Selasa, 14 Februari 2012

Kitab Kehidupan dan Dampaknya pada Doktrin Keselamatan

Dr. Steven E. Liauw, Graphe International Theological Seminary
Kitab Kehidupan adalah salah satu misteri di dalam Alkitab. Tuhan memberitahu manusia melalui FirmanNya tentang eksistensi sebuah kitab yang disebut “book of life” atau “Kitab Kehidupan.” Nama dari kitab ini saja sudah cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahu kita, apalagi ketika perikop-perikop Firman Tuhan menyingkapkan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Kehidupan ini akan membawa dampak yang sangat besar bagi setiap individu.
Ada banyak teori mengenai Kitab Kehidupan ini. Sama seperti banyak topik menarik lainnya dalam Alkitab (misalnya Melkisedek), kita seringkali berharap seandainya Tuhan memberikan lebih banyak informasi lagi. Bagaimana bentuk kitab ini? Seberapa panjangkah ia? Kapankah persisnya nama seseorang muncul dalam Kitab ini? Masih banyak informasi yang orang percaya rindukan tentang topik ini. Namun, Tuhan memberitahukan orang percaya, apa yang perlu untuk kita ketahui, dan semua yang tercatat dalam Firman Tuhan berguna bagi kita (2 Tim. 3:15-17). Hal-hal yang Tuhan tidak singkapkan berarti adalah hal-hal yang tidak penting bagi kehidupan kita sebagai orang percaya. Kita tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berspekulasi dalam hal-hal tersebut. Sebaliknya, kita harus berfokus pada apa yang Tuhan singkapkan, menerimanya dengan iman, dan menerapkannya dalam doktrin dan praktek kita, apapun resikionya. 
Istilah “Kitab Kehidupan” muncul 8 kali dalam Perjanjian Baru dan 1 kali dalam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Baru, istilah Yunani yang dipakai adalah to. bibli,on th/j zwh/j (to biblion tes zoes) atau variasinya. Di dalam Perjanjian Lama, istilah Ibrani yang dipakai adalah ~yYIx; rp,se (sefer hayyim). Selain sembilan ayat ini, masih ada beberapa ayat lain yang tidak mengandung istilah “Kitab Kehidupan” secara persis, namun secara cukup jelas mengacu kepada kitab ini. Berikut adalah daftar ayat-ayat Alkitab yang bertalian dengan Kitab Kehidupan.
I. Ayat-Ayat yang Berbicara Mengenai Kitab Kehidupan
Mazmur 69:29 – Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!
Filipi 4:3 – Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.
Wahyu 3:5 – Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.
Wahyu 13:8 – Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.
Wahyu 17:8 – Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.
Wahyu 20:12 – Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
Wahyu 20:15 – Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.
Wahyu 21:27 – Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.
Wahyu 22:19 – Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan [dalam TR:kitab kehidupan] dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”
II. Ayat-Ayat yang Berkaitan dengan Kitab Kehidupan
Keluaran 32:32-33 -
Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.
Daniel 12: 1 – Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.
Lukas 10:20 – Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.
III. Barangsiapa Tercatat Dalam Kitab Kehidupan Memiliki Hidup yang Kekal
Satu hal yang jelas mengenai Kitab Kehidupan adalah fungsi dari kitab tersebut. Wahyu pasal 20, ayat 12 hingga 15 memberikan pengajaran yang tegas, bahwa Kitab Kehidupan berisikan nama orang-orang yang diselamatkan. Keselamatan yang dimaksudkan adalah keselamatan jiwa, jadi bukan sekedar hidup jasmani, melainkan hidup yang kekal. Oleh sebab itulah, orang yang namanya tidak ditemukan dalam Kitab Kehidupan dilemparkan ke dalam lautan api.
Berdasarkan penyingkapan dalam Firman Tuhan tersebut, berarti Kitab Kehidupan adalah kitab yang sangat penting, bahkan kitab yang terpenting di seluruh alam semesta ini berkaitan dengan keselamatan manusia. Tidak peduli apakah nama anda tercatat di Guiness Book of Record, ataukah menjadi nomor satu di Hall of Fame apapun, atau kekayaan anda membuat nama anda tercantum dalam Forbes’ List of 100 Richest Persons, atau ketenaran anda memastikan nama anda muncul di koran dan tabloid setiap minggu; namun jika nama anda tidak tercatat dalam Kitab Kehidupan Anak Domba Allah,1 maka alangkah malangnya anda karena pada hari penghakiman anda pasti masuk ke dalam lautan api. Sebaliknya, jika nama anda tercatat dalam Kitab Kehidupan, maka apapun yang terjadi dalam hidup ini, kesengsaraan atau kesulitan apapun yang menimpa, berbahagialah anda karena anda mempunyai hidup yang kekal di Surga. Pendek kata, memastikan bahwa namamu tertulis dalam Kitab Kehidupan adalah prioritas paling utama; dan ketika hal itu terjadi adalah momen yang paling membahagiakan. Itulah yang Yesus katakan kepada murid-muridNya: “janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Lalu, bagaimanakah caranya nama seseorang dapat tercatat dalam Kitab Kehidupan?
IV. Kitab Kehidupan Berarti Bahwa Keselamatan Dapat Menjadi Milik  Pribadi, Bukanlah Suatu Proses
Alkitab tentunya tidak bertentangan satu sama lainnya. Seseorang yang tercatat namanya dalam Kitab Kehidupan memiliki hidup yang kekal. Kesaksian Alkitab secara keseluruhan dengan tegas memberitahu kita bahwa untuk mendapatkan hidup yang kekal, syaratnya haruslah percaya atau beriman kepada pribadi Yesus Kristus. Rasul Yohanes menulis dengan sangat terang: “kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:13). Rasul Paulus membawa kabar baik ini juga dalam penginjilannya di mana-mana: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus” (Kis. 16:30-31). Jadi kesimpulannya adalah, jika seseorang percaya beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, maka Tuhan menuliskan namanya di dalam Kitab Kehidupan. Ini bukanlah suatu pengajaran yang baru. Namun bahwa nama orang yang percaya ditulis di dalam Kitab Kehidupan membuktikan suatu hal yang sering tidak diperhatikan orang. Keselamatan menjadi milik seseorang saat ia percaya, dan bukanlah suatu proses yang harus ditempuh untuk menilai kelayakan orang tersebut pada akhir proses tersebut.
Walaupun banyak sekali gereja dan orang Kristen di dunia ini, sayangnya sangat sedikit yang mengerti jalan keselamatan dengan baik. Boleh dibilang semua orang Kristen akan berkata bahwa dia percaya kepada Yesus. Namun “percaya” yang dimaksud oleh satu orang berbeda pula dengan “percaya” yang dimaksud oleh orang lain. Banyak sekali “orang Kristen” yang “percaya Yesus,” namun tidak memiliki kepastian masuk Surga. Mereka berkata bahwa masalah masuk Surga masih harus ditentukan lagi nanti saat menghadap Tuhan, yaitu tergantung apakah dia telah hidup benar atau tidak.
Gereja Katolik, dan bahkan banyak denominasi Protestan, menganut ajaran ini. Jadi, keselamatan dianggap sebagai suatu proses yang mulai saat orang itu percaya. Jika orang itu menjalani proses dengan baik (hidup benar, beramal, setia pada gereja, dll), maka ia akan selamat pada akhirnya. Seseorang tidak bisa memastikan dirinya masuk Surga saat ini, karena ia masih dalam proses. Konsep seperti ini sangat bertentangan dengan Alkitab.
Tuhan telah menegaskan bahwa tidak ada orang yang dapat masuk Surga atas dasar kemampuannya untuk hidup kudus, atau atas amal ibadahnya, atau atas apapun juga yang dia mampu lakukan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). Masalah utama manusia, sehingga ia tidak dapat masuk Surga, adalah dosa-dosanya. Alkitab menegaskan bahwa semua manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), dan lebih lanjut lagi bahwa upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Amal ibadah dan perbuatan baik kita tidak dapat menyelesaikan dosa, karena dilakukan oleh manusia yang memang sudah berdosa. Sebaliknya, kesalehan kita yang terbaik pun adalah kain kotor di hadapan Allah yang maha suci (Yes. 64:6). Satu-satunya jalan yang dapat memuaskan keadilan Allah adalah jika hukuman yang telah Tuhan tetapkan (maut), dijalankan. Namun, karena kasih karunia, Allah rela untuk mengirim Tuhan Yesus Kristus untuk mati di atas kayu salib, menggantikan semua manusia menanggung hukuman dosa (1 Yoh. 2:2).
Di atas kayu salib itulah Kristus mendamaikan dosa seisi dunia, yang bermanfaat bagi barangsiapa yang percaya kepadaNya. Pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah hal yang mendasari keselamatan manusia. Syarat untuk mendapatkan keselamatan itu adalah melalui bertobat dan percaya (ini satu paket) kepada Yesus Kristus (Roma 10:9-10; Kis. 16:30-31).
Alkitab menjelaskan bahwa ketika seseorang percaya kepada Kristus, terjadi suatu transaksi rohani. Kristus menggantikan orang tersebut menerima hukuman atas dosa-dosanya (ini sudah terjadi saat Yesus mati di Kalvari, tetapi baru diterapkan saat orang itu percaya), dan orang tersebut kini hidup menggantikan Yesus (Gal. 2:19-20). Dan pada saat ia percaya itulah, ia memiliki hidup yang kekal (1 Yoh. 5:13). Ia bukan dimasukkan ke dalam sebuah proses penilaian, apakah akan dapat hidup cukup baik untuk masuk Surga. Jika demikian, maka keselamatan bukan lagi melalui percaya/iman, melainkan karena usaha dan keberhasilan untuk hidup cukup baik.
Nah, karena keselamatan menjadi milik pribadi saat seseorang percaya, maka namanya dapat segera dituliskan di dalam Kitab Kehidupan. Jika orang tersebut masuk ke dalam suatu “proses” saat ia percaya, untuk kemudian dievaluasi pada akhirnya, maka untuk apakah namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan? Konsep keselamatan sebagai suatu proses tidak cocok dengan pengajaran Alkitab mengenai Kitab Kehidupan, melainkan akan lebih cocok dengan konsep Kitab Perbuatan (karena masuk surga atau tidak ditentukan oleh perbuatannya). Namun Tuhan tidak mengajarkan bahwa keselamatan seseorang ditentukan berdasarkan “Kitab Perbuatan,” melainkan Kitab Kehidupan. Jadi pengertian yang benar tentang Kitab Kehidupan menguatkan pengajaran Alkitab tentang keselamatan berdasarkan kasih karunia yang diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai milik pribadi saat seseorang percaya.
V. Orang Percaya Harus Tetap Percaya Agar Tidak Terhapus Dari Kitab Kehidupan
Banyak orang akan setuju dengan penguraian di atas. Banyak orang akan sepakat bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus Kristus, maka namanya Tuhan tuliskan ke dalam Kitab Kehidupan. Namun banyak orang tidak setuju bahwa nama seseorang yang sudah dituliskan dalam Kitab Kehidupan, dapat dihapuskan dari Kitab tersebut. Namun otoritas kita bukanlah pendapat orang atau suara terbanyak, otoritas kita adalah Firman Tuhan. Sebagaimana Alkitab sangat jelas bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus dituliskan namanya dalam Kitab Kehidupan, demikian juga Alkitab jelas bahwa nama yang tertera dalam Kitab Kehidupan dapat dihapus oleh Tuhan.
Untuk mengingatkan lagi, berikut ini adalah beberapa ayat yang berbicara mengenai penghapusan nama seseorang dari Kitab Kehidupan.
Wahyu 3:5 – Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.
Wahyu 22:19 – Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan [dalam TR:kitab kehidupan] dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”
Keluaran 32:32-33 – Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.
Ada dua kelompok yang bermasalah dengan pengajaran Alkitab bahwa nama seseorang dapat dihapuskan dari Kitab Kehidupan. Yang pertama adalah kelompok Kalvinis. Kalvinis percaya bahwa manusia sama sekali tidak memiliki suara dalam hal apakah mereka selamat atau binasa. Keselamatan atau kebinasaan seseorang sudah ditentukan sejak kekekalan lampau, yaitu ketika Allah, tanpa mempertimbangkan apapun mengenai manusia yang bersangkutan (unconditional/tanpa syarat), memilih sebagian untuk diselamatkan dan sebagian untuk dibinasakan.2 Lebih lanjut lagi, Kalvinis percaya bahwa Yesus Kristus hanya mati untuk orang-orang pilihan, dan karena mereka sudah dipilih sejak dahulu kala, maka nama mereka juga sudah sejak dahulu kala tercatat dalam Kitab Kehidupan. Bagi seorang Kalvinis, pengajaran Alkitab tentang Kitab Kehidupan sangatlah bertentangan dengan keyakinannya. Jika konsep Kalvinis benar, maka seharusnya tidak ada kemungkinan seseorang yang tercatat dalam Kitab itu dapat terhapus lagi namanya. Jika konsep Kalvinis benar, maka tidak perlu ada janji bahwa nama orang yang menang “tidak akan dihapuskan,” atau peringatan bahwa orang yang berdosa akan dihapuskan namanya dari “Kitab-Ku.” Namun demikianlah pengajaran yang gamblang dalam Alkitab.
Ada orang yang berargumen bahwa Keluaran 32 tidak secara spesifik menyebutkan “kitab kehidupan,” sehingga mereka berandai-andai bahwa kitab yang dimaksud bukanlah Kitab Kehidupan melainkan kitab orang-orang yang hidup. Maksudnya, bahwa nama yang tertulis dalam kitab itu adalah nama orang yang masih hidup secara jasmani. Jadi, ancaman Tuhan di Keluaran 32:33 untuk menghapuskan nama orang yang berdosa dari “kitab” tersebut sama saja dengan memberikan hukuman mati baginya.
Permasalahan dengan teori ini adalah minimnya dukungan dari bagian Alkitab lain. Kita tidak membaca adanya suatu “kitab orang-orang yang sedang hidup.” Ini adalah suatu hipotesis liar yang diciptakan untuk menghindari adanya nama orang yang dihapuskan dari Kitab Kehidupan. Pembaca Alkitab harus selalu mengingat bahwa Alkitab secara keseluruhan sebenarnya adalah satu kitab, dengan satu penulis, yaitu Tuhan sendiri. Jadi, seluruh bagian Alkitab terhubung dalam konteks yang luas. Jadi, walaupun Keluaran 32 tidak spesifik menyebutkan Kitab apa yang dimaksud, Kitab yang paling penting disebut dalam seluruh Alkitab adalah Kitab Kehidupan. Lagipula, masih ada 2 perikop dalam Wahyu yang menegaskan bahwa nama-nama dalam Kitab Kehidupan masih bisa dihapus.
Ada juga argumen bahwa Wahyu 3:5 sama sekali tidak mengatakan akan ada nama yang dihapus. Ayat ini ditenggarai justru menegaskan bahwa nama orang-orang percaya tidak akan dihapus dari Kitab Kehidupan. Benarkah kesimpulan ini? Alkitab mengatakan bahwa bagi barangsiapa yang menang, Tuhan tidak akan menghapus namanya dari Kitab Kehidupan. Kalimat ini sendiri sudah memberitahu kita, bahwa ada kemungkinan nama seseorang dapat dihapus dari Kitab Kehidupan. Kalau berbicara mengenai hapus menghapus, berarti orang-orang yang dimaksud sudah tercantum namanya dalam Kitab Kehidupan. Ini cocok dengan perikop Wahyu 3:1-5 yang ditujukan, bukan kepada orang-orang dunia, tetapi kepada Jemaat di Sardis, yang minimal sebagiannya adalah orang percaya (ay. 4). Jadi, sebagai orang percaya, anggota-anggota jemaat Sardis ini sudah tertulis namanya dalam Kitab Kehidupan. Dengan kondisi tertentu (yaitu mereka yang menang), nama mereka tidak akan dihapuskan dari Kitab Kehidupan.
Tidak ada orang tua yang serius dan bijak yang akan berkata kepada anak-anaknya: “Barangsiapa yang manis tidak akan saya kirim ke bulan.” Ini adalah janji dan ancaman yang kosong, karena anak-anak itu memang tidak mungkin dikirim ke bulan. Saya yakin dan percaya bahwa Tuhan kita adalah mahabijak, mahabaik, dan tidak mungkin menipu kita dengan peringatan-peringatan dan janji-janji kosong. Bahwa Dia berkata, “barangsiapa menang…Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan,” berarti penghapusan nama itu adalah sesuatu yang dapat terjadi. Ayat ini memang adalah suatu janji untuk TIDAK MENGHAPUS, tetapi terkandung juga di dalamnya suatu peringatan bahwa yang “tidak menang” AKAN DIHAPUS. Penafsir Alkitab yang memilih untuk tidak mau mengakui adanya peringatan, tetapi hanya mau melihat janji untuk “tidak menghapus” sama saja seperti burung unta yang membenamkan kepalanya ke dalam pasir theologinya sendiri.
Kalau demikian, pertanyaan yang penting adalah, siapakah yang menang itu? Rasul Yohanes menjelaskan bahwa yang menang adalah mereka yang beriman (1 Yoh. 5:4-5). Jadi, kemenangan di sini bukanlah suatu kehebatan atau kemampuan seseorang, karena jika demikian, maka keselamatan pada akhirnya adalah karena pencapaian atau perbuatan manusia. Tidak, keselamatan bagaimanapun juga adalah karena kasih karunia melalui iman. Imanlah yang membuat seseorang menang atas dunia (1 Yoh. 5:5).
Tetapi, di bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa nama seseorang dicatatkan kepada Kitab Kehidupan pada saat ia mulai beriman. Lalu mengapakah dalam kitab Wahyu, orang yang menang (yaitu orang yang beriman), tidak akan dihapus namanya dari Kitab Kehidupan? Jawabannya adalah karena iman yang menyelamatkan bukanlah iman yang sesaat, melainkan iman yang bertahan hingga akhirnya. Jadi, imanlah syarat seseorang mendapatkan hidup yang kekal, dan imanlah yang membuat seseorang menang, yaitu jika ia tetap beriman hingga akhir hidupnya.
Dalam kondisi bagaimanakah nama seseorang dapat terhapus dari Kitab Kehidupan? Jawaban yang cocok dan konsisten dengan keseluruhan Alkitab adalah: jika ia menjadi tidak beriman lagi. Di bagian sebelumnya kita sudah membahas, bahwa ketika seseorang beriman, ia mendapat hidup yang kekal, dan namanya Tuhan tulis dalam Kitab Kehidupan. Maka, agar namanya terhapus, ia haruslah berubah dari seorang yang beriman menjadi seorang yang tidak beriman. Ini cocok dengan banyak ayat Firman Tuhan lainnya, misalnya: “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:2); “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya” (Ibr. 10:38); dan “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak” (2 Yoh. 1:9). Apakah pengajaran bahwa seseorang dapat kehilangan imannya sama dengan mengajarkan keselamatan karena usaha? Ini adalah salah satu batu sandungan yang membuat banyak orang tidak menerima pengajaran Alkitab yang sedemikian jelas. Ada banyak sekali ayat yang memperingatkan orang percaya untuk tidak meninggalkan iman. Namun, karena mengira bahwa pengajaran demikian sama dengan keselamatan karena usaha, mereka tidak mau mempercayai ayat-ayat Alkitab yang gamblang. Padahal, mengajarkan bahwa orang percaya harus tetap beriman, sama sekali tidak menentang keselamatan karena kasih karunia, malahan adalah pengajaran yang sangat Alkitabiah.
Adakah sesuatu yang harus seseorang lakukan agar ia selamat? Ya dan tidak. Tidak ada apapun yang dapat ia lakukan untuk membayar harga keselamatan itu. Seluruhnya sudah dilakukan dan dibayar penuh oleh Yesus Kristus. Namun tidak berarti bahwa semua manusia otomatis selamat. Mereka tetap harus melakukan sesuatu: yaitu percaya atau beriman! Oleh sebab itulah ketika kepada penjara Filipi bertanya, “Apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat,” Paulus menjawab: “percayalah kepada Yesus Kristus.” Percaya adalah sesuatu yang harus dilakukan sebagai syarat keselamatan. Dan “percaya” bukanlah suatu “usaha.” Tidak diperlukan usaha apa-apa untuk percaya. Bahkan, dalam Roma 4:1-5, Paulus membedakan antara “percaya” dengan “usaha.” Iman adalah sesuatu yang manusia dapat lakukan tanpa mengeluarkan usaha apapun. Oleh sebab itulah Paulus juga menulis kepada orang-orang Efesus, bahwa mereka diselamatkan karena kasih karunia oleh iman. Iman dan kasih karunia tidaklah bertentangan.
Demikian juga dengan orang yang telah diselamatkan, dan namanya telah tertulis dalam Kitab Kehidupan. Ia telah diselamatkan karena kasih karunia melalui iman. Iman adalah syarat namanya tercantum dalam Kitab Kehidupan. Oleh karena itu, jika ia menang (beriman hingga akhir), namanya tidak akan dihapus dari kitab tersebut. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan “usaha.” Sama seperti keselamatannya sejak awal bersyaratkan iman, dan ini tidak ada hubungannya dengan usaha manusia, demikian juga keselamatannya untuk seterusnya bersyaratkan iman, dan ini juga tidak ada hubungannya dengan usaha manusia. Harus dipahami bahwa ketika Alkitab mengajarkan bahwa orang yang sudah percaya harus tetap percaya (tetap beriman, atau tidak keluar dari iman, atau tinggal dalam iman) agar tidak terhapus namanya dari Kitab Kehidupan, Alkitab sama sekali tidak bertentangan dengan dirinya sendiri yang juga mengajarkan keselamatan karena kasih karunia melalui iman (Ef. 2:8-9).
VI. Teori Bahwa Nama Semua Manusia Tercantum Dalam Kitab Kehidupan
Kelompok kedua yang tidak suka dengan pengajaran Alkitab bahwa nama seseorang dapat terhapus dari Kitab Kehidupan adalah kelompok non-Kalvinis yang mempercayai OSAS (Once Saved Always Saved). Kelompok ini berbeda dengan kaum Kalvinis dalam beberapa hal penting. Untuk pembahasan topik ini, saya hanya akan menggarisbawahi bahwa Kalvinis percaya bahwa Yesus Kristus mati hanya untuk orang pilihan, sedangkan orang non-Kalvinis yang memegang OSAS percaya bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa seluruh dunia. Persamaan mereka, berkaitan dengan topik Kitab Kehidupan, adalah bahwa mereka sama-sama percaya bahwa orang beriman yang namanya tertulis di Kitab Kehidupan, tidak dapat terhapus lagi namanya dari Kitab itu. Kaum OSAS percaya bahwa sejak seseorang menerima Yesus Kristus, maka apapun yang terjadi ia pasti masuk Surga, termasuk jika ia meninggalkan iman.Oleh karena itu, seorang yang sudah beriman (satu kali pada awalnya), tidak dapat lagi terhapus dari Kitab Kehidupan.
Jadi, bagaimanakah kaum OSAS ini menjelaskan ayat-ayat seperti Wahyu 3:5 dan Wahyu 22:19 agar sesuai dengan kepercayaan OSAS mereka? Mereka membuat suatu asumsi yang mengubah segala sesuatu: mereka berasumsi bahwa semua manusia tertulis namanya dalam Kitab Kehidupan. Jadi menurut teori mereka ini, ketika seseorang lahir, namanya sudah ada dalam Kitab Kehidupan. Barulah ketika seseorang mati, jika dia mati tanpa Kristus, namanya dihapuskan dari Kitab Kehidupan. Ini berbeda dengan pendekatan yang kita pakai di bagian awal, yaitu bahwa seseorang dicantumkan namanya dalam Kitab Kehidupan saat ia percaya. Jika, benar demikian, maka ayat-ayat yang mengajarkan tentang penghapusan nama dari Kitab Kehidupan, mengajarkan juga bahwa orang yang sudah percaya dapat melepaskan kepercayaannya dan binasa. Sebaliknya, jika semua orang sudah tertulis namanya sejak awal, dan barulah terhapus dari Kitab Kehidupan saat ia meninggal tanpa Kristus, maka ancaman untuk menghapus nama seseorang dari Kitab Kehidupan sama sekali tidak berkaitan dengan apakah seseorang dapat meninggalkan iman yang benar kepada Kristus atau tidak. Perbedaan pendekatan ini akan menimbulkan perbedaan doktrin yang serius.
Jadi manakah yang benar? Sekilas tampak sepertinya kaum OSAS telah berhasil membuat suatu teori tentang Kitab Kehidupan yang dapat menyelamatkan OSAS. Namun, teori ini sama sekali tidak berdasarkan Alkitab. Ada banyak alasan mengapa teori bahwa nama semua orang sudah dari awalnya ada dalam Kitab Kehidupan sama sekali tidak Alkitabiah. Pertama, teori ini membuat adanya nama seseorang dalam Kitab Kehidupan menjadi sesuatu yang tidak penting. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya: “janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (Luk. 10:20). Perkataan ini tidak masuk akal jika kita mengikuti teori OSAS tentang Kitab Kehidupan. Mengapa harus bersukacita jika toh nama semua orang ada dalam Kitab Kehidupan, dan barulah akan dihapus atau dipertahankan pada saat seseorang mati? Ini sangat tidak masuk akal. Sebaliknya, perkataan Yesus ini mengindikasikan bahwa hanya orang-orang tertentu yang namanya ada dalam Kitab Kehidupan, yaitu mereka yang beriman, dan mereka ini patut berbahagia. Paulus juga menulis tentang “Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan” (Fil. 4:3). Sekali lagi, cara Paulus berbicara mengindikasikan bahwa hanya kelompok yang terbataslah yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, bukan semua manusia. Kalau semua manusia tertulis namanya, maka tidak ada yang spesial mengenai nama Klemens yang juga ada dalam Kitab itu. Intinya, sesuai dengan teori OSAS, kata-kata Paulus menjadi mubazir dan tidak berarti. Saya tidak percaya demikian, saya percaya teori OSAS-lah yang salah.
Kedua, teori ini tidak cocok dengan gambaran Paulus bahwa sebelum kita percaya kepada Yesus, kita “mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Ef. 2:1). Bagaimanakah seseorang yang mati dalam dosa dapat tercatat dalam Kitab Kehidupan?? Tentunya ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab. Oleh karena itulah teori OSAS mengenai Kitab Kehidupan terkesan sangat dipaksakan.
Teori ini adalah contoh bagaimana doktrin OSAS (suatu sistematika theologi) mempengaruhi penafsiran bagian Alkitab tertentu (biblika theologi). Tidak seharusnya demikian. Justru seharusnya, kita menyimpulkan apa yang Alkitab ajarkan tentang Kitab Kehidupan, tanpa bias, lalu mengambil kesimpulan itu untuk menilai apakah OSAS itu benar atau tidak.
Ketiga, teori ini bertentangan dengan penjelasan Alkitab lainnya mengenai Kitab Kehidupan. Rasul Yohanes, dalam Wahyu 13:8, mengajarkan bahwa ada orang yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan sejak dunia dijadikan. Wahyu 17:8 juga menegaskan hal yang sama.4 Dengan dua ayat yang cukup jelas ini, bagaimana mungkinkah ada orang yang tetap berpegang pada konsep bahwa nama semua manusia pada awalnya ada dalam Kitab Kehidupan? Alkitab sudah dengan tegas mengatakan bahwa tidak demikian. Adalah bagi kita untuk percaya dan menerima pengajaran Alkitab. Biarlah theologi kita cocok dengan Alkitab, sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk menyocokkan Alkitab kepada theologi kita.
VII. Hal-Hal Lain Mengenai Kitab Kehidupan
Bukan berarti kita telah memahami semua rahasia dan seluk beluk mengenai Kitab Kehidupan. Sama sekali tidak, justru sebaliknya, masih banyak hal yang tidak kita ketahui. Salah satunya adalah mengenai anak-anak yang meninggal sebelum mencapai umur dapat memahami Injil. Ada banyak sekali bayi yang mati sebelum mereka mengerti apa-apa. Mereka ini tentunya tidak dapat beriman atau percaya kepada Yesus Kristus, karena mereka bahkan belum bisa menggunakan logika untuk memahami konsep-konsep keselamatan. Apa yang akan terjadi kepada mereka?
Ada beberapa pengajaran utama mengenai hal ini. Ada gereja yang mengajarkan bahwa bayi orang percaya akan masuk Surga, sedangkan bayi orang yang tidak percaya akan masuk neraka. Sekilas pengajaran ini sepertinya masuk akal, tetapi pada kenyataannya tidak masuk akal dan juga tidak cocok dengan penyataan Alkitab mengenai sifat Allah.
Pengajaran ini membuat keselamatan seseorang (bayi) tergantung kepada orang lain (orang tuanya). Tidak pernah dalam Alkitab diajarkan konsep bahwa keselamatan seseorang ditentukan oleh orang lain. Konsep seperti ini sangat tidak fair bagi bayi-bayi orang-orang fasik. Tidak ada seorangpun yang dapat memilih kelahirannya. Kita tidak dapat memilih lahir di keluarga seperti apa. Tidaklah cocok dengan konsep keadilan hati nurani kita (yang diberikan Tuhan), bahwa ada bayi yang masuk neraka semata-mata karena orang tuanya tidak percaya. Bayi itu sendiri toh belum punya kesempatan untuk memilih apakah dia mau percaya atau tidak.
Lagipula, Tuhan pernah berfirman bahwa “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya” (Yehezkiel 18:20). Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak ada bayi yang akan masuk neraka karena ketidakberimanan ayah atau ibunya. Selain itu, ada pula gereja yang mengajarkan bahwa bayi pilihan akan masuk Surga, sedangkan bayi non-pilihan masuk neraka. Pengajaran ini cocok dengan konsep Kalvinisme, dan dalam sistem theologi Kalvinis, ini diterapkan bukan hanya pada bayi, tetapi kepada semua manusia. Tetapi doktrin ini juga sangat tidak memuaskan, karena jika demikian, betapa jahatnya Allah yang menciptakan sebagian bayi, hanya untuk masuk neraka.
Jadi, alternatif yang paling Alkitabiah adalah bahwa bayi yang mati sebelum usia akil balig (dapat mengerti, membedakan baik dan jahat), akan masuk Surga. Atas dasar apa? Bukankah bayi ini juga berada dalam dosa? Benar! Bayi sekalipun berstatus orang berdosa (Maz. 51:7), tetapi Yesus Kristus telah mendamaikan dosa seluruh umat manusia (1 Yoh. 2:2). Untuk manusia yang sudah sadar akan dosanya (sudah berdosa secara sadar), Tuhan mensyaratkan pertobatan dan iman agar karya penebusan Kristus di kayu salib dapat teraplikasikan pada dirinya. Jadi, walaupun Yesus telah mati bagi anda dan saya, tetapi penebusanNya itu baru berlaku bagi kita saat kita percaya. Tetapi, jika ada orang yang mati saat masih bayi (belum dapat mengerti tentang percaya Yesus), maka sebenarnya dosanya telah ditanggung oleh Tuhan Yesus.
Pertanyaan yang muncul secara alami adalah: kapankah bayi tersebut dicatat dalam Kitab Kehidupan? Alkitab tidak menjawab secara eksplisit. Namun bukanlah suatu hal yang mustahil jika Allah mencatatkan nama mereka pada saat mereka meninggal. Ketika seorang bayi meninggal, Tuhan melihat bahwa ia telah ditebus oleh Yesus Kristus, dan belum memiliki kesempatan untuk beriman (karena belum mengerti), sehingga Tuhan mengaplikasikan penebusan Yesus Kristus kepadanya secara langsung. Pada saat itu pulalah namanya tercatat dalam kitab kehidupan. Walaupun Alkitab tidak mengajarkan ini secara langsung, tetapi rangkaian pengajaran Alkitab yang lain mendukungnya.
VIII. Kesimpulan
Untuk merangkumkan semuanya, kita akan melihat lagi pengajaran-pengajaran Firman Tuhan mengenai Kitab Kehidupan. Kitab Kehidupan adalah suatu Kitab milik Allah (disebut Kitab-Ku dalam Keluaran 32:33, Kitab Kehidupan dari Anak Domba dalam Wahyu 13:8), yang berisikan nama-nama manusia. Orang yang namanya terdapat dalam Kitab Kehidupan tidak akan binasa (Wahyu. 20:15), melainkan mendapat hidup yang kekal (Lukas 10:20, Daniel 12:1). Hal ini merupakan suatu kebahagiaan yang besar (Lukas 10:20, Fil. 4:3), dan didapatkan melalui iman percaya kepada Yesus Kristus yang bertahan hingga akhirnya (Wah. 3:5). Jika seseorang yang tadinya beriman, lalu meninggalkan imannya, maka namanya dihapuskan dari Kitab Kehidupan (Kel. 32:32-33; Wah. 3:5; Maz. 69:29; Wah. 22:19).
Apakah syaratnya nama seseorang terhapus dari Kitab Kehidupan? Sesuai dengan pengajaran Alkitab lainnya, syaratnya adalah ia meninggalkan iman. Sebagaimana seseorang diselamatkan melalui iman, maka jika ia tidak beriman lagi, maka ia tidak lagi memiliki keselamatan itu. Dosa yang dimaksud dalam Keluaran 32:33 tidak dapat dilihat sebagai dosa-dosa perbuatan pada umumnya. Kita tidak percaya bahwa nama seseorang ditulis dalam Kitab Kehidupan, lalu dihapus, lalu ditulis lagi, lalu dihapus lagi, dan berulang kali demikian. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan menjadi milik pribadi saat seseorang percaya, dan jika ia murtad, maka ia tidak memiliki kesempatan kedua kalinya (Ibr. 6:4-6). Jadi, dosa yang dimaksud dalam Keluaran 32:33, yang menyebabkan nama seseorang terhapus, bukanlah dosa berbohong atau mencuri atau membunuh atau yang seperti itu, melainkan dosa meninggalkan iman percaya kepada Yesus Kristus. Demikian juga Mazmur 69:29 menggambarkan orang yang meninggalkan iman. Dalam Wahyu 22:19, seseorang yang sampai mampu sengaja menghilangkan bagian-bagian tertentu dari Alkitab, yang berarti ia sama sekali tidak takut kepada Tuhan, pastilah orang yang tidak lagi memiliki iman. Dan dengan demikian bagiannya juga dihapuskan dari Kitab Kehidupan.
Sebagai kesimpulan akhir, kita yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, dapat mengucap syukur dan berbahagia karena nama kita tercatat dalam Kitab Kehidupan (tidak demikian orang yang percaya bahwa nama semua manusia tercatat). Namun kita perlu tetap berada dalam iman, sebagaimana Alkitab ajarkan, dan Tuhan akan memelihara kita dengan kekuatanNya (1 Pet. 1:5).
Catatan Kaki / Footnotes
1 Tidak ada alasan untuk membedakan antara “kitab kehidupan” dengan “kitab kehidupan Anak Domba.” Anak Domba adalah Yesus Kristus, yang adalah pribadi kedua Allah.
2 Ada Kalvinis yang mengatakan bahwa Tuhan tidak menentukan siapapun untuk binasa, melainkan hanya “tidak memilih mereka untuk selamat.” Pada kenyataannya ini sama saja. Ketika hanya ada dua alternatif, selamat atau binasa, maka jika seseorang tidak dipilih untuk selamat, sama saja ia dipilih untuk binasa.
3 Sebagian pemegang OSAS berkata bahwa seorang yang sungguh sudah beiman tidak bisa meninggalkan iman.
4 Ada yang berpendapat bahwa frase “sejak dunia dijadikan” dalam Wahyu 13:8 bukanlah menjelaskan “tertulis” melainkan menjelaskan “Anak Domba yang telah disembelih.” Jadi penerjemahan Wahyu 13:8 adalah: “setiap orang yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih sejak dunia dijadikan.” Kalaupun penafsiran ini benar, dalam Wahyu 17:8 frase “sejak dunia dijadikan” jelas mengacu kepada tertulisnya nama.

Tidak ada komentar: