Jumat, 03 Juli 2015

Katakanlah kepada Kami Hal-Hal yang Manis

“Yang mengatakan kepada para tukang tilik: “Jangan menilik,” dan kepada para pelihat: “Janganlah lihat bagi kami hal-hal yang benar, tetapi katakanlah kepada kami hal-hal yang manis, lihatlah bagi kami hal-hal yang semu, menyisihlah dari jalan dan ambillah jalan lain, janganlah susahi kami dengan Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yesaya 30:10-11). Pada zaman Yesaya, Israel menolak Firman Allah dan mencoba untuk mengkorupkan para nabi. Umat itu mengaku mencintai Allah dan mereka ikut serta dalam berbagai ritual Bait Suci, tetapi mereka membenci hukum-hukum Allah yang kudus. Mereka ingin hidup semau mereka. Mereka ingin mendengar khotbah, tetapi bukan khotbah yang benar. Mereka tidak ingin mendengar teguran atas dosa ataupun doktrin yang benar. Mereka mau mendengar “hal-hal yang manis” yang menghibur mereka tidak peduli bagaimana cara mereka hidup, dan yang tidak akan mengganggu rencana-rencana mereka. Mereka menginginkan allah, tetapi bukan “Yang Mahakudus Allah Israel.” Mereka lebih suka mendengar hal-hal yang “semu” daripada kebenaran. Israel terus berada dalam kondisi seperti ini hingga hari ini. Mereka telah menolak Nabi dan Pengkhotbah terbesar, yaitu Yesus, Mesias mereka sendiri. Perikop Yesaya pasal 30 ini juga adalah gambaran yang sangat cocok akan kondisi kekristenan yang sesat yang dinubuatkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:3-4. Mereka mengaku mencintai Kristus dan Alkitab, tetapi pada kenyataannya mereka mencintai hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berbondong-bondong untuk mendengar para guru yang mengecilkan pertobatan dan perubahan dan kehidupan yang kudus, yang mengkhotbahkan hal-hal yang manis dan menciptakan dongeng-dongeng seperti bahasa komat-kamit, membunuh dalam roh, kebangkitan rohani tertawa, filosofi tidak boleh menghakimi, gerakan self-esteem, gerakan pengakuan positif, penyembahan Maria, doa kontemplatif, penyembahan rock & roll, evolusi theistik, ekumenisme, paham bahwa sebagian doktrin tidak penting, dan universalisme. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Timotius 4:3-4).(Berita Mingguan GITS 6 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Tidak ada komentar: