Sabtu, 08 Agustus 2015

20 TAHUN BERSINAR DAN SEMAKIN CEMERLANG

Pada tanggal 28 Juni 2015 GBIA GRAPHE merayakan HUT ke-20 dengan penuh ucapan syukur kepada Tuhan. Waktu berjalan dengan sangat cepat, terutama jika kita dalam keadaan sibuk. Berkat Tuhan yang dialami GRAPHE tak cukup diceritakan dengan lembaran kertas dan tinta. Sangat banyak dan sangat mengherankan.

Tepatnya GRAPHE dimulai pada tanggal 25 Juni 1995, atau minggu ke-4 bulan Juni. Seterusnya GRAPHE merayakan aniversari-nya setiap minggu ke-4 bulan Juni terlepas dari tanggal berapa pada minggu ke-4 itu. Semua itu didahului oleh kepulangan Dr. Suhento Liauw dari USA ke Indonesia setelah menyelesaikan program Doktornya, yang tiba di Jakarta pada Minggu malam, tanggal 18 Juni 1995. Dr. Liauw bertekad untuk memulai sebuah gereja baru yang sungguh-sungguh dengan tulus menaati ketetapan Alkitab tentang sebuah jemaat yang akan berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15).

Tersadarkan Kebenaran
Pada saat berangkat ke USA sekeluarga tahun 1993, ada rencana tidak akan kembali ke Indonesia. Tetapi setelah belajar sekitar satu semester, ketika semakin mengerti kebenaran Alkitab, maka semakin menyadari bahwa gereja-gereja di Indonesia, ternyata jauh dari kebenaran Alkitab. Ada banyak gereja suku yang hidup segan mati tidak mau. Mereka tidak mungkin bisa melaksanakan Amanat Agung karena mereka lahir sebagai orang Kristen, bukan bertobat sebagai orang Kristen. Sudah pasti semakin hari semakin banyak dari mereka yang berpindah ke agama Islam demi berbagai kenikmatan duniawi.

Dan hampir tidak ada gereja yang tidak terhempas oleh gelombang pewahyuan palsu dalam nama Yesus palsu, sehingga mengacaukan konsep Alkitab sebagai kanon tertutup dan satusatunya firman Allah. Gereja-gereja di Indonesia terpengaruh mimpi dan mengejar-ngejar penglihatan.

Sudah pasti iblis senang sekali dan akan membawa mereka kepada penglihatannya dan juga mimpi yang mereka inginkan. Sebagian gereja digiring iblis untuk dipersatukan sehingga bisa mencapai satu gereja yang esa di Indonesia yang akan dikontrol iblis. Mereka menyangka bahwa mereka sangat hebat karena mempunyai visi untuk mempersatukan tubuh Kristus. Mereka tidak sadar bahwa anti-Kristus justru bertujuan untuk mempersatukan politik, ekonomi dan agama ke bawah genggamannya.

Sebagian pemimpin gereja sangat aktif mempersatukan gereja-gereja. Mereka tidak tahu tentang program antiKristus. Akibatnya mereka menyangka aktivitas mereka mempersatukan semua gereja menjadi satu gereja akan menyenangkan hati Tuhan. Padahal setelah semua gereja di persatukan maka akhirnya si kristus palsu akan memerintah gereja yang berhasil dipersatukan itu. Gereja-gereja Baptis yang seharusnya menyinari gereja-gereja lain malahan terpengaruh hingga kehilangan jati diri. Ada gereja Baptis yang bahkan sudah ada kata INJILI sebagai identifikasi dirinya. Orang-orang Kristen bahkan pemimpin gereja tidak tahu sejarah munculnya gerakan Injili. Mereka tidak sanggup membedakan antara Evangelical dengan Evangelism. Mereka tidak tahu bahwa gerakan Evangelical adalah gerakan yang dipimpin oleh Harold Ockenge untuk menghentikan kedurhakaan Liberalism dan mengurangi militansi kelompok Fundamentalism. Setelah hampir satu abad usaha yang dihembuskan oleh Ockenge ternyata tidak berhasil menghentikan kedurhakaan Liberalism, malahan membuat semakin banyak orang Injili menjadi Liberal dan orang Fundamental menjadi Injili, yang akhirnya menjadi Liberal juga.

Graphe Memancarkan Sinarnya Kepada Kelompok Kharismatik
Setelah Dr. Liauw memahami kebenaran alkitabiah, dan melihat keadaan gereja-gereja di Indonesia yang tidak bisa bersaksi karena diri mereka sendiri penuh problem, maka beliau memutuskan harus kembali ke Indonesia, mendirikan gereja yang betul-betul dapat berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.

Jika seseorang dalam kesesatan, harus ada orang yang memberitahukan kepadanya bahwa ia sesat dan menunjukkan kepadanya jalan yang benar. Tahun 70-an ketika gerakan Kharismatik memasuki Indonesia, hampir semua pemimpin gereja berkata bahwa itu sesat. Namun ketika ditanya kepada mereka alasan kesesatan Kharismatik, mereka ternyata tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan bagi anak-anak muda yang tertarik pada gerakan Kharismatik. Para pemimpin saat itu persis seperti orang yang berseru kepada seseorang bahwa ia sedang sesat, tetapi ketika ditanyakan kepadanya dimanakah jalan yang benar, jawabannya ialah saya sendiri pun kurang jelas.

Akhirnya, kita melihat anak muda tahun 70-an pada hari ini sudah menjadi kakek dan nenek. Mereka telah menjadi pemimpin bahkan pengendali “pusat-pusat pertunjukan mereka.” Pada dasarnya gerakan Kharismatik adalah acara pertunjukan Rock and Roll versi orang Kristen. Banyak acara Kharismatik mengayun lebih jauh bahkan menjadi semacam pertunjukan semacam “tatung” Cap Go Me di Singkawang.

Graphe bukan sekedar berseru bahwa itu sesat tetapi Graphe mengadakan seminar untuk menjelaskan secara akademik dan theologis bahwa itu sama sekali tidak alkitabiah. Sangat tidak etis jika seseorang hanya sanggup menyatakan orang lain salah namun tidak sanggup menjelaskan kesalahannya serta memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya. Setiap tahun di Graphe diadakan seminar untuk menjelaskan bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan dan setelah pewahyuan sampai kitab Wahyu 22:21, selanjutnya tidak ada wahyu lagi. Siapapun yang sesudah penurunan wahyu di pulau Patmos masih mendapat wahyu baik berupa mimpi, penglihatan, dan berbagai bentuk lain serta mengekpresikannya melalui nubuatan, bahasa lidah, maka itu PASTI bukan dari Tuhan.

Graphe melihat kekristenan di Indonesia diwabahi kesesatan kharismatik. Mereka menyangka bahwa mereka dipenuhi Roh Kudus, padahal itu roh iblis. Hanya Graphe yang berani berkata setegas ini karena sanggup melihat dengan jelas bahwa gerakan kharismatik dimulai oleh iblis memakai Spurling pada tahun 1886, dan diteruskan oleh Charles Parham tahun 1898 di Topeka, Kansas, dan dipopulerkan oleh William Seymour tahun 1906 dari 312 Azusa Street, Los Angeles.

Mengapakah Graphe bisa begitu yakin bahwa gerakan kharismatik dari iblis? Jawabannya karena inti dari gerakan tersebut ialah menyebabkan Alkitab bukan lagi kanon tertutup. Sebab, jika sesudah Wahyu 22:21 masih ada pewahyuan, atau masih ada nubuatan, bahasa lidah dll., maka berarti sesudah kitab Wahyu Allah masih turunkan wahyu. Dan kalau Allah masih turunkan wahyu sesudah kitab wahyu maka Alkitab bukan satu-satunya firman Tuhan atau Alkitab bukan kanon tertutup. Silakan renungkan, dan kalau ada argumentasi lain silakan datang ke Graphe.

Mereka mewabahi gereja-gereja di Indonesia biasanya diawali dengan lagu puji-pujian. Orang-orang Kristen yang tidak lahir baru tentu hati mereka masih tertarik pada musik duniawi yang sebelumnya sangat mereka senangi. Setelah pemuda- pemudi di gereja “gila” dengan lagu mereka yang tidak bisa dibedakan lagi dari yang di diskotik, hal-hal lain seperti bahasa lidah, nubuatan akan disusupkan kemudian. Itulah sebabnya Graphe memutuskan hanya menyanyikan lagu-lagu Himne dalam berjemaat. Tentu Graphe tidak melihat semua lagu nonHimne adalah dari iblis, melainkan tidak mau ada lubang sekecil apapun bagi iblis untuk masuk ke dalam gereja. Untuk menyingkapkan kesesatan tersebut Graphe setiap tahun mengadakan seminar seharian dari jam 09.00 sampai jam 15.00. Seharusnya orang Kristen yang cinta kebenaran tidak akan tersesatkan lagi oleh nubuatan palsu dan berbagai tipu muslihat iblis.

Sinar yang dipancarkan Graphe sangat terang benderang sehingga hampir mencapai seluruh pelosok Indonesia. Dan Graphe sudah mengadakan seminar sekitar seratus tujuh puluhan kali.

Graphe Memancarkan Sinarnya Kepada Gereja Pembaptis Bayi
Graphe selama dua puluhan tahun secara tegas menyatakan bahwa baptisan yang benar harus dilaksanakan terhadap orang yang sudah dibenarkan, dengan cara yang benar, dan atas otoritas gereja yang benar. Pembaptisan bayi adalah sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan gereja-gereja pembaptis bayi bukan lagi agen penyelamatan melainkan agen pengkristenan saja. Mereka berhasil menjadikan keturunan mereka orang Kristen tetapi tidak membuat mereka lahir baru dengan kepastian masuk Sorga.

Setelah berjalan beberapa generasi anggota jemaat mereka akan terdiri dari orang-orang Kristen yang tidak lahir baru. Mereka tidak cinta kebenaran Alkitab karena belum dilahirkan kembali. Banyak di antara mereka bahkan tidak pernah membaca Alkitab dari kitab Kejadian hingga Wahyu, dan tidak bisa berdoa sendiri.

Sudah pasti orang Kristen tidak lahir baru tidak bisa menginjil. Mereka tidak mengerti nilai mutiara kekristenan bahkan tidak tahu mengapa mereka menjadi orang Kristen. Tidak heran kalau mereka sangat gampang berpindah ke agama lain ketika mereka jatuh cinta atau ditawarkan hal-hal yang menarik.

Ada gereja yang semboyannya mengajak orang Back to the Bible namun mempraktekkan pembaptisan bayi. Sudah pasti tidak akan pernah sampai kepada Bible, karena hari ini mau back to the Bible dan dua tahun lagi juga tetap mau back to the Bible. Padahal ketika Sida-sida tanya Filipus apa halangannya bagi aku untuk dibaptis, jawaban Filipus ialah “jika tuan percaya dengan sepenuh hati.” Jelas sekali bahwa syarat baptisan ialah percaya sepenuh hati . Bagaimana mungkin bayi bisa percaya sepenuh hati? Orang yang boleh dibaptis adalah orang yang telah percaya dengan sepenuh hati, bukan orang tuanya yang sudah percaya sepenuh hati.

Banyak orang tahu bahwa Gereja Baptis pada umumnya tidak melakukan penumpangan tangan pemberkatan di akhir kebaktian. Tetapi tidak banyak orang sanggup menjelaskan alasannya. Graphe hadir memberi penjelasan yang alkitabiah dan logis. Dari Adam hingga Musa seorang ayah ditunjuk Tuhan untuk menjabat imam, sehingga mereka memberkati anakanak mereka. Tetapi ketika keimamatan Harun didirikan maka ayah tidak memberkati anak-anaknya lagi. Dan ketika Yohanes memperkenalkan Yesus Kristus maka keimamatan Harun pun selesai tugasnya (Luk. 16:16, Mat.11:13). Dan sejak saat itu sampai hari pengangkatan setiap orang lahir baru adalah anak Allah, orang kudus, dan imam di hadapan Allah, bahkan Imamat yang rajani (I Pet.2:9). Karena status orang percaya adalah anak Allah, orang kudus dan imam, maka tidak ada lagi acara berkat-memberkati di antara sesama anak-anak Allah. Tidak boleh ada acara pemberkatan nikah, melainkan peneguhan nikah.

Gereja-gereja Protestan membawa keluar banyak “terafim” dari rumah “Laban” yang seharusnya mereka tinggalkan ketika mereka protes dan keluar. Hal yang sangat mengherankan ialah ketika kita memberitahu mereka, bukannya berterima kasih melainkan mereka marah. Dan sekarang di antara gereja-gereja Protestan timbul gerakan untuk kembali lagi ke rumah Laban.

Graphe Memancarkan Sinarnya Kepada Gereja-gereja Injili
Kepada gereja-gereja Injili Graphe menyerukan agar bersikap tegas terhadap kebenaran, jangan seperti bunglon. Tahun 1947 Harold Ockenge mendirikan denominasi Injili dengan tujuan untuk menahan gerakan kelompok Liberal agar tidak semakin jauh dari kebenaran, dan untuk mengecilkan volume suara hardikan kelompok Fundamental terhadap kelompok Liberal yang semakin sesat.

Setelah 68 tahun gerakan Injili, hasilnya ialah sebagian besar gereja kelompok Injili bergeser menjadi gereja Liberal, dan sebagian gereja Fundamental berhasil mereka diseret menjadi Gereja Injili. Jadi, gereja-gereja Injili berfungsi sebagai jembatan bagi gereja-gereja Fundamental menuju Liberal. Contoh yang paling klasik ialah Billy Graham. Tahun 60-an dia adalah pengkhotbah Fundamental, kemudian tahun 70-an akhir berubah menjadi pengkhotbah Injili hingga tahun 80-an, dan tahun 90-an dia berubah menjadi pengkhotbah Liberal. Dan finalnya dia bersaksi di televisi bahwa umat semua agama bersama-sama akan masuk Sorga, ia menjadi Pluralis. Gereja-gereja Injili tidak tegas terhadap kebenaran. Mereka seperti Petrus di Antiokhia.

11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (Gal 2:11-12 ITB)

Saya yakin setelah ditegur Paulus, akhirnya Petrus menyadari kesalahannya bahwa ia tidak tegas dalam memihak kebenaran. Banyak gereja Injili tidak menahbiskan wanita menjadi Gembala namun mengijinkan mereka menggembalakan jemaat. Akhirnya orang-orang gereja Injili tidak mengerti akan tindak-tanduk mereka sendiri. Mereka tidak tahu mengapa mereka membuat pengakuran iman percaya kepada gereja yang Am. Mereka juga tidak mengerti mengapa harus mengangkat tangan berdoa pemberkatan di akhir kebaktian. Kalau yang sehat mereka baptis dengan cara masuk ke dalam air dan yang sakit mereka teteskan air. Gereja Injili adalah gereja yang tidak tegas terhadap kebenaran.

Resiko Orang Yang Menegur Orang
Graphe tahu bahwa biasanya orang yang menegur orang, atau menyatakan kesalahan orang, bukan mendapatkan ucapan terima kasih, melainkan rasa benci. Tetapi itu sebuah resiko bagi orang yang ditugaskan oleh Bos untuk menegur karyawan lain.

Manusia biasanya bisa terima kalau ditegur atasan, namun marah kalau di tegur yang selevel apalagi oleh bawahan. Tetapi dalam 2 Tim.4:3, tidak berkata oleh atasan kepada bawahan. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2 Tim. 4:2 ITB)

Bagi Graphe yang penting Tuhan bahagia dan gereja-gereja bergerak ke arah yang lebih benar. Graphe memandang kepada hadiah sorgawi, bukan yang materi dan duniawi. Graphe mendapat informasi ada gereja pembaptis bayi dan dengan percik yang merubah kebiasaannya menjadi membaptis orang dewasa atas pengakuan iman dan masuk ke dalam air. Ada banyak Gembala yang tidak mau menumpangkan tangan memberkati orang karena takut melakukan kesalahan Korah (Yud. 11).

Kami yakin tahun 2019 tidak ada atau setidaknya berkurang “pendeta” yang mencoba bernubuat tentang calon presiden tertentu yang akan menang Pemilu karena malu disebut nabi pal su. Dan cerita turun-naik Sorga, membangkitkan orang mati juga semakin senyap karena malu, karena semakin banyak yang tertawa geli.

Graphe dengan setia melakukan seminar untuk mencerdaskan orang-orang Kristen. Karena selama masih banyak orang Kristen bodoh yang pergi ke gereja dengan tidak membawa otak, maka orang-orang yang pintar bicara, yang punya kharisma memukau orang, akan mencium peluang besar untuk mendapatkan keuntungan materi dengan menjadi “pendeta”. Dan mereka akan memakai nama Yesus untuk mengeruk keuntungan materi dengan cara gampang. Fenomena yang sangat mengherankan ialah bahwa orang-orang membawa otak mereka dalam berbisnis, dalam bekerja,
belajar di bangku kuliah, namun tidak mambawanya ketika pergi ke gereja.

Sebenarnya Graphe ingin memakai kata-kata yang lembut dan halus. Tetapi kadang manusia perlu disentakkan, seperti orang yang sedang terkena hipnotis perlu menggoncang-goncangkan untuk menyadarkannya dari pengaruh hipnotisnya. Mereka tertidur di dalam mimpi mereka sendiri sambil mendengarkan dongeng kakek tua dan mempercayainya. Banyak orang tinggal di dalam kegelapan, dan mereka tidak mendapatkan gereja yang bersinar dengan pengajaran yang alkitabiah.

Graphe telah bersinar dua puluh tahun, dan melalui alat-alat yang ada baik radio, buku, traktat, seminar, CD, VCD, internet dan lain-lain, dan terutama melalui mahasiswa yang dididik dengan tingkat akademisi tinggi, memancarkan sinar yang lebih benderang dan cemerlang ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan ke seluruh dunia.***

Sumber: Dr. Suhento Liauw dalam Jurnal Teologi Pedang Roh Edisi 84 Juli-September 2015

Tidak ada komentar: