Rabu, 08 Juli 2015

Berkunjung ke ISRAEL

Ada banyak orang bertanya kepada saya, “Apakah Pak Suhento pernah ke Yerusalem?” Dan saya selalu menjawab mereka, belum pernah. Orang-orang yang bertanya agak heran pada sikap saya yang kurang antusias ke Yerusalem. Pada akhir bulan Juli, saat lebaran, saya diajak oleh Diaken saya, Bapak Irwan, berkunjung ke Mesir, Israel dan Yordania. Itu adalah sebuah kesempatan yang baik sekali bagi saya untuk melihat sendiri segala sesuatu yang terjadi di Timur-tengah. Dalam kunjungan tersebut saya mendapatkan banyak masukan, dan juga banyak kejutan. Saya sangat terkejut ketika menyaksikan kesesatan-kesesatan yang terjadi di Timur-tengah dan kebodohan Kristen pengunjung dari berbagai denominasi yang memberi diri mereka untuk disesatkan.

Konsep Tanah Suci
Sejak Adam jatuh ke dalam dosa, Allah berjanji akan kirim Juruselamat untuk menyelamatkan manusia. Sang Juruselamat akan datang dan dihukumkan untuk menanggung dosa seisi dunia. Manusia yang mau diselamatkan harus bertobat dan percaya pada Allah bahwa Juruselamat menyelamatkannya. Supaya keturunan berikutnya tetap tahu akan janji itu dan akan bertobat serta akan percaya, maka Allah menyuruh manusia melakukan ibadah simbolik sederhana, yaitu membangun mezbah dan menyembeli seekor binatang di atasnya. Ini adalah ibadah simbolik ritualistik lahiriah.

Pada zaman Adam hingga zaman Musa, ayah berstatus sebagai Imam dan tiang kebenaran. Saat itu seorang ayah bisa memberkati atau mengutuki anaknya, dan sebagai tiang kebenaran seorang ayah adalah penunjuk jalan kebenaran bagi anak-anaknya. Tetapi sejak Taurat diturunkan, bangsa Israel diresmikan, maka seorang ayah tidak lagi sebagai imam melainkan digantikan oleh Harun, dan bangsa Israel sebagai tiang kebenaran. Allah memilih sebuah lokasi bagi bangsa Israel, yaitu tanah Kanaan, sebuah lokasi yang sangat sentral, sebagai tempat orang mengenal Dia dan kebenaranNya.

Kemudian Allah tetapkan Yerusalem sebagai kota khusus untuk menempatkan tabut perjanjian-Nya, bahkan mengijinkan Salomo membangun Bait Allah, yang pada zaman itu gedung termegah di bumi untuk namaNya. Sehubungan dengan janji kedatangan Juruselamat, maka Allah menginpirasikan Salomo berdoa bahwa kemanapun umatNya terpencar, kalau mereka berdoa sambil menghadap kepada Bait yang telah dibangunNya, dengarkanlah doa mereka. Itulah awal mula dari arah kiblat ke Yerusalem.

Sehubungan dengan sistem ibadah simbolistik ritualistik lahiriah maka ada tempat yang kudus dan ada tanah yang kudus dan lain sebagainya yang bersifat materi dan lahiriah. Sehubungan dengan janji Juruselamat pula maka orang Yahudi yang terpencar harus datang kembali ke Jerusalem untuk melaksanakan tiga upacara penting yaitu perayaan Paskah, Pentakosta, dan Pondok Daun. Karena upacara tersebut maka sudah pasti ada perjalanan Ziarah dari tempat masing-masing menuju Yerusalem, kota yang dipilih Allah, kota suci, di tanah suci. Banyak orang tidak tahu, bahkan orang Yahudi pun tidak faham bahwa tujuan semua ibadah lahiriah simboliktik ritualistik itu sesungguhnya adalah cara Allah mengingatkan manusia akan janjiNya untuk mengirim Juruselamat.

Konsep Tanah Suci Selesai
Kemudian Yohanes Pembaptis lahir, dan enam bulan kemudian Sang Juruselamat yang dijanjikan lahir. Pada usia sekitar tiga puluh tahun Yohanes tampil mengumumkan kedatangan Sang Maha Raja, Allah Jehovah yang di gambarkan dengan Domba yang disembelih untuk menanggung dosa seisi dunia, sambil menunjuk kepada Yesus Kristus.
13 Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes (Mat.11:13)

Pada saat Yohanes mengumumkan kehadiran Sang Penyelamat, maka tergenapilah janji Allah kepada Adam, Nuh, Abraham, Musa dan lain-lain. Sesungguhnya sejak saat itu selesai sudah sistem ibadah simbolik lahi riah ritualistik Perjanjian Lama. Sistem ibadah yang menekankan tempat, waktu dan bentuk postur tubuh telah selesai. Itulah sebabnya ketika perempuan Samaria berkata bahwa “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." (Yoh 4:20). Cara berpikir perempuan Samaria masih bersifat simbolik ritualistik yang menekankan lokasi. Perempuan itu seolah-olah berkata, bagi kami di atas gunung ini adalah tempat suci tetapi kalian orang Yahudi berkata bahwa Yerusalem adalah tempat suci. Tetapi Tuhan kemudian mengoreksi konsep lamanya.
21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian (Joh 4:21-23).

Inti dari pernyataan Tuhan Yesus ialah, perempuan, engkau tidak faham, akan datang waktunya dan sudah tiba sekarang bahwa tidak ada lagi tanah suci, tidak ada lagi kota suci bahkan tidak ada lagi Bait Suci, karena ibadah yang benar sesungguhnya adalah ibadah hakekat rohaniah. Dulu kalian orang Samaria memang menyembah dengan badan dan di atas bukit ini dan itu salah, dan orang Yahudi menyembah di Bait Suci Yerusalem, tetapi itu hanyalah bayangan atau simbolik, sedangkan sekarang hakekatnya sudah datang dan sedang berbicara dengan engkau.
16 Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; 17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus (Kol 2:16-17).

Pembaca yang bijak, sejak kedatangan Yesus Kristus, maka ibadah simbolik lahiriah ritualistik telah berhenti, karena semua bentuk ibadah itu tujuannya ialah untuk mengingatkan manusia akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat kepada manusia. Oleh sebab itu sejak kedatangan Sang Juruselamat maka selesailah sudah segala bentuk ibadah itu. Manusia memasuki bentuk ibadah hakekat yang menekankan hati, dan menyembah dengan hati.

Ibadah hakekat yang dilakukan dengan hati tidak harus menghadap ke Yerusalem seperti yang dilakukan oleh Daniel, cukup menghadapkan hati kepada Tuhan di Sorga. Dulu Daniel berdoa menghadap ke Yerusalem karena Allah berjanji akan mengirim Juruselamat, dan melalui Juruselamat kebenaran akan dipancarkan dari Yerusalem ke seluruh muka bumi.

Di zaman ibadah hakekat yang tidak dilakukan di atas gunung Gerizim maupun di Yerusalem, tidak lagi terikat pada tempat. Artinya manusia karena menyembah dengan hati maka ibadah itu terjadi setiap saat dan itu terjadi di mana saja. Sama sekali tidak ada keharusan ada suatu tempat khusus untuk menyembah atau beribadah. Itulah sebabnya bagi orang Kristen yang mengerti kebenaran, ia faham bahwa orang Kristen tidak membutuhkan ijin pendirian tempat ibadah karena sesungguhnya orang Kristen tidak butuh tempat ibadah.

Orang Kristen beribadah dengan hati dan itu terjadi di mana saja. Tidak ada waktu khusus ibadah karena terjadi setiap saat dan tidak perlu tempat ibadah karena terjadi di mana saja. Tetapi orang Muslim yang menjadi pejabat menerapkan konsep Islam kepada orang Kristen, dan kebetulan kebanyakan pemimpin Kristen tidak mengerti melainkan hanya ikut-ikutan bahkan hanya Kristen KTP saja. Banyak pemimpin Kristen tidak belajar dengan benar melainkan hanya beli ijazah, mereka hanya mementingkan sekolah yang diakreditasi negara, maka itu mereka tidak mengerti kebenaran Alkitab.

Sejak kedatangan Tuhan Yesus manusia memasuki ibadah hakekat rohaniah yang tidak lagi terikat pada waktu, postur tubuh, dan tempat. Itulah sebabnya kita melihat Ellen White telah membawa orang-orang gereja Advent sesat dari kebenaran Perjanjian Baru. Malaikat yang menampakkan diri kepada Ellen White jelas sekali bukan yang diutus Tuhan.

Masih Perlukah Berziarah Ke Yerusalem?
Jika seseorang memahami bahwa zaman Perjanjian Baru tidak ada lagi konsep tanah suci, tempat suci, maka sesungguhnya tidak ada keperluan untuk berziarah ke Yerusalem dalam pengertian untuk kebutuhan rohani. Tetapi tentu tidak berarti tidak boleh mengunjungi kota Yerusalem dan tempat-tempat jejak sejarah. Sebagaimana orang berkunjung ke tempat-tempat sejarah seperti kuburan masal orang Yahudi di Yugoslavia, mengunjungi kuburan Kaisar Cin di China, tidak ada salahnya berkunjung ke Yerusalem, dan berbagai kota yang pernah disinggahi Yesus Kristus dan Rasul-rasul.

Dengan tujuan hanya sekedar melihat jejak sejarah Yesus Kristus dan para Rasul maka ketika diajak oleh Diaken Irwan, saya mengunjungi Mesir, Israel dan Yordania. Saya bukan berziarah ke tanah suci, melainkan pergi melihat jejak-jejak awal kekristenan sambil mengamat-amati berbagai denominasi kekristenan yang ada di Timur-tengah.

Sumber: Buletin PEDANG ROH Edisi 82 Januari-Maret 2015, Dr Suhento Liauw

1 komentar:

Yoppy Siombing mengatakan...

SALOM SOBATKU, BENAR-BENAR PUNYA IDENTITAS SEBAGAI FUNDAMENTALIS SEJATI, DARI PADA TIDAK JELAS YA HE HE , INJILI TIDAK, REFORM JUGA TIDAK, KARISMETIK JUGA TIDAK, HE HE.
SEBAGAI TEMAN MAUTANYA NIH BAGAIMANA DENGAN PENGAKUAN IMAN.....JADI DI GEREJA YOU TIDAK ADA YA.....? ENGGAK APA SIH TETAPI MASIH PERCAYA; SOLA FIDE, SOLA GRACIA, DAN SOLA SCRIPTURA ITU SDH OK. KALAU DOKTRIN AKHIR ZAMAN SDH PASTI PREMILLENIUM NIH AKU LIHAT.HE HE BEDA BERTEOLOGI ITU BIASA, SEBAB TEOLOGI MELAHIRKAN TEOLOGI, BEDA TEOLOGI PERSAHABATAN KITA TETAP BAGAIKAN KEPONGPONG. SALAM SAMA KELUARGA GBU