitab dalam gerakan Injili. Dokumentasi yang hati-hati ini dibuat oleh seseorang yang berada dalam lingkaran dalam kepemimpinan Injili selama banyak dekade, dan tidak meninggalkan keraguan bahwa dunia Injili di paruh kedua abad 20 sudah sangat dalam terkena ragi kesesatan.
Lindsell mengatakan, "Saya harus dengan penuh penyesalan menyimpulkan bahwa istilah Injili telah sedemikian ternodai sehingga telah kehilangan arti. ...Empat puluh tahun yang lalu istilah Injili mewakili mereka yang ortodoks secara theologis dan yang memegang ketiadasalahan Alkitab sebagai salah satu ciri khas. ...DALAM SEKITAR SATU DEKADE INJIL BARU....SUDAH DISERANG DARI DALAM OLEH SKEPTIKISME YANG SEMAKIN TINGGI MENGENAI KETIADASALAHAN ALKITAB" (Harold Lindsell, The Bible in the Balance, 1979, hal. 319).
Pada tahun 1978, Richard Quebedeaux memperingatkan, "...adalah fakta yang sudah diketahui baik bahwa SEJUMLAH BESAR, JIKA BUKAN SEBAGIAN BESAR, SEKOLAH TINGGI DAN SEMINARI YANG DIMAKSUD KINI MEMILIKI DEWAN DOSEN YANG TIDAK LAGI PERCAYA KETIADASALAHAN TOTAL..." (Quebedeaux, The Worldly Evangelicals, hal. 30).
Pada tahun 1983, Francis Schaeffer memperingatkan, "DI DALAM INJILI SEMAKIN BERTUMBUH JUMLAH ORANG YANG MENGUBAH PANDANGAN MEREKA TENTANG KETIADASALAHAN ALKITAB SEHINGGA OTORITAS PENUH KITAB SUCI DISERANG SECARA PENUH... Penerimaan, penerimaan. Bagaimana pola pikir penerimaan itu bertumbuh dan meluas...Dengan air mat kita harus mengatakan bahwa tidaklah demikian dan bahwa SEGMEN YANG BESAR DARI DUNIA INJILI TELAH TERGODA OLEH ROH DUNIA SEKARANG INI" (Francis Schaeffer, The Great Evangelical Disaster, 1983, hal. 44, 141).
Perhatikan, kedua, bahwa Ockenga percaya akan perlunya kelahiran kembali dan menyerukan agar ada bukti yang jelas akan pertobatan (hal. 83). Tetapi dia menentang habis praktek memisahkan diri dari orang-orang yang tidak mempercayai hal ini dan yang menerima baptiasn bayi dan keanggotaan gereja sebagai keselamatan. Sebagai hasilnya, Injili kini penuh dengan gembala sidang dan anggota gereja yang tidak memiliki bukti alkitabiah keselamatan.
Ockenga juga percaya abstinens penuh (tidak minum alkohol sedikit pun) dan mempromosikan suatu "program lima poin untuk menghentikan produksi, distribusi, dan penggunaan alkohol" (hal. 172). Dia mendorong orang-orang untuk "berbicara dengan anak-anak di gereja dan rumah dan memperingatkan mereka akan bahaya dari minum" dan menantang mereka untuk "menulis di Alkitabmu, 'saya akan menutup diri dari semua minuman beralkohol'" (hal. 172). Tetapi dia mengajar orang-orang Injili untuk menjadi "relatif dalam hal budaya" dan untuk berasosiasi dengan para liberal yang minum-minum, dan tidak heran bahwa cucu rohaninya dalam iman, yaitu gerakan emerging church, sangat suka minum-minum. (Lihat buku David Cloud mengenai Emerging Church).
Ockenga percaya bahwa "hanya karya Kristus yang mendamaikan di atas salib yang cukup untuk mengampuni dosa, menjinakkan hati yang berontak, dan membawa damai yang sejati dengan Allah" dan bahwa "sebagai konsekuensi, solusi mendasar bagi keberdosaan manusia dan titik awal semua reformasi sosial yang sejati adalah kuasa Injil yang mentransformasi" (hal. 173). Tetapi karena pergaulan buruk yang telah mengakibatkan penolakan terhadap separasi yang alkitabiah, cucu rohani Ockenga percaya bahwa memperjuangkan isu-isu keadilan sosial terlepas dari pemberitaan Injil adalah sah. (Lihat buku David Cloud "The Emerging Church" untuk dokumentasi akan hal ini).
Ada banyak hal lain lagi yang Harold Ockenga dan para pendiri Injili Baru lainnya percayai dan yang anak-anak atau cucu-cucu rohani mereka pertanyakan atau tolak sama sekali. Ini sungguh menyedihkan, tetapi bukankah Alkitab telah memperingatkan, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Korintus 15:33).
OCKENGA TELAH DIPERINGATKAN
Ketika Ockenga menolak separasi dan mengkompromikan posisinya yang sebelumnya, dia mendapatkan peringatan dan uluran tangan dari saudara-saudaranya yang tidak berkompromi.
Sebagai contoh, teman lamanya dan koleganya Billy Hawks, menulis pada bulan Desember 1947:
"Saya merasa seperti ingin menangis dan meraung karena kamu. ...sebagian hal-hal yang kamu sedang lakukan hanyalah memberikanku kesedihan dan berat hati. Sungguh membuatku sedih Harold, melihatmu menyerah sedikit di sini dan sedikit di sana kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang akan menghancurkan negara kita. [Kamu] semestinya menjadi sangkakala Allah di Amerika, [tetapi kamu] dengan cepat menyerah kepada trend-trend inklusivistik yang akan menenggelamkan kita ke dalam lautan rohani yang gelap sama seperti negara-negara lagi di seberang lautan. …Kombinasi adalah kelemahan! Separasi adalah kekuatan! Di mata Allah” (hal. 177).
Peringatan yang sama diulang lagi kepada Billy Graham, tetapi baik dia maupun Ockenga mengabaikannya dan mengecap peringatan seperti itu sebagai upaya pemecahbelahan yang penuh kebencian (Lihat artikel “Graham Was Warned Many Times” di website wayoflife).
OCKENGA DAN TEMAN-TEMAN INJILI BARU-NYA MUNAFIK MENGENAI MENGHAKIMI DAN KRITIKAN
Ockenga dan teman-temannya berkhotbah menentang sikap menghakimi dan “kritikan terhadap sesama saudara.” Merv Rosell berkata, “Saya dengan persisten menolak untuk menjadi bagian dari kritikan” (hal. 159). Mereka menolak untuk mengritik Modernis dan Roma, tetapi mereka dengan keras mengritik Fundamentalis. Mereka telah menyebut kaum Fundamentalis sebagai Farisi, legalis, penuh kebencian, pemecah belah, non-intelektual, jahat, melukai tubuh Kristus, dan banyak lagi hal-hal lain.
Ockenga berkata:
“Saya rasa para fundamentalis ini sedang melakukan perusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi terhadap gerakan kita dengan cara mengidentikkan kekristenan dengan perintah “janganlah.” Mereka telah kehilangan semua sukacita di dalam kekristenan dan kehidupan kristiani. Mereka membuatnya menjadi negatif. Mereka memecah belah gila-gilaan dan saya pastikan anda bahwa saya sendiri tidak mau ada hubungan dengan gerakan seperti itu” (hal. 184).
Ini adalah kata-kata yang keras, sangat mengritik, dan menghakimi, dan yang disampaikan bahkan tidak benar. Saya tidak kenal fundamentalis yang sehat yang percaya Alkitab manapun yang telah kehilangan semua sukacita karena mereka serius menanggapi Alkitab. Ya, ada banyak hal yang negatif dalam Alkitab, dan banyak perintah “janganlah,” tetapi fundamentalisme yang saya kenal 36 tahun ini sangatlah menyenangkan.
Faktanya, satu musuh rohani yang secara konsisten diidentifikasi oleh Injil Baru dan yang mereka serang adalah orang-orang Fundamentalis yang percaya Alkitab. Penghakiman mereka terhadap kaum Fundamentalis tidak mengenal belas kasihan. Ini sudah menjadi tanda yang konsisten dari Injili Baru selama 60 tahun.

Tidak ada komentar: