Minggu, 21 Desember 2014

MISI LUAR NEGERI ATAU EVANGELISME GLOBAL

BAB 17 MISI LUAR NEGERI ATAU EVANGELISME GLOBAL

OLEH ROBERT SPEER
Sekretaris Board of Foreign Missions of the Presbytarian Church, U.S.A, New York City

Argumentasi mengenai misi2 luar negeri pada umumnya tak perlu ataupun sia-sia.  Tak diperlukan dalam hal orang yang percaya; sia-sia dengan  orang yang tidak percaya. Namun tidak  seluruhnya demikian; karena seringkali yang percaya dan yang tidak percaya mendapatkan opini mereka dari tangan kedua, dan suatu studi tangan kesatu yang jujur mengenai fakta-fakta dan prinsip2 kegiatan misionari menjadikan golongan yang satu percaya dengan keyakinan yang lebih dalam dan harapan yang lebih teguh, dan menggoyahkan skeptisisme dan penentangan golongan yang lain yang tidak mengetahui baik tujuan maupun motif2 yang mengilhami gerakan tersebut.

Namun, oleh karena misi2 luar negeri  adalah gerakan  religius, dengan sendirinya argumentasi dasarnya adalah argumentasi religius, dan hanya dapat meyakinkan dalam perbandingan dengan pendirian-pendirian yang mendukung penerimaan sisanya. Sisanya pertama-tama ada di tangan Tuhan. Apabila orang percaya kepada Tuhan, mereka harus percaya pada misi-misi luar negeri. Adalah di dalam diri dan karakter Allah sendiri dapat ditemukan dasar yang paling dalam dari gerakan misionari. Kita tidak dapat berpikir tentang Allah melainkan dalam hubungan dengan syarat2 yang mengharuskan adanya ide misionari.

Dia adalah esa. Oleh karena itu tidaklah mungkin ada allah-allah suku atau ras seperti yang 

diakui pada agama-agama etnis di Timur, dan dipercaya di dalam politik-politik etnis di Barat. 

Allah apapun yang ada di Amerika ada untuk seluruh dunia, dan tidak ada yang lain. Dan hal itu 

tidak benar mengenai allah di Amerika yang tidak benar juga bagi allah di India. Kita tidak 

bebas untuk mempunyai konsepsi-konsepsi yang saling bertentangan mengenai Allah yang 

sama. Kalau memang ada satu Allah bagi saya, Ia harus juga Allah semua orang lain. Dan Allah 

itu sungguh-sungguh. Mengatakan bahwa Ia adalah esa hanyalah mengatakan bahwa Ia ada. 

Mengatakan bahwa Ia sungguh, adalah memulai  menggambarkan Dia, dan untuk  

menggambarkan bahwa hanya Dia yang dapat ada. Dan apabila Dia sungguh, tak mungkin Dia 

mengajarkan kepalsuan kepada manusia. Ia akan bergulat dengan ketidaktahuan mereka 

dalam mengajari manusia namun pasti bukan kehendak-Nya (atau kehendak-Nya sekarang) 

bahwa beberapa orang memiliki gagasan-gagasan palsu mengenai-Nya, atau berkelakuan 

palsu terhadap-Nya. Allah yang sungguh pasti ingin dikenal betul-betul oleh semua orang. Dan 

Allah adalah kudus dan murni. Tak mungkin ada sesuatu yang tak-kudus atau tak-murni 

padaNya. Apapun yang tak-kudus atau tak-murni menjijikkan bagi-Nya, dalam agama lebih 

lagi menjijikkan, karena lebih salah menggambarkan Dia, lebih menjijikkan kepada sifat-Nya. 

Apabila di manapun di dunia agama mencakup sesuatu yang tak-suci dan tak-berharga, di sana 

karakter Allah diserang. Padahal Allah hanyalah adil dan  baik. Tak ada bangsa ataupun orang 

dapat  menyelinap  keluar dari kasih Allah Bapak.  Setiap  ketidaksamaan atau kecurangan 

atau ketidakacuhan di dalam diri suatu allah yang ditawarkan, akan membuat kita mencari allah 

yang sunguh yang setahu kita belum ditemukan. Allah yang adalah idola-idola diChina, nasib di  

Arab, fetish di Afrika, dan orang sendiri dengan semua dosanya di India, tak akan menjadi 

Allah di manapun. Jikalau Allah adalah bapak manusia yang satu, Ia akan juga bapak semua 

orang, Kita tidak dapat berpikir tentang Allah, kata saya dengan hormat, tanpa menganggap 

Dia sebagai Allah misionari . Hanya  kalau kita bersedia menerima sesosok Allah yang 

karakterNya membawa serta seluruh kewajiban dan ide misionari, jikalau tidak, kita sama 

sekali tak usah mempunyai Allah.....        

Apabila orang percaya Allah di dalam Kristus, maka argumentasi ttg misi-misi menjadi lebih 

jelas. Oleh Kristuslah karakter Allah diungkapkan kepada kita. Salah satu ungkapan-Nya yang 

paling hebat dan tajam adalah pernyataan-Nya: “Saatnya akan tiba ketika engkau akan di 

bunuh, dan mereka mengira melayani Allah dan mereka melakukan hal-hal ini kepadamu 

karena mereka tidak mengenal Bapak atau Aku”. Kata-Nya, orang-orang yang terbaik di 

zaman-Nya, tidak mengetahui karakter Allah yang sebetulnya. Hanya mereka yang sungguh 

mengetahuinya  atau mengenalinya di dalamNya.  “Dia yang telah melihat Aku telah melihat 

Bapak. Tak seorangpun datang kepada Bapak kecuali melalui Aku. Tak seorangpun mengenal 

Anak kecuali Bapak dan tak seorangpun mengenal Bapak kecuali Anak dan hanya kepada 

siapa Anak ingin menyatakannya”.  Ini bukanlah kata-kata sembarangan, itu adalah pernyataan 

fakta. Penge- tahuan dunia  mengenai karakter Allah telah bergantung dan masih bergantung 

kepada pengetahuannya tentang Allah dalam Kristus. Allah yang baik dan berjasa, yang 

memadai dan memuaskan , yakni Allah sesungguhnya, hanya dikenal di mana orang telah 

mengenal pesan dari Kristus yang historis.

Fakta yang  sederhana ini mengandung sebuah tanggungjawab misionari yang lumayan. Orang 

hanya mengetahui  Bapak  yang baik dan penyayang sebagai Allah mereka, yakni mereka akan 

mengenal Allah hanya apabila mereka diberitahu mengenai Kristus yang adalah ungkapan Allah 

satu-satunya yang sempurna.  Bagi mereka yang memiliki pengetahuan ini untuk 

menyembunyikannya dari seluruh dunia, harus melakukan salah satu dari dua hal: mengutuk 

dunia ke dalam kehampaan Allah, dan untuk menanam kecurigaan bahwa mereka yang 

mengira bahwa mereka mengenal Allah sebetulnya tidak mengetahui apa Kristus itu dan Ia 

datang unuk melakukan apa.  “Adalah keyakinan jiwaku yang tulus dan dalam”, kata Philips 

Brooks, “jika aku menyatakan bahwa apabila  kepercayaan kaum Kristiani tidak memuncak 

dan menyempurnakan dirinya di dalam usahanya untuk memperkenalkan  Kristus kepada 

seluruh dunia, kepercayaan itu menurut pandangan saya, adalah sesuatu yang tak nyata dan 

takpenting, tanpa kekuatan untuk satupun hidup dan tak mungkin dibuktikan benar secara 

meyakinkan”.  Dan saya ingat sebuah ucapan Kepala Sekolah Rainy bahwa ukuran pengertian 

kita tentang tanggung-jawab misionaris sama dengan ukuran penghargaan pribadi kita 

mengenai Kristus. Jika IA adalah Allah untuk kita, seluruhnya untuk pikiran dan jiwa kita, kita 

akan sadar bahwa hanya DIA dapat menjadi demikian bagi setiap orang, dan bahwa IA harus 

disuguhkan demikian kepada semua orang. Pandangan yang unitaris tidak pernah melahirkan 

suati misi, kecuali di bawah suatu momentum yang terwarisi atau stimulus evangelikalisme yang 

telah diumumkan (?????), dan tak mampu mempertahankan misi-misi seperti yang telah 

dihasilkan. Namun, apabila orang sungguh-sungguh percaya kepada Allah di dalam Kristus, 

dan mengenal Kristus sebagai Allah. jikalau ia setia kepada dirinya sendiri atau kepada Dia, ia 

harus membagi-Nya dengan seluruh umat manusia.
Oleh karena, meskipun Dia adalah anak dari suatu ras dan satu masa waktu, dan ras itu  yang 

paling sentripetal dari semua ras, Kristus berpikir dan berkarya secara universal. Ia melihat 

jauh melalui segala abad dan keluar meliputi segala bangsa. Roti yang akan Ia beri adalah 

daging-Nya, yang akan Ia berikan bagi hidup dunia. Ia adalah terang seluruh dunia. Apabila Ia 

diangkat ke atas, Ia akan menarik seluruh manusia kepada diri-Nya. Murid-murid-Nya harus 

pergi ke seluruh dunia dan membuat murid-murid  dari seluruh bangsa. Domba-domba-Nya 

bukan hanya dari kawanan domba Yahudi saja. Bapak mengirim Dia tidak hanya untuk 

menjadi Penyelamat suatu bangsa, tetapi satu dunia.  Ia tidak menganggap diri-Nya sebagai 

salah satu dari banyak penyelamat dan wahyu-Nya sebagai salah satu dari banyak wahyu. Ia 

adalah satu-satunya Penyelamat manusia, dan wahyu-Nya adalah satu-satunya dari Allah 

Bapak.“Sudah sangat lama saya  berhenti menganggap sejarah bangsa Ibrani unik”, demikian 

seorang pemimpin Kristiani yang terkenal di zaman kita ini  menulis. “ Memang dahulu ajaran-

ajaran kita ditujukan kepadanya, dan kita melihat bagaimana bangsa Ibrani menemukan Allah  

di setiap event di dalam sejarah mereka, namun kita percaya bahwa Asiria dan Babilonia, 

Niniveh dan Roma mungkin juga menulis cerita seperti itu tentang apa yang Tuhan lakukan 

dengan mereka.”  Sekarang, apakah sejarah bangsa Ibrani unik ataupun tidak bukanlah urusan 

teori. Itu hanya urusan fakta. Jika bukan sesuatu yang unik, lalu di mana kesamaannya? Sejarah 

lain mana yang memiliki vokabuler untuk sebuah wahyu. Sejarah lain manakah memberi Allah 

kepada manusia?.  Sejarah mana berakhir dengan seorang Penyelamat? Sebuah fakta 

sederhana adalah agama Kristen yang muncul dari bangsa dan sejarah ini, adalah beda dari 

semua agama lain yang sejenis. Sebagai demikian, ia tak pernah bermaksud hal lain daripada 

meraih seluruh dunia. Apabila menciut menjadi sebuah kepercayaan rasial, ia akan memisahkan 

diri dari Pendirinya dan Hidup, dan akan sama sekali meninggalkan sifatnya yang pokok.

Tugas misionari tidaklah hanya merupakan sifatnya yang inherent dari agama Kristen dan dari 

pengertian  tentang Allah, yaitu dari sifat pokok Allah tetapi ia telah tertanam  di dalam tujuan 

Gereja Kristus. Di dalam Gereja pertama tidak terdapat organisasi2 misionaris. Tidak terdapat 

usaha-usaha memajukan propaganda, namun agama itu langsung menyebar dan di mana-mana. 

Jenius penyebaran global terdapat di Gereja. “Kita boleh menganggapnya sebagai fakta tetap” 

kata Harnack “bahwa adanya dan aktivitas terus-menerus komunitas-komunitas Kristen 

individual telah berbuat lebih banyak dari apapun untuk menyebarkan agama Kristen.

Uskup Montgomery di dalam buku kecilnya “Foreign Missions” ingat definisi tentang 4 abad 

Misi-misi oleh Uskup Besar Benson, “Pertama ketika seluruh Gereja bertindak sebagai satu 

badan; lalu ketika misi-misi dilakukan oleh orang-orang suci; ketiga aksi pemerintahan-2; dan 

terakhir abad organisasi-2 misi”.  Gereja pada mulanya adalah sebuah organisasi misi. Umat-

umat Kristen baru secara spontan tertarik oleh  kekuatan sebuah hidup umum, dan mereka 

secara spontan merasakan tekanan sebuah misi dunia. Tuntutan jaya misi itu beserta buah 

moral dari hidup yang baru dan mempersatukan ini merupakan alasan mereka.  Mereka tidak 

duduk di dalam tembok pembatasan institusi yang tersusun dan kaku untuk membentuk 

argumentasi beralasan untuk agama Keristen. Agama baru itu akan membusuk oleh klenik dan 

anemia menjadi dua generasi, apabila mereka berbuat demikian.

Seperti dikatakan oleh seorang penulis dari Gereja England: “Cara dengan mana Injil 

sepertinya dimaksudkan  untuk baik dipertahankan sekaligus diteruskan di dunia bukanlah 

dengan cara menjaganya dengan hati-hati sekali oleh suatu ordo yang terpilih dan disampaikan  

secara hati-hati kepada segelintir orang mulia, tetapi dengan cara disebarkan begitu luas dan 

ditaburkan begitu rapat sehingga menjadi mustahil, dari permulaan disebarkan, untuk 

mendongkelnya. Dimaksudkannya bukan seperti api abadi di kuil, untuk dipelihara terus 

dengan tekun dan rajin dan dipelihara dengan minyak istimewa; tetapi lebih seperti  terang yang 

bersinar dan me- nyala, untuk diletakakkan di atas setiap bukit, yang harus lebih lagi menyala 

dan terang diterpa angin dan terus menyebar di daerah sekitarnya sehingga di dunia tidak ada 

yang mampu mematikan atau menyembuni-kannya”. 
Doktrin Gereja yang sehat  telah dilindungi oleh aksi reflex higienis yang sehat dari pelayanan 

dan kerjaan serta penaklukan. Dan terang serta hidupnya telah meyakinkan orang, oleh karena 

mereka dilihat menaklukkan jiwa. Gereja didirikan untuk menyebar agama Keristen, dan untuk 

memper-tahankannya dengan satu-satunya cara dengan mana barang hidup dapat 

dipertahankan, adalah dengan tindakan-tindakan hidup. Jikalau di waktu kapanpun atau di 

Negara manapun Gereja telah melupakan hal ini, dia telah membayar untuk ketidakpatuhan ini. 

Selama di dunia ini atau di manapun ada hidup yang belum terjamah, urusan Gereja adalah 

tugas misionarisnya.

Alasan yang dalam keempat dari tugas misionari adalah kebutuhan manusia. Dunia sama 

membutuhkan Kristus sekarang, dan sungguh-sungguh,  seperti Dia dibutuhkan sembilanbelas 

abad yang lalu. Seperti Judaisme dan kekaisaran Roma membutuhkan apa yang dibawakan 

Kristus, Hinduisme dan Asia sekarang membutuhkannya.  Jika sekarang mereka tidak 

membutuhkan-Nya, tidak pula Dia dibutuhkan   waktu itu. Jika mereka dapat hidup juga tanpa 

Dia, maka seluruh dunia dapat berjalan terus tanpa Dia. Jika tidak ada tugas misionari, maka 

kebutuhan itu kehilangan alasannya dan karenanya juga dari di bawah realitas inkarnasi. 

Namun dunia itu yang didatangi-Nya benar membutuhkan Kristus. Manusia mati tanpa Dia. 

Dialah yang memberi mereka hidup, yang mencuci pencemarannya, yang mengajari mereka 

kesucian dan pelayanan dan kesamaan dan kepercayaan dan memberikan harapan dan 

persahabatan. Hanya Dia dapat melakukan itu sekarang. Dunia non-Kristani sekarang 

membutuhkan apa yang Kristus, dan hanya Kristus saja mampu melakukan. 

Yang dibutuhkan adalah keutuhan fisik, penyesuaian hidup kepada keadaan yang, sebetulnya, 

orang baru dapat berbanding dengan ia  memperoleh Allah. Kita tidak perlu pergi  untuk 

membuktikan kebutuhan itu mencari cerita2  yang terlalu diwarnai, atau disimpangkan oleh 

mereka yng hanya melihat baiknya agama Kristen dan hanya keburukan dari yang tidak 

bertuhan. “Heathenism” adalah kata yang bagus, dan ia menggambarkan fakta. Pernyataan Sir 

John Hewett sebagai Letnan-General, tentang kondisi sanitasi di United Provinces of India, 

mencukupi: “Pada umumnya, angka kematian yang telah dicatat di tahun2 belakangan di 

provinsi-provinsi, baik di kota2 maupun di desa2, adalah setinggi hampir 3 kali lebih tinggi dari 

di Inggris dan Wales. Diperkirakan bahwa di India hampir satu dari sepuluh orang dari 

penduduknya terus-menerus sakit dan orang yang telah terhindar dari penyakit dan bahaya di 

kala anak2 dan remaja, dan memasuki kedewasaan, harapan hidupnya tidk akan   lebih dari 

68 per sen dari waktu seseorang  pada situasi yang sama dapat di harapkan hidup di 

Inggris…... Kematian bayi hampir dua kali lipat dari angka di Inggris. Sangat disayangkan 

bahwa satu dari tiap empat anak lahir meninggal dunia sebelum dia mencapai hidup satu 

tahun…. Angka rata-rata orang tinggal per rumah (yang seringkali terdiri dari 2 ruangan, atau 

hanya satu), adalah 5,3 di kota2 penting, dan 5,5 di sisa negeri itu.  Diperkirakan bahwa rata-

rata ukuran area permukaan per kepala dari penduduk adalah 10 sq.ft. dan area bernafas 150 

sq,ft. – hanya setengah dari yang dibuthkan rumah-rumah tinggal biasa di Inggris.”  Keadaan di 

Negara-negara Krstiani bukan keadaan yang seharusnya, namun keadaan mereka jauh lebih 

baik dari keadaan di negri-negri lain, dan dalam perbandingan karena mereka adalah Kristiani, 

kelaparan,  penyakit dan kebutuhan telah diatasi. Apakah  anugerah2 itu akan menjadi milik 

kita saja?
Dunia membutuhkan pesan sosial dan penyelamatan dari Agama Kristen. Paulus 

mememberitahu kita bahwa kedua hal itu memenuhi dan menaklukkan ketidaksamarataan 

masa kini, jurang antara penduduk dan orang asing, majikan dan budak, wanita dan pria. Ini 

masih merupakan jurang-jurang di dunia bukan-Kristen. Tidak terdapat  suatu ideal dari 

persaudaraan antar-manusia kecuali jika telah mendengarkannya dari agama Kristen. Tak 

satupun  dari agama-agama atau peradaban non-Kristen telah memberikan baik wanitanya 

maupun anak2-nya, terutama anak-anak perempuan, hak-hak mereka.  Ada sih rasa kasih 

saying manusiawi. Pernyataan dari seorang penulis belum lama ini , mengenai negeri China, 

bahwa mereka ditelurkan dan tidak dilahirkan”, tentu sama sekali tidak benar kecuali di tingkat 

kehidupan yang paling rendah. Tetapi pepatah wanita-wanita Arab di Kesrawan juga memberi 

kesan pendirian Asia: “Di ambang pintu orang menangis selama 40 hari apabila yang lahir 

adalah seorang anak perempuan”.  Dan antara pria dan pria lain di dunia  itu tidak dikenal 

suatu dasar humanitas yang umum, atau kalaupun dikenalnya, tidak terdapat dukungan dan 

sumber2 untuk realisasinya. Per- saudaraan hanya terdapat di antara kepercayaan atau di 

antara suku, tidak begitu menyeluruh seperti kemanusiaan. Yang dibutuhkan ialah apa yang 

dibutuhkan oleh seluruh dunia, sampai mereka menemukannya melalui Kristus.

“Di gereja-gerejanya yang kecil-kecil, di mana tiap anggota memikul 
beban tetangganya, jiwa Paulus,” kata Harnack, “sudah mlihat menyingsingnya fajar 

kemanusiaan  baru, dan pada Surat kepada umat di Efesus ia telah menyuarakan perasaan ini 

dengan pekik memuji. Jauh di belakang gereja-2 itu, seperti suatu kemiripan yang tak-

substensial, terdapat pembelahan  antara Yahudi dan yang bukan, Junani dan Barbar, besar dan 

kecil. Kaya dan miskin. Karena sekarang telah muncul kemanusiaan baru dan sang Rasul 

melihatnya sebagai tubuh Kristus, di mana semua anggota masing-masing melayani  yg lain, dan 

masing-masing mempunyai tempatnya sendiri dan tak dapat digantikan”.

Gagasan sosial Kristen masih hanya sebagian terealisasi oleh kita. Namun  jika kita tidak 

memilikinya untuk kemanusiaan, kita tidak memiliki sama sekali, dan ia hanya dapat dibuat 

menyebar di manapun hanya dengan dibuat menyebar ke mana-mana.

Tambahan lagi, dunia membutuhkan ideal moral serta kekuatan moral agama Kristen. 

Gambaran-gambaran Kristiani mengenai kebenaran dan kemurnian dan kasih sayang dan 

kekudusan serta pelayanan adalah asli. Semua ideal di luar ideal Kristiani adalah bercacat. Tiga 

buah ideal lain ditawarkan kepada umat manusia. Ideal atheis yang lain itu ialah  Muslim dan 

Yahudi. Ideal Muslim secara gamblang mengizinkan poligami, dan otoritet pendirinya dipuji 

membenarkan suatu kepalsuan.  Ideal Yahudi sama sekali terbenam  dalam dan dibawahi oleh 

agama Kristen. Budhisme dan Shintoisme serta Confucianisme menawarkan kepada manusia 

ideal-ideal atheistis, yakni ideal-ideal yang  melepaskan gambaran  kuasa mutlak dan tidak 

dapat meraih lebih tinggi dari sumber mereka manusia yang menciptakan mereka. Hinduisme 

dengan pantheisme-nya tidak mampu mencapai perbedaan-perbedaan moral, yang mana 

merupakan satu-satunya syarat untuk menghasil idealideal mral, dan sesungguhnya pebedaan-

perbedaan moralnya yang sekarang telah didapatnya dari pengaruh agama Kristen. Namun 

yang diperlukan dunia bukan hanya ideal-ideal tetapi kemampuan untuk merealisasikannya. 

Kemampuan itu hanya dapat diperoleh di dalam hidup, di dalam hidup Tuhan disalurkan 

kepada manusia. Siapa yang menawarkan ini atau pura2 menawarkannya kecuali Kristus? 

Bagaimana mungkin ditawarkan oleh agama-agama yang tidak mempunyai Allah, atau yang 

allahnya tidak memiliki karakter?

Karena ini adalah kebutuhan besar dunia. Ia membutuhkan pengetahuan-nya dan hidupnya 

Tuhan yang baik dan kebapakan. Agamanya sendiri tidak memberikannya hal-hal ini, dan 

kepercayaan mereka sendiri mulai hancur. Agama Kristen telah melepaskan kumpulan-

kumpulan kecil dari mereka, tetapi pengaruh Kristen telah meresapi mereka hingga ke 

sumsumnya.  Jika dibiarkan, itu akan memerangi elemen-elemen jahat mereka dan memeilihara 

semua hal di dalam manusia yang dapat diselamatkan. Namun, hal itu tidak akan dibiarkan.  

Pengaruh2 lain bekerja  mempengaruhi gambaran-gambaran religius dari dunia non-Kristen, 

dan di bawah pengaruh-pengaruh itu gambaran dan institusi agama-agama non-Kristen pasti 

mengalami malapetaka.  Belum pernah sebelumnya manusia dihadapkan kepada 

tanggungjawab seberat yang sekarang dihadapinya. “Kepercayaan dan adat2 dari suku-suku 

bukan-Kristen”, kata Lord Bryce waktu dia berada di Amerika, ditakdirkan untuk hilang, dan 

menjadi hal yang sangat, sangat penting untuk mengusahakan bahwa  mereka segera diberikan 

prinsip-prinsip moral lebih tinggi dan religius  untuk mengantikan yang sedang hilang; dan untuk  

berusaha menemukan cara-cara untuk mencegah kesalahan atau kejahatan para avonturir dan 

lain-lain yang akan mencoba menfaatkan ras-ras yang tak beradab menjadi rintangan terhadap 

menyebarnya agama Kristen”  Bangsa-bangsa Kristen di sini berhadapan muka dengan 

keputusan.

Di seluruh dunia bukan-Kristen terdapat banyak orang yang sadar akan kebutuhan mereka. 

Mereka mungkin tidak menganggan agama Kristen sebagai jawabannya. Tidak juga 

mengherankan  bila demikian. Bagaimana agama Kristen tidak salah-menawarkan agamanya 

kepada mereka?  Tetapi, mereka tahu kebutuhannya. “Anda bicara seakan-akan Negara kita 

sudah menjadi barang mati,” kata salah seorang di dalam Dialog Uchimura mengenai “Hari 

Depan Negara Jepang” “Ya”, jawabnya, “Negara yang tak bermoral sudah mati, Dengan 

segala  pameran stabilitasnya, negara yang tanpa ideal tinggi adalah sebuah mayat mati, Jepang 

di bawah Pemerintahan Satsuma Chosu adalah negara mati “.  “Anda bicara dengan sangat   

pasti”.  “Ya” jawab Uchimura, “Saya harus; saya tidak tahan melihat Negaraku mati”.  Dan 

banyak orang di Asia yang tidak ingin Negara-nya mati, yang telah berbalik ke Kristus.

“Di mana-mana di India”  tulis Dr. Cuthbert Hall kepada  para misionaris di sana, ketika dia 

meninggalkan Negara itu, dengan kebutuhan India di dalam hatinya dan racunnya di dalam 

darahnya, “di mana2 di India orang tidak bersedia untuk memihak pada suatu golongan Kristen 

yang baginya  bentuk-bentuk populer dari kepercayaan lama telah tidak mencukupi, kalau 

tidak dibencinya, dan untuk siapa nama Jesus  Kristus, dan kebenaran2 khusus yang terhubung 

dengan nama itu bagi keslamatan manusia dan membangunan-kembali tata-tertib sosial, mulai 

menarik dan berharga.

Kenyataan bahwa dunia mulai sadar akan kebutuhannya, apakah ia mengenal Kristus atau 

tidak, menambah suatu rasa sedih kepada permohonannya yang membisu kepada mereka yang 

menjaga Injil Allah di dalam Putra-Nya.

Karena hanya Injil itulah yang dapat memenuhi kebutuhan dunia. Niaga dan pemerintahan, 

filantropi dan pendidikan, hanya menanganinya secara dangkal, dan di dalam tangan orang 

yang dangkal pikirannya atau yang jahat, akan diperburuk. Yang diperlukan adalah suatu 

kekuatan yang akan membabat hingga ke akarnya, yang menangani hidup dalam nama dan de- 

ngan kuasa Allah, yang melaju langsung kepada jiwa dan membangun kembali karakter, yang 

menyelamatkan manusia satu demi satu.  Dan di sini kita langsung menhadapi persoalannya, 

dan untuk tidak mengelak atau membingungkan, saya akan membeberkannya supaya tidak 

salah. Adalah tugas kita untuk membawa agama Kristen kepada dunia karena dunia harus 

diselamatkan dan hanya Kristus dapat menyelamatkannya dari kekurangan dan penyakit dan 

ketidakadilan dan ketidaksamaan dan ketidakmurnian dan keserakahan dan keputusasaan dan 

ketakutan, oleh karena orang sendiri-sendiri harus diselamatkan dari dosa dan kematian dan 

hanya Kristus dapat menyelamatkan mereka. Kuasa-Nya adalah satu-satunya yang akan 

memaafkan dan melahirkan kembali. Yang akan meraih cukup dalam untuk menjelmakan 

kembali dan akan menahannya hingga penjelmaan sempurna.

Dan agama Kristen melakukan ini dengan langsung menggapai seorang individu dan 

menyelamatkannya. Ia diselamatkan oleh kuasa Allah di dalam Kristus, bekerja di dalam dan di 

atasnya.

Tugas misionarislah  tugas ini.  “Saya anggap pendidikan”, kata Uchimura, “pada dasarnya 

pribadi dan individualistis” Dan ia menggunakan kata pendidikan dalam arti luasnya. Arti 

pendidikan adalah lebih dari ini. 
Masyarakat adalah lebih dari sub-total individu, tetapi ia mulai dan berakhir dengan individu, 

dan kebutuhan dunia terutama adalah kebutuhan para individunya, dan penyelamatan dunia 

dengan cara Kristus hanya dapat merupakan satu-satunya penyelamatan jiwa melalui 

penyelamatan jiwa-jiwanya.

Beberapa tahun yang telah lewat kita banyak mendengar tentang kebutuhan akan pendidikan 

dan pemberian peradaban kepada dunia sebelum kita berusaha untuk mengubah agamanya. Dr 

George Hamilton mengemukakan argumentasi ini pada General Assembly of the Church of 

Scotland pada tahun 1796:

“Untuk menyebarluaskan pengetahuan Injil di antara ras-ras tak beradab dan tak ber-Tuhan 

menurut saya  sangat tak-masuk akal se- jauh dapat diantisipasi, lebih-lebih lagi malah 

memutarbalikkan urutan alam. Orang harus berbudi halus dan sopan tingkahlakunya sebelum 

mereka dapat diberi penerangan tentang kebenaran-kebenaran religius. Filsafat dan belajar, 

semestinya, harus mendahului. Memang, hampir sama tak masuk akalnya untuk membiarkan 

wahyu mendahului peradaban dalam urutan waktu, dari pada berpura-pura menerangkan 

kepada seorang anak kecil ‘Prinsipia’ Newton sebelum ia sama sekali mengenal aksara-aksara 

alphabet. Ide-ide ini menurut saya sama beralaskan kesalahan, dan oleh karenanya, saya 

menganggap kedua-duanya sama romantisnya dan khayalan”.

Sekarang ini kita tidak mendengar demikian banyak lagi tentang pendapat ini. Peradaban telah 

menunjukkan betapa sombong dan kosong hal ini dan kita tahu bahwa dosa dan nafsu di dalam 

hati manusia, yang tak dapat di musnahkannya, adalah sama nyata dan mengerikan di Amerika 

dan di semua negara netral seperti di negara-negara yang sedang berperang. Allah adalah 

satu-satunya yang dibutuhkan manusia. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya atau 

membuat dirinya menjadi sesuatu sendiri. Ia membutuhkan apa yang Allah dan hanya Allah saja 

dapat melakukan untuknya. Apabila hal itu benar bagi Eropa dan Amerika maka hal itu juga 

benar untuk seluruh sisa dunia. Jesus Kristus adalah satu satunya Penyelamat manusia, dan 

setiap manusia di dunia yang memerlukan Penyelamat berhak mencari mereka yang mengetahui 

tentang Dia untuk mencerita tentang Dia kepada seluruh umat manusia.

Meskipun sebagai suatu gerakan religius semata-mata, namun ada beberapa orang yang tidak 

menyetujui misi-misi ke luar negeri dengan ala- san bahwa terdapat agama-agama lain di dunia 

yang benar bagi para pengikutnya. Dan  yang memenuhi kebutuhan mereka sama sungguh-

sungguhnya seperti kebutuhan kita dipenuhi oleh agama Kristen.  Kata mereka 

membandingkan dengan jujur agama Kristen dengan agama-agama-2 lain, menghancurkan 

tuntutan agama Kristen dan membuat misi- misi tak diperlukan. Apakah ini benar? Apakah 

kesimpulan-kesimpulan yang disuguhkan oleh suatu perbandingan demikian?

 Pertama-tama adalah suatu kenyataan yang signifikan bahwa 
agama Kristen adalah satu-satunya agama yang mencoba merealisasikan klaimnya untuk 

universalisme. Tak ada satupun agama yang non-Kristen sungguh-sungguh mencoba 

melakukannya. Agama Muslim berkembang di Afrika dan India, tetapi  mereka tidak berusaha 

untuk mengubah Amerika  atau Eropa atau Jepang. Batas-batas Confucianisme sedang 

mengkerut. Shintoisme telah mengundurkan diri dari daftar relegi dan hanya menuntut tempat 

sebagai ritus ceremony di istana dan ritus penguburan. Zoroastrianisme, salah satu agama kuno 

yang paling berjasa, sudah hampir punah di tanah airnya sendiri dan termasuk memiliki sedikit 

pengikut di India. Hinduisme secara geografis kurang, kecuali sebagai fisafat oleh karena 

prinsipnya mengenai kasta, dan Budhisme ditolak di Jepang,  justru oleh mereka yang ada 

kemungkinan dapat berhasil menye- barkannya di tempat-tempat lain.  Tetapi, agama Kristen 

bergerak keluar ke seluruh dunia dengan kekuatan yang terus meningkat, dengan agen-agen 

yang terus meningkat jumlahnya, dengan kesetiaan yang terus meningkat dengan tujuan yang 

terbuka dan tak terjerakan untuk membuat persediaan bagi kerajaan Kristus menguasai dunia.  

Dan tidak kurang mengagumkan daripada  kenyataan dari maksud missionaries agama Kristen 

adalah  caranya. Dengan tanpa mengandalkan dukungan dari dunia terpelajar, meskipun 

menghadapi  semua fitnah yang menuduh kebalikan-nya, dengan hanya perwakilan-perwakilan 

yang murni moral dan dengan membandingkan secara jujur harta karunnya dengan apapun 

yang dapat disuguhkan oleh dunia, agama Kristen maju terus tanpa takut  menghadapi seluruh 

hidup dan pikiran manusia dan menyelesaikan masa- lah-masalahnya dan memenuhi 

kebutuhannya di dalam nama dan kekuatan Tuhan.

Dasar dari semuanya adalah ide dari Allah. Di sini semua agama 
menjadi satu untuk di nilai. 

“Kebenaran dan kebaikan yang terdapat di dalam semua bentuk agama ialah, bahwa di 

semuanya, manusia mencari Allah. Finalitas agama Kristen terdapat di dalam fakta bahwa ia 

mengkungkapan Allah yang dicari oleh manusia”.  (Jevons, “Introduction to the Study of 

Comparative Religion”, hal. 258.).

Yang terbaik yang dapat dikatakan  mengenai agama non-Kristen yalah bahwa ia mencari apa 

yang sudah dimiliki oleh agama Kristen – Allah yang benar dan sempurna. “Gambaran Allah 

dengan mana agama Kristen menyapa dunia, adalah yang terbaik yang manusia dapat bentuk 

atau miliki”.

Apabila ditanya, “Apakah kesempuraan agama Kristen sehingga ia berhak menjadi agama 

misionaris dan pantas diterima oleh seluruh dunia?” – jawabannya adalah:
“Agama Kristen berhak untuk menjadi agama misionaris dan menggantikan semua agama yang 

lain karena Allahnya”. 

“Terdapat banyak keagungan di dalam agama Jesus Kristus dan banyak layanan dapat 

dilakukannya bagi manusia; namun keagungannya yang paling utama, atau lebih tepat jumlah 

dari semua keagungan itu, adalah Allahnya. Agama Kristen memiliki gambaran dari Allah  yang 

begitu agung  seperti tak dimiliki agama lain manapun; dan lebih-lebih lagi, ia menyatakan dan 

menjalani suatu pengalaman Allah seperti tidak pernah di- ketahui manusia dimanapun. Dalam 

hal inilah kita menemukan superioritas yang membuat agama Kristen layak menawarkan dirinya 

kepada seluruh dunia.

“ Perlu kiranya menyatakan dengan sedikit kata-kata apa sebenarnya Allah ini yang adalah 

keagungan agama Kristen dan azas keberaniannya dalam kemajuan-kemajuan misi – Allah ini 

yang begitu luar biasa sempurnanya se  hingga semua orang pasti sanggup melupakan agama 

mereka sendiri, jika- lau saja mereka mengenal Dia.  Allah agama Kristen adalah satu, satu-

satunya sumber, Raja dan akhir dari segalanya. Ia adalah kudus, karena memiliki di dalam 

Dirinya sifat yang merupakan standar kelayakan bagi semua manusia. Ia adalah kasih, yang 

mengulurkan tanganNya untuk me- nyalamatkan dunia dari dosa dan mengisinya dengan 

kebaikan diri-Nya sendiri. Ia bijaksana, dan mengerti bagaimana melaksakan keinginan hati-

Nya. Dalam hatinya Ia adalah seorang Bapak, menganggap semua ciptaan-Nya seperti 

milikNya, dan menginginkan kesejahteraannya. Segala kebenaran tentang Diri-nya ini, telah Ia 

ungkapkan  di dalam diri Jesus Kristus Penyelamat dunia, di dalam siapa kehendak menyelamatkan-Nya telah ternyatakan , dan kasihNya yang menyelamatkan  telah sampai kepada umat manusia”.

Dibandingkan dengan gambaran Allah ini, pendapat-pendapat yang telah kita lihat yang 

dipegang oleh agama-agama non-Kristen tentang Dia, tak perlu disorot bahwa agama Kristen 

memegang hak utama di antara umat manusia.

” Sebuah agama yang dapat menyatakan Allah yang demikian, dan menyatakannya berdasarkan pengalaman, cocok  bagi semua orang, dan layak bagi penerimaan oleh semua. Oleh karena agama Kristen adalah agama Allah yang demikian, maka 

agama Kristen layak memiliki dunia. Ia berhak untuk berani menawarkan dirinya kepada 

semua orang, dan untuk menggantikan semua agama lain , oleh karena tak satupun agama itu 

menawarkan apa yang dibawanya. Ia merupakan yang terbaik dari seluruh isi dunia. Oleh 

karena ajaran dan pengalamannya adalah dari Allah yang sempurna, maka ia adalah yang 

terbaik yang dimiliki dunia. Isinya dapat saja digelar dan diketahui dengan lebih baik, namun  

pada dasarnya  tidak dapat diperbaiki.  Intinya, agama Kristen adalah pengungkapan Allah 

yang sempurna yang melakukan karya kasih  dan kekudusan sempurna bagi para ciptaan-Nya, 

dan mengubahnya menjadi kesamaan-Nya sendiri agar mereka akan melakukan karya-karya 

kasih dan kekudusan terhadap sesamanya. Tak ada yang melebihi ini. Oleh karena itu, agama 

Kristen mempunyai hak penuh untuk menjadi sebuah agama misionaris, dan orang-orang 

Kristen dipanggil menjadi umat misionaris”. 

Dari gambaran Allahnya yang unik dan cukup, disimpulkan bahwa
agama Kristen memiliki sebuah pesan kepada dunia  penuh dengan catatan-catatan yang 

tidak/tidak dapat dimiliki oleh agama-agama bukan-Kristen. Bahkan gagasan-gagasan yang 

oleh beberapa dari agama-agama itu dimiliki sama seperti agama Kristen, seperti “kepercayaan 

adanya hidup setelah mati, perbedaan antara benar dan bersalah, dan bahwa yang disebut 

belakangan pantas di hukum; dalam hal perlu adanya penebusan dosa; dalam hal kemujaraban 

doa; dalam hal adanya secara universal, semacam kekuatan spiritual”, kepercayaan pada 

kedaulatan Allah, pada adanya imanensi pada Allah; pada fananya dan sombongnya hidup di 

dunia ini di satu pihak  dan di lain pihak arti yang tak-terbatas dari hidup ini dan kudusnya 

golongan manusia, -- memiliki hubungan  dan arti di dalam agama Kristen, dengan Allahnya 

yang sempurna, yang membuat mereka sama sekali berbeda dari pengertian-pengertian 

agama-agama lain.  Dan di samping ini, agama Kristen mempunyai sedunia banyaknya 

gambarannya sendiri – kebapakan Allah, persaudaraan antara manusia, penyelamatan, 

ingkarnasi Allah dengan pribadi, penebusan, karakter, pelayanan, persahabatan.

Di dalam pengertiannya tentang dosa, di dalam ketetatapannya untuk 
pengampunan dan penaklukan dosa dan dalam ideal-idealnya tentang penyelamatan dan 

penawaran penyelamatan cuma-cuma kepada setiap orang, agama Kristen berdiri sendiri, unik, 

dan memuaskan. Agama Kristen melihat dosa sebagai kejahatan yang paling hina di dunia, ia 

menganggapnya sebagai kurangnya penyesuaian kepada kehendak Allah yang sempurna, atau 

sebagai pelanggaran hukum-Nya yang sempurna; ia mengajarkan bahwa dosa bukanlah hanya 

sebuah aktivitas yang dilakukan, tetapi juga urusan  pikiran dan  keinginan2 yg ternoda sifatnya; 

ia menyatakan bahwa Allah tidak bertanggungjawab atasnya atau  atas kejahatan apapun; ia 

menekankan salahnya dan kekejiannya, dan akibat-akibatnya yang mematikan baik untuk 

waktu  dan untuk abadi, dan ia membuka jalan bagi manusia yang penuh dengan  

pengampunan dan kemenangan bersih. Berlawanan dengan pendapat ini, Mohamadanisme 

mengajar  bahwa dosa hanyalah pelanggaran hukum  Allah yang disengaja; dosa yang 

dilakukan karena tidak dimengerti tidak diakuinya; doktrinnya mengenai kedaulatan Allah 

menetapkan tanggungjawab untuk berdosa kepada Allah dan meniadakan perasaan bersalah , 

dan ia tidak mengakui noda jahat dari dosa di dalam sifat manusia.  Dalam Hinduisme dosa 

sebagai perlawanan terhadap kehendak seorang Allah tidak dapat diterima; ia merupakan  

akibat yang tidak dapat dihindari dari tindakan-tindakan pada keadaan sebelum ini; ia adalah 

jahat oleh karena semua keadaan dan semua tindakan baik ataupun buruk adalah kejahatan, 

dan ia adalah ilusi, segala sesuatu adalah ilusi. Dalam Buddhisme murni tidak terdapat (“kin” = 

sin??) dosa dalam arti seperti kita karena tidak dikenal Allah; bagi mereka dosa berarti ‘haus’, 

‘keinginan’, dan apa yang oleh Buddhisme ingin dihindari bukanlah jahatnya hidup tetapi hidup 

itu sendiri; dan pengertiannya mengenai dosa-dosa yang menghalanginya, meskipun 

memasukkan banyak yang immoral, namun tidak memasuk-kan semuanya dan sebaliknya 

tidak memasukkan banyak yang tidak memiliki karakter immoral sama sekali. Konfucianisme 

tidak menyebutkan hubungan manusia dengan Allah dan sama sekali tidak memiliki pengertian 

dosa. Pendek kata, agama Kristen adalah satu-satunya agama yang jelas-jelas menyimpulkan 

penyakit manusia dan menemukan apa yang harus disembuhkan dan yang berusaha untuk 

menanganinya secara kekal dan  radikal.

Dan dengan demikian, juga, hanya agama Kristen mengetahui penyela-matan apa yang 

dibutuhkan oleh manusia, dan menyediakan perlengkapannya. Di dalam agama Kristen  

penyelamatan adalah penyelamatan  dari kekuatan dan keberadaan dosa, dan juga dari rasa 

bersalahnya dan rasa malunya. Tujuannya adalah karakter kudus dan pelayanan dalam kasih. 

Hal itu tersedia bagi manusia di sini dan sekarang. Di dalam pengertian Mohamedanisme 

penyelamatan  terdiri dari pembebasan dari hukuman, dan pembebasan bukan  oleh penebusan 

dan pengorbanan kasih, tetapi oleh kedaulatan Allah yang absolut. Ide agama Hindu mengenai 

penyelamatan  adalah luput dari penderitaan yang menyertai hidup, dibebaskan dari 

keberadaan pribadi, dan disadari. Dan kebebasan ini harus dimenangkan dengan pengetahuan, 

karena pengetahuan adalah pengakuan identitas dasar jiwa dengan Brahma, Allah yang tidak 

berpribadi, atau dengan cara devosi, di mana devosi bukanlah  kepercyaan  kepada Allah yang 

bekerja untuk jiwa, tetapi pemeliharaan oleh jiwa dengan sifat penyelamatan terhadap dewa 

yang dipilih untuk dipuja.  Ini adalah Hinduisme yang sebenarnya, bukan  doktrin Para Veda 

yang lebih mulia. Dalam Buddhisme penyelamatan adalah ketiadaan keberadaan. Memang, tak 

diakui adanya jiwa dalam  Buddhisme. Hanya ada Karma, atau karakter yang tetap bertahan, 

dan tiap manusia harus menjalani Karmanya tanpa bantuan. “├ôleh diri sendiri”, ditulisnya di 

dalam Dhammapada, “kejahatan  dilakukan, oleh diri sendiri orang menderita, oleh diri sendiri 

kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri orang disucikan. Lihatlah, orang tidak dapat saling 

mensucikan”.  Buddhisme Utara yang terbaik paling dekat pada agama Kristen dalam 

penggambarannya tentang penyelamatan oleh iman kepada Amitaba Buddha, namun di sini pun 

penyelamatan  berarti pembebasan dari kebutuhan dilahirkan kembali berkali-kali, bukan 

diciptakannya suatu karakter baru untuk pelayanan manusia dalam loyalitas Ilahi. 

Konfucianisme tidak memiliki kepercayaan tentang penyelamatan. Jiwa Cina harus, untuk 

memenuhi kebutuhannya, menghadapi lain-lain guru. Dalam hal idealnya dan penawaran 

penyelamatan agama Kristen berdiri sendiri. (Kellogg, “Comparative Religion,”  chapters IV, 

V)

Agama Kristen adalah satu-satunya agama yang sekaligus historis,
progresif dan bebas secara spiritual. Oleh karena itu ia adalah satu satunya agama yang dapat 

mengakui kekuasaan universal.  Tiap agama di dunia telah mengisi tempat di dalam sejarah, 

tetapi Mohamedanisme adalah satu-satunya yang fakta-fakta historisnya are essential to it, dan 

seperti dikatakan oleh Uskup Westcott:

“Agama Kristen adalah historis bukan hanya dalam arti di mana, umpamanya Mohamedanisme 

adalah historis, karena fakta-fakta yang berhubungan dengan asal-usul dan pertumbuhan 

agama ini, dengan kepribadian dan hidup Pendirinya, dengan pengalaman dan perkembangan 

doktrin-Nya, dapat ditelusuri di dalam dokumen-dokumen yang cukup untuk menjamin 

kepercayaan; tetapi juga dalam arti yang sangat jauh. Ia adalah historis dalam hal anteseden2-

nya, dalam hal realisasinya, dalam hal dirinya sendiri; ia adalah historis dalam hal memahkotai 

suatu massa panjang latihan religius yang dilakukan  di bawah pengaruh fakta-fakta Ketuhanan; 

ia adalah historis dalam hal telah dinyatakan dengan sepenuhnya dari abad demi abad ke dalam 

sebuah masyarakat luar oleh Roh Allah; tetapi yang terpenting, dan sangat khas, ia adalah 

historis oleh karena pengungkapan yang ia bawakan adalah mengenai hidup dan di dalam 

hidup. Sejarah Kristus adalah Injil dalam terangnya dan di dalam kekuatannya.  Ajaran-Nya 

adalah Dia Pribadi, dan tak ada yang dari luar Dia; apa Dia adanya dan apa yang di lakukan-

Nya. Kepercayaan yang paling tua – kepercayaan pembaptisan – adalah penguatan dari semua 

fakta yang mencakup semua doktrin.

“System-system boleh berobah, dan telah berobah sepanjang dicerminkannya fase-fase tak 

tetap dari pemikiran spekulatif, tetapi Injil primitif baik tak dapat berubah maupun tak habis-

habisnya. Tidak dapat diberi tambahan. Di dalam Dirinya telah dimuat segala hal yang lambat 

laun akan dikeluarkan dalam pikiran dan kelakuan sampai da- tangnya penyempurnaan.

“Dalam arti ini, agama Kristen adalah satu-satunya agama historis. Pesan yang ia kabarkan 

adalah sama sekali unik. Kristus berkata, “Aku adalah, bukan Aku menyatakan, atau Aku 

membuka, atau Aku menunjuk, tetapi Aku adalah – jalan, kebenaran dan hidup”.


6. Keunikan yang etis agama Kristen melayakannya untuk menyerap dan menggantikan semua agama lain. Hanya dia saja membuat karakter moral Allah menjadi hal yang sentral dan melebihi segalanya. Dinilai dari Allahnya, tak ada allah lain yang benar-benar baik. Hanya Dia satu-satunya yang menyuguhkan ideal sosial etis bagi individu dan hanya dia memiliki etika sosial yang cukup untuk kehidupan yang benar-benar nasional dan untuk sebuah masyarakat dunia. Ia terutama adalah  agama yang etis. Semua nilainya adalah nilai moral. Seluruh hidup negara-negara Kristen yang terbaik merupakan sebuah usaha untuk mewujudkan etik-etik Kristen di dalam hidup, dan etik-etik itu sama sekali tidak mengandung kejahatan yang terdapat di Negara-negara Kristen.

“Nyaris tak ada suatu tanda yang lebih dapat dipercaya serta  suatu kriterium yang lebih aman  dari peradaban  sebuah nazi”, kara antropolog Waitz, 

“daripada derajat di mana tuntutan-tuntutan moralitas murni disokong oleh agama mereka dan 

terjalin  ke dalam hidup religius mereka”.  Dan ini juga adalah ujian yang sebenarnya dari 

agama-agama. Apakah mereka memberi manusia ideal-ideal moral yang sempurna? Apakah 

mereka mengutuk kejahatan dan menolak membiarkan kejahatan bersembunyi di bawah 

persetujuan agama?  Dalam satu atau kedua hal ini setiap agama non-Kristen tersandung. 

Terdapat banyak pelajaran moral yang berharga di dalam tiap-tiap agama non-Kristen, namun 

Koran memerintahkan memperbudak  wanita dan anak-anak kafir yang dikalahkan dalam 

peperangan dan mengizinkan pergundikan tanpa batas dan persetujuan poligami tidak dapat 

dibela sebagai untuk kebaikan  moralitas. “Poligami” kata Dr. Henry H. Jessup, “tidak 

mengurangi kecabulan di antara kaum Mohamedan. Bahkan di dalam Veda terdapat bagian-

bagian yang secara moral dilarang untuk diumumkan . “Saya tidak berani memberi dan kamu 

tidak berani mencetak”, seperti ditulis oleh Rev. S. William , ipsissima verba dari versi Inggris 

dari Yajar Veda Mantras yang asli”. (Indian Evangelical Review”, Januari , 1891).  Di dalam  

Bhagavata Purana karakter dari dewa Krishna menyolok karena kecabulannya. Dan yang 

terburuk dari semua pada etika Hindu, bahkan di dalam Bhagavadgita, diajarkan bahwa 

tindakan-tindakan pada dasarnya tidak mengotori manusia, asalkan dilakukan  di dalam 

keadaan jiwa yang diharuskan di dalam sajaknya.  Sedangkan etika Buddha dan Konfusianis 

tidak memiliki aktivitas kebajikan dan pelayanan oleh manusia. “Jadilah engkau sempurna, 

seperti Bapamu di sorga adalah sempurna”, adalah suatu pengertian yang khas dimiliki oleh 

agama Kristen.

Agama Kristen adalah agama yang final dan absolut, oleh karena ia
memiliki semua kebaikan dan kebenaran yang terdapat di semua agama lain, dan 

menawarkannya kepada manusia di dalam Ketuhanannya penuh, sedangkan agama-agama lain 

hanya mempunyai kebaikan sebagian; karena ia bebas dari semua kejahatan yang terdapat di 

semua agama yang lain, dan karena hanya dia dapat memuaskan semua kebutuhan hati 

manusia dan seluruh umat manusia. Ia adalah satu-satunya agama yang sejati. Kami merasa 

gembira untuk menemukan  tiap usaha mendapatkan kebenaran di dalam agama-agama lain 

yang akan menunjukkan  bahwa hati mereka ditakdirkan  untuk kebenaran itu dan mampu 

menerimanya dalam bentuknya yang sempurna di dalam agama Kristen. Agama Kristen itu 

final, karena tidak ada kebenaran melampauinya dan tidak terdapat kejahatan di dalamnya, 

dan karena ia mencuci dan memahkotai seluruh hidup dan pikiran manusia. Ia adalah akhir dari 

 pencarian semua manusia.  

“Saya pertahankan”, kata Tiele, “bahwa pemunculan agama Kristen membuka suatu era yang 

sama sekali baru dalam perkembangan agama; bahwa semua aliran agama  di dalam hidup 

manusia, yang mulanya terpisah-pisah, menjadi satu di dalamnya; dan bahwa perkembangan 

religius selanjutnya akan terdiri dari sebuah realisasi  tentang prinsip-prinsip agama itu yang 

lebih tinggi”.

Dan agama Kristen adalah absolut dan final; yakni ia memenuhi seluruhnya. Tidak terdapat 

yang lebih tinggi atau lebih baik. Tidak mungkin ada yang lain di dalam kelasnya. Seperti 

dikatakan Uskup Westcott: 

“Agama yang sempurna – agama yang menawarkan kepuasan yang sempurna akan kebutuhan 

religius manusia – harus dapat memenuhi kebutuhan religious individu, masyarakat, bangsa, 

selama jalannya perkembangannya dan dalam intensitas yang beragam dari tiap-tiap 

pancaindra masing-masing manusia. 

Karena demikian halnya, saya pertahankan bahwa kepercayaan pada Kristus dilahirkan, 

disalibkan, bangkit, naik ke sorga, merupakan dasar dari agama sempurna ini; bahwa ia 

mampu, berdasarkan karakternya yang hakiki untuk membawa damai dalam masalah-masalah 

hidup dengan segala macam keadaan dan sifat – untuk menerangi, untuk mengembangkan dan 

untuk mengilhami tiap pancaindra manusia. Pernyataan saya bersandar pada per- timbangan 

dua hal dengan mana agama Kristen berbeda dari semua agama yang lain. Ia adalah absolut 

dan ia adalah historis.

“Pada satu pihak, agama Kristen tidak terikat pada suatu pembatasan tempat apapun atau 

waktu, atau kecakapan, atau objek. Ia menjangkau hingga seluruh keberadaan dan hingga 

seluruh keber- adaan masing-masing yang terpisah.  Pada lain pihak, ia menawarkan wahyunya 

dalam bentuk fakta, yang merupakan bagian yang sebenarnya dari pengalaman manusia, 

sehingga ajarannya yang aneh yang dibawanya mengenai sifat dan hubungan Allah dan manusia 

dan dunia hanya merupakan penggambaran kejadian-kejadian di dalam hidup manusia dan di 

dalam hidup Seorang yang benar-benar Manusia. Ini bukanlah sebuah teori, suatu tebakan 

hebat, tetapi sebuah pernyataan fakta.

“Saya ulangi: ini adalah pernyataannya yang asli, pernyataan yang tak  
mungkin dirobah. Agama Kristen adalah absolut. Ia menyatakan, seperti itulah dinyatakan oleh 

para Rasul, meskipun kebesaran pernyataan tersebut tak lama kemudian telah kabur,- akan 

menjangkau seluruh umat manusia, seluruh waktu, seluruh ciptaan; ia menyatakan akan 

mengadakan penyempurnaan tak kurang dari penyelamatan makhluk fana; ia menyatakan akan 

membawa persatuan umat manusia yang sempurna tanpa merusak kepribadian satu orang pun; 

ia menyatakan akan menyelenggarakan semua itu kepada yang eksternal dan juga kepada 

segala yang internal, dengan  materi dan juga dengan roh, dengan alam semesta fisik, juga 

dengan alam semesta moral; ia menyatakan mewujudkan rekreasi bersama-sama dengan 

kreasi; ia menyatakan memperkenalkan Dia yang adalah Pembuat dunia, sebagai Pewaris 

segalanya; ia menyatakan melengkapi putaran keberadaan, dan memperlihatkan bagaimana 

segala hal datang dari Allah dan kembali kepada Allah”.     

Karena dia absolut, maka dia harus menggantikan segala hal yang hanya sebagian atau palsu. 

Ia harus menaklukkan dunia.  Mereka yang memilikinya harus orang-orang yang misionaris. 

Inilah merupakan tugas kudus yang diberikan kepada kita semua oleh pengalaman pribadi kita 

dari harta yang terdapat di dalam Kristus, dan ini adalah tugas kudus pula yang kita hadapi 

sebagai akibat dari setiap pembandingan sungguh-sungguh antara agama Kristen dengan 

agama-agama dunia. Baik dilihat dari dalam dan dilihat dari luar kita menyadari dengan sangat 

jelas karakter misionaris dari agama yang menyandang nama Kristus. Sikap agama itu 

bukanlah “sikap kompromi tetapi sikap perselisihan dan penaklukan, ia bertujuan 

menggantikan agama-agama yang lain. Pernyataan Yeremiah adalah pernyataan agama Kristen: 

‘Allah2 yang tidak membuat  langit-langit dan bumi, mereka akan binasa dari bumi dan dari 

bawah langit-langit’. Kelangsungan hidup sang Pencipta, yang telah diramalkan dengan 

gembira, adalah dasar kepercayaannya dan usahanya. Dengan demikian agama Kristen  

mengadakan sebuah kampanye yang lama dan sulit, di mana ia harus mengalami berbagai 

keberuntungan dan belajar kesabaran dari pencobaan dan penundaan; namun keadaan yang 

sebenarnya tidak boleh dilupakan, yakni bahwa agama Kristen telah berangkat untuk menang. 

Maksud untuk menaklukkan memang adalah keistimewaan Injil. Ini merupakan tujuannya 

ketika muda ketika ia berada di antara agama-agama yang mengelilinginya, dan dengan tujuan 

ini ia harus memasuki bidang manapun di mana agama-agama lama membebani sifat religius 

manusia. Ia tidak dapat menaklukkan kecuali dalam kasih, tetapi memang dalam kasih ia 

bermaksud untuk menaklukkan. Ia bermaksud untuk memenuhi dunia”. Ia harus melakukan 

demikian agar bangsa-bangsa dapat dipenuhi Kebutuhannya dan dunia mendapat Terang.  

--000OOO000--

Sumber: THE FUNDAMENTALS, Diterjemahkan seorang ibu

Tidak ada komentar: